Sakura berjalan meninggalkan gedung rumah sakit seraya mengenggam tangan Mikoto. Wanita itu terlihat semakin lemah dengan wajah pucat dan mata cekung. Wajah wanita itu terlihat menua dengan sangat cepat meski masih memiliki sisa kecantikan ketika muda.

Sakura tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasuke yang harus melihat ibunya semakin melemah dari hari ke hari. Ia yakin Sasuke pasti merasa khawatir dan sedih. Bahkan Sakura yang bukan putri Mikoto pun merasa miris melihat wanita itu.

Ketika kecil Sakura begitu mengidolakan sosok Mikoto hingga begitu senang saat berkunjung ke rumah wanita itu. Ia masih ingat kalau Mikoto memperlakukannya begitu lembut seolah ia adalah putri wanita itu dan memberikan begitu banyak kue padanya. Ketika masih duduk di bangku TK, Sakura bahkan pernah berkata ingin pindah ke rumah Mikoto karena banyak cemilan dan Mikoto begitu baik dan ramah, berbeda dengan ibunya yang bawel dan galak.

"Bagaimana kata dokter? Aku khawatir pada baasan."

"Begitulah," sahut Mikoto.

Sakura terdiam. Ia menatap Mikoto dengan khawatir dan wanita itu tersenyum lembut padanya.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku masih baik-baik saja, kok. Lagipula aku juga sudah berada di daftar teratas untuk menerima donor."

Sakura merasa bimbang. Ia sudah berjanji pada Sasuke untuk membantu lelaki itu mengungkapkan kekhawatiran sekaligus apa yang ia pikirkan pada Mikoto. Namun ia merasa tidak enak hati mengatakannya.

"Ah, kebetulan sekali ada restoran baru disana. Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? Tenang saja, aku yang traktir, kok."

"Tapi bagaimana dengan Itachi? Aku khawatir meninggalkannya terlalu alam di rumah."

Sakura hampir lupa kalau ada lelaki itu di rumah. Menjaga lelaki itu sama saja menjaga seorang anak kelas satu SD dengan tingkat kecerdasan yang kurang. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Sasuke harus menjaga lelaki itu jika tidak ada Mikoto.

"Bagaimana kalau pesan antar pizza saja? Aku akan menelpon layanan pesan antar ketika kita berada di dalam taksi."

"Boleh. Kebetulan aku juga sedang ingin makan pizza," ucap Mikoto sambil terkekeh pelan.

Sakura segera menaiki taksi yang kebetulan berada di lobi rumah sakit setelah menuruni penumpang. Ia setengah berlari dan meminta taksi itu berhenti ketika taksi itu hampir meninggalkan lobi.

Sakura membuka pintu dan menyebutkan alamat apartemen Sasuke serta menunggu Mikoto masuk ke dalam taksi.

Taksi mulai berjalan pelan segera setelah Mikoto masuk ke dalam taksi dan Sakura segera membuka aplikasi online untuk memesan dua loyang pizza serta seporsi appetizer.

"Kemarin Sasuke menghubungiku," ucap Sakura pada Mikoto.

"Oh, ya? Bagaimana kabarnya? Terakhir katanya dia sedang konser di Inggris."

"Iya. Katanya dia masih harus konser di Singapura, Korea dan China sebelum kembali ke Jepang."

Mikoto mengangguk. Ia hanya tahu kalau Sasuke akan pergi dalam waktu yang lama untuk tur konser dan tak pernah mengetahui secara detil kemana saja Sasuke akan pergi. Ia hanya berharap Sasuke baik-baik saja dimanapun ia berada.

"Kuharap dia baik-baik saja. Dia pasti sangat lelah setelah tur. Namun aku takut dia malah tidak bisa beristirahat dengan tenang di rumah."

Sakura sudah tahu seperti apa kondisi di rumah Sasuke dan ia sendiri sependapat dengan Mikoto. Selama ini Sasuke tidur di kamar yang sama dengan Itachi dan pasti tak akan bisa beristirahat dengan tenang. Itachi pasti akan menganggu istirahat Sasuke, atau sekalipun tidak pasti Sasuke akan terus menerus mengawasi lelaki itu secara naluriah.

"Omong-omong, Sasuke-kun memintaku untuk lebih memperhatikanmu, Mikoto-baasan. Katanya kau terlihat kurus dan pucat. Tampaknya ia benar-benar khawatir padamu."

Mikoto tersenyum. Sebagai seorang ibu, ia merasa beruntung memiliki Sasuke sebagai putranya. Meski lelaki itu tak pernah menunjukkan secara eksplisit mengenai kasih sayangnya, namun ia tahu kalau Sasuke benar-benar menyayanginya.

Ketika teman-teman Mikoto mengeluhkan putra mereka yang hidup serampangan di masa muda dan cenderung kurang sopan dan kurang peduli pada orang tua, Mikoto malah mengkhawatirkan Sasuke yang terus menerus berusaha keras menopang keluarga hingga terkesan tak memiliki kehidupan pribadi. Jika orang-orang mengeluhkan anggota keluarga yang cenderung egois, Mikoto malah mengkhawatirkan Sasuke yang cenderung 'selfless'.

"Katakan padanya kalau aku baik-baik saja."

Sakura mengangguk, "Tentu saja aku bilang begitu. Tapi sepertinya Sasuke-kun tetap merasa ragu."

"Aku benar-benar beruntung memiliki putra sepertinya," Mikoto berkata dengan bangga. "Aku merasa diriku begitu egois dan dia terlalu 'selfless'. Aku sepertinya seorang ibu yang jahat."

Sakura menggeleng, "Jangan berkata seperti itu, obaasan. Aku yakin Sasuke-kun tidak berpikir begitu."

Mikoto menatap Sakura lekat-lekat. Ia seolah bisa membaca apa yang ingin dikatakan Sakura dan ia segera mengatakannya, "Sebetulnya aku mengkhawatirkan Sasuke. Jika aku tidak ada, bagaimana ia akan merawat Itachi sendirian? Anak itu perlu diperhatikan sepanjang hidupnya."

"Aku bisa membantu Sasuke kalau sedang memiliki waktu luang," ucap Sakura sambil tersenyum.

"Terima kasih atas tawaranmu. Sasuke pasti akan senang mendengarnya. Terkadang aku berharap dia bisa menikah dengan gadis yang baik sepertimu. Tapi sepertinya akan sulit."

Wajah Sakura memerah ketika membayangkan Sasuke menikah. Entah kenapa ia malah membayangkan dirinya bersanding dengan Sasuke di pelaminan dan ia merasa malu hanya dengan berpikir begitu.

"Maaf aku malah jadi berkata yang aneh-aneh padamu. Tapi sebagai seorang ibu aku sangat ingin menyaksikan pernikahan anakku."

Sakura mengerti bagaimana perasaan Mikoto. Orang tuanya juga tak berbeda dengan Mikoto. Di usia dua puluh empat tahun ia juga sudah mulai mendapat pertanyaan mengenai kekasih. Namun Sakura segera menegaskan kalau ia masih ingin bekerja meski sebetulnya ia tak bisa memiliki kekasih karena perasaannya tertuju pada seorang lelaki.

"Maaf, kurasa aku terkesan ikut campur. Tapi bukankah sebaiknya obaasan mengatakan pada Sasuke mengenai kondisi obaasan yang sesungguhnya? Maksudku, cepat atau lambat Sasuke pasti mengetahuinya."

"Kau benar," sahut Mikoto. "Aku memang harus memberitahunya. Namun aku tidak tahu kapan saat yang tepat atau bagaimana mengatakannya. Sasuke pasti akan semakin terbebani ketika mengetahui keadaanku. Aku kasihan padanya."

"Kupikir akan lebih kasihan kalau Sasuke terlambat mengetahuinya. Bukankah akan lebih baik kalau Sasuke lebih cepat mengetahuinya sehingga bisa mempersiapkan mengenai kemungkinan terburuk, misalnya tentang bagaimana ia harus merawat Itachi-nii sesudahnya."

"Aku akan mempertimbangkannya."

Sakura berpikir untuk memancing Mikoto berbicara. Dan ia memutuskan untuk bertanya, "Omong-omong apakah Itachi-nii sudah mengetahui kondisi Mikoto-baasan?"

Mikoto mengangguk, "Dia hanya tahu kalau aku sedang sakit dan perlu banyak beristirahat. Anak itu bahkan tidak mengerti apa penyakitku dan dia pernah bertanya mengapa aku tidak kunjung sembuh."

Sakura hanya mengangguk. Mendadak ia memiliki sebuah ide untuk menyelesaikan masalah Sasuke. Ia harus menghubungi Sasuke setelah ini dan membahas idenya.

.

.

Sasuke sedang berada di kamarnya setelah makan siang dan berjalan-jalan sebentar dengan temannya.

Jadwal tur Sasuke tahun ini agak aneh. Tur dimulai dengan konser d tiga negara bagian di Amerika, lalu dilanjutkan dengan Australia dan beberapa negara di Eropa sebelum diakhiri dengan konser di negara-negara Asia dan kembali ke Jepang.

Para fans di Asia berpikir kalau mereka bisa menyaksikan konser Black Ash terlebih dulu karena negara mereka masih berada di benua yang sama dengan Jepang. Namun mereka kecewa ketika tahu kalau konser akan diadakan lebih dulu di Amerika dan diakhiri dengan konser di Asia.

Sasuke baru saja membaca pesan dari Sakura dan ia segera menelpon gadis itu. Ketika gadis itu menerima telepon, ia segera berkata, "Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku sudah berbicara dengan ibumu. Katanya kakakmu bahkan merasa heran karena ibumu tak kunjung sembuh."

"Kau tidak bilang kalau aku sudah mengetahui kondisinya, hn?"

"Tidak. Kubilang kau merasa curiga."

Sasuke merasa lega. Ia tak ingin ibunya merasa curiga kalau ia sudah mengetahui kondisi ibunya dan wanita itu semakin khawatir padanya.

"Setelah mendengar ucapan ibumu, mendadak aku mendapat ide."

"Ide apa?"

"Kau bisa mengatakan pada kakamu kalau ibumu membutuhkan ginjal untuk sembuh. Dan kau bisa bertanya padanya, apakah dia mau memberikan ginjal pada ibumu?"

"Apakah dia akan mengerti? Kurasa penjelasan seperti itu terlalu kompleks untuknya."

"Jelaskan saja dengan bahasa yang mudah dimegerti. Kalau dia bersedia, kita bisa menjelaskan pada ibumu."

Sasuke merasa tak sabar untuk menjalankan ide Sakura. Ia segera berkata, "Aku ingin video call dengan anikiku sekarang."

"Oke. Akan kucoba panggilkan dia."

Sakura segera mematikan telepon dan Sasuke meremas bantalnya dan menghembuskan nafas dalam-daam. Ia belum melakukan apa yang disarankan Sakura, namun ia sudah merasa bersalah dan berdosa. Ia tak yakin Itachi cukup mengerti sekalipun sudah dijelaskan berkali-kali.

Sasuke merasa dirinya sangat jahat karena seolah menjerumuskan Itachi dan mengarahkannya untuk memberikan organ tubuh pada ibunya. Seandainya saja Sasuke bukanlah tulang punggung keluarga, ia akan memberikan ginjalnya pada sang ibu sejak dulu.

Terdengar suara dering telepon dan Sasuke segera mengecek ponselnya. Sakura menghubunginya dengan video call dan Sakura segera mengangkatnya.

"Sasuke! Kangen!"

Sasuke sedikit mengangkat sudut bibirnya, "Bagaimana kabarmu?"

"Aku senang. Tadi Sakura-chan beli pizza."

Sasuke kembali tersenyum. Ia merasa lega karena setidaknya lelaki itu baik-baik saja bersama dengan Sakura.

"Itachi-nii, kau tahu kalau okaasan sedang sakit?" tanya Sasuke tanpa berniat berbasa-basi.

Itachi mengangguk, "Obaasan bisa sembuh, kan? Aku mau jalan-jalan sama okaasan."

"Sebetulnya okaasan memerlukan ginjal untuk sembuh."

Itachi terdiam. Ia menatap Sasuke dengan bingung, "G-gin-j-jal? Itu apa?"

Sasuke merasa bingung bagaimana menjelaskannya. Ia terdiam dan menatap ke arah Sakura, seolah meminta bantuan pada gadis itu. Namun gadis itu hanya diam saja dan ia terpaksa berusaha menjelaskan sebisanya, "Itu sesuatu yang dimiliki semua orang."

"Tapi aku tidak punya."

Sasuke tidak begitu pandai merangkai kata. Sepanjang kariernya sebagai anggota band, ia hanya pernah menulis satu lagu berserta liriknya, yakni Voiceless Scream. Ia berhasil merangkai lirik lagu itu karena sebetulnya lagu itu adalah curahan perasaannya sendiri.

"Kau punya. Cuma kau tidak bisa melihatnya."

Itachi mengangguk. Ia masih mengerti penjelasan Sasuke.

"Kalau begitu, kau bersedia memberikan milikmu pada okaasan?"

Sebetulnya Itachi tidak begitu mengerti penjelasan Sasuke secara keseluruhan. Namun ia mengerti kalau ia memiliki sesuatu yang dibutuhkan ibunya. Dan tanpa ragu ia berkata, "Iya. Aku mau."

"Setelah memberikan pada okaasan, kau harus pergi ke rumah sakit, lalu dokter akan memindahkan milikmu dan memberikan pada okaasan."

Itachi menatap Sasuke dengan bingung tanpa berkata apa-apa. Ia menunggu penjelasan selanjutnya dari Sasuke.

"Kalau gagal, kau bisa meninggal."

Sasuke sangat serius ketika mengatakannya. Bertahun-tahun lalu ia pernah menjalani pemeriksaan untuk menguji kecocokan ginjalnya dan dokter sudah berkata mengenai kemungkinan komplikasi selama operasi yang akan berujung pada kematian.

"Tidak apa-apa," sahut Itachi sambil tersenyum tanpa keraguan sedikitpun, membuat Sasuke dan Sakura yang mendengarnya terkejut.

Sasuke begitu terkejut hingga ia terdiam. Bagaimana bisa Sasuke langsung mengiyakan begitu saja? Reaksi lelaki itu membuat Sasuke merasa semakin bersalah.

"Kau tidak takut?"

"Tidak. Okaasan bisa sembuh, kan?"

"Mungkin. Tapi kau bisa meninggal. Kau yakin?"

Itachi menganggukan kepala.

Sasuke malah semakin khawatir dengan reaksi Itachi. Ia kini menyesal mendengarkan saran Sakura. Ia merasa berdosa telah menjerumuskan Itachi yang sama sekali tidak mengerti apa-apa itu.

"Meninggal itu apa?"

"Seperti otousan."

"Maksudku seperti otousan bagaimana?"

Itachi terdiam sejenak dan berusaha mencerna perkataan Sasuke sebelum menjawab, "Tidur tidak bangun lagi. Pergi ke tempat yang sangat jauh."

Kini Sasuke malah merasa dirinya seperti orang idiot. Ia sangat ragu kalau Itachi mengerti apa itu 'meninggal' dan ia bertanya, "Kau tidak apa-apa kalau meninggal?"

"Tidak apa-apa."

"Kalau begitu, bilang pada okaasan kalau kau mau memberi milikmu agar okaasan bisa sembuh."

"Oke!"

Itachi tampak sangat ceria dan ia langsung bergegas meninggalkan kamar Sakura. Lelaki itu begitu antuasias hingga lupa berpamitan dengan Sasuke di telepon.

Sasuke menatap Sakura di seberang telepon dengan tatapan yang sulit diartikan. Sakura bisa menangkap keraguan yang terlihat dari tatapan Sasuke.

"Aku ragu. Aku tidak salah mengambil keputusan, hn?" Sasuke mengaku dengan jujur. Ia tak biasanya mengungkapkan kekhawatirannya pada orang lain. Namun ia tak sanggup memendam kekhawatirannya sendiri.

"Kuharap tidak. Sepertinya anikimu benar-benar mengerti soal kematian. Lagipula bukankah dia sudah pernah melewati kematian ayahmu?"

Sasuke mengangguk. Itachi bahkan merupakan orang pertama yang menemukan jenazah ayahnya yang meninggal dengan tubuh bersimbah darah dengan luka tusukan di perut. Ayahnya melakukan seppuku.

"Hn. Dia bahkan menemukan jenazah ayahku dengan tubuh penuh darah."

"Sungguh?! Aku tak mengira dia pernah melalui hal seperti itu. Selama ini anikimu selalu terlihat ceria."

"Itu karena dia tidak mengerti."

"Mungkin."

Sasuke terdiam. Ia merasa khawatir, bagaimana kalau Itachi menjalani operasi transplantasi ginjal dan terjadi kemungkinan terburuk? Bagaimana kalau lelaki itu meninggal?

Seharusnya Sasuke merasa senang karena bebannya terangkat. Namun ibunya pasti akan merasa sangat sedih karena kehilangan seorang putra setelah kehilangan suami. Lagipula sebetulnya Sasuke menyayangi Itachi meski ia sendiri sering kehilangan kesabaran menghadapi lelaki itu.

Sakura mengerti kalau Sasuke sedang memiliki banyak hal yang dipikirkan. Lelaki itu hanya diam dan keningnya berkerut.

"Tenang saja. Aku akan berusaha menjaga mereka selama kau tidak ada. Kuharap ibumu tidak akan marah besok."

"Kuharap dia tidak curiga kalau kau membocorkannya padaku."

Sakura mengangguk. Mungkin saja besok Mikoto akan marah padanya karena berpikir kalau ia membocorkannya pada Sasuke. Namun Sakura tidak khawatir, setidaknya Mikoto bukanlah ibunya. Ia khawatir dengan Mikoto yang mungkin saja marah pada Sasuke dan hubungan mereka mungkin memburuk.

-TBC-