"Apa ini?" Baekhyun memandang gamang pada beberapa kertas yang disodorkan oleh Chanyeol.

"Kontrak." jawab Chanyeol dengan singkat.

Raut si mungil semakin penuh tanya. Untuk apa ada surat kontrak?

"Oh, jangan berpikiran macam-macam, Baekhyunnie." Rupanya Chanyeol menyadari, dan segera menarik tangan wanita itu, mengelusnya agar sang wanita tenang. "Aku tetap menjadi pendamping resmimu, dan kau akan tetap tinggal di sini sampai kapanpun itu. Namun, aku tetap menginginkan adanya surat kontrak untuk kehidupan ranjang kita."

Baekhyun semakin tidak mengerti. Ia pikir, ia hanya akan menjadi budak seks Chanyeol apapun caranya.

"Sayangku, bacalah dulu, ya?"

Menurut, Baekhyun melihat masak-masak puluhan pasal yang disodorkan Chanyeol.

"Apa maksudnya aku harus memanggilmu daddy di ranjang tapi harus memanggilmu oppa di depan umum? Daddy, aku pikir kau memang ayah angkatku?"

Chanyeol tersenyum dengan pertanyaan itu, "Sebenarnya, aku hanya menjadi pendampingmu, bukan menjadi ayah angkatmu, Baekhyunnie. Usiaku tak setua itu untuk menjadi ayahmu. Dan ya, aku menyukai permainan peran saat kita sedang berhubungan badan. Sedangkan di luaritu, aku lebih pantas dipanggil oppa olehmu."

"Eoh.." Baekhyun kembali menyusuri surat kontraknya. "Aku bebas untuk menentukan masa depanku asalkan tidak mengganggu kehidupan ranjang kita? Apa ini artinya aku dapat pergi ke universitas?"

"Ya. Tapi sudah terlalu terlambat untuk mendaftar sekarang. Aku berharap kau dapat mengejarnya tahun depan, sayang."

Jawaban itu dapat membuat senyum Baekhyun merekah. Bagaimanapun, berkuliah adalah impiannya sedari dulu.

"Aku tidak masalah dengan pasal aku tidak boleh berhubungan badan dengan laki-laki lain. Aku tidak semurahan itu." Ada jeda setelahnya. "Tapi, apa maksudnya aku tidak dapat menyentuh diriku sendiri? Daddy, bukankah kau pernah mengajariku untuk masturbasi?"

"Masturbasi hanya di depanku, Baekhyunnie. Sebenarnya, semua peraturan di kontrak itu menunjukkan bahwa kau di bawah komandoku saat di atas ranjang. Beberapa minggu ini, aku hanya mengajarkan seks dasar padamu, dan itu bahkan belum masuk ke dalam klimaksnya."

Bulu kuduk Baekhyun berdiri.

"Termasuk kapan aku dapat mendesah?"

"Terkadang aku suka menggoda lawanku untuk bungkam saat aku menyetubuhinya."

"Dan kapan aku bisa orgasme?"

Seringai itu melebar, "Aku suka dengan jepitan vaginamu saat kau menahan orgasme. Kau cukup handal untuk itu, Baekhyunnie."

"Dan apa akibatnya kalau aku melanggar kontrak ini?"

"Tergantung." Chanyeol menyandar di kursi kebesarannya. "Aku menyukai sebuah hukuman yang juga bisa kau nikmati. Seperti, memasukkan vibrator ke dalam vaginamu selama beberapa jam, atau bahkan sedikit memecutmu hingga bokong ranum itu memerah dan semakin menggoda."

Nafas itu tertahankan, dan banyak adegan-adegan yang dibayangkan oleh Baekhyun. Terdengar mengerikan, namun selama ia dapat hidup enak dan bisa menikmati pendidikannya secara gratis, itu tak jadi masalah.

"Berikan penanya padaku." Baekhyun menyodorkan tangan kecilnya.

"Oppa."

Baekhyun terpaksa mengulang ucapannya, "Berikan penanya padaku, Chanyeol Oppa."

Pena mahal yang tadinya berada di kantung jas Chanyeol segera berpindah ke tangan kecil itu. Selanjutnya, hanya ada guratan tanda tangan di materai yang terbubuh di surat kontrak tersebut.

"Setelah ini, kau tak bisa mundur lagi, Baekhyunnie." Chanyeol berjalan ke arah wanita yang tadi duduk di depannya, dan segera menciumi tengkuk Baekhyun yang terlihat jelas karena rambut itu digelung ke atas. "Kau bersiap-siaplah sekarang. Kita makan malam di luar."

"Ya, Oppa."

.

.

Bukan Chanyeol namanya kalau tak membawa Baekhyun ke restoran biasa. Selama beberapa minggu hidup dengan Chanyeol, Baekhyun jadi mengerti betul kalau lelaki itu lebih menyukai suasana yang privat dan serba mewah.

Saat ini ia berada di restoran Jepang dengan ruangan privat yang dihiasi lampu termaram.

Baekhyun membiarkan Chanyeol yang memesankan makanan untuknya, dan memilih untuk memandangi lelaki tampan itu.

Tidak ada perjanjian yang menyebutkan ia tak dapat jatuh cinta pada Chanyeol, tapi Baekhyun cukup tahu diri. Ia hanya budak seks lelaki itu. Ia tak sebanding dengan Chanyeol yang ia tahu merupakan pebisnis dengan harta berlimpah.

"Kau melamun, sayang?"

"Eoh.." Baekhyun menggeleng dan tersadar kalau pelayan yang tadi berbincang dengan Chanyeol sudah lenyap. "Tidak, oppa."

"Jangan berbohong sayang. Aku tak suka dengan pembohong." Chanyeol memajukan kursinya.

Baekhyun hampir saja memekik kalau Chanyeol tak segera menarik tangannya dan meremasnya. Ia menatap ke bawah meja dan mendapati kaki jenjang Chanyeol yang sedang bertengger di dalam roknya.

"Rileks, sayang." Ibu jari Chanyeol mengelus punggung tangan Baekhyun.

Baekhyun berusaha sekeras mungkin. Sangat. Sebab kaki jejang itu kini juga menggoda klitorisnya yang tertutupi celana dalam.

"Rileks dan atur nafasmu, sayang."

Menurut, Baekhyun-pun kembali mengatur nafasnya. Vaginanya mulai bergetar karena gerakan kaki Chanyeol yang sedikit menuntut. Ia bahkan yakin klitorisnya sudah membengkak di bawah sana, dan cairan pertamanya sudah mengalir.

"Sayang, tahan. Ingat kau tak memiliki celana dalam pengganti kalau kau kebasahan."

Tangan-tangan mungil itu mengepal dan berusaha menggapai apapun yang ada di depannya. Sasarannya ada napkin yang tergulung di tengah-tengah alat makannya. Baekhyun mengalihkan pikirannya agar cairan itu tidak terus-terusan keluar dari lubang vaginanya. Namun tentu saja, itu gagal. Karena celana dalamnya bahkan sudah benar-benar basah sekarang.

"Baekhyunnie, kau harus berlatih lebih banyak."

Kedua mata itu terkatup, dengan kepala menggangguk pelan. Baekhyun lemas, dan ia tak dapat menanggapi perkataan Chanyeol lebih jauh.

"Mungkin aku harus mengajakmu makan malam di luar selama lima hari berturut-turut agar kau bisa belajar dengan lebih tekun."

Baekhyun kembali mengangguk. Remasan napkin di tangannya semakin kencang, karena mendadak saja dua orang pelayan masuk dan menata makanan pesanan Chanyeol.

Yang menyebalkan, Chanyeol tak sedetikpun menghentikan permainan kakinya. Sebaliknya, jemari lincah itu semakin dalam menekan vagina sang wanita. Baekhyun tersiksa, tapi ia tak dapat melakukan perlawanan apapun.

"Kau harus makan, sayang. Sashimi di sini terkenal enak dan segar. Kau pasti menyukainya." Seperti tidak ada hal yang ia lakukan, Chanyeol memindahkan dua potong maguro ke dalam piring Baekhyun. "Makan yang banyak, sayang. Kau butuh tenaga lebih untuk malam ini."

.

.

Baekhyun berjalan tertatih. Kakinya bak jelly yang bisa jatuh kapan saja. Beruntung Chanyeol bersedia untuk membopongnya hingga masuk ke dalam mobil.

Malam itu Chanyeol memutuskan untuk menyetir sendiri, tanpa membawa supir. Sedikit aneh, tapi Baekhyun tak sekalipun bertanya secara langsung kepada lelaki itu.

Makan malam tadi berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya. Ya, bagaimana Baekhyun bisa makan dengan tenang kalau jari-jari kaki Chanyeol terus menerus memainkan klitoris dan vaginanya?

Suara hentakan pintu nyaris membuat jantung Baekhyun terjatuh dari tempatnya.

Apakah Chanyeol marah padanya?

"Daddy..." Baekhyun menarik ujung lengan kemeja Chanyeol, memastikan lelaki itu baik-baik saja.

"Heum?" Nyatanya Chanyeol baik-baik, karena ia segera menatap Baekhyun dengan sedikit senyuman. "Kenapa sayangku?" dan mendekati tubuh mungil itu dan menahannya dengan tubuhnya sendiri.

Baekhyun terjepit, dan ia tak punya pilihan lagi.

"Daddy.." ia menggigit bibir bawahnya.

"Hmm? Kau ingin apa sayang?"

Tangan itu kembali menggerayangi Baekhyun, dan korban pertama adalah tengkuk hingga pundaknya yang seputih susu. Gerakan itu pelan sekali, saking pelannya hingga Baekhyun merinding.

"Daddyy..." Baekhyun kembali mencicit saat ciuman Chanyeol mendarat di lehernya. Kecupan itu berlangsung agak lama, hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Katakan kau ingin apa sayang?" Chanyeol memainkan tali spaghetti dari terusan yang dipakai wanita itu. Senyumnya makin merekah saat tahu Baekhyun memakai bra tanpa tali.

"Daddy..." kedua mata itu meminta, namun Chanyeol tak juga meresponnya.

"Bicara yang jelas, sayangku." Chanyeol segara menghembuskan nafas panasnya di leher sang lawan jenis. "Katakan, apa yang harus aku lakukan pada tubuhmu, sayang?"

Muka Baekhyun memerah, dan dengan segala keberaniannya ia bergumam, "Daddy, aku ingin kau memainkan putingku."

"Oh?" Chanyeol terkikik. Secepat kilat ia menurukan tali terusan berwarna oranye itu, sekaligus menurunkan cup bra yang menutupi payudara Baekhyun.

Kedua puting itu menegang. Mungkin Baekhyun sudah menahannya sedari tadi.

"Ini yang kau inginkan sayang?" jemari itu menyentuh puting kanan Baekhyun dan memilinnya pelahan.

"Lidahmu.. Daddy, aku ingin lidahmu juga."

"Lidahku sayang?" Chanyeol menjulurkan lidahnya dan menggoda Baekhyun. "Kau ingin lidahku berbuat apa sayang?"

Baekhyun memercing. Pilinan pada puting kanannya begitu nikmat hingga nafasnya tercekat, "Daddy, mainkan lidahmu pada puting kiriku, kumohon?"

"Seperti ini sayang?" Chanyeol meraup puting kiri Baekhyun ke dalam mulutnya, kemudian mengemutnya sambil sesekali menggetarkannya dengan lidah.

"Nghh... Daddy..."

Permainan Chanyeol pada kedua putingnya itu membuat celana dalam Baekhyun kembali basah. Ia tak mengerti bagaimana bisa lelaki itu membuatnya seperti ini? Ia bahkan sampai harus mengempit selangkangannya untuk menahan laju cairan di vaginanya.

"Ohhh, daddyyy..."

Chanyeol menggeram dengan puting Baekhyun di mulutnya. Benjolan di bawah perutnya itu mengeras. Ia butuh pelampiasan sekarang.

Maka dari itu, cekalan dan kulumannya pada kedua puting Baekhyun terlepas.

"Lepaskan celana dalammu, sayang." Chanyeol kembali pada bangku setirnya. Ia lalu memundurkan bangkunya dan menyamankan duduknya.

Di sisi lain, Baekhyun segera menurut seperti seekor anak anjing. Celana dalamnya yang berenda terlepas dengan mudah, menampakkan vaginanya yang memerah dengan banyak cairan di sana.

"Kau sudah senafsu itu, sayangku?" Chanyeol menertawai hingga muka Baekhyun merah padam. "Tak apa sayang. Aku menyukainya." dan dengan sekali colek, vagina itu bergetar lagi.

Baekhyun hampir saja lupa diri saat Chanyeol menyentuh vaginanya dengan jari telunjuk. Tapi sentuhan itu berlangsung beberapa detik saja, sebelum Chanyeol kembali bersender pada bangku setir.

"Kemari sayangku. Tunjukkan vaginamu yang mekar itu padaku."

Baekhyun memegangi roknya hingga ke atas perut agar vaginanya terlihat jelas. Dengan hati-hati ia duduk di pangkuan Chanyeol yang ternyata sudah membuka celana hingga batang penis itu terlongok tegak.

"Oh sayang, liat vaginamu yang sudah menyambut penisku itu." Chanyeol mengarahkan penisnya ke bibir vagina itu, dan menggosok-gosokkannya dengan gerakan erotis. "Kau suka, sayangku?"

Baekhyun yang mendesah pelan mengangguk.

"Lakukan apa yang kau senangi, sayang. Malam ini komando, aku serahkan padamu."

Bibir bawah itu digigitnya lagi. Baekhyun tak pernah berbuat segila ini. Tapi birahinya sudah ada di puncak, dan ia ingin penis Chanyeol sekarang juga di vaginanya!

Bagaikan mabuk, Baekhyun mengarahkan penis berurat itu ke dalam vaginanya. Diiringi dengan pekikan kesakitan—ini adalah kali keduanya melakukan itu—Baekhyun memasukkan penis itu ke dalam vaginanya. Perlahan lahan, hingga penis itu sepenuhnya tersedot masuk.

"Oh sayangku, vaginamu begitu sempit." Kedua mata Chanyeol tertutup saat otot vagina itu seakan memijat penisnya. Inilah kenapa ia begitu menikmati pergumulannya dengan Baekhyun! Wanita itu tahu betul bagaimana menggunakan otot vaginanya meski ia awalnya hanya seorang perawan.

"Daddy..." Baekhyun menyipitkan matanya. "Daddy tolong pegang pinggangku." Kedua tangannya meremas pundak lebar Chanyeol. "Ohh, daddy..." pinggulnya mulai bergerak turun naik, mencari ritme yang tepat untuk membuat vaginanya tidak perih lagi.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, sayang. Tunjukkan padaku apa yang membuatmu bahagia." Mata itu terbuka dan menyalang, dengan kedua tangan yang mencekal pinggul kecil itu.

"Ohh... Daddy..." Baekhyun bergoyang semakin cepat, agar rasa sakitnya hilang.

Chanyeol tersenyum saat wanita di atasnya itu bekerja sendirian. Ia menatap lekat-lekat dan berusaha menyimpan film pendek itu ke dalam pikirannya. Ia begitu ingin tahu apa saja yang Baekhyun inginkan!

"Ohhhh..! Ohhh...!" jepitan vagina itu menghasilkan decitan yang nyaring, terlebih saat Baekhyun menggoyangkan pinggulnya terlalu cepat.

"Nghhh, sayang!" Chanyeol ikut menggeram. Tak mungkin ia mencapai puncaknya secepat itu.

"Ohh Daddyyy ~ Kumohon, aku inginnhhh" cengkramannya pada pundak Chanyeol semakin kencang. "Daddy, ohhh, aku akan keluar."

"Bersama, sayang."

Gerakan itu mencapai puncaknya.

Tubuh Baekhyun menegang, seiring dengan orgasme dahsyat yang dialaminya.

Vaginanya basah, bercampur dengan sperma kental yang keluar dari penis lawan jenisnya. Seluruh badannya lengket dengan peluh. Kepalanya bergetar, dan seketika ia tersadarkan. Mereka sedang berada di dalam mobil, yang terparkir sempurna di basement restoran mewah dan mahal itu.

Tapi terlambat untuk malu. Yang bisa ia lakukan adalah secepat mungkin merapikan bajunya dan duduk di bangku depan seperti sedia kala.

TBC

Terima kasih untuk segala review yang masuk!

Sekedar berpromosi, aku juga menulis dua fanfic ongoing lain (satu akan tamat dalam minggu ini), sekiranya kalian berkenan untuk meluangkan waktu dan mengkritikku di sana.

Selamat hari Senin!