ITS NOT OVER

HUNHAN

BOM

Disclaimer : HunHan milik Kedua orangtuanya, Bom cuma pinjam nama.. XD

Genre : Drama, Family, Sad, Romance

Rate : T

Pairing : HunHan, HaoZi, ChanBaek, KaiSoo, Kyumin, HanChul, dsb.

Warning : Genderswitch, yang gak suka gak usah dibaca dan boleh pergi. Bom gak maksa

NB : Chapter kali ini kebanyakan monolog, orang pertama. Maapkan ya~ kalo akan terasa membosankan, Tapi jika kalian tidak baca kalian takkan tahu bagaimana perasaan yang dirasakan Sehun selama ini.. jadi pasrah ya

.

.

.

*Se Hun*

.

.

.

Aku Oh Sehun, anak kedua dari Oh Kyuhyun dan Lee Sungmin. Terlahir dengan wajah tampan tanpa cacat dengan sifat dingin yang bisa membuat seluruh wanita di bumi meleleh hanya dengan sebuah tatapan datar. Senyum tipis yang terlihat seperti seringai turunan dari ayah itu menjadi andalanku setiap aku merasa senang, karena bagiku takkan akan elit jika aku tiba-tiba tertawa terbahak (kadar ketampanan ku mungkin akan menghilang). Tak pernah ada yang tahu bagaimana perasaan maupun apa yang aku pikirkan, bagi mereka aku terlalu sukar untuk dimengerti. Sejak awal kehidupanku telah dipenuhi oleh noda hitam diatas kertas putih milikku, namun tiba-tiba mucul sebuah kertas putih baru dan aku kehilangan tinta hitamku karena kedatangan gadis itu yang memporak porandakan kehidupanku. Juga hatiku.

Sejak aku lahir aku begitu jarang bertemu dengan kedua orangtuaku. Mereka sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang dengan alasan kehidupanku kelak. Sedari dulu aku selalu bersama-sama dengan bibi Heechul. Hanya bibi itu yang dapat mengerti rasa kesepian yang aku rasakan. Bibi Heechul selalu ada saat aku butuh, saat aku kesulitan, bahkan ada saat aku menangisi kepergian kedua orangtuaku ke luar negeri. Aku memang mendapat kasih sayang dari bibi Heechul, namun rasa ingin diperhatikan oleh kedua orangtuanya takkan hilang dengan mudah. Aku telah melakukan berbagai cara hingga dengan sengaja berlari ketengah jalan raya yang padat kendaraan hanya untuk berharap kedua orangtuaku pulang dan menemaniku selalu. Namun lagi-lagi aku harus menelan kepahitan karena aku harus terbangun dalam pelukan paman Hangeng. Kenapa Paman dan Bibi selalu menyelamatkanku tak lelahkah mereka melakukannya. Aku hanya menginginkan ayah dan ibuku kembali padaku dan bersama-sama lagi denganku dan juga kakakku. Tapi, setelah kejadian itu (niat bunuh diri dg berlari ke tengah jalan raya) aku berjanji takkan melakukan hal bodoh lagi dan akan menerima keadaannya seperti apapun.

Rasa sayang yang diberikan Paman dan Bibi begitu besar hingga aku merasa tenggelam dalam pelukan hangat Bibi maupun canda tawa dari Paman. Aku mulai berharap pada Tuhan untuk selalu melindungi orangtuaku juga Paman dan bibi. Tak apa walau ibu dan ayah tak mengakuiku, yang penting bibi dan paman menyayangiku.

Aku sering mendengar cerita tentang seorang anak gadis cantik yang periang dari Bibi Heechul sebagai penghantar tidurku. Nama gadis itu Hani, kata Bibi Hani hanya seorang gadis miskin yang tetap bahagia walaupun keadaan ekonominya buruk. Yang dia punya hanya pakaian lusuh untuk ia pakai dirumah. Sebagus-bagus baju miliknya adalah seragam sekolah dasar miliknya. Ia selalu menjaga kebersihan seragam sekolahnya karena ia cinta dengan belajar. Ia ingin terus bisa bersekolah agar suatu hari nanti hidupnya berubah jadi lebih baik. Kata Bibi Heechul Hani itu cantik, apalagi matanya yang seakan berbinar saat kau menatapnya. Jika mengingat masa-masa ini aku merasa malu sendiri karena pernah berjanji akan menikah dengan gadis bernama Hani itu dan ternyata direstui oleh Bibi sendiri. Hahaha...

Sejujurnya saat dimana gadis bernama Luhan itu datang ke dalam kehidupanku, Aku membencinya. Aku benci karena aku berfikir ia akan merebut kasih sayang yang aku dapatkan dari orangtuaku karna kepergian Paman dan Bibi yang cukup membuatku terpukul. Aku juga membencinya karena ia memiliki panggilan yang sama dengan Hani-ku. Gadis penghantar mimpiku. Tapi semakin benci aku padanya, semakin ku sadari rasa benciku itu berubah menjadi sayang dan aku tak tahu kapan hal itu datang.

Aku tak bisa mempercayai diriku sendiri yang awalnya terus berusaha mempersulitnya, justru membantu dan melindunginya secara diam-diam. Aku yang masih tak bisa mempercayai diriku sendiri mencoba mencari pelampiasan dengan berpacaran denga Kyrstal atau SoJung. Dan aku mulai merasa bahwa aku mencintai Kyrstal dan takut kehilangannya, walau aku tak begitu yakin dengan perasaanku itu. Tetapi tiba-tiba ia pergi meninggalkanku tanpa kabar dan alasan yang jelas. Aku marah aku kesal hingga rasanya aku ingin membunuh orang, namun aku cukup sadar untuk tak melakukan itu. Setelah kepergiannya, aku mulai dikenalkan dengan Nikotin dan Alkohol. Aku terkadang menikmati mereka berdua untuk menghilangkan stres. Hingga aku ketahuan oleh Luhan, gadis itu memarahiku bahkan menamparku. Dia melakukan itu semata-mata hanya karena kasihan. Aku benci dikasihani. Gadis itu membuatku terpaksa membuka mataku yang awalnya tertutup. Ia berkata bahwa ia melakukan ini bukan karena kasihan padaku tetapi karena ia menyayangiku. Dan seketika rasa yang dulu pernah hilang kembali muncul dan menenggelamkanku lebih dalam.

Saat itu malam dimana kedua orangtuaku tak ada dirumah begitu juga dengan Chanyeol, aku diam-diam pergi bersama dengan teman-temanku untuk minum-minum. Hingga pada puncaknya aku kembali kerumah dalam keadaan mabuk. Saat itu Luhan ada dirumah menungguku, karena mabuk aku meracau hal tak jelas. Dan karena Alkohol itu aku harus merusak masa depan orang yang aku sayangi itu. Setelah kejadian itu keesokan harinya aku ingat bahwa saat aku menodainya aku sempat berkata bahwa 'Aku Mencintainya'. Karena kejadian itu aku menjadi seperti orang gila. Aku menghindarinya, namun aku tak menolak dinikahkan dengannya. Aku harus menelan kepahitan saat aku tahu Chanyeol hyung menyukai Luhan. Aku telah menyakiti semua orang, masih pantaskah aku hidup. Yang tak aku mengerti mengapa Luhan harus repot-repot menikah denganku. Mengapa ia tidak menolaknya dan menikah dengan Chanyeol. Tapi Aku bersyukur Aku bisa menikah dengannya, dia sangat menyayangiku dan aku mencintainya. Aku senang karena memiliki keluarga yang penuh kasih dengannya. Aku bahagia.

Kalian tahu bahwa aku tak menginginkan anak perempuan. Tapi aku memiliki alasan tersendiri akan hal itu. Saat itu Haowen berumur 7 tahun, Luhan menjeput anak tampan itu dari sekolahnya. Namun tiba-tiba muncul mobil van dihadapan mereka dan menculik mereka berdua. Kalian pasti dapat menangkap siapa orang yang menculik kedua permataku, ya mereka adalah musuh perusahaanku. Aku sangat marah bahkan hampir kehilangan kesabaran. Waktu sudah hampir sore tapi tak ada tanda-tanda Luhan dan Haowen akan ditemukan. Namun tiba-tiba aku mendapat panggilan dari nomor handphone Luhan. Dengan segera ku angkat dan aku sangat terkejut saat itu. Aku mengira yang menelfonku adalah para penculik itu, tapi ini jelas-jelas suara Luhan. Luhan berbicara dengan panik, dapat ku dengar suara nafasnya yang pendek. Wanita yang menjadi istriku ini berkata untuk menjemputnya dan Haowen, aku terkejut bahwa mereka selamat dan dapat keluar dari makas penculik itu karna Haowen menggigit dan menusuk mereka dengan pisau. Dengan segera ku jemput mereka dan kulaporkan penculik itu kepada polisi. Entah aku harus bangga atau sedih mengetahui anak lelakiku telah mengenal pisau itupun bukan untuk hal yang baik, dan diumurnya yang sekecil itu ia harus merasakan sakit dan melihat bagaimana darah keluar dari tubuh. Aku hanya berdoa semoga ia takkan menjadi seorang psychopath ataupun lain halnya itu.

Dan karena itu aku tak menginginkan anak perempuan, Aku takut jika aku memiliki anak perempuan ia akan terluka dan aku tak bisa menolongnya. Aku tak ingin kejadian penculikan itu terjadi lagi. Aku hanya terlalu menyayangi Luhan dan anak-anakku. Memang caraku salah, tapi aku hanya ingin melindungi anak-anakku. Aku mendidiknya secara keras agar ia dapat mandiri dan bisa melindungi dirinya sendiri. Walau aku sendiri terluka saat melihat Luhan menangis karena sikapku terhadap Ziyu. Tapi aku lakukan semua ini untuk keluarga ku. Maaf.

.

.

.

.

.

*Fact*

"Aakhh!" suara pekikan kesakitan meluncur dari bibir seorang anak lelaki bersurai hitam.

"A-apa be-gitu sakit Hao?" suara nyaring itu bertanya dengan nada khawatir. Jika kau lihat dengan baik sepasang mata indah itu telah dipenuhi dengan air mata.

"Hao baik-baik saja ibu. Ibu tak perlu sekhawatir itu." jelasnya mencoba menatap ibunya yang berada dibelakangnya. Wanita itu terlihat sekali ingin menangis namun ditahannya.

"Bagaimana ibu tak khawatir. Lihat bahkan adikmu saja masih menangis sekarang. Hao.. aku ini ibumu, melihat anakku terluka aku pasti juga akan tersakiti."

"Tapi Hao baik-baik saja ibu. Bibi Kyungsoo selalu membantuku selama ini, jadi luka-luka itu takkan berbekas."

Mendengar jawaban sang anak Luhan hanya mampu terdiam. Jadi selama ini Kyungsoo dan Jongin yang menjaga mereka. Kyung kau terlalu banyak membantuku, aku takit tak dapat membalas kebaikan hatimu. batin Luhan.

"Oh.. Ziyu. Kumohon jangan menangis seperti ini, sungguh aku baik-baik saja." Haowen memegang pundak sang adik yang setia dalam tangis diamnya. Sekarang ia merasa jahat karena membuat kedua orang yang ia sayang menangis.

"Berhenti bicara dan kembali menghadap kedepan, dasar anak nakal!" Luhan menggertak pelan tapi cukup untuk membuat Haowen merinding. Ibu benar-benar menyeramkan saat marah, batin Haowen melas.

"Ibu.. maafkan aku karena tak bisa menjaga diri dengan baik. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa, memang beberapa kali rasa 'itu' kembali tapi aku selalu mencoba untuk kembali sadar dan mengingat bahwa orang yang melakukan ini adalah orang yang seharusnya aku jaga dan juga harus disadarkan dari kesalahannya. Jadi Aku mohon ibu, tunggu dan bersabarlah karna aku berjanji keluarga kita akan kembali seperti dulu lagi."

"K-kau masih merasakan rasa 'itu'?" tanya Luhan khawatir.

"Ya, dan hal itu benar-benar membuatku gila. Aku pernah hampir menusuk wanita itu dengan pisau. Tapi Ayah menyadarkanku, hingga sekarang aku terkadang masih meminum obat itu. Aku hanya takut jika aku tak bisa mengontrol diri dan kehilangan kendali. Tapi disetiap aku kehilangan kendali Pria tua itu selalu ada untukku, memelukku dan membiarkan bahunya terluka karena gigitanku. Dari situlah aku merasa bahwa ia masih seperti ayahku yang dulu walau ia terkadang memukulku... tapi aku tahu ia melakukan itu hanya karena wanita itu. Ayah tak pernah berbuat jahat jika ia tidak dipengaruhi. Dan ibu tahukan ayah itu susah untuk dipengaruhi, dan hal itu yang membuatku membenci wanita itu."

Luhan terkejut mendengar ucapan anak sulungnya. Perlahan ia merasakan desiran halus didalam dadanya. Terasa hangat dan membuat bulu berdiri. Terlihat sudut bibirnya terangkat sedikit tapi kemudian menghilang saat Haowen kembali melanjutkan ucapannya.

"... Aku sering melihat wajah mengantuk dan frustasi darinya. Dan setiap itu terjadi wanita itu selalu memberikan secangkir teh yang aku yakin pasti diberi sesuatu hingga Pria itu mau mengikuti apapun yang dikatakannya."

Raut wajah Haowen berubah saat ia melanjutkan ucapannya. Sangat terlihat bahwa ia menahan amarah hinga membuat giginya bergemeletuk. Dan itu tak dilewatkan oleh Luhan. Wajah Haowen yang seperti itu terlihat seperti Sehun saat ia marah. Saat marah Sehun hanya diam dan berwajah datar, tapi tatapannya menajam. Mereka benar-benar sama, batin Luhan.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Luhan. Ia menatap anak gadisnya yang tak lagi menangis dan mulai tertarik dengan arah pembicaraannya dengan Haowen.

"Aku sudah melakukannya, seharusnya hari ini aku sudah mendapatkan panggilan darinya." Haowen melirik smartphonenya yang tergeletak dimeja.

"Apa maksudmu?" Luhan menatap Haowen bingung.

"jadi begini..."

.

.

.

.

2 Tahun yang lalu

"Haowen, karena aku takkan selalu ada untuk membantumu jadi aku meminta bantuan sekertaris Sehun. Dia juga tangan kananku, jika kau membutuhkan bantuan kau bisa meminta bantuan padanya. Namanya Yixing."

Terlihat seorang pria tinggi dengan senyuman yang berhiaskan lesung pipi. Pria itu terlihat tampan namun juga terlihat manis disaat yang bersamaan. Ia mengulurkan tangannya dihadapan Haowen.

"Aku Yixing, Kau bisa memanggilku Lay Hyung. Aku adalah sekertaris dalam Sehun. Tapi itu dulu sebelum wanita itu datang dan membuatku jadi sekertaris luar."

Haowen menatap datar Yixing. Ia masih ragu apakah ia bisa percaya pada orang asing ini. Sejak kecil ia diajarkan untuk tidak percaya pada orang asing. Walaulun itu orang kepercayaan Paman Jongin sekalipun. Bisa saja ia berkhianat bukan.

"Aku takkan berkhianat, jujur aku juga kesal dengan ular itu. Dia mengambil posisiku dan mengambil gaji lebih banyak dariku. Dia menumpukkan pekerjaan padaku sedangkan ia hanya sibuk dengan tetek bengeknya. Dan itu membuatku kesal. Jadi aku akan membantumu menjaga ayahmu. Lagi pula aku berhutang budi padanya."

Haowen terbelalak. Hei, bagaimana bisa ia mengetahui apa yang aku pikirkan. Apakah ia seorang Mind Reader. Aku harus lebih berhati-hati dengannya, batin Haowen.

"Jangan berpikir bahwa aku bisa membaca pikiranmu. Aku belajar membaca wajah bukan membaca pikiran. Walaupun wajahmu sedatar Tuan Oh tapi aku masih bisa membaca wajahmu. Tidak seperti Tuan Oh yang sangat sukar untuk dibaca maupun ditebak. Jadi kita berteman?."

Lagi-lagi Yixing mengulurkan tangannya. Ia menatap Haowen dengan senyuman terbaiknya. Untuk beberapa detik Haowen masih ragu untuk menyambut tangan Yixing. Tapi setelah ia melirik pada Jongin yang juga tersenyum akhirnya ia membalas salam dari Yixing.

"Baiklah aku menganggap kau telah percaya padaku. Jadi apa yang bisa ku bantu untukmu Second Oh?." tanya Yixing setelah mereka bertiga duduk didalam sebuah kafe dekat kantor Sehun. Hei ini jam makan siang.

"Baiklah, Aku ingin menyingkirkan wanita itu dari ayahku. Aku tahu bahwa ia mendekati ayahku bukan semata-mata menyukai ayahku. Aku sudah mendengar cerita masa lalu mereka dari bibi Kyungsoo, dan aku menyimpulkan bahwa ia pasti mendekati ayah ada hubungannya dengan perusahaan. Jadi, bisa kau beri tahu aku dari mana asalnya dan terakhir kali ia datangi sebelum menemui ayahku."

"Wow...Wow... Padahal umurmu masih 15 tahun tapi aku dapat merasakan aura kepemimpinan darimu. Tipe-tipe penerus yang sangat kental." ucap Yixing yang tertarik akan sikap Haowen.

"Berhenti basa-basi, waktu kita terbatas." Haowen memutar bola matanya jengah.

"Tak perlu terburu-buru Hao. Kau jadi terlihat seperti Sehun saat menginginkan informasi. Tenanglah." ucap Jongin sambil menepuk pundak Haowen.

"Okay, darimana aku bisa menjelaskan yah. Hmm.. dari informasi yang ku dapat ia berasal daei China sebelum datang kemari. Ia dulunya adalah penghibur disalah satu bar yang cukup terkenal. Tapi ia dibeli oleh seorang pria kaya yang juga memiliki perusahaan yang cukup berpengaruh di China. Tapi perusahaan itu masihlah kalah dengan perusahaan kita yang berada di China dan hal itu membuatnya melakukan berbagai cara agar perusahaannya dapat mengalahkan milik kita."

"Apakah ia mencari informasi tentang wanita itu lalu membelinya?" tanya Haowen saat melihat Yixing yang masih asik menyeruput kopinya. Hei waktunya tak banyak bisakah lebih cepat, batin Haowen mengomel. Tapi kali ini alis Haowen dibuat berkedut karena melihat pria lesung pipi itu tersenyum bukan ia terkekeh sambil menatapnya.

"Kau benar-benar terlihat seperti tuan Oh" ujarnya jenaka.

"tentu saja karena aku adalah anaknya. Jadi cepat katakan seluruhnya." Haowen menjadi kesal karena pria ini. Seenaknya memainkan emosinya.

"Tenanglah tak usah terburu-buru. Baiklah, pria yang membeli wanita itu bernama Wu Yifan. Seorang pengusaha kaya asal China yang membangun perusahaan dibawah bimbingan ayah angkatnya yang seorang pimpinan kegelapan. Wu Yifan adalah korban salah culik oleh ayah angkatnya. Tapi pimpinan kegelapan justru menyukainya dan menjadikannya sebagai anaknya dan berganti nama menjadi Kris Wu. Wu adalah marga ayah angkatnya. Sampai sekarang aku tak mengetahui siapa keluarga asli dari Kris Wu itu. Kembali ke awal cerita, ia membeli Krystal setelah ia mencari seluk beluk masa lalu wanita itu. Dan ia menggunakan wanita itu sebagai alat agar Sehun dapat menyerah dan memberikan seluruhnya padanya. Tapi aku tak tahu, tapi semoga tidak terjadi seperti apa yang aku fikirkan. Ini memang terlihat seperti sinetron siang hari. Tapi semoga Tuan Oh tidak menandatangani apapun yang berhubungan dengan pemindahan kekuasaan. Hal ini membuatku takut." Yixing memperhatikan dengan seksama wajah Haowen yang terdiam. Ia yakin bahwa Haowen sedang berfikir. Tapi apa.

"Bagaimana Haow.. Apa rencanamu?" tanya Jongin yang juga menatap Haowen penuh rasa penasaran.

"Mungkin presentase keberhasilannya hanya 50% tapi aku harap ini berhasil. Kita harus mengamati jejak-jejak wanita itu, lalu menekannya sedekat mungkin. Jika ia mulai merasa tertekan ia pasti akan melapor pada pria Wu itu, dan pria Wu itu pasti akan menarik wanita itu atau justru memaksa cepat-cepat mendapatkan tandatangan Ayahku. Jika hal itu terjadi kita masih punya rencana lain, yaitu sistem tarik ulur. Awalnya kita buat mereka senang seakan-akan kita telah melepaskan segalanya, namun pada saat yang bersamaan kita tukar surat itu dengan surat kuasa atas perusahaan mereka. Lalu bila semua berjalan dengan rencana kita, kita tarik sekuat tenaga. Dengan begitu mereka takkan mendapat apapun lalu kita dapat menuduh mereka dengan tuduhan pencurian saham, pembunuhan berencana, pelelangan manusia, dan korupsi yang dilakukannya untuk mensukseskan rencana mengambil perusahaan kita. Kita akan semakin berjaya dan mereka akan membusuk dipenjara. Bagaimana?" Haowen berujar panjang lebar dengan seringai tipis yang cukup untuk membuat bulu berdiri melihatnya.

Jongin dan Yixing saling pandang lalu terkekeh pelan. Mereka merasa sedang berbicara dengan Sehun daripada dengan Haowen. Remaja berusia 15 tahun iti benar-benar berjiwa kepimpinan dan sangat cerdas untuk memikirkan hal-hal hingga seditail itu.

"Baiklah, sesuai perintah kami akan menjalankan perintah anda." Mereka berdua berujar bersamaan dan membuat pipi Haowen merona. Berhenti menghoda anak tampan itu wahai om-om.

.

.

.

.

Back to Now

"Kau memikirkan hal seperti itu pada unur 15 tahun? Wah.. kau benar-benar jenius, sayang. Ibu bangga padamu." Luhan mengelus surai hitam milik anak sulungnya.

"kau sangat keren, hyung!" Ziyu mengangkat kedua jempolnya.

"Semua itu Hao lakukan demi Keluarga kita. Aku ingin ayah tersadar dan kembali bersama dengan ibu." Haowen tersenyum lebar yang diikuti dengan anggukan dari Ziyu.

"Kembali bersama? Apa bisa?" gumam Luhan lirih. dalam hatinya ia masih mencintai Sehun, tapi ia masih ragu untuk menerima pria itu kembali.

"ibu.. ibu tadi bukannya ada tamu?" tanya Haowen heran saat melihat sang ibu melamun.

"Hm? iya, bibi Baek kesini tadi. Lalu ibu tinggal" ujar Luhan sambil tersenyum misterius.

"Mengapa ibu tinggalkan bibi Baek sendiri?" tanya Haowen lagi

"Dia tak sendiri sayang. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka." Luhan tersenyum dan berdoa dalam hati agar semua hal yang terjadi didepan sana lancar dan baik-baik saja.

"Baiklah" Haowen dan Ziyu saling landang lali menatap kearah Smartphone sang ibu yang bergetar diatas meja dengan tatapan terkejut. Luhan yang juga melihat layar yang menggambarkan seorag pria sedang menlponnya kali ini membuat nafasnya berhenti seketika.

"Ayah/Sehun" ujar mereka bersamaan.

TBC

Puahhhhh... Gomen gomen... kali ini kebanyakam monolog. Bom lakuin ink agar semua jelas bagaimana cerita dari hati Abang HunHun... uyeee

Oh ya Chapter ini ada hubungannya dengan Chapter 6 yang menceritakan Krys meninggalkan Sehun dan bersama dengan Kris.

Dan disini Haowen bilang "Aku sudah melakukannya, seharusnya hari ini aku sudah mendapatkan panggilan darinya."

Itu berhubungan dengan kejadian dimana Krys dan Kris yang datang ke Perusahaan Sehun lalu pergi setelah mendapat saham, pulau dan hotel milik Oh Corporation.

jadi jangan bingung dan ini adalah chapter terpanjang menurut sejarah Its Not Over.

Dan untuk Chapter 9 akan twrungkap perasaan ChanBaek.. dan mungkin juga terungkapnya perasaan HunHan dan mungkin juga Kaisoo akan hadir sebgai penghulu..

Uyee... cuma segini doang yang bisa bom berikan maaf kalo ada typo yang menyebar.. maaf kalo capek baca monolognya.. tapi kalo gak dibaca gak akan tau bagaimana perasaa Sehun yg sebenarnya..

Jadi Byeee...