Kelopak mungil itu bergetar, perlahan... perlahan... hingga jiwa itu tak tertahankan, dan berhujung dengan terbukanya dua netra itu.

Baekhyun mengerjab, kemudian melemaskan seluruh ototnya. Sedikit merasa aneh, karena menurutnya, tidurnya terlampau nyenyak. Alas tidurnya-pun terasa seperti buliran awan.

Setelah beberapa saat, Baekhyun tersontak.

Lantas bayangan Chanyeol menghampiri, membuat kaki-kaki kecilnya menapak, mencoba mencari jejak lelaki jangkung itu. Pujaan hatinya yang baru saja kembali, dan tak akan ia lepaskan lagi.

"Yeola.." gumamnya saat mendapati potret sang kekasih di ruangan minimalis yang hampir tidak memiliki ornamen khusus itu.

Nafasnya terhela lega. Setidaknya bayangan itu bukan hanya impian semunya saja.

"Selamat pagi, Tuan Park."

Senyumnya terkulum, dan tubuh itu berbalik, seraya menghampiri si jangkung dengan sedikit berlari.

"Margaku masih Byun, kalau saja kau amnesia, Tuan."

Tangan itu merengkuh pinggang Baekhyun, dan bibirnya menghadiahi bibir ranum itu lumatan kilat.

"Dan akan berubah menjadi Park dua minggu lagi, sayang."

"Eung.." Baekhyun sedikit menggerutu sembari meremas bagian depan kemeja Chanyeol.

"Apakah Baekhyunku sedang tersipu sekarang."

"Eung... Hentikan itu, Park Chanyeol." bibir Baekhyun semakin mengerucut.

"Baiklah, baiklah, aku paham." kata Chanyeol terkekeh.

Sang sutradara merengkuh calon suaminya itu dan menciumi puncak kepalanya. Hal yang ia idam-idamkan selama beberapa tahun ini, dan hatinya sungguh-sungguh bahagia saat ia bisa melakukannya kapanpun ia mau, sekarang. Byun Baekhyunnya. Miliknya.

"Yeola.."

"Hmm?"

"Aku lapar.."

Chanyeol terkekeh. Alih-alih melepaskan cekelannya, tapi pelukan itu terasa mengerat, bahkan hingga kaki Baekhyun tak lagi terasa berpijak. Ya, Chanyeol memutar-mutar tubuh alit itu hingga Baekhyun ikut terkekeh.

"Mohon ampun, Tuan Park." ujar Baekhyun di sela-sela tawanya.

"Jawab aku dulu, sayang." balas Chanyeol yang terus memutar tubuh kekasihnya itu dengan ringan, seolah ia hanya meniup sebilah bulu parkit.

"Heum...?"

"Kau bahagia?"

Tawa Baekhyun menguat.

"Apakah aku terlihat tidak bahagia, Yeola?"

Putaran itu terhenti, dan tiba-tiba saja kaki Baekhyun diletakannya tepat di atas kedua kakinya.

"Aku hanya takut, kebahagiaan ini, hanya sebuah fatamorgana."

"Yeola.." kening Baekhyun mengkerut. Ia tak suka dengan perkataan Chanyeol. Bagaimana bisa Chanyeol meragukan perasaannya! Chanyeol bahkan tak tahu bagaimana menderitanya ia selama beberapa tahun belakangan. Hidup terlunta bukanlah makanan baru baginya, tapi hidup tanpa cinta pria itu, tentu saja bagaikan neraka!

Baekhyun tahu, Chanyeol tak butuh bualan.

Kecupan.

Itu yang bisa Baekhyun berikan.

Bukan, bukan kecupan penuh gairah, melainkan kecupan naif, bagaikan ciuman pertama yang ia dapatkan bertahun-tahun lalu.

"Yeola, kelak, tolong jangan ragukan aku." katanya setelah melepaskan bibir ranum itu. "Neraka itu, aku tak ingin merasakannya lagi. Aku tak ingin hidup di belahan bumi manapun, apabila tak ada kau di sampingku. Aku tak ingin mengulang semua penderitaan itu. Aku ingin bahagia, dan aku sedang bahagia."

Seutas senyum menghiasi bibir Chanyeol.

"Akupun tak ingin merasakan derita itu lagi, sayang. Aku bahagia, dan aku berjanji akan terus membuatmu bahagia."

Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, sampai Baekhyun mengerang kelaparan lagi.

"Yeola.."

"Aku mengerti. Ayo makan? Bibi Lim sudah menyiapkan banyak kudapan dan susu strawberry untukmu di bawah."

Chanyeol dan Baekhyun melewati pagi mereka dengan kebahagian seperti yang mereka impikan.

.

Hello again

.

"Oh lihat siapa yang datang. Tuan Park yang berani-beraninya melangkahiku!"

Junmyeon mengupahi tunangannya dengan sikutan di perut.

"Ouch, itu sakit sayang."

"Berhenti menggoda mereka, Yifan."

Junmyeon menjadi sangat menakutkan saat Baekhyun sahabatnya diperolok oleh laki-laki bodoh itu. Dan sayangnya, laki-laki bodoh itu adalah calon suaminya.

"Sayang, kau membela Chanyeol sekarang?"

Junmyeon tak menghiraukan protes terakhir Yifan.

"Baekhyunnie, selamat bergabung di The Palace!" seru Junmyeon yang disertai oleh pelukan erat kepada sahabatnya. "Aku senang sekali akhirnya kita bekerja sama lagi, sama seperti janji kita sebelum wisuda, dulu."

"Eung." Baekhyun mengangguk di pelukan sang sahabat. "Kelak, kita akan melakukan banyak hal bersama-sama."

Kedua pria semampai di belakang mereka tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan itu. Yifan bahkan ikut menepuk bahu Junmyeon dengan pelan.

"Selamat untuk kalian berdua, Chanyeol, Baekhyun."

Chanyeol tersenyum sebelum menjawab, "Terima kasih, Fan. Kuharap kau tak keberatan untuk dilangkahi olehku."

"Chanyeol, kau tahu itu hanya candaanku semata. Kau ini teman baikku, mana boleh aku marah saat kau mendapatkan kebahagianmu?"

Junmyeon melonggarkan pelukannya dan menatap Baekhyun, juga Chanyeol bergantian, "Jadi, kapan kau akan memperkenalkan Baekhyun di muka umum, Chanyeol-ahh?"

"Sekarang." suara berat itu menjawab.

"Sekarang?!" kedua mata Baekhyun membola. "Yeola, kau bercanda kan?!"

Belum juga Chanyeol membalas, tapi seorang wanita muda melongokkan kepalanya ke dalam ruangan pribadi milik sutradara itu di kantor produksi.

"Oppa."

"Oh, kau sudah datang, Yerim-ah?" Chanyeol mengisyaratkan gadis itu untuk masuk, beserta peralatan tempur di tangannya. "Sayang, ini Yerim, dia adalah stylist pribadiku. Yerim-ah, ini Baekhyun, tunanganku."

"Hai, Baekhyun oppa! Senang berkenalan denganmu!" Yerim dengan tingkahnya yang seperti anak kecil langsung menyambar tangan Baekhyun.

Hanya Junmyeon dan Yifan yang mengerti situasi ini, dan mereka berdua hanya menghembuskan nafas tak percaya.

"Yeola, apa maksudnya ini?"

"Oppa, ayo ke ruangan sebelah! Aku yang akan menyihirmu sebelum konferensi pers itu dimulai satu setengah jam lagi!"

Yerim kemudian menyeret Baekhyun keluar, dengan tanpa perlawanan.

"Park, kau bercanda kan?" tanya Yifan sekali lagi.

Chanyeol tersenyum dengan mengendik.

"Park Chanyeol tak pernah melakukan lelucon sepertimu, Wu."

Chanyeol kemudian berlalu, mengekori jejak tunangannya.

"Fan, kau benar, Chanyeol gila." gumam Junmyeon.

Yifan mengangguk setuju.

"Yifan..!" Junmyeon menarik-narik tangan Yifan, "Bagaimana ini?!"

"Kita tak bisa melakukan apapun, sayang." Yifan mendekap Junmyeon, mengusapkan punggung itu, menenangkan cintanya. "Ayo kita ke ruangan konferensi saja. Mungkin, kita akan mendapatkan suguhan menarik siang ini."

"Yifan!"

.

Hello Again

.

Baekhyun hanya bisa terdiam di tengah ocehan Yerim. Gadis itu bahkan bisa berkicau dengan tangannya yang sibuk memoles wajah sang aktor.

"Aku senang sekali akhirnya Chanyeol oppa dapat menikah dengan laki-laki baik sepertimu, oppa. Asal kau tahu, banyak sekali iblis yang mendekatinya. Ah, jangan lupakan si ular Bae Joohyun itu. Cih, dia pikir dia siapa? Berani-beraninya menggoda Chanyeol Oppa!"

Baekhyun tak pernah tahu siapa itu Bae Joohyun, tapi itu dapat membuatnya sedikit bangga. Setidaknya, hanya ia yang berhasil menggoda Chanyeol, bahkan mendapatkan laki-laki itu sebagai mempelainya.

"Oppa, coba ceritakan pertemuan pertamamu dengan Chanyeol oppa. Pasti menarik sekali untuk didengarkan."

Angan Baekhyun kemudian terbang pada hari di musim semi itu.

Chanyeol, saat itu hanyalah mahasiswa baru di tingkat magister. Baekhyun tak sengaja menginjak tali sepatu Chanyeol yang terlepas, menyebabkan laki-laki itu terjatuh dengan konyol di depannya.

Mungkin, Chanyeol yang ceroboh seperti itu tak akan ia lihat lagi sekarang.

"Aku melakukan sesuatu yang membuatnya terjengkang di depanku." Baekhyun berkata dengan pelan.

"Chanyeol oppa terjatuh? Oppa, bagaimana bisa?!" mata Yerim terbelalak saat ia rampung memoles bibir Baekhyun.

"Dulu, Chanyeol ceroboh sekali." Baekhyun tersenyum.

"Itu tidak mungkin."

"Chanyeol seringkali lupa mengaitkan tali sepatunya. Tak hanya itu, ia juga sering meninggalkan barang-barangnya dengan sembarangan, tak terkecuali buku catatan naskahnya yang amburadul itu."

Yerim kemudian tertawa terbahak-bahak, membayangkan atasannya yang ternyata bisa semenggelikan itu.

"Puas membongkar aib suamimu, Tuan Park?"

Tawa kedua insan di depan meja rias itu terhenti. Yerim, terlebih, ia sedikit ketakutan dan segera membereskan tatanan rambut Baekhyun.

"Kita bahkan belum bertukar janji, Tuan Park." ujar Baekhyun yang bertukar pandangan dengan Chanyeol dari depan cermin.

"Ckk, anggap saja kita sudah melakukan itu, sayang. Toh, kita sudah tinggal sekamar."

"Astaga, pendengaranku yang polos! Oppa! Hentikan sebelum otakku teracuni olehmu!" protes Yerim yang menyemprotkan hairspray di sekitar rambut depan Baekhyun. "Sungguh, aku tak ingin mendengarkan detail kehidupan ranjang kalian berdua."

Muka Baekhyun memerah mendengar perkataan stylish cerewet itu.

Kehidupan ranjang ya.. Entah kapan terakhir ia melakukannya dengan Chanyeol.

Astaga! Baekhyun, hentikan pikiran kotormu itu! Masih ada konferensi pers yang harus kau hadiri siang ini!

"Lihat, Yerim, malah kau yang membuat tunanganku memerah seperti kepiting rebus."

"Ckk, jangan memfitnahku, oppa!"

Dengan beberapa sentuhan terakhir, Yerim menyelesaikan kewajibannya.

"Nah, sudah selesai!" ia kemudian menarik Baekhyun berdiri, dan menyuruh lelaki mungil itu berputar. "Oke kan, Oppa?" Yerim meminta pendapat Chanyeol.

"Great like always, Yerim-ah."

"Glad to hear that, oppa!"

.

Hello Again

.

Selanjutnya Baekhyun tak mengerti bagaimana caranya ia berakhir di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh sorot kamera, dan puluhan pewarta berita. Jantungnya berdegup kencang, seolah akan terlonjak dari dalam tubuhnya. Ia memberikan sorot memohon pada Junmyeon yang juga duduk di antara wartawan, yang tentu saja dibalas dengan gelengan oleh sahabatnya itu.

"Semangat. Kau pasti bisa." Junmyeon berkata tanpa suara.

"Semangat." Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri.

Seseorang lelaki, dengan tubuh yang tak setinggi Chanyeol maupun Yifan kemudian masuk. Baekhyun mengenalinya sebagai Choi Minho, seorang idola yang juga seorang MC berbagai acara variety di sana. Mungkin laki-laki itu sedang apes, karena hanya dialah yang kebetulan kosong di gedung ini.

Melihat dekor ruangan ini, Baekhyun yakin si bodoh Park Chanyeol itu melakukannya dengan serampangan, dan terburu-buru.

Baekhyun tak mengerti, mengapa harus secepat ini Chanyeol mengumumkannya. Tapi toh ia juga tak memprotes apapun. Semua keputusan ada di tangan Chanyeol.

"Perkenalkan, Byun Baekhyun. Dia adalah calon suamiku."

Puluhan blitz kamera mengenai mata Baekhyun, membuatnya menyipit dengan refleks.

"Tuan Park, apa betul kalian adalah mantan kekasih saat kuliah dulu?"

"Tuan Park, ada gosip kalau tunanganmu adalah aktor terbaru dari serial The Palace."

"Tuan Park, apa benar Baekhyun-ssi yang mendepak Kim Junmyeon dari sekuel The Palace?"

Chanyeol tersenyum dengan menggenggam erat tangan mungil itu.

"Aku dan Baekhyun menjalin hubungan semenjak kami berdua belajar di kampus yang sama. Saat itu aku yang egois, karena tak mengijinkannya membintangi satu judul drama atau film-pun. Aku tak rela ia dinikmati banyak orang. Tapi aku sadar, Baekhyun lulus dengan predikat cumlaude, dan akan sia-sia saja kalau ia tidak dapat berkarier di dunia hiburan seperti impiannya. Karena itu kami membuat perjanjian. Aku hanya akan mengijinkannya membintangi drama kalau aku menikahinya."

Baekhyun kembali tersipu.

"Karena itu, tolong terima kami berdua. Dan tolong jaga Baekhyun, di dunia gemerlap ini."

TBC