Mata bulat Jungkook sedikit melebar kala mendapati Kim Taehyung –mahasiswa populer yang aktif dalam beberapa organisasi, yang juga merupakan teman kelompoknya saat menjadi peserta program kerja organisasi fakultas– tengah duduk di sebelahnya menampilkan senyuman kotak yang dapat menambah tingkat ketampanannya –mungkin–.

"Kau mengingat namaku?" tanya Taehyung terkekeh kecil sembari memasukkan tangannya pada saku hoodie yang tengah ia kenakan.

"Ah, ya tentu saja."

"Kau menunggu bus?" tanya Taehyung menatap jalanan di depannya.

"Em, yeah mungkin," jawab Jungkook sembari menggaruk tengkuknya kikuk.

"Mungkin?" Taehyung mengalihkan pandangannya kearah Jungkook yang tengah memainkan kotak tempat hoodie yang diberikan si Alien.

"Ah, sebenarnya selain menunggu bus aku juga sedang menunggu seseorang."

"Ah, begitu." Taehyung menganggukkan kepalanya kecil.

"Kau menunggu bus?" Jungkook berusaha untuk menghilangkan suasana canggung yang telah tercipta sejak Taehyung datang.

"Ani."

"Lalu?"

"Aku ingin menemui seseorang."

"Nugu?" tanya Jungkook mengalihkan pandangannya untuk melihat wajah lawan bicaranya.

"Ah, ani. Bukan maksudku mencampuri urusanmu," lanjut Jungkook saat sadar dengan pertanyaannya dan mengalihkan pandangannya kembali menatap jalanan yang masih ramai dengan lalu lalang kendaraan.

.

.

.


Secret Admirer

Chapter 05 – End?
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo


.

.

"Hari ini saat pagi menjelang siang, seorang namja kelinci mengajakku untuk bertemu di halte bus jam enam sore." Taehyung menjawab dengan tatapan menerawang pada kejadian pagi tadi.

Jawaban Taehyung sukses membuat kaki Jungkook yang sedari tadi digunakan untuk menendang udara terhenti.

"Ngomong-ngomong hoodie-mu bagus," ucap Taehyung tersenyum kecil saat merasa tidak mendapatkan respon dari pemuda di sebelahnya.

Tidak cukup berani untuk sekedar menolehkan kepalanya pada lawan bicara, "jadi?" Jungkook bertanya hati-hati dengan suara pelan.

"Jadi?" Taehyung mengulang pertanyaan Jungkook sembari terkekeh melihat reaksi Jungkook yang mulai kesal.

"Ahaha, baiklah, baiklah."

"Jadi selama ini, aku adalah alien yang diutus turun ke bumi." Taehyung menghela napas pelan sebagai jeda.

"Aku yang selalu memberimu makanan beserta sticky note warna-warni dua bulan terakhir ini."

Jungkook sukses terdiam di tempatnya. Menatap jalanan yang entah terlihat semakin ramai di depannya.

"Maaf jika membuatmu risih atau bahkan tidak suka," kalimat yang sukses membuat Jungkook mengalihkan pandangannya kearah Taehyung yang tengah menunduk saat mengucapkan kalimat maafnya.

"Maksudmu?"

"Maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman dengan semua perlakuanku."

Jungkook sedikit tidak suka dengan kalimat maaf yang dilontarkan Taehyung. "Apa aku terlihat seperti itu?" Jungkook masih enggan mengalihkan pandangannya dari pemuda di sebelahnya yang tengah menunduk memainkan ujung sneakers-nya. Raut bersalah kini tampak jelas pada wajah tampannya.

"Eh?"

"Apa aku terlihat tidak nyaman dengan perlakuanmu, sedangkan aku selalu menghabiskan semua pemberianmu?"

Seketika senyum kotak yang terlihat konyol menggantikan raut bersalah pada wajah tampannya beberapa sekon lalu.

"Apa kau benar-benar tak pernah mengira bahwa itu aku?" tanya Taehyung tiba-tiba setelah keheningan menyelimuti beberapa menit.

"Em.. Pernah mungkin. Satu kali," jawab Jungkook menganggukkan kepalanya kecil setelah berpikir sejenak.

"Bagaimana bisa?"

"Karena hanya kau, mahasiswa jurusan lain yang melihatku saat memakan roti itu." Jungkook memberikan jeda sejenak.

"Hanya ada Bambam, Mingyu, Namjoom-hyung, dan juga kau," Jungkook mengingat saat dimana ia memakan roti pemberian Alien dan si Alien mengatakan bahwa senang bisa melihat ia menghabiskan roti dan susu itu.

"Kenapa tidak mengira salah satu dari temanmu?"

"Bagaimana bisa? Mingyu kekasih hyung-ku, Namjoon-hyung kekasih Jin-hyung. Kau kira aku akan menebak Bambam?"

"Kenapa tidak?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya.

"Heol, jangankan memberi asupan makanan untukku, yang ada dia yang selalu meminta asupan makan pada anggota lain." Jungkook menatap Taehyung sembari mengerucutkan bibirnya kecil.

Taehyung terkekeh kecil melihat ekspresi yang ditunjukkan Jungkook.

"Bagaimana bisa kau menaruh seluruh pemberianmu di meja ruang organisasi?" tanya Jungkook memincingkan matanya ke arah Taehyung yang berada di sebelahnya.

"Apa aku harus memberitahumu?" hanya dibalas anggukan antusias oleh Jungkook dengan mata berbinar.

"Jangan bertingkah konyol Jeon, jika tidak ingin tanganku ini berlari untuk mencubit pipi gembulmu itu," ucap Taehyung disertai dengusan kecil dan mengalihkan pandangannya pada sneakers birunya.

Ucapan Taehyung sukses membuat Jungkook menghentikan aktivitasnya dan berganti menutupi pipinya dengan telapak tangan.

"Jadi?"

"Jadi?"

"Yak, jangan mengulang pertanyaanku."

"Ahaha, oke jadi selama ini aku memiliki orang dalam."

"Jinja? Berapa orang?" Jungkook melepas tangannya yang berada di pipi, beralih menatap Taehyung penuh selidik di sebelahnya.

"Satu orang, dua orang, ah kurasa tidak. Mungkin tiga orang," jawab Taehyung menatap jalanan yang masih terlihat ramai di depannya.

"Daebak, nugu?"

"Tebak saja," Taehyung bangkit dari duduknya.

"Kenapa harus menebak? Yak, Taehyung-ah kau mau kemana?" Jungkook sedikit berteriak saat Taehyung berjalan menjauhinya.

"Aku hanya membuang sampah."

"Lanjutkan."

"Apanya?" Taehyung kembali duduk di sebelah Jungkook, kali ini lebih dekat. Salah jika mengira Taehyung tidak grogi bersebelahan dengan Jungkook. Bahkan jantungnya tengah bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.

"Ceritanya."

"Jadi, kau mengajakku bertemu hanya untuk bercerita?" Taehyung memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie navy yang tengah ia kenakan.

"Ayo ceritakan," rengek Jungkook sembari menggoyangkan lengan Taehyung –sedikit– brutal.

"Berhenti atau tanganku benar-benar berlari untuk mencubit pipi gembulmu."

Jungkook menghentikan kegiatannya sembari mencebik kecil dan mengalihkan pandangannya ke depan.

"Aish, kau benar-benar." Taehyung mendengus kecil saat memperhatikan Jungkook. "Baiklah, kau bertanya dan aku menjawab."

"Kenapa begitu?"

"Karena aku tidak tahu harus memulainya darimana."

"Huh, dasar."

"Aku mendengarnya, Jeon."

"Apa?"

"Tidak."

Suasana hening seketika. "Sejak kapan?"

"Apanya?"

"Astaga, Taehyung." Jungkook memukul lengan Taehyung, merasa gemas dengan jawaban lawan bicaranya.

"Ahaha, iya iya. Semester satu," Taehyung terbahak sembari meraih tangan Jungkook sekedar untuk menghentikan pukulan pada lengannya.

"Kok lama?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu."

"Bagaimana bisa?"

"Ya, bisa saja."

"Astaga, aku merasa seolah aku tengah mewawancaraimu untuk menjadi staff kepanitianku." Jungkook benar-benar gemas dengan jawaban yang dilontarkan Taehyung.

"Apa mencintaimu harus memiliki alasan?"

"Astaga, jawaban ah bukan. Maksudku pertanyaanmu terlalu berat, Tae."

"Mau mu apa sih, Jeon?" Taehyung mencubit pipi gembul Jungkook saat merasa –sedikit– geram. "Giliran aku jawab singkat salah, jawab pertanyaan dibilang berat."

"Taehyung, sakit ini." Jungkook mengelus pipinya yang baru saja menjadi korban cubitan Taehyung.

"Omong-omong, kau bisa memasak?" Jungkook tiba-tiba bertanya dengan raut penasarannya.

"Awalnya tidak," jawab Taehyung santai.

"Lalu?"

"Bisa."

"Sejak kapan?"

"Sejak mengetahui kelinci kecil jurusan sebelah yang selalu melewatkan jadwal makannya saat sudah berurusan dengan tugas kepanitiaannya."

Belum sempat Jungkook bertanya lagi, getaran ponsel yang diikuti ringtone pada saku hoodie Taehyung mengalihkan pandangan dua namja tersebut.

Jungkook memincingkan matanya, melirik nama pemanggil yang tertera pada layar ponsel Taehyung.

Taehyung menggeser gambar gagang telfon berwarna hijau pada layar ponselnya.

"Aku pulang terlambat, hyung. Ada sedikit urusan. Bye," seolah telah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh si pemanggil. Taehyung dengan santainya menyahut, mengakhiri panggilan, dan memasukkan kembali ponselnya pada saku hoodie.

"Jin-hyung sepupuku. Kita tinggal bersama. Dia orang dalam yang selalu meletakkan segala macam makanan di mejamu," jelas Taehyung seolah tahu pertanyaan apa yang yang akan dilontarkan oleh Jungkook.

"Jinja?" Jungkook mengerjapkan mata bulatnya tak percaya.

"Ah, kenapa aku tidak menaruh curiga padanya? Pantas saja datangnya selalu lebih awal dariku." Jungkook mengerucutkan bibirnya kesal. "Eh, tapi tadi dibilang ada tiga."

"Ku harap kau tidak lupa jika ketua organisasi jurusanmu itu merupakan kekasih sepupuku."

"Ah, astaga. Jadi mereka?"

"Hm, begitulah."

"Tapi masih dua, omong-omong. Satunya siapa?" Jungkook kembali menatap pemuda di sebelahnya.

"Yang ini kau harus menebak," Taehyung menaik turunkan alisnya jahil.

"Astaga Kim Taehyung aku tidak sedang mengikuti kuis berhadiah, kenapa aku harus menebak?"

"Ah boleh juga, anggap saja kau mengikuti kuis berhadiah."

"Maksudmu?"

"Tidak ada maksud."

Jungkook sukses geram dengan Taehyung. Ingin rasanya memukul kepala Alien –gila– ini.

"Coba tebak saja."

"Mingyu?"

"Ani."

"Bambam?"

"Ani."

"Jimin?"

"Kenapa Jimin?"

"Kan hanya menebak."

"Oh. Ani."

"Jackson-hyung?"

"Ani."

"Hansol?"

"Ani. Kenapa semakin jauh sih? Memangnya kau dekat dengan mereka?"

"Tidak, aku hanya menebak Taehyung. Nyerah."

"Astaga, bahkan masih banyak nama yang bisa kau sebut."

"Kau kira aku dosen yang selalu mengabsen agar tidak ada mahasiswa yang titip absen?" Jungkook mendengus kecil memainkan kotak tempat hoodie yang sedari tadi berada ditangannya.

"Wonwoo-hyung."

"Mwo?"

"Wae?"

"Kenapa kau menyebut nama hyung-ie? Kau kenal dengannya?" Jungkook mengerjap beberapa kali.

"Astaga, Jeon. Kau pikir aku tahu kau akan berangkat pagi atau siang itu karena siapa? Tahu jika kau belum makan atau pun sudah makan saat berangkat kuliah itu karena siapa? Tahu makanan yang bisa dan tidak bisa kau konsumsi itu juga karena siapa?" Taehyung mendengus tapi selang beberapa detik ia terkekeh saat mendapati ekspresi terkejut Jungkook. "Bahkan kau melupakan hyung-mu sendiri, astaga."

Semburat merah muda kini tengah tercetak tipis pada pipi gembul namja bermarga Jeon itu akibat ulah Kim Taehyung yang sebelumnya tengah mengusak gemas surai dark brown-nya.

"Jadi hyung-ie sudah tahu?" pertanyaan yang sukses membuat Taehyung gemas pada namja yang tengah menatapnya polos di sebelahnya.

"Menurutmu?"

"Kenapa aku juga tidak menaruh curiga pada hyung-ku sendiri?" cicit Jungkook pelan sembari mengerucutkan bibirnya kecil.

"Jaga sikap, Jeon. Oh astaga, bahkan anggota organisasi fakultas banyak yang mengincarmu," ucap Taehyung yang kini tengah mengacak surai dark lavender-nya merasa gemas dengan tingkah namja manis disebelahnya.

"Termasuk kau, Alien." Jungkook menjulurkan lidahnya pada Taehyung.

Taehyung tersenyum simpul.

"Sudah? Atau masih ada yang ditanyakan lagi?" tanya Taehyung.

"Em.. sepertinya sudah," jawab Jungkook setelah berpikir beberapa saat.

"Ayo kembali ke kampus, ku antar pulang. Sudah semakin larut." Taehyung berdiri dan mengulurkan tangannya ke hadapan Jungkook.

"Eh? Bukankah kita akan naik bus?" Jungkook menggaruk tengkuknya kecil.

"Siapa yang bilang?" tanya Taehyung menaikkan sebelah alisnya."Lagipula kau pikir masih ada bus lagi setelah ini? Bus yang beberapa menit lalu berhenti itu bus terakhir," ucap Taehyung yang masih enggan untuk menarik uluran tangannya di hadapan Jungkook.

"Lalu kita naik apa? Jika berjalan dari kampus ke apartement-ku itu lumayan jauh." Jungkook mulai panik setelah mendengar ucapan Taehyung.

"Sudah jangan banyak bertanya, ayo." Taehyung menarik pelan tangan Jungkook untuk mengikutinya berdiri.

"Eh? Kau membawa mobil? Tumben sekali. Tapi kau tidak pernah membawa mobil saat kuliah, setauku." Jungkook bersuara saat memasuki area kampus.

"Apa aku sudah mengatakannya padamu?" tanya Taehyung mengernyit heran.

"Belum."

"Lalu dari mana kau tahu aku membawa mobil?"

"Itu." Jungkook dengan santainya menunjuk mobil audi hitam yang tengah terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Kau yakin itu mobilku?" Taehyung menatap Jungkook heran.

"Ish. Kau ini bagaimana sih? Bagaimana mungkin kau lupa dengan mobilmu sendiri? Sudah jelas itu mobilmu, bahkan plat nomornya saja menunjukkan tanggal dan bulan lahirmu," jelas Jungkook sembari menunjuk plat nomor yang ia yakini sebagai mobil Taehyung.

"Eh?" Taehyung semakin heran setelah mendengar penjelasan Jungkook.

"Astaga!" Jungkook memekik sembari memukul mulutnya berkali-kali.

"Kook?"

Hening.

"Kook-ah?"

Hening.

"Kook-ie?"

Hening.

"Bunny?"

Hening.

"Astaga, Jeon tolong jelaskan sesuatu padaku." Taehyung mencubit gemas pipi gembul namja di sebelahnya yang tengah menunduk memaikan kotak hoodie yang dibawanya sejak di halte tadi.

"Aw~ ini sakit, Kim!" pekik Jungkook sembari mengelus pipinya.

Taehyung hanya memberikan ekspresi datarnya.

"Baiklah, baiklah. Tolong pegang ini," putus Jungkook sembari menyerahkan kotak hoodie-nya.

"Kenapa tidak dibuang saja sih? Kan hoodie-nya sudah kau kenakan," tanya Taehyung yang heran menerima kotak hoodie pemberiannya.

"Jangan banyak bertanya, astaga. Kau cerewet sekali sih," ucap Jungkook sembari membuka tas ranselnya untuk mengambil sesuatu.

"Ini," Jungkook menyerahkan kotak berukuran kecil pada Taehyung.

"Ini apa?" Taehyung mengernyit menerima kotak tersebut.

"Buka saja."

"Astaga, Jeon. Ini alasanmu tidak membuang kotak hoodie-nya? Kenapa masih disimpan? Astaga kau membuatku malu," pekik Taehyung yang tengah melihat sticky note warna-warni di dalam kotak kecil yang diberikan Jungkook.

"Kenapa malu?" tanya Jungkook polos.

"Astaga, kata-kataku. Kenapa aku merasa geli sendiri sih?" Taehyung bergidik kecil saat membaca beberapa sticky note tersebut.

"Sudah ya, ku buang saja ya."

"Jangan!" Jungkook segera merebut kotak yang telah tertutup dan akan dilemparkan Taehyung pada tempat sampah terdekat.

"Wae?" Taehyung mengernyit bingung.

"Buat kenang-kenangan, ehehe." Jungkook menunjukkan cengiran andalannya yang menampakkan gigi kelinci miliknya.

"Lalu apa hubungannya dengan kau mengetahui mobilku?"

"Tidak ada."

"Ah, astaga. Kau benar-benar membuatku gila, Jeon. Sudahlah, ayo pulang. Aku tidak mau melihat Wonwoo-hyung marah karena terlalu malam mengantar adik tersayangnya." Taehyung kembali menarik tangan Jungkook menuju mobilnya.

Taehyung memasuki mobilnya setelah membukakan pintu untuk Jungkook. Taehyung menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya jika saja tidak merasakan kecupan tiba-tiba yang menyentuh pipi kanannya.

Taehyung terdiam untuk beberapa sekon sebelum tersenyum memegang pipi kanannya dan mengalihkan pandangannya ke arah namja di sebelahnya yang berlagak menatap pemandangan diluar kaca mobil dengan semburat merah muda yang tercetak jelas pada pipi gembulnya.

Taehyung tersenyum simpul dan mulai menjalankan mobilnya keluar area kampus.

"Kau hutang banyak penjelasan padaku omong-omong," ucap Taehyung yang tetap fokus pada jalanan di depannya.

"Apa?"

"Jangan berpura-pura bodoh, bunny." Taehyung mengulurkan tangan kanannya mengacak surai dark brown namja yang tengah duduk di sebelahnya.

Jungkook mencebik kesal pada Taehyung yang tengah menunjukkan smirk-nya yang –sialnya– membuat jantung Jungkook bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Bagaimana kau tahu apartement-ku?" Jungkook mengernyit saat mobil Taehyung memasuki basement gedung apartement-nya.

"Ku harap kau tidak lupa jika aku ini Alien yang diutus turun ke bumi," ucap Taehyung sembari mematikan mesin mobilnya.

Jungkook menghela napasnya pelan.

"Bagaimana kau tahu jika aku jarang membawa mobil saat kuliah? Bagaimana kau tahu jika ini mobilku? Dan bagaimana kau tahu jika plat nomor mobilku merupakan tanggal dan bulan lahirku?" pertanyaan Taehyung sukses menghentikan pergerakan tangan Jungkook yang akan membuka pintu mobil.

"Em.. i.. i.. itu.." Jungkook menggaruk tengkuknya kikuk.

"Hm?" Taehyung menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban yang diberikan Jungkook.

"Em.. i.. i.. itu.."

"Itu?"

"Tanya satu-satu, aku bingung menjawab yang mana dulu." Jungkook menunduk memainkan ujung hoodie yang ia kenakan.

Hening.

"Eh?" Jungkook membulatkan matanya saat merasakan sebuah kecupan singkat mendarat tepat dibibirnya.

"Ahaha, tunggu sebentar." Taehyung keluar dan membukakan pintu mobil pada sisi penumpang.

"Ayo, ku antar ke dalam." Taehyung mengulurkan tangannya di hadapan Jungkook.

"Eh? Tidak usah, aku berani masuk sendiri." Jungkook membalas uluran tangan Taehyung untuk keluar dari mobil.

"Kau yakin?"

"Jangan meremehkanku, Kim." Jungkook mencebik kesal.

"Ish, baiklah. Selamat malam, bunny." Taehyung mengusak surai namja kelinci itu gemas.

"Ya. Selamat malam, Tae."

"Hm, sudah sana masuk. Aku akan pulang," pamit Taehyung sembari melangkahkan kakinya menuju sisi kemudi.

"Tae," suara Jungkook menginterupsi gerakan Taehyung.

Taehyung berhenti dan membalikkan badannya. "Wae?"

"Aku mencintaimu."

Taehyung berjengit kaget saat mendengar Jungkook mengucapkan kalimatnya dengan suara pelan. "Ne?"

"Ah.. ani, ani, aniya. Hati-hati dijalan." Jungkook mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan Taehyung.

Taehyung melangkah kan kakinya kembali ke arah Jungkook berdiri.

"Jeon Jungkook katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya," ucap Taehyung yang semakin mendekat. Bohong jika Taehyung tidak mendengar, bahkan Taehyung mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas.

"Ani, aku tidak mengatakan apapun Kim Taehyung," Jungkook berusaha mundur menjauh dari Taehyung.

"Jungkook-ah katakan sekali lagi," Taehyung mulai mendekatkan wajahnya pada wajah merah milik Jungkook.

"Ani," Jungkook berusaha menjauhkan wajahnya, tapi pergerakan tangan Taehyung terlalu cepat untuk mengunci pinggangnya.

"Jungkook-ie," Taehyung masih bertahan dengan posisinya.

"Baiklah, baik..." belum sempat Jungkook melanjutkan kalimatnya, bibirnya kini tengah merasakan benda kenyal tengah menempel pada bibirnya. Hanya menempel. Jungkook membulatkan matanya saat melihat Taehyung didepannya hanya beberapa sentimeter tengah memejamkan matanya.

"Aku lebih mencintaimu," Taehyung melepaskan bibirnya setelah beberapa sekon. Taehyung mengusap rambut Jungkook pelan, dan mengecup singkat ujung bibir Jungkook.

"Ah, sepertinya aku benar-benar akan terlambat pulang. Jujur aku jadi semakin penasaran dengan pertanyaanku sebelum turun dari mobil tadi," ucap Taehyung yang masih setia melingkarkan tangannya pada pinggang Jungkook.

"Yak, yak. Sudah sana pulang," usir Jungkook sembari mendorong tubuh Taehyung agar menjauh.

"Sepertinya kau tahu banyak tentangku, jangan bilang kau stalker-ku." Taehyung menaik turunkan alisnya jahil.

"Maybe."

"Mwo? Kau serius?"

"Jika melihatmu dari jauh dapat dikatakan stalker sih."

Taehyung sedikit terlonjak mendengar ucapan Jungkook.

"Ba.. bagaimana bisa?"

"Yak, Kim Taehyung. Ku kira kau tak bodoh. Kau kira aku bisa dengan gampangnya bilang mencintaimu tanpa dasar? Bahkan aku selalu berangkat pagi hanya untuk memastikan kau datang jam berapa, yang sialnya aku selalu datang lebih siang daripada kau." Jungkook memukul kepala Taehyung.

"Are you kidding me?"

"Menurutmu?"

"Sejak kapan? Bukan kah kau mengira aku sunbae-mu? Dan bahkan kau tak mengetahui namaku." Taehyung menatap heran namja manis yang tengah berdiri di depannya.

"Entahlah, aku juga kurang tahu sejak kapan. Tapi untuk masalah sunbae dan juga nama itu serius aku tidak tahu," jawab Jungkook polos. Sangat polos.

"Tapi bagaimana bisa kau mengetahui tanggal lahir dan juga bulan lahirku?" tanya Taehyung penasaran.

"Hanya kebetulan lewat saat temanmu memberimu ucapan selamat ulang tahun padamu," jawab Jungkook jujur.

"Jadi?"

"Ya, aku menyukai orang yang bahkan aku tidak tahu nama dan latar belakangnya. Oh astaga ini memalukan." Jungkook menutup mukanya sembari menggelengkan kepala beberapa kali.

Taehyung terkekeh kecil melihat tingkah Jungkook. "Kenapa tidak mencari tahu?" tanya Taehyung yang kini mengangkat sebelah tangannya untuk mengusak surai Jungkook.

"Yak, kau pikir aku seberani itu?" Jungkook memukul lengan Taehyung.

"Ah baiklah, karena kau kekakasihku. Kalau begitu mulai sekarang kita berangkatnya bersama saja, jadi kau tak perlu lagi berusaha datang lebih pagi dariku. Besok ku jemput," ucap Taehyung sembari merangkul pinggang Jungkook.

"Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?"

"Baru saja kan?"

"Ku rasa kau tidak memintaku untuk menjadi kekasihmu."

"Aish, baiklah. Apa ini kode?" Taehyung kembali menaik turunkan alisnya untuk menggoda Jungkook.

"Yak, sebahagiamu saja sana." Jungkook memukul kepala Taehyung.

"Jeon Jungkook, jadilah kekasihku."

"Tidak," Jungkook melenggang berjalan meninggalkan Taehyung yang mematung di tempat.

"Taehyung-ah, cepat pulang. Aku tidak ingin kekasih baruku terlambat menjemputku besok," Jungkook tersenyum kecil tanpa membalikkan badannya.

"Dasar kelinci nakal," Taehyung tersenyum sembari berlari kecil memeluk Jungkook dari belakang dan mengantarkannya ke hadapan Wonwoo, sekalian berterima kasih telah membantu melancarkan misi selama dua bulan belakangan ini.

.

.

.


end


.

.

Oke, maaf jika sangat banyak typo yang bertebaran. Dan seperti yang Joa sampaikan pada chapter sebelumnya, Joa bakal end kan sampai disini. Maafkan Joa jika ending-nya jauh atau bahkan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Terima kasih banyak untuk semua dukungannya.

sign,
chachajoa