Sakura mengerjapkan matanya dan mengernyitkan dahi ketika menyadari ia berada di ruangan yang berbeda dengan kamarnya. Namun seketika ia teringat kalau ia akan tidur di kamar Mikoto selama satu bulan ke depan.
Terdengar suara ketukan di pintu dan Sakura segera bangkit berdiri serta berjalan menuju pintu. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi dan ia berpikir kalau Mikoto mungkin saja mengetuk karena ingin mengambil sesuatu di kamarnya.
Sakura membuka pintu dan ia mendapati Itachi berdiri di depan pintu. Lelaki itu tampak kaget ketika melihat Sakura berada di kamar ibunya.
"Sakura-chan kenapa disini?"
"Ohayou," ucap Sakura sambil tersenyum tipis. Kekesalan yang semula ia rasakan karena seseorang mengetuk pintu di pagi hari mendadak sirna begitu saja.
"Sasuke-kun memintaku menginap disini selama satu bulan."
"Yay! Sakura-chan mau menemaniku bermain, kan?" pekik Itachi sambil memeluk Sakura dengan erat secara tiba-tiba, membuat Sakura terkejut dan tubuhnya terasa membeku untuk sesaat. Seandainya ia tak mengetahui kondisi Itachi, ia pasti sudah langsung memberontak dan membanting tubuh lelaki itu ke tanah dengan keras karena sudah seenaknya memeluk orang lain dan mengira kalau lelaki itu berniat melakukan pelecehan padanya.
"Tentu saja," ucap Sakura sambil menepuk punggung lelaki itu sebelum melepaskan pelukannya. Itachi pasti akan merasa kehilangan jika ditinggal Sasuke selama satu bulan. Dan ia pikir akan lebih baik kalau ia menggantikan Sasuke untuk menemani lelaki itu.
"Kau pasti lapar, kan? Kau mau makan apa untuk sarapan?" tanya Sakura.
Sakura sengaja memakai kata 'kau' dan berusaha agar tak memanggil Itachi dengan sebutan 'Itachi-nii'. Ia merasa sangat canggung memanggilnya dengan sebutan seperti itu meski lelaki itu lima tahun lebih tua dibanding dirinya maupun Sasuke. Tindakan lelaki itu benar-benar seperti anak-anak dan ia merasa seperti sedang menghadapi anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, sehingga rasanya aneh memanggil sebagai kakak.
"Aku mau panekuk manis dengan sirup yang banyaaaakkk sekali."
Sakura tak mampu menahan diri untuk tidak tertawa mendengar ucapan Itachi. Lelaki itu benar-benar sangat berlawanan, mulai dari tingkat intelegensi, kepribadian hingga ketertarikan. Itachi adalah orang yang cenderung banyak bicara, sangat ceria dan sangat menyukai makanan manis, berbeda dengan Sasuke yang irit bicara, cenderung dingin dan benci makanan manis.
"Jangan makan terlalu banyak manisan. Nanti kau bisa sakit gigi, lho."
Itachi menggembungkan pipinya dan membuat Sakura semakin yakin kalau sebetulnya ia sedang menghadapi anak-anak.
"Urgh… Sasuke juga selalu bilang begitu. Sarapan buatan Sasuke juga tidak enak."
Tawa Sakura meledak. Ia menyesal tidak merekam ucapan Itachi dan mengirimkan rekaman itu pada Sasuke untuk melihat reaksi lelaki itu. Apakah masakan Sasuke benar-benar parah sampai orang yang mengalami keterbelakangan mental pun bisa mengatakan kalau masakan Sasuke tidak enak?
"Kenapa tidak enak?" tanya Sakura dengan harapan Itachi bisa mengetahui makna ucapannya.
"Soalnya tidak pernah manis."
Senyum Sakura semakin lebar. Berinteraksi dengan Itachi di pagi hari membuat awal harinya terasa lebih menyenangkan entah kenapa. Ia mendapati jawaban dan reaksi yang begitu polos dan jujur, sesuatu yang tidak akan didapatinya dari orang dewasa pada umumnya yang ia temui sehari-hari.
.
.
Sasuke mengecek mutasi rekening melalui internet banking miliknya. Beberapa hari ini ia begitu sibuk dan baru teringat untuk mengirimkan uang untuk biaya pengobatan ibunya maupun biaya kebutuhan sehari-hari dan segala macam tagihan ke rekening Sakura pada tengah malam. Kini ia ingin memastikan kalau uang itu benar-benar sudah masuk ke rekening Sakura.
Sasuke segera meng-screenshot bukti transfer itu dan mengirimkannya pada Sakura. Dan wanita itu membalas pesannya beberapa menit kemudian.
From : Sakura
Terima kasih. Uang yang kau kirimkan sudah masuk ke rekeningku.
Nanti malam kau akan konser, kan? Jaga kesehatanmu dan lakukan yang terbaik. Selamat berjuang ^^
Sasuke menyeringai tipis membaca pesan dari Sakura, namun ia cepat-cepat meletakkan tangan di depan bibirnya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Entah kenapa perasaan Sasuke menghangat ketika membaca pesan berisi penyemangat dari Sakura meski ia yakin Sakura pasti juga mengirimkan pesan yang sama pada Naruto ataupun seluruh anggota band lain yang juga dikenal Sakura.
Sasuke tak pernah mengatakannya pada siapapun, namun sebetulnya ia merasakan kenyamanan yang terasa berbeda ketimbang kenyamanan yang Ia dapatkan dari orang lain ketika ia bersama Sakura. Ketika ia bersama wanita itu, ia tak merasa dituntut harus terlihat sempurna setiap waktu. Wanita itu bahkan tetap berteman dengannya meskipun keluarganya bangkrut, berbeda dengan beberapa teman yang malah meninggalkannya ketika tahu keluarganya bangkrut dan ia tak bisa lagi pergi ke kafe mahal seperti dulu.
Sasuke tak begitu yakin, namun ia curiga kalau sebetulnya ia memiliki ketertarikan secara romansa terhadap Sakura. Sejak dulu ia cenderung memperhatikan dan berusaha melindungi wanita itu meski ia terlihat tak peduli. Terkadang ia tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mencuri pandang ke arah Sakura setiap beberapa detik sekali, hal yang tak pernah ia lakukan pada wanita manapun.
Sasuke bahkan ingat ketika entah kenapa ia malah merasa tidak suka ketika Sakura berkata kalau dia sudah memiliki kekasih meskipun ia seharusnya merasa senang. Dan ketika ia memergoki kekasih Sakura –yang juga dikenalnya- sedang berada di hotel bersama pelacur, ia merasa benar-benar marah meski sebetulnya itu bukan urusannya. Akhirnya, ketika Sakura putus, ia malah merasa lega. Benar-benar perasaan yang aneh.
Namun Sasuke tak berharap perasaannya pada Sakura akan semakin berkembang seandainya ia benar-benar menyukai wanita itu. Ia sadar kalau seorang lelaki sepertinya tak seharusnya memiliki hubungan romansa mengingat seperti apa kondisi keluarganya. Jika ia memiliki kekasih, maka wanita itu harus bisa menerima dan mampu menghadapi kondisi Mikoto dan Itachi yang akan sangat menyita perhatian Sasuke. Bahkan bisa jadi wanita itu harus ikut membantu Sasuke mengurus keluarganya jika ia sampai menikah, dan ia tak ingin membebani orang lain untuk mengurus keluarganya yang sebetulnya bukan kewajiban karena Mikoto dan Itachi bukanlah ibu dan kakak dari istrinya kelak. Sasuke juga tak ingin membebani siapapun yang disukainya dengan perasaan yang dimilikinya.
"Oi, teme! Jadi latihan, tidak? Tadi kau sendiri yang menyuruh latihan, kan?" ucap Naruto dengan suara yang lebih keras dibanding biasanya.
"Oh? Hn."
Sasuke cepat-cepat mengetikkan balasan singkat untuk Sakura dan meletakkan ponsel ke meja ke atas karpet. Ia menatap bundle berupa lagu-lagu yang akan dimainkan untuk konser nanti malam dan ia segera berkata, "Voiceless Scream, kan?"
Keempat anggota band lainnya merasa heran dengan Sasuke yang seolah tidak fokus hari ini meskipun lelaki itu sudah tidur selama lebih dari delapan jam semalam. Wajah Sasuke bahkan terlihat lebih berseri dibandingkan biasanya dan mereka menyadari kalau Sasuke mungkin saja mendapat pesan dari seseorang yang menarik.
.
.
"Bagaimana? Kau puas?" ucap seorang lelaki dengan rambut panjang yang dicat dengan beberapa tindikan di telinga yang sengaja dipekerjakan sebagai penata rias khusus untuk Black Ash.
Sasuke menatap wajahnya di cermin. Lelaki penata rias itu sudah hampir dua tahun bekerja untuk Black Ash dan sudah mengetahui seperti apa style makeup yang disukai Sasuke. Sasuke benci memakai eyeshadow, namun menyukai teknik penggunaan eyeliner yang membuat matanya tampak lebih tajam meski sebetulnya sorot mata Sasuke sendiri sudah terlihat tajam meski tidak mengenakan riasan apapun. Bibir Sasuke yang masih terlihat sedikit kemerahan karena belum terlalu lama terpapar rokok dirias agar berwarna coklat gelap sehingga terlihat seperti bibir seorang pecandu rokok yang sudah puluhan tahun merokok.
"Hn. Arigatou."
Lelaki penata rias itu mengangguk dan beralih pada Neji yang duduk di samping Sasuke. Lelaki itu memiliki rambut panjang berwarna coklat dengan preferensi makeup yang berbeda dengan Sasuke.
Jika menata rambut dan wajah Sasuke memerlukan waktu yang paling singkat, Neji justru sebaliknya. Lelaki itu meminta riasan wajah yang cukup tebal dengan fokus utama pada bagian mata agar terlihat lebih sangar namun lebih besar di saat yang bersamaan. Lelaki itu bahkan memiliki tindikan di beberapa bagian tubuh yang selalu dipakaikan anting setiap kali konser atau tampil di depan publik sebagai Yuu, namun selalu dilepasnya ketika menjalani kehidupan sehari-hari sebagai Hyuuga Neji.
Sasuke menoleh ke arah Naruto yang menyanyikan lagu yang akan ia bawakan dengan suara pelan ketika penata rias lain menata rambutnya. Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kalau Sasuke sejak tadi menatapnya.
"Simpan suaramu, dobe. Ada beberapa lagu yang memerlukan scream di banyak bagian dalam list konser hari ini."
Naruto menoleh secara refleks pada Sasuke, namun si penata rias menyuruh Naruto untuk tidak menoleh sehingga akhirnya ia menatap Sasuke dengan ekor mata.
"Tenang saja, teme. Lagipula aku sudah meminta Kiba untuk ikut menyanyi pada beberapa bagian scream, kok."
"Aku juga sudah meminta disiapkan back track (rekaman yang sudah disiapkan, biasa digunakan saat konser) vocal untuk berjaga-jaga," timpal Neji yang diiyakan oleh Naruto.
Sasuke tak pernah mengijinkan pemakaian back track atau sejenisnya dan tak pernah memakainya kecuali untuk beberapa bagian lagu dimana ada suara vokalis wanita ketika mereka tidak mungkin menghadirkan vokalis wanita yang hanya disewa satu kali untuk rekaman. Karena itulah terkadang Sasuke sampai harus berdiskusi alot dengan manajer dan direktur label mereka.
Sasuke berpikir kalau ia melatih dirinya sekaligus anggota band lainnya untuk menjadi performer yang kuat, karena itulah ia tidak pernah mengijinkan pemakaian back track. Namun kali ini ia tak memiliki plihan karena mereka masih harus perform di beberapa negara lainnya dan akan merepotkan seandainya pita suara Naruto sampai bermasalah di tengah-tengah tour.
"Bagaimana kalau pada bagian scream kau bergantian dengan anggota lain atau membiarkan penonton bernyanyi, dobe? Beberapa band melakukan itu saat konser dan kurasa itu akan menyenangkan fans. Tak biasanya mereka mendengar suara anggota lain di atas panggungi, hn?"
"Kurasa itu ide bagus, teme. Bagaimana kalau kita menentukan pada bagian mana scream akan digantikan?"
Sasuke melirik jam yang tertera di dinding. Masih ada waktu dua jam hingga konser dimulai dan mereka masih memiliki waktu untuk latihan sekalgus menentukan bagian dimana mereka harus melakukan scream.
"Hn."
.
.
"Satu bulan itu lama, tidak?"
Mikoto tersenyum tipis mendengar pertanyaan putra sulungnya. Sebetulnya ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Itachi, namun ia memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu karena tak ingin membuat putranya semakin sedih.
"Tidak, kok."
"Kalau begitu Sasuke akan pulang dan menemaniku bermain?"
Kini giliran Sakura yang tersenyum tipis. Sebetulnya ia merasa agak risih mendengar pertanyaan yang begitu bodoh dari seorang lelaki dewasa. Namun ia berusaha menganggap Itachi sebagai anak kecil untuk menyingkirkan perasaan risih yang ia rasakan.
"Tentu saja."
"Yay! Aku kangen Sasuke."
Sakura mati-matian menahan diri agar ia tidak meringis dihadapan Itachi dan Mikoto. Lelaki itu benar-benar seperti anak-anak. Tadi saja lelaki itu kembali mencoret dinding yang untungnya sudah dilapisi dengan kertas oleh Sasuke dan tidak mau merapikan mainannya jika tidak diperintahkan dengan nada memaksa oleh Mikoto. Dan kini Sakura bahkan sampai harus merayu lelaki itu untuk makan dengan meyakinkan kalau ia membuat natto (sejenis kacang dengan rasa manis) dan ayam goreng madu ala Korea dengan rasa manis yang sedang populer belakangan ini.
Kini Sakura mengerti mengapa Sasuke tampak terbebani dengan Itachi. Pada dasarnya Sasuke adalah orang yang kurang sabar dan tidak tahan menghadapi hal-hal yang menurutnya bodoh, sedangkan apapun yang dilakukan Itachi sangat identik dengan kebodohan.
Sakura terkejut ketika ia mendengar suara gelas yang terjatuh dan ia menyadari kalau Itachi baru saja menjatuhkan gelas yang ia pegang tanpa sengaja dan air yang berada di gelas membasahi kaus yang dikenakan lelaki itu.
"Gantilah pakaianmu di kam-"
Mikoto belum selesai bicara ketika Itachi mendadak melepaskan kausnya yang basah terkena air dan ia kini bertelanjang dada, membuat Sakura kaget karena kini mereka sedang makan malam.
Seandainya saja seorang anak kecil yang melakukan ini, Sakura pasti akan cepat-cepat mengantar anak itu ke kamar dan membantunya memakai pakaian yang kering. Namun Itachi jelas bukan anak kecil dan sebagai seorang wanita dewasa Sakura tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan tubuh lelaki itu.
Sakura berpikir kalau tubuh Itachi pasti cenderung berlemak karena tidak berolahraga, namun di luar dugaan tubuh lelaki itu terlihat berisi dan cukup padat. Bahkan perut lelaki itu juga ramping. Seandainya lelaki itu normal, pasti tidak akan kesulitan mendapat kekasih karena tubuhnya lumayan bagus dan sebetulnya wajahnya lumayan tampan dengan bentuk mata yang sama seperti Sasuke. Sepertinya keindahan paras para lelaki Uchiha memang sudah genetik mengingat ayah Sasuke dan Itachi juga masih memiliki sisa ketampanan di usia lima puluhan dengan tubuh yang masih atletis dan kekar.
"Pakai bajumu di kamar, Itachi," seru Mikoto dengan suara yang sedikit lebih keras ketika menyadari kalau Sakura juga sedang berada di meja makan.
Itachi segera bangkit berdiri dan segera berbalik. Sakura menyadari kalau ada bekas luka yang memanjang dari perut Itachi sampai ke bagian punggung. Selain itu punggung lelaki itu juga terlihat beberapa bekas luka yang sudah memudar dan menyatu dengan warna kulit Itachi ataupun masih meninggalkan bekas lumayan jelas. Selain itu ada jugabekas luka di bagian pinggang yang terlihat jelas.
"Punggungnya kenapa?" ucap Sakura secara refleks.
Mikoto menatap Sakura dengan tatapan yang sulit dijelaskan dan detik berikutnya Sakura langsung tersadar kalau ia telah menyuarakan apa yang ia pkirkan secara refleks. Ia merasa bersalah karena pertanyaannya terkesan mengusik privasi orang lain.
"Maksudku, bagaimana rasa makan malam hari ini?" ucap Sakura dengan senyum manis yang dipaksakan.
Mikoto mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Sakura, karena itulah tatapannya mendadak terlihat sendu. Hatinya juga terasa sakit setiap kali ia melihat punggung Itachi karena mengingatkannya akan ketidakberdayaannya sebagai seorang istri dan ibu.
"Suamiku melukainya," ucap Mikoto dengan suara parau. "Ada satu yang diberikan Sasuke, sisanya perbuatan suamiku."
Sakura terkejut mendengar penuturan Mikoto. Sasuke yang diketahuinya bukanlah tipe orang yang akan memukul orang lain. Meskipun lelaki itu tidak sabar, namun ia bukanlah tipe orang yang mudah melampiaskan emosinya.
"Sasuke… memukul kakaknya?"
"Aku tidak enak mengatakannya. Kuharap kau tidak salah paham dengan Sasuke dan mengerti bagaimana perasaannya saat itu."
Sakura menganggukan kepala, "Aku hanya terkejut. Sasuke yang kukenal bukanlah orang yang mudah melampiaskan emosinya dengan memukul orang lain."
Mikoto merasa ragu, namun pada akhirnya ia berkata, "Ini salahku karena aku lalai menjaga Itachi. Saat itu dia membuka lemariku dan merusak pakaian Sasuke yang dititipkan disana dan rencananya akan dipakai untuk konser resmi pertamanya. Selain itu Itachi juga merendam ponsel Sasuke ke dalam bak mandi dan menganggapnya seperti mainan bebek yang dimainkan saat mandi. Sasuke benar-benar marah dan langsung memukul Itachi berkali-kali menggunakan gantungan baju dari besi. Bagian tajam nya melukai punggung Itachi dan meninggalkan bekas."
Sakura bisa mengerti betapa marahnya Sasuke saat itu. Sasuke pasti sangat frustasi ketika studinya terpaksa berhenti dan kematian ayahnya bahkan meninggalkan hutang dengan beberapa rekan bisnisnya dalam jumlah besar yang harus dilunasi Sasuke. Pihak asuransi juga tidak mau memberikan ganti rugi karena kematian disebabkan bunuh diri.
Karier Sasuke juga tidak berjalan mulus pada awalnya. Hingga setahun pertama, mereka tampil di jalanan dan menjual album di jalanan atau secara online. Bahkan hampir tidak ada tawaran kerja untuk mereka, sekalipun ada bayarannya sangat kecil. Terkadang mereka juga mendapat cemooh dari orang-orang di jalanan karena dianggap sebagai gelandangan yang mengemis di jalanan.
Sebagai seorang sahabat, Sakura tahu betapa beratnya kehidupan Sasuke saat itu. Ia juga tahu betapa beratnya perjalanan karier Sasuke pada awalnya hingga kini bandnya bisa populer dan bisa konser ke beberapa negara di Amerika, Eropa dan Asia.
Namun Sakura tak pernah benar-benar mengetahuinya hingga ia sendiri tinggal di rumah Sasuke. Dan kini ia semakin menganggap kalau Sasuke menggagumkan karena mampu mempertahankan kewarasannya di tengah situasi yang membuat frustasi.
-TBC-
Author's Note :
Kali ini author sengaja menampilkan sedikit hint mengenai perasaan Sasuke meskipun kesannya mungkin agak maksa. Sebetulnya aku sengaja nampilin biar ga terlalu maksa dibanding kalau perasaannya baru muncul di chapter-chapter terakhir.
Alur fanfict ini kemungkinan bakal lambat karena lebih fokus ke masalah kehidupan. Pastinya disini ga akan ada orang ketiga, dll karena cerita ini cenderung mengenai masalah & perasaan masing-masing.
Sebetulnya chapter ini juga sekaligus jawaban dari pertanyaan salah satu guest di chapter kemarin. Ada yang nanya mengenai Sasuke yang udah punya band terkenal tapi masih hidup susah walaupun keluarganya cuma Itachi dan Mikoto. Jadi karena ayah Sasuke meninggalkan hutang dalam jumlah besar, jadinya harus dibayar. Selain itu, biaya pengobatan untuk penyakit berat juga nggak murah, khsususnya untuk dialysis. Bahkan ada orang yang meninggal karena telat dialysis karena nggak ada uang yang cukup (saudara mamaku ada yg gitu).
Setauku, pemasukan setiap artis nggak buat artis sepenuhnya walaupun mungkin sering diberitaiin kalau artis dapet honor dalam jumlah besar. Biasanya ada pembagian untuk manajemen, sisanya dibagi lagi sesuai jumlah anggota grup kalau artisnya ga solo. Atau ada faktor lain yg menentukan besar kecilnya honor yang diterima artis, misalnya popularitas atau hal lainnya. Makanya ada beberapa artis (di Korea cukup banyak) yang menuntut manajemen karena pembagian honor yang dirasa kurang adil.
