Memendam rasa itu memang menyusahkan. Apalagi jika orang itu adalah sahabat baik kakakmu sendiri. Seperti yang dirasakan Tetsuya selama ini. Dia selama ini menyukai Akashi Seijuurou yang tak lain adalah teman Kakaknya saat berada di SMA Rakuzan . Tetsuya sudah mengaguminya sejak pertama kali kakaknya membawanya ke rumah dan berlanjut hingga mereka kuliah bahkan sampai sekarang saat masing-masing dari mereka bekerja di perusahaan hingga Akashi sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Tetsuya. Semakin menyedihkan karena Akashi hanya menganggapnya seperti adiknya sendiri .

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

Warning :

Yaoi

AU

Typo

.

.

.

Hari ini pun sama seperti sebelumnya Akashi datang kerumah Tetsuya yang sudah dianggap rumahnya sendiri.

"Selamat malam, Tetsuya."

"Sudah ku bilang jangan mengacak-acak rambutku Sei-nii."

Ucap Tetsuya cemberut karena rambutnya di acak-acak Akashi. Dia tidak suka jika ada orang mengacak rambutnya, namun Akashi tidak peduli dan tetap sering melakukannya . Alasannya karena Tetsuya sangat menggemaskan .

"Selamat malam bibi."

"Selamat malam, Sei-kun. Hari ini pulang cepat ya."

Ibu Tetsuya menyambut dengan hangat. Seperti menyambut Chihiro saat pulang kerja. Bagi orang tua Tetsuya , Akashi tak ada bedanya dengan anak kedua mereka.

"Iya, hari ini tidak ada rapat jadi aku langsung pulang."

"Kalau begitu langsung saja ke ruang makan."

"Baiklah, bibi masak apa hari ini.?"

"Masak sup tofu kesukaan Sei-kun."

Akashi memang sering berkunjung kerumah Tetsuya alasannya karena dia ingin makan masakan buatan ibu Tetsuya . Wajar saja karena ibu Akashi sudah lama meninggal sedangkan ayahnya menetap di Kyoto.

"Wah, aku senang sekali ."

"Sebenarnya yang anak Kaa-san itu siapa ? Kenapa memasak makanan ke sukaan Sei-nii ?"

Gerutu Tetsuya pada ibunya.

Akashi memeluk ibu Tetsuya. "Memang kenapa ? Aku kan memang anak kesayangannya ."

"Tidak boleh, kalau ada Sei-nii kasih Sayang Kaa-san jadi berkurang. " Balas Tetsuya yang juga ikut memeluk ibunya.

Sementara itu si ibu hanya menggelengkan kepalanya. Melihat pertengkaran mereka berdua yang kekanakan . Yah berapapun usiamu ketika bersama ibu kita akan kembali seperti menjadi anak kecil.

"Kalian suka sekali bertengkar, Tet-chan tolong bantu Kaa-san siapkan mangkuk."

"Sei-kun duduk lah dengan tenang."

"Baik."

"Chi-chan, besok pulang kan ?"

"Kalau pekerjaannya sudah selesai nii-san bilang akan pulang besok, tapi jika belum selesai dia akan menelpon lagi."

Ucap Tetsuya sambil menata mangkuk dan sendok di atas meja.

"Oh begitu."

Makan malam hari ini hanya ada mereka bertiga . Ayah Tetsuya sedang bertugas di luar negeri sedangkan Chihiro juga ada pekerjaan di Fukuoka.

"Tetsuya, apa kau sudah punya pacar ?"

Tanya Akashi saat mereka sudah selesai makan malam.

"Memang kenapa kalau punya pacar ?"

"Kau harus mengenalkannya padaku dan Chihiro dulu , biar kami tahu apakah di orang yang layak untukmu atau tidak."

"Yang ada dia akan lari duluan karena takut dengan kalian ."

Tetsuya merasakan kedua pipinya di cubit dengan gemas.

"Sakit Sei-nii."

Ujar Tetsuya sambil memegangi kedua pipinya.

"Asal kau tahu, kau itu adalah adik kesayangan kami, jadi tidak boleh sembarang pria mendekatimu."

"Tetap saja nanti aku akan tetap menjadi single , Sei-nii aku sudah lulus kuliah , aku bahkan sudah mengajar di TK. Kalian bisa seenaknya ganti pacar sedangkan aku ? Dekat orang lain saja tidak boleh. Pokoknya aku tidak akan bilang apapun pada kalian. "

Ucap Tetsuya yang kesal dengan sikap overprotektif kedua kakaknya . Sebenarnya Tetsuya tidak punya pacar. Bagaimana mau punya pacar kalau selama ini hatinya telah tertambat pada Akashi .

"Sei-nii sendiri sekarang siapa pacarnya ?"

Tanya Tetsuya mengalihkan Pembicaraan.

"Tidak ada."

"Benarkah ?"

Wajah Tetsuya terlihat antusias.

"Dasar, senang sekali tahu aku sendirian."

'Tentu saja, berarti aku masih punya kesempatan.'

Batin Tetsuya dalam hatinya. Walaupun kemungkinan itu kecil tapi takdir manusia siapa yang tahu ?.

"Sei-nii, apa menurutmu aku masih anak -anak. ?"

"Tentu saja, selamanya kau adalag adik kecil kesayanganku"

Tetsuya menghela nafas lelah. "Tapi aku sudah 23 tahun Sei-nii, sudah pantas untuk menjalani hubungan serius."

"Kau bicara seperti itu seperti sudah punya calon saja."

"Ya kalau sudah ada kenapa tidak ?"

Akashi seketika tersedak tehnya.

"Jadi kau sudah punya kekasih ? Seperti apa dia ? Bawa dia ke sini secepatnya." Ucap Akashi bertubi-tubi.

"Dia orang yang baik , dia pintar , tampan dan sangat menyayangiku ."

Wajah Akashi berubah serius dan menatap Tetsuya intens. Lalu memegang kedua bahu Tetsuya.

"Dengar Tetsuya, Kau harus segera memperkenalkan dia kepada kami dahulu ."

Dalam diamnya Tetsuya tatapannya menerawang jauh.

'Dia itu kau Sei-nii, kapan kau menyadari perasaanku ? Sampai kapan kau terus menganggap ku anak kecil dan melihatku sebagai Tetsuya yang sudah dewasa ?'

Batin Tetsuya miris.

.

.

TK Kiseki mendadak heboh. Para guru dan karyawan sekolah membicarakan seorang calon donatur yang katanya seorang artis terkenal .

Tetsuya pun juga tak mau ikut ketinggalan mencari informasi, tak dipungkiri dia juga pensaran dengan orang dermawan yang mau repot datang ke sekolah tempatnya mengajar siapa tahu bisa menarik perhatiannya dan melupakan Sei-nii yang tak kunjung membalas cintanya.

Betapa Terkejutnya Tetsuya ketika melihat orang itu di aula.

Orang itu bukanlah orang asing untuknya. Kise Ryouta adalah temannya saat masih di SMP Teiko. Memang sejak dulu dia sudah berkarir menjadi model, walaupun begitu dia tidak sungkan untuk bergabung dengan tim basket, bakatnya pun juga tidak bisa dianggap remeh.

Yang Tetsuya ingat , begitu lulus SMA Kise pindah ke Luar Negeri untuk merintis karir sebagai artis Internasional .

"Aku Kise Ryouta, salam kenal ."

Ucap Kise dengan sopan. Tak usah mengenalkan diripun semua orang sudah tahu siapa dia .

"Mulai sekarang Kise-san adalah donatur di Sekolah kita."

Ucap Kiyoshi sang kepala sekolah .

"Terima kasih Kise-san, kau baik sekali ." Giliran Satsuki yang menyampaikamenyampaikannyan rasa terima kasih.

"Ini bukan apa-apa, aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berguna ,lagi pula aku suka pada anak kecil."

Teriakan histeris menggema semakin kencang di ruang rapat. Manakala mereka tahu Kise bukan hanya tampan dan baik hati tapi juga penyayang anak-anak. Benar-benar pasangan impian. Kalau boleh jujur Tetsuya juga menaruh rasa kagum pada Kise. Tak hanya berbakat tapi bukan orang sombong seperti orang kaya pada umumnya. Sudah Kaya, tampan dan baik hati. Sungguh kandidat yang sangat layak untuk move on sebenarnya. Tapi Tetsuya ragu apakah Kise masih mengingatnya karena mereka sudah lama tidak saling komunikasi.

"Tapi boleh aku minta tolong jangan sebarkan informasi apapun tentang keberadaanku di sini.?"

"Tentu saja Kise-san kami akan menjaga privasi anda tetap aman ."

.

Tetsuya berjalan keluar dari ruang aula. Pertemuan para guru dan perwakilan dari keluarga Kise telah selesai beberapa saat lalu .

"Kurokochi. "

Tetsuya tak menyangka artis terkenal seperti Kise akan menyapanya. Dia pikir Kise tidak menyadari keberadaannya.

"Kau , benar-benar Kise-kun ?"

"Ah, Kurokochi jahat sekali melupakanku ssu."

Tetsuya segera mengibaskan tangannya .

"Bukan itu maksudku, aku hanya sedikit terkejut karena sudah lama tidak bertemu denganmu."

"Oh, begitu rupanya . Kau sudah lama mengajar di sini ?"

Mereka berdua berjalan bersisian melewat koridor.

"Baru satu tahun ini, setelah lulus kuliah aku langsung bekerja di sini. "

"Kau pasti senang cita-citamu tercapai."

"Iya, kau benar Kise-kun."

Tetsuya menjawab dengan senyuman yang tulus . Membayangkan cita-citanya yang tercapai .

Sejak Kise menjadi donatur di Sekolah Tetsuya, mereka berdua menjadi akrab. Beberapa kali Kise mengajak Tetsuya makan siang. Meskipun harus meluangkan waktu diantara jadwal keartisan yang padat dan harus menyamar agar tidak diikuti penggemar. Bahkan jika tidak sibuk Kise mengantar Tetsuya pulang kerumahnya. Keberadaan Kise sukses mengalihkan perhatian Tetsuya menjadi tidak kesepian karena sudah dua Minggu Akashi melakukan perjalanan bisnis ke Eropa.

Jika begini jalannya untuk melupakan Akashi akan terbuka lebar . Tetsuya paham jika berpacaran dengan artis memiliki banyak resiko tapi tidak ada salahnya mencoba lagipula mereka adalah teman sejak SMP sedikit banyak Tetsuya lebih kenal Kise dari siapapun.

Tapi apakah Tetsuya sudah menyukai pria berambut kuning itu dan melupakan perasaannya pada Akashi ? Sayangnya tidak. Ternyata hatinya masih setia mendambakan pria itu.

"Apa yang kau lakukan di luar Tetsuya ?"

Baru saja Tetsuya memikirkannya, sekarang sosoknya sudah ada di depan Tetsuya.

"Sei-nii sudah pulang ?"

"Hm, ini untukmu."

Akashi memberikan bungkusan kepada Tetsuya .

"Terimakasih Sei-nii."

Mata Tetsuya berbinar melihat isi bungkusan yang ternyata makanan serba Vanilla yang Akashi bawa langsung dari Swiss.

"Apa tadi kau di antar seseorang ?" Tanya Akashi yang penasaran karena tadi melihat ada mobil asing berpapasan dengannya dirumah Tetsuya .

"Iya."

"Apa dia pacarmu ?!"

"Itu Rahasia."

Tetsuya berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Diikuti Akashi yang sibuk bertanya tentang pria yang mengantar Tetsuya.

"Bibi, apa Tetsuya punya pacar ?"

Karena tak mendapat jawaban Akashi memilih bertanya langsung pada ibu Tetsuya.

Wanita itu hanya memberikan senyum penuh arti sambil melirik putra bungsunya . "Bibi juga tidak tahu, Tet-chan tidak mau bilang, padahal sudah sering diantar pulang ."

"Dia baru mengantarku tiga kali, Kaa-san berlebihan ."

"Apa ? Tiga kali ?!"

"Jadi selama aku tidak ada kau berkencan pria lain ? "

Ucapan Akashi seperti seorang kekasih yang di selingkuhi .

"Memang Sei-nii siapa seenaknya mengaturku ?

"Aku ini juga kakakmu Tetsuya, kau adalah tanggung jawabku dan Chihiro."

"Dia orang yang baik kok, Sei-kun, dia ramah dan juga Tampan seperti artis." Ucap ibu Tetsuya heboh , Tetsuya menahan senyuman , Sepertinya ibunya tidak menyadari siapa itu Kise.

"Pokoknya kau memperkenalkannya pada ku aku ingin tahu apakah dia layak untukmu atau tidak."

"Sei-nii berisik."

Tetsuya bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.

"Hey, Tetsuya kita belum selesai bicara. !"

.

.

Pada akhir pekan Tetsuya sudah punya janji dengan Kise. Mereka bertemu di TK karena hanya di sanalah Kise bisa aman dari para penggemar .

"Kau sudah lama menunggu ?"

Tanya Tetsuya pada Kise yang telah menunggunya. Terlihat tampan dengan setelan casual dengan kacamata hitam menyembunyikan netra sewarna madunya.

"Tidak juga , aku baru sampai."

"Terimakasih kau mau menemaniku Kurokochi."

"Tidak masalah. Apa kau tidak punya acara dengan orang tuamu ?"

Kise hanya menggeleng. "Mereka sedang di luar negri."

Tetsuya menatap Kasihan teman rambut kuningnya.

Selain menjadi selebriti keluarga Kise juga adalah orang yang terpandang di Negerinya . Mereka pasti memiliki kesibukan masing-masing sehingga jarang memiliki waktu untuk berkumpul. Bahkan untuk merayakan ulang tahun sekalipun .

"Kise-kun ayo ikut aku." Ujar Tetsuya sambil menarik tangan Kise.

"Kita mau ke mana ?"

"Pokoknya kau ikut saja. Kali ini biar aku yang mentraktirmu."

"Eh, Kurokochi ..??"

Tetsuya mengajak Kise ke taman hiburan setelah sebelumnya mendandaninya dengan wig berwarna hitam dan kacamata bening tak berlensa. Baju mahal Kise pun di ganti dengan baju biasa milik Kiyoshi yang sengaja dia tinggal di TK . Benar-benar tidak tersisa jejak keartisan dalam diri pria itu.

Seharian itu mereka lewati dengan mencoba seluruh wahana yang ada. Mulai dari menaiki Roller Coaster, Memasuki Rumah hantu, bahkan melakukan hal kekanakan dengan menaiki Komidi Putar. Mereka benar-benar bersenang-senang dan Kise Ryota bisa seutuhnya menjadi orang biasa tanpa khawatir akan ada fans yang mengejarnya.

Pada malam hari Kise mengajaknya makan malam di restoran mewah. Pakaiannya pun telah berganti menjadi setelan formal nan elegan. Tetsuya memesankan kue lemon untuk Kise . Dia merasa ulang tahun tidaklah lengkap tanpa acara meniup lilin.

"Kise-kun sekarang ayo tiup lilin."

Setelah mengucapkan doa Kise langsung meniup lilin dengan khidmat.

"Kurokochi, terimakasih banyak."

Perkataan Kise diucapkan tulus dari hati bahkan Tetsuya bisa melihat mata itu berkaca-kaca membuat hatinya terenyuh.

"Ini bukan sesuatu yang spesial Kise-kun."

"Tidak, ini adalah hadiah terindah yang pernah aku terima."

"Kau terlalu berlebihan Kise-kun."

"Aku serius. Orang tuaku dan kakakku biasanya hanya memberikan hadiah begitu saja. Kemudian mereka sibuk dengan pekerjaan mereka."

"Kau tidak perlu bersedih , sekarang ada aku yang menemanimu. Jangan lupakan fansmu yang selalu mencintaimu. Kau tidak sendirian. "

"Ya, kau benar, sekali lagi Terima Kasih ."

Tetsuya Tertegun. Kise memang biasanya selalu tersenyum. Tapi senyum itu hanyalah senyum tanda profesionalitas. Baru kali ini Tetsuya melihatnya tersenyum tulus dari hati. Dan itu membuatnya jauh lebih tampan .

"Tetsuya." Di saat suasana mendekati romantis seperti ini kenapa suara Sei-nii yang terngiang di kepalanya. Sebegitu kah ia mencintai pria berambut merah itu sehingga dia sampai berhalusinasi tentang Akashi ?.

"Hey, Tetsuya."

Tetsuya langsung tersentak saat panggilan kedua itu terasa sangat nyata. Begitu dia menoleh Ternyata Akashi sudah berdiri di sebelahnya.

"Sei-nii ? Sedang apa di sini ?"

"Justru aku yang bertanya padamu sedang apa kau di sini, dan ini sudah malam."

"Aku sedang bersama temanku , kenalkan dia Kise-kun."

"Kise-kun ini -

"Akashi Seijuurou ."

Belum sempat Tetsuya menyebutkan namanya Akashi sudah lebih dulu menjawab . Menatap Kise dengan Tajam .

"Kise Ryota." Balas Kise dengan tenang.

"Kurokochi dia siapa ?"

"Dia teman kakakku, tapi kami sudah menganggapnya bagian dari keluarga."

"Tetsuya aku akan menunggumu. Kita pulang bersama. "

"Tidak perlu Sei-nii, aku akan pulang bersama Kise-kun."

"Itu benar, aku akan mengantarnya pulang nanti."

"Tidak perlu, Tetsuya adalah tanggung jawabku."

Kemudian Akashi menatap Tetsuya .

"Dan kau Tetsuya , aku akan menelpon ibumu setelah ini. Aku tunggu di mobil."

Setelahnya dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Tetsuya dan Kise.

"Tunggu, Sei-nii !"

Tetsuya tentu kesal pada Akashi yang lagi-lagi bersikap seenaknya tapi percuma Akashi tidak mau mendengarkannya.

"Maaf ya Kise-kun."

Ucap Tetsuya penuh penyesalan pada Kise.

.

.

Tetsuya ingin sekali menyumpal telinganya karena mendengar ceramah Akashi yang begitu banyak jika ditulis mungkin sudah setebal buku skripsi.

Sepanjang perjalanan Akashi hanya menyampaikan pendapatnya tentang Kise dan juga nasehat agar dia berhati-hati terlahadap orang yang mendekati. Bahkan ceramah ibunya saja tidak sampai sebanyak ini.

"Sebenarnya Sei-nii kakakku atau ayahku ? "

"Ini demi kebaikanmu."

"Kebaikan apanya ? Aku hanya pergi merayakan ulang tahun Kise-kun."

"Kau pergi kencan dengan pria malam-malam di hotel tentu saja sangat menghawatirkan ."

"Astaga Sei-nii ! Kami hanya makan malam di Restoran yang ada di dalam hotel. Dan lagipula itu hotel milik keluargamu."

Teriak Tetsuya Frustasi mendengar tuduhan Akashi seperti seolah dia akan melakukan hal yang negatif dengan Kise.

"Justru aku bersyukur kalian makan malam di Restoran milikku, membuatku bisa langsung mengamankanmu dari pria yang tidak jelas seperti dia."

"Dia itu jelas Sei-nii , dia Kise Ryota-kun artis terkenal semua orang tahu siapa dia dan keluarganya."

"Hoo, jadi karena dia artis kau mau pergi bersamanya. Kau tidak tahu saja artis itu sering gonta-ganti pasangan."

"Sei-nii, aku sudah mengenal Kise-kun jauh sebelum dia menjadi seperti sekarang ini, dan aku yakin Kise-kun adalah orang yang baik."

"Sepertinya dia sudah begitu mempengaruhimu Tetsuya."

Tetsuya menghela nafas panjang. "Apa salahnya mencoba saling mengenal ? Lagipula aku tidak mungkin selamanya sendirian. Sudah waktunya aku harus mencari pasangan yang serius."

"Sebegitu inginnya kah kau pada pernikahan ? "

"Tidak juga, tapi jika sudah ada yang cocok kenapa tidak ada salahnya kan ? Dan aku merasa Kise-kun adalah orang yang baik untukku. Aku tidak mau mengambil resiko jika telat menikah. Atau Sei-nii mau menawarkan diri menjadi Suamiku ? " Tanya Tetsuya dengan nada guyon . Sebagai pelampiasan rasa frustasi karena orang yang di harapkan nya tidak pernah peka.

"Kalau itu maumu aku tidak akan menolak."

Seru Akashi tanpa menoleh. Ekspresinya datar sedatar jalan tol.

Dasar sadis. Dia mengucapkan hal sakral menurut Tetsuya seperti mengatakan hal sepele.

"Sei-nii ?"

"Hm ?"

"Tidak . Lupakan. "

Tetsuya memilih fokus memperhatikan jalan yang dihiasi kerlap-kerlip lampu. Dia masih memikirkan perkataan Akashi tadi, tapi sepertinya Akashi hanya bercanda tidak serius mengatakannya. Terbukti dengan Akashi yang masih sibuk memperhatikan jalan. Membuat hatinya semakin berantakan saja.

Sepanjang perjalanan hanya diliputi keheningan. Bahkan sampai dirumahpun Akashi hanya diam.

Tetsuya berfikir apa yang baru saja dia lakukan sehingga membuat Akashi marah padanya ? Tapi dia tak menemukan jawaban.

Akashipun langsung masuk kedalam rumah menemui Kedua orang tua Tetsuya dan Chihiro yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Tetsuyapun mengikuti dengan bibir yang sedikit dikerucutkan . Seharusnya dia yang marah tapi kenapa seperti Akashi yang marah ? Diapun memilih ikut duduk di sofa dan melihat tv.

"Paman, bibi, Chihiro, aku ingin minta ijin."

Keluarga itu di kejutkan dengan sikap Akashi yang tiba -tiba berlutut di hadapan mereka dan mengatakan ingin meminta ijin ? Memang ijin apa yang dia harapkan ? Tetsuyapun juga ikut terkejut melihatnya .

"Kenapa tiba-tiba datang dengan wajah tegang seperti itu ? Memangnya kau minta izin untuk apa ? "

Tanya nyonya Kuroko dengan lembut.

"Ada apa denganmu Akashi ? " Tanya Chihiro .

"Aku mohon izinkan aku melamar Tetsuya untuk menjadi istriku."

Semua orang tentu terkejut dengan perkataan Akashi yang tiba -tiba. Sementara Tetsuya yang mendengarnya membelalakkan matanya sangat lebat. Bisa-bisa kedua bola mata itu terlepas dari tempatnya.

"Apa kau Serius, Seijuurou ?"

Kali ini kepala keluarga Kuroko yang bertanya . Tampak lebih tenang.

"Aku serius Paman. Aku ingin menikahi Tetsuya. Bila perlu secepatnya ."

Chihiro tersenyum miring. "Akhirnya kau berani mengatakannya , aku kira kau akan diam saja melihat Tetsuya menikah dengan orang lain ."

"Jika itu Sei-kun , ibu sih setuju saja. Bagaimana denganmu Anata ?"

"Aku sudah mengenalmu sejak kecil, aku rasa aku tidak perlu khawatir mempercayakan anak bungsuku padamu." Ayah kuroko menjawab dengan bijak.

"Aku tidak pernah percaya pada semua laki-laki brengsek yang mendekati Tetsuya. Tapi lebih baik dengan Akashi daripada orang lain. Tapi sekali saja kau menyakitinya akulah orang pertama yang membunuhmu ." Ucap Chihiro yang menatap tajam Akashi.

"Aku berani bersumpah atas nama ibuku tidak akan menyakitinya." Jawab Akashi dengan mantab.

"Yah, walaupun kita setuju semua terserah Tet-chan."

Semua orang menatap Tetsuya yang masih shock dengan pengakuan Akashi.

Akashi mendekati Tetsuya . Manik Rubi itu menatap lekat mengunci pandangan mereka berdua. Tetsuya jadi panik sendiri. Sungguh ini terlalu tiba-tiba untuknya.

"Tetsuya , aku sudah menyukaimu sejak pertama kali Chihiro memperkenalkanmu. Aku takut jika perasaanku akan merusak hubungan pertemanan kami juga dengan Paman dan bibi, tapi rasanya aku tidak sanggup jika harus merelakanmu menikah dengan orang lain. Maafkan sikap pengecut ku. Dan aku mohon kau mau menikah denganku."

Tetsuya merasakan kedua matanya berkaca-kaca . Dia hanya kaget dan bahagia karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cintanya telah lama terbalas hanya saja takdir yang mempermainkan perasaannya. Hari ini Sei-nii yang menjadi cinta pertamanya

mengajaknya untuk menikah.

Tetsuyapun mengangguk sebagai jawaban.

Akashipun mengeluarkan kotak cincin yang entah kapan dia membelinya . Cincin perak bertahtakan batu shapire biru dan merah kini sudah melekat dengan pas di jari manisnya. Bisa dilihat ibu Tetsuyapun juga ikut menangis haru melihat Tetsuya dan Akashi.

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Tetsuya selain hal ini.

"I Love You Sei-nii."

Fin

Ada alasan kenapa saya sering posting ff. XD

Pertama, meluangkan waktu menulis sehari seminggu atau beberapa jam sebelum tidur bisa menyegarkan kembali pikiran saya yang penat akibat kegiatan dunia nyata . Dengan catatan ceritanya ringan bukan cerita sedih dan drama. :P

Kedua saya memanfaatkan waktu yang ada karena diperkirakan pertengahan tahun depan saya tidak yakin bisa sering posting seperti sekarang ini :')

Maaf kalau banyak kekurangan.

Terima Kasih