*Help Me*
Tempat ini, tempat yang berisi kenangan hangat yang penuh keceriaan. Kasih sayang, kepedulian belebur dalam satu suasana hangat yang nyaman. Sama seperti dulu, hangat dan penuh kasih sayang. Hanya saja, suara tangis juga airmata membuat semuanya terasa berbeda.
Ini rumah orang tua Sehun, tapi juga rumah orang tuanya. Ini rumah orang tua Sehun, dan orang tua Luhan yang menjadi mantan pembantu disini, karna lama sebelum pernikahan ini terjadi, sebelum kenalnya Sehun dengan Luhan, orang tuanya harus kembali kesisi-NYA karena suatu kecelakaan hebat yang terjadi saat itu.
Saat ini Luhan hanya bisa menangis dalam dekapan hangat ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kedua baginya. Ibunya ini juga menangis sambil mendekap putri cantiknya yang telah dibawa oleh Chanyeol (Kakak Sehun) tengah malam kemari dengan Ziyu yang telah tertidur pulas di gendongan Chanyeol.
"Maafkan aku, hiks.. " Luhan menatap ibu mertuanya dengan wajah yang dipenuhi air mata, tak beda jauh dengan sang ibu.
"Ini bukan salahmu, Luhan. Ini salahku, salahku yang tak bisa mendidik anakku dengan baik." Ujar ayah Sehun yang sedari tadi mengurut pelipisnya sambil menatap kedua wanita yang tenggelam dalam lautan air mata.
"Tidak, appa. Seharusnya aku bisa lebih sabar menghadapi Sehun."
"Sayang, yang kau lakukan adalah hal yang benar. Jangan salahkan dirimu lagi, ne?" Sang ibu mengelus kepala Luhan lembut. Membuat wanita beranak 2 itu merasa lebih tenang.
"Sehun harus merasakan hal yang kau rasakan, Luhan. Ia juga harus membayar semua perbuatan yang telah ia buat." Ayah Sehun berdiri dan mendekati Luhan. Ia mengelus kepala Luhan lalu melanjutkan ucapannya..
"Sekarang kau tidurlah. Ziyu terlihat sangat lelah. Bawa dia masuk ke kamarmu."
"Maaf, maaf karna lagi-lagi aku merepotkan kalian ."
"Sudah berapa lama kau tinggal dengan kami, heum? Tak usah berterima kasih. Kau sudah kami anggap anak perempuan kami. Atau kau memang anak perempuan kami, ahh tentu saja kau menantuku yang paling cantik." Ayah Sehun mengecup puncak kepala Luhan. Ibu Sehun yang melihat interaksi suaminya dengan anak perempuannya-menantu lebih tepatnya- tersenyum dan mengh apus lelehan airmatanya lalu bangkit mengantarkan Luhan kekamar diikuti Chanyeol yang menggendong Ziyu.
CKLEKK
Kamar dengan tanda Boneka Kepala Rusa itulah kamar Luhan. Awalnya kamar ini adalah kamar tamu, tapi semua itu berganti alih menjadi kamar untuk anak pembantu setianya. Setelah kematian Lu Han Geng dan Lu Hee chul, Oh Kyuhyun dan Oh Sungmin mendatangi sebuah rumah kecil tak jauh dari rumah mereka yang terdapat seorang gadis berusia 10 tahun yang duduk didepan pintu rumahnya-tepatnya di anak tangga depan pintu- dengan wajah khawatir. Gadis kecil itu Lu Han, rambut bergelombang sebahu berwarna coklat karamel dan poni tail nya menutupi seperempat mata indah yang berwarna senada dengan rambutnya. Dres bergambar 'Bambi' kartun rusa yang sering dilihatnya di TV itu ia pilin ujungnya sambil duduk dan menggerakan kedua kakinya.
Gadis kecil itu menatap penuh harap saat mendengar suara langkah kaki. Bukan bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya ingin kedua orang tuanya datang menghampirinya lalu memeluknya dengan hangat. Tapi, siapa orang itu? Lu Han tak mengenal siapa kedua orang berbeda gender itu. Tidak, rasa takut Lu Han terhadap orang asing kembali muncul. Ia memundurkan duduknya, mengangkat kakinya dan bersiap untuk lari masuk kedalam rumah.
"Tidak, Luhan. Jangan takut denganku. Aku takkan jahat padamu, percayalah" ibu Sehun yang melihat raut ketakutan Luhan langsung maju selangkah dan berniat meraih anak itu. Namun, Luhan justru menghindarinya.
"Si-siapa? Jangan dekati Hanni, orang asing."
"Mulai hari ini kau akan menjadi keluarga kami, sayang. Maafkan kami mengatakan itu tapi.. kau harus tau semuanya"
"Apa maksud ajushi? Hanni punya mama juga baba, ajushi dan ahjuma tidak bisa bawa Hanni. Nanti kalau Mama dan Baba pulang Hanni akan dimarahi kalau tidak ada dirumah"
"Luhan.. Mama dan Baba Hanni tidak bisa pulang, sayang"
"Tidak. Baba dan Mama akan pulang. Dasar orang asing"
BRAK
"Luhan.. ?Luhan..? Hanni?"
"Ah.. ne eomma?"
"Ada apa, sayang? Kenapa berhenti didepan pintu?"
"Ah tidak, a-aku hanya mengingat sesuatu.. a-ayo"
Luhan masuk kekamarnya dengan langkah perlahan, menatapi satu persatu isi dari ruangan yang dulu ditempatinya ini. Sungmin berjalan mendekati Luhan dan menyuruhnya duduk di ranjangnya. Sungmin mengelus rambut Lu Han yang masih terasa halus seperti dulu, lalu ia tersenyum menatap anak gadisnya.
"Sudahlah, jangan kau fikir lagi. Sekarang kau tidurlah. Ibu pergi dulu." Sungmin mengecup dahi Lu Han lalu pergi.
Chanyeol yang sedari tadi diam berjalan mendekati Luhan. Luhan baru tersadar kalau Chanyeol masih menggendong Ziyu yang sudah tertidur. Chanyeol meletakan Ziyu di ranjang dan menyelimutinya dibantu oleh Lu Han yang mengelus dahi sang anak agar lebih terlelap.
"Maaf, maafkan kelakuan adikku. Luhan-ah"
"Kenapa kau harus minta maaf, Oppa? Aku baik-baik saja. Sehun baik padaku selama ini"
"Kau berbohong"
"Chanyeol Op-"
"Berhenti memanggilku Oppa, Luhan." Suara Chanyeol menjadi dingin saat menjawab penyataan Luhan. Sejenak terjadi keheningan sebelum Chanyeol kembali bicara..
"Kumohon berhenti Lu Han.. kita lahir di tahun yang sama. Jangan memanggilku seperti itu"
"Aku tahu, tapi sekarang kau adalah kakak iparku. Jadi aku-" Luhan menatap lurus kearah mata bulat Chanyeol. Ucapannya terhenti karena tatapan sendu pria jangkung itu.
"Maaf.."
"Sehun sudah keterlaluan, mulai hari ini aku takkan menahan emosi ku lagi terhadap sikapnya." Chanyeol menatap lurus kedepan, bukan bukan ke mata Luhan. Tatapan tajamnya bukan ia tujukan untuk gadis itu.
" Chan.. Sehun adalah adikmu, jangan lakukan itu. kumohon.. lupakan saja, ini adalah masalahku dengan Sehun." Luhan menyentuh tangan Chanyeol dengan lembut.
"Berhenti membelanya dihadapanku, Luhan! Kenapa kau masih saja membela si Brengsek itu?" Suara Chanyeol meninggi dan menatap tajam Luhan.
"Karena orang yang kau sebut Brengsek itu adalah Suamiku.." tatapan penuh keyakinan Luhan tujukan ke Chayeol yang memejamkan matanya geram dengan jawaban Luhan.
"dan dia juga adikmu."
"Aku tak pernah memiliki adik setelah kejadian itu terjadi"
"Maaf. tapi itu bukan salah Seh-"
"DIAM LUHAN" Chanyeol menhentakkan tangan Luhan kasar dan menatapnya penuh amarah. Ini pertama kalinya ia membentak wanita dan pertama kalinya ia lepas kendali dihadapan Luhan. Lihat tatapan ketakutan yang ditujukan Luhan padamu Chan. Dia takut padamu..
"..."
"Maaf, hahh.. kau tidurlah" setelah mengucap maaf Chanyeol pergi meninggalkan kamar Luhan.
"Maafkan aku Chanyeol-ah. Walaupun dalam hatiku sakit akan perbuatan Sehun. Tapi, dia tetap suamiku." Luhan menangis dalam diamnya.
Di luar kamar..
"Kenapa selalu seperti ini, Tuhan? Kenapa kau menghukumku seperti ini? Aku sudah melakukan seribu cara agar menghilangkan rasa ini. Tapi ia selalu datang padaku disaat ia terluka akan sikapnya dan membuatku semakin tak bisa menjauh. Kenapa dia harus menjadi milik adikku sendiri disaat aku telah memantapkan hatiku untuknya dulu!?" Chanyeol jatuh terduduk bersandar pada pintu Luhan sambil menangis dalam diam.
Malam penuh air mata terus terjadi sampai satu persatu orang yang merasakan kesedihan itu kelelahan akan tangisannya dan berakhir dengan dengkuran halus mereka.
TBC
ihirrr...
maaf buat ff Chapter 1 yang ancur gg jelas itu. Sebelum bom post Bom lupa mau ngedit lagi, lagi Bom ngirimnya pakek hape. Bom gg terlalu suka nulis pakek lapy.. jadinya gg jelas kayag holangny NYIHAHAHHAHA
Oh banyak yg minta Sehun disiksa sama seperti penderitaan Luhan.. eum Bom. Masih belum kepikiran sih.. tapi Bom usahain..
Chapter lebih panjang? Entah kenapa Bom. Selalu lupa alur cerita dan mentok mentok(?) Segini doank.. Mianhamnida.. berdoa aja ya.. semoga chapter selanjutnya bisa lebih dowo..
Tengkyu buat yg review.. Bom bow 360° . Terimakasih, Thankyou, Gamsahamnida, Arigatou gozaimaseu, ...
SAYANGHAEYO...
