"Ya ampun, aku tak mengira kau emosional begini, teme," ucap Naruto, atau yang dikenal sebagai Rui oleh para fansnya, seraya menepuk bahu sahabatnya.
Zuka, sang bassist berambut coklat, menghampiri Sasuke yang menangis di belakang panggung dan menepuk punggung Sasuke, "Aku mengerti kalau kau begitu senang karena akhirnya mimpi kita berhasil menjadi kenyataan. Bahkan konser kita di Tokyo Dome sukses besar."
Sasuke tak menjawab. Isakan terdengar semakin keras dan ia bahkan tidak bisa berbicara.
Ketika berada di atas panggung, seluruh rekannya begitu emosional. Naruto bahkan menangis hingga tak bisa menyanyikan beberapa lirik, sedangkan Kiba, alias Zuka, memainkan bass sambil bercucuran air mata. Begitupun dengan Neji, alias Yuu, sang lead guitarist yang sampai meneteskan air mata karena terharu dengan para fans yang memenuhi tempat konser yang begitu besar hanya untuk menyaksikan penampilan mereka. Bahkan Sai yang biasanya tanpa ekspresi pun terlihat sangat emosional hingga matanya berkaca-kaca.
Sasuke mati-matian menahan emosinya selama berada di atas panggung. Ia berusaha keras hanya menatap kearah drum dan memukul drum dengan kuat dan cepat seperti orang yang kerasukan setan meski pada akhirnya matanya mulai berkaca-kaca saat meninggalkan panggung.
Black Ash bukanlah satu-satunya band yang emosional sampai menangis saat konser di Tokyo Dome. Banyak musisi lainnya yang mengalami hal serupa, baik pria maupun wanita. Dan Tokyo Dome bahkan sampai dijuluki tempat yang membuat para musisi meneteskan air mata.
Seluruh personil Black Ash menjalani kehidupan yang cukup sulit sebelum mereka sukses seperti ini. Ketika mereka membentuk band, kesulitan mereka malah semakin bertambah.
Naruto adalah putra dari keluarga kaya yang terpaksa meninggalkan rumah setelah keluarganya mengusirnya karena ia mempertahankan mimpinya dan menyambung hidup dengan bekerja paruh waktu.
Sedangkan Kiba memutuskan pergi ke Tokyo dan meninggalkan kota kelahirannya tepat sesudah lulus SMA. Keluarganya tak mampu membiayainya untuk melanjutkan pendidikan ke universitas sehingga ia bekerja sebagai karyawan toko penuh waktu dan bergabung dalam band dengan harapan suatu saat nanti ia bisa sukses sebagai personil band karena satu-satunya keahliannya ialah bermain bass.
Sai, si gitaris, adalah anak yatim piatu yang diharuskan meninggalkan panti asuhan setelah lulus SMA. Orang tuanya sudah meninggal dan tak satupun dari keluarga besarnya yang mau menampungmya sehingga ia dikirim ke panti asuhan. Setidaknya ia cukup beruntung karena dianggap berbakat dan mendapat pelatihan bermain gitar dan biola serta meyambung hidup dengan bermain musik serta mengunggahnya ke youtube dan bermain musik di kafe, rumah duka serta acara pernikahan.
Neji cukup beruntung dibanding teman-temannya. Keluarganya mendukung penuh impiannya dan ekonominya lumayan baik. Namun ia tahu kalau keluarganya memiliki kekhawatiran terhadap masa depannya yang tidak pasti dan keluarga besarnya memandang rendah karena ia yang sebelumnya merupakan mahasiswa berprestasi yang cemerlang berakhir dengan menjadi musisi band dan hanya bekerja di toko orang tuanya.
Dan Sasuke, sang drummer yang sebelumnya merupakan putra bungsu keluarga konglomerat dengan masa depan yang seharusnya cemerlang sebagai mahasiswa dari universitas terkenal di Inggris dengan nilai yang sangat memuaskan terpaksa berhenti kuliah ketika perusahaan ayahnya bangkrut karena terlilit hutang dan ia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliahnya.
Di Inggris terdapat peraturan bahwa mahasiswa hanya bisa bekerja dua puluh jam semimggu dan penghasilan dari bekerja dua puluh jam jelas tidak mencukupi biaya hidup maupun kuliahnya.
Dan pada akhirnya, ayah Sasuke memutuskan bunuh diri karena depresi sehingga Sasuke kembali ke Jepang. Ia yang seumur hidup tak pernah mengkhawatirkan uang kini terpaksa mengerjakan beberapa pekerjaan paruh waktu dan tinggal di apartemen kecil bersama ibu dan kakaknya yang mengalami keterbelakangan mental serta menjadi tulang punggung keluarga. Ia memutuskan untuk bergabung dengan band untuk menghilangkan stress sekaligus mencari tambahan uang jika mereka setidaknya mendapat tawaran manggung.
Kini Sasuke menangis bukan hanya karena ia terharu karena bandnya berhasil konser di panggung yang megah dalam waktu kurang dari lima tahun. Ia merasa ingin menangis ketika para personil lain merasa bangga karena bisa memperlihatkan penampilan mereka pada keluarga mereka, keluarga Sasuke tidak bisa hadir. Mustahil Sasuke mengundang kakaknya yang mengalami keterbelakangan mental untuk menghadiri konser semacam ini dan ibunya yang mengalami penyakit ginjal akan kesulitan menjaga kakaknya sendirian di konser.
"Biarkan saja. Sepanjang konser tadi Sasuke sudah menahan tangis. Kurasa akhirnya dia tidak tahan lagi," timpal Neji yang baru saja memasuki ruangan bersama dengan Sai.
Sai tak berkata apa-apa. Ia meraih sakunya celananya dan menemukan satu pak tisu berukuran kecil yang selalu ia bawa kemanapun untuk berjaga-jaga.
Ia menghampiri Sasuke dan memberikan pak tisu itu. Sasuke mengambil tisu itu dan mengeluarkan salah satunya serta berjalan menuju sudut ruangan serta memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya.
Mereka semua tahu kalau Sasuke bukanlah orang yang sangat emosional. Ketika beberapa dari mereka menangis dan ingin menyerah di awal karier mereka karena terus menerus mendapat penolakan, Sasuke adalah orang yang berpikir logis dan menguatkan mereka semua agar tidak menyerah meski beban hidupnya paling berat di antara seluruh personil. Jika Sasuke sampai menangis seperti ini, pasti ada penyebab yang sangat kuat.
Naruto adalah orang yang paling lama berteman dengan Sasuke sehingga ia sangat mengenal sahabatnya. Ia menghampiri Sasuke dan duduk dihadapannya serta menepuk kepala Sasuke dengan lembut.
"Apa kau sedih karena Mikoto-basan (bibi) dan Itachi-nii (sebutan untuk kakak laki-laki) tidak bisa menyaksikanmu konser yang selama ini kau impikan?"
Sasuke menganggukan kepala dengan lemah. Naruto tak mengatakan apapun dan ia langsung memeluk Sasuke serta mengusap kepalanya. Ia mengerti betapa beratnya beban yang ditanggung Sasuke hingga pada akhirnya meledak dalam bentuk tangisan.
.
.
"Tadaima," ujar Sasuke dengan pelan ketika ia membuka pintu rumahnya.
Jam telah menunjukkan pukul tiga pagi ketika ia tiba di rumah. Konser berakhir pukul sebelas malam, namun kali ini ia tak berusaha pulang lebih cepat seperti biasanya.
Tangis Sasuke tak kunjung berhenti hingga lebih dari setengah jam, seolah berusaha memuntahkan segala beban yang selama ini menumpuk di dadanya dengan tangisan.
Dan akhirnya Sasuke memutuskan untuk pergi minum bersama teman-teman satu bandnya sebelum kembali ke rumah. Ia tak siap jika ia harus langsung bertemu dengan keluarganya seusai konser.
Sasuke berjalan memasuki kamar yang ia tempati berdua dengan sang kakak. Ia berjengit ketika mendapati sebuah mainan mobil-mobilan yang berada tepat di depan pintu. Dan ia segera mengangkat mainan itu serta menyingkirkannya ke sisi lain seraya mendengus.
Sasuke merasa begitu lelah dan satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah tidur di kasur yang empuk. Ia bahkan tak bisa merasa marah karena ia tahu kalau kakaknya tetap akan mengulangi kesalahan yang sama meski ia membentaknya sekalipun.
Sasuke melepaskan pakaiannya dan menatap dinding kamarnya yang sengaja ditempel dengan kertas putih di seluruh bagian dinding. Terdapat berbagai coretan dari krayon yang merupakan perbuatan kakaknya.
Tatapan Sasuke tertuju pada pemuda yang sedang tertidur di kasur single yang tepat bersebelahan dengan kasurnya. Lelaki itu sedang tertidur pulas dan Sasuke berharap agar kepulangannya di tengah malam tidak akan membangunkan teman sekamarnya.
Sasuke mengganti kaos dan celana yang ia gunakan dengan celana pendek dan kaos yang agak lusuh untuk ia pakai sehari-hari di rumah. Ia meletakkan pakaiannya di dalam keranjang berisi pakaian kotor di dalam kamarnya dan berniat mencucinya besok.
Sasuke duduk di atas kasurnya dan baru saja berniat tidur. Namun ia segera menatap kakaknya yang sedang tertidur dan ia meletakkan telapak tangannya di kening lelaki itu untuk sesaat. Hatinya terasa bagaikan teriris setiap kali ia menatap kakaknya.
Ketika Sasuke kecil, ia menganggap kakaknya sebagai teman bermain yang menyenangkan tanpa mengetahui fakta yang sesungguhnya. Seiring berjalannya waktu, Sasuke terus bertumbuh dewasa dan tak lagi memainkan permainan anak-anak. Namun Itachi tetap menganggap Sasuke sebagai teman bermain dan kemampuan kognitifnya hanya setara anak kelas satu SD.
Meski begitu, Sasuke yakin kalau kakaknya adalah orang yang sangat baik sesungguhnya. Dan seandainya lelaki itu normal, Sasuke yakin kalau ia akan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sang kakak.
Sasuke bukanlah orang yang paling sabar di dunia ini. Ketika ia masih lebih muda dan emosinya belum stabil, ia pernah meluapkan kemarahannya dengan memaki sang kakak dan bahkan memukulnya meski ia menyesalinya pada akhirnya. Saat kecil Sasuke pernah menjadi korban bully karena memiliki kakak yang tidak normal dan ia merasa sangat malu sehingga ia meminta kakaknya untuk tidak pernah datang ke sekolah dan saat itu ia bahkan meminta pada ibunya untuk membuang kakaknya di suatu tempat.
Namun Itachi tetap memperlakukan Sasuke layaknya seorang adik meski kecerdasannya terbatas. Lelaki itu tetap menyambut Sasuke setiap kali Sasuke pulang dan memeluknya serta meletakkan kedua jarinya di kening Sasuke. Bahkan lelaki itu juga mengkhawatirkan Sasuke ketika sedang sakit dan berusaha merawat Sasuke sebisanya, membuat Sasuke pada akhirnya luluh dan memperbaiki sikapnya pada lelaki itu.
Kelopak mata Itachi bergerak-gerak dan tak lama kemudian ia membuka matanya. Ia mendapati Sasuke yang baru saja akan tertidur di kasurnya.
"Bau. Tidak enak."
Sasuke menyadari kalau aroma alkohol yang kuat menguar dari mulutnya. Bahkan nafasnya pun berbau alkohol karena ia minum jauh lebih banyak dibanding biasanya hingga Naruto harus mengantarnya pulang.
"Tidur saja. Ini masih jam tiga pagi."
Sasuke benar-benar lelah dan ia berharap agar Itachi segera tidur sehingga ia juga bisa tidur dengan tenang. Namun Itachi malah mendekati Sasuke dan mendekapnya.
"Sasuke pulang sekarang? Kenapa bau?"
Sasuke mengerti maksud Itachi meski struktur kalimat yang dipilihnya berantakan dan mungkin saja membuat orang lain yang mendengarnya salah paham. Lelaki itu tak memiliki kecerdasan yang memadai untuk mengucapkan kalimat yang runtut dan mudah dipahami oleh orang normal.
Itachi tak akan mengerti kalau Sasuke menjelaskan bahwa ia habis pergi minum bersama teman-temannya. Ia sedang tidak ingin berbicara panjang lebar, maka ia memutuskan untuk berkata, "Aku baru selesai kerja."
Setidaknya Itachi mengerti apa yang dimaksud 'bekerja'. Ia mengerti kalau dengan bekerja maka akan mendapat uang. Dan uang bisa digunakan untuk membeli mainan, pakaian dan makanan.
"Yay! Sasuke dapat uang!" pekik Itachi.
Sasuke cepat-cepat meletakkan jari telunjuknya di bibir yang dibalas dengan anggukan oleh Itachi. Sasuke tak berharap mendapat complain dari tetangganya karena kelakuan Itachi yang memekik malam-malam.
Sasuke menguap secara refleks dan matanya yang telah memerah kembali mengeluarkan air mata karena mengantuk. Ia segera berkata, "Aku mengantuk. Jadi sebaiknya kita tidur saja, ya."
Itachi tahu kalau Sasuke terlihat lelah. Raut wajahnya berbeda dengan biasanya. Maka ia memutuskan untuk mendekat pada Sasuke mendekap lelaki itu dengan erat sebelum kembali terbuai dalam mimpi.
.
.
"Maaf aku tidak bisa menghadiri konser kalian di Tokyo Dome kemarin. Jadi temanku yang menggantikanku untuk menghadirinya," ucap Sakura dengan suara pelan pada kedua lelaki yang merupakan sahabatnya.
Sore ini Sakura mengajak Naruto dan Sasuke, kedua sahabatnya sejak kecil, untuk bertemu di salah satu cafe. Ia mengatakan akan mentraktir kedua lelaki itu sebagai wujud permintaan maaf karena tidak bisa menyaksikan konser mereka meski Sakura sudah diberikan tiket di kursi terbaik.
Dan untungnya kedua lelaki itu tidak marah setelah Sakura memberitahu bahwa ia tidak bisa datang dan berencana memberikan tiketnya pada salah satu sahabatnya yang merupakan fans mereka.
"Hn."
Naruto menatap Sasuke sesaat sebelum mengalihkan pandangan pada Sakura, "Sayang sekali kau tidak ke back stage kemarin. Padahal teme sampai menangis sesengukan selama setengah jam sesudah konser, lho."
Sasuke merasa kalau harga dirinya terluka dan ia langsung meremas bahu Naruto, "Oi! Mana mungkin aku begitu?"
Naruto meringis kesakitan saat merasakan bahunya di remas oleh Sasuke. Dan ia mengusap-usap bahunya sesudahnya.
Sakura tersenyum melihat sikap Sasuke dan Naruto yang tak berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Ibu mereka bertiga adalah sahabat dan sering bertemu sambil mengajak anak masing-masing sehingga pada akhirnya mereka bertiga juga ikut bersahabat .
Sakura mengerti kalau Sasuke terlalu malu mengakuinya. Matanya terlihat merah dan bengkak seperti habis menangis dalam waktu yang lama.
"Omong-omong, kudengar kemarin orang tuamu datang ke konser bersama adikmu?" tanya Sakura pada Naruto.
Naruto merasa tidak enak menjawabnya. Kemarin Sasuke baru saja menangis karena keluarganya tidak memungkinkan untuk datang ketika keluarga personil band lainnya menghadiri konser. Kedua sepupu Sai yang beberapa tahun terakhir berhubungan dekat dengannya bahkan juga menghadiri konser kemarin.
"Begitulah. Aku merasa takut ketika mengirimkan tiket melalui Naruko. Soalnya kami sudah beberapa tahun ini tidak saling bicara, sih."
Sakura yang merupakan sahabat kedua lelaki itu tahu persis bagaimana hubungan kedua sahabatnya bersama dengan keluarga mereka. Kedua orang tua Naruto memutus komunikasi dengan Naruto, begitupun dengan fasilitas yang sebelumnya diterima. Dan ia tahu berapa beratnya perjuangan Naruto hingga bisa menjadi seperti sekarang.
"Untung saja mereka mau datang. Berarti hubunganmu sudah membaik, kan?"
Naruto mengangguk, "Ayahku menemuiku setelah konser selesai untuk mengucapkan selamat, sedangkan ibuku memelukku. Katanya aku boleh kembali ke rumah kalau aku mau."
"Syukurlah," ucap Sakura dengan lega. Ia mengalihkan pandangan pada Sasuke yang sejak tadi hanya diam saja.
"Bagaimana denganmu, Sasuke? Apakah keluargamu dat-"
Ucapan Sakura terputus ketika Naruto mendadak meletakkan satu tangan di samping bibirnya untuk menutupi gerakan bibirnya adar tidak dilihat Sasuke, sedangkan tangan lainnya meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Sasuke segera berkata, "Mereka tidak bisa datang kemarin."
Sakura mengangguk. Ia mengerti kalau sepertinya sulit membawa Itachi datang ke konser yang dipenuhi dengan orang berpakaian hitam yang bersorak atau melakukan head bang seperti orang kerasukan. Bisa-bisa Itachi malah berteriak ketakutan dan menyebabkan kekacauan di konser. Ibu Sasuke juga akan kesulitan menjaga Itachi di sebuah ruangan yang dipenuhi puluhan ribu orang itu.
"Tapi setidaknya kalian berhasil mewujudkan impian kalian berdiri di panggung Tokyo Dome, kan? Selamat, ya. Aku benar-benar bangga pada kalian," ucap Sakura sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan kedua sahabatnya.
Sasuke dan Naruto bergantian menyambut uluran tangan itu dan Sakura tersenyum sangat lebar, merasa bangga pada kedua sahabatnya.
"Omong-omong, apa impian kalian berdua selanjutnya?"
"Aku berharap band ini bisa semakin populer. Suatu saat nanti aku berharap bisa berdiri di atas panggung di Amerika," ujar Naruto sambil tersenyum, mengutarakan impian selanjutnya yang lebih besar ketimbang impian sebelumnya yang telah tercapai.
Sakura meremas tangan Naruto kuat-kuat dan berkata, "Bagus! Kau pasti bisa!"
Naruto tersenyum. Beginilah tradisi di antara mereka. Ketika salah seorang dari mereka akan melakukan sesuatu, yang lainnya akan meremas tangan kuat-kuat dan memberikan semangat. Dan Sasuke pun menepuk bahu Naruto dengan keras hingga Naruto berjengit dan berkata, "Kita pasti bisa, dobe."
Sasuke tak berani mengatakan impian yang sesungguhnya. Sesungguhnya, impiannya terdengar sulit meski tidak mustahil. Ia tidak berharap berdiri di panggung yang lebih megah, berkolaborasi dengan band Internasional yang terkenal atau menjadi band paling populer di Jepang.
Sasuke memiliki tiga impian, yakni membuat keluarganya hidup nyaman dan membayar pengobatan biaya pengobatan ibunya tanpa harus membuat seluruh keluarganya harus berhemat gila-gilaan. Dan Sasuke juga berharap agar suatu saat nanti ibu dan kakaknya bisa hadir di salah satu konsernya meskipun tampaknya tidak mungkin.
-TBC-
