Before..
"Hyu-hyu-hyung!.. Haowen Hyung" seketika Kakaknya itu berhenti berjalan ia membeku ditempat.
"Ha-haowen.. hyu-hyung.. ini aku.. Ziyu, adikmu. Haowen Hyung, aku Ziyu" Ziyu berucap dengan terbata-bata. Ia melihat Haowen berbalik dan menatapnya terkejut. Senyum lega terhias diwajah Ziyu, namun itu hanya sementara saat tatapan Ziyu kembali tajam padanya. Ia takut kali ini, sungguh.
"Heh.. dari mana kau mengenal nama itu? Berani sekali kau berpura-pura menjadi adikku" Haowen berkata dengan nada sinis.
"Hyung.. sungguh ini aku Ziyu. Adikmu. Aku tak berbohong" Ziyu berusaha meyakinkan Haowen walaupun ia ketakutan dengan tatapan Haowen.
"Jika kau benar adikku, buktikan sekarang." Haowen menatap tajam Ziyu yang membulatkan matanya. Apa yang harus Ziyu lakukan untuk membuktikannya kepada Haowen. Tuhan, tolong Ziyu.
.
.
.
.
* You *
Ziyu diam seribu bahasa, bagaimana ia bisa membuat kakaknya percaya padanya. Haowen tak tahu apa-apa tentang jati dirinya yang sebenarnya, lalu bagaimana caranya agar Haowen percaya. Apakah aku harus membawanya kehadapan ibu, tapi aku yakin dia pasti akan menolak dan akan dibenci olehnya. Aku tak mau dibenci oleh orang yang ku sayangi, cukup orang itu saja yang tak pernah menganggapku ada jangan Haowen. Lalu, bagaimana caranya.
"Kau tak tahu bukan? Percuma saja aku membuang waktuku disini untuk mendengarkan omong kosongmu. Dasar tidak berguna" Haowen berbalik dan berjalan masuk ke ruang dance, namun sebelum kakinya masuk sepenuhnya ke ruangan itu ada sebuah tangan yang menahannya. Tangan yang gemetar namun terasa halus bahkan genggamannya tak cukup untuk menggenggam pergelangan tangannya. Dengan rasa tak suka Haowen menengok dan menatap gadis yang menggenggam tangannya sambil menunduk menatapi tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Seenaknya kau-"
"Bahkan kau masih memakainya, aku senang melihatnya" gadis itu masih terfokus pada tangan sang kakak yang kebingungan atas ucapannya.
"Apa maksudmu?" Haowen sungguh risih dengan gadis dihadapannya ini. Tapi ia masih penasaran dengan arti dibalik ucapannya.
"Itu artinya kau masih mengingat dan menyayangiku" Ziyu menatap Haowen sambil tersenyum manis hingga matanya menyipit. Haowen hanya diam menatapnya terkejut, namun rasa terkejutnya ia sembunyikan diwajah datarnya. Melihat Haowen yang hanya diam, Ziyu kembali berbicara.
"Ibu.. memberi kita sepasang gelang agar kita selalu bersama sepertinya dan orang itu. Ibu juga bilang jika kita melepas gelang ini, kita akan berpisah. Dan saat kejadian malam itu gelang milikku patah, dan karna keegoisan 'Orang Itu' kita harus berpisah. Dan faktanya gelang yang kita pakai adalah milik kedua orang tua kita dan semua berakhir setelah gelang milikku patah." Ziyu mengelus gelang pada pergelangan sang kakak. Nafas sang kakak terasa tercekat saat mengingat kejadian-kejadian yang diucapkan Ziyu.
Jelas ia sangat ingat semuanya gelang itu sampai kejadian itu. Hatinya mengatakan bahwa itu adiknya, ia begitu yakinnya hingga tubuhnya serasa melemas. Ingin hatinya memeluk sosok didepannya ini, tapi..
BRUUKK
"Ja-jangan menyentuhku.." otak dan hatinya berkata lain. Haowen menghempaskan tangannya dengan kasar hingga membuat gadis dengan Netra seperti ibunya itu jatuh terduduk dilantai.
"ZIYU!" Terdengar sebuah suara memanggil nama adiknya dengan jelas, ia sangat mengenal suara ini. Suara dari orang yang sangat ia rindukan selama ini, orang yang selalu muncul dalam mimpi-mimpinya, orang yang sangat berharga baginya. Orang itu ibunya, ibunya sedang memeluk gadis dihadapannya yang baru saja ia panggil 'Ziyu', menanyakan keadaannya dan membantu gadis itu berdiri.
Tubuh Haowen gemetar hebat saat melihat wajah wanita yang masih saja cantik itu. Tubuhnya gemetar hebat, kepalanya terasa berputar, air mata yang menggenang dipelupuk matanya membuatnya terlihat menyedihkan.
"Hao? Kau tak apa?" Tae Oh menyentuh bahu Haowen yang bergetar dengan tatapan yang tak beralih dari sosok sang ibu yang menatapnya balik dengan raut terkejut.
"Haowen?" Panggil Luhan pada anak lelakinya yang sangat ia rindukan itu. Tanpa sadar Luhan berjalan mendekati Haowen yang menunduk. Air mata keduanya tak bisa terbendung lagi, saling menetes membasahi pipi masing-masing.
"Haow-ie? Sayang?" Luhan menyentuh pipi tirus sang anak dan mengangkatnya. Menatap betapa tirus pipi anak sulungnya. Haowen menatap Luhan penuh dengan rasa rindu.
"I-ibu.. (cup) haha... ibu" Haowen tertawa pilu sambil mencium telapak tangan sang ibu yang mengelus pipinya. Ia genggam erat tangan ibunya dan berharap hal ini bukanlah sebuah mimpi di siang bolong.
"Ya sayang.. ini ibu." Luhan mengelus sayang surai hitam Haowen lalu memeluknya sayang. Pelukan hangat yang membuat nyaman. Hati kecilnya begitu bahagia bisa melihat Haowen setelah sekian lama. Memeluk bahu lebar anaknya yang semakin terasa aura seorang pria, hampir menyerupai 'orang Itu'.
"Hiks.. bogoshipo " Haowen memeluk erat Luhan hingga Luhan merasa terangkat karna tingginya yang hanya sebatas pundak Haowen saja. Ingin rasanya ia menangis keras namun yang keluar justru tangis yang diselingi tawa bahagia saat mendengar Haowen menangis seperti anak kecil. Ia elus surai kehitaman anaknya dan mengelus punggungnya berharap dengan begini ia bisa tenang.
"Ohh.. astaga, kenapa kalian dengan seenaknya meninggalkanku sendiri di_. Oh, apa aku ketinggalan sesuatu?" Ucap seorang wanita dengan perut buncit yang baru saja datang.
"Kau ketinggalan banyak hal ibu" balas Tae Oh yang melihat ibunya berjalan mendekatnya lalu mengapit lengannya.
"Benarkah?" Kyungsoo tersenyum senang melihat ibu dan anak itu saling berpeluk dan menangis haru. Lalu Kyungsoo berjalan kearah Ziyu masih sambil mengapit lengan anaknya, Tae Oh kaget karna merasa tertarik oleh sang ibu. Ia bisa melihat sang ibu mengelus surai coklat Ziyu yang ikut menangis dalam diamnya, namun senyuman manis itu tak pernah hilang dari wajah cantiknya dan itu membuat pipi anak dari Kim Jongin itu memerah.
"Aku tau kau tertarik dengannya.. Wajahmu memperlihatkan segalanya, sayangku" bisik Kyungsoo pada anaknya yang menunjukkan ekspresi terkejut bercampur malunya. Hahh... Inilah awal dari suatu cerita.
.
.
.
.
.
"Apa?!" terlihat seorang pria yang menatap wanitanya yang dengan percaya dirinya tanpa adanya rasa bersalah.
"Ya, selama ini aku tak pernah mencintaimu. Rasa cintaku sudah Mati setelah orangtuamu menyingkirkanku dan membuangku ke Amerika. Kau menikahi wanita lain dan memiliki anak dengannya. Sedangkan aku disana sendirian menanggung calon anakmu yang tak pernah kau inginkan." Ucap Wanita berambut pirang dengan nama Soojung/Krystal.
"K-kau mengandung anakku? Dimana dia? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang jika saat itu kau bilang kau hamil mungkin aku takkan menikah dengan wanita itu. Kenapa kau melakukan ini krys? " Sehun melotot tak percaya akan kebenaran-kebenaran yang terungkap dari bibir wanita dihadapannya itu.
"Anakmu? Hah.. Anakmu sudah Mati. Kau membiarkan kami terlantar di Negara orang tanpa sekalipun mencoba untuk mencari kami. Padahal dengan jelas kau tahu aku ada dimana saat itu. Tapi hatimu telah tertarik oleh wanita itu, kau fikir aku tak tahu kau mengatakan kata2 Cinta dan sayangmu padanya yang mengandung anakmu? Aku tahu segalanya. " Ucap Krystal tenang namun terselip kemaran dari suaranya.
"A-aku... Memang menyukainya tapi-"
"Rasa sukamu lebih besar untukknya daripada untukku. Kau memang tak menyadarinya, tapi dari caramu menggenggam tangannya saat di altar saat itu aku tahu, bahwa posisiku telah tergeser dari hatimu. Kau begitu bodohnya hingga mudah di bohongi" Wanita itu terus berucap sampai seseorang tiba diantara mereka dan mencium pipinya. Sehun terkejut bukan main saat melihat pria yang mencium pipi mantan kekasihnya itu. Tapi ia hanya diam dengan rahang yang mengeras.
"Setelah kehilangan anakku, aku hampir saja menjadi gila dan aku kira aku akan mati juga. Namun, aku menyadari bahwa aku terlalu bodoh untuk terus beharap bahwa kau akan kembali. Karena dia aku kembali bangkit dan menyusun rencana untuk mendekatimu kembali dan Gotcha.. Tak kusangka pria jenius sepertimu bisa masuk perangkap seperti ini. Dan ingatlah satu hal, aku tak pernah lagi mencintaimu aku hanya mencintai dia yang selalu ada untukku dan mencintaiku setulus hatinya. Dia musuhmu yang sebenarnya, pemimpin perusahaan yang mampu menghancurkanmu tanpa kau sadari, musuh dalam selimut hangatmu. Dia... Wu Yi Fan atau yang sering kau panggil dengan sebutan Kris, kami permisi. Ayo sayang" Kedua insan itu pergi meninggalkan Sehun yang melampiaskan amarahnya pada sebuah gelas hingga pecah setelah melihat seringai musuh bebuyutannya itu.
"BRESNGSEKK! " Pria bersurai hitam mengamuk menghancurkan restoran yang ia sewa hanya untuk wanita yang pernah ia cintai itu. Ia menyesal dan sangat marah, tapi ia tidak menyesal karna Krystal membohonginya bukan, ia menyesal karna telah menyadari bahwa ia telah membuang sebuah permata berkilau hanya untuk sebuah buah busuk. Semuanya hancur tak karuan, semua berantakan, apa yang harus ia lakukan.
"Lu.. " Mulai merasa lelah ia keluar setelah membayar dan langsung mengeluarkan handphonenya dari saku jas mewahnya.
"Blokir semua akses yang di pegang oleh Krystal dan bawa kembali hotel dan pulau kita dan aku ingin kau buat teman kesayangan kita itu menelan mentah-mentah kejahatannya selama ini. Selama ini kita terlalu memanjakannya dengan saham-saham yang membuatnya gemuk. Hancurkan Kris tanpa ampun dan masukan dia kepenjara dengan bukti-bukti kejahatannya. Aku tak peduli lagi walau di adalah sepupuku, aku tak akan memberi dia kesempatan walau hanya untuk berdiri. Jika dia memiliki pegangan yang kuat, rebut pegangannya. Lakukan apa yang aku katakan, jika tidak kau akan tahu akibatnya." Sehun menyeringai seram auranya membuat orang-orang disekitarnya merinding. Itulah Oh Sehun yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
Haup.. Haup.. Haupp.. Glek glek glek (?)
"Hao.. Makan pelan-pelan, makanan itu takkan pergi kemanapun" Luhan menuang lagi air kedalam gelas Haowen yang sibuk makan. Ia alihkan pandangannya ada anak perempuannya yang tak henti-hentinya tersenyum menatap tingkah kakaknya.
"Ma-hanan.. Ibuh.. Enaagh" Haowen mengacungkan kedua jempol tangannya yang mengapit sumpit dan sendok.
"Telan dulu makanan yang ada dimulutmu sayang.. Nanti kau tersedak. " Luhan tersenyum melihat tingkah Haowen.
"Mahap ib- uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Haer"
"Ini.. Minumlah hyung. Ibu baru saja mengatakan bahwa kau bisa saja tersedak kau sudah melakukannya.. Hihihi" gadia itu terkekeh melihat kakaknya yang meminum airnya dengan ganas.
"Huahh... Leganya. Ziyu, aku tak suka cara bicaramu" Ucap Haowen dengan nada marah. Mendengar itu membuat Ziyu terbungkam dan menunduk. Ternyata kakaknya tak bisa menerima keadaannya.
"Kenapa kau terus-menerus memanggilku dengan sebutan Hyung? Kauperempuan Ziyu.. Bagaimana bisa kau memanggilku Hyung. Panggil aku Oppa" Titah Haowen yang mulai merasa jengah dengan panggilan Ziyu padanya. Ziyu yang awalnya menatapnya terkejut kini mulai kembali ke wajah datarnya.
"Tidak mau" Singkat padat dan jelas, mendengar jawaban seperti itu membuat Haowen dibuat mlongo. Bagaimana bisa adik lela-eum.. Perempuannya memanggilnya Hyung.
"Kenapa kau tidak mau.. Hei, kau tak mungkinkan memanggilku dengan sebutan Hyung. Itu memalukan, bisa-bisa semua mengira kau adalah lelaki seperti-eum.. Kau tau maksudkukan? " Haowen menatap adiknya dengan raut heran kebingungan.
"Aku sudah terbiasa melafalkan 'Hyung' saat memanggilmu. Dan jika kau perlu tau aku pernah menjadi seorang lelaki" Ziyu menjawab sambil mengapit kembali sumpitnya. Luhan tersenyum menatap anak perempuannya yang kembali berbicara. Semua ini karna Haowen, ia harus berterimakasih pada anak sulungnya itu.
"Astagah... Yu-i.. Itu dulu, sekarang kau sudah menjadi gadis cantik. " Ucapan Haowen yang blak-blakan itu membuat pipi gadis itu bersemu merah hangat.
"A-apa.. Hyung menerima aku yang seperti ini? " tanya Ziyu sambil menatapi sumpit ditangannya. Sungguh ia sangat takut bila Haowen terpaksa menerimanya, selama ini ia menunggu pertemuannya dan terungkapnya semua hal yang terjadi padanya tapi gadia itu ketakutan untuk mengungkapkannya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Jelas saja aku menerimamu apa adanya adikku sayang. Mau kau lelaki, wanita atau Ban-ahh... Jangan sampai jika kau menjadi... Kau tau maksudku itu.. Hahh.. Intinya, aku akan tetap mencari,menyayangimu, dan menjagamu dan ibu selalu. " Haowen memberi tatapan penuh keyakinan ada Ziyu yang perlahan-lahan mulai tersenyum menatapnya.
"Gomawo, oppa" Ziyu tersenyum amat manis dihadapan Haowen yang juga tersenyum sambil mengelus surai adiknya itu.
"Ziyu, kau tahu ibu merasa sangat senang bahkan rasanya jantung ibu hampir berhenti berdetak saat kau kembali berbicara. Semua ini karnamu Haowen, terimakasih sayang. " Luhan ikut tersenyum menatap kedua anaknya.
"Maafkan aku, bu. Jika selama ini ibu merasa sedih, jujur saja aku sangat ingin mengatakan banyak hal padamu tapi entah kenapa aku tak bisa mengeluarkan satu katapun. " Ziyu mengelus tangan sang ibu dan tersenyum setelahnya.
"Baiklah, mari kita rayakan berkumpulnya keluarga kita! " Haowen berteriak gaduh dan mengacungkan sumpitnya ke udara dan hal itu diikuti oleh Ziyu dan Luhan yang tak henti-hentinya tertawa bahagia. Ini yang sangat ia inginkan sejak dulu, terimakasih Tuhan engkau mengabulkan doa ibu yang kesepian ini.
"Nyonya, ada yang mencarimu" seorang pegawai menginterupsi acara makan ketiganya. Luhan mengernyit menatapi pegawainya.
"Apa salah satu dari kalian berbuat kesalahan? " tanya Luhan lembut namun menyaratkan tuduhan.
"T-tidak nyonya, pelanggan tersebut hanya memesan Green Tea lalu memaksa bertemu dengan anda" ujar sang pegawai itu sedikit takut karna tatapan mengintimidasi dari sang Bos.
"Baiklah, aku akan kesana. Kembalilah bekerja" ujar Luhan.
"Saya permisi" Pegawai wanita itu undur diri dan berlalu. Saat ini Luhan dan kedua anaknya berada didalam rumah. Restoran milik Luhan itu berada dilantai satu, sedangkan rumah nya berada di lantai dua. Dibelakang restoran ada hamparan Taman yang Indah dan terawat, tidak besar memang tapi cukup untuk bersantai dan tempat makan disaat cuaca cerah seperti saat ini.
"Ibu akan kembali, kalian lanjutkan saja makannya. Ibu pergi dulu" Luhan mengecupi satu persatu kepala anaknya. Itu kebiasaannya sejak dulu dan akan dibalas ciuman dipipi oleh mereka berdua.
Luhan berjalan cepat sambil menerka-nerka siapakah orang yg mencarinya tersebut. Selama ini ia tak pernah dikunjungi siapapun karna ia selalu bersembunyi dari semua orang, dan kedatangan tamu sungguh membuatnya bingung. Kaki jenjangnya diarahkan menuju sebuah meja yang berada didekat pintu masuk. Teihat seorang wanita yang memunggunginya, wanita dengan rambut panjang dengan dress putih dan perut menonjol. Hahh... Ini sudah kedua kalinya ia bertemu dengan ibu hamil. Oh, apakah ini Kyungsoo?
"Permisi, apa anda mencari saya? " Luhan berucap sopan sambil berdiri menatapi pelanggannya. Wanita itu menoleh menatapnya. Mata Luhan terbelalak menatap wanita itu, wanita yang pernah menjadi sahabatnya bersama Kyungsoo. Wanita yang paling dekat dengannya dari pada dengan si mata bulat.
"Hai.. Luhan. Sahabat tersayangku. Masih ingat dengaku? " Wanita itu tersenyum dengan eye smilenya yang amat manis. Garisan eyeliner yang sangat rapih dan lipstick peachnya yang terlihat menggoda. Dia adalah sahabat tersayangnya, Dia...
"Byun Baekhyun" Luhan masih dibuat cengo menatapnya.
"Hm.. Bukan lagi Byun, sayang. Namaku Oh Baekhyun, istri dari kakakmu Oh Chanyeol. Bisa kita bicara berdua? " Baekhyun tersenyum manis dan menawarkan temat duduk kosong dihadapannya. Sedangkan Luhan masih terbengong ditempatnya. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa wanita ini datang kemari dengan wajah... Sembab?.
TBC
Oke2... Aku tahu ini pendek.. Tapi ini cukup menguras tenaga. Hehe.. 😂😂😂 maap ya Bom gg bisa apdet cepet.. Banyak tugas.. Lagian bom gg bingung nyari waktu yg pas buat apdet. Dan ini dia...
Oh yaa.. Doain chapter selanjut fast update. Karna bom udah tinggal share.. Tapi masih males.
Oy oy.. Ipan udah muncul, Baekki juga udah muncul.. Kalo kalian mau tau bakkie disini kayag apa? Gg.. '-'. Oke.. '-'. Hehe..
Baekkie disini bom bikin persis kayag vcr nya yg crossdressing. Tapi tanpa abs yang ada buncit dan isi bebih... Ada yang mau tu siapa bebihnya? Request? Boleh ko.. Bom terima.
Please kritik dan sarannya.. Sayanghaeyo
