Jungkook memasuki apartement yang sudah lebih dari satu tahun ini ditempatinya bersama sang kakak –Jeon Wonwoo–. Yap, Jungkook dan Wonwoo berasal dari Busan dan sekarang mereka tengah menjalani study-nya di Seoul.

Jungkook mengganti sneakers-nya dengan sandal rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sepi. Tapi di basement saat memarkirkan mobilnya, ia melihat mobil Mingyu. Jungkook baru saja selesai rapat kepanitiaan, dan dengan seenaknya Mingyu yang menjabat staff divisi perizinan tidak hadir rapat tapi malah berada di apartement-nya.

Jungkook berjalan menuju kamarnya. Meletakkan tas, mandi, mengganti pakaian, dan mengambil charger ponselnya pada tas bagian samping untuk mengisi daya baterai pada ponselnya.

Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Jungkook-ah," panggil seseorang yang berada di depan pintu kamar Jungkook

"Ne, ada apa hyung?" tanya Jungkook dari dalam, ia tahu betul jika yang memanggilnya tak lain adalah kakaknya.

"Makan malam sudah siap, cepatlah keluar. Mingyu sudah selesai memasak," balas Wonwoo yang telah menyembulkan kepalanya di pintu kamar Jungkook.

"Ne, tunggu aku."

Jungkook meletakkan ponsel yang telah terhubung dengan charger-nya dan melangkahkan kakinya menuju meja makan yang ternyata telah penuh dengan berbagai macam hidangan ala Mingyu.

"Sepertinya kau cocok menjadi kakak iparku," ucap Jungkook yang membuat Mingyu tersenyum bangga. "Dengan begitu aku tidak akan kelaparan," lanjut Jungkook santai sembari memainkan sumpitnya.

"Yak, kau kira aku juru masakmu?" geram Mingyu yang mengundang kekehan pelan Wonwoo.

"Mungkin," Jungkook menjawab dengan mulut penuh nasi.

"Hentikan kebiasaan burukmu, Jeon," Wonwoo memperingatkan adiknya sembari menuang air putih ke gelas kosong di hadapannya. Setelah terisi setengah gelas, ia memberikannya pada Jungkook. Dan..

UHUKK~

Wonwoo memang mengetahui kebiasaan buruk adiknya yang selalu berbicara dengan mulut penuh makanan dan berujung tersedak. Ya walaupun Wonwoo sering mengumpat karena Jungkook memang sangat ceroboh.

Jungkook meminum air yang diberikan oleh kakaknya dan melanjutkan acara 'mari makan' yang sempat tertunda.

"Hyung, aku pulang dulu, ne?" pamit Mingyu pada Wonwoo setelah mereka bertiga menyelesaikan makan malamnya dan juga membersihkan bekas-bekas alat makan yang mereka gunakan.

"Hati-hati, kabari jika sudah sampai."

"Tentu saja," Mingyu mengacak surai dark brown milik Wonwoo sembari mengecupnya sekilas.

"Kook, aku pulang," teriak Mingyu saat melewati pintu kamar Jungkook.

"Ne, jangan mengantuk sebelum sampai rumah. Hubungi Wonwoo-hyung setelah sampai rumah," Jungkook menyembulkan kepalanya pada pintu kamarnya. Dan mendapat anggukan mantap dari Mingyu.

"Hyung, cepat tidur," teriak Jungkook setelah mendengar suara pintu apartement-nya tertutup.

"Ne, kau juga," sahut Wonwoo. "Aku ada kelas pagi," lanjutnya sembari mematikan lampu ruang tengah dengan lampu yang lebih redup sebelum memasuki kamarnya.

Jungkook mengangguk walaupun pada kenyataannya Wonwoo tak dapat melihat anggukannya di dalam kamar.

Sebuah notifikasi muncul di ponsel Jungkook.

Message from +82107959****

Alis Jungkook sedikit mengernyit. Dengan rasa penasaran, ia pun membuka notifikasi dari nomor yang tidak dikenalnya.

.

Bagaimana harimu? Pasti melelahkan. Aku senang melihatmu menghabiskan roti dan susu tadi. Segera istirahat. Jalja, bunny.

Your love,
Alien yang diutus turun ke bumi.

.

Jungkook tersenyum kecil setelah membaca pesan singkat yang ternyata dari si Alien, meletakkan ponselnya di nakas, dan segera beranjak menuju kasur miliknya. Walaupun si Alien sudah sering mengiriminya berbagai makanan dan juga sticky note, tapi baru kali ini si Alien itu mengiriminya pesan pada ponselnya.

'Melihat? Perasaan aku selalu makan di dalam ruangan. Ah sudahlah, berharap kau memang orang yang baik,' batin Jungkook sebelum memasuki alam mimpinya.

Saat awal menerima makanan dan juga sticky note Jungkook memang acuh dan hanya menganggap si Alien adalah orang kurang kerjaan. Jungkook juga sempat takut jika di dalam makanannya terdapat racun dan sebagainya. Tapi, dengan entengnya Jin yang saat itu tengah berada di ruang organisasi bersama Jungkook, menawarkan diri untuk mencoba makanan yang diberikan oleh si Alien. Dan semakin lama, Jungkook merasa penasaran. Apalagi si Alien sangat memperhatikan kesehatan Jungkook. Jungkook merupakan orang yang sering kali lupa makan jika sudah sibuk, dan si Alien selalu mengiriminya makanan entah itu makanan ringan maupun makanan berat dan tidak lupa dengan sticky note yang selalu tertempel pada kemasannya.

.

.

.


Secret Admirer

Chapter 02
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo


.

.

Matahari telah menampakkan dirinya. Sinarnya memaksa menerobos setiap celah gorden pada sebuah ruangan milik namja kelinci yang kini masih sibuk bergelung dibawah selimut tebalnya.

"Kook-ie," panggil seorang namja lain yang tengah berjalan menuju ranjang namja kelinci, menyingkap kasar selimut yang menutupi seluru badan sang adik.

"Ngh~" lenguhan kecil tanda tak ingin diganggu keluar dari bibir sang adik yang sibuk membenarkan selimutnya agar kembali menutupi seluruh tubuhnya.

"Yak, aku ada kelas pagi. Bangunlah. Kalau tidak, akan aku tinggal," Wonwoo memukul kaki Jungkook yang masih bermalas-malasan.

"Hm~ lima menit."

"Terserah kau saja. Jam setengah delapan aku berangkat, jika kau belum keluar kamar, aku tinggal," ancam Wonwoo melangkahkan kakinya untuk membuka gorden ruangan tersebut dan melangkah keluar.

Jungkook mendudukkan dirinya setelah mendengar suara pintu kamarnya tertutup. Mengambil ponselnya di nakas.

Message from +82107959****

"Ah, sepertinya aku akan selalu mendapatkan pesan setelah ini," Jungkook mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya untuk menyimpan nomor tersebut sesekali terkikik kecil.

.

Selamat pagi, bunny. Apa tidurmu nyenyak? Jangan lupa sarapan, jangan seperti kemarin. Aku ada urusan sedikit pagi ini, jadi kemungkinan tidak bisa menjagamu. Semoga harimu menyenangkan.

Your Love,
Alien yang diutus turun ke bumi.

.

Jungkook melangkahkan kakinya menuju ruang organisasi. Ia berpisah dengan Wonwoo saat di lantai dua. Jungkook menuju ruang organisasi, dan Wonwoo menuju ruang kelasnya yang berada di lantai tiga.

Jungkook membuka pintu ruang organisasi dan menemukan Jin serta Namjoon yang sibuk dengan beberapa berkas di meja Namjoon.

"Selamat pagi, hyung," sapa Jungkook pada Jin serta Namjoon.

"Pagi, Kook-ie," sahut keduanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Itu apa, hyung?" tanya Jungkook penasaran.

"Dari akademik, revisi proposal," jawab Namjoon yang terlihat tengah membaca bagian yang terdapat beberapa coretan. "Padahal proposal yang sebelumnya dengan format yang sama, baik-baik saja. Lolos malah," gumam Namjoon yang terlihat sedikit kesal.

"Mungkin peraturan baru dan mendadak," Jin membalas gumaman Namjoon dengan santai dan tetap fokus pada layar laptop di depannya. Mengedit beberapa kata dengan teliti.

"Hyung, tidak kelas?" Jungkook menarik kursi menghampiri Jin.

"Dosennya terlambat masuk 15 menit, jadi ya aku disini saja dulu," sahut Jin seolah tahu Jungkook bertanya padanya. "Kau sendiri tidak kelas?" tanya Jin.

"Nanti siang. Apa sekretaris organisasi belum datang?" tanya Jungkook yang sekarang mendaratkan pantatnya pada kursi yang ditariknya di samping Jin di hadapan Namjoon. Sesekali melihat layar laptop Jin.

"Belum. Dan aku tak tahan ingin memperbaikinya," jawab Jin enteng. Yap, mana ada ketua dan wakil ketua organisasi sibuk merevisi proposal. Memang dasarnya Jin yang tidak sabaran.

"Jumlah peserta program sertifikasi sudah mencapai target, Kook?" tanya Namjoon yang kini meletakkan berkas-berkasnya di meja.

"Masih kurang," jawab Jungkook yang masih fokus membaca manga di ponselnya.

"Berapa?" giliran Jin mengangkat wajahnya menatap Jungkook.

"Lupa," Jungkook menjawab sekenannya.

"Yak, kemarikan catatanmu," Namjoon memerintah Jungkook untuk mengambil catatan hasil rekapan nama peserta program sertifikasi.

"Di laci, hyung."

"Ambilkan, Kook!"

Jungkook berdecak pelan, tapi ia tetap bangkit meletakkan ponselnya di meja Namjoon dan berjalan menuju mejanya. Membuka laci dan menemukannya –lagi–.

Jungkook mendapati kotak makan beserta sticky note di atas mejanya. Ia segera membuka laci, mengambil beberapa kertas yang di minta oleh Namjoon.

"Hyung, kalian tahu siapa?" Jungkook berjalan kearah kursi yang sempat di dudukinya dengan membawa beberapa lembar kertas dan juga kotak makan ditangannya.

"Tahu apa?" tanya Jin yang masih fokus pada deretan kalimat di laptop-nya.

"Ini." Jungkook meletakkan kotak bekal di meja Namjoon dan menyerahkan lembaran kertas yang dibawanya ke tangan Namjoon.

"Ani, tidak ada seorang pun yang masuk setelah kami," jawab Jin yang paham dengan maksud pertanyaan Jungkook.

Jungkook meraih sticky note yang kali ini berwarna biru cerah.

.

Kenapa kau sangat keras kepala, eoh? Kau bahkan mengabaikan isi pesanku dan memutuskan untuk tidak sarapan pagi ini.
Padahal aku sudah mengatakan, pagi ini aku tidak bisa menjagamu.
Makanlah, walau hanya itu yang bisa ku berikan. Ku harap bisa sedikit membantu aktivitasmu pagi ini.

Your love,
Alien yang diutus turun ke bumi.

.

"Bagaimana dia bisa tahu," gumam Jungkook pelan sembari membuka kotak makan yang ternyata berisi beberapa potong telur gulung isi daging dan juga sayuran hijau sebagai hiasan yang menambah kesan menarik di dalamnya.

"Apa lagi kali ini?" tanya Jin melirik kotak makan yang Jungkook buka.

"Telur gulung isi daging," jawab Jungkook sembari mengambil sumpit yang terdapat di dalam kotak makan tersebut.

Jungkook menyuapkan satu potong ke dalam mulutnya. 'Enak,' pikirnya, dan kembali mengambil potongan yang lain.

"Hyung, mau?" tanya Jungkook pada kedua sunbae-nya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Aku sudah makan," jawab Jin singkat.

"Aku baru saja makan sebelum kau datang," Namjoon menjawab sembari menunjukkan kotak makan kosong di mejanya.

"Ah pasti masakan Jin-hyung," sahut Jungkook yang dibalas anggukan oleh keduanya.

"Aku pergi dulu, ne. Sudah kurang sepuluh menit," Jin menutup laptop-nya dan pergi meninggalkan ruang organisasi.

.

.

Taehyung merasakan getaran ponsel pada saku hoodie-nya. Ia segera mengambil ponselnya dan menemukan notifikasi sebuah pesan masuk diponselnya.

Message from Namjoon-hyung

Kedua alis Taehyung bertaut, 'kenapa Namjoon-hyung tiba-tiba mengirimiku pesan,' pikir Taehyung yang heran saat melihat nama Namjoon pada ponselnya.

.

Namjoon-hyung:Sudah ku pastikan dia menghabiskannya.

Taehyung: Ah terima kasih banyak, hyung.

.

Taehyung terkekeh pelan dan kembali memasukkan ponselnya di saku hoodie yang ia kenakan saat ini.

"Taehyung-ah, apa kau sudah selesai?" seorang namja dengan surai merah berjalan ke arah Taehyung.

"Ne, sedikit lagi hyung," jawab Taehyung menempelkan sebuah banner pada dinding ruang aula.

"Nah, selesai," Taehyung turun dari tangga yang ia gunakan untuk memasang banner di ruangan tersebut.

"Terima kasih, Tae. Kau bahkan bukan panitia, tapi kau ikut sibuk," ucap namja surai merah –Jung Hoseok–.

"Kau seperti tak mengenal Taehyung saja, hyung," sahut namja berperawakan mungil yang datang bersama namja bersurai mint dengan kulit seputih salju.

"Ah, Jimin-ah kau disini," Hoseok menyapa namja mungil yang ternyata bernama Jimin.

"Ne, aku dan Yoongi-hyung ingin mengajak kalian ke kantin," Jimin tersenyum kecil.

"Yak, Yoongi-ya. Kau panitia, kenapa tidak membantu sama sekali?" tanya Hoseok kesal.

"Sudah diwakili Taehyung," jawab Yoongi –namja bersurai mint dengan kulit seputih salju– santai.

"Sudahlah, ayo ke kantin," Taehyung menyela sebelum terjadi perang dunia ke tiga di dalam aula yang nantinya akan digunakan sebagai tempat program kerja organisasi fakultas.

.

.

Suara ribut terdengar dari luar pintu ruang organisasi. Semua yang sering menjadi penghuni ruang organisasi –termasuk Jungkook yang tengah terlelap di karpet ruangan tersebut– bahkan sudah hafal siapa yang akan menyembulkan kepala setelah suara ribut itu berhenti.

"Hyung, kau melihat Jungkook?" tanya Mingyu yang berjalan menuju meja Namjoon tanpa menoleh sedikit pun pada karpet yang kini berpenghuni.

Bambam yang menyadari pun hanya tertawa kecil sembari melepaskan sepatunya, berjalan dan duduk di karpet –tepatnya di sebelah Jungkook yang tengah terlelap–.

Namjoon yang ditanya Mingyu bukannya menjawab tapi malah tertawa keras. "Apa kau tidak melihat seonggok manusia yang kau cari tengah terlelap disana?" Namjoon menunjuk kearah karpet ruangan.

Mingyu mengikuti arah jari telunjuk Namjoon, "apa sudah dari tadi?" tanya Mingyu pada Namjoon.

Namjoon mengangguk, "dua jam."

"Dia disini dari pagi, hyung?" kini Bambam yang bersuara. Namjoon kembali mengangguk. Yang benar saja, sekarang masih jam sepuluh dan Jungkook tidur sudah dua jam. Itu artinya Jungkook disini dari pagi –bodoh–.

"Dia sudah makan?" Mingyu berjalan kearah Jungkook dan Bambam.

"Jangan khawatir mengenai asupan makan Jungkook. Sudah pasti terjamin dengan Alien-nya."

Pergerakan kecil Jungkook dirasakan Bambam pada kakinya yang sekarang dijadikan guling oleh namja kelinci yang tengah terlelap di sebelahnya.

"Kook-ie bangun, ayo war," ucap Bambam menggoyangkan sedikit lengan Jungkook.

"Hm~" hanya lenguhan malas yang diterima oleh Bambam.

"Ish, dasar kebo."

"Aku kelinci, tahu." Jungkook mengucek matanya dan menguap beberapa kali.

"Ayo war," Bambam masih pada pendiriannya.

"Tidak, aku mau ke kantin saja. Mau ikut, tidak?" Jungkook bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

"Katanya ke kantin, tapi malah masuk kamar mandi," Bambam yang mengikuti Jungkook bersama Mingyu hanya mendengus pelan.

"Kenapa tidak bilang kalau mau ke kamar mandi dulu? Tahu begitu aku menunggumu di depan ruang organisasi," Bambam mengerucutkan bibirnya saat Jungkook keluar dari kamar mandi.

"Kau kira aku akan ke kantin dengan muka bantal?"

"Kau selalu saja menang, kapan aku menangnya?" tanya Bambam tak terima dengan jawaban Jungkook yang justru bertanya balik padanya.

"Mungkin saat kau bersama Jackson-hyung dengan memasang wajah seperti itu, pasti kau akan menang," sahut Mingyu yang diikuti suara kekehan Jungkook. Dan membuat Bambam semakin memajukan bibirnya.

.

.

"Kau ingin apa?" tanya Jungkook saat mereka sampai di kantin.

"Kau mentraktir kita?" Bambam menyahutinya penuh semangat.

"Kata siapa?" tanya Jungkook, "aku hanya bertanya," lanjutnya sembari membaca tulisan berbagai macam menu yang ada di depannya dan mengacuhkan Bambam yang semakin mengerucutkan bibirnya.

"Yak," hampir saja Bambam melayangkan pukulannya pada kepala Jungkook.

"Sudahlah, aku yang mentraktir," suara Mingyu menginterupsi keduanya.

"Ini kalimat yang ku tunggu dari tadi," ucap Jungkook menunjukkan gigi kelincinya yang membuatnya terlihat menggemaskan.

Bambam? Dia sudah dibarisan paling depan memesan makanannya, entah bagaimana caranya.

.

.

"Ah gigi kelincimu," Taehyung mendesah pelan sembari memperhatikan seseorang yang menjadi objeknya semenjak orang itu memasuki kantin bersama dua temannya dan berdiri disalah satu stand yang menjual makanan.

"Wae?" Jimin bertanya pada Taehyung yang tengah tersenyum kecil.

"Ani," Taehyung menampakkan cengiran khasnya.

"Aku duluan, ne?" pamit Taehyung dan berlari tanpa menunggu persetujuan ketiga temannya yang tengah memandang aneh ke arahnya.

.

.

Jungkook memasuki ruang organisasi bersama Bambam dan juga Mingyu. Masing-masing dari mereka membawa roti di tangannya. Kenapa hanya roti? Astaga, bahkan masing-masing dari mereka telah menghabiskan satu porsi chicken cutlets saat di kantin. Keheningan terasa saat mereka memasuki ruangan tersebut. Bagaimana tidak hening? Namjoon si penghuni satu-satunya tengah terlelap di karpet ruangan.

Jungkook berjalan kearah mejanya berniat mengambil ponsel yang ia tinggalkan diatas meja miliknya. Pupil Jungkook sedikit melebar saat menemukan tiga botol air mineral dengan sticky note tertempel di salah satu botol tersebut di sebelah ponselnya.

.

Minumlah, aku yakin kau dan dua sahabatmu itu tidak akan membeli minuman. Berbagilah dengan mereka, aku tahu hanya mereka sahabatmu, mereka sangat baik walaupun 'sedikit' berisik.
Ah ya, jangan ceroboh dengan meninggalkan ponselmu di meja. Bahkan ponselmu bisa hilang kapan saja, simpan dengan baik. Karena mendapatkan kontakmu adalah hal yang paling susah, asal kau tau.

Your love,
Alien yang diutus turun ke bumi.

.

Jungkook tersenyum kecil, memasukkan sticky note merah ke dalam laci, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dan berjalan ke arah karpet ruangan –dimana Bambam, Mingyu, dan Namjoon berada– dengan membawa rotimiliknya serta tiga botol air mineral.

Bambam dan Mingyu mengernyit heran saat menerima air mineral dari Jungkook.

"Aku mendapatkannya dari si Alien, dia menyuruhku berbagi dengan kalian," ucap Jungkook seolah tahu apa yang dipikirkan kedua temannya, ah mungkin sahabat.

"Sepertinya dia orang yang sangat baik," sahut Bambam yang mendapat anggukan dari Jungkook serta Mingyu.

.

.

.


to be continue


.

.

Taraaa, to be continue dengan tidak elite-nya. Maafkan Joa yang terlambat update, hehe. Saran kalian akan sangat membantu. Terima kasih sudah menyempatkan membaca serta memberikan review.

sign,
chachajoa