Hai hai... ketemu lagi ama Bom  ̄ω ̄

Oh ya, sebelumnya Bom moa minta maaf karena Bom kurang pengertian ama kalian. Tiap Bom moa update Bom lupa ngedit.. dan karena Bom lebih suka nulis di hape.. jadi Bom ngirim juga pakek Hape.. jadi kalao ada kesalahan kata atau hal2 yg membuat kalian bingung.. Bom dengan Kesugguhan Hati (cieelah~) Nyuwun Ngapura, Mianhaeyo, Sorry, dsb ̄ω ̄

Karena ini Bulan penuh berkah.. Bom moa berubah jadi lebih baik. Jadi dukung Bom slalu ya Chingu-ya... Sayanghaeyo

Oh ya, bom beri sedikit tambahan untuk cara membaca..

Tanda () itu artinya Bom nyeritain mereka dimasa Sekarang atau HaoZi udah pada gede.

Tanda () itu tandanya Bom nyeritain mereka dimasa Lampau atau awal mula kejadian yg terjadi. Eum, gimana yah.. ah pokoknya gitu.. ╮(╯▽╰)╭ .OKE?

IT'S NOT OVER

BY: SBom

Pairing : HunHan, HaoZi

Other Cast: Chanbaek, Kaisoo + Tae Oh, Krsytal Jung, dbl (dan beberapa lainnya).

Preview...

.

.

.

.

.

()

Seorang gadis berambut dark brown terlihat sedang melamun didalam kelas yg sedang melakukan pembelajaran. Gadis itu termenung menatap kosong kedepan seperti memikirkan sesuatu yang memberatkan pikirannya. Hingga guru yang mengajar merasa khawatir dan menegurnya.

"Ziyu?" Guru itu menepuk pundak muridnya yang dibalas dengan ekspresi terkejut yang sangat terlihat.

"Kau baik-baik saja, sayang?" Tanyanya mengelus surai Ziyu yang menatapnya sendu lalu mengangguk sekilas.

"Hm, Bomie.. tolong kau antarkan Ziyu ke ruang kesehatan." Titahnya pada gadis yang duduk didepan.

"Ne, seonsaengnim." Gadis itu berjalan ke bangku Ziyu yang berada di tengah lurus dengan bangkunya tapi selisih 3 bangku. Gadis itu mengapit lengan kurus Ziyu.

"Ayo, Ziyu~ya" ujarnya lalu keduanya membungkuk bersama sebelum pergi meninggalkan kelas.

Mereka berdua berjalan dengan bergandengan, tidak lebih tepatnya Bomie yang menggandeng lengan Ziyu. Beberapa anak sempat menyapa Bomie yang termasuk anak yang Famous di sekolah dan menatap heran pada Ziyu. Hal itu membuat Ziyu semakin menunduk ketika retinanya menangkap beberapa anak yang saling berbisik sambil melirik padanya dan Bomie.

"Jangan dengarkan mereka, mereka begitu karena kekurang materi untuk mengobrol satu sama lain. Oh ya, namaku Lee Bomie." Ucap Bomje sambil tersenyum manis.

Lee Bomie, gadis bersurai hitam legam yang terlihat bercahaya dengan kulit kuning langsatnya yang membuat gadis tembem itu terlihat manis (Aigoo~). Sikapnya yg ramah dan easy going itu membuat siapa saja senang saat bersamanya.

Ruang Kesehatan

"Oh Bomie, ada apa? Hari ini bukan jadwalmu berjaga di sinikan?" Tanya seseorang yg bertugas di ruang kesehatan.

"Tidak, soo-ie. Aku mengantarkan temanku yang sepertinya butuh istirahat untuk menenangkan pikirannya." Ujar Bomie yang menuntun Ziyu menuju kasur. Ziyu hanya mengikuti apa yang dikatakan gadis itu.

"Apa dia mengalami stress atau depresi?" Tanya gadis bernama Chasoo sang penjaga ruang kesehatan hari ini.

"Entahlah, aku merasa khawatir akan hal ini." Jawabnya sambil menatap Ziyu yang diam menatap obrolan mereka.

"Hai! Aku Han Chasoo, apa kau merasakan sakit?" Tanyanya

'Tidak, aku baik-baik saja. Maaf merepotkan kalian' tulis Ziyu di notenya.

"Kau bis-Akhh Appo." Ucapan Chasoo berganti jadi pekikan kesakitan saat Bomie dengan senak jidat kecilnya mencubit perutnya dan melototinya dengan seram. Seketika nyalinya ciut.

"Maafkan aku Ziyu-ya.. aku kelepasan. Sungguh, aku tak bermaksud. Kau mau memaafkanku kan?" Chasoo menatap Ziyu memelas karena ia takut jika tak mendapat maaf dari Ziyu, dia akan mati ditangan Bomie.

'Kau tak perlu minta maaf, ini juga kesalahanku sendiri. Aku tak bisu.' Tulisnya

"Lalu kenapa kau tak berbicara?" Kali ini Bomie yang bicara

'Entahlah, aku tak ingin saja' setelah menulis itu keadaan menjadi hening. Ziyu yang baru sadar akan suatu hal semakin mengeratkan genggamannya pada note kecilnya. Apa dia baru saja mengobrol dan membuka identitasnya dihadapan dua orang yang bahkan ia tak kenal dengan baik. Ada apa denganmu Ziyu.

"Aeh... hehehe. Ziyu minumlah ini, ini akan membuat pikiranmu tenang. Istirahatlah, kami akan menjagamu" Chasoo memberikan obat kepada Ziyu dan tersenyum manis. Ziyu hanya mengangguk sekilas menatapi obat lalu Chasoo dan Bomie bergantian.

'Apa aku bisa memiliki teman? Apa aku boleh? Apa aku bisa percaya pada kalian? Ya Tuhan jika aku boleh memiliki teman. Aku ingin memiliki teman seperti mereka yang dengan mudah saling berbagi kebahagiaan satu sama lain.' Iner Ziyu yang mulai mengantuk sambil menatap Chasoo dan Bomie sebelum menutup matanya.

.

.

.

()

Satu hari sebelum pernikahan Sehun dan Luhan, Chanyeol mengajak Luhan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota. Ia pernah berjanji pada Luhan akan mengajaknya ke suatu tempat, namun karena kejadin malam itu, ia lupa akan janjinya. Setelah kejadian itu ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Chanyeol adalah Bisnis Man, ia membuka restoran masakan yang sudah mencabang dimana-mana. Ia jarang pulang ke rumah dan lebih sering tinggal di apartemennya. Dan saat ia mengetahui tanggal pernikahan adiknya, ia langsung teringat akan janjinya dan mengajak Luhan untuk pergi dengannya.

Myeongdong

"Woah.. jadi ini pasar yang terkenal itu? Aah~ banyak sekali orang-orang disini. Omo, ada penjual ddeoboki, woah.. restoran mie dingin yang terkenal itu ternyata ada disini. Woah ada-bla bla bla" oceh Luhan setelah ia turun dari mobil Chanyeol. Mata coklatnya tak berhenti menatap binar kesegala arah dengan bibir yang tak berhenti mengoceh. Chanyeol yang berdiri dibelakangnya hanya bisa memperhatikan Luhan yang sangat bersemangat. Senyuman indah muncul diwajah Chanyeol, ia akan ikut senang bila Luhan senang. Tanpa ia sadari, moodnya selama ini dipegang oleh Luhan, emosinya tak teratur karena Luhan. Semua karenanya, haha.

"Luhan, jangan berlari. Toko-toko itu takkan berjalan kemanapun. Jadi tak usah berlari." Chanyeol memperingatkan Luhan. Ia sedikit meringis saat melihat Luhan ditabraki oleh orang-orang. Dengan cepat ia menarik Luhan dan memeluknya dari belakang dengan satu tangan.

"Cha-chan? " Luhan merasa wajahnya memerah saat ini. Ia tak menyangka Chanyeol akan melakukan ini padanya.

"Sudah kukatakan jangan berlari, kenapa kau bandel sekali. Heh, rusa nakal."

"A-aku tak nakal"

"Sudahlah, ayo. Kau mau kemana terlebih dahulu? Dan jangan lepaskan genggamanku" Chanyeol memperingati Luhan yang hendak melepaskan genggaman Chanyeol dari tangannya. Selama ini ia sangat ingin menggenggam tangan Luhan dan membawanya kemanapun. Tapi- ahh.. sudahlah aku tak mau memikirkannya lagi, jalani apa yang ada didepan mata.

.

Mereka telah berputar-putar dan mengunjungi semua tempat disana, tak lupa mencicipi makanan-makanan yang tersedia. Luhan terlihat sangat senang begitupula dengan Chanyeol. Saat ini Chanyeol menariknya kembali ke tempat parkir, namun bukan masuk ke mobil mereka justru melewatinya dan masuk ke kawasan Taman.

"Chan, kenapa kita kesini? Mobilnya itu, kita mau apa kesini?" Luhan dibuat terheran-heran saat melihat Taman yang penuh dengan pasangan kekasih. Chanyeol mendudukannya disalah satu bangku Taman, dan Chanyeol sedang berlutut dengan satu kaki dihdapan Luhan yang terlihat kaget.

"Cha-Chan apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya saat Chanyeol telah menggenggam tangannya erat.

"Kau masih ingat pertemuan pertama kita? Saat kau dibawa Appa kerumah kami?" Tanyanya sambil menatap jemari Luhan. Karena tak mendapat jawaban ia melanjutkan ucapannya.

"Kau saat itu terlihat kebingungan dan ketakutan, melihat itu membuatku memantapkan hatiku untuk melindungimu, karena bagiku senyumanmu adalah semangatku_" Chanyeol menjeda ucapannya

"Hingga kita tumbuh dari masa anak-anak ke remaja lalu dewasa, aku selalu menyadari bahwa sesuatu yang aku rasakan padamu berbeda dan lebih kuat. Rasa ingin melindungimu berubah menjadi rasa sayang dan berubah laagi menjadi rasa yang lebih kuat, yaitu Cinta. Aku merasakan bahwa rasa ini telah mengikatku sejak kita remaja, namun aku salah ternyata rasa ini telah b mengejarku bahkan saat awal kita bertemu. Saat dimana aku memelukmu erat dengan kedua tanganku._" Chanyeol menatap Luhan yang hanya bisa terkejut dengan ucapanya. Ia tak menyangka hal ini terjadi.

"Dan sekarang aku ingin mengakui sesuatu, menyatakan apa yang aku rasakan selama ini. Luhan, aku_" Chanyeol semakin mengeratkan genggamannya dan menatap Luhan lembut sebelum kalimat itu terucapkan.

"Aku_ mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Jantungnya berdegup kencang menatap Luhan. Luhan menatap tak percaya pada Chanyeol, namun dengan cepat ia tersadar dan menarik tangannya dari Chanyeol. Hal itu membuat Chanyeol terkejut.

"Kenapa kau mengatakan ini, Chanyeol-a. Ini salah." Luhan tak berani menatap Chanyeol. Ia terlalu takut untuk itu.

"Han, aku tahu kau juga menyukaiku. Jangan bohongi dirimu sendiri. Tak usah pikirkan apapun, aku akan menjagamu. Jika kau mengatakan kalau kau juga menyukaiku, kau tak perlu menikah dengannya. Aku akan menikahimu walau tanpa restu, aku akan menjagamu setiap saat dengan penuh Kasih sayang, aku bisa_PLAKK" Luhan menampar Chanyeol. Nafasnya tercekat saat mendengar kata-kata Chanyeol.

"Chan, sadarlah ini salah" Luhan menatap Chanyeol sendu, sedangkan Chanyeol yang masih terkejut hanya bisa memegang daerah tamparan Luhan. Tak lama kemudian pria jangkung itu tergelak pilu.

"Heh, salah? Apa yang salah Luhan? Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, bukan? Apa yang salah, katakan saja lalu kita pergi bersama memulai hidup baru berdua."

"Tidak bisa.. tidak."

"Apa yang tidak bisa? Kenapa kau menolak Lu? Katakan padaku kenapa?"

"A-aku akan menikah dengan Sehun" Luhan mencicit sambil menunduk.

"Jangan gunakan alasan itu dihadapanku." Chanyeol yang telah berdiri itu membentak Luhan yang semakin terlihat ketakutan karena ulahnya. Kau melakukan hal yang salah Chanyeol-a.

"A-apa kau.. kau menyukai Sehun?" Chanyeol menatap penuh selidik pada Luhan yang diam menatap jemarinya.

Hening, tak ada jawaban apapun dari Luhan. Wanita itu semakin tertunduk saat mendengar Chanyeol berteriak frustasi sambil menangis. Luhan terkejut dan langsung mengangkat wajahnya saat mendengar isakan dari pria dihadapannya. Ia bisa melihat Chanyeol yang begitu frustasi menarik kuat rambutnya sambil meneteskan air mata. Begitu menusuk hati kecilnya melihat orang yang selalu tersenyum itu begitu tertekan. Dengan keyakinan Luhan berdiri dan menghampiri Chanyeol.

"Sekuat apapun aku mencoba untuk memilih diantara kalian berdua, aku tetap tak bisa. Kau dan Sehun sama-sama berarti bagiku. Jangan memintaku untuk memilih." Luhan memeluk punggung tegap namun gemetar itu. Cukup hanya dia yang memendam semuanya, ia tak mau Chanyeol semakin tertekan. Ini lebih baik, pikir Luhan.

"Maaf, maafkan aku yang begitu egois menginginkanmu. Tapi_ tak bisakah?" Chanyeol berbalik dan memegang kedua pundak kecil Luhan. Mata sembabnya ia arahkan ke mata Luhan yang sama sembabnya.

"Maaf, aku tak bisa." Luhan menatap Chanyeol, tangan rampingnya mengelus air mata di pipi pemuda jangkung itu.

"Baiklah, aku mengerti. Aku_aku tunggu kau dimobil." Chanyeol berlalu pergi meninggalkan Luhan.

"Begini lebih baik"

Tes.. tes..

Air mata jatuh membasahi tanah yang Luhan pijak. Ia berjalan mundur dan terduduk kembali di bangku Taman. Tangisnya pecah mengingat kejadian ini. Sungguh dilubuk hatinya ia terluka begitu dalam melihat orang yang ia sayangi putus asa dan frustasi. Tapi apa yang bisa ia lakukan, hidup mereka telah ditentukan dan ini jalan yang terbaik untuknya.

"Jika waktu bisa diputar, aku pasti akan memilihmu bagaimanapun caranya. Aku pasti akan mempertahankanmu bagaimanapun caranya, aku tidak akan mebiarkan siapapun bersamamu kecuali aku. Jika aku bisa aku ingin melakukan itu karna aku_ mencintaimu. Sama seperti kau yang mencintaiku saat kita pertama bertemu. Tidakkah kita terlihat berjodoh? Tapi kenapa Tuhan memiliki kehendak lain atas Cinta kita. Aku harus menikah dengan adikmu, dan kau akan segera dijodohkan dengan seseorang. Begitu menyakitkan tapi ini nyata. Biarkan aku memndam rasa sakitku sendiri. Aku tak mau menambah bebanmu, lebih baik seperti ini. Maafkan aku, karena aku mencintaimu." Batin Luhan mengoceh tanpa sebab, dan pemilik tubuh hanya dapat menatapi Bulan Purnama yang sedikit demi sedikit menghilang dibalik awan dilangit hitam yang gelap gulita.

.

.

.

.

.

.

()

Tak terasa waktu telah cepat berputar. Tanggal Bulan tahun terus berganti. Seperti saat ini, sekarang adalah pengambian raport untuk kenaikan kelas. Yey, semua anak sedang dihadapkan oleh hasil dari pembelajaran mereka selama 1 tahun ini. Gugup dan takut melingkupi beberapa anak, dan ada juga anak yang santai.

Tae Oh dan Haowen sedang berjalan menuju gerbang dan berniat menunggu orangtua mereka datang. Eum, maksudku mereka menunggu kedatangan ibu Tae Oh yang akan mengambil raport mereka. Ya, sejak kecil keluarga Tae Oh lah yang selalu membantu Haowen. Seperti kumpul wali murid, pengambilan raport, dsb. Jangan tanyakan dimana si ayah Sehun yang workaholic itu, ia lebih memilih pekerjaannya dari pada duduk menunggu panggilan sambil bercengkrama dengan wali murid lain. Not My Style akan keluar sebagai jawabnnya. Dan disinilah bagaimana Haowen dan Tae Oh selalu bersama kemana-mana.

"Eomma!" Panggil Tae Oh sambil melambaikan tangan pada Ibunya yang baru keluar dari mobil ayahnya. Ayahnya ingin juga datang, karena biasanya ia yang akan mengambil raport Tae Oh dan istrinya akan mengambil raport Haowen. Oh ya, entah apa yang dilakukan Kim Jongin untuk membuat semua guru tidak mempertanyakan perihal orangtua Haowen. Apakah Kim Jongin alias Kai itu kenal baik dengan Kim Jongdae alias Chen yang menjabat sebagai kepala sekolah. Atau mereka punya ikatan darah. Who knows?

"Tae Oh.. Haowen. Kalian disini, ayo. Dimana kelas kalian?" Ibu satu anak itu mengelus surai anaknya dan anak angkatnya. Ia telah menganggap Haowen seperti anaknya sendiri. Ia sama-sama menyayangi kedua anak berbeda warna kulit ini. Sekilas ia merasa melihat Sehun dan Jongin saat mereka masih sekolah. Hahh.. benar jiplakan yang begitu Indah.

"Ibu masuk saja kedalam, kami tunggu diluar. Masih ada yang harus kami kerjakan." Tae Oh berujar sambil menatap ibunya yang -ekhm- pendek.

"Baiklah, lakukan yang ingin kau lakukan." Kyungso tersenyum manis menatap kedua anaknya. Tae Oh telah pergi lebih dulu. Haowen tetap diam dan menatap lantai, ia ragu ingin mengatakan sesuatu pada bibi kesayangannya itu.

"Katakan saja, haoweni." Kyungsoo menatap lembut anak dari sahabatnya dulu. Haowen begitu mirip dengan Sehun, hanya saja ada sedikit yang berbeda diantara mereka, entah apa itu tapi ia bisa merasakannya.

"Te-terimakasih bibi kyung, kau selalu baik padaku. Aku tak tahu bagaimana cara untuk membalas kebaikan hatimu. Aku ing-" ucapan Haowen terpotong karena sebuah pelukan hangat yang dia dapat.

"Kau ingin membalas kebaikanku kan? Kalau begitu kau harus bahagia, walu itu tanpa dia. Kejarlah apapun yang kau inginkan dan kau anggap bisa membuatmu bahagia. Dengan begitu kau sudah memenuhi kotak untuk membalas kebaikanku. Mengerti?" Kyungsoo melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Haowen yang terasa tirus.

"pasti, bi. Terimakasih." Haowen tersenyum manis lalu pergi menuju tempat yang ia dan Tae Oh tuju.

"Begitu miris melihat mu seperti ini haowen-i."

Kyungsoo jelas masih ingat kejadian dimana pertama kali Jongin datang sambil membawa Haowen ke kliniknya. Tubuhnya penuh lebam dan luka dimana-mana. Dengan menangis ia mengobati anak itu yang terus-terusan meringis sakit sambil menangis. Dengan terpaksa Kyungsoo memberinya bius agar ia tenang dan lebih mudah mengobati lukanya. Setelah ia mengobati Haowen ia menghampiri Jongin meminta penjelasan.

( sekilas)

"Aku tak tahu yang terjadi, tapi Haowen menelponku. Ia mengatakan 'sakit-paman - tolong - rumah' dengan suara serak dan tagisan. Aku awalnya bingung dengan ucapannya, sambil mengucap 'sakit dan rumah' berulang ulang dengan segera aku kerumah Sehun. Dan aku menemukannya tergeletak di samping meja telepon dekat pintu apartemen." Jongin mengusap kasar wajahnya, jasnya sudah ia tanggalkan dan dasinya melonggar kemeja yang ada beberapa bercak darah membuatnya meringis mengingat kejadian hai ini. Kyungsoo membekap mulutnya shock mendengar cerita Jongin. Ini keterlaluan.

"Aku yakin yang melakukan semua ini adalah Sehun. Bagaimana ia bisa sekejam itu pada putranya. Dan dimana Luhan saat anaknya disiksa seperti ini." Kyungsoo menggeram marah pada pasangan dua anak itu.

"Mereka pisah rumah, mereka bertengkar hebat dan Sehun mengusir Luhan. Sehun tak membiarkan Luhan membawa Haowen. Dan aku merasa Haowen dia jadikan pelampiasan" Jongin menatap istrinya yang masih terlihat geram tapi mulai menenang.

"Apa yang membuat mereka bertengkar hingga seperti itu?"

"Orang ketiga, mantan kekasih Sehun. Jung Krystall."

"Wanita ular itu masih hidup?"

"Faktanya, ya. Dia masih hidup."

"Astaga.."

( kambek)

"Annyeonghaseyo. Saya wali kelas, ibu atas nama siapa?" Tanya wali kelas pada Kyungsoo.

"Aku ibu Tae Oh, saya juga wali dari Oh Haowen. Karena ayahnya tak bisa datang hati ini, mohon pengertiannya." Jawab Kyungsoo.

"Oh, apa ada hal yang begitu penting hingga membuat orangtua dari Oh Haowen tak bisa hadir saat ini?" Tanya guru itu dengan nada sedikit menyindir dan hal itu membuat Kyungsoo jengkel.

"Ya, sangat penting hingga membuat beliau tidak bisa hadir. Jadi anda bisa memberikannya pada saya, saya walinya." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum palsu. Sabarlah Kyung~.

"Ada hubungan apa ada dengan keluarga Haowen hingga mereka mempercayakan anda sebagai wali? Dicatatan yang saya dapat Haowen memiliki orangtua yang lengkap bahkan memiliki adik yang masih menampakan kaki didunia. Mengapa anda begitu ingin menjadi walinya?" Guru baru itu terus saja mencecoki Kyungsok dengan berbagai macam pertanyaan.

"Dan apa yang membuat anda begitu ingin tahu dengan kisah keluarga Haowen. Ini masalah pribadi dan anda bukan termasuk dalam keluargannya, mengapa anda begitu ikut campur. Bukankah itu tak sopan. Sebagai guru seharusnya mengerti jika ada wali berarti orangtua tak dapat hadir, apakah guru baru seperti anda tak memiliki sopan santun?" Kyung ikut menyindir guru baru itu dengan sinis.

"Oh benarkah? Haha.. maafkan saya kalau begitu. Tapi maaf, karena ini adalah kenaikan ke kelas 12 jadi saya perlu bicara langsung pada orangtuanya secara langsung. Jadi ini raport anak anda dan terimakasih telah menyempatkan diri untuk datang. Mohon pengertiannya wali murid yang lain masih banyak yang menunggu raport anak mereka masing-masing." Guru itu menunjuk pintu keluar dengan kelima jarinya sok sopan. Dengan hati dongkol Kyungsoo keluar dari kelas itu dan sesampainya diluar ia berjalan asal lalu berhenti.

"AAARGGGHH!... Dasar jalang. Mentang-mentang guru baru ia bisa seenaknya. Tunggu saja sampai Jongdae memotong gajimu selama 5 Bulan atau sampai hati aku bisa membuatmu di pecat. Haaahhh!" Kyungsoo sangat-sangat ingin mengumpat lebih banyak tapi ia mulai sadar saat beberapa orang melihatnya. Ia yang malu melirik sambil menundukkan kepalanya dan berucap "maafkan aku.. ".

Ia mulai berjalan hendak menemui Jongdae di ruangannya, namun mata belonya menangkap seorang wanita yang berjalan pelan setelah keluar dari kelas dan membuka raport yang diduga milik anaknya itu. Dengan kecepatan kilat Kyungsoo berlari mendekati sosok itu, ia takut jika ia lambat akan kehilangan sosok itu lagi. Tidak, tidak lagi.

.

.

.

"Luhan!" Kepala bersurai coklat itu terangkat perlahan saat ia mendengar namanya dipanggil. Ia clingak-clinguk mencari orang yang memanggilnya itu. Sesaat ia berbalik tubuhnya ditabrak oleh tubuh lain yang memeluknya erat.

"Akhirnya aku menemukanmu, Luhan" Wanita itu memeluk Luhan sambil menangis, sungguh air matanya tak bisa ia bendung saat matanya melihat Luhan. Ia begitu merindukan wanita satu ini.

"Kyung-kyungsoo? Ini kau? Sungguh? Kyu-kyungsoo?" Luhan menatap Kyungsok yang juga menatapny. Seperti di drama-drama, keduanya saling berpelukan dan menangis haru. Sungguh ironi sekali.

"Han.. kau semakin kurus? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo

"Aku baik, sangat baik. Dan kau terlihat berisi sekarang Kyung. Aku senang melihatmu. Bagaimana Jongin? Dan anak tampanmu itu?" Tanya Luhan yang tak henti-hentinya tersenyum.

"Mereka berdua baik, dan bilang saja kalau aku gendut. Salahkan Jongin dengan Hormon Testosteronnya yang selalu membludak dan kepala batunya yang membuatku terpaksa hamil karena ia tak menggunakan pengaman." Ujar Kyungsok vulgar. Auts.. sejak kapan wanita yang polos ini jadi mesum dan bicara vulgar seperti ini? Sungguh diluar dugaan.

"Husst.. Kyung ucapanmu." Luhan tersenyum melihat Kyungsoo yang malah nge-pout dihadapannya. sepertinya calon bayi mereka begitu sensitif.

"Ibu?" Panggil sebuah suara dari belakang Luhan. Kyungsoo melihat Tae Oh berjalan menghampiri mereka berdua. Mau tak mau Luhan ikut berbalik.

"Bi-bibi Luhan?" Tae Oh yang terkejut hanya bisa mlongo ditempat. Ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan bibi cantiknya. Sungguh diluar dugaan.

"Omo! Tae Oh -ya.. kau sudah besar sekarang." Luhan tersenyum manis sambil mengelus surai Tae Oh.

"Bi-bibi.. bibi" Tae Oh masih terbata-bata menatap Luhan sambil mlongo. Luhan dibuat tersenyum karena tingkah Tae Oh. Mata indahnya menangkap anaknya yang menatapnya.

"Ziyu? Kenapa kau ada disana? Kemari sayang.." Luhan tersenyum saat melihat Ziyu berjalan mendekatinya dengan perlahan. Gadisnya itu tak berani menatap Tae Oh, dan itu membuatnya terheran-heran.

"Ka-kau Ziyu? Jadi kau Ziyu?" Tae oh ada apa denganmu, kau begitu terkejutnya melihat kedua orang itu.

"Kau mengenal Ziyu, Tae?" Kyungsoo bertanya pada anaknya. Ia sudah tahu kalau Ziyu adalah gadis, tapi ia tak menyangka Ziyu akan menunjukan dirinya yang asli. Ternyata setelah keluar dari rumah itu kehidupan gadis itu jadi lebih baik.

"Aku pernah menabraknya waktu penerimaan murid baru. Tapi karna aku tak tahu siapa namanya jadi aku tak tahu kalau ia adalah Ziyu." Tae Oh berujar sambil menatap Ziyu yang sepertinya mencari sesuatu. Hingga tak lama kakinya berlari menjauhi mereka.

"Ziyu! Kau mau kemana?" Luhan yang kaget melihat Ziyu pergi meninggalkannya bersama Kyungsoo dan Tae Oh langsung mencekal tangannya saat Ziyu melewatinya. Ziyu menatap Luhan sebentar lalu menuliskan sesuatu dengan cepat. Ia memberikannya lalu tersenyum manis sebelum kembali berlari. Luhan terkejut melihat anaknya yang tersenyum manis. Ini pertama kalinya ia melihat senyuman itu lagi hingga membuat hatinya menghangat. Dibacanya tulisan anak tercintanya itu.

'Aku akan menemui seseorang , eomma bicara saja dengan teman eomma'

.

.

.

.

Ziyu terus berlari, ia tahu ia akan kemana. Tujuannya hanya satu, Ruang Dance. Itu tempat dimana kakaknya berada selama ini. Ya, setelah ia mengetahui kakaknya ia selalu mencari dan mengikuti setiap langkah Kakaknya. Ia terkesan seperti stalker, dan beberapa kali Kakaknya itu hampir memergokinya. Tapi sekarang, dengan kesungguhan hati ia akan membuka jati dirinya dihadapan Kakaknya.

Ia berdiri didepan ruang dance, ia melihat kedalam dari jendela disana. Hanya ada kakaknya seorang diri. Ini kesempatannya untuk-. Seketika gadis itu terduduk saat ketahuan mengintip oleh Kakaknya. Tidak, seharusnya ia berdiri dan masuk. Tidak, ia belum cukup berani. Tapi jika tidak sekarang kapan lagi, ia tak mau menunggu lagi. Dengan mantap Ziyu berdiri lalu berbalik. Jantungnya seketika berdetak lebih kencang lagi saat Kakaknya itu telah berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam yang terarah padanya.

"Jadi kau yang selama ini menguntitiku? Apa maksudmu melakukan itu? Siapa kau sebenarnya?" Kakaknya itu menatapnya tajam, seketika ia teringat ayahnya. Tidak jangan sekarang.

"Jawab aku, siapa kau sebenarnya. Kenapa kau terus membuntutiku?" Haowen semakin memojokkannya denga tatapannya. Pernafasan Ziyu mulai tak teratur, sekelebatan kejadian malam itu kembali terputar dikepalanya.

"Apa maumu?" Kakaknya tak berhenti bicara. Ziyu mulai gemetar sekarang, jangan-jangan sekarang kumohon, iner Ziyu.

"Dasar tidak berguna" Kakaknya itu menatap Ziyu yang juga menatapnya terkejut. Lalu Kakaknya itu berbalik. Tidak, ini kesempatanku untuk bisa bersamanya lagi. Tidak akan kulepaskan kesempatan ini.

"Hyu-hyu-hyung!.. Haowen Hyung" seketika Kakaknya itu berhenti berjalan ia membeku ditempat.

"Ha-haowen.. hyu-hyung.. ini aku.. Ziyu, adikmu. Haowen Hyung, aku Ziyu" Ziyu berucap dengan terbata-bata. Ia melihat Haowen berbalik dan menatapnya terkejut. Senyum lega terhias diwajah Ziyu, namun itu hanya sementara saat tatapan Ziyu kembali tajam padanya. Ia takut kali ini, sungguh.

"Heh.. dari mana kau mengenal nama itu? Berani sekali kau berpura-pura menjadi adikku" Haowen berkata dengan nada sinis.

"Hyung.. sungguh ini aku Ziyu. Adikmu. Aku tak berbohong" Ziyu berusaha meyakinkan Haowen walaupun ia ketakutan dengan tatapan Haowen.

"Jika kau benar adikku, buktikan sekarang." Haowen menatap tajam Ziyu yang membulatkan matanya. Apa yang harus Ziyu lakukan untuk membuktikannya kepada Haowen. Tuhan, tolong Ziyu.

.

.

.

.

.

TBC

Yeyeyyyy... akhirnya Ziyu dan Haowen udah ketemu... Kyungsoo ama Luhan juga udah ketemu.. Sehun ama Luhan kapan ya? Gg tahu...

Maaf ya kalo Chapter ini absurd. Bom gg bisa mikir lebih dari ini.. kita tak mungkin trus bersama~ (mangap baper jadi nyanyi dah)

Apakah ini masih kurang panjang..? Apa kalian masih bingung cara bacanya? Kalau iya komen juseyo.. biar bom rubah2 lagi untuk chapter selanjutnya.

Pada greget gg ama ChanLu? Hehe.. Bom aja pengen gigit pala pitaknya Cahyo gara2 dia mau bawa lari Lulu satu hari sebelum Lulu ama Hunhun nikah.. ahakahk..

Mangap nih sebelumnya bom nyempil jadi pemeran ama chasoo eonni. Kali2lah kita nyempil disini.. gg sering ko. Juga kita gg akan dapet pasangan walu pengen.. hiks

Udah deh.. bom cuma mau ngomong itu doang.. bom gg mau panjang2

Oh ya, bom punya epep baru di file bom, tapi masih sinopsis sih.. bom suka dengan ceritanya tapi belum bom tulis.

Pokoknya itu ceritanya seme2 EXO adalah utusan mata2 dari korea utara, mereka diberu tugas untuk memata-matai KorSel. Dan untuk menyembunyuikan identitasnya pemberi tugas mengirim mereka pada temannya di korsel yang memiliki agensi untuk debut artis dengan segala rahasia yang dijamin tersembunyi dengan aman.

Debutlah seme2 dengan nama EXO, setelah banyak waktu terlewatkan trio bangsadh terjebak kisah cinta dengan fans mereka si Trio Cecans, terjadilah polin in lop tapi cinta2an mereka di tolak .. lalu terjadi ini.. jadi itu.. jadi begono..

Kalo ada yang suka komen, bom ingin debutin itu epep.. tapi masih ragu ada yg suka ato gg.

Cahyo: bom, ramyon lu gosong ini.. ngobrol mulu..

Bom: andwe... oke.. kakak2 maksih sedia baca epep absurd bom. Sampai ketemu lain waktu

Seno: bom, ramyon lu gosong. Lu gg becus masak. Sini gua bikin ramyon ttang

Cahyo: lu bedua pegi dari ni dapur, biar gua masakin sojiji + bombay + red pepper with saus sambal .

Bom & seno : yehet.. Cahyo is de bess..