Dengusan kesal berasal dari Bambam yang tengah fokus pada ponselnya sesekali menggigit kasar roti miliknya.

"Kau kenapa?" tanya Mingyu penasaran.

"Pasti kalian tidak membaca grup angkatan," jawab Bambam dan mendapat gelengan kecil dari Jungkook dan Mingyu.

"Kita kosong hari ini. Dosen minta hari pengganti," jelas Bambam yang sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

Jungkook yakin Bambam sedang mengetikkan banyak umpatan di grup angkatan mereka. Bagaimana tidak? Sia-sia mereka menghabiskan waktu di kampus jika ternyata kelasnya kosong.

"Kook-ie, kau pulang jam berapa? Aku ada kelas pengganti," seseorang menyembulkan kepalanya di pintu ruang organisasi.

"Aku tidak jadi kelas. Kau kelas saja, aku menunggumu hyung," Jungkook menyahuti ucapan orang tersebut yang ternyata kakaknya.

"Hyung, sudah makan?" tanya Mingyu sebelum kepala Wonwoo menghilang dibalik pintu.

"Ini mau ke kantin sama Jisoo sama Jin juga, mau ikut?" Wonwoo menawari Mingyu.

"Kau tidak mengajakku, hyung? Dasar kakak tidak berperasaan," sahut Jungkook sarkastik.

"Kau bahkan sudah makan banyak hari ini," balas Wonwoo tenang.

"Tapi aku masih lapar, hyung."

"Yak, bahkan roti itu masih ada di tanganmu dan kau bilang masih lapar."

Dengan segera Jungkook memasukkan roti yang tersisa ke dalam mulut. "Sudah habis," ucap Jungkook dengan mulut penuh serta tangan terangkat menandakan ia tak memegang apa pun.

"Yak, Mingyu-ya berikan dia minum," pekik Wonwoo yang masih berdiri di pintu dan hampir melompat kalau saja tak ingat membutuhkan waktu lama untuk menali sepatunya.

Mingyu menuruti apa yang diperintahkan oleh kekasihnya. Dan memberikan botol minuman Jungkook kepada pemiliknya.

UHUKK~

"Hhh, sudahlah. Ajak Bambam sekalian. Biarkan Namjoon menjaga ruangan," Wonwoo menghela napas lega saat Jungkook selesai meneguk habis air mineralnya.

"Hyung, kau mentraktirku kan?" tanya Bambam dengan cengirannya.

"Tentu saja," jawab Wonwoo tersenyum, "Jungkook yang mentraktir," lanjutnya santai.

"Yak, hyung," Jungkook siap melayangkan protes.

"Sudah, jangan lama-lama sebelum aku berubah pikiran," dengan langkah cepat, ketiga namja tersebut menyusul Wonwoo keluar ruangan. Mereka tahu jika Wonwoo berkata demikian pasti Wonwoo yang akan mentraktir mereka, karena hari ini bukan kali pertama mereka di traktir oleh Wonwoo.

.

.

Taehyung mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Dan selang beberapa detik kemudian ia sedikit berjengkit saat mendengar notifikasi pada ponselnya.

Message from Little bunny

Kedua mata Taehyung sedikit melebar saat membaca notifikasi ponselnya. Yap, ini merupakan kali pertama Jungkook membalas pesan singkatnya.

.

Taehyung:Kau makan banyak hari ini, aku senang melihatnya. Your love, Alien yang diutus turun ke bumi.

Little bunny:Aku sudah menyimpan kontakmu. Entah kenapa aku hanya ingin makan banyak hari ini. Terima kasih makanannya sangat enak, minumnya juga sudah habis kok.

Taehyung:Benarkah? Ah kalau begitu aku akan lebih sering memberimu makanan.

Little bunny:Itu akan sangat merepotkan.

Taehyung:Tidak, selagi itu untukmu.

.

Taehyung tersenyum kecil, memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodie-nya dan kembali menatap seorang namja yang tengah duduk di meja seberang, sibuk dengan ponselnya diantara lima orang namja lainnya. Sesekali tersenyum menambah kesan manis di wajah imutnya.

.

.

"Ah kepencet, bagaimana ini?" gumam Jungkook tersenyum kecil bermonolog dengan dirinya sendiri.

"Apanya?" tanya Wonwoo yang berada di sebelah Jungkook.

"Ani, aku salah pencet. Hehe," Wonwoo mendengus kesal dengan tingkah adiknya. Ceroboh sih ceroboh, tapi jangan melampaui batas. Bagaimana bisa salah pencet, tapi justru tersenyum bukan panik.

"Kenapa ke kantin tidak bilang-bilang, eoh? Kalian sengaja meninggalkanku sendiri di ruang organisasi seorang diri?" seorang namja tak berperasaan menggebrak meja enam namja yang sibuk menyantap makanannya masing-masing.

"Pesanlah, sebelum aku berubah pikiran," ucap Wonwoo tanpa mengalihkan pandangannya dari piring di hadapannya.

Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Namjoon berlari menuju salah satu stand makanan.

.

.

.


Secret Admirer

Chapter 03
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo


.

.

Jungkook memasuki kamarnya setelah selesai makan malam berdua bersama kakaknya. Tapi, baru saja satu langkah, ia kembali keluar kamar dan membuka sebuah pintu di sebelah kamarnya.

"Hyung, aku mau tidur sini, boleh?" Jungkook memasukkan kepalanya pada celah pintu yang sedikit terbuka. Menatap punggung kakaknya yang tengah mengambi satu buku di lemari bukunya.

"Tidurlah."

"Yeay, sebentar aku mau mengambil ponsel dan charger-ku dulu."

Wonwoo sudah sangat terbiasa dengan sifat Jungkook yang satu ini. Memang sangat kontras sifatnya saat bersama temannya dengan saat bersama Wonwoo.

Jungkook mendapat sebuah notifikasi pada ponselnya saat menghubungkannya dengan charger.

Message from Alien

Selang beberapa detik setelah membaca, Jungkook sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

.

Alien:Kau tau? Aku sangat menyukai senyummu yang menampakkan gigi kelinci di dalamnya. Hari ini sudah dua kali aku melihatnya. Aku berharap, suatu saat aku bisa melihatnya setiap hari tanpa harus bersembunyi seperti ini. Terima kasih bunny, karena kau tetap mengizinkanku menjagamu dengan caraku. Selamat malam, semoga kita bertemu dalam mimpi.

Jungkook:Ya, semoga saja. Omong-omong, apa kau tampan? Atau kau cantik?

Alien:Tentu saja aku tampan. Bahkan aku sangat gentle.

Jungkook:Percaya diri sekali. Ya, jika saja bersembunyi dapat dikatakan gentle.

Alien:Kau menyindirku, eoh?

Jungkook:Tentu saja tidak, itu kenyataan.

Alien:Baiklah, terserah kau saja. Tidurlah besok kau harus berangkat pagi untuk mengikuti program kerja organisasi fakultas. See you, bunny.

.

Jungkook menghela napas pelan. "Ah sepertinya aku semakin penasaran," gumam Jungkook pelan.

"Kau belum tahu siapa dia?" Jungkook menoleh pada Wonwoo yang tengah membaca bukunya sembari bersandar pada kepala ranjang.

Jungkook menghubungkan ponselnya dengan charger. Berjalan kearah Wonwoo dan menggeleng pelan.

"Apa kau tidak penasaran?"

"Sepertinya aku mulai penasaran." Jungkook menjadikan kaki Wonwoo sebagai guling.

"Kau tidak ingin mencari tahu?" pertanyaan Wonwoo membuat Jungkook mendongak menatap kakaknya itu.

"Belum, sampai aku benar-benar merasa penasaran," Jungkook menggeleng sembari menenggelamkan kepalanya pada kaki Wonwoo. "Aku menikmatinya hyung, asal kau tahu. Maka dari itu aku berharap, semoga dia benar-benar orang yang baik," lanjutnya sembari terkikik pelan.

"Ah ternyata kau lebih suka yang seperti ini," Wonwoo terkekeh pelan sembari mengusak surai adiknya.

"Kira-kira kapan dia akan menunjukkan dirinya?" Jungkook bertanya pada Wonwoo.

"Entahlah."

"Menurutmu dia tampan? Atau cantik?" tanya Jungkook yang masih penasaran. "Tapi tadi dia bilang dia tampan," lanjutnya saat mengingat pesan si Alien.

"Aku mengira dia tampan."

"Menurutmu dia satu jurusan dengan kita atau tidak?"

"Tidak."

"Tapi, bagaimana bisa dia masuk ruang organisasi jurusan kita?"

"Ya mana aku tahu, bocah. Itu hanya feelingku sebagai kakak," geram Wonwoo. "Sudah, tidur dan jangan bertanya lagi. Aku jadi tidak fokus membaca," lanjutnya sembari meletakkan tangannya di pipi gembul adiknya. Ya, Wonwoo tahu jika Jungkook meminta untuk tidur di kamarnya atau sebaliknya, itu berarti Jungkook rindu ibunya di Busan.

Jungkook mengangguk patuh, "semoga aku bisa melihat wajahnya di mimpiku," gumam Jungkook sebelum nafasnya mulai teratur.

Wonwoo tersenyum penuh arti saat melihat wajah damai sang adik yang tengah tertidur memeluk kakinya, "semoga kau bahagia," gumam Wonwoo sembari mengusap surai adiknya.

.

.

"Hyung, kenapa tidak membangunkanku?" teriak namja kelinci yang baru saja terbangun dari tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi.

"Memangnya kenapa? Sekarang kan weekend?"

"Tapi aku peserta program kerja organisasi fakultas."

"Kau tidak bilang." Wonwoo berjalan santai menuju dapur menyiapkan beberapa potong roti untuk adiknya.

Selang beberapa menit setelahnya, Wonwoo melihat Jungkook keluar dari kamarnya menggunakan celana jeans dipadu dengan kemeja hitam polos lengan pendek, berjalan ke arah Wonwoo dengan almamater yang disampirkan di bahu kirinya dan juga tas di bahu lainnya. "Ambil ini, kau bisa makan di jalan. Ayo ku antar," Wonwoo menyerahkan kotak makan berisi roti yang telah ia siapkan untuk Jungkook, dan berjalan ke ruang tengah mengambil kunci mobil.

"Hyung, kau terbaik," Jungkook memeluk Wonwoo yang sedang berjalan ke arah garasi dari belakang.

"Aku tahu. Ayo."

.

.

"Pastikan tidak ada yang tertinggal," Wonwoo mengingatkan Jungkook sebelum turun dari mobil.

"Ne, untung saja sudah aku siapkan malam harinya."

"Ponselmu sudah kau bawa, kan?"

"Pastinya," Jungkook menunjukkan ponselnya pada Wonwoo.

"Baik, pergilah. Semoga harimu menyenangkan," Wonwoo tersenyum miring.

"Aku harap begitu," ucap Jungkook pelan.

"Sudah sana, pergi."

"Kau mengusirku, eoh?"

"Tentu saja."

"Terserah kau saja," Jungkook memutar bola matanya malas dan berjalan memasuki gerbang kampusnya.

.

.

Jungkook menghembuskan napas kasar, mendudukkan dirinya di salah satu gazebo kampus. Ia sangat lelah saat ini. Setelah mendengarkan semua materi selama sembilan jam dengan selingan istirahat dan juga beberapa games kelompok –untuk menghilangkan rasa bosan peserta–, Jungkook masih harus mengerjakan project kelompok. Setiap kelompok berisi lima orang, dan dia satu kelompok dengan seseorang yang pernah menemui Namjoon, yang Jungkook kira sunbae-nya –Kim Taehyung–.

"Akhirnya selesai," Jungkook menghembuskan napas kasar.

"Terima kasih, Jungkook-ah," ucap salah seorang namja brperawakan mungil di sebelahnya.

"Untuk apa?" tanya Jungkook yang tengah merapikan peralatan tulisnya.

"Kau yang paling banyak mengerjakan project ini. Bahkan mereka hanya makan dan mencari gambar," namja berperawakan mungil itu menatap kesal tiga namja didepan mereka.

"Mencari gambar itu pekerjaan tahu," ucap Jungkook seakan membela ketiga namja di hadapannya.

"Dengarkan, Jim. Itu PEKERJAAN," tekan satu-satunya namja tampan ber-snapback yang tengah duduk di hadapannya.

"Yak, itu karena Jungkook terlalu baik pada kalian," namja berperawakan mungil –yang ternyata bernama Jimin– itu masih tak terima.

"Ah sudahlah, bagaimana kalau aku yang mengerjakan power point untuk presentasi besok?" namja yang menemui Namjoon beberapa waktu lalu kini bersuara dengan santainya.

"Apa tidak merepotkan?" Jungkook bertanya dengan hati-hati.

"Yak, Jungkook-ah ini bahkan project kelompok. Sudah seharusnya Taehyung mengerjakan," Jimin masih tersulut emosi yang belum juga mereda.

"Hansol, kau yang print tugasnya," Jimin mengalihkan pandangannya ke arah namja berparas bule.

"Ne, arraseo," Hansol menegakkan tubuhnya, merenggangkan otot-ototnya.

"Jackson-hyung, carikan lagi gambar yang lebih banyak untuk tambahan. Serahkan ke Taehyung dan Hansol untuk ditambahkan ke power point dan juga makalah," namja tampan ber-snapback itu mengganggukkan kepalanya beberapa kali seolah paham dengan ucapan Jimin.

Jungkook yang melihat tingkah Jimin, terkekeh menampilkan gigi kelincinya. 'Sepertinya tidak buruk berteman dengan mereka,' batin Jungkook.

"Apakah sudah selesai?" tanya Jungkook memecah keheningan yang tercipta setelah Jimin berhenti berteriak.

"Sudah, aku lelah," Jungkook tersenyum kecil mengusap punggung Jimin beberapa kali.

"Baiklah aku akan menelfon hyung-ku dulu," Jungkook mengambil ponselnya.

Tedengar nada sambung pada ponsel yang Jungkook letakkan di telinga kanannya.

.

Hyung-ie:Yeoboseo?

Jungkook:Hyung, aku telah menyelesaikan tugasku.

Hyung-ie:Baiklah, 15 menit aku sampai.

Jungkook:Ne, aku tunggu.

.

Jungkook mematikan sambungannya dengan sang kakak dan kembali ke gazebo tempat teman-teman kelompoknya.

"Kalian tidak pulang?" tanya Jungkook yang memandang heran keempat teman kelompoknya.

"Kami membawa mobil, jadi kami akan menemanimu sampai kakakmu datang," jawab Jimin tersenyum manis.

Ponsel Jungkook berbunyi tanda sebuah notifikasi masuk.

Message from Alien

Jungkook membuka notifikasi tersebut dengan kening berkerut layaknya seseorang yang tengah berpikir keras.

.

Alien:Melihatmu dengan jarak sedekat ini, membuatku sedikit tak percaya bahwa kau benar-benar manusia. Asal kau tahu, hari ini aku melihat gigi kelinci itu lagi. Kau menunggu jemputanmu ya? Baiklah aku akan menunggumu untuk memastikan kau benar-benar aman.

Jungkook:Dekat? Kau dimana? Aku bahkan tak melihat siapa pun selain teman satu kelompokku, panitia, dan pak satpam. Bahkan panitia sedang di lantai atas. Apa kau pak satpam yang berada di pos depan itu?

Alien:Tentu saja bukan. Aku berada di dekatmu saat ini. Sangat dekat.

.

Jungkook menoleh ke segala arah mencari seseorang selain kelompoknya dan pak satpam.

"Kau mencari sesuatu?" tanya Taehyung yang melihat gerak-gerik Jungkook.

"Ani," jawab Jungkook tersenyum canggung.

"Kau kenapa, Kook?" kali ini Jimin yang bertanya.

"Sepertinya aku sedang diawasi," Jungkook tertawa kecil.

"Siapa?" tanya Hansol yang ikut menolehkan kepalanya ke segala arah.

"Entahlah, aku juga tidak tahu," Jungkook lagi-lagi tertawa kecil.

"Kau ini kenapa? Kok malah tertawa?" kali ini Jackson bersuara.

"Entahlah, aku hanya ingin tertawa."

"Kook-ie," suara seorang namja menghentikan kegiatan mereka.

"Hyung, kau sudah datang," Jungkook menatap kakaknya tak percaya. Ini bahkan belum 10 menit. Tadi katanya 15 menit.

"Ne, ayo pulang."

"Ayo pulang," Jungkook mengajak teman-temannya berdiri. Dan langsung mendapat respon baik dari mereka berempat. Taehyung, Jimin, Hansol, dan Jackson segera berdiri dan berjalan menuju parkiran mobil.

.

.

Jungkook memasuki kamarnya, setelah membersihkan diri dan juga makan malam tentunya. Jungkook sangat lelah hari ini, dan besok masih harus menghadiri program kerja organisasi fakultas yang sangat membosankan itu.

Jungkook tengah berusaha memejamkan matanya –saat ini–.

'Dekat? Sangat dekat? Apa maksudnya?' Jungkook kembali memikirkan pesan si Alien. Dan segera menyambar ponsel yang tengah terhubung dengan charger-nya di nakas.

Message from Alien

"Ah, dia mengirimiku pesan lagi? Ternyata benar dugaanku, aku akan sering mendapatkan pesan," gumam Jungkook sembari terkekeh kecil.

.

Alien: Bahagia bisa menghabiskan waktu bersamamu, walaupun kau belum menyadarinya. Selamat malam, bunny. Dan selamat beristirahat, aku tahu kau sangat lelah hari ini.

Jungkook:Sepertinya kau memang sangat dekat, tapi aku belum tahu siapa dirimu.

Alien: Apa kau sangat penasaran denganku?

Jungkook:Tidak kok, hanya sedikit.

Alien: Ah, baiklah. Aku akan tetap seperti ini. Tidurlah, semoga mimpimu indah.

.

'Ah, apa seharusnya aku bilang kalau sangat penasaran dengannya?' pikir Jungkook yang masih menerka-nerka wajah si Alien.

"Apa aku mengganggumu?" Wonwoo memasuki kamar Jungkook.

"Ani," sahut Jungkook yang masih sibuk dengan pikirannya.

"Bagaimana harimu?"

"Ah sepertinya aku mengetahui alasanmu tersenyum miring tadi pagi, " Jungkook mendengus pelan. "Sungguh program kerja ini sangat membosankan, pantas saja sertifikatnya sangat berharga bagi mahasiswa yang terlibat dalam organisasi fakultas maupun jurusan," lanjutnya.

"Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Wonwoo duduk di samping adiknya.

"Hyung, temani aku, ne?"

Tapi, Wonwoo justru melangkah menjauhi ranjang Jungkook.

"Hyung," Jungkook merengek pada kakaknya.

"Apa sih? Aku hanya ingin menutup gorden saja," Wonwoo menutup gorden kamar Jungkook yang masih terbuka dan kembali melangkah menaiki ranjang adiknya.

"Hyung, apa aku harus mencari tahu siapa Alien itu?" tanya Jungkook sembari menatap Wonwoo yang sibuk membenarkan posisi bantalnya.

"Terserahmu. Jika benar-benar penasaran, tidak ada salahnya."

"Baiklah. Bangunkan aku besok, aku masih harus ke kampus."

"Ne, sekarang tidurlah."

.

.

Jadwal kegiatan hari kedua program kerja organisasi fakultas tidak sepadat hari pertama. Karena itu Jungkook bisa pulang saat jam masih menunjukkan pukul empat sore.

"Jungkook-ah, apa aku boleh meminta kontakmu?" tanya Jimin pada Jungkook yang tengah memeriksa tasnya untuk memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal.

"Tentu saja, mana ponselmu," Jungkook menjawab sembari menengadahkan tangannya dihadapan Jimin dan langsung mendapatkan barang yang diminta.

Jungkook mengetikkan beberapa digit angka, kemudian menyimpannya pada ponsel Jimin dan menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya.

Senyum Jimin mengembang melihat ponselnya. "Aku sudah melakukan panggilan ke kontakmu, simpan kontakku jika kau tidak keberatan. Ayo pulang."

Jungkook mengangguk dan berjalan meninggalkan aula menuju parkiran. Hari ini Jungkook membawa mobil sendiri, karena kakaknya menepati janji membangunkannya di pagi hari.

.

.

Taehyung baru saja kembali ke aula setelah menemui Hoseok yang memanggilnya untuk beberapa keperluan.

"Aku sudah melakukan panggilan ke kontakmu, simpan kontakku jika kau tidak keberatan. Ayo pulang," sayup-sayup Taehyung mendengar suara Jimin.

'Apa-apaan? Kenapa Jimin mudah sekali mendapatkan kontaknya? Bahkan aku harus berjuang mati-matian untuk merayu orang terdekatnya,' Taehyung berjalan mendekati Jungkook dan Jimin, mengambil tasnya perlahan agar tidak mengganggu kedua namja yang asik bertukar kontak.

Dan benar saja, keduanya tidak menyadari kehadiran Taehyung. Jackson dan Hansol sudah pulang saat pertama kali pintu aula di buka.

.

.

Jungkook memasuki apartement-nya. Mengganti sneakers-nya dengan sandal rumahan.

"Hyung, aku datang," teriak Jungkook setelah mendaratkan pantatnya pada sofa ruang tengah.

Pintu sebelah kamar Jungkook terbuka, menampakkan sosok namja tinggi dengan muka bantal-nya.

"Wah, bahagianya bisa menghabiskan weekend dengan tidur sepuasnya," Jungkook menyindir kakaknya yang kini berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.

"Lalu aku kau suruh apa?" tanya Wonwoo menanggapi sindiran adiknya.

"Tak ada," Jungkook menunjukkan cengirannya.

Wonwoo duduk di sebelah Jungkook sembari menyambar remote tv di depannya. Memindah channel secara random. Dan berakhir pada channel yang menayangkan acara musik.

Jungkook membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.

Message from Alien

"Apa kau tahu segalanya?" gumam Jungkook sembari mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

"Tahu apanya?" sahut Wonwoo saat mendengar gumaman adiknya.

"Tidak ada," balas Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Aneh." Wonwoo meletakkan remote TV yang sedari tadi dipegangnya sebelum beranjak dari duduknya menuju dapur.

.

Alien:Ah, rasanya sedikit sakit melihatmu bertukar kontak dengan namja di kelompokmu.

Jungkook:Bagaimana kau tahu?

Alien:Aku tahu segala sesuatu tentangmu.

Jungkook:Benarkah?

Alien:Tentu saja.

Jungkook:Boleh aku meminta sesuatu?

Alien:Katakan.

Jungkook:Aku ingin bertemu denganmu.

.

"Kau, kenapa tersenyum?" tanya Wonwoo yang baru saja datang dari arah dapur dengan satu toples makanan ringan di tangannya.

"Tidak dibalas, hyung," jawab Jungkook yang masih menatap layar ponselnya.

"Apanya?"

"Aku ingin bertemu dengannya."

"Siapa?"

"Alien."

"Alien?" Wonwoo membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan adiknya.

"Ne," Jungkook menganggukkan kepalanya antusias.

"Jinja?" Wonwoo masih tidak percaya jika adiknya sepenasaran ini. Seingatnya Jungkook tipe orang yang sangat cuek dengan sekitar, tidak jauh beda dengannya.

"Ne," lagi-lagi hanya anggukan antusias yang didapat Wonwoo.

.

.

.


to be continue


.

.

Wah, Jungkooknya penasaran yeorobun. Taehyungnya kudu eotteokhe? Kkk~. Omong-omong entah kenapa aku suka banget pasangin Wonwoo sama Jungkook jadi kakak adik, hehe. Saran kalian akan sangat membantu. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Dan sungguh aku sangat berterima kasih juga untuk review kalian, aku jadi lebih bersemangat –haha oke katakan aku drama, tapi itulah yang terjadi–.

sign,
chachajoa