Suasana apartement milik Jeon bersaudara pada malam harinya sangat jauh dari kata sepi. Bagaimana tidak? Jungkook yang sedari tadi mengaku badmood dan bermalas-malasan di depan televisi, nyatanya ia telah menyiapkan satu kado yang ia simpan didalam kamarnya dan juga kue yang baru saja diantar oleh teman satu angkatan Wonwoo –Kim Seokjin–. Wonwoo jelas terkejut saat mendapati temannya di depan pintu apartement mengatakan jika kue tersebut hasil karya adiknya. Karena setahu Wonwoo, Jungkook tidak begitu paham tentang berbagai macam bahan masakan.

"Jung, jujur." Disinilah mereka, ruang tengah dengan penghuni berjumlah lima orang. Jungkook, Wonwoo, Mingyu, Seokjin, dan juga Namjoon.

"Hehe, besok ulang tahun Taehyung." Jungkook menunduk sembari menggaruk tengkuknya kikuk saat mendengar nada bicara kakaknya.

"Lalu?"

"Aku hanya bercanda, hyung. Jangan marah, please."

"Lalu?"

"Mian," Jungkook bersuara pelan.

"Kau mengerjai hyung-mu ini?"

"Hehe, mian hyung. Tidak sengaja," jitakan pelan pada kepala Jungkook diberikan kakaknya tepat ketika Jungkook menyelesaikan kalimatnya.

"Bagaimana ceritanya bisa tidak sengaja?"

"Ya begitu, terlanjur."

"Lalu kau mau kemana rapih begini?" Wonwoo kembali bertanya seolah mengintrogasi sang adik.

"Ya mau ke rumah pacar lah hyung. Seperti tidak pernah muda saja," jitakan kedua Jungkook terima kembali. Hanya saja kali ini bukan hanya kakaknya yang menjitak, tapi semua penghuni ruang tengah kecuali dirinya sendiri.

"Ish, sudah sana cepat berangkat." Wonwoo mendorong adiknya agar segera beranjak dari kursi yang diduduki.

"Kau mengusirku, hyung?"

"Kau mau tidak ku izinkan pergi?"

"E..ehh tidak, tidak. Aku berangkat sekarang," dengan cepat ia berpamitan kepada kakaknya dan juga Mingyu. Karena Seokjin dan juga Namjoon sudah pasti ikut dengannya, sekalian menumpang supaya hemat. Toh Seokjin bilang rumah Namjoon searah.

.

.

.

Secret Admirer

Special Chapter: Bagian 2 – End
Genre: Drama, Romance
Cast: Kim Taehyung – Jeon Jungkook
Warning: Boys Love || typo


.

.

"Kook, setelah sampai jangan turun dulu ya." Seokjin menolehkan kepalanya kearah bangku belakang tempat Jungkook berada.

"Kenapa, hyung?"

"Aku lupa belum menyiapkan pakaianku untuk menginap di rumah Jisoo."

"Loh? Hyung tidak pulang?"

"Jisoo sendiri di rumahnya, kita berdua akan menginap dengan teman-teman yang lain disana."

"Wonwoo-hyung juga ikut menginap?"

"Iya, tadi belum bilang ya?"

"Belum, kan Wonwoo-hyung sudah berumur. Mungkin dia lupa."

"Kalau Wonwoo berumur, lalu aku ini apa?" suara Namjoon menginterupsi dua orang yang tengah asik bercengkerama.

"Hehe, berusia," sahut Jungkook santai.

"Terserahmu sajalah," ucap Namjoon yang disertai suara tawa Seokjin dan juga Jungkook.

Tepat pukul 23.35, mobil yang ditumpangi mereka memasuki area tempat tinggal Seokjin dan juga Taehyung.

"Tunggu disini, 20 menit lagi aku kembali." Seokjin membuka pintu mobil dengan tergesa.

Tepat dua puluh menit setelah Seokjin membuka pintu mobil, terlihat seseorang namja berlari kecil kearah mobil Namjoon sembari membawa tas punggung.

"Dia tidur memegang ponsel," suara Seokjin disertai kikikan kecil terdengar tepat ketika pintu sisi penumpang terbuka.

"Memangnya kau tidak membalas pesannya sama sekali, Kook?" tanya Namjoon yang kini memutar tubuhnya kearah Jungkook berada.

Dengan santainya, Jungkook mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dalam keadaan mati. "Aku mematikan ponsel sejak siang tadi, hehe."

"Dasar, sudah sana. Dia di kamarnya." Seokjin menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum.

"Oke, terima kasih banyak hyung. Kalian sangat berjasa," ucap Jungkook yang kini tengah membuka pintu mobil disisinya.

"Sama-sama, semoga sukses Kook-ie."

"Jangan lupa hubungi kami jika terjadi sesuatu."

"Oke, bye hyung."

.

.

Jungkook berjalan mengendap mendekati kamar sang kekasih. Bagaimana dia bisa tahu letak kamar kekasihnya? Hey kawan, dia bahkan hampir setiap hari datang berkunjung ke rumah ini semenjak ia menyandang status sebagai kekasih Kim Taehyung hampir dua tahun lalu.

Tepat saat kakinya berada di depan pintu kamar sang kekasih, Jungkook menyalakan lilin yang telah tertancap pada kue yang ia siapkan. Sepertinya Taehyung benar-benar telah lelap dalam tidurnya dengan posisi tengkurap kepala menghadap samping dan juga tangan yang tengah memegang ponsel. Ia bahkan sampai tidak sadar saat Jungkook menyalakan saklar lampu di dekat pintu.

"Hey," Jungkook berusaha membangunkan Taehyung dengan menusuk pipinya beberapa kali setelah memindahkan ponselnya keatas nakas.

"Hmm, nanti saja hyung. Aku mengantuk," gumaman pelan Taehyung terdengar di telinga Jungkook.

Jungkook terkekeh pelan saat mendengar gumaman sang kekasih. Sebuah ide seketika terlintas di benak Jungkook.

"Selamat ulang tahun, sayang."

Mata Taehyung sukses terbuka saat mendengar bisikan ditelinga kanannya. Menatap lemah entitas sang kekasih yang tengah berdiri disamping tempat tidurnya.

Dengan gerakan cepat, ia mendudukkan dirinya dan meraih satu tangan sang kekasih yang tidak memegang kue dan mencium punggung tangan kekasihnya berkali-kali. "Maaf, maafin aku, maaf, maa.."

"Hey, tidak perlu minta maaf. Aku yang salah disini." Jungkook dengan cepat memotong ucapan Taehyung.

"Sekarang make a wish, dan tiup lilinnya," lanjut Jungkook sembari tersenyum manis.

"Tidak marah?"

"Make a wish dan tiup lilinnya, sayang." Jungkook kembali menyahuti dengan suara lembut.

Terpejam sejenak dan meniup lilin pada kue yang tengan dibawa oleh kekasihnya. "Sudah, tidak marah?"

"Memangnya siapa yang marah?" bukannya menjawab, Jungkook justru balik bertanya kepada sang kekasih. Persis seperti yang dilakukannya pada sang kakak.

"Ayo berdiri, aku ingin berterima kasih," ucap Jungkook sembari menarik tangan Taehyung supaya berdiri didepannya.

"Untuk apa?" tanya Taehyung yang kebingungan tetapi tetap menuruti kemauan sang kekasih.

Pelukan hangat diterima oleh Taehyung tepat saat ia baru saja berdiri, bahkan hampir jatuh jika saja ia tidak sigap menyeimbangkan tubuhnya. "Terima kasih, aku menemukannya ditumpukan snack yang kau kirim tadi siang." Jungkook berbisik di telinga Taehyung.

"Ku kira kau buang," sahut Taehyung terkekeh pelan sembari mengusap kepala kekasihnya lembut.

"Kenapa berpikir seperti itu?" Jungkook mengerutkan dahinya sembari memberikan jarak pada tubuh mereka.

"Ya habisnya kamu sok tidak ada kabar sampai aku tertidur tadi," jawab Taehyung sembari menggesekkan hidung Jungkook dengan hidungnya.

"Kan memang niatnya seperti itu, ish."

"Bagaimana?" tanya Taehyung mengabaikan gerutuan Jungkook.

"Apanya?"

"Jawabannya lah."

"Sekarang?"

"Iya."

"Harus?"

"Iya ayo, bagaimana jawabannya?"

"Minta sticky note warna merah." Jungkook menengadahkan tangannya dihadapan wajah Taehyung.

"Loh untuk apa?" Tehyung mengernyit heran dan tetap mempertahankan tangannya di pinggang sang kekasih.

"Katanya mau jawaban, ya aku minta sticky note warna merah." Jungkook menjawab dengan tangan yang setia menengadah dihadapan wajah Taehyung.

"Langsung saja lah jawabnya, kan ini aku dihadapanmu loh."

"Ya tidak mau."

"Loh kenapa?"

"Kan kamu tanya lewat sticky note, ya aku jawabnya di sticky note."

"Sticky note merah-ku habis."

"Bohong dosa."

"Lupa tadi aku taruh dimana."

"Bohong dosa."

"Serius, sayang."

"Aku duarius."

"Astaga, Jungkook keras kepala sekali sih."

"Taehyung juga keras kepala kok."

"Kamu ngode supaya aku ngomong langsung kan?"

"Itu tau."

"Oke, oke. Would you be mine?"

"Siapa yang kamu tanya?"

"Astaga anak ini, oke sekali lagi. Jeon Jungkook, would you be mine?"

"Yes, I do." Gigi kelinci yang diidolakan oleh Taehyung sejak lama kini tersembul lucu saat kekasihnya tersenyum.

Kecupan bertubi-tubi dibubuhkan Taehyung pada setiap inci wajah Jungkook. Jungkook hanya terkekeh geli berkali-kali berusaha menghindari bibir kekasihnya.

"Taehyung, stop." Jungkook mengarahkan telapak tangannya ke depan bibir sang kekasih supaya berhenti dari aksinya.

"Wae?"

"Kau belum membuka hadiahku, ayo keluar."

"Loh? Masih ada hadiah?"

"Aku tinggal di ruang tengah tadi, ayo kesana."

"Wait, mana cincinnya?" tanya Taehyung sembari memperhatikan jari-jari tangan kekasihnya.

"Ini," Jungkook mengeluarkan sebuah cincin dari saku kemejanya.

"Kok tidak dipakai?"

"Ish, dasar tidak peka."

"Ngode buat dipakaikan? Hm?" Taenyung memainkan alisnya beberapa kali.

"Sudah tahu, kenapa masih tanya?"

"Oke oke, sini biar aku yang pakaikan." Taehyung mengambil alih cincin yang dipegang kekasihnya untuk dipakaikan pada jari sang kekasih, sesekali menyempatkan untuk mengecup kening kekasihnya sebelum berjalan keluar kamar.

.

.

Tepat pukul 00.38, keduanya mendudukkan diri di sofa ruang tengah dengan televisi menyala sekedar guna agar ruangan tidak terasa sepi.

"Apa itu?" tanya Taehyung dengan mulut penuh snack saat melihat Jungkook menyambar sebuah kotak sedang tetapi lebih kecil dari kotak yang diberikannya pada Jungkook tadi siang.

"Ini, buka saja." Jungkook menyerahkan kotaknya pada Taehyung dan menyamankan posisi duduknya tepat di sebelah sang kekasih.

Taehyung menerima kotaknya, dan senyumnya merekah saat membaca tulisan yang terdapat pada tutup kotak tersebut. Taehyung's Box of Wonders.

"Ini aku buka sekarang?" tanya Taehyung.

"Buka saja, tapi sesuaikan suasana juga." Jungkook menjawab santai dengan tangan yang sudah memegang toples snack yang tadi dibawa Taehyung.

Taehyung membuka tutup kotak tersebut dan menemukan 7 surat dan juga 5 kado berbagai macam ukuran yang tersusun rapih di dalam kotak tersebut.

Jungkook melirik kekasihnya yang kini tengah fokus membaca tulisan pada setiap amplop suratnya, sesekali terkekeh kecil saat guratan tipis tercipta pada dahi kekasihnya.

Taehyung mulai membaca setiap tulisan yang ada pada amplop setiap surat.

Amplop pertama, open when it's your birthday.

"Boleh ku buka?" tanya Taehyung menatap Jungkook yang masih sibuk dengan toples snack dipangkuannya.

"Menyesuaikan suasana," jawab Jungkook santai yang hanya dibalas beberapa kali anggukan kepala dari Taehyung.

Taehyung menyimpan kotaknya dipangkuan dan kini fokus pada surat open when it's your birthday ditangannya.

.

Happy birthday to my beloved, Kim Taehyung. Semoga panjang umur, sehat selalu, tetap sayang sama Jeon Jungkook ya, hehe. Sukses terus kamu, semoga diberikan kelancaran dalam semua urusan, semangat kerjanya. Oh ya satu lagi, semoga semua yang kamu cita-citakan dapat tercapai. Bagaimana rasanya ulang tahun ditemani pacar? Cie dikerjain habis-habisan, cie khawatir. Hehe. Maaf ya, pacar. Pacarmu ini tidak ada maksud jahat sama sekali kok, hanya saja mungkin sedikit maksud buruk. Jangan terlalu serius, aku hanya bercanda. Lagian kamu jemput Wendy-noona kok tidak bilang-bilang? Kan aku juga mau kenalan. Oke karena hari ini hari ulang tahunmu, kamu bisa buka kado yang ada gambar kuenya. Semoga suka. Love you.

.

Tahyung mengernyitkan keningnya sejenak sembari melirik Jungkook yang kini fokus pada televisi dihadapannya. "Kamu tahu soal Wendy-noona?" tanya Taehyung sembari matanya fokus mencari kado yang dimaksud pada surat yang tengah ia pegang.

"Tahulah, sepupumu kan?"

"Tahu dari mana?"

"Seokjin-hyung. Waktu dia ajarin bikin kue di rumah Namjoon-hyung, dia cerita banyak-banyak." Jungkook menjawab sesekali memasukkan snack ke dalam mulutnya.

Taehyung menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari membuka perlahan kado yang dibungkus kertas kado senada dengan tema kotaknya.

"Kok kamu tau aku mau beli ini?" Taehyung menatap curiga sang kekasih yang kini dengan santainya menunjukkan pergelangan tangan kirinya.

"Couple," Jungkook menjawab sembari terkekeh pelan.

"Harusnya aku loh yang beli, kok jadi kamu?"

"Sekali-sekali, masa kamu mulu yang belikan."

Yap, jam tangan couple yang sudah lama diincar oleh Taehyung. "Tapi ini harganya tidak bisa dikatakan murah loh."

"Aku ada tabungan lebih, sudah terima saja sih. Toh baru kali ini aku belikan kamu sesuatu yang lumayan menguras dompet," sahut Jungkook yang kembali fokus dengan snack dan juga acara televisi yang tengah ia tonton. "Tidak sebanding dengan semua yang sudah kamu kasih ke aku," tambahnya dengan mulut penuh snack.

"Oke oke, terima kasih sayangnya Taehyung," ucap Taehyung sembari menarik Jungkook ke dalam pelukannya. Kecupan kecil dan juga usakan gemas diterima kepala Jungkook.

Berlanjut pada amplop kedua, open when you need laugh.

Taehyung yang merasa penasaran pun tanpa berpikir dua kali langsung buka amplop tersebut dengan senyum kecil yang tercipta di bibirnya.

.

Tidak banyak yang akan ku tulis. Hanya satu, tolong jangan sedih lagi. Sekarang kamu bisa buka kado yang ada gambar emoticon tertawa. Semoga suka. Love you.

.

Tangan Taehyung kembali meraih kotak dipangkuannya dan segera mencari kado yang dimaksud.

Kotak persegi panjang dengan gambar emoticon tertawa telah berada ditangannya. Dengan gerakan cepat ia membuka kotak tersebut. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat isinya. Setahu Taehyung, Jungkook bukan tipe orang yang suka mengambil gambar sebegini banyak. Seketika Taehyung merasa sangat spesial saat menemukan foto-foto tersebut. Mulai dari foto Jungkook seorang diri, foto Taehyung seorang diri, bahkan foto mereka berdua. Dan lucunya adalah semua foto tersebut merupakan foto aib mereka yang tengah menunjukkan wajah aneh di depan kamera dengan berbagai macam kalimat dibawahnya –semacam meme–. Satu contoh, ada ekspresi aib Jungkook disertai tulisan 'Sayang, kamu tahu tidak kalau cintaku ke kamu itu bagaikan garam dilautan? Tidak terlihat, namun selalu ada #eaa'. Taehyung sukses tertawa keras saat itu juga.

Jungkook yang melihat Taehyung bereaksi seperti itu hanya tersenyum kecil sembari bergidik. "Bahagia banget kamu?"

"Sangaaaaaattt, terima kasih lagi." Kecupan dan juga usakan pelan pada kepala kembali diterima Jungkook yang masih fokus pada acara televisi tengah malam ini.

"Ini aku buka semua boleh?"

"Jangan lahh, sesuaikan suasana biar greget," sebuah cengiran tampak di wajah Jungkook.

"Yasudah aku mau baca amplopnya dulu, barang kali ada yang sesuai suasana lagi," ucap Taehyung dengan tangan yang masih setia bertengger di pundak sang kekasih.

Amplop ketiga, open when we're having a fight.

"Oke, yang ini skip dulu." Kecupan dan juga usakan pelan kembali diterima Jungkook. Yap, Taehyung selalu memberikan kecupan dan juga usakan setiap selesai membaca setiap amplopnya.

Amplop keempat, open when you're sick.

"Skip, aku lagi super sehat."

Amplop kelima, open when you're having a great or bad day.

"Boleh ku buka?" Taehyung kembali izin sembari mengusak kepala Jungkook pelan.

"Kalau sesuai suasana, buka aja."

.

Hubungi aku, ceritain semuanya ke aku. Aku mau tahu apa aja yang terjadi hari ini. Semoga diberikan kebahagiaan dalam setiap harimu. Love you.

.

"Jung, kamu diajarin siapa bisa kasih kado semanis ini?" tanya Taehyung dengan senyum yang enggan menghilang dari wajahnya.

"Kamu yang ajarin kok."

"Mana ada? Aku ga pernah ada ajarin begini."

"Anggap saja ada."

Amplop keenam, open when you miss me.

Dengan berbekal rasa penasaran yang membuncah, Taehyung kembali membuka amplop tersebut.

"Kok dibuka?" tanya Jungkook saat mengetahui tangan Taehyung membuka amplop di depan wajahnya.

"Aku kangen," jawab Taehyung santai sembari tetap membuka amplopnya.

"Padahal akunya disini," gerutu Jungkook pelan tetapi masih dapat didengar oleh telinga Taehyung yang kini tengah terkekeh pelan.

.

Aku sadar, aku jarang cek ponsel. Tapi aku berharap kamu sabar ya nunggu balasanku, aku kasih sesuatu deh buat semisal aku lama bales pesan maupun telfon kamu. Buka kado yang ada gambar emoticon kiss.

.

Taehyung segera menbuka kotak kado yang dimaksudkan dalam surat tersebut. Kembali merasa spesial saat menemukan banyak sekali foto mereka berdua dalam berbagai macam ukuran.

"Kok rasa-rasanya aku bahagia sekali sih hari ini." Taehyung mengucapkan kalimat random sembari melirik Jungkook yang masih setia berada dalam rengkuhannya.

"Yah, terakhir." mendesah kecewa saat mendapati satu amplop tersisa dalam Taehyung's Box of Wonders.

"Masih kurang?" tanya Jungkook mendongakkan kepalanya sedikir guna melihat wajah sang kekasih yang tepat berada diatas kepalanya.

"Cukup kok, hehe."

Amplop terakhir, open when you need to know how much I love you.

Lagi, Taehyung dibuat penasaran dengan isi amplop tersebut. Dan pada akhirnya ia buka juga amplop terakhir itu.

.

I LOVE YOU SO MUCH, Kim Taehyung. Sudah. Jelas kan? Jangan dibantah! Lagian kamu kenapa langsung hampir dibuka semua! Aku malu sumpah! Karena aku yakin kalau kotak ini bakal kamu buka saat ini juga, aku sudah siapin kado buat surat ini, buka kotak dengan tanda love warna ungu.

.

Tertawa kecil, karena Taehyung paham betul jika kekasihnya ini paling susah kalau disuruh ngungkapin perasaannya secara gamblang, dia lebih sering ngungkapin perasaannya dari tingkah lakunya.

Tangannya fokus pada kado yang ukurannya paling kecil diantara kado lainnya.

XOXO

"Nahloh? Apa ini?" Taehyung mengernyit bingung saat menemukan tulisan tersebut pada kotak kecil ditangannya.

"Kiss and Hug." Jungkook menjawabnya dengan nada super santai. Tapi, nyatanya jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya.

Dan saat itu juga, Taehyung kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Jungkook dan memberikan kecupan-kecupan kecil berkali-kali. Bedanya, jika sedari tadi kecupannya di kepala, kali ini kecupannya berpindah pada bibir kekasihnya.

"Terima kasih, terima kasih banyak. I love you more, Jeon Jungkook. Besok kita berangkat ke Busan."

"Loh buat apa?" Jungkook mengernyit bingung.

"Kau lupa? Beberapa saat lalu bahkan aku sudah melamarmu, dan besok saatnya aku melamarmu di depan orang tuamu. Aku sudah izin orang tuaku, dan juga orang tuamu melalui telfon. Tapi, besok saatnya aku akan memintamu menjadi milikku di depan orang tua kita secara langsung." Ibu jari bergerak mengusap kedua pipi kekasihnya yang dirasa semakin hari semakin berisi saja.

"Tae, ta.. tapi"

"Ssttt, tidak ada tapi."

"Aku belum lulus, Tae."

"Apa salahnya, sayang? Aku masih melamarmu, bukan memintamu untuk menikah denganku saat ini juga. Toh, kamu hanya tinggal sidang lalu wisuda."

Jungkook tak dapat mengelak, toh ia juga bahagia saat mendengar Taehyung yang sudah sangat siap begini. Yap, walaupun mereka memang satu angkatan. Akan tetapi, Taehyung lulus lebih cepat satu semester dari Jungkook. Dia sudah bekerja semenjak lulus kuliah di perusahaan orang tuanya.

"Oke, besok kita ke Busan untuk menemui orang tuaku." Jungkook mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh keyakinan.

.

.

.


end


.

.

Haii, bagian duanya sudah muncul, heuheu. Niatnya aku up hari kamis lalu, tapi dikarenakan aku badmood melihat nilai KHS jadi ga buka laptop sama sekali deh, huhu maafkan yaa.

Oke, maaf jika sangat banyak typo yang bertebaran. Maafkan yaa, jika ending dari special chapter-nya jauh atau bahkan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Terima kasih banyak untuk semua dukungannya.

sign,
chachajoa