"Okaasan, aku mau kasih milikku pada okaasan," ucap Itachi dengan senyum yang terukir di bibirnya tepat ketika ia memasuki kamar.

Mikoto merasa bingung dengan Itachi yang tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang aneh. Ia menatap putranya dengan lembut dan bertanya, "Maksudmu apa, sayang?"

"Kata Sasuke, okaasan bisa sembuh kalau aku kasih milikku."

Mikoto segera menangkap maksud Itachi dan ia begitu terkejut. Jantungnya mendadak berdebar keras dan nafasnya sedikit sesak karena emosi yang mendadak membuncah.

Mikoto tak mengerti kenapa mendadak Sasuke berkata seperti itu. Padahal kali terakhir Sasuke membahas mengenai ide transplantasi adalah dua tahun lalu dan saat itu ia langsung menolaknya. Ia tak menyangka kalau Sasuke malah mengatakan langsung pada Itachi.

Mikoto merasa sangat marah pada Sasuke. Ia berpikir kalau Sakura mungkin saja memberitahu mengenai kondisinya pada Sasuke. Namun ia tidak bisa menuduh Sakura begitu saja.

Sebetulnya Mikoto sendiri memiliki alasan mengapa ia begitu menolak transplantasi dari anggota keluarganya sendiri. Operasi transplantasi memiliki efek bagi dirinya maupun pemberi donor. Bagi dirinya sendiri, ada kemungkinan kalau tubuhnya membentuk resistensi terhadap ginjal baru yang ditransplantasikan padanya dan terjadi reaksi penolakan. Selain itu ia juga harus mengkonsumsi obat dan rutin ke dokter serta efek samping pada tubuhnya.

Sedangkan bagi pemberi donor, resiko yang ada lebih kecil. Pemberi donor bisa tetap hidup normal dengan satu ginjal yang berfungsi baik dengan memperhatikan apa yang dikonsumsi. Namun setiap operasi memiliki resiko, dan bukan tidak mungkin seorang pasien meninggal meski hanya menjalani operasi sederhana sekalipun. Buktinya, sudah banyak terjadi kasus seperti itu.

Mikoto sendiri benar-benar bingung. Ia tahu kalau Sasuke pasti akan kesulitan mengurus Itachi sendirian. Namun ia tak tega mengorbankan putranya demi dirinya sendiri meski sebetulnya ia juga tahu kalau ini adalah yang terbaik.

Air mata Mikoto mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. Ia segera menghampiri Itachi dan memeluk lelaki itu dengan sangat erat.

"Okaasan kenapa?"

Itachi tampak bingung dengan ibunya yang menangis tiba-tiba, namun ia membalas pelukan ibunya dan ia memeluk sang ibu dengan sangat erat.

"Okaasan, jangan nangis," ucap Itachi seraya meletakkan satu tangan di kepala ibunya dan mengusapnya dengan sangat lembut.

Tangisan Mikoto semakin kencang dan kini ia bahkan mulai terisak. Hatinya terasa sangat sakit. Ia takut kalau ia mungkin saja kehilangan putra sulungnya.

Mikoto merasa dirinya begitu jahat dan egois. Jika ia sampai menerima transplantasi dari Itachi, sama saja ia ikut andil dalam menjerumuskan putranya yang tidak memiliki kapabilitas secara intelegensi untuk mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Sebetulnya Mikoto merasa kalau kedua putra yang dimilikinya saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Sasuke adalah orang yang dewasa, logis dan cenderung dingin meski ia tahu kalau Sasuke sebetulnya memperhatikannya. Sasuke bukanlah tipe orang yang dengan mudah mengatakan 'aku menyayangimu' atau menunjukkan kelembutan pada orang lain. Bahkan rasanya Mikoto belum pernah mendengar ungkapan 'aku sayang ibu' secara langsung dari Sasuke meski ia tahu kalau hati Sasuke meneriakkan hal itu.

Berbeda dengan Sasuke, Itachi adalah tipe orang yang sangat senang memberikan sentuhan fisik pada orang lain, seperti memeluk atau menyentuh kening dengan dua jari sebagai ungkapan perasaan sayangnya. Bahkan Sasuke akhirnya terpengaruh untuk mengungkapkan sayang dengan cara yang tidak begitu emosional berkat Itachi. Seandainya saja Sasuke tidak tumbuh bersama Itachi, ia yakin Sasuke bahkan tidak akan mengerti bagaimana mengungkapkan perasaan sayang.

Mikoto bahkan tidak ingat berapa kali mendengar ungkapan 'aku sayang ibu' dari Itachi. Lelaki itu sudah mengucapkannya terlalu banyak hingga Mikoto tidak sanggup mendengarnya. Rasanya ia bahkan mendengar ucapan seperti itu setidaknya seminggu sekali dari Itachi. Namun lelaki itu sangat kekanakan dan memiliki tingkat intelegensi yang rendah sehingga tak bisa melakukan apa yang dapat dilakukan Sasuke dengan mudah.

"Kau yakin akan memberikan ginjalmu pada okaasan?" ucap Mikoto dengan suara pelan di sela isakannya.

"Yakin. Aku mau okaasan sembuh."

"Bagaimana kalau kau meninggal?"

"Tidak apa-apa."

Hati Mikoto semakin sakit. Ia merasa hatinya seolah teriris ketika mendengar ucapan Itachi.

"Kalau kau meninggal, kau akan seperti otousan."

"Tidak apa-apa."

"Tapi kau tidak akan bisa bertemu dengan Sasuke dan okaasan lagi. Kau juga tidak bisa menggambar dan bermain lagi. Kau yakin?"

Itachi terdiam sejenak. Sebetulnya ia cukup memahami apa yang dimaksud dengan 'meninggal'. Ayahnya tidak bangun lagi ketika meninggal sekalipun ia mengguncang tubuhnya atau berteriak. Kalau ia meninggal, ia hanya bisa diam dengan mata tertutup seperti ayahnya sekalipun Sasuke atau ibunya mengguncang tubuhnya.

Itachi merasa sedih karena ia tidak akan bisa bertemu dengan Sasuke atau ibunya kalau ia meninggal. Ia juga tidak akan bisa menggambar atau memainkan mainan kesukaannya lagi. Namun ibunya akan sembuh dan bisa pergi ke luar rumah seperti dulu. Jadi dia sangat yakin untuk memberikan apa yang dimilikinya agar ibunya bisa sembuh.

"Yakin."

Mikoto berkata dengan suara yang bergetar menahan isakannya, "Kalau kamu meninggal, siapa yang akan menemani okaasan?"

Jawaban Itachi selanjutnya membuat Mikoto benar-benar terkejut. Ia tak pernah menyangka kalau kata-kata seperti itu akan diucapkan oleh Itachi dalam hidupnya.

"Sasuke akan temani okaasan. Sasuke jaga okaasan. Aku ganggu Sasuke dan okaasan."

Tangisan Mikoto kembali meledak sesudahnya dan ia memeluk Itachi dengan sangat erat. Ia tak mengerti bagaimana bisa lelaki itu berkata dan berpikir seperti ini. Tampaknya pada akhirnya ia menyadari kalau dirinya adalah beban, dan itu sangat menyakitkan.

"Tidak," ucap Mikoto disela isakannya. "Kau tidak mengangguku."

Mikoto tidak berbohong ketika mengatakannya. Pada awalnya ia merasa dunianya runtuh karena mengetahui vonis dokter mengenai Itachi dan ia sempat berpikir kalau lebih baik Itachi mati saja ketimbang menderita. Ia juga kesulitan bersabar menghadapi anak itu dan pada awalnya ia merasa sedih sekaligus malu melihat perkembangan anak teman-temannya yang normal. Namun pada akhirnya Mikoto terus bersabar dan ia menemukan kelebihan Itachi yang mungkin tidak dimiliki oleh anak teman-temannya, yakni kasih sayang yang tulus dan keluguan.

"Aku menyayangimu, Itachi," ucap Mikoto dengan suara bergetar. Ia takut kalau ia mungkin tak akan bisa memeluk Itachi atau mengungkapkan perasaan sayangnya secara langsung pada lelaki itu.

.

.

Sasuke mengernyitkan dahi ketika ia mendapat telepon dari ibunya pada pukul lima sore. Waktu di Jepang tujuh jam lebih maju ketimbang di Jerman, sehingga seharusnya sekarang sudah pukul dua belas malam.

Sasuke cepat-cepat mengangkat telepon dari sang ibu. Dan ia terkejut ketika ibunya memanggilnya di telepon seraya terisak.

"Okaasan? Apa kau baik-baik saja?" suara Sasuke sedikit meninggi karena ia sebetulnya merasa kaget.

"Apa yang kau katakan pada anikimu? Kenapa kau mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kau katakan padanya?"

Sasuke merasa lega karena ibunya bukan menelpon untuk memberi kabar buruk. Ia tak mengira ibunya menelpon di tengah malam hanya untuk membicarakan hal ini.

"Bukankah ini sudah tengah malam di Jepang? Sebaiknya okaasan tidur saja. Kau harus banyak beristirahat."

"Aku tidak bisa tidur sebelum membahas ini denganmu."

Sasuke tahu kalau ibunya adalah tipe orang yang keras kepala jika sudah memutuskan sesuatu. Dan ia yakin ibunya benar-benar tidak akan tidur sebelum membahas hal ini dengannya.

"Aku hanya bilang kalau okaasan bisa sembuh dengan transplantasi ginjal. Lalu aku bertanya apakah dia mau memberikan ginjalnya?"

"Kau!" ucap Mikoto dengan suara meninggi. Sasuke terkejut karena belum pernah ia mendengar ibunya semarah itu.

"Aku juga menjelaskan resiko padanya. Kemungkinan terburuk, operasi akan gagal dan dia bisa meninggal. Tapi sepertinya dia bersedia."

"Kau sendiri sudah tahu seperti apa anikimu, kan?! Apa menurutmu dia akan sepenuhnya mengerti?" Mikoto berkata dengan suara yang hampir berteriak kalau saja tidak ingat bahwa Itachi sedang tidur di kamar bersamanya.

Sasuke hanya diam. Dia tak tahu bagaimana harus menjelaskan pada ibunya. Dia sendiri juga ragu apakah Itachi benar-benar mengerti efek samping yang mungkin terjadi sekalipun sudah dijelaskan.

"Kupikir kematian itu hanya kemungkinan yang terburuk. Kemungkinan yang terbaik, okaasan bisa mendapatkan ginjal baru. Sebetulnya hidup dengan satu ginjal juga tidak masalah selama menjaga pola makan dan tidak terlalu banyak beraktifitas. Aniki membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya, dan seharusnya tidak masalah hidup dengan satu ginjal," ucap Sasuke pada ibunya.

Sasuke memutuskan untuk menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang ia pikirkan pada ibunya. Ia berharap agar ibunya mengerti.

"Lagipula, seandainya tidak ada okaasan, siapa yang akan merawatnya? Mempekerjakan orang untuk merawat orang seperti aniki juga tidak mudah. Kalau si perawat tidak cukup sabar, aniki malah bisa menjadi sasaran tindak kekerasan."

"Kau tak bersedia merawatnya?"

Sasuke menghela nafas. Ibunya memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengannya meski mereka memiliki wajah yang mirip. Ibunya cenderung emosional, sedangkan ia cenderung rasional.

"Bukan begitu. Okaasan tahu kalau aku belakangan ini sibuk, hn? Aku tidak mungkin berada di rumah selama dua puluh empat jam dan menemani aniki. Membawanya pergi ke studio atau tempat konser juga tidak mungkin."

"Jadi kau menganggap anikimu sebagai beban untuk karirmu?"

Sasuke sudah merasa jengah atas segala beban dalam hidupnya. Ia merasa sesak seolah ia akan mati dengan beban yang mencekiknya tanpa memiliki kesempatan untuk meluapkan bebannya.

Kali ini Sasuke sudah tidak tahan lagi. Dan ia memutuskan untuk menjawab dengan jujur, "Sejujurnya aniki memang bebanku."

Ucapan Sasuke sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Namun Mikoto merasa kalau Sasuke sudah keterlaluan karena mengatakan kalau kakaknya sendiri adalah beban.

"SASUKE!" teriak Mikoto dengan keras di telepon. Wanita itu terisak keras tepat setelah membentak Sasuke, membuat perasaan Sasuke tidak enak.

Sasuke hanya bisa diam. Ia merasa tidak nyaman dan bingung harus berbuat apa. Ia merasa bersalah, namun di sisi lain ia berpikir kalau ia hanya mengucapkan fakta. Memangnya apa yang salah dengan mengucapkan sebuah fakta yang selama ini disimpannya di dalam hati?

Jika dipikir-pikir, Sasuke merasa dirinya menyedihkan. Di usia muda ia harus bekerja sangat keras dan merelakan studinya terhenti. Ia juga memiliki tanggung jawab menanggung keluarganya, mulai dari hutang hingga biaya hidup sehari-hari. Dan ketika ia meluapkan beban di hatinya, ia masih juga dipersalahkan.

Dada Sasuke terasa sesak dengan beban tak kasat mata di dadanya. Terkadang ia ingin melepaskan diri dari seluruh beban dan melakukan bunuh diri seperti ayahnya. Namun kemudian ia berpikir, bagaimana ibu dan kakaknya akan hidup tanpa dirinya? Jika ia bunuh diri, sama saja ia membunuh keluarganya secara tak langsung. Sasuke ingin mati, namun kematian adalah sebuah kemewahan baginya. Dan ketika emosi sedang mengambil alih dirinya, ia merutuki ayahnya yang mengambil kemewahan yang tersisa dalam keluarganya dengan melarikan diri dari tanggung jawab dan melakukan bunuh diri.

Air mata Sasuke hampir mengalir dan nafasnya mulai sesak. Emosi kembali mengambil alih dirinya dan ia merasa ingin menangis. Namun ia segera memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Seorang lelaki tak seharusnya menangis, apalagi karena hal yang tidak jelas begini.

"Kau tahu apa yang dikatakan anikimu padaku? Dia bilang kalau dia menganggu kau dan aku. Apa kau mengatakan hal itu padanya?" ucap Mikoto ketika tangisnya mereda.

"Aku tidak pernah mengatakan itu padanya."

Sasuke merasa benar-benar bersalah. Emosinya semakin sulit dikendalikan dan ia yakin kalau ia akan menangis di telepon jika ia tak menutup telepon sekarang juga.

.

.

Naruto sedang menonton televisi seraya berbaring dan menelungkup di atas kasur. Ia sedang iseng membuka laman resmi bandnya di facebook dan membaca seluruh komentar yang ada di sana.

Sedangkan Neji sedang memainkan game di ponselnya, begitupun dengan Kiba. Sebetulnya mereka sedang bermain survival game dan berada di tim yang sama dengan Sai. Hanya saja Sai sedang berada di dalam kamarnya sendiri karena terlalu malas untuk meninggalkan kamarnya.

Mata Naruto mendelik seketika saat ia membaca salah satu komen fans yang menyebarkan link dari salah satu blog dan menulis, 'Aku tak mengira kalau Shu adalah orang yang seperti itu. M enyesal sekali sudah mengidolakan orang yang arogan seperti itu'.

Naruto membaca komen beberapa fans yang ikut menyetujui apa yang dikatakan fans itu. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan telah meng-unfollow laman resmi maupun akun Instagram Sasuke. Bahkan ada juga yang menyarankan agar manajemen mencari personil baru demi para anggota band lainnya.

Naruto merasa heran, rumor macam apa lagi yang menyerang Sasuke? Sebelumnya mereka pernah menemukan rumor di blog mengenai Sasuke yang selalu bercinta dengan fans seusai konser dan selalu meninggalkan tempat konser dengan cepat. Namun hal itu tidak pernah diberitakan secara resmi karena sejauh ini Sasuke belum pernah terlihat meninggalkan tempat konser dengan fans wanita. Jika tidak ada foto, maka wartawan juga tidak bisa menjadikannya sebagai berita karena tidak ada bukti.

Terdengar suara bel dan Naruto segera berjalan menuju pintu. Ia menatap ke arah lubang pengintip dan mendapati Sai yang berdiri di depan pintu.

Naruto segera membuka pintu dan Sai segera masuk ke dalam dengan membawa ponselnya. Biasanya Sai tampak tenang, namun kali ini ia terlihat berbeda dengan biasanya.

"Coba buka instagrammu sekarang," ucap Sai tepat ketika masuk ke dalam kamar Naruto.

"Memangnya kenapa?"

"Para fans membanjiri inboxku dan kolom komentarku. Mereka bilang kasihan padaku dan menyarankan untuk mencari drummer baru. Ada juga yang mengatakan kecewa pada Sasuke," jelas Sai.

"Barusan aku juga melihat di laman resmi band kita di facebook. Sepertinya ada seseorang yang membuat rumor mengenai teme."

"Aku sudah mengeceknya. Semua bersumber dari sebuah blog baru yang dijadikan refrensi oleh para wartawan dalam memberitakan Sasuke. Aku tak tahu dari mana si pembuat blog mendapat video mengenai kita di dalam studio. Terdapat video-video mengenai Sasuke yang mengucapkan kata-kata tajam dan sinis di dalam studio. Bahkan ada juga rekaman suara mengenai Sasuke yang menyuruh latihan di saat subuh dan para fans menyebutnya tidak manusiawi. Blog itu menyajikan semua video yang sudah dipotong dari fakta yang sebenarnya."

Naruto meringis. Ia sendiri belum membuka link yang disebarkan salah seorang fans di laman resmi band.

Ini benar-benar gawat. Tur bahkan belum berakhir dan sudah muncul berita mengenai Sasuke. Baik Sai maupun Naruto mengkhawatirkan tur yang tersisa di tiga negara akan dibatalkan. Namun mereka lebih mengkhawatirkan perasaan Sasuke jika mengetahui rumor itu.

"Aku ingin menyembunyikan ini dari teme," ucap Naruto.

Sai mengangguk, "Aku juga. Tapi Sasuke pasti akan mengetahuinya."

Naruto setuju dengan ucapan Sai. Sebetulnya ia dan anggota band lainnya sangat mengkhawatirkan Sasuke secara emosional. Bahkan terkadang Sasuke menjadi topik pembicaraan ketika mereka sedang berkumpul tanpa lelaki itu,

Menurut mereka, Sasuke menanggung beban emosional yang sangat berat dan berusaha menanggung semuanya sendiri. Beberapa hari yang lalu Sasuke bahkan mendapat teguran dari direktur karena memberi encore dan semua anggota band tidak ada yang mengetahuinya. Mereka semua baru tahu dari manajer yang memberitahu mereka, dan Sasuke tetap tidak membahasnya.

Jika diibaratkan, Sasuke bagaikan sebuah batu yang terus menerus terkena air dan akan lapuk suatu saat nanti. Meski saat ini Sasuke terlihat kuat, namun cepat atau lambat lelaki itu akan hancur.

"Ada apa, sih?" tanya Kiba yang baru saja selesai bermain game setelah karakternya dan Neji mati karena tertembak musuh. Sebelumnya karakter Sai sudah mati terlebih dulu.

"Lihat link yang kukirimkan di chat. Kau juga lihat, Neji," ucap Sai.

Naruto mengepalkan tangannya karena marah. Siapa orang jahat yang berniat menyudutkan Sasuke sampai seperti ini?

Memang benar kalau Sasuke sering menyuruh mereka berlatih keras. Lelaki itu juga melarang mereka melakukan beberapa hal ketika pergi ke luar negeri untuk konser, misalnya pergi ke tempat prostitusi atau setidaknya berada di distrik lampu merah. Namun mereka semua tidak keberatan karena tahu kalau apa yang dilakukan Sasuke demi citra band dan diri mereka sendiri.

Terkadang mereka diam-diam mengeluh karena latihan yang berat, namun keluhan mereka hanya keluhan wajar sebagai manusia yang terkadang merasa malas. Sasuke bahkan terkadang berlatih sendirian ketika anggota band lainnya sudah selesai berlatih.

Terdengar suara bel lagi dan Naruto kembali mengintip melalui lubang pengintip. Ia terdiam untuk sesaat dan cepat-cepat membuka pintu untuk Sasuke kemudian menutupnya kembali.

Sasuke terlihat benar-benar kacau, tak seperti biasanya. Matanya terlihat seperti habis menangis.

"Kalian sudah liat di sosial media?" ucap Sasuke tanpa berbasa-basi.

Naruto maupun Sai terdiam. Mereka terkejut karena Sasuke bahkan sudah mengetahuinya.

Naruto langsung memeluk Sasuke dengan sangat erat. Ia menepuk punggung Sasuke dan berkata, "Kita pasti bisa melaluinya! Aku akan mencari tahu siapa orang jahat yang menyudutkanmu."

Sasuke hanya diam. Ia benar-benar ingin mati detik ini juga kalau bisa. Ia ingin mundur dari garis terdepan dalam pertempuran dan berlari layaknya seorang pengecut. Ia ingin berlari dan meninggalkan semua beban hidupnya.

Cobaan datang bertubi-tubi dan menghujam Sasuke. Setelah mengetahui kondisi ibunya yang memburuk dan memiliki masalah keluarganya, kini muncul pemberitaan buruk mengenainya. Jika kariernya sampai hancur, Sasuke benar-benar sudah tak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan uang demi keluarganya. Mungkin ia harus mencoba terjun ke industri pornografi, namun ia akan kehilangan gadis yang disukainya

"Aku tidak disudutkan, dobe. Bagaimanapun juga, memang aku yang berada di video itu. Dan itu juga suaraku."

Sai tak tahan lagi. Ia berkata, "Pemotongan video membuat fans salah paham dan berpikir kalau kau arogan. Mereka berpikir kalau kau menjadikan kami sapi perah dan memaksa kami berlatih sangat keras."

"Aku memang memaksa kalian berlatih sangat keras."

"Aku tidak masalah. Seandainya kau tidak menyuruh kita berlatih keras, kemampuan kita tidak akan meningkat dan band kita tidak akan sukses. Aku tidak akan bisa menunjukkan pada orang tuaku kalau aku bisa sukses tanpa bantuan mereka," ucap Naruto.

"Band kita akan hancur karena skandalku, dobe. Aku akan bertanggung jawab dan memastikan kalau band tidak terpengaruh."

"Aku akan keluar band kalau kau sampai keluar!" seru Naruto sambil menepuk punggung Sasuke dengan keras untuk menyadarkan lelaki itu.

Sasuke memejamkan mata dan membalas pelukan Naruto. Di dalam hatinya ia terus berterima kasih dengan Naruto yang terus menerus mendukungnya.

Pertahanan emosional Sasuke benar-benar sudah hancur. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak Naruto dan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia menangis tanpa suara.

-TBC-


Author's Note :


Untuk beberapa chapter ke depan aku fokus ke konflik utama dari fanfict ini. Jadi aku ga akan menampilkan adegan romance di setiap chapter.

Chapter selanjutnya bakal diupdate besok atau lusa.