*Bestfriend*

.

.

.

.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Luhan-ah. Aku sangat merindukanmu, sahabat! " Ujar Baekhyun memasang senyum lebarnya hingga membuat kedua iris coklatnya tenggelam dibalik kelopak mata yang terhiasi oleh eyeliner hitam, sangat rapi. Luhan terdiam sejenak lalu membalas senyuman Baekhyun.

"Luhaen~… Kenapa dengan teganya kau tak menemuiku selama ini?!. Apa kau melupakanku?! Hanya Kyungsoo yang datang padaku begitupun dia selalu mengomeliku. Padahal dia lebih muda dariku... menyebalkan. " Baekhyun kembali berbicara dengan wajah yang dibuat-buat marah, oh jangan lupakan pout imut andalannya ketika merajuk.

"Maaf, baek. Aku sangat sibuk, bahkan untuk mengabarimu aku tak sempat. Aku memikirkan anak-anakku. " Ujar Luhan tenang dengan penuh sesal. Lalu ia tersenyum mengelus surai hitam Baekhyun.

"Anak ya?!. Hehe... Aku ingin bercerita banyak padamu... Apa kau mau mendengarkanku? " Tanyanya dengan nada ragu. Ia tak ingin mengganggu pekerjaan Luhan, ia cukup sadar diri akan hal itu.

"Apapun untukmu baek-ah.. "

.

.

.

.

"Yu-i... " Telihat Haowen yangmenatap Ziyu penuh minat dengan berpangku tangan didagunya. Ia menatap adiknya yang masih makan sambil sesekali melirik padanya.

Gadis ini hanya diam dan menatap tepat di iris kakaknya yang memberikan senyum manisnya. Kenapa dia jadi teringat saat beberapa hari lalu dimana sang kakak yang bersikap dingin dan sinis terhadapnya. Terkesan aneh memang, sangat-sangat berbeda dengan sekarang.

"Aku senang bisa bertemu denganmu dan ibu lagi" ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

"Aku merasa seperti lahir kembali, terasa bahagia bisa menatap wajah cantik ibu dan senyuman manis darimu. Aku benar-benar merindukan kalian berdua. "Haowen tersenyum manis menatapi Ziyu yang memandanginya dengan pandangan polosnya, namun tak lama kemudian gadis itu tersenyum dan menundukkan kepalanya.

"Aku senang mendengarnya" ujarnya lirih.

"Apa!? Kau bilang apa?! " Haowen berpura-pura tak mendengar ucapan Ziyu. Dasar anak jahil.

"A-ku senang mendengarnya" Oh lihatlah Hao, akibat perbuatanmu wajah gadis bersurai coklat itu memerah hingga ke telinganya.

"Kenapa suaramu begitu lirih? Padahal saat kau kecil suaramu sangat jelek, cempreng dan melengking. Tapi... Hal itulah yang membuatku merindukanmu"

"Aku juga merindukanmu, oppa" oho.. lihat wajah memerahnya. Sungguh manis.

"Apah?! I can't hear you... "

"A-aku juga merindukanmu! "

"APAHH?!"

"AKU JUGA MERINDUKANMU HAOWEN OPPA! ... Akhh! " karna merasa malu atas ucapannya dan karena ia telah berteriak dihadapan kakaknya, Ziyu menelungkupkan kepalanya keatas meja sambil menutupi wajahnya yang memerah.

"Kau berteriak begitu keras. Ibu pasti mendengarnya, dan akan segera kesini lalu memarahimu karna mengganggu kenyamanan restoran" anak jahil satu ini masih saja melanjutkan acara 'menggoda adik tersayang' nya itu. Dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah adiknya.

"A-apa benar? A-pa y-yang ha-harus aku la-lakukan? Ap-apakah ii-ibu akan ma-marah ?" gadis itu mengintip Haowen dibalik kedua telapak tangannya yang masih menutupi wajahnya.

"tentu saja, bukankah ibu paling benci hal-hal yang membuat kepalanya menjadi sakit?. Suaramu barusan benar-benar keras dan memekakan telinga. Aku rasa aku akan tuli sebentar lagi. " Berhenti menggodanya Hao, lihat.. dia hampir menangis karenamu.

"Mpfftt... Hahahahaha... " baiklah ia sudah tak bisa lagi menahan tawanya saat melihat wajah panik dan hampir menangis milik adiknya itu. Senang sekali bisa menggoda adikmu, heh...

"Lihat wajahmu itu.. Hahahaha... Sangat lucu.. Hahahaha.. "

"Menyebalkan"

"Hahahahaha- Ashh.. " Haowen tertawa hingga tak sadar ia bersandar pada punggung kursi, dan hal itu membuat suatu kepanikan pada diri Ziyu saat melihat wajah kakaknya yang meringis kesakitan setelah tertawa kencang.

"A-ada apa? " ia bertanya khawatir menatap Haowen yang mengubah posisi duduknya.

"Ti-tidak" mengelak, hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang. Tak mungkin ia memberitahukan semuanya pada adik dan ibunya. Mereka pasti akan khawatir.

"Coba kulihat-" tapi sifat peka Ziyu muncul disaat yang tepat. Dengan berani ia berjalan mendekati tempat duduk kakaknya.

"Tidak usah "

"Lihat- Astaga... Da-darah."

.

.

.

.

.

"Ada apa? " tanya Luhan paksa karena sejak tadi Baekhyun tak mengeluarkan satu katapun.

"Apakah anak-anakmu ada disini?" Baekhyun bertanya sambil menatap keseluruh penjuru ruangan yang dapat dia lihat dari sudut duduknya. "Dimana mereka?"

"mereka ada diruanganku, kau mau bertemu dengan mereka?"

"Bolehkah?" Baekhyun menatap Luhan penuh harap. Namun seketika wajahnya berubah sendu kembali. Entah apa yang ada dipikiran ibu hamil itu.

"tentu, sebentar_" Luhan yang telah bangkit dari duduknya terpaksa kembali duduk manis dibangkunya karena tarikan dari sahabatnya.

"akh.. tidak nanti saja. A-aku masih ingin mengobrol dengan-akhh"

"Apa ini baek? ba-bagaimana bisa?"

Baekhyun berteriak setelah merasakan cengkraman kuat pada kedua tangannya yang tadi memegang legan Luhan untuk mencegahnya pergi. Apakah harus terbongkar secepat ini?.

"i-ini bu-bukan a-apa lu... hanya luka biasa."

Ya, luka. jika kau melihat Baekhyun saat ini seperti hanya menggunakan dres putih biasa berlengan pendek, namun jika kau perhatikan baik-baik ibu hamil itu menggunakan stoking putih (sama dengan warna kulitnya) pada tangan dan kakinya. Itu semua semata-mata untuk menyembunyikan luka itu. Luka yang akan sulit hilang dan akan berbekas kehitaman.

"Apa kau kira aku bodoh, hah! Aku tahu luka apa itu.. bagaimana bisa kau kembali melakukan hal ini? dan disaat kau hamil? Apa Kau sudah gilla Baek!?" Luhan menarik keatas stoking pada tangan Baekhyun dan menatapi luka sayatan pada tangan sahabatnya itu. Sungguh itu sangat banyak dan bertumpuk satu sama lain.

"A-aku tidak_" Baelhyun hanya mampu mengelak saat Luhan menatapnya dengan tatapan marah bercampur sedih. Itu menyakitinya sungguh.

"Ada apa? katakan padaku yang sebenarnya. kenapa kau melakukan hal ini lagi? Apa yang membuatmu hingga seperti ini?"

Ia tahu segalanya tentang Baekhyun melebihi Kyungsoo, karena ia telah mengenal Baekhyun sejak mereka kecil. Baekhyun mengalami penyakit psikis self injury atau kecanduan untuk menyakiti diri sendiri. Entah bagaimana korban self injury dapat merasakan nikmat bahkan kebahagiaan setelah menyakiti dirinya sendiri. Ini lebih menyeramkan daripada kecanduan Narkotika. Karena bisa saja ia memotong urat nadinya jika ia begitu tertekannya atau depreai berat. Mengerikan.

"Maaf, aku mengingkari janjiku"

"B-baek? Apa s-semua ini? Kenapa? Bukannya kau sudah sembuh? Tapi kenapa? Apa ada hal yang menggangu pikiranmu? Katakan padaku, aku akan berusaha membantumu sebisaku"

Luhan tak pernah bisa membiarkan Baekhyun tersiksa sendirian. Karna Baekhyun sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, Gadis itu terlalu berharga untuk terluka. Dan Luhan telah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga Baekhyun.

"Chanyeol_" Bibir mungil itu berhenti bicara dan lebih memilih meremat tangannya kuat.

"Chanyeol menyakitimu!?" Oke, siapapun itu walau dia Chanyeol sekalipun ia takkan segan-segan jika menyangkut Baekhyun.

"Tidak!, dia baik. Hanya saja aku yang tak mengerti" Baekhyun tersenyum lemah menatap kedua tangannya yang terdapat beberapa bekas luka.

"Berhenti tersenyum palsu seperti itu Baekhyun. Aku tak menyukai ini, katakan padaku yang sebenarnya" Luhan hampir saja memukul meja jika saja ia tak ingat masih berada di restoran.

"Hehe... Dulu aku memang sudah dinyatakan sembuh secara psikis. Dan aku percaya, aku baik-baik saja saat menggenggam pisau maupun silet. Tapi setelah hari itu terjadi... Aku tak bisa lagi berpikir waras saat melihat pisau. Aku... Aku begitu menginginkannya seperti dulu. Menyayat tanganku hingga dahagaku terpuaskan. "

"Ke-kejadian apa yang kau maksud"

Dahi Luhan berkerut saat mendengar penuturan Baekhyun. Kejadian? Kejadian apa yang gadis itu maksudkan.

"Dua bulan pernikahan kami, dia masih tersenyum padaku. Walau aku tahu itu hanya sebuah senyuman palsu. Aku bahagia, A-aku bisa merasakan desiran hangat memeluk tubuhku setiap ia menatap dan tersenyum padaku bahkan ia juga menyentuhku walau aku rasa ia terpaksa, tapi saat itu aku bisa merasakan perasaan hangat yang ingin ia bagi padaku. Tapi setelah ia mengetahui kebenarannya, ia mulai menjauh perlahan-lahan. Dia memandangku sinis seakan-akan aku adalah penyakit menular yang sangat menjijikan. Kau telah memiliki 2 putra, sedangkan aku? Haha!.. Memandang wajahku saja dia ragu, apalagi menyentuhku. Memang, aku pernah hampir memiliki anak. Tapi lagi-lagi ia harus meninggalkanku karena kebodohanku sendiri. Ini memang bukan anak pertamaku tapi aku berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya. Cukup sekali aku kehilangannya, sekarang tidak lagi."

Ia berhenti sejenak dan memperhatikan reaksi dari sahabatnya itu. Senyum tipis muncul diwajah cantiknya lalu ia kembali melanjutkan ceritanya.

"Seminggu setelah itu aku mencoba bicara padanya, aku tak tahan dengan perang dinginnya kepadaku. Aku mencoba bertanya padanya, namun yang kudapatkan hanya tatapan sinis dan dia mulai menghindariku. Lalu beberapa hari kemudian ia merasa jengah dan muak padaku yang selalu bertanya padanya setiaphari setiap waktu bahkan aku selalu mengekorinya kemanapun dia pergi hinga pada titik puncaknya dan dia mengatakan aku perusak hubungan, bodoh, pengkhianat dan juga pembawa sial. Dia mengatakan bahwa aku telah merusak hubungannya dengan seseorang, kebodohanku hingga membuat gadis yang dicintainya rela berkorban hanya untukku, aku berkhianat karena seseorang itu adalah salah satu dari sahabatku, dan aku pembawa sial karna ku dia harus kehilangan orang itu dan menikah denganku. Dan hal yang paling menyakitkan adalah orang itu adalah kau Luhan"

Mata penuh binar milik Luhan berubah jadi sendu. Ia tak tau harus melakukan apalagi setelah mendengar perkataan Baekhyun. Semua ini salahnya, jika saja waktu dapat diputar kembali ia takkan menerima bujukan kedua orangtua angkatnya dan hidup seorang diri tanpa bayang-bayang percintaan rumit seperti ini. Menyeselkah ia..

"Maaf"

"Aku membenci hidupku. Kenapa dari banyaknya orang yang ada dibumi ini, tak ada yang ingin mencintai dan menyayangiku dengan tulus" Setitik air mata mengalir jatuh pada kedua pipi tembam wanita cantik itu. Ia tak lagi bisa menahan tangis yang ditahannya sedari tadi. Biarkan semua orang tahu bahwa begitu terlukanya ia.

"Baek... Perlu kau tahu.. Aku tak menyukai Chanyeol. " Luhan mencoba untuk tetap berpikir positif dan tenang menghadapi Baekhyun saat ini. Ia harus terlihat tegar dihadapan wanita ini.

"Kau memang tak menyukainya sekarang, tapi dulu kau pernah. "

"Baek.. "

"Tapi sekarang aku sudah bisa melepaskannya untukmu. Aku sudah mendapatkan anakku. Aku hanya ingin berbahagia dengan anakku saja. Tak apa-apa walau tak bersamanya, sekarang aku akan bahagia bersama dengan anakku."

Baekhyun kembali duduk dengan tegak. Pungung tangannya Dengan kasar menghapus air matanya. Tidak, ia harus mengatakannya sekarang. Ia pasti bisa, tak apa walau tak bersama dengan cintanya. Sekarang ada anaknya yang akan slalu menemaninya. Kapanpun dan dimanapun..

"Apa kau sedang mabuk? Atau kepalamu baru saja terbentur benda keras?. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu, Ha!"

"CUKUP LU!"

Mendengar Ucapan Baekhyun, Luhan emosi. Ia benar-benar merasa frustasi dan tak habis pikir akan sahabatnya ini. 'Oh Tuhan, aku merelakan segalanya dan selalu berdoa kepada-Mu hanya untuk kebahagiaan orang-orang disekitarku. Baik mereka mengenalku atau tidak, aku hanya ingin orang-orang yang kusayangi bahagia. Tapi mengapa begitu sulit bagi Baekhyun. Mengapa Kau mempersulitnya.' batin Luhan berteriak keras. Air matanya tak lagi bisa ia tahan. Ia hanya ingin hidup nyaman dan bahagia bersama dengan orang-orang yang ia sayangi.

"Lu~.. Aku tak mau hubungan kita terhenti disini hanya karna kebodohanku sendiri. Aku akan relakan apapun untukmu asal kau bahagia. Tak apa walau aku harus tersakiti. Aku ingin ka_"

PLAK

Suara tamparan keras itu membuat beberapa orang meihat kearah mereka dan bertanya-tanya apa yang terjadi diantara kedua wanita cantik itu. Maafkan Luhan jika harus menamparmu lagi Baek. Tapi dia melakukan ini untuk kebaikanmu.

"Diam dan dengarkan aku Byun. Kau!, adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti diriku begitu juga aku padamu. Kau tau aku tak pernah suka kau menangis ataupun tersakiti. Entah itu olehmu atau aku atau oranglain, aku takkan pernah membiarkanmu terluka sedikitpun. Jadi berhenti mengatakan kau akan mengalah untukku. Dia bukan milikku lagi, dia telah jadi milikmu secara sah dimata hukum. Dia bukan lagi tanggung jawabku tapi dia adalah tanggung jawabmu."

Mata dengan binar indah milikknya menatap Baekhyun tajam. Jika saja tatapan dapat membunuh, mungkin Baekhyun telah tergeletak tak berdaya karenanya.

"Kau adalah wanita yang cantik baek. Semua wanita berhak bahagia dengan orang yang dicintainya. Begitu pula dengamu, kau harus bahagia. Karena aku adalah ibu perimu yang akan membantumu bagaimanapun keadaanmu. Aku akan merubahmu menjadi seorang putri agar kau bahagia. Ini hakmu... jangan salahkan dirimu sendiri. " Luhan menggenggam tangan Baekhyun lembut. Air matanya menetes manatap wajah Baekhyun yang juga menangis menatapnya.

"Kau tahu baek.. saat kau menyakiti dirimu sendiri itu juga menyakitiku. "

"Lu... Apa aku bisa bahagia? "

"tentu Baeki sayang. Kau harus bahagia. "

"A-aku ingin bahagia lu.. hiks. aku sangat mencintainya. Aku ingin dia melihatku sebagai Baekhyun bukan sebagai orang lain. "

"Ya, Aku tahu dan kau harus bahagia. Harus. "

Luhan memeluk Baekhyun yang menangis meraung-raung didadanya. Ia akan terus mengelus kepala bersurai coklat itu walau ia harus merasakan kaku pada tangannya ia tak peduli. Ia akan selalu ada untuk sahabat cantiknya ini. Mata Luhan menatap tajam pada seorang pria yang berdiri terdiam di dekat pintu masuk sedari tadi. Pria dengan jas kantornya itu hanya mampu terdiam dengan tatapan terkejut.

'Kau lihatkan begitu rapuhnya dia... Chan? '

Ya, itu adalah Chanyeol. Ia mendengar semua, segala hal yang mereka katakan walau tak dari awal tapi ia dapat menangkap inti dari pembicaraan kedua wanita itu. Mata bulatnya menatap Baekhyun dengan tatapan syok bercampur penyelasan atau kekecewaan. Sungguh ia merasa kesal entah pada siapa. Awalnya ia hanya ingin mengunjungi Luhan saja, namun akhirnya ia justru dihadapkan dengan kenyataan sepahit ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Oh Tuhan bantulah hambamu ini ia tak tahu harus melakukan apa sekarang dan hanya menatapi Baekhyun yang merintih kesakitan sambil menarik kencang baju Luhan. Tunggu, apa yang dia lewatkan.

"park Chanyeol! Apa kau hanya akan terus diam disitu dan melihat istrimu melahirkan disini?. Cepat kemari dan gendong dia!." Ucapan Luhan seakan menyadarkannya dari lamunan panjangnya. Astaga, apa yang telah ia lakukan disaat genting seperti ini. Segera ia menghampiri Luhan dan Baekhyun.

"ARRGGHH... SAKITT! PE-PERUTKU SAKITT!"

"AAARGHHHH BAEKK... INI JUGA SAKIT"

"JANGAN BERTERIAK PADANYA PARK. DIAM DAN CEPAT GENDONG BAEKYUN KE MOBILMU. DIA AKAN MELAHIRKAN"

"A-AARGH... BAEK.. JANGAN MENARIK RAMBUTKU TERLALU KERAS. ITU SAKIITT"

"AARGGHHHH... PERUTKU LEBIH SAKIT, BODOH! ARGHH.."

Pemandangan bagus, haha. Luhan sangat-sangat ingin tertawa melihat situasi sekarang dimana Bakhyun yang ada dalam gendongan Chanyeol yang tak berhenti bahkan semakin kuat menarik surai bergelombang milik suaminya itu. Entah kenapa kejadian ini membuatnya ingin tertawa apalagi saat melihat raut kesakitan milik Chanyeol karena Baekhyun. Hahaha.. bukankah mereka sangat lucu..

"HEH.. LU! KAU IKUT TIDAK? CEPATLAH KEPALAKU RASANYA HAMPIR BOTAK SEKARANG"

"AAARRRGHHHH.. PARKK.. CEPATLAH"

"Kau duluan saja, aku akan menyusul bersama anak-anakku"

"KENAPA KAU TAK BILANG DARI TADI! ARRGHH... SABAR BAEK. APAKAH BEGITU SAKIT, HAH! TAK BISAKAH KAU MENAHANNYA?"

"JIKA KAU MAU TAHU RASANYA. MINTALAH PADA ORANG LAIN UNTUK MENGHAMILIMU... AAARRGHHH.. CEPAT!"

BRUMM

Suara mobil berderu itu mulai menghilang dari pandangan Luhan yang tengah tertawa mengingat kejadian baru saja terjadi. Benar-benar tak terduga. Anak itu ternyata tahu siapa ayahnya. Haha... tunggu Bukankah Baekhyun baru menginjak bulan ke 8 kehamilannya?. Astaga, ia harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang.

Dengan cepat kakinya berlari kearah ruangannya dan hendak mengajak serta kedua anaknya ke rumah sakit melihat persalinan Baekhyun. Pintu telah terbuka, langkahnya yang awalnya cepat semakin melambat saat iris berbinarnya menangkap sebuah kemeja yang tergeletak tak jauh dari tasnya. Tapi kenapa kemeja putih itu terdapat bercak darah. Apa yang terjadi disini. Dengan cepat ia mencari keberadaan kedua anaknya dan ia menemukan kedua anak itu menatapnya terkejut. A-Apa yang terjadi..

.

.

.

TBC

.

.

.

Muehehehe... hai.. temu lagi ama bom. maaf nih bom luama banget gak apdet. semua karna mood bom yang berubah ubah tak dapat diketahui asal usulnya. Bom gak janji akan bisa sering-sering apdet.. kerana bom dilanda ulangan dll. Pusing euy. hehe.. tapi bom akan mencoba lebih baik dari ini dan menulis cerita dengan lebih baik lagi. karena hanya kalianlah yang bisa buat bom jadi semangat lagi.

maaf jika ada kesalahan penulisan dan maaf jika terasa seperti nonton sinetron bom hanya ingin melakukan yang terbaik. bom janji ini ep ep gak bakal jadi alay ko.. hehe

salam cinta dari bom untuk kalian semua.. muah