"—Yang, sayang?"

Hampir satu menit, Baekhyun tenggelam dalam lamunannya, hingga membuat tunangannya cemas karena ia tak kunjung menjawab sapaan.

"Oh?"

Beruntung, Baekhyun tersadar saat ia merasakan sentilan Kibum di punggung tangannya.

Ya benar, ia ingat betul kini mereka sedang berada di ruangan kerja Kim Kibum, mencoba jas pernikahannya untuk yang pertama dan yang terakhir. Jas berwarna peach yang dijahit Kibum dengan tangan, dan mengorbankan waktu istirahat juga.

"Sayang, kau melamun?" tanya Chanyeol yang sedang menggerayahi pundak Baekhyun, memastikan sang tunangan baik-baik saja.

"Euhm." Baekhyun mengangguk. Ia tak ingin membuat Chanyeol khawatir, tentu saja. "Mungkin karena aku sedikit mengantuk."

Melihat Baekhyun yang sedang buruk perasaannya, Kibum-pun ikut membantu.

"Aigoo, jujur padaku, apa yang kau lakukan pada Baekhyun semalam?!" kata Kibum dengan memukul bahu Chanyeol. "Kau harusnya bersabar sebentar, Park Chanyeol! Membuatnya terlalu lelah sama artinya kau menghancurkan persiapan pernikahanmu juga!" lanjutnya dengan suara nyaring.

"Ouch, hyung." Chanyeol mengusap bekas pukulan teman designernya itu. "Sayang, lihat, perkataanmu membuat Kibum hyung salah sangka. Kau harusnya melindungiku bukan hanya diam saja." merajuk, Chanyeol-pun bersembunyi di balik punggung Baekhyun dan memeluk pinggang si mungil.

Akhirnya, Baekhyun tertawa. Dan itu adalah tawa pertamanya semenjak hari kemarin, dimana ia bertemu dengan wanita cantik bernama Bae Joohyun yang digadang-gadang lebih setara untuk mendampingi Chanyeol.

Bohong jika Baekhyun berkata ia baik-baik saja. Junmyeon dan Kibum, yang menjadi saksi-pun tahu bagaimana perubahan Baekhyun setelah perempuan itu sengaja mendatanginya. Tapi sayangnya Baekhyun memaksa kedua temannya itu untuk menutup mulut dan tidak berkata sepatah katapun pada Chanyeol, maupun Yifan dan Jonghyun.

"Baekhyunnie, jangan tertawa terlalu lebar atau kau akan merusak jas pernikahanmu." teriak Kibum yang serta merta merapikan hasil karyanya. "Ckk, sudah sudah, tidak bercanda lagi, tidak bercanda lagi. Aku tak ingin kehilangan birkin-ku."

"Jadi kau membantuku hanya demi birkin, hyung? Padahal kupikir Baekhyun sudah berhasil mencairkan hatimu yang luar biasa bersalju itu."

"Eyh, aku memang menyayangi Baekhyun." Kibum berucap sembari memeluk pundak Baekhyun—dan menyingkirkan Chanyeol dari sana—dengan gaya angkuhnya. "Tapi bisnis adalah bisnis. Kau sendiri yang mau menukar hasil karyaku dengan dua buah birkin, jadi jangan salahkan aku kalau aku akan terus mengingatnya."

"Oke oke." Chanyeol mengacungkan kedua tangannya, menyerah. "Aku mengerti, aku mengerti. Kirimkan saja link pembeliannya pada surelku, dan kau tinggal menunggunya datang di rumahmu, hyung."

Kibum tersenyum penuh kemenangan sebelum melucuti jas pernikahan Baekhyun.

"Baekhyunnie, apa kau akan membawa pulang jasnya langsung, atau kau ingin aku mengantarkannya pada penata riasmu nanti?"

Baekhyun termenung karena ia tak tahu jawabannya. Ia-pun memandang Chanyeol, berharap laki-laki itu menjawabnya.

"Sebenarnya.." Chanyeol menahan perkatannya, setelah ia memutuskan menjawab.

Kibum merasakan sesuatu yang tidak beres, hingga ia melemparkan tatapan tajam.

"Yerim sedang ada di luar kota hari itu. Dan aku pikir, hyung juga bisa merias Baekhyun." Chanyeol melanjutkan, dengan hati yang merapalkan siraman rohani agar designer itu tidak meledakkan molotovnya. "Dan aku akan memberimu bonus sepasang Louboutin, hyung."

Kibum mendecih, "Aku tak ingin louboutin. Tapi akan sangat menyenangkan kalau kau bisa membantuku mendapatkan tiket untuk New York Fashion Week bulan depan."

"Siap!" Chanyeol pikir, tiket untuk menonton Fashion Week tidak akan semahal birkin.

"Dan tiket pesawat first class untuk pergi ke sana."

Oke, anggapannya salah. Kibum tetaplah Kibum.

"Jadi, kau akan berhadapan denganku lagi, eh, Baekhyunnie?" Kibum selesai merapikan jas pernikahan Baekhyun, memastikannya tetap rapi berdiri di luar manekin berwarna putih itu.

"Maaf aku merepotkanmu, hyung." Baekhyun mencicit.

"Eyh, kau tidak membuatku repot, Baekhyunnie." Kibum berbalik badan dan berjalan lagi ke arah Baekhyun. "Jangan menganggapku sebaik itu, karena akupun melakukannya karena Chanyeol yang membayar jasaku."

"Lebih seperti aku yang dirampok olehmu, hyung." celetuk Chanyeol.

"Diam atau aku akan membakarmu sekarang juga, Park." sahut Kibum dengan ganas. "Tapi serius, Baekhyunnie, kau tidak membuatku repot sungguh. Dan jika kau bersedia, ayo kita sedikit berbincang sembari makan siang setelah ini? Aku ingin tahu riasan apa yang kau sukai, agar aku tidak melakukan kesalahan nanti."

"Tapi.." Baekhyun memandang Chanyeol lagi. "Chanyeol, apa tidak apa-apa kalau aku pergi dengan Kibum hyung setelah ini?"

Chanyeol memeriksa jam tangannya sebelum menjawab, "Aku ada rapat produksi setengah jam lagi. Lokasinya tidak jauh, kok. Jadi kupikir, aku bisa meninggalkanmu dengan Kibum hyung, dan akan kujemput sekelar aku rapat. Bagaimana, sayang?"

"Euhm."

.

Hello Again

.

Baekhyun merasa, Kibum lebih menakutkan ketimbang Bae Joohyun sekalipun. Dan ingatkan ia untuk tidak lagi menyentil designer penuh talenta itu sedikitpun, atau ia akan berhadapan dengan induk primata yang direbut anaknya.

"Coba kau jangan berbohong lagi, dan jujur padaku. Kau pasti memikirkan perkataan rubah betina itu kan?! Ckk, padahal Junmyeon-pun sudah bilang kan, segala yang dibicarakan oleh rubah betina itu hanya cangkang telur yang tidak berisi."

Baekhyun bukannya ingin berbohong, tapi ia tak ingin membebani orang-orang disekitarnya.

"Rubah betina itu memang berambisi mendapatkan Chanyeol sedari dulu, tapi nyatanya apa? Chanyeol masih kembali ke sisimu kan?" Kibum menjedanya dengan seteguk teh raspberry. "Karena Chanyeol memang tidak memiliki rasa sedikitpun pada rubah betina itu. Apa guna kesedihan dan ketakutanmu itu kalau Chanyeol sendiri bahkan tidak peduli pada Bae Joohyun?"

"Bukan itu maksudku, hyung.." Baekhyun sengaja mengaduk-aduk sup minestronenya. "Sesungguhnya aku lebih takut dengan respon para penggemar Chanyeol. Melihat komentar pedas yang mereka lontarkan padaku kemarin, bukan tidak mungkin mereka akan berbalik menyerang Chanyeol akhirnya."

"Baekhyunnie, lihat ke arahku."

Baekhyun menurut.

"Aku sudah melalui apa yang terjadi padamu, bertahun-tahun lalu. Siapa yang tidak kenal Kim Jonghyun, satu dari lima vokalis terbaik yang dimiliki oleh Korea Selatan. Waktu kami memutuskan untuk menikah, banyak juga yang memakiku, bahkan tak jarang mereka mengirimkan hadiah-hadiah ancaman di butikku. Tapi apa aku bersedih?"

Baekhyun terus memandangi Kibum.

"Tidak sedikitpun, Baekhyunnie."

Mereka terdiam dalam beberapa saat.

"Kesedihanku-lah yang menjadi tujuan mereka. Kalau aku larut dalam kesedihan, terlebih hingga depresi dan memutuskan tali pertunanganku dengan Jjong, mereka yang akan mereka senang. Mereka bangga, telah membuat hidupku hancur. Tanpa mereka ketahui, mereka juga akan menghancurkan Jjong bila aku terpuruk. Aku tak ingin itu terjadi, tentu saja."

Beberapa patah kata itu membuat Baekhyun tersadar.

Mungkin benar kata Kibum. Bila Baekhyun menyerah, maka Bae Joohyun dan semua orang yang meninggalkan komentar hinaan padanya akan merasa menang. Dan juga, secara tidak langsung akan merusak kebahagiaan Chanyeol.

"Menurutmu, aku harus berbuat apa, hyung?"

"Kau punya Chanyeol, kan?"

Kepala itu mengangguk.

"Mau tidak mau, semuanya, harus kau ceritakan pada Chanyeol. Bagaimanapun ini menyangkut kalian. Chanyeol sebagai tunanganmu berhak tahu apa yang sudah terjadi padamu. Aku yakin ia memiliki jalan keluar sendiri."

"Apa itu akan menghancurkan kariernya?"

"Apa menurutmu karier Jjong hancur setelah menikah denganku?"

Tidak, jawabannya. Karena itu Baekhyun menggeleng.

"Benar." Kibum menegaskan sekali lagi. "Kupikir orang jaman sekarang sudah pintar untuk tidak mengaitkan seni dengan kehidupan pribadi sang publik figur. Selama Jjong masih sanggup berkarya dan mengeluarkan banyak lagu berkualitas, kariernya tidak akan hancur ataupun redup."

"Tapi sebentar lagi, Chanyeol akan menggarap drama untukku. Ada aku hyung. Dan ia memutuskan untuk menjadikanku sebagai bintang utamanya."

"Baekhyun, kau hanya gugup."

Kibum benar. Tapi Baekhyun tidak ingin mengakui.

"Percayalah, panggung hiburan tidak semenakutkan itu." Kibum meneguk teh raspberrynya lagi. "Err, sedikit sih. Tapi itu tidak terasa kalau kau bisa menahan diri untuk tidak membuka berita-berita murahan yang dibeberkan oleh situs dispatch, beserta komentar-komentar tajam yang secara tidak langsung membunuh karakter kami, para publik figur. Kau hanya perlu ingat, tugasmu adalah berkarya. Urusan netizen, biarkan saja. Toh kau tidak hidup dengan uang mereka."

"Eohng."

"Okay, berhenti membicarakan netizen dan segala komentar pedas mereka yang maha benar. Sekarang coba kau pilih, mana riasan yang menurutmu lebih bagus?" putus Kibum yang menyodorkan sebilah komputer tablet ke arah Baekhyun. "Mungkin kau merasa agak berlebihan, tapi aku hanya ingin kau tampil menjadi dirimu sendiri di hari pernikahanmu."

Kibum ingat betul bagaimana Baekhyun kecewa ketika Chanyeol tidak melibatkannya dalam urusan persiapan pernikahan.

Baekhyun sendiri menatap lekat-lekat beberapa foto yang disodorkan oleh Kibum. Ia bingung, karena selama ini ia tidak pernah sekalipun bersolek. Hanya dengan sabun muka murahan dan air, itulah yang digunakan Baekhyun untuk membuat mukanya terlihat segar setiap hari. Uangnya terlalu berharga untuk dihambur-hamburkan, sedangkan kosmetik seperti BB cream, lipbalm dan semacamnya terlalu tinggi untuk dijangkaunya.

"Err... Sebenarnya, aku tidak tahu, hyung."

"Hmm.." Kibum menarik tabletnya kembali. "Atau seperti ini, menurutmu siapa aktor atau penyanyi laki-laki yang kau sukai?"

Baekhyun tak perlu berpikir lama untuk menjawabnya, "Kau tahu Jang Geunsuk, hyung? Yang ada di drama You're Beautiful?"

Kibum mengernyit.

"Kau suka laki-laki dengan eyeliner tebal seperti dia?"

"Err... Begitulah?"

Kibum kembali bungkam, mencoba membayangkan Baekhyun dengan polesan mata tegas, dan garis yang tebal. Mungkin cukup sesuai, mengingat Baekhyun sendiri memiliki kelopak mata yang kecil.

"Tapi mungkin itu akan merusak pandangan matamu yang terlampau polos itu, Baekhyunnie."

"Jadi.. Tidak cocok ya?"

"Hm... Hm..."

Mata Baekhyun menatap lekat lawan bicaranya.

"Baiklah. Akan kucoba. Tapi mungkin tidak akan setajam milik Jang Geunsuk, oke? Aku sungguh tak ingin menghilangkan pesona matamu yang polos bagai anak sekolah dasar itu."

Kibum berjanji, sesampainya di rumah ia akan segera berlatih, mencari riasan mata yang tepat untuk Baekhyun.

.

Hello Again

.

Chanyeol masih berbicara dengan asisten sutradaranya ketika suara nyaring itu menyapa. Kemudian saja pinggulnya direngkuh, dan ia dapat merasakan pelukan dari seorang wanita kurus kerempeng. Bau parfumnya menyengat, dan Chanyeol tidak suka itu.

"Chanyeol, aku merindukanmu."

Tak perlu waktu lama untuk Chanyeol mengusir asistennya secara harus, dengan gestur tertentu agar asistennya itu tidak menyebarkan gosip yang tidak tidak.

"Kali ini apa maumu, Joohyun?"

"Chanyeol." rengeknya dengan suara imut yang dibuat-buat. "Tidakkah kau senang berjumpa denganku? Kita sudah hampir dua minggu tidak bertemu." Ia kemudian melepaskan pelukannya, berganti dengan cengkeraman pada bagian depan kemeja Chanyeol. "Chanyeol, maafkan aku, aku pergi ke Roma tanpa memberitahumu dulu. Managerku lah yang harusnya dipersalahkan. Ia tidak mengingatkanku akan pemotretan majalah itu."

Ocehan itu membuat Chanyeol semakin mual. Andai saja yang seperti itu Baekhyunnya, bukan si keparat Joohyun ini.

"Joohyun." Chanyeol mendorong tubuh kerempeng itu, hingga genggamannya terlepas. "Aku sudah memiliki tunangan. Tolong pikirkan perbuatanmu itu. Aku tak ingin dianggap sebagai pria pendusta yang berdiri di dua perahu sekaligus."

Tunangan.

Kata tersebut cukup untuk membuat amarah Joohyun meletup.

"Katakan itu hanya leluconmu saja, sayang. Aku tahu kau tidak akan menghianatiku."

"Joohyun, cukup dengan semua delusimu itu, oke?"

"Chanyeol! Kau milikku!"

"Aku milik Baekhyunnie semenjak bertahun-tahun lalu, Joohyun. Bahkan jauh sebelum kita saling mengenal."

Tangan itu mengepal, berusaha untuk tidak menghembuskan apinya di depan pria mapan ini.

"Chanyeol, kau hanya dipengaruhi tipu dayanya. Lelaki homo itu, dia berusaha membuatmu bertekuk lutut, hingga kau lupa akan jati dirimu sendiri."

"Joohyun!" suara Chanyeol mengeras.

"Chanyeol, kau masih menyukai payudaraku kan? Kau juga masih menyukai vaginaku! Tolong ingat hal itu, Chanyeol-ah. Jangan terbuai dengan rayuan si homoseksual itu!" Joohyun membuka satu persatu kancing kemejanya, memperlihatkan kulitnya yang bagaikan susu. "Aku akan mengingatkannya padamu, Chanyeol-ah."

"Joohyun." Chanyeol melepaskan jasnya, melemparnya kepada wanita itu agar seluruh tubuhnya tertutup sempurna. "Berhenti menjadi murahan, Bae Joohyun. Apa yang kau harapkan dari laki-laki homo seperti Park Chanyeol ini? Kau telanjang-pun, aku tak akan tertarik. Tolong buang segala imajinasimu itu, dan carilah pria baik-baik. Aku yakin, dengan kecantikanmu itu, kau sanggup menjerat laki-laki yang lebih dibandingkan aku." ucap Chanyeol sembari berjalan menuju pintu keluar, tak ingin menghadapi Bae Joohyun lagi dan membuat kepalanya semakin sakit.

"Aku bertemu dengan tunanganmu kemarin."

Langkah besar itu terhenti.

"Kau tahu sendiri apa balasannya bila seseorang menggangguku, Chanyeol-ah."

Chanyeol kembali berbalik, menatap Joohyun dengan sorot benci.

"Aku tahu. Tapi maaf, kau yang tak tahu lawan mainmu, Joohyun."

Dengan itu, Chanyeol berlalu. Hanya menyisakan isak tangis dari Bae Joohyun yang terdengar memilukan.

TBC

Hai semuanya!

Maaf baru menyapa kalian ya?

Ah iya, mungkin karena aku terlalu lama vakum, jadi kalian melupakanku ya? Atau bahkan melupakan fanfic ini juga?

Untuk pertama-tama, aku ingin berterima kasih pada kimkimkim, , Lywoo dan Juni654 yang masih setia dan mereview fanfic jelek ini ehehehe. Sesungguhnya review kalianlah yang membuat aku semangat menulis.

Dan yang kedua, aku baru saja mempublish fanfic baru berjudul Become Undone. Semoga kalian juga berkenan ya membacanya?

Aku berencana memposting Become Undone bergantian di setiap harinya. Di tanggal ganjil, waktunya Hello Again, dan di tanggal genap, waktunya Become Undone. Tapi melihat respon kalian yang kurang baik, apa aku sebaiknya mengganti jadwal postingannya? Beri aku masukan ya, reader-ssi?

Terakhir, terima kasih atas likes dan follows yang masuk di cerita ini, maupun Become Undone. Dan semoga suatu saat kelak, kalian juga bisa bersuara untuk mengkritikku.

Dari seseorang yang butuh semangat,

Shewindy.