Sinar matahari menyusup melalui gorden ruangan yang sedikit terbuka. Cahaya yang masuk membuat seisi kamar tampak lebih jelas. Kamar dengan dominasi warna putih hitam yang memberikan kesan elegan di dalamnya. Sebuah televisi yang dilengkapi dengan home theater tertata rapi di salah satu sisi ruang.
Tempat tidur berseprai warna putih motif polkadot hitam, masih terlihat berantakan dengan selimut yang sedikit menjuntai ke lantai. Bantal dan juga guling yang tergeletak tidak beraturan di atasnya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi.
Senandung kecil terdengar dari balik pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut. Suara pintu kamar mandi terbuka disusul langkah kaki seorang namja manis yang berjalan mendekati tempat tidur hanya dengan mengenakan celana pendek warna abu-abu. Rambut basah dengan handuk putih tersampir di pundaknya.
Suara notifikasi ponsel yang berada diatas nakas dekat tempat tidur menghentikan gerakan tangan namja tersebut yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Message from Alien
Sedikit mengernyit saat mengetahui adanya pesan masuk dari sang kekasih. Yap, dia Jungkook.
.
Alien: Sayang? Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu membeli buku pagi ini. Bagaimana jika sore? Aku ada urusan pagi ini.
Jungkook: Baiklah. Selesaikan urusanmu terlebih dahulu.
Alien: Siap, bunny. Ku jemput jam empat sore, call?
Jungkook: Call.
Alien: Aku mencintaimu, bunny.
Jungkook: Aku lebih mencintaimu, Alien gila.
.
Senyuman tipis tampak pada wajah Jungkook. Tak heran jika senyuman tersebut selalu tampak setelah mendapatkan pesan dari seorang namja yang telah berstatus sebagai kekasihnya hampir dua tahun ini. Tak jarang mendapati Taehyung membatalkan janji, akan tetapi tak jarang juga Taehyung menawarkan untuk menggantinya lain waktu. Jungkook paham, bahkan sangat paham dengan berbagai macam kesibukan sang kekasih. Tak jarang juga Jungkook menawarkan diri untuk membantu mengerjakan sebagian tugas dari Taehyung seperti yang selalu dilakukan Taehyung padanya. Tapi bukannya diizinkan seperti ia mengizinkan Taehyung membantunya, malah sebuah tolakan halus yang selalu diterima Jungkook. Bukan berarti Taehyung tak percaya pada Jungkook, hanya saja ia takut jika Jungkook kelelahan. Melihat Jungkook mengurus tugas organisasi jurusannya –seperti saat itu– saja rasanya Taehyung sudah tak tega, apalagi menambah beban Jungkook dengan tugasnya tugasnya yang bahkan bisa berkali-kali lipat lebih banyak ini.
.
.
.
Secret Admirer
Special Chapter: Bagian 1
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo
.
.
Ponsel kembali berdering saat Jungkook hendak melangkahkan kakinya untuk mengembalikan handuk.
Alien is calling...
Dengan segera Jungkook meraih ponselnya dan menggeser gambar gagang telpon berwarna hijau pada layar ponselnya.
.
Jungkook: Wae?
Alien: Kau belum mengucapkan selamat pagi padaku omong-omong.
Jungkook: Ck, selamat pagi.
Alien: Hei, aku tidak sedang berbicara dengan operator asal kau tahu.
Jungkook: Memang bukan.
Alien: Lalu kenapa nada ucapan selamat pagimu seperti operator?
Jungkook: Jangan bodoh, Kim. Operator tidak berdecak untuk mengucapkan selamat pagi.
Alien: Astaga, otakmu bisa saja mencari alasan.
Jungkook: Mau apa?
Alien: Morning kiss.
Jungkook: Bodoh.
Alien: Hehe. Tidak-tidak, aku pintar tentu saja.
Jungkook: Lalu mau apa?
Alien: Mau memberimu kejutan, sayang.
Jungkook: Wah aku terkejut, Kim.
Alien: Belum, Jeon.
Jungkook: Haha, baiklah. Sudah sana, katanya ada urusan.
Alien: Okay, see you bunny. Love you.
Jungkook: Love you too.
.
Suara ketukan pintu kamar mengalihkan pandangan Jungkook dari ponselnya.
"Kook-ie?" panggil seseorang di balik pintu kamar.
"Masuk saja, hyung," sahut Jungkook sembari meletakkan ponselnya diatas nakas.
"Kau ikut menjemput Mingyu tidak?" tanya Wonwoo -namja yang baru saja mengetuk pintu kamar Jungkook-.
"Ah aku baru ingat jika dia pulang hari ini," Jungkook menepuk dahinya pelan. "Tunggu aku sepuluh menit, hyung."
"Aku tunggu di luar," Wonwoo menggelengkan kepalanya pelan saat melihat sang adik yang berlari ke arah gantungan handuk dekat kamar mandi.
"Bagaimana bisa aku melupakan sahabat tiangku yang tengah berusaha keras untuk menyelesaikan magangnya disana," gumam Jungkook terkekeh pelan sembari memakai hoodie putihnya. "Lagian kenapa juga memilih tempat magang yang jauh," lanjutnya yang masih disertai kekehan pelan. Padahal ia tahu pasti jika alasan Mingyu magang di luar kota itu karena tidak kebagian tempat magang di kota ini. Kasihan.
.
.
"Tumben sekali weekend tidak ada jadwal kencan?" tanya Wonwoo yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Ada urusan," jawab Jungkook yang tengah duduk disebelahnya dengan satu kotak susu pisang di tangannya.
"Cih, sok sibuk sekali sih. Kerjaan juga cuma tidur," Wonwoo mendecih melirik adiknya sekilas.
"Siapa?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya.
"Kau lah, masa Taehyung."
"Kan yang ada urusan Taehyung, kenapa aku yang kena?"
"Oh, salah ya." Wonwoo menahan tawanya saat mendapati ekspresi kesal di wajah Jungkook.
"Sok tahu sih."
"Hm."
"Hyung?" panggil Jungkook tanpa menoleh kearah kakaknya.
"Hm?"
Hening. Tak ada sahutan.
"Ada apa?" tanya Wonwoo yang heran saat tidak mendapati sahutan dari sang adik.
"Tidak ada, hanya memastikan jika kau tidak tidur," tampak sebuah cengiran yang menampakkan gigi kelinci sang empunya.
"Bodoh. Aku sedang menyetir, jika kau sadar."
.
.
"Gyu, sukses tidak?" tanya Jungkook yang tengah berdiri disebelah kakaknya dan dihadapan Mingyu -sahabat tiangnya-
"Sukses dong," jawab Mingyu dengan nada sombong.
"Belagu, dasar."
"Kau bagaimana?"
"Jauh lebih sukses darimu."
"Iya iya percaya kok yang sukses selesai lebih awal," Mingyu sedikit mencibir tingkah Jungkook.
"Bambam?"
"Selesai lebih awal empat hari dari aku." Mingyu mendengus kecil.
"Haha, kasian. Terima nasib sajalah."
"Sudah, sudah. Mau makan atau langsung pulang?" Wonwoo menengahi duo sahabat itu.
"Makan." Jungkook menjawab tanpa ragu.
"Dasar, hafalnya cuma makan." Mingyu menggerutu pelan.
"Dasar, tidak berkaca." Jungkook berjalan menjauh sembari membalas gerutuan Mingyu yang walaupun pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Jungkook.
.
.
"Hyung, mobilnya dimana?" tanya Jungkook yang tengah berjalan sembari membalikkan tubuhnya menghadap kakaknya dan juga Mingyu yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
"Aduh," Jungkook mengaduh saat merasakan punggungnya menabrak sesuatu.
"Ah, mian..." Jungkook membalikkan tubuhnya lalu menunduk meminta maaf pada seseorang yang tak sengaja tertabrak olehnya.
"Loh? Sayang?"
"Loh? Ngapain disini?" Jungkook mengernyit heran saat mengetahui kekasihnya berdiri dihadapannya dengan seorang yeoja cantik yang tengah dirangkulnya.
"Aku.."
"Oh, aku lupa. Selesaikan urusanmu dahulu. Aku masih ada urusan, bye." Jungkook kembali melangkah sebelum Taehyung menjawab.
"Tae?" Wonwoo menatap Taehyung seolah meminta penjelasan.
"Kau percaya padaku kan, hyung?" Taehyung membalas tatapan Wonwoo sedikit was-was.
Hening. Tak ada jawaban dari Wonwoo maupun Mingyu yang sedari tadi bergeming.
"Hyung?" Taehyung kembali bersuara pelan.
"Selesaikanlah. Hyung percaya," Wonwoo berjalan mendekati Taehyung dan menepuk pelan pundak kekasih adiknya tersebut.
"Terima kasih, hyung. Secepatnya pasti selesai," Taehyung tersenyum sembari menganggukkan kepalanya mantap.
"Aku pergi dulu, Tae. Kelinci buntal itu sudah menghilang, astaga." Wonwoo mengurut pelipisnya pelan.
"Gyu, ayo cari." Wonwoo memanggil Mingyu yang masih setia bergeming di tempatnya.
.
.
"Jadi ini yang dia maksud akan memberiku kejutan? Cih, aku benar-benar terkejut." Jungkook bergumam pelan sembari berjongkok disebelah pintu mobilnya.
"Ayo makan," ajak Mingyu yang datang beberapa sekon setelahnya.
"Tidak mood, aku mau pulang saja."
"Kau belum makan sejak pagi, kalau boleh mengingatkan," kali ini Wonwoo yang bersuara.
"Tidak lapar."
Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya kecil.
"Ya sudah, kita makan di apartement. Aku yang memasak." Mingyu mengucapkan keputusan final-nya.
"Aku saja, kau pasti lelah." Wonwoo menyahuti ucapan kekasihnya.
"Bersama," balas Mingyu sembari tersenyum manis.
"Jangan bermesraan di depanku. Buka kuncinya, aku mau masuk." Jungkook berdiri bersiap memasuki mobilnya.
.
.
Mingyu turun dari sisi kemudi diikuti Wonwoo di sisi sebelahnya.
"Kook, sudah sampai loh. Tidak berniat turun?" tanya Mingyu yang tengah melongokkan kepalanya ke dalam mobil saat belum mendapati Jungkook turun.
Tak lama pintu bagian belakang kemudi terbuka. Jungkook turun dengan kepala tertunduk memandangi sepatunya.
Jungkook berjalan mendahului pasangan yang tengah mengekorinya dari belakang. Seperti sudah mengerti kebiasaan Jungkook ketika badmood, mereka berdua hanya mengikutinya dalam diam.
Sebelum memencet password untuk memasuki apartement-nya, Jungkook yang sedari tadi menunduk mendapati sebuah kotak beserta sticky note ungu lavender tengah tergeletak di depan pintu apartement-nya. Dengan gerakan pelan ia mengambil kotak tersebut.
.
Kecewa, boleh. Asal jangan menyiksa dirimu sendiri. Makanlah. Tidak ada racun di dalamnya. See you.
Your love,
Aliennya yang diutus turun ke bumi.
.
Tanpa sadar senyuman kecil tercetak di wajah Jungkook. Hanya saja senyuman tersebut tak berlangsung lama. Mungkin saja sang pemilik terlalu kecewa, atau hanya gengsi, atau bahkan ada alasan lain.
Jungkook memasuki apartement setelah memasukkan password. Meletakkan kotak tersebut diatas meja makan, mengambil sticky note-nya. Dan melenggang memasuki kamarnya.
Tak berselang lama Wonwoo memasuki apartement bersama kekasihnya dan menemukan sebuah kotak makan tergeletak diatas meja makan. Suara pintu kamar terbuka tepat saat Wonwoo hendak membuka mulutnya untuk bertanya mengenai kotak makan tersebut.
Jungkook melangkah mendekat kearah meja makan, menarik kursi dan mendudukkan dirinya diatas kursi tersebut. Tangannya terjulur dengan santainya menggapai kotak makan tersebut dan melahap habis isinya.
Wonwoo dan Mingyu hanya bisa saling pandang. Karena seingat mereka, si kelinci buntal ini tidak mood makan -katanya-. Tapi, ini apa.
"Katanya masak? Kok masih disini?" pertanyaan yang dengan santainya terlontar dari bibir si kelinci.
"Dari Taehyung?" bukannya menjawab, Wonwoo justru bertanya balik.
"Jangan sebut namanya, aku sedang tidak dalam mood baik."
"Lalu? Itu dari siapa?"
"Alien yang diutus turun ke bumi."
Helaan napas kasar terdengar dari sepasang kekasih yang tengah memperhatikan sosok kelinci yang tengah menyantap makanannya dengan lahap.
.
.
Suara bel menarik perhatian tiga orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Wonwoo yang kini sedang sibuk di dapur bersama kekasihnya pun memutuskan untuk bersuara karena sadar bel tetap berbunyi tanda belum ada yang menghampiri pintu.
"Kook-ie, tolong lihat siapa yang berkunjung," teriak Wonwoo kepada sang adik yang tengah bermalas-malasan di depan televisi dengan berbagai macam snack di sekitarnya.
"Tidak mood, Mingyu saja sana." Jungkook menyahut dengan nada malasnya.
"Sini gantikan aku goreng ayam, baru aku bukakan pintu." Mingyu berteriak menyahuti sahutan Jungkook.
"Ish, iya iya aku yang buka." Jungkook bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati pintu sembari menggerutu.
"Sia... pa?" Jungkook masih memegang gagang pintu dengan mulut yang terbuka lebar.
"Kok tidak ada siapa pun." Jungkook membalikkan tubuh dan akan menutup pintunya kembali jika saja ia tidak melihat kotak berukuran sedang dengan sebuah sticky note merah tertempel diatas tutupnya tergeletak tepat di depan kakinya berdiri. Setelah menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk mencari tahu si pengirim yang nyatanya nihil tidak ketmu jejaknya, dengan gerakan super pelan Jungkook melirik tulisan yang terdapat pada sticky note merah tersebut.
.
Sayang, sarapannya sudah dimakan? Buka kotaknya mungkin bisa menjadi temanmu disaat seperti ini. Ponselmu kenapa tidak aktif? Aku menghubungimu berkali-kali. Tolong jangan salah paham. Beri aku waktu untuk menjelaskan. Ayo bertemu.
Your love,
Aliennya yang diutus turun ke bumi.
.
Jungkook kembali menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, namun tetap nihil tidak ada seorang pun di sekitarnya. Dan pada akhirnya Jungkook memutuskan untuk membawa kotaknya masuk dan menutup pintunya.
Sebelum kembali mendudukkan dirinya di posisi semula sebelum bel berbunyi, Jungkook menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar guna mencabut charger ponselnya. Berjalan pelan keluar kamar sembari menekan tombol power pada ponsel, dan tepat ketika ponsel tersebut menyala suara notifikasi terdengar bersautan disertai getaran. 10 unread messages, 21 missed calls.
"Wow." Jungkook bergumam sembari terkekeh kecil saat mengetahui notifikasi sebanyak itu hanya berasal dari satu orang.
Pada akhirnya Jungkook memutuskan untuk mengabaikan ponselnya sejenak dan memilih untuk memusatkan perhatiannya pada kotak yang ia temukan di depan pintu apartement miliknya.
"Banyak sekali, Jung. Dari siapa?" tanya Wonwoo yang berjalan melewati adiknya saat mengetahui kotak sang adik berisi banyak snack di dalamnya.
"Hehe," cengiran Jungkook seakan sudah dapat menjawab pertanyaan kakaknya.
"Sudah tidak marah?" tanya sang kakak.
"Memang siapa yang marah?" bukannya menjawab, justru Jungkook balik bertanya pada sang kakak.
"Dih, giliran ketemu banyak snack begini langsung amnesia kalau tadi badmood." Wonwoo mencibir sembari melanjutkan langkahnya memasuki kamar.
.
.
.
to be continue
.
.
Haii, apa kabar? Hehe. Btw, happy new year. Niat hati ingin posting saat ulang tahun bapak Taehyung, tapi apa daya tiba-tiba draft menghilang. Jadi, maafkan terlambatnya kebangetan, bahkan sampai sudah ganti tahun, heuheu. Maaf yaa. Oke, sebenarnya ini hanya satu bagian, tapi takut terlalu panjang dan bosan bacanya akhirnya aku bagi menjadi dua bagian deh hehe. Saran kalian akan sangat membantu. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Love you.
sign,
chachajoa
