Black Ash mulai sibuk dengan berbagai kegiatan belakangan ini. Setelah mengeluarkan album terbaru yang disusul dengan konser di Tokyo Dome yang seluruh tiketnya habis terjual, kini mereka disibukkan dengan menjadi bintang tamu beberapa acara di televisi maupun menjadi tampil di berbagai acara musik yang disiarkan di televisi untuk mempromosikan album mereka.
Malam ini Sasuke menjadi bintang tamu di salah satu stasiun televisi bersama keempat rekannya. Ia merasa kelelahan setelah tampil di dua acara musik yang berbeda, namun sesekali ia tetap mengedarkan pandangan pada penonton yang membawa atribut bandnya, atau bahkan posternya. Sasuke memutuskan untuk tersenyum tipis dan menatap para fans yang didominasi kaum hawa dan terdengar suara jeritan tertahan beberapa fans yang merasa kalau Sasuke sedang memandangnya.
"Wow! Aku bisa melihat banyak sekali atribut band kalian di seluruh penjuru studio ini. Disana ada yang bertuliskan Yuu," ucap sang presenter wanita sambil menujuk ke sebelah kiri yang diikuti dengan tepuk tangan dan teriakan para fans Neji.
"Disana ada juga fans Rui, Sai dan Zuka," ucap presenter wanita sambil menujuk ke beberapa arah dan terdengar teriakan dari fans Naruto, Sai dan Kiba.
"Dan kulihat, banyak sekali fans Shu disini."
Terdengar teriakan yang sangat heboh begitu presenter selesai berbicara. Bahkan terdengar teriakan yang meneriakkan nama Shu, atau ada juga yang meneriakkan 'daisuki'.
Keempat rekan Sasuke tersenyum tipis dan memberikan fans service dengan lambaian atau kedipan mata pada fans masing-masing sebelum melirik Sasuke. Sasuke merasa agak risih karena ucapan presenter yang seolah berniat memecah belah mereka. Ia tahu kalau ia memiliki paling banyak fans diantara personil lainnya dan ia sendiri heran kenapa ada orang yang sampai mengidolakan dirinya. Ia tidak terlalu suka segala hal yang berlebihan, namun di sisi lain ia merasa senang karena ada orang yang mendukungnya.
"Bagaimaan perasaan kalian setelah konser di Tokyo Dome yang tiketnya terjual habis? Kita semua tahu kalau mengadakan konser di Tokyo Dome adalah impian banyak artis dan tidak semuanya bisa melakukannya. Namun hanya perlu empat tahun bagi kalian untuk bisa mengadakan konser disana dengan tiket yang habis terjual. Kalian benar-benar menakjubkan," ucap pria muda yang merupakan presenter acara.
Naruto, Sai, Neji dan Kiba hanya diam. Mereka semua menatap Sasuke dan berharap agar Sasuke yang menjawabnya karena lelaki itu adalah pemimpin band sekaligus 'wajah' dari Black Ash.
Sasuke terdiam dan pikirannya seolah melayang entah kemana. Ketika Naruto menyikutnya pelan, Sasuke baru tersadar dan ia segera menjawab dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya sebagai pembuka kalimat.
"Kami sama sekali tidak menyangka bisa berdiri di panggung yang megah seperti itu. Terima kasih kepada para fans kami sehingga kami akhirnya bisa mengadakan konser disana," ucap Sasuke sambil menundukkan kepala dan diikuti keempat personil lainnya.
Terdengar suara teriakan yang menggema dari para fans. Kedua presenter itu tersenyum dan berpandangan satu sama lain karena antusiasme fans yang begitu besar. Kabarnya, bahkan kuota penonton untuk hadir di studio langsung terisi seluruhnya dalam lima menit setelah tersiar kabar bahwa Black Ash akan menjadi narasumber malam ini.
"Aku juga menyaksikan konser itu dan kalian tampak sangat emosional sekaligus menakjubkan malam itu," ucap si presenter pria yang ternyata merupakan fans Black Ash.
Naruto mengambil alih dan memutuskan untuk menjawab sambil tersenyum, "Kami merasa begitu senang bisa memenuhi impian kami untuk koser di Tokyo Dome. Ketika band kami pertama kali terbentuk, kami bermain musik di jalanan dan jumlah penonton kami semakin berkurang setiap kali kami bermain. Ketika manajer mengatakan kalau kami dijadwalkan konser di Tokyo Dome, kami senang sekaligus khawatir kalau tidak banyak penonton yang datang. Namun ternyata tiket konser kami habis dalam beberapa jam dan saat itu aku rasanya ingin menangis. Lalu ketika aku berdiri di panggung dan menatap para penonton, rasanya air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi."
"Aku juga merasakan hal yang sama. Terlebih lagi, eluargaku menempuh perjalanan enam jam dari Osaka ke Tokyo hanya untuk menghadiri konserku dan aku merasa senang karena bisa membuat mereka bangga," timpal Kiba.
Sang presenter wanita menganggukan kepala dan berkata, "Kalau boleh tahu apa alasan kalian bergabung dalam band pertama kali?"
"Aku ingin menambah pemasukan," Sai mengaku dengan jujur, membuat perhatian para fans tertuju padanya.
Sai tak peduli, ia memang tipe orang yang berbicara secara blak-blakan. Hubungannya dengan kekasihnya semasa sekolah bahkan berakhir setelah ia mengatai wanita itu jelek karena ia memang merasa wajah wanita itu tidak cantik.
"Kalau aku, tentu saja karena aku menyukai musik. Sejak dulu aku memang bermimpi menjadi vokalis band rock," ucap Naruto.
"Aku juga ingin menjadi seorang gitaris. Karena itulah aku memutuskan bergabung dengan band dan tidak berniat bekerja di kantor," jawab Neji.
"Bagaimana dengan kalian, Zuka-san, Shu-san?" tanya presenter pria pada Sasuke dan Kiba.
"Karena keahlianku hanya bermain bass, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan banyak uang hanyalah menjadi bassist. Aku ingin membuat orang tuaku bangga kalau aku bisa sukses," jawab Kiba.
Sasuke terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab tanpa membuat dirinya terlihat begitu emosional. Sebetulnya kondisinya tak berbeda jauh dengan Kiba. Meski ia bisa saja menggunakan keahliannya untuk bekerja di perusahaan besar, namun ia tak akan bisa memiliki waktu luang untuk memperhatikan ibu dan kakaknya sehingga satu-satunya pilihan untuk mendapatkan uang ialah mnejadi drummer sekaligus pianis serta melakukan pekerjaan paruh waktu. Namun ternyata kini ia malah begitu sibuk hingga tak memiliki waktu untuk keluarga.
Sasuke menyadari kalau para fansnya menatap kearahnya, menunggu jawaban darinya. Dan Sasuke menjawab, "Aku ingin mencari tambahan uang sekaligus melakukan hobiku."
"Begitukah? Omong-omong kudengar Shu-san selalu pulang lebih awal dari tempat konser dan bertemu fans. Apakah itu benar?"
Sasuke sudah mendengar berbagai rumor mengenai dirinya maupun anggota band lainnya, baik yang benar-benar palsu, mengandung sedikit kebenaran atau memang benar. Namun ia terkejut karea mendapat pertanyaan semacam itu saat wawancara.
Sebetulnya Sasuke ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun di satu sisi ia merasa malu mengakui kalau ia memiliki seorang kakak yang tidak normal. Ia takut kalau image nya sebagai seorang public figure akan hancur.
Saat inipun image Sasuke sudah tidak begitu bagus. Semua orang sudah tahu kalau ia adalah putra seorang konglomerat yang bangkrut dan ayahnya melakukan bunuh diri. Ia bahkan pernah mendapatkan paket berisi tali tambang dan racun tikus serta pesan yang menyuruhnya bunuh diri seperti sang ayah.
"Sebuah pernyataan bukanlah fakta kalau tidak ada bukti nya," ujar Sasuke dengan tenang.
Beberapa fans Sasuke spontan bersorak seketika. Mereka menganggap jawaban Sasuke yang ambigu sebagai sesuatu yang keren, membuat Sasuke merasa heran.
.
.
"Aku mau pergi ke Taiwan bulan depan," ujar Ino sambil menatap kedua sahabatnya.
Sakura dan Tenten mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ino. Wanita itu pasti sudah gila karena berani-beraninya pergi ke luar negeri ketika bulan depan adalah tahun tutup buku sehingga seluruh karyawan divisi accounting akan sangat sibuk sampai harus lembur dan menginap di kantor.
"Kau tidak serius, kan?"
Ino tersenyum, "Aku sangat serius, tuh."
Seketika Tenten membelalakan matanya lebar-lebar. Bagaimana bisa Ino mendapatkan ijin berlibur dengan mudah di saat sibuk ketika pegawai lainnya bahkan sampai harus berbohong untuk memakai jatah cutinya di saat sibuk agar diijinkan.
"Hah? Memangnya Anko-san memberikan ijin padamu?
"Tentu saja. Kami bahkan akan pergi bersama, lho. Rencananya kami akan menonton konser Black Ash bersama," ucap Ino sambil tersenyum.
Baik Sakura maupun Tenten tak pernah mengira kalau Ino berhasil akrab dengan manajer HRD yang terkenal tegas dan galak karena mereka berdua sama-sama menyukai Black Ash. Sepertinya 'virus' Black Ash mulai merebak di kantor mereka tanpa disadari.
Ino adalah fans Black Ash yang sangat berdedikasi. Ia menonton setiap konser Black Ash di Jepang sejak ia mulai menyukai band itu dan ia bahkan membeli banyak album agar Black Ash berhasil meraih peringkat satu di berbagai chart dan ia bahkan memiliki banyak merchandise Black Ash, khususnya Shu.
Seluruh anggota Black Ash pernah berurusan dengan fans gila yang menguntit mereka atau melakukan hal lain yang membuat mereka tidak nyaman. Sakura bahkan ingat kalau Naruto pernah merasa ketakutan setelah menaruh tas di sofa yang berada di back stage secara sembarangan dan ketika membuka tas untuk mengambil baju ganti, Naruto tersadar kalau celana dalamnya hilang. Setelah dilakukan pengecekan terhadap CCTV, ternyata beberapa fans gila bekerja sama dengan menyamar sebagai petugas kebersihan untuk masuk ke back stage dan mencuri celana dalam Naruto.
Sakura dan Tenten sungguh berharap agar Ino tidak termasuk sebagai salah satu fans gila yang kerap membuat semua personil Black Ash merasa tidak nyaman.
"Konser di Taiwan itu sebagai bagian dari world tour, kan?"
Pertanyaan Sakura membuat Ino terkejut. Ia pikir Sakura sama sekali tidak tertarik dengan Black Ash, namun ternyata wanita itu bisa mengetahuinya juga.
"Iya. Kok tahu? Memangnya kau fans juga?"
"Aku sekadar suka lagunya sih. Aku membaca berita di Lime setiap hari. Jadinya aku tahu."
Sakura tidak sepenuhnya berbohong. Harus ia akui kalau lagu Black Ash memang enak. Kebetulan ia memang menyukai band-band visual kei, namun ia juga menyukai music klasik. Dan ia merasa kalau Black Ash merilis banyak lagu yang sesuai seleranya.
"Uh… aku benar-benar tak mengerti denganmu, Sakura. Bagaimana bisa kau tidak terpikat dengan pesona satupun member Black Ash? Shu itu tampan sekali, dan kurasa Sai juga lumayan."
Sakura belum sempat menjawab ketika Ino mendadak menyilangkan tangan di depan dada dan bergidik ngeri, "Atau jangan-jangan kau lesbian? Hiiy."
Dalam hati Sakura merasa ingin tertawa. Bagaimana bisa ia terpesona dengan kedua sahabat yang ia kenal sejak kecil? Ia saja masih ingat ketika kecil Naruto dan Sasuke pernah berebut makanan dan Naruto menangis keras karena kalah. Dan Sasuke saat kecil juga benar-benar manja pada kakaknya hingga sering memanjat tubuh kakaknya dan menjadikan tubuh Itachi sebagai kuda ketika ia belum mengerti seperti apa keadaan Itachi yang sesungguhnya. Sakura mengetahui terlalu banyak sisi konyol dari kedua sahabatnya dan tidak bisa mengagumi mereka seperti layaknya seorang fans.
"Kau lupa? Dulu kita bertiga pernah menonton film 'itu' bersama, lalu kau dan aku berteriak heboh. Bagaimana mungkin aku lesbian?"
Wajah Ino memerah karena malu. Dulu mereka bertiga pernah menonton video porno gay karena penasaran apa yang menyenangkan dengan seks diantara dua pria hingga banyak lelaki menjadi gay. Seharusnya mereka berdua merasa jijik, namun mereka malah menjerit senang karena melihat tubuh seksi dua pria dan tidak mendapati wanita seperti di film porno straight.
Tenten merasa malu dengan pembicaraan vulgar kedua sahabatnya meski ia sendiri juga tertarik dengan hal semacam itu meski tak berani menunjukkannya terang-terangan.
.
.
Sasuke membuka pintu apartemen dengan suara perlahan di malam hari, hal yang belakangan ini begitu sering ia lakukan hingga terasa seperti sebuah rutinitas.
Jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan Sasuke yakin kalau seluruh penghuni rumahnya sudah tidur sehingga ia tidak perlu mengucapkan 'aku pulang'.
Tubuh Sasuke terasa pegal luar biasa setelah berjam-jam memainkan drum untuk tampil di beberapa acara musik yang disiarkan di televisi. Ketik band diundang untuk menghadiri talk show, Sasuke berpikir kalau ia bisa beristirahat karena ia hanya perlu duduk dan menanggapi pertanyaan. Namun ternyata presenter meminta bandnya memainkan lagu terbaru mereka sehingga Sasuke lagi-lagi harus bermain drum.
Sasuke memiliki kebiasaan untuk membawa pakaian yang akan ia pakai untuk tidur kemanapun ia pergi. Terkadang ketika ia pulang ke rumah, ia sudah terlalu lelah untuk mengambil pakaian di lemari dan menuju kamar mandi untuk mandi lalu kembali lagi ke kamar. Jika ia membwa pakaian tidurnya, ia bisa langsung mandi saat pulang lalu segera tidur.
Sasuke berniat berjalan menuju kamar mandi, namun tatapannya tertuju pada Itachi yang tertidur sambil menelungkup di meja dengan makanan yang tak tersentuh dihadapannya.
Sasuke mengernyitkan dahi. Mengapa lelaki itu tidak menyentuh makanannya meski jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam? Padahal biasanya Itachi akan memakan apapun yang dihidangkan untuknya, meski hanya mi instan atau nasi kepal dengan sejumput garam di dalamnya.
Sasuke menghampiri Itachi dan berniat menyentuhnya untuk menggendong lelaki itu. Namun ia baru teringat kalau tubuh lelaki itu lebih berat dibanding yang terlihat. Bahkan sebetulnya tubuh lelaki itu lebih berat ketimbang Sasuke meski terlihat kurus, entah karena ukuran tulang yang lebih besar atau karena hal lainnya. Saat ini Sasuke jelas terlalu lelah untuk menggendong lelaki itu ke kamar.
Sasuke menepuk lengan Itachi dengan cukup keras hingga membuat lelaki itu segera terbangun dan mengucek matanya serta menatap Sasuke.
"Kenapa kau membiarkan makananmu begitu saja dan malah tertidur di depan makananmu? Makananmu malah jadi dingin."
Itachi mengerjapkan mata mendengar ucapan panjang lebar dari Sasuke. Otaknya berusaha mencerna apa yang dikatakan Sasuke.
"Aku menunggu Sasuke."
Sasuke mengernyitkan dahi dan berdecak, "Sudah kubilang, jangan pernah menungguku untuk makan malam kalau aku belum pulang di jam makan malam. Bagaimana kalau kau sakit? Bisa-bisa kau merepotkan aku dan okaa-san. Kau tahu kalau okaa-san sedang sakit, kan?"
Itachi terdiam dan menatap Sasuke dengan bingung. Otaknya tak sanggup mencerna apa yang dikatakan Sasuke.
"Apa maksud Sasuke?"
Sasuke berbicara panjang lebar karena ia sudah terlalu lelah namun ingin mengungkapkan semua yang ia pikirkan, sehingga ia memutuskan mengungkapkannya panjang lebar satu kali karena berpikir lawan bicaranya pasti akan mengerti. Namun ia lupa kalau lawan bicaranya saat ini adalah orang dengan kemampuan kognitif setara anak usia enam tahun.
Sasuke bingung bagaimana harus menyederhanakan maksudnya. Ia bukanlah orang yang pandai memilih kata-kata dan cenderung kesal jika harus mengulang ucapannya berkali-kali.
"Maksudku, jangan pernah menungguku untuk makan malam kalau aku belum pulang saat jam enam."
"Jam enam? Maksudnya?"
Sasuke sudah kelelahan secara fisik, dan berhadapan dengan Itachi membuatnya lelah secara mental. Sasuke menarik nafas dalam-dalam dan menahan diri agar tidak meninggikan suaranya.
"Kalau okaa-san sudah menyuruhmu makan, maka kau harus makan."
"Tapi aku menunggu Sasuke."
"Jangan menungguku."
"Sasuke sudah janji untuk makan malam bersama."
Sasuke tersentak seketika. Ia begitu sibuk hingga lupa kalau ia sudah memiliki janji makan malam dengan kakaknya. Ia juga lupa menelpon ibunya untuk memberitahu kakaknya bahwa ia tidak bisa pulang untuk makan malam.
Sasuke bukanlah tipe orang yang suka mengingkati janjinya. Karena ia sudah berjanji untuk makan malam bersama, maka ia terpaksa harus menemani Itachi makan malam meski sebetulnya ia sudah tidak bernafsu makan karena kelelahan.
"Lain kali jangan menungguku kalau kau sudah lapar," ucap Sasuke dengan perasaan bersalah. Ia segera mengangkat dua mangkuk kecil kenchin-jiru (sup miso dengan berbagai macam isi) serta memanaskannya di microwave.
Sasuke kembali untuk mengambil piring berisi ikan panggang yang dibuat oleh ibunya. Dalam hati ia merasa bersalah karena membiarkan ibunya yang sedang sakit untuk memasak setiap hari dan berharap bisa memiliki pemasukan yang cukup besar sehingga bisa memesan makanan dari restoran setiap hari dan ibunya tidak perlu memasak.
Sasuke berniat meletakkan piring berisi ikan di meja dapur dan memanaskannya sementara ia menunggu sup yang sedang dipanaskan di microwave. Namun ia terkejut ketika Itachi mendadak memeluknya dan berkata, "Aku sayang Sasuke."
Sasuke hanya bisa terdiam dan membiarkan tubuhnya dipeluk. Ia yakin lelaki itu pasti tak mengerti arti sayang yang sesungguhnya hingga bisa mengatakan seperti itu. Lelaki itu pasti tidak mengerti makna umpatan yang sangat kasar serta keluhan dan permintaan Sasuke agar lelaki itu mati saja ketika Sasuke sedang sangat tertekan pada suatu masa dalam hidupnya. Kalau saja lelaki itu mengerti, tidak mungkin bisa mengatakan hal seperti itu.
Meski terkadang Sasuke masih merasa tidak nyaman dengan kakaknya yang tidak normal, namun ia mulai bisa menerima keadaan lelaki itu. Setidaknya Sasuke tak pernah merasa sendirian berkat keberadaan Itachi, meski lelaki itu terkadang membuat kesabarannya teruji ketika melakukan berbagai hal yang sangat kekanakan dan memalukan serta membuat Sasuke harus berkali-kali mengulang ucapannya.
'Aku juga menyayangimu.'
Sasuke tak berani mengucapkannya secara terus terang. Namun dalam hati ia memutuskan untuk menjawab pernyataan sayang yang ditujukan untuknya.
-TBC-
Author's Note :
Sebelum ditanya soal romance, aku mau jelasin kalau fanfict ini juga sama seperti fanfict sebelumnya. Fanfict ini lebih fokus ke plot & konflik, sementara romance cuma sampingan.
Sebetulnya aku sering ngebaca review dari pembaca, baik di ffn maupun di wattpad buat penyemangan update walaupun aku ga bisa balas semuanya. Dari review kalian, aku baru sadar kalau karyaku belakangan ini cenderung mengambil tema yang anti mainstream.
Mungkin kalian bingung darimana aku dapet ide mengenai tema aneh begini. Awalnya aku ngebayangin gimana kalau seandainya di keluargaku ada yg kurang normal, kebetulan saudara jauhku ada yg kurang normal secara mental. Aku penasaran gimana ortunya bisa membesarkan anak mereka & memutuskan melihat dari sisi yg berbeda.
Makasih buat kalian yg ngebaca fanfict ini. Ditunggu kritik & saran nya.
