Suara gaduh berasal dari sebuah kamar memecah heningnya malam. Seorang namja tampan dengan surai dark lavender-nya tengah berteriak tak percaya sembari menatap benda kecil berlogo apel tergigit –ponsel– ditangannya.
"Jinja?" terdengar nada tak percaya di setiap teriakannya.
Pintu kamar tersebut terbuka kasar. "Yak, Kim Taehyung. Apa kau sudah gila?" teriak namja yang lebih tinggi.
"Ne," sahut pria yang sedari tadi membuat kegaduhan –yang ternyata bernama Taehyung– dengan entengnya.
"Jadi, kau benar-benar gila?" tanya namja yang sempat meneriaki Taehyung.
"Tentu saja," jawab Taehyung yang masih fokus pada ponselnya. "Gila karena bunny manisku, Jin-hyung. Sepertinya usahaku akan memperoleh hasil yang baik," Taehyung menunjukkan cengiran bodohnya pada namja bernama Jin.
"Ewh, cheesy. Memangnya ada apa lagi dengan Jungkook-ku?" tanya Jin penasaran. Yap, kalian pasti ingat Jungkook sudah dianggap Jin sebagai adiknya sendiri. Lalu apa hubungannya Jin dengan Taehyung? Jin merupakan sepupu Taehyung, asal kalian tahu.
"Jungkook-ku!" teriak Taehyung tak terima.
"Benarkah? Bahkan kau tak berani muncul di hadapannya," Jin menunjukkan ekspresi mengejek miliknya.
"Aku berani!" teriak Taehyung tak terima –lagi–.
"Hanya berani sebagai Kim Taehyung, seorang namja populer yang aktif pada organisasi fakultas dan juga organisasi jurusan dalam satu waktu. Bukan sebagai alien –bodoh– yang diutus turun ke bumi, yang selalu mengiriminya makanan dengan sticky note warna-warni," sahut Jin yang masih menunjukkan ekspresi mengejeknya.
"Bagaimana kau tahu julukan itu?" Taehyung menatap Jin penuh selidik.
Bukannya menjawab, Jin malah memukul kepala sepupunya itu. "Apa kau hanya memiliki predikat aktif saja? Ku rasa kau tak sebodoh ini sebelumnya. Apa Jungkook-ku sangat berpengaruh?"
"Yak, dia Jungkook-ku!"
"Buktinya?"
"Akan ku buktikan!"
.
.
Matahari tak sungkan memunjukkan sinarnya, membuat setiap manusia terpaksa bangun dari alam mimpi untuk melanjutkan aktivitas mereka di pagi hari.
"Kook, tidak ada kelas pagi?" Wonwoo duduk dan mengguncang tubuh yang tengah tertidur di sebelahnya.
"Aku semester ini tidak mengambil kelas pagi, hyung," jawab Jungkook sembari menarik selimutnya dan merapat kearah Wonwoo.
"Lalu? Kenapa kau sering meninggalkanku?" tanya Wonwoo mengernyit.
"Karena aku ada tugas kepanitiaan," jawabnya singkat.
"Lalu sekarang?"
"Kenapa?"
"Apa sudah selesai?"
"Belum lah, acaranya saja belum berjalan," Jungkook menjawab sekenannya.
Wonwoo menganggukkan kepalanya pelan. "Apa setiap panitia harus mendapatkan peserta?"
Jungkook duduk menghadap Wonwoo dan menyilangkan kakinya. Menggangguk sekilas. "Target setiap panitia minimal mendapat lima peserta. Sedangkan aku masih mendapat empat peserta. Asal kau tahu hyung, membujuk angkatan atas itu sangatlah susah. Kau pasti tahu ini dari Jisoo-hyung."
"Aku sudah pernah merasakan berada di posisimu, bodoh. Apa kau lupa jika aku ini sekretaris program kerja sertifikasi tahun lalu? Siapa saja empat itu? Dari luar universitas? Atau dari dalam?" tanya Wonwoo yang fokus pada ponselnya.
"Dari dalam lah, hyung. Bahkan aku menghilangkan ponselku saat liburan semester lalu, yang pasti kontak kakak kelasku yang beda universitas sudah hilang bersamaan dengan hilangnya ponselku."
"Lalu? Kenapa tidak dari angkatanmu saja?"
"Hanya satu mahasiswa. Kan angkatanku baru mendapatkan mata kuliah itu semester depan!"
"Lalu siapa saja empat yang berhasil kau bujuk?"
"Jinyoung-hyung, Seungcheol-hyung, Jihoon-hyung, Jun-hyung. Dan mereka juga sudah melengkapi semua syarat pendaftaran."
"Lalu kau masih butuh lagi?"
"Satu lagi, hyung. Baru tugasku mencari peserta selesai, dan aku kembali pada tugas utama yang hanya merekap."
"Kenapa tidak mendaftarkan namaku saja?" Wonwoo beranjak keluar kamar Jungkook sembari tersenyum kecil melihat adiknya yang masih terdiam di tempatnya dengan mulut sedikit terbuka.
Seakan tak percaya dan merasa dibodohi oleh kakaknya, atau memang dia yang bodoh. Jungkook memandang pintu yang baru saja tertutup itu.
"Bagaimana bisa aku lupa memiliki kakak di angkatan atas?" Jungkook masih berdiam diri di tempatnya.
"Jungkook, bersihkan kamarmu dan segera keluar!" teriakan dari arah luar kamar menghentikan aktivitas –jika saja berdiam diri merupakan aktivitas– Jungkook.
Jungkook segera beranjak dari ranjangnya dan melipat sebuah selimut diatasnya.
"Hyung," Jungkook keluar kamar dengan membawa beberapa lembar kertas beserta tas kuliahnya yang ia lempar ke sofa saat melewatinya.
Tak mendengar jawaban apapun, Jungkook mendudukkan dirinya di kursi meja makan yang sudah terhidang nasi goreng kimchi ala Wonwoo. Jungkook sibuk mencoretkan sesuatu pada lembaran yang ia bawa dari dalam kamar.
Terdengar pintu sebelah kamar Jungkook terbuka, menampilkan sosok Wonwoo yang kini sama rapinya dengan Jungkook. Kaos putih polos dipadu dengan kemeja biru beserta celana hitam.
Jungkook menolehkan kepalanya ke sumber suara dengan menggigit kecil bolpoinnya. "Kok sama birunya sih, hyung?" Jungkook protes saat melihat ke arah kakaknya.
"Mana ku tahu, aku baru saja keluar. Lagian biasanya pakai kaos hitam kenapa sekarang putih?" Wonwoo tak terima dengan protes adiknya.
"Adanya ini," Jungkook menunjukkan cengiran khasnya.
"Jangan begitu, atau gigimu akan ku copot."
"Jangan begitu, bilang saja kau nge-fans dengan gigi kelinciku."
'Bagaimana bisa aku nge-fans dengan gigi? Dasar, untung adik.'
"Hyung, suara hatimu terlalu keras."
"Kau sedang apa?" Wonwoo mengabaikan ucapan sang adik dan berjalan kearah meja makan.
"Mengisi data dirimu, tentu saja," jawab Jungkook sekenannya.
Wonwoo mengambil dua piring, sesekali melirik lembaran Jungkook. Meletakkan satu piring dihadapannya dan piring yang lain dihadapan Jungkook.
"Nah, selesai." Jungkook menatap lembarannya dengan tatapan takjub. "Hyung, kau ingin berpartisipasi sungguhan kan?" tanya Jungkook beralih menatap Wonwoo.
"Tentu saja, kau pikir aku bercanda? Itu biaya pendaftarannya terlalu mahal untuk dijadikan lelucon, bodoh."
"Ah aku cerdas, tentu saja."
"Terserah."
"Hyung, periksalah." Jungkook menyerahkan kertasnya pada Wonwoo.
Wonwoo menerima kertas yang diberikan oleh adiknya. "Bagaimana bisa kau menghafal nomor induk mahasiswaku?" tanya Wonwoo penasaran, karena memang Wonwoo sendiri pun tidak menghafalnya.
"Aku kan adik yang baik," Jungkook tersenyum bangga.
"Terserah kau saja. Ayo makan." Wonwoo beranjak dari kursinya untuk memasukkan kertas formulir pendaftarannya ke dalam tas adiknya.
"Hyung, apa kurang?" tanya Jungkook yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piring Wonwoo.
"Ani, sudah cukup," jawab Wonwoo yang telah kembali duduk di kursinya.
.
.
.
Secret Admirer
Chapter 04
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo
.
.
Jungkook dan Wonwoo memasuki area parkir. Hari ini parkiran kampus terlihat lebih padat dari biasanya. Bagaimana tidak padat? Bahkan hari ini mereka datang lebih siang dari biasanya. Jungkook dan Wonwoo menuruni mobil audi putih yang mereka tumpangi.
"Kook, selesai jam berapa?" tanya Wonwoo berjalan ke arah adiknya.
"Jam enam sore, hyung" jawab Jungkook yang tengah melihat arlojinya.
"Yasudah aku ada kelas jam satu, kemungkinan jam tiga selesai. Nanti aku langsung pulang mengerjakan tugas, tugasku untuk besok banyak. Telfon saja jika pulang, akan ku jemput."
"Ne, arraseo." Jungkook memperhatikan kakaknya yang tengah berjalan menjauh menuju kelasnya.
Ponsel Jungkook berbunyi, dengan segera ia mencari ponselnya di dalam tas.
Message from Alien
Jungkook mengerutkan keningnya heran, dan memutuskan untuk membuka pesan tersebut.
Alien: Selamat pagi menjelang siang, bunny. Semoga harimu menyenangkan. Wah, hari ini kalian terlihat seperti anak kembar. Tapi aku lebih menyukai yang kini tertinggal berdiri di samping mobil putih itu.
.
"Aish, giliran diajak bertemu malah tidak menjawab," Jungkook menggerutu kesal. Hampir saja ia memasukkan ponselnya kedalam saku celana, jika saja benda tersebut tak berbunyi.
Message from Alien
Mata bulat Jungkook membola seketika setelah menerima pesan singkat dari orang yang sama.
Alien: Jangan memasang muka kesal, aku tak tahan ingin mencubit pipi gembulmu itu. Dan jangan menggerutu, ayo kita bertemu.
Jungkook:Benarkah?
Alien: Apa kau sebahagia itu? Kontrol ekspresimu, astaga rasanya tanganku benar-benar ingin berlari mencubit pipi gembul itu.
Jungkook:Baiklah, baiklah. Kapan? Dimana? Jam berapa?
Alien: Tentukan. Aku akan datang.
Jungkook:Baiklah. Hari ini, halte bus depan. Jam enam sore.
Alien: Kenapa di halte bus?
Jungkook:Kau bilang terserahku kan?
Alien: Ya memang, tapi kenapa? Bukankah kau dijemput hyung-mu?
Jungkook:Bagaimana kau tahu? Ah tapi aku memutuskan untuk pulang sendiri hari ini, tentu saja aku tidak mau merepotkan hyung-ku. Dia sedang banyak tugas akhir-akhir ini.
Alien: Baiklah hari ini, jam enam sore, di halte bus.
.
Jungkook memasukkan ponselnya ke dalam saku celana hitamnya dan melangkah ringan menuju ruang organisasi.
"Hai, Kook," sapa seorang namja bertubuh mungil yang tengah berdiri di depan ruang organisasi jurusannya.
"Oh hai, Jim. Ada perlu? Kenapa tidak masuk?" tanya Jungkook heran.
"Ani, aku hanya mengantar Taehyung memberikan sertifikat untukmu di program kemarin," jawab Jimin.
"Ah begitu, ayo masuk saja tidak apa," ajak Jungkook yang hendak memasuki ruangan.
"Ani, aku disini saja. Aku juga sedang menunggu seseorang," tolak Jimin halus.
"Baiklah, aku masuk dulu, ne?"
Jungkook memasuki ruangan organisasi sembari melepas sepatunya. "Annyeong" terdengar suara ribut dari arah karpet ruangan. Dapat diyakini itu suara Mingyu dan Bambam.
Jungkook berjalan acuh menuju mejanya.
"Baru datang, Kook?" tanya Namjoon yang tengah memiliki seorang tamu di hadapannya.
Jungkook hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan.
"Kook, tidak bawa minum?" tanya Mingyu.
"Tidak bawa jajan?" lanjut Bambam.
"Dikira Jungkook kantin," sahut seseorang yang kini tengah memunculkan kepalanya di pintu ruang organisasi.
"Eh, Wonwoo-hyung," Mingyu dan Bambam secara bersamaan menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Wonwoo-hyung sudah makan?" tanya Mingyu sehalus mungkin.
"Sudah tadi," jawab Wonwoo sekenannya. "Sama Jungkook lagi," lanjutnya sembari terkekeh kecil.
"Jungkook, kok makan sama kekasihku?" tanya Mingyu tak terima.
"Bodoh, dia kakakku," jawab Jungkook sekenannya. "Ada apa, hyung?" tanya Jungkook yang kini mendekat kearah Wonwoo.
"Formulirnya sudah ku masukkan tasmu apa belum? Aku tiba-tiba lupa," Wonwoo tampak kebingungan.
"Kalau pun hilang aku akan memberimu lagi, hyung. Aku punya banyak," sahut Jungkook ringan sembari berjalan menuju mejanya tempat ia meninggalkan tas.
"Kau mengikuti sertifikasi?" tanya Namjoon yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Wonwoo.
"Sayangnya sih iya," jawab Wonwoo sekenannya.
"Ini, sudah ada," Jungkook mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.
Bukannya kembali ke kelas, Wonwoo dengan santainya mendaratkan pantatnya di kursi singgasana Jungkook.
"Dosenku telat, aku kesini dengan Jin. Tapi entah, katanya ke toilet," ucap Wonwoo seakan mengerti dengan tatapan adiknya.
"Wonwoo-ya kau meninggalkan Jin di toilet?" Namjoon bertanya pada orang yang tengah duduk di sebelahnya.
"Ne. Tapi aku bilang kalau mau ke ruang organisasi kok," jawab Wonwoo santai sembari merapikan beberapa koleksi buku manga milik adiknya yang ada di meja.
Wonwoo tak sengaja membuka laci meja tersebut. "Kook, kau mendapatkannya lagi loh. Apa kau sudah tau?" Wonwoo mengangkat tangannya memegang kotak bekal berisi beberapa potong sandwich di dalamnya dan juga sticky note merah tertempel dibagian tutup kotak bekal.
"Ani, aku baru saja menaruh tas dan kau datang. Mana hyung," Jungkook mengambil kotak makan dari tangan Wonwoo.
.
Syukurlah, kau sudah sarapan pagi ini.
Jangan lupa dimakan, kelasmu berakhir jam enam sore.
Pastikan perutmu tidak dalam keadaan kosong, ne?
See you, bunny. Aku menunggumu.
Your love,
Alien yang diutus turun ke bumi.
.
"Kau masih lapar?" tanya Wonwoo menatap adiknya.
"Ani, untuk makan siangku," jawab Jungkook sembari memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas dan menyerahkan sticky note ke Wonwoo untuk disimpan di dalam laci
"Wonwoo, dosennya di lantai satu," Jin berteriak dari arah pintu dan membuat Wonwoo langsung berdiri dari duduknya.
"Dasar, untung kakak," umpat Jungkook berjalan mendekati kursi singgasananya.
"Kook, sertifikatnya sudah dibagi," Namjoon menyerahkan satu lembar kertas berukuran A4 yang telah didesain menjadi sebuah sertifikat.
"Sudah jadi ya? Kemarin punyaku salah nama. Jadi tidak bisa langsung diberikan saat hari penutupan," ucap Jungkook melihat namanya di sertifikat yang diberikan Namjoon.
"Benarkah?" tanya Namjoon tak percaya.
"Aku sudah mengatakannya, hyung. Aku ini perwakilan panitia yang disuruh minta maaf, padahal aku peserta," sahut tamu dihadapan Namjoon.
"Eh, Taehyung tadi ada Jimin di depan," Jungkook memberitahu Taehyung tentang keberadaan Jimin yang tadi ditemuinya.
"Dia sudah pergi menemui Yoongi-hyung, Kook" Taehyung membalas perkataan Jungkook.
Jungkook menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.
"Bagaimana, apa sesi pertama seru?" tanya Namjoon pada Jungkook dan juga Taehyung yang kini kembali fokus pada kertas di depannya.
"Ah, kami satu kelompok saat itu," jawab Taehyung yang dibalas anggukan antusias Jungkook.
"Kami juga satu kelompok dengan Jackson-hyung," Jungkook sembari mengeraskan suaranya sedikit.
"Apa kau bercanda?" dan benar saja terdengar suara teriakan dari arah karpet ruang organisasi.
"Bam, pelankan suaramu. Aku sedang berusaha tidur."
Jungkook hanya terkekeh pelan menunjukkan gigi kelincinya.
Namjoon yang mengetahui maksud Jungkook pun diam-diam bergumam pelan, "dasar kelinci ini."
.
.
Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Jungkook duduk diatas karpet untuk merenggangkan ototnya.
"Kook, sudah bangun?" tanya Mingyu yang kini duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Jungkook sembari mengunyah roti di dalam mulutnya.
"Hm," Jungkook menganggukkan beberapa kali, berdiri menuju kamar mandi mahasiswa yang terletak beberapa meter didepan ruang organisasi jurusannya.
Jungkook kembali memasuki ruangan, berjalan kearah mejanya dan mendudukkan pantatnya pada kursi dihadapan Mingyu.
"Kalian mau?" tawar Jungkook saat membuka kotak bekal yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Aku baru saja menghabiskan lima roti yang diberikan Wonwoo-hyung," jawab Mingyu menunjuk sisa kemasan yang berserahkan diatas meja.
"Aku baru saja menghabiskan dua porsi chicken cutlets tadi," jawab Bambam yang tengah fokus dengan ponselnya.
Jungkook mengangguk pelan sembari mengambil potongan sandwich dari dalam kotak bekalnya.
"Gyu tolong cabutkan ponselku sekalian," ucap Jungkook pada Mingyu yang tengah mencabut charger ponsel miliknya.
"8 messages unread," Mingyu berdecak kagum melihat layar Jungkook yang sempat menyala.
"Apa ada yang mencariku saat aku tidur?" tanya Jungkook.
"Hanya Wonwoo-hyung, Jisoo-hyung," jawab Bambam yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
8 messages from 3 chats
Jungkook segera membuka aplikasi chat di ponselnya.
.
Alien:Bunny, pastikan kau memakan sandwich-nya. Jangan sampai perutmu kosong.
Alien:Bunny, kau tidur, eoh?
Alien:Yak, jangan lupakan makan siangmu. Bangunlah untuk mengisi perut.
Alien:Bunny, apa kau sudah bangun? Makanlah dulu. Tidurlah setelahnya.
Alien:Apa aku harus memerintahkan kedua temanmu untuk membangunkanmu?
.
Hyung-ie: Kook-ie kau dimana? Mau roti tidak? Aku akan membawakan roti untuk Mingyu.
Hyung-ie: Kau mengabaikanku? Kau tidak mau ku bawakan apapun? Ah baiklah jika itu mau mu.
.
Jisoo-hyung: Kook-ah, tinggal satu peserta lagi kita memenuhi target peserta.
.
Jungkook tersenyum kecil memandang ponselnya.
"Gyu, apa Wonwoo-hyung tahu jika aku tertidur?" tanya Jungkook pada Mingyu.
"Tentu saja, dia hanya bergumam lalu berpesan jika dia pulang dulu nanti disuruh telfon," jawab Mingyu sembari memunguti semua kemasan rotinya.
Jungkook menghela napas pelan dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
.
Hyung-ie: Kook-ie kau dimana? Mau roti tidak? Aku akan membawakan roti untuk Mingyu.
Hyung-ie: Kau mengabaikanku? Kau tidak mau ku bawakan apapun? Ah baiklah jika itu mau mu.
Jungkook: Maafkan aku ketiduran, hyung. Hehe Oh ya hyung, aku pulang terlambat, ne? Aku ingin bertemu si Alien.
.
Jisoo-hyung: Kook-ah, tinggal satu peserta lagi kita memenuhi target peserta.
Jungkook: Aku sudah dapat satu peserta, hyung. Data dirinya sudah aku rekap direkapanku.
.
Alien:Bunny, pastikan kau memakan sandwich-nya. Jangan sampai perutmu kosong.
Alien:Bunny, kau tidur, eoh?
Alien:Yak, jangan lupakan makan siangmu. Bangunlah untuk mengisi perut.
Alien:Bunny, apa kau sudah bangun? Makanlah dulu. Tidurlah setelahnya.
Alien:Apa aku harus memerintahkan kedua temanmu untuk membangunkanmu?
Jungkook: Ini ku makan, tenang saja sudah hampir habis kok.
.
"Kook, ayo ke kelas," Bambam meraih gagang pintu ruangan bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Iya tunggu sebentar," Jungkook membuka laci mengambil benda yang ia cari untuk segera dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Dan dengan segera menyusul kedua temannya yang tengah menunggu di depan ruang organisasi.
.
.
Beberapa mahasiswa di sebuah ruangan berdesak tak sabar berhamburan keluar ruangan. Tapi, tidak dengan tiga mahasiswa yang masih setia duduk di bangku ruangan sembari menatap teman-teman angkatannya yang tengah berdesakan di pintu ruangan tersebut.
"Kook, ayo ku antar," ucap Mingyu pada Jungkook.
"Aku ada janji, aku sudah bilang Wonwoo-hyung. Kau ke apartement-ku saja, temani Wonwoo-hyung, pastikan dia makan di tengah tugasnya yang menumpuk itu," balas Jungkook tersenyum kecil.
"Benarkah? Biarkan aku menelfon hyung-mu dulu," Mingyu men-scroll kontak pada ponselnya dan menekan tombol telfon pada kontak Wonwoo. Tak lupa menekan tombol loudspeaker pada layar ponselnya.
.
My Wonwoo: Yeoboseo?
Mingyu: Hyung, apa benar Jungkook sudah izin pulang terlambat?
My Wonwoo: Ne, sudah kok. Kemarilah.
Mingyu: Baiklah. Tunggu 15 menit aku akan sampai.
.
"Benarkan?" Jungkook menatap Mingyu.
"Iya iya, hati-hati," Mingyu menatap Jungkook malas.
"Bam, pulang sendiri?" tanya Jungkook.
"Ani," jawab Bambam tersenyum kecil.
"Sama siapa?" tanya Mingyu penasaran.
"Jackson-hyung," teriak Bambam saat melihat sosok namja yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Hai," sapa Jackson pada ketiga mahasiswa yang tengah menetap di ruang kuliah itu.
"Kalian?" Jungkook menatap Bambam dan Jackson secara bergantian.
"Tentu saja, sudah ya kita pergi dulu," Bambam berlalu bersama Jackson.
"Bagaimana bisa?" Mingyu dan Jungkook hanya saling pandang.
"Ah sudah jam enam kurang sepuluh menit, aku harus pergi. Ayo keluar," ucap Jungkook yang sadar saat melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
.
.
Jungkook berjalan santai kearah halte bus depan kampus dengan earphone yang tengah terhubung dengan telinga dan ponselnya.
Tak ada orang. Jungkook menemukan sebuah kotak dengan ukuran sedang di halte tersebut, sedikit penasaran ia mendekati kotak tersebut. Melirik sticky note kuning yang tertempel pada kotak.
.
Jika kau JEON JUNGKOOK.
Kali ini bukan makanan yang akan ku berikan untukmu.
Udara malam hari sangat menusuk kedalam pori. Maka ambillah, dan pakailah.
Tunggu aku beberapa menit lagi.
Aku akan sedikit terlambat.
Your love,
Alien yang diutus turun ke bumi.
.
Jungkook mendudukkan dirinya di samping kotak tersebut. Mengambil kotak beserta sticky note-nya. Jungkook membuka kotak tersebut.
"Rasanya tak asing," gumam Jungkook saat memperhatikan hoodie berwarna hitam di depannya.
Tanpa berpikir panjang, Jungkook yang merasakan udara semakin dingin memutuskan untuk mengenakan hoodie tersebut sesuai perintah si Alien. Jungkook merasakan getaran pada ponselnya.
Message from Alien
Jungkook membuka lockscreen ponsel yang sedari tadi ia genggam.
.
Alien:Ah rasanya aku seperti mimpi.
.
Jungkook mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi tetap tak menemukan sesosok yang mencurigakan di sekitarnya. Hanya ada orang yang berlalu lalang dan juga beberapa mobil yang melintas.
.
Alien:Ah rasanya aku seperti mimpi.
Jungkook: Kau dimana?
Alien:Kau mulai kedinginan ya? Maafkan aku.
Jungkook: Tunjukkan dirimu sekarang juga, Alien.
.
Jungkook tidak merasakan getaran notifikasi lagi setelahnya. Jungkook mendudukkan kepalanya, menggoyangkan kakinya menendang apapun yang berada di dekat kakinya.
Jungkook berjengit kecil saat merasakan tepukan pelan pada bahu kanannya, ia menolehkan kepalanya ke arah kanan untuk mencari tahu siapa yang menepuk bahunya. Namun nihil, tidak ada seorang pun di sebelah kanannya. Ia merasakan seseorang tengah mendudukkan diri di sisi kirinya, saat itu juga ia menolehkan kepalanya ke kiri.
"Kim Taehyung?"
.
.
.
to be continue
.
.
Cie ada Taehyung, asique wkwk –apasih–. Maafkan sudah hampir satu bulan tidak muncul, huhu. Masih bingung mau di end chap depan atau lanjut. Akhir-akhir ini jadi susah menemukan ide untuk melanjutkan –sedih–. Kemungkinan sih bakal end dulu, takut php kalo on hold mulu, heuheu. Ntar kalo idenya mampir lagi bakal lanjut dengan berbagai macam masalah. Maafkan aku yang jadi slow update gini.
Okay, maaf jika sangat banyak typo yang bertebaran. Saran kalian akan sangat membantu. Terima kasih banyak sudah menyempatkan membaca serta memberikan review.
sign,
chachajoa
