SECRETLY ROMANCE
.
.
.
Cast :
D.O Kyungsoo EXO
Wendy Red Velvet
( WenSoo Couple )
EXO x Red Velvet
Summary :
Kyungsoo & Wendy yang berusaha untuk menutupi hubungan mereka dari publik. Akankah karir dan kehidupan asmara mereka dapat berjalan beriringan ? Atau kah harus ada salah satu dari itu yang harus mengalah ?
"katakanlah aku terlalu pengecut" ucap D.O kepada Wendy.
.
.
.
DO : wendy ? kau menangis ?
Wendy : (terdengar isakan yang semakin kuat)
DO : Wendy aku mohon cerita pada ku, kau kenapa ? … ayolah wendy jangan mendiami ku seperti ini, kau kenapa ?
Tuut.. tuut.. tuut
sambungan terlfon terputus.
Aku panik, aku tidak bisa diam saja, wendy tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia menangis tanpa menceritakan apa penyebabnya. Ada apa dengannya ?
Langsung ku ambil jaket dan kunci mobil, segera ku keluar dorm dan menuju parkiran. Tujuan utama ku adalah ke dorm Red Velvet, pasti Wendy ada disana.
Aku menekan bel pintu, aku tau nomor apartment Red Velvet dari info yang pernah Wendy berikan sebelumnya, tapi aku tidak cukup nyali untuk berkunjung mengingat paparazzi di korea sudah semakin gila dalam hal menguntit. Malam ini adalah pengecualian, aku harus segera bertemu dengan Wendy.
"kyungsoo-ssi" Irene onna membuka pintu dan terkejut melihat ku
"apa wendy ada ?" ucapku sambil melihat-lihat kedalam, dan benar
Pandangan ku bertemu dengan sosok wanita yang sedang duduk dimeja makan sambil memegang segelas cangkir diatas meja. Wanita dengan rambut yang digulung berantakan keatas, lalu surai rambutnya yang menjuntai lembut disekitar pipinya. Hai wendy, aku merindukan mu.
"masuklah" izin Irene nonna, ia melihat-melihat keujung lorong, sebagai leader group aku tau dia takut kalau-kalau ada yang mengikuti ku dibelakang. Maafkan aku sudah merepotkan.
Aku masuk kedalam ruangan secara perlahan, pandangan kami masih saling menatap. Aku mencoba membaca situasi dan aku sangat yakin ruam merah dibawah mata dan hidungnya yang mungil adalah tanda bahwa ia habis menangis. Tangisan yang aku dengar ditelfon.
"Oh, annyeonghaseo" Yeri ada diruang TV di sisi kiri ku, ekspresinya tidak kalah terkejut dengan Irine nonna, sekali lagi maafkan aku.
"Joy sedang ada jadwal shooting, Seulgi sedang berlatih. Yeri-ah, ayo kita cari makan diluar. Dan kalian.. gunakan waktu ini sebaik mungkin" ucap Irene sambil tersenyum dan mengambil mantel, disusul oleh Yeri menuju pintu keluar.
Aku duduk didepan Wendy yang sekarang sedang menunduk, aku kikuk. Bagaimana ini ?
"wendy-ya.." aku memulai pembicaraan dengan sangat hati-hati
"kenapa oppa kesini ?" terlihat jelas ia menahan tangis
Untuk sepersekian detik, mulut ku keluh. Ini pertama kalinya aku melihat Wendy menangis sedih seperti ini secara langsung. Bahkan ini pertama kalinya kami berduaan. Tapi mengapa dalam keadaan yang seperti ini.
"kau menangis di telfon tanpa ku tau alasannya dan menutup telfon secara mendadak. Dengan pemberitaan tentang mu belakangan ini, apa kau fikir aku bisa tenang-tenang saja ?" atur intonasi bicara mu Kyungsoo, aku sangat khawatir sehingga kesal dengan sikap Wendy yang seperti ini
"Ada apa dengan mu ? tidak biasanya kau seperti ini"
Tangis wendy pecah, ia menangis sampai bahunya tidak bisa diam. Ia hapus air matanya dengan punggung tangannya sendiri. Ah, aku harus apa ? aku belum pernah ada disituasi seperti ini sebelumnya.
"ini menyebalkan" wendy mulai membuka suara
"kenapa kau begitu dekat dengan So Hyun"
Tunggu… So Hyun ? Jadi ini ada kaitannya dengan So Hyun ?
alis ku mengkerut, aku menunggu kalimat selanjutnya dari Wendy, aku masih bingung kemana arah pembicaraan ini.
"kenapa mereka sangat senang memasangkan mu dengan nya, mereka tidak tau jika kau adalah pacar ku"
Oh tidak, tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku menghampirinya, berlutut didepannya sambil mengarahkan badannya agar bisa berhadapan dengan ku. Ku usap pipinya secara halus, ku coba untuk menenangkan agar ia lebih lancar berbicara.
"ini konyol, aku tidak suka melihat mu dengan nya. Kamu milik ku, hanya milik ku"
Astaga, ada apa dengan pacar ku ini. Sontak ku peluk Wendy dengan erat, ku usap sayang rambutnya. Tangis wendy semakin terasa menyedihkan untuk ku.
"aku tidak suka melihat komentar-komentar di internet yang menyebut mu dengan So Hyun adalah pasangan yang serasi di dunia nyata. Mereka tidak tau jika kau adalah pacar ku. Mereka ingin kalian berpacaran, padahal kau hanya punya ku. Mereka tidak tau itu hiks..hiks"
Ucapnya sambil sesegukan didalam pelukan ku.
Sebentar.. Jadi semua ini karna dia cemburu ? cumburu akan lawan main ku ?
Tuhan ! aku panik dibuatnya. Ku lepaskan pelukan ku perlahan dan ku tatap matanya secara intens.
"jadi ini yang mengganggu fikirkan mu selama ini ?" Wendy mengangguk
"jadi ini yang membuat sikap mu berubah kepada ku akhir-akhir ini ?" masih dijawab dengan anggukan
"astaga wendy. Aku sangat mengkhawatirkan mu, sangat mengkhawatirkan mu" ku dekap tubuhnya lagi
"aku ingin melihat mu setiap hari, aku ingin menggenggam tangan mu, aku ingin seperti orang berpacaran pada umumnya. Tapi aku sadar itu tak akan bisa. Aku bertahan karna aku benar menyayangi mu oppa. Aku menepis pemikiran ku dan memenuhinya dengan rasa syukur. Tapi melihat pemberitaan ini, hati ku sakit. Mereka tidak tau perjuangan ku, perjuangan kita" Wendy berbicara masih didalam pelukan ku
"aku hanya ingin dengan mu, selalu. Hiks hiks" pelukannya semakin erat
Ku usap air matanya perlahan, aku berusaha untuk menatapnya walau ia masih tertunduk. Ku tangkup kedua pipinya.
"Hanya kau perempuan ku. Hanya kau yang ada di fikiran ku bahkan pada saat aku sedang beracting dengan wanita lain. Percayalah"
Kami saling menatap. Ini kali pertama wajah kami begitu dekat, bahkan aku bisa merasakan deru nafasnya. Posisi ini bertahan sampai beberapa detik, ku dekatkan bibir ku ke arahnya, tapi..
"kau sudah makan wendy ?" ucap ku sambil berdiri dengan tegap. Bodohnya kau kyungsoo, semoga Wendy tidak mendengar detak jantung ku yang begitu kencang. Aku salah tingkah.
"Sepertinya hari ini aku hanya memakan roti gandum, itu pun tadi pagi"
"baiklah, akan aku buatkan makanan dan kau harus memakannya. Oke ?"
Aku berjalan kearah kompor dan memeriksa laci diatasnya, memastikan ada bahan apa saja yang bisa ku sulap menjadi makanan yang nikmat untuk disantap.
"kau punya sayuran.." aku membalikan badan dan berpapasan dengan wendy yang kini tepat berdiri dihadapa ku.
Rupanya ia mengecek makanan didalam kulkas dan ingin memberikannya kepada ku. Kebetulan sekali kulkasnya berada di sebrang kompor. Dan kebetulan juga dapur ini sempit dah hanya muat untuk dua orang saja. Jadilah posisi kami seperti ini. Berhadapan dan... dekat.
"aku.. ini, hanya ini yang ada di kulkas kami oppa" ia menyodorkan beberapa jenis sayuran kepada ku. Tangan kami bersentuhan. Astaga, jantung ini kembali berisik.
Ku tatap matanya (lagi), ku sentuh tangannya secara utuh, ku dekatkan tubuh ku perlahan, semakin dekat, dekat dan ...
.
.
.
-To be Continue
