Lesson 2
.
.
"Yifan." panggil Junmyeon dengan lembut. Wanita itu berjalan dengan dua cangkir cokelat hangat dengan marshmallow, dan menghampiri Yifan yang baru saja selesai menukar baju. Hidup bersama Kris Wu Yifan selama hampir empat tahun membuatnya mengerti kebiasaan lelaki itu. Misalnya, ia harus meminum cokelat hangat sebelum akhirnya bisa tertidur nyenyak.
"Hey, baby." Keduanya bertukar lumatan sebelum Yifan mengambil cangkirnya di tangan Junmyeon. "Ayahmu baru menelponku."
"Eh?" Junmyeon memfokuskan pandangannya ke arah lelaki itu.
"Kami berdebat dimana seharusnya pernikahan kita dilangsungkan. Kau tahu sendiri aku ingin pernikahan yang sederhana dan sakral, tapi ayahmu bersikeras ingin mengundang sebanyak-banyaknya orang karena kau adalah seorang Kim."
"Dan kau adalah seorang Wu." goda Junmyeon. "Penyatuan kedua nama besar itu sebenarnya layak untuk dirayakan besar-besar."
"Oh tidak, sayang." Yifan meletakkan cangkirnya, juga memaksa Junmyeon meletakkan cangkir itu. Lengannya kemudian disabukkannya pada pinggang Junmyeon, merengkuh wanita berambut bob cokelat itu dengan protektif. "Aku bahkan sudah menyiapkan sebuah kastil yang besar di Perancis untuk pemberkatan kita." Diciumnya bibir mungil itu.
"Kita bisa melakukan pemberkatannya di sana, dan baru merayakannya saat pulang ke Korea."
"Myeonbunny, kau memang seorang Kim."
Tawa itu melesak dari bibir Junmyeon.
"Aku heran kenapa kau memilih menjadi Myeonbunnyku ketimbang menjadi penerus perusahaan ayahmu itu. Otakmu, lebih bulus dari milikku." Yifan menarik tangan Junmyeon, hingga keduanya bergelung nyaman di sofa fluffy berwarna putih itu—yang dipilih Junmyeon saat Yifan pindah ke flat mewah ini.
Junmyeon tidak menjawab. Ia malah menikmati hangatnya badan kekasihnya.
Sesaat, tidak ada kata-kata apapun yang lewat di bibir mereka.
Hingga Junmyeon teringat akan pertemuannya dengan Byun Baekhyun tadi. Junmyeon mengenal Park Chanyeol karena Yifan dan Chanyeol bersahabat semenjak mereka melewatkan masa sekolah menengah mereka di California. Junmyeon tahu betul bagaimana Chanyeol yang hampir tidak menyentuh wanita dua tahun belakangan, dan tentu dia terkejut saat Chanyeol mengenalkan Byun Baekhyun sebagai putri kecilnya.
"Baekhyun berkata, ia diadopsi oleh Chanyeol." kata Junmyeon, tiba-tiba. "Yifan, apa kau pikir Chanyeol tidak berlebihan? Mengadopsi seorang gadis yang baru lulus SMA hanya untuk dijadikan subyek permainan daddy-daddyannya?"
Dahi Yifan berkerut, "Sayang, kau juga baru lulus SMA saat menjadi subyek permainan daddy-daddyanku."
"Tapi kau tidak menemukanku di sebuah panti asuhan, Yifan. Aku memiliki hak untuk menolakmu. Tapi Baekhyun, gadis itu bahkan tidak memiliki pilhan untuk menolak permainan Chanyeol."
"Sayang." Yifan menangkup pipi Junmyeon dan mengecup bibirnya sekilas. "Kau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak Baekhyun dan Chanyeol, biarlah menjadi urusan mereka."
Bibir Junmyeon mengerucut.
"Dan kau mengingatkanku pada permainan kita, dulu." Yifan terduduk dan mengangkat Junmyeon ke pangkuannya dengan sangat ringan. "Aku jadi ingin mencicipi putri manisku ini." Dikecupnya bibir Junmyeon, dan melumatnya dengan penuh perasaan.
"Daddy…." Junmyeon mendorong tubuh Yifan dengan sedikit kekuatan. "Aku tak ingin melakukannya di sofa!"
"Baik, baiklah putri kecil." Yifan menyeringai. "Kukabulkan permintaanmu, asal kau mengijinkanku memasuki vaginamu semalam suntuk." Ia berdiri dan membopong tubuh Junmyeon yang mungil namun berdada montok itu.
"Dengan senang hati, daddy!"
.
.
Junmyeon bersenandung sembari memarkirkan mini cooper merahnya di halaman mansion mewah itu. Sudah dua tahun ia tak menginjakkan kaki di sini, karena ia merasa tak memiliki sesuatu yang dapat ia kunjungi di sini.
"Nona Junmyeon!" seseorang yang Junmyeon kenali sebagai Hwang Miyoung menyapanya dengan senyuman. "Astaga, sudah lama sekali nona tidak berkunjung!"
Ya, sudah lama sekali.
"Selamat pagi, Miyoung. Apa Chanyeol sudah berangkat ke kantor?"
"Tuan baru saja pergi lima belas menit yang lalu." Miyoung mempersilahkan Junmyeon masuk. "Mau minum apa, nona?"
"Tidak perlu, Miyoung." Junmyeon membalas Taeyeon dengan senyuman. Kakinya yang dibalut Manolo Blanik berwarna kuning pucat dengan motif abstrak itu melangkah dengan ringan. Rupanya ia masih ingat jelas tatanan mansion ini. "Apa Baekhyun menempati kamar itu, Miyoung-ah?"
Miyoung tertegun, "Nona mengenal nona Baekhyun?"
Junmyeon hanya tersenyum dengan kaki yang terus melangkah ke lantai atas mansion itu.
"Tuan Chanyeol menempatkan Nona Baekhyun di kamar seberang kamar Tuan Chanyeol, Nona."
"Terima kasih, Miyoung."
Tanpa sadar kaki Junmyeon sudah tiba di kamar yang dimaksud Miyoung. Dibukanya pintu berwarna putih itu, dan berharap Baekhyun ada di sana.
Benar saja, Baekhyun sedang terduduk dengan sebuah buku di genggamannya.
"Pagi, Baekhyun."
Baekhyun sedikit terjengat, namun ia segera tersenyum saat mendapati Junmyeon dengan dress midi berwarna putih berendanya sedang berdiri di mulut pintu.
"Junmyeon, kau tahu darimana aku tinggal di sini?"
"Aku hanya menebak." Junmyeon tersenyum menghampiri Baekhyun. "Miyoung, tolong siapkan baju untuk Baekhyun, aku akan mengajaknya makan siang hari ini."
"Baik nona." Miyoung-pun segera membongkar lemari besar yang bentuknya hampir menyerupai kamar kecil di sana.
"Tapi, apa Daddy mengijinkanku keluar? Aku tak bisa seenaknya sendiri di sini."
Junmyeon mengeluarkan ponsel pintarnya yang berwarna gold rose, menekan nama Park Chanyeol di dalam kontaknya, dan terdengar suara nada sambung dari sana, karena Junmyeon sendiri memasang mode loudspeaker pada ponselnya.
"Junmyeon, untuk apa menelponku?" suara berat itu terdengar.
"Aku akan membawa Baekhyun makan siang dan berbelanja, apa kau keberatan?"
"Tak masalah, asal kau mengembalikannya pulang sebelum jam tujuh."
Junmyeon bertukar pandang dengan Baekhyun yang tersenyum tak percaya.
"Ah, tapi Junmyeon, aku belum memberikan kartuku pada Baekhyun." kata Chanyeol, lagi. "Katakan kalian akan makan siang dimana, aku akan mengirim supirku ke sana. Aku tak bisa meninggalkan kantor karena ada rapat dengan investor Jepang."
"Okay, akan kukirimkan alamatnya kepadamu nanti."
Sambungan telepon itu-pun terputus.
"Nah Baekhyun, sekarang cepatlah mandi dan bersiap-siap."
.
.
"Baekhyun, kau suka pasta, kan?" tanya Junmyeon dengan kepala yang fokus ke arah depan. Sepuluh menit yang lalu, Junmyeon melajukan mobilnya menjauhi mansion keluarga Park, dengan Baekhyun yang duduk di samping kanannya.
Baekhyun mengangguk.
"Kita akan makan di restoran Italia langgananku di daerah gangnam."
Yang terpikir di otak Baekhyun adalah, restoran mahal dengan suasana elegant yang pastinya tidak akan tergapai olehnya, dulu. Tapi yang di sampingnya adalah Kim Junmyeon, yang mungkin juga menjadi 'little girl' dari Kris Wu karena masalah materi.
"Kau melamun, Baekhyun?"
"Ah, tidak tidak." Baekhyun menggeleng. "Hanya sedikit bertanya-tanya."
"Tentang?"
"Kau."
"Aku?" Junmyeon menoleh saat mobilnya berhenti di depan lampu merah. "Memangnya ada apa denganku?"
"Aku sudah menceritakan hubunganku dengan Park Chanyeol, tapi kau belum sekalipun menceritakan tentangmu dan Kris Wu."
Junmyeon mengulum senyumnya, "Kau penasaran, Baekhyun?"
"Tentu saja."
"Itu cerita yang sangat panjang." Diinjaknya pedal gas, dan mini cooper itu kembali melaju. "Kau mau memulainya darimana?"
"Kris Wu adalah daddymu, bukan?"
Junmyeon mengangguk.
"Bagaimana kalian bisa bertemu? Apa Kris Wu juga mengadopsimu?"
Tawa Junmyeon meledak, "Baekhyun, tidak semua daddy menemukan pasangannya dengan cara itu."
Baekhyun memiringkan kepalanya dan menatap Junmyeon lekat-lekat.
"Aku dan Kris bertemu di Amerika. Kala itu, aku baru saja lulus A level, dan bersiap untuk masuk college." Junmyeon mengingat-ngingat. "Dulu, aku adalah seorang gadis nakal yang hanya memikirkan lelaki, sex, dan alkohol. Dan Kris, adalah lelaki pertama yang menolak ajakan sex-ku. Aku pertama kali bertatap muka dengannya di Vegas, saat aku dan belasan teman sekolahku berlibur untuk merayakan kelulusan."
Baekhyun termangut, rupanya Junmyeon bukanlah wanita gila harta seperti yang ia bayangkan. Junmyeon sudah hidup di Amerika sejak sekolah menengah, itu artinya ia memang lahir dan besar di keluarga kaya.
"Pertemuan keduaku dengan Kris adalah di kantor ayahku. Ayahku Kim Siwon, apa kau tau?"
Mata Baekhyun yang dihiasi eyeliner itu melebar, astaga! Ia berhadapan dengan putri dari pemilik perusahaan telekomunikasi itu?!
"Kris yang baru lulus dari barchelor degreenya itu ternyata merupakan klien ayahku di California. Aku kembali merayunya, dan kali ini ia menyetujui untuk makan malam denganku." Junmyeon membelokkan mobilnya ke kiri, menyusuri jalanan gangnam. "Tapi Kim Junmyeon adalah gadis keras kepala yang dimanja sedari kecil, jadi setelah makan malam itu, aku tetap bersikeras merayu Kris untuk bermain di atas ranjang."
"Lalu?"
"Kris tidak suka berbagi. Ia menawarkan opsi untuk menjadi daddyku. Aku-pun setuju, karena kupikir Kris adalah lelaki yang baik, dan ayahku juga menyukainya. Tak masalah bagiku untuk berhubungan dengan seorang pria saja, asal ia bisa memuaskanku di ranjang. Setelah itu kami menandatangani kontrak, kau tahu, seperti Anna dan Christian Grey."
"Kontrak? Tapi aku dan daddy tidak pernah melewati fase seperti itu." Bibir Baekhyun melengkung ke bawah. "Junmyeon, apa itu artinya, hubungan seorang daddy dengan little girlnya itu hanya seperti master dan slave?"
Junmyeon menggeleng, "Tidak, Baekhyun. Seorang master bisa memperlakukan slavenya dengan seenak diri, bahkan tak segan-segan untuk bermain pisau, cambuk, atau membungkam mulut slavenya dengan tali yang menyakitkan. Seorang daddy, berlaku seperti layaknya ayah yang memanjakan anak gadisnya. Dan di sisi lain, seorang little girl, juga harus bisa memuaskan daddynya di atas ranjang. Oke, memang terkadang seorang daddy akan menghukum little girlnya kalau little girlnya bertindak di luar batas. Tapi, hukuman itu sangat manis sekaligus menakutkan."
"Misalnya?"
"Misalnya, ada kalanya seorang daddy menyuruh little girl-nya untuk memohon agar diperbolehkan mengeluarkan orgasmenya. Atau, bahkan daddy tersebut tidak memperbolehkan little girlnya untuk orgasme."
Baekhyun jadi teringat perkataan Chanyeol saat lelaki itu pertama kali memainkan vaginanya. Jadi itu gunanya, ia dilatih untuk menahan orgasme. Pikiran Baekhyun kemana-mana hingga ia tidak menyadari bahwa Junmyeon sudah selesai memarkir mobilnya.
"Ah, Youngwoon datang sebelum kita, rupanya!"
Baekhyun tersadar dan menoleh ke depan. Mobil itu, mobil yang biasa dipakai oleh Chanyeol, kan?
"Ayo, keluar, Baekhyun."
Junmyeon keluar terlebih dahulu, yang disusul oleh Baekhyun. Mereka disambut dengan Youngwoon yang memakai jas kerjanya dengan tundukan kepala penuh hormat.
"Selamat siang, Nona Junmyeon, Nona Baekhyun."
Baekhyun hanya mengangguk, sedangkan Junmyeon berkata dengan senyuman, "Selamat Siang, Youngwoon. Lama tak berjumpa!"
"Nona Baekhyun, Tuan Chanyeol mengutus saya untuk menyerahkan ini kepada Nona." Youngwoon merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan kartu berwarna hitam yang berkilauan. Baekhyun tidak bodoh untuk mengetahui apa sebenarnya kartu itu, namun ia-pun tidak memiliki pilihan untuk tidak menerima kartu itu.
"Terima kasih."
"Tidak perlu, Nona. Saya pamit dulu. Selamat siang, Nona-Nona."
Di saat Baekhyun masih terpaku atas kepergian Youngwoon, ponsel Junmyeon berdering.
Ah, rupanya Chanyeol.
Mata Junmyeon mengernyit, ia sekilas kebingungan karena Chanyeol yang menelponnya. Namun sedetik kemudian ia menyadari sesuatu, Baekhyun sama sekali tidak dipegangi telepon genggam oleh Park Chanyeol itu.
"Ya Park Chanyeol! Katakan apa yang membuatmu menelponku? Apa kau tak memberikan ponsel untuk Baekhyun, oh?"
Chanyeol membukanya dengan tawa, "Kim Junmyeon memang seorang jenius. Tak heran Kris bertekuk lutut di hadapanmu."
"Ckkk."
Di sisi lain, Baekhyun memandang Junmyeon dengan penuh tanya.
"Kau ingin berbicara dengan Baekhyun, I guess?"
"Tentu saja. Aku tak mungkin ingin berbicara dengan tunangan sahabatku sendiri."
Junmyeon memutar matanya sebelum menyodorkan ponselnya ke tangan Baekhyun, "Park Chanyeol gila itu ingin berbicara denganmu."
"Yobosaeyo?" ujar Baekhyun dengan ragu-ragu.
"Sayang, kau sudah pegang kartu platinum dariku, kan? Passwordnya adalah hari lahirmu. Oh, dan kau bebas membeli apa saja dengan kartu itu."
"Ya, daddy."
"Dan juga, kuharap kau pulang sebelum makan malam, sayang."
"Ya, daddy, aku akan menyuruh Junmyeon memulangkanku sebelum makan malam."
"Satu lagi." Chanyeol berkata tepat sebelum Baekhyun akan menyodorkan ponsel itu kembali ke pemiliknya. "Belilah ponsel, minta Junmyeon untuk memilihkan model ponsel terbaru untukmu."
Untuk suatu alasan, Baekhyun tiba-tiba saja merasakan pipinya memerah.
"Ya, daddy."
Baekhyun tak tahu, di sana, Chanyeol-pun tersenyum tersipu.
"Chanyeol?" ponsel itu sudah kembali ke empunya.
"Oh Junmyeon. Kau jangan lupa untuk membawa Baekhyun pulang sebelum jam makan malam."
"Baiklah."
"Dan juga…."
Junmyeon menunggu lanjutan perkataan Chanyeol.
"Terima kasih mau berteman dengan Baekhyun."
Junmyeon tersenyum dengan tulus, "Tidak ada alasan untukku bermusuhan dengannya, Chanyeol."
"Kau tahu, kau adalah teman baik….."
"Chanyeol, aku tak ingin membicarakannya, sekarang."
"Okay. Aku mengerti. Tapi sekali lagi, terima kasih, Junmyeon-ah."
.
.
Baekhyun pulang dengan membawa delapan tas belanjaan yang kesemuanya, dipilihkan oleh Junmyeon—yang tentu saja dibayarkan dengan kartu platinum dari Chanyeol. Kakinya sedikit pegal karena Miyoung memilihkan sandal wedges untuknya.
"Selamat malam, Nona Baekhyun." seruan Miyoung terdengar saat pelayan bermata indah itu membukakan pintu untuk nonanya.
Baekhyun melangkah dengan perlahan, menahan kakinya yang berdenyut sakit. Untungnya Miyoung sendiri sigap mengambil semua tas belanjaanya.
Saat Baekhyun melangkah lebih dalam, Chanyeol turun dari lantai atas. Baju kantornya telah berganti menjadi kaos putih ketat dengan celana jogger berwarna abu-abu.
"Sudah pulang, sayang?" Chanyeol segera mengecup bibir Baekhyun. "Miyoung, bawa belanjaan Baekhyun ke atas."
"Ya, Tuan."
"Waktu yang tepat, Baekhyun. Mandilah dulu, dan aku menunggumu di meja makan."
Baekhyun mengangguk dan naik ke kamarnya dengan patuh.
Tak butuh waktu lama untuk Chanyeol menunggu, karena lima belas menit kemudian, Baekhyun sudah turun ke ruang makan dengan aroma stroberi menyeruak dari balik badan moleknya. Chanyeol selalu menyukai bau stroberi Baekhyun, dan itu membuat hasratnya naik dengan tanpa alasan.
Tidak sekarang Chanyeol, tidak. Selesaikan makan malammu dulu!
"Kalbi tang!" mata Baekhyun bersinar ketika melihat makanan favoritnya itu tersaji di atas meja makan. Dulu, ketika ia masih di panti asuhan, ia hanya menikmati sup dari iga sapi itu setahun sekali, saat perayaan ulang tahunnya.
"Makan yang banyak, sayang."
Chanyeol tak butuh jawaban, karena Baekhyun sendiri sudah memulai makannya dengan lahap. Melihat Baekhyun yang bergembira itu, bibir Chanyeol jadi terangkat naik. Mengadopsi Baekhyun menjadi little girlnya memang bukan suatu kesalahan, pikir Chanyeol.
.
.
"Baekhyun." Chanyeol memasuki kamar gadis kecilnya itu di saat Baekhyun sedang membongkar satu persatu belanjaannya.
"Daddy." Baekhyun tersenyum. Setelah mendengarkan wejangan-wejangan Junmyeon perihal hubungan daddy dan little girl, Baekhyun langsung memutuskan untuk menjadi little girl yang baik untuk Chanyeol. Hubungan daddy dan little girl bukan hubungan sepihak, melainkan hubungan simbiosis mutualisme yang seharusnya menguntungkan kedua belah pihak.
"Kau berbelanja banyak dengan Junmyeon, hmm?" tangan Chanyeol bersindekap. Ia duduk manis di sofa berwarna pink pucat yang dipilihnya untuk kamar Baekhyun.
Baekhyun sendiri menata kantong belanjaannya di meja marmer yang terletak di depan sofa yang diduduki Chanyeol. "Ya, daddy. Sebenarnya, Junmyeon yang memaksaku membeli sebanyak ini." Ia mengangkat dress berwarna biru pastel dengan aksen renda di bagian lehernya seperti gaun-gaun jaman Victoria, hanya saja, dress itu hanya sepanjang lutut Baekhyun.
"Selera Junmyeon memang bagus." Chanyeol merebut dress di tangan Baekhyun dengan lembut. Ditatapnya lekat-lekat dress itu, lalu berkata, "Keberatan untuk mencobanya sekarang? Aku ingin melihatmu memakainya."
"Di sini, daddy?"
"Ya, Baekhyun."
"Tapi…" Baekhyun menunduk dengan muka merah.
"Kau tidak mau, sayang?"
Baekhyun segera menggeleng, ia tak ingin daddynya marah hanya karena sifat pemalunya yang terkadang sangat bodoh itu. "Tidak, daddy. Bukan itu, maksudku."
Chanyeol kemudian mengangguk dengan senyuman menyeringai., "Kau malu, sayang?" ia menarik Baekhyun ke pangkuannya setelah meletakkan dress biru pastel itu kembali ke meja marmer. "Sayang, aku sudah sering melihatmu telanjang, tanpa sehelai benang-pun." Diturunkannya tali baju tidur Baekhyun yang tidak mengenakan bra itu, lalu dikecupnya bahu itu. "Kau harusnya sudah terbiasa dengan itu, sayang." Kemudian didekatinya wajah Baekhyun yang merona hebat.
Baekhyun menahan nafas. Dilihat berapa kalipun, daddynya itu memang sangatlah tampan tanpa cacat. Umurnya yang baru dua puluh sembilan tahun itu juga semakin membuatnya sempurna. Dimiliki oleh orang sesempurna Park Chanyeol, seperti hanya mimpi bagi Baekhyun.
"Daddy…" nafas Baekhyun berhembus berat. Panas dirasakan di sekujur tubuhnya.
"Aku berubah pikiran, sayang." Chanyeol kembali menyeringai. "Kurasa aku lebih menyukai tubuh telanjangmu ketimbang dress bergaya Victorian itu."
Hingga Baekhyun tersadar, baju tidurnya yang terbuat dari bahan sutra itu sudah terlepas sempurna dari tubuhnya.
"Berlututlah di depan ranjangmu, sayang. Kita akan memulai pelajaran terakhir sebelum kau melepaskan keperawananmu."
Baekhyun berjalan ke depan ranjang, dan berlutut dengan patuh. Ia sedikit kebingungan dengan Chanyeol yang masih bertahan di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjangnya itu. Kepalanya tertunduk, dan berharap daddynya itu tidak memberikan hukuman-hukuman aneh seperti yang diceritakan Junmyeon, tadi.
"Angkat kepala, sayang."
Baekhyun begitu terkaget setelah kepalanya terangkat. Chanyeol, dengan segala kesempurnaannya, lengan yang berotot, dada yang bidang, juga abdomen yang membentuk kotakan-kotakan, dan tak lupa…..kejantanan yang tegak sempurna, seperti menantang lawannya.
Selama berminggu-minggu Chanyeol dan Baekhyun bersama, tak sekalipun Baekhyun melihat tubuh telanjang Chanyeol. Dan malam ini, Baekhyun semakin menyadari sesuatu, bahwa ia tak bisa untuk tidak jatuh dalam pesona ayah angkatnya itu.
"Daddy….." nafasnya putus-putus.
"Berkenalanlah dengan adik kecilku, sayang." Chanyeol mengacungkan kejantanannya. Matanya berkilat-kilat penuh gairah. "Ulurkan tanganmu dan belai dia, sayang. Kenali dia dengan tanganmu."
Pandangan Baekhyun tak dapat terputus dari kejantanan yang panjang, besar, dan berurat itu. Tangan kanannya terjulur dengan ragu-ragu, merasakan tiap jengkalnya yang memanas. Dibelainya kejantanan Chanyeol dengan hati-hati, dari pangkal, hingga ujung kepalanya, hingga agak lama mengelus lubang kencingnya.
Baekhyun, inilah sahabatmu mulai sekarang.
"Genggam erat, sayang…" nafas Chanyeol tercekat, gairahnya sudah diubun-ubun, dan ia ingin Baekhyun memuaskan kejantanannya.
Tangan mungil itu menggenggam kejantanan Chanyeol, hingga pria itu merintih dengan nikmat. Seakan mengerti, Baekhyun menggerakkan tangannya dari atas, ke bawah, ke atas, ke bawah lagi…..diiringi dengan erangan Chanyeol. Dan entah setan apa yang merasukinya, Baekhyun mendekatkan bibirnya, ke ujung kepala itu, mengecupkan, tanpa menghentikan gerakan tangannya di sana. Matanya tak dapat berhenti menatap Chanyeol yang bergairah, hingga mengerang keenakan.
Baekhyun bahagia, ketika melihat daddynya terpuaskan. Dan ia ingin terus memuaskan daddynya.
Karena itulah, ia menjulurkan lidahnya, mengait-ngaitkannya pada lubang kencing Chanyeol tanpa rasa jijik sekalipun. Chanyeol-pun pernah dua kali mengerjai vaginanya dengan lidah panas itu, dan ia ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Chanyeol.
Chanyeol tentu saja tidak menyangka Baekhyun akan menjilati penisnya yang semakin mengeras hingga uratnya terlihat jelas itu. Ia tak mengerti, Baekhyun terkadang nampak seperti gadis manis yang lugu, namun terkadang, Baekhyun dapat melakukan hal-hal liar yang tak bisa dibayangkan olehnya. Seperti saat ini, ketika Baekhyun memasukkan penis ke dalam mulut mungil itu.
Erangan nikmat terus keluar dari mulut Chanyeol. Baekhyun-pun mengocok penis itu semakin cepat di dalam mulutnya, bahkan sesekali menghisapnya hingga mulutnya kampong. Mata mereka saling beradu, memancarkan kegairahan yang tidak terbendung lagi.
Hingga gairah itu tiba di puncaknya.
Chanyeol tak bisa menahan laju spermanya. Tidak, ketika Baekhyun menyodorkan jutaan kenikmatan itu. Baekhyun tak siap, namun ia toh tak sampai tersedak saat cairan itu memenuhi mulut kecilnya, sampai keluar di sela-sela mulutnya.
Dan Chanyeol tentu tak sampai hati membiarkan gadis kecilnya itu mempertahankan penisnya. Oleh karena itu, ia segera mengeluarkan penisnya, dan berlutut hingga menyamai Baekhyun.
"Maafkan aku, sayang. Aku tak bisa menahannya lagi."
Baekhyun menjilati bibirnya, merasakan sisa-sisa Chanyeol di sana, "Daddy…" tangannya membelai pipi Chanyeol.
"Tapi kau luar biasa sayang." Dikecupnya bibir mungil itu. "Dan aku harap kau tidak keberatan untuk melakukanny dengan sering."
"Tidak daddy, tidak." Baekhyun tersenyum. "Aku akan melakukannya dengan senang hati. Aku milikmu seutuhnya, daddy."
Direngkuhnya tubuh gadis itu, dan mereka saling berbagi kehangatan hingga pagi tiba.
.
~^Bersambung^~
.
cuman 2947 words sih, tapi kuharap bisa menyenangkan kalian semua! update selanjutnya, kalau review untuk chapter ini di atas 40 yah! bisa kan? Kuharap bisa, karena kulihat followers fanfic ini sudah menginjak angka 62, dan itu artinya ada 62 orang yg sudah tentu membaca fanfic ini. review kalian berpengaruh besar dengan semangatku menulis, terima kasih!
