First update setelah writerblock.
PS: Please baca juga fanficku yang berjudul 'Hello Again' yah, dan review juga di sana. Terimakasih all! /kecupdaribaekhyun/
.
LESSON THREE
.
Chanyeol tidak mengerti apa yang merasuki pikirannya, sehingga melewatkan rapat direksinya siang ini hanya untuk bercumbu dengan putri kecilnya. Otaknya tidak dapat berpikir normal ketika tangan mungil itu mengelus penisnya yang berurat dengan sedikit pijatan yang membuatnya semakin menggila.
Baekhyun terduduk di meja kayu berwarna cokelat hitam yang terletak di ruangan Chanyeol. Baby doll biru pastelnya sudah turun hingga payudaranya yang sintal dapat terlihat jelas. Di saat Chanyeol sibuk memeluk pinggangnya sembari menikmati puting merah muda itu, tangannya justru melakukan pijatan kecil pada penis Chanyeol. Baekhyun yakin, tubuh Chanyeol sama nyerinya dengan putingnya yang membengkak akibat gigitan kecil oleh sang daddy.
Chanyeol menggeram, "Shit, Baekhyun." dan secara tidak sadar melontarkan kata makian yang tentu saja tidak dijawab oleh Baekhyun.
Di sisi lain, Baekhyun semakin mengeratkan genggamannya pada penis Chanyeol, dengan sesekali mengelus lubang kencingnya.
Chanyeol membalas perlakuan itu dengan gerakan memutar yang dilakukan lidahnya yang terampil pada puting Baekhyun yang membuat gadis itu memekik tajam.
Tangan kiri Baekhyun yang bebas pada akhirnya berpegangan pada satu sisi meja.
"Daddy….ah…." desah Baekhyun yang tetap mengocok penis Chanyeol.
Chanyeol melepaskan cekalannya pada pinggang Baekhyun dan menatap si mungil yang juga menatapnnya sayu. Dielusnya rambut Baekhyun dengan lembut, sebelum ia mengecup bibir si mungil itu.
"Kau mau mengulumnya, sayang?"
" Ya, daddy. Aku tak dapat menahan diriku untuk tidak berjongkok dan mengulum penis daddy."
Lidah Chanyeol berdecak, "Kau sudah handal berkata jorok, sayang?" katanya sembari menurunkan tubuh mungil Baekhyun dan menuntunnya untuk berlutut. "Tapi tak apa, aku cukup menyukai gadis yang nakal."
Tak butuh waktu lama untuk Baekhyun memasukkan batangan penis yang sudah berdiri sempurna itu. Dengan gerakan pelan, mulutnya tidak malu-malu untuk memasukkan dan mengeluarkan penis Chanyeol dengan intens. Chanyeol kembali menggeram dengan gairah yang membuncah di ubun-ubun.
"Astaga, sayang…."
Baekhyun menjawabnya dengan desahan yang tertahannya di mulutnya yang penuh dengan batangan itu. Matanya tak dapat berhenti menangkap ekspresi puas milik Chanyeol yang sekarang memejamkan mata. Gerakan kuluman itu semakin cepat, semakin liar, dan Baekhyun dengan sengaja menyempitkan otot mulutnya hingga batangan tersebut semakin terjepit, yang tentunya membuat Chanyeol pening.
"Damn it, baby! Darimana kau dapatkan teknik menjepit itu?" Chanyeol berseru saat Baekhyun semakin menjepit penisnya dengan bibir mungil itu.
Membuat Chanyeol senang seperti sudah menjadi kewajiban Baekhyun, karena itu, ia bahkan rela menonton puluhan video porno yang ia unduh dari iPad baru yang dibelinya bersama Junmyeon beberapa hari yang lalu.
"Sayang, kau membuat spermaku datang lebih cepat." Chanyeol setengah menjambak rambut si mungil. "Ohhhh!"
Chanyeol terus meracau hingga Baekhyun sendiri tidak sadar kapan cairan putih kental itu tersemprot ke relung tenggorokannya, bahkan hingga membuatnya tersedak dan secara reflek melepaskan batangan itu. Bahkan setelah terlepaspun, sperma Chanyeol masih terus mengalir hingga mengotori beberapa titik di wajah Baekhyun.
Baekhyun baru saja berdiri untuk menggapai tissue yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat suara itu terdengar.
"Chanyeol, aku ingin mengajak Baekhyun keluar!" Junmyeon menghentikan langkahnya setelah berteriak dan mendobrak pintu ruangan kerja Chanyeol dengan tanpa rasa bersalah.
Yang dilihatnya adalah Baekhyun baju melorot hingga payudara sintalnya terbuka, dan juga Chanyeol yang tidak mengenakan celananya sama sekali.
"Astaga, mataku!" Junmyeon segera berbalik dan membanting pintu dengan muka merah.
.
LESSON THREE
.
Chanyeol turun dengan pakaian kerjanya yang necis dengan ekspresi biasa, bahkan ia terlihat seperti mengejek Junmyeon yang malu setengah mati di sofa besar itu.
"Senang mendapatkan tontonan gratis, Nona Kim?"
Junmyeon membalasnya dengan tatapan tajam membunuh yang dipelajarinya dari Yifan.
"Oh, sudah bisa menirukan si gila Wu, sepertinya?"
"Chanyeol, kau benar-benar membuatku sakit kepala." Junmyeon akhirnya membuka mulut, sambil sesekali memijat pangkal kepalanya yang sebenarnya sehat-sehat saja itu.
"Hei, aku melakukannya di ruangan dan rumahku sendiri, Nona. Dimana letak kesalahannya?"
"Setidaknya kunci pintunya, bodoh!"
Chanyeol terkekeh.
"Kau senang membuatku malu, Park?"
"Begitulah." jawab Chanyeol yang akhirnya duduk di sebelah Junmyeon. "Jadi, untuk apa kau kemari, Junmyeon-ah?"
"Menurutmu?" Junmyeon balik bertanya.
"Mengajak Baekhyun berbelanja lagi?"
Junmyeon menggeleng-geleng, "No no no ~"
"Lantas?" Chanyeol menaikkan alisnya dengan wajah penuh tanya.
Junmyeon menjawabnya setelah merogoh Dior merah jambunya, dan menyodorkan selembaran berwarna jingga itu pada Chanyeol, "Aku ingin mengajak Baekhyun mengikuti kelas ini."
"Sekolah kepribadian?" tanya Chanyeol lagi, setelah membacanya sekilas.
"Right!" jawab Junmyeon dengan antusias.
"Tapi, untuk apa?"
"Chanyeol, Baekhyun adalah gadis polos, dan aku yakin cepat atau lambat, kau pasti akan memperkenalkannya pada khalayak sebagai milikmu. Aku yakin, Baekhyun membutuhkan itu agar ia terlihat elegant di mata rekan-rekan bisnismu yang kebanyakan berbibir sarkastik itu. Lagipula, aku juga akan mendaftar di sana, jadi kau tak perlu mengkhawatirkannya!"
Chanyeol menertawai Junmyeon lagi, "Kau? Memerlukan kelas kepribadian lagi? Lelucon apa ini?"
"Well…" Junmyeon berdeham. "Yifan mengataiku gadis liar hanya karena aku menyiram anak koleganya yang bersikap seperti pelacur, dua hari yang lalu."
Tawa Chanyeol semakin meledak, "Hahahahahaha."
"Hentikan tawamu, kumohon!" Junmyeon memukul pundak Chanyeol dengan tatapan kesal. "Kau pikir aku tidak kesal saat berdebat dengan Yifan kemarin?"
"Jadi kau menjadikan Baekhyun sebagai tumbal, Nona Kim?"
"Bukan begitu…. Aku hanya merasa Baekhyun cocok untuk menjadi teman sekelasku di sekolah kepribadian itu. Aku cukup sadar diri untuk tidak mengajak Minseok eonnie yang sudah kelewat priyayi itu."
"Apakah itu artinya kau menganggap Baekhyun dari kaum rendahan, Nona?"
"Aigoo, bukan seperti itu, maksudku, Park!" Junmyeon merajuk lebih dalam. "Baekhyun adalah gadis yang polos, kalau misalnya kau membawanya tiba-tiba dalam pesta sosialitamu, ia pasti sangat kebingungan. Oleh kerena itu, aku ingin ia juga belajar denganmu. Win win solution untukku, untukmu, dan untuk Baekhyun, kan?"
"Ok sajalah, kalau begitu. Kau yang atur ya, Nona Kim."
"Assa!" teriak Junmyeon kegirangan dengan tangan terkepal di udara. "Err, ngomong-ngomong kemana Baekhyun? Kenapa ia tak juga turun?"
"Oh, mungkin dia masih membersihkan diri. Kau tahu sendiri, bau sperma itu agak susah dihilangkan."
Perkataan Chanyeol tersebut akhirnya dibalas dengan lemparan bantal sofa oleh Junmyeon.
.
LESSON THREE
.
"Junmyeon, sebenarnya kenapa kau begitu tergesa?" tanya Baekhyun setengah kesal karena Junmyeon menyeretnya turun dari mobil dan melenggang tanpa tujuan. "Hei, aku belum terbiasa menggunakan sepatu tinggi seperti ini, Junmyeon-ah."
Junmyeon memelankan langkahnya, "Oh maafkan aku, Baekhyun, aku hanya takut pendaftarannya sudah ditutup."
"Pendaftaran? Pendaftaran apa?"
"Kau akan tahu sebentar lagi."
Junmyeon melangkah beberapa langkah lagi, dan akhirnya mengajak Baekhyun memasuki sebuah bangunan elegant dengan aksen merah yang mencolok.
"Hei, sebenarnya tempat apa ini?" Baekhyun terus bertanya.
Sayangnya Junmyeon terlampau sibuk untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan langkah seribu Junmyeon menuju resepsionis dan bertanya pada seorang wanita yang bertugas di sana, "Apa aku bisa menemui Sooyeon eonnie, atau Changmin oppa sekarang?"
Resepsionis dengan nametag Lee Chaeyeon itu menjawab dengan sopan dan penuh senyuman, "Maaf Nona, tapi apa sebelumnya sudah membuat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu, saya tidak bisa menghubungkan Nona dengan Nona Sooyeon dan Tuan Changmin sekarang."
"Tidak bisakah kau menelponkan Sooyeon eonnie dan berkata Kim Junmyeon sepupu sedang menunggu di resepsionis? Aku yakin Sooyeon eonnie akan menjawabnya." kata Junmyeon lagi dengan mata anak anjingnya.
"Baik Nona, akan saya coba."
Chaeyeon, dengan tenang menelpon atasannya yang dicari oleh Junmyeon itu, sedangkan Junmyeon menunggu dengan hati berdebar. Baekhyun? Ia bahkan masih bertanya-tanya apa yang akan Junmyeon lakukan padanya.
"Nona Kim Junmyeon, silahkan ikut saya ke ruangan Nona Sooyeon." Chaeyeon rupanya berdiri dan mempersilahkan Junmyeon mengikutinya, melewati lorong yang berliku yang berisikan kelas-kelas kecil, hingga tiba di ruangan besar bertuliskan 'Jessica Jung Sooyeon' di sebelah kiri—sedangkan ruangan besar di sebelahnya memiliki tag 'Max Shim Changmin'.
Baekhyun mengernyit, ia sama sekali tidak mengenal kedua orang itu. Ya, Baekhyun kan sebelumnya tinggal di panti asuhan, mana mungkin ia mengenal orang-orang dari kelas menengah keatas seperti mereka, sih?
Chaeyeon mengetuk pintu dengan tulisan 'Jessica Jung Sooyeon itu dengan pelan, "Nona, Nona Kim sudah di sini."
Terdengar teriakan dari wanita bersuara nyaring yang tidak terlalu jelas. Yang pasti, Chaeyeon akhirnya membuka pintu tersebut dan Junmyeon kembali menyeret Baekhyun dengan antusias.
"Eonnie!" teriak Junmyeon.
Wanita bernama Sooyeon itu mengalihkan pandangannya pada Chaeyeon, "Kau boleh undur diri, Chaeyeon-ah. Terima kasih."
"Ya Nona." jawab Chaeyeon sebelum keluar dari ruangan itu.
"Apa yang membuatmu meluangkan waktu bersenang-senangmu untuk mengunjungiku, Junmyeon-ah?" tanya Sooyeon yang duduk di kursi hitam kebesarannya.
"Eonnieeeeee.." balas Junmyeon dengan nada merajuk. "Aku bukannya tak ingin mengunjungimu, tapi kau tahu sendiri, belakangan ini aku sibuk bolak-balik Korea-China-California untuk mengurusi perusahaan ayah."
Sooyeon mendengus, "Ya, anggap saja aku percaya denganmu, Junmyeon-ah."
"Hehehe.." Junmyeon meringis. "Sebenarnya, Yifan seperti muak dengan kelakuanku yang terlampau bar bar saat menghadapi kolega-koleganya yang ganjen itu."
"And then?"
"Yifan menyuruhku untuk ikut kelasmu, eonnie ya." Junmyeon memanyunkan bibirnya.
"Kim Junmyeon, asal kau tau saja, bibir monyongmu itu tidak membuatku iba sama sekali." ujar Sooyeon yang membuka buku agendanya. "Jadi, kau mau kelas private atau bergabung di kelas regular, Junmyeon-ah?" lanjutnya dengan membuka-buka buku agendanya itu.
"Bolehkan aku dan Baekhyun bergabung dalam satu kelas? Maksudku, aku tak mau kalau hanya private sendiri, aku mau berdua, bagaimana?"
Sooyeon mengernyit dan menegakkan lehernya, menatap Junmyeon keheranan, dan bergantian pula menatap Baekhyun yang masih tidak mengerti dengan situasi.
"Baekhyun? Maksudmu, gadis yang kau bawa ini?"
"Yes, eonnie!" Junmyeon mengangguk-angguk seperti balita.
"Tunggu, Sooyeon-ssi, tapi… aku bahkan belum tahu apa maksud semua ini."
"Lah?" Sooyeon kembali menatap Junmyeon dengan pandangan menuntut, "Kim Junmyeon, jangan bilang kau dengan asal mengajak temanmu untuk menemanimu di kelasku."
Junmyeon kembali meringis dan pasrah saja menerima pukulan buku agenda dari Sooyeon.
.
LESSON THREE
.
Chanyeol begitu terpingkal saat mendapati Junmyeon yang terduduk dengan wajah kusut dan Baekhyun yang menceritakan pengalamannya dengan Sooyeon tadi.
"Jadi, Sooyeon-ssi berakhir menolak Junmyeon untuk mendaftar pada kelasnya dan memilihku sebagai muridnya secara gratis, daddy"
"Hahahahaha, Nona Kim, bagaimana bisa kau ditolak oleh sepupumu sendiri?"
Junmyeon melempar bantal sofa itu tepat di muka Chanyeol.
"Hentikan tawamu, Park. Itu sama sekali tidak lucu."
"Aku tak sabar untuk melihat reaksi Yifan. Hahahahaha." Tentu saja, Chanyeol sama sekali tidak menghiraukan amarah Junmyeon.
"Membicarakanku?" suara berat itu terdengar dari balik punggung mereka bertiga. Pria bertubuh seratus sembilan puluh centimeter itu segera bergabung, dan memilih duduk di samping Junmyeon yang nampak tidak peduli dengan kehadirannya.
"Panjang umur kau, Yifan." decak Chanyeol.
"Oh itu sudah tentu." balas Yifan dengan penuh percaya diri. "Ngomong-ngomong aku sudah menelepon Sooyeon noona dan ia akhirnya mau menerimamu, sayang." Yifan memeluk pinggang Junmyeon di sampingnya.
"Apa?" Junmyeon menyentak dan berbalik badan kearah. "Yifan, kau benar-benar serius dengan ucapanmu kemarin ya?"
"Sayangnya, ya, sayang."
"Yifan, kalau memang Sooyeon eonnie tidak mau ya sudah, seharusnya aku tak perlu mendatangi kelas seperti itu."
"No, baby. Tingkahmu memang membaik dari pertama kali aku mengenalmu. Tapi, terkadang keliaranmu itu menjadi tidak terkendali.,,,"
Belum juga Yifan menyelesaikan kata-katanya, Junmyeon sudah beranjak mendahuluinya dengan langkah merajuk.
"Maaf, aku mengganggu kalian." kata Yifan sebelum menyusul Junmyeon.
Baekhyun menatap kepergian Yifan dan Junmyeon dengan gamang. Kehidupan percintaan yang rumit, dan mustahil untuk ia rasakan sekarang. Mungkin, kalau saja ia masih berada di panti asuhan, ia bisa aja bertemu dengan pria baik-baik secara wajar, jatuh cinta, merasakan pertengkaran kecil, sebelum akhirnya menikah dan memiliki keluarga. Namun, dengan statusnya sebagai anak pungut Chanyeol yang notabene hanya dijadian budak seks dan pasangan di ranjang, ia tak terlalu berharap banyak.
"Sayangku, ada yang kau pikirkan?"
Baekhyun bahkan tidak sadar Chanyeol sudah memeluk pinggangnya.
"Ah.. ani, daddy."
"Kelas kepribadian itu, kau bisa menolaknya."
Baekhyun menggeleng, "Tidak daddy, Junmyeon sudah banyak membantuku, aku tak ingin membuatnya sedih karena harus menjalani kelas itu seorang diri."
Chanyeol termangut. "Baiklah." Ia kemudian mengangkat badan Baekhyun yang mungil, mendudukkannya di pangkuan, lalu dengan gairah, menggerayahi selangkahan Baekhyun. Gerakan penuh gairah itu terhenti setelah ia merasakan benda padat bersarang di celana dalam putri kecil itu.
"Errr daddy, sebenarnya darah menstruasiku keluar sesaat sebelum aku pergi dengan Junmyeon."
"Oh Shit." umpat Chanyeol menahan amarah.
.
~^Bersambung^~
.
Terima kasih untuk semuanya yg sudah mau meluangkan waktunya membaca fanfic gejeh dariku ini^^ Aku berusaha membalas satu-satu review dari kalian via pm ya^^ oh iya, chapter selanjutnya akan diupdate kalau review-annya tebus 210, bisakah? ^^
