Datang bulan Baekhyun pergi dengan lebih cepat dari perkiraan.
Hal tersebut membuat Baekhyun serba salah. Awalnya ia gembira, karena ia tahu betul bagaimana nyeri pinggul yang ditimbulkan oleh tamu bulanan itu. Namun di sisi lain, ia juga merasa was-was. Terakhir kali Chanyeol mencoba berhubungan dengannya adalah malam setelah ia pulang dari tempat Sooyeon. Dan bukan tidak mungkin lelaki itu akan segera melakukan sesuatu padanya kalau tahu menstruasinya sudah berhenti.
Tentu saja, itu hanya ketakutan yang tidak beralasan.
Baekhyun ingat betul bagaimana nikmatnya jemari jenjang lelaki itu saat menyentuh sudut-sudut tersembunyi di kemaluannya. Ia bahkan mendesah kencang sekali saat Chanyeol menggoda putingnya yang ranum. Kemudian jangan lupakan saat ia merengek agar Chanyeol mengijinkannya melepas orgasme.
Oh Byun Baekhyun, sejak kapan kau jadi sepiktor ini?
"Untuk apa takut, eoh? Kau seharusnya senang Chanyeol bisa menyentuhmu lagi. Seks itu suatu hal yang menyenangkan, Baekhyun-ahh."
Baekhyun merasa percuma untuk bercerita pada Junmyeon.
Atau mungkin, Baekhyun lupa, bahwa Junmyeon juga seorang maniak seperti sang ayah.
Pikiran-pikiran kacau itu bertahan hingga malam menjelang, dan Chanyeol kembali ke peraduannya.
"Sayang, ada hal yang kau pikirkan?" Chanyeol bertanya, sesaat setelah ia dan Baekhyun makan malam bersama.
Apa muka cemas Baekhyun terlihat jelas?
"Errr..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menimang-nimang apa ia harus jujur pada Chanyeol.
"Sayang." kata Chanyeol dengan nada tidak suka. Dengan lembut ia menarik dagu Baekhyun dan menatap mata mungil itu lekat-lekat. "Bibirmu bisa saja terluka jika kau menggigitnya seperti itu."
Baekhyun balas menatap, dan mendadak birahinya memuncak.
"Katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan agar kau tenang."
Persetan dengan ketakutannya. Baekhyun-pun menjawab dengan cicitannya yang sangat pelan, "Daddy.. Datang bulanku sudah berhenti."
"Sayang.." Chanyeol menangkup wajah ayu itu. Pandangannya berubah menjadi buram, tertutup dengan hawa nafsu yang ditahannya sejak minggu lalu.
Dan kali ini, Chanyeol akan mendapatkan yang ia inginkan.
"Daddy... Aku.."
Chanyeol mengerti apa yang ditakutkan Baekhyun. Karenanya, ia berusaha melucuti busana gadis itu dengan perlahan, dan lebih lembut dari biasanya.
"Sayang, kau tahu, aku tak akan menyakitimu kan?" tanya Chanyeol saat tubuh Baekhyun sudah telanjang seutuhnya.
"Nggg.." Baekhyun mengangguk dengan patuh.
Chanyeol tersenyum, dan setelah itu ia menciumi leher putih itu. Wangi strawberry tercium jelas saat ciuman yang disertai dengan gigitan itu semakin turun. Bagai kanfas, dalam sekejap saja tengkuk Baekhyun sudah dipenuhi tanda keunguan.
"Sayang, kau ingat ini?"
Tangan kanan Chanyeol menyusuri lekuk tubuh sang gadis, hingga tiba di titik terakhir, dada ranum itu. Dengan sengaja ia menggoda puting itu, sesekali memilin puting tersebut hingga mengeras.
Baekhyun mendesah. Bahkan dengan sedikit sentuhan di dadanya saja, tubuhnya bisa sepanas ini.
"Sayang, kau suka?" Chanyeol menyeringai, lalu mengulum puting Baekhyun bergantian. Lidahnya yang lihai itu benar-benar membuat Baekhyun menggelinjang. Terlebih saat lidah itu terjulur dan memainkan puting Baekhyun hingga merahnya terlihat.
"Daddyhhh..." Baekhyun menggunakan tangannya untuk mencekal bahu Chanyeol, mencegah tubuhnya lunglai.
Chanyeol melepaskan kulumannya, dan dalam sekali dorong, ia menempatkan Baekhyun bersandar pada ranjang putih itu.
Kedua selangkangan Baekhyun terbuka dan menampakkan vaginanya yang ranum.
"Jangan takut sayang." Chanyeol menenangkan Baekhyun sembari mulai menyentuh klitoris itu. "Ingat kau menyukainya?"
"Nghhh..." Baekhyun mengangguk dengan tubuhnya yang bergetar.
Kedua jari Chanyeol masuk ke dalam lubang kecil itu. Mulai berair, mungkin karena Baekhyun terlalu menikmati permainan lidah Chanyeol. Atau mungkin, Baekhyun menahan birahinya telalu lama, sama seperti yang Chanyeol rasakan?
Kedua jari Chanyeol masih bergerak di dalam vagina itu, sedangkan ibu jarinya menekan klitoris Baekhyun dengan kencang.
Nyeri, itu yang Baekhyun rasakan. Klitorisnya seakan meledak karena tekanan. Tapi anehnya, ia juga menikmatinya.
"Mendesah lebih kencang sayang.." Chanyeol mempercepat gerakannya.
"Ahh... Daddyhhhh... Ahh..." dan membuat Baekhyun semakin menggila.
Kenikmatan itu hampir mencapai puncak.
Ya, hampir.
Kalau saja Chanyeol tidak menarik keluar jemarinya.
Tidak, Baekhyun tidak kecewa. Ia tahu apa yang dilakukan oleh Chanyeol selanjutnya, ketakutan terbesarnya.
Chanyeol menanggalkan piyamanya, hingga batang kejantannya terlihat jelas.
"Daddy..." Baekhyun menatap nanar. Ada dorongan dari dalam hatinya untuk menyentuh kemaluan yang tegang dan berurat itu.
"Hanya sebentar saja, oke, sayang?" Chanyeol menuntun tangan Baekhyun untuk menggenggam penisnya. "Ohh..." rasanya nikmat betul, pikir Chanyeol.
Baekhyun sudah akan menjulurkan lidahnya, namun dihalangi oleh Chanyeol.
Sebaliknya, Chanyeol malah menyandarkan tubuh telanjang gadis itu, dan kembali membuka kedua kaki mungil itu.
Vagina Baekhyun terlihat terlampau nikmat, dengan lubangnya yang sempit.
"Sakitnya sebentar saja, Sayang."
Baekhyun memekik saat penis itu berusaha memasukinya. Nyerinya mengalahkan saat klitorisnya dicubit. Sakitnya lebih berkali lipat dibanding tamparan kakak kelasnya saat sekolah dasar.
"Daddy... Jangan..." airmata itu tak tahan untuk melaju.
Chanyeol merasa bersalah, tapi ia harus menyelesaikan apa yang ia mulai.
Penisnya makin merangsak. Tembok pertahanan itu pecah terkoyak, dan membuat cengkraman Baekhyun pada bahunya semakin kencang.
Rasa sakit itu hilang seiring hentakan yang diluncurkan oleh Chanyeol. Keluar, masuk, keluar, dan masuk lagi. Hingga seterusnya sampai suara desahan Baekhyun berada di titik tertinggi. Cengkraman itu-pun mengendor, berganti dengan pelukan hangat di leher Chanyeol.
Baekhyun ingin mengecup bibir itu, namun ia tahu ia harus memohon terlebih dahulu.
"Daddy... Kecup aku...Ahh..." cicitnya di sela-sela surga itu.
Chanyeol menarik tubuh itu, mengecup bibir Baekhyun dengan segala kekuatannya. Mereka tertukar ludah, dengan gerakan panas yang dihasilkan oleh penis Chanyeol di bawah sana. Mereka berkeringat, namun tak ada yang ingin menyerah.
Sampai Chanyeol merasakan cengkraman dari otot vagina Baekhyun.
"Sayang." kuluman itu berhenti. "Kau boleh orgasme sekarang."
.
.
Junmyeon datang siang itu, dan hal pertama yang dilihatnya adalah tatapan kurang mengenakkan dari bibi Kim.
"Ada yang salah denganku, Bibi?" tanya Junmyeon dengan suara tajam. Ia tak pernah menyukai wanita paruh baya itu.
"Menurutmu, Kim Junmyeon-ssi?"
Junmyeon hampir saja melemparkan tas furlanya di hadapan Bibi Kim.
"Aku heran, kau seharusnya sudah tahu bagaimana brengseknya Park Chanyeol. Tapi bagaimana bisa kau tetap mendukungnya untuk membawa pulang pelacur itu, bahkan ikut berteman dengan gadis lacur itu."
Senyuman Junmyeon terlihat mengerikan, "Bibi, aku juga terkadang heran. Bukankah kau benci dengan Chanyeol? Tapi kenapa kau masih bertahan di sini?"
Perkataan itu membuat Bibi Kim mematung saat Junmyeon meninggalkannya.
Biarlah Junmyeon menanggung semua dosanya hari ini, ia benar-benar tidak tahan lagi dengan semua kebencian Bibi Kim.
Tangannya memijat ujung kepalanya, berharap pusingnya hilang saat ia tiba di kamar Baekhyun.
"Oh, Junmyeon! Kau datang?"
Baekhyun memakai terusan musim panas dengan motif hibiscus berwarna kuning yang kontras dengan kulit putihnya. Cantik. Bahkan Junmyeon yang wanita normal saja bisa terpesona dengan kecantikannya.
Chanyeol beruntung mendapatkan Baekhyun, menurut Junmyeon.
Namun Junmyeon tak yakin kebahagiaan Chanyeol akan berlangsung lama. Kalau saja Bibi Kim masih di sini dan meracuni pikiran Baekhyun, maka semuanya usai. Lenyap tak bersisa.
"Kau sudah siap, Baek?"
Untuk saat ini, biarlah berjalan perlahan sesuai detik yang berpacu. Yang Junmyeon bisa lakukan adalah mencegah Bibi Kim, atau bahkan menyingkirkannya dari rumah ini sebelum semuanya terlambat.
Ya, ia akan melakukan itu.
TBC
Halo, adakah yang merindukan fanfic ini?
Haha, ternyata susah juga untuk sekedar menuliskan adegan ranjang... Padahal dulu aku pikir akan mudah-mudah saja.
Bagian ini hanya terdiri dari lima halaman, entah bagaimana bagian selanjutnya.
Doakan aku tidak malas di tengah jalan lagi.
