Kakashi, manajer Black Ash, datang ke kamar Naruto untuk membahas mengenai rumor yang beredar. Rumor menyebar begitu cepat dan kini pihak promotor maupun manajemen kewalahan.
Para pihak promotor, khususnya promotor di Singapura, menelpon manajemen untuk memaki pihak manajemen. Mereka semua menyalahkan manajemen karena tidak bisa menjaga sikap artisnya dan tidak berusaha menjaga keamanan para artisnya.
Dua hari lagi mereka akan konser di Singapura dan para fans mengancam untuk menuntut uang mereka kembali jika Sasuke sampai tampil di konser. Mereka merasa muak melihat orang yang arogan dan membayar uang untuk memberi penghasilan bagi Sasuke.
Pihak promotor di Singapura benar-benar kewalahan. Jika tidak ada Sasuke, harus ada seseorang yang mengisi bagian drum. Mencari drummer pengganti jelas tidak mungkin, maka satu-satunya pilihan adalah meminta Sasuke merekam bagiannya terlebih dahulu dan memutarnya ketika konser. Namun rasanya sulit untuk merekam sepuluh lagu hanya dalam waktu dua hari, itupun harus dipotong dengan waktu yang diperlukan untuk gladiresik karena para anggota band harus menyesuaikan permainan mereka dengan instrument drum Sasuke yang sudah diputar sebelumnya.
"Sebaiknya kau segera kembali ke Jepang dan tidak usah meneruskan tur yang tersisa, Sasuke. Direktur juga sudah menyuruhmu untuk segera kembali. Kalau para fans sampai melihatmu di tempat konser, itu akan berdampak buruk bagi band secara keseluruhan," ucap Kakashi seraya menatap Sasuke setelah memutar semua video yang disebarkan di blog itu.
Sebetulnya Kakashi merasa kasihan pada Sasuke. Karier Sasuke bisa hancur, sedangkan lelaki itu masih harus menanggung keluarganya. Ia tahu kalau Sasuke memiliki ibu yang sakit dan kakak yang tidak normal setelah mendengar penjelasan langsung dari Sasuke mengenai alasannya selalu cepat-cepat meninggalkan tempat konser hingga menyebabkan rumor.
Saat itu direktur yang merasa ragu bahkan diam-diam mengirim detektif untuk mencari tahu mengenai kondisi keluarga Sasuke. Dan ucapan Sasuke memang benar sehingga direktur malah bersimpati dengan lelaki itu serta berusaha memberikan tawaran pekerjaan lebih banyak pada band, misalnya saja dengan melakukan 'lobi' agar Black Ash bisa menjadi bintang iklan.
"Ini keterlaluan! Sekarang juga aku akan membuat klarifikasi di seluruh akun sosial mediaku!" seru Naruto dengan emosi yang sudah memuncak.
Kakashi menghela nafas lelah. Ia tak mengira kalau apa yang disarankannya pada direktur malah akan menjadi boomerang. Dulu ia berusaha mempersuasi direktur agar mengijinkan setiap personil Black Ash memegang akun pribadi masing-masing seperti yang dilakukan band-band lain dengan alasan agar ciri khas kepribadian setiap personil Black Ash lebih menonjol dan menyenangkan para fans yang bisa berinteraksi secara langsung dengan sang idola. Kalau tahu Naruto akan bersikap begini, ia akan menyetujui sang direktur untuk melarang setiap personil Black Ash memegang akun pribadi sekalipun.
"Jangan gegabah, Naruto! Setiap langkah harus didiskusikan demi kepentinganmu, band dan label. Setelah kembali ke Jepang, kita akan mendiskusikannya bersama petinggi," ujar Kakashi.
"Seminggu lagi?! Kita harus menunggu selama itu? Rumor akan semakin menggila. Lalu bagaimana dengan teme dan keluarganya?"
"Itu…" Kakashi terdiam. Secara pribadi ia merasa kasihan dengan Sasuke. Jika ibunya yang sedang sakit sampai mengetahui hal ini, pasti akan sangat khawatir.
Dibanding semua anggota band lainnya, Kakashi menganggap kalau Sasuke adalah orang yang paling menyenangkan untuk diajak bekerja sama berkaitan dengan label. Sasuke adalah tipe orang yang logis dan cenderung memikirkan band dan bahkan label. Ia tahu kalau Sasuke adalah orang yang perfeksionis, dan lelaki itu berhasil membuat bandnya berlatih keras dan sejauh ini belum pernah melakukan kesalahan saat konser. Bahkan direktur dan petinggi lain sering memuji Sasuke dan membandingkannya dengan band-band lain di label yang sama.
Sebelumnya Kakashi pernah menjadi manajer untuk band lainnya dan ia merasa kewalahan harus mengatur setiap tindakan anggota band. Ketika ia pindah ke label lain dan ditugaskan untuk mengatur Black Ash, ia berpikir kalau pekerjaannya akan sulit setelah mengetahui latar belakang setiap personil. Namun ternyata tidak terlalu sulit karena Sasuke membantu meringankan pekerjaannya dengan mengatur tindakan setiap anggota band dan mendorong mereka untuk berlatih sesuai jadwal yang ditentukan.
"Sebetulnya aku setuju dengan Naruto. Kalau tidak melakukan tindakan dengan cepat, bukankah akan berdampak buruk bagi label?" tanya Neji.
"Kupikir kalau kita sendiri yang melakukan klarifikasi, fans akan lebih percaya karena kita yang selama ini menghabiskan banyak waktu dengan Sasuke," ucap Kiba.
Kakashi mengangguk. Ucapan Neji dan Kiba cukup masuk akal, namun ia tetap harus mendiskusikannya terlebih dulu dengan para petinggi.
"Aku akan mendiskusikannya lagi dengan para petinggi. Namun sebelumnya ada sesuatu yang ingin kubahas dengan kalian. Para petinggi memintaku untuk menanyakan persetujuan kalian mengenai hal ini."
Sasuke menatap Kakashi, begitupun dengan para anggota band lainnya. Mereka semua menanti apa yang hendak dikatakan Kakashi.
"Para fans di Singapura mendesak agar Sasuke tidak tampil di konser atau mereka akan meminta pihak promotor mengembalikan uang mereka. Para fans di China dan Korea juga mendesak agar Sasuke tidak tampil di konser karena mereka tidak rela memberikan pemasukan bagi Sasuke. Namun kita tidak mungkin mencari drummer pengganti dengan kemampuan sebaik Sasuke dalam waktu singkat. Jadi satu-satunya pilihan adalah menggunakan instrumen drum yang direkam sebelumnya dan kalian hanya perlu menyesuaikan instrument kalian dengan drum yang telah direkam sebelumnya untuk konser di Singapura. Apakah kalian setuju kalau Sasuke mendapatkan lima puluh persen dari bayaran yang seharusnya ia dapat dari konser di Singapura karena ia tidak tampil di konser?"
Naruto menatap Kiba, Sai dan Neji secara bergantian. Kiba mulai berbicara dan diikuti oleh Naruto, Sai dan Neji secara serempak, "Seratus persen."
Kakashi terkejut dengan keempat orang itu. Sasuke juga terkejut dengan reaksi teman-temannya.
"Apa kalian yakin? Petinggi mengatakan untuk membagi lima puluh persen jatah Sasuke yang tersisa untuk kalian berempat. Sehingga pemasukan kalian akan meningkat."
"Tentu saja. Lagipula itu bukan keinginan Sasuke untuk tidak tampil di konser," ucap Neji.
"Teme juga butuh uang untuk keluarganya. Jadi aku tidak keberatan."
Kakashi merasa terharu menyaksikan sendiri para anggota band yang sangat akrab meski bukan keluarga. Bahkan terkadang orang yang memiliki hubungan darah pun belum tentu akan bersikap seperti ini. Biasanya banyak band yang hancur karena masalah pembayaran yang dirasa kurang adil bagi anggota band tertentu, namun para anggota Black Ash malah merelakan pendapatan lebih yang seharusnya mereka terima.
Sasuke mengerti niat baik teman-temannya. Namun ia merasa tidak pantas menerima bayaran yang sama meski ia tidak tampil di konser.
"Terima kasih. Tapi aku tidak akan menerima bayaran karena tidak tampil di konser."
Naruto menepuk punggung Sasuke dengan keras dan berkata dengan suara meninggi, "Kenapa tidak?! Kita akan membawakan sepuluh lagu untuk konser di Singapura dan kau harus merekam semuanya. Merekam satu lagu saja biasanya perlu waktu yang cukup lama, bagaimana dengan sepuluh?"
"Ini bagian dari tanggung jawab, dobe."
"Sekarang pukul setengah delapan malam dan gladiresik di Singapura akan dimulai dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Malam ini kau akan begadang untuk rekaman, kan?"
"Mungkin."
"Nah! Kau merelakan waktumu dan tidak dibayar sepeserpun? Itu tidak adil untukmu, teme."
Kiba menepuk punggung Sasuke dan berkata, "Terima saja. Lagipula kami juga setuju. Kau perlu uang untuk keluargamu dan belum tentu mendapat pekerjaan untuk sementara waktu sesudah ini."
Sasuke merasa berterima kasih pada rekan satu bandnya. Ia bahkan tak mengerti mengapa mereka semua begitu baik padanya ketika sikapnya pada mereka cenderung keras, entah dirinya terlalu beruntung atau semua teman satu bandnya terlalu bodoh.
"Arigatou."
Perasaan Sasuke menghangat berkat kebaikan teman-temannya. Ia semakin tidak tega jika citra band sampai hancur karena dirinya dan karier teman-temannya juga ikut hancur. Maka ia harus melakukan apapun demi band.
Kakashi menatap sekeliling. Entah kenapa ia merasa tidak aman meski ia sedang berada di dalam ruangan.
"Aku akan meminta perusahaan menambah body guard untuk memperketat pengamanan. Kalau perlu menyewa jasa tim IT atau apalah itu untuk mengamankan kalian. Kalian juga harus berhati-hati dimanapun kalian berada. Perhatikan kalau ada yang mencurigakan dengan ruangan kalian berada."
Naruto mengernyitkan dahi, "Tim IT? Untuk apa?"
Kakashi mendekatkan wajahnya dan mengecilkan suaranya, "Ingat, ini rahasia di antara kita saja. Petinggi pun sedang mendiskusikan hal ini. Tapi sebetulnya kami curiga dengan pihak promotor di Australia dan Paris."
"Mereka terlibat dengan rumor ini?" tanya Sai dengan antusias ketika mendengar ucapan Kakashi.
"Tentu saja. Jika dilihat dari video, bukankah itu studio di Paris dan Australia? Bukankah selama ini pihak promotor yang menyediakan dan mengurus studio sebagai tempat untuk berlatih selama venue konser sedang dipersiapkan?" ujar Kakashi.
Sasuke mengernyitkan dahi mendengar ucapan Kakashi. Otaknya masih dipenuhi dengan permasalahan yang mengerubunginya bagaikan lalat yang mengerubungi kotoran. Namun kali ini ia berusaha mengesampingkannya dan bersikap tenang demi kepentingan band.
"Untuk apa pihak promotor menjatuhkanku? Apa keuntungan yang akan didapat promotor dengan menjatuhkan artisnya sendiri?"
Kakashi mengendikkan bahu, "Entah. Ini hanya perkiraan manajemen, namun kupikir ada oknum dalam pihak promotor yang bekerja sama dengan papparazi untuk menguntit kita dengan memasang kamera tersembunyi di studio. Secara kebetulan, Sasuke yang bersikap paling tegas di dalam studio dan memiliki banyak fans, sehingga berita seperti ini pasti akan menarik. Atau yang terburuk, bisa saja papparazi ini adalah suruhan lawan yang merasa tidak suka karena band kita bisa mengadakan tur ke hampir semua benua meski belum lama dibentuk dan konsep band kita adalah visual kei, konsep yang tidak umum di luar Jepang namun nyatanya diterima oleh orang-orang di luar negeri."
Otak Sasuke secara refleks memikirkan kemungkinan terburuk. Namun ia berusaha menahan diri untuk tak berpikir lebih banyak dari yang seharusnya. Ia sudah cukup tertekan memikirkan masalahnya dan tak ingin menambah lebih banyak tekanan.
"Bagaimana dengan hacker? Kudengar mereka bisa merekam diam-diam menggunakan ponsel orang lain. Tidakkah kau berniat mengeceknya, Kakashi-san?"
"Sepertinya agak sulit, Sai. Bukankah kalian selalu mematikan ponsel selama berada di dalam studio? Tidak semua hacker mampu melakukannya. Tapi aku akan menyampaikan pada atasan sebagai pertimbangan."
Sai menganggukan kepala. Ia berharap masalah ini dapat selesai secepat mungkin.
"Pokoknya, untuk sementara berhati-hatilah berada di dalam studio dan tempat manapun yang disediakan pihak promotor, termasuk hotel. Anggaplah kalian sedang berada di depan publik dan batasi apapun yang kalian bahas agar hanya berkaitan dengan urusan band. Ini demi kepentingan kalian, band, dan Sasuke sendiri," ujar Kakashi.
Neji menatap Kakashi lekat-lekat dan bertanya, "Apakah kita tidak bisa menuntut siapapun yang melakukan ini?"
Kakashi mengangguk, "Tentu saja setelah kita mendapatkan buktinya. Kalau beruntung, ini malah bisa menjadi titik bagi band kalian untuk 'melompat' lebih tinggi dari sebelumnya."
"Kuharap begitu," ujar Naruto.
Sasuke menatap jam yang tertera di ponselnya. Jam telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan ia segera bangkit berdiri, "Kapan rekamanku akan dimulai? Aku ingin cepat memulai dan mengakhirinya."
"Pukul sepuluh kita akan berangkat ke studio yang diam-diam kupersiapkan. Untuk sementara kau beristirahat saja lebih dulu."
"Hn."
Naruto bangkit berdiri dan memeluk Sasuke serta menepuk punggung lelaki itu dan berkata, "Kita pasti bisa melaluinya bersama-sama tanpa kehilangan satupun anggota band."
Kiba ikut bangkit berdiri dan ia ikut memeluk Sasuke dari samping, "Pokoknya drummer band kita tetap tidak akan berubah. Aku tidak mau punya drummer yang lain."
Neji dan Sai menyusul kedua rekannya untuk bangkit berdiri dan ikut memeluk Sasuke. Kelima lelaki itu terlihat seperti teletubbies yang berpelukan bersama, namun mereka tidak peduli.
"Kurasa tidak akan ada leader lain seperti dirimu. Jadi aku berharap kau akan tetap menjadi leader kami, Sasuke," ucap Neji.
Kakashi tersenyum menatap kelima anggota band yang diurusnya. Ia bukanlah bagian dari band secara langsung, namun ia benar-benar mengagumi pertemanan kelima orang itu. Ia begitu sering menyaksikan bagaimana Sasuke dan Naruto bertengkar, atau Kiba yang menyebut Sasuke begitu kaku bagaikan spons kering, atau antar member lain yang saling meledek satu sama lain. Namun hubungan mereka semua terlihat jauh lebih baik ketimbang yangterlihat di permukaan.
Sasuke merasa canggung dalam situasi yang emosional seperti ini. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan ekspresi wajah dan intonasi datar meski sebetulnya ia merasa sangat terharu.
.
.
Sakura menatap Ino dan Tenten yang mengundangnya untuk datang ke rumah Ino di malam hari hanya untuk membahas mengenai Black Ash. Awalnya ia terkejut karena Ino menelponnya dan menyuruhnya untuk segera datang. Ia pikir sesuatu yang buruk terjadi pada Ino sehingga ia cepat-cepat menghabiskan makan malamnya dan menuju rumah Ino.
Sakura merasa lega ketika ia menemukan kalau Ino ternyata baik-baik saja. Namun ia bagaikan disambar petir di siang bolong saat Ino menunjukkan berita yang beredar dengan pesat mengenai Shu serta reaksi kebanyakan fans yang mengecamnya sebagai orang yang otoriter dan menekan para anggota band lainnya hingga menyuruh mereka untuk berlatih di jam yang sangat tidak manusiawi.
"Dasar fans idiot! Padahal mereka berlatih keras seperti itu juga demi para fans seperti kita! Kalau penampilan mereka jelek, nanti fans juga yang protes," maki Ino dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.
Ino begitu syok ketika mendapat info mengenai idolanya dan langsung menangis ketika membaca komentar-komentar jahat dari para fans. Ia adalah salah satu dari fans yang mendukung Sasuke dan sejak tadi ia terus menerus menulis komentar-komentar untuk membela Sasuke.
"Aku juga tidak mengerti kenapa para fans malah protes. Bukankah anggota band yang lain baik-baik saja? Lihat saja saat rekaman di belakang panggung, mereka baik-baik saja, tuh," ujar Tenten dengan menggebu-gebu.
Sakura sendiri juga menyukai music Black Ash meski ia bukan fans garis keras seperti Ino. Ia tidak bisa menjadi fans garis keras Black Ash karena ia mengenal Sasuke dan Naruto sejak kecil sehingga di matanya Sasuke dan Naruto bukanlah sosok yang 'wah' dan keren seperti fans-fans lainnya. Rasanya juga canggung kalau ia memasang poster wajah teman sendiri atau menjadikan foto teman sendiri sebagai wallpaper seperti yang dilakukan Ino dan Tenten.
"Bukankah sebetulnya semua video-video itu hanya potongan? Bagaimana kalau Shu disudutkan? Lagipula Shu bukan orang yang arogan seperti itu!" ucap Sakura dengan tak kalah menggebu-gebu dengan Tenten.
Ino dan Tenten menatap Sakura dengan heran. Padahal wanita itu sepertinya bukan fans garis keras Black Ash. Bahkan katanya ia hanya menikmati musiknya, bukan mengagumi personilnya. Tapi kenapa kali ini wanita itu begitu emosi karena rumor ini? Lagipula kenapa dia juga bisa yakin sekali kalau Shu bukan orang yang seperti itu. Bahkan Sakura sepertinya mengetahui banyak hal mengenai band itu walaupun bukan fans garis keras.
"Lho? Kok kau yakin sekali kalau Shu bukan orang yang seperti itu?"
Sakura terkejut karena ia tanpa sadar membuat kedua sahabatnya curiga. Ia segera tersenyum, "Yah. Insting sebagai fans, lah."
Ino dan Tenten tak percaya begitu saja dengan ucapan Sakura. Sejak lama mereka berdua merasa penasaran dengan Sakura. Dan kali ini mereka memutuskan menjawab rasa penasaran mereka.
"Sebetulnya aku merasa aneh. Kenapa kau bisa tahu banyak soal Black Ash. Padahal katanya kau cuma menyukai musiknya. Jangan-jangan sebenarnya kau mengenal personil Black Ash."
Sakura meneguk ludah dan menggeleng, "Dasar. Mana mungkin aku memiliki kenalan yang seperti itu? Menurutmu dimana aku bisa mengenal personil Black Ash?"
"Sekolah, mungkin? Atau tempat kursus?"
Sakura menggeleng, "Kita kan satu tempat kursus sejak SMA. Lagipula aku juga tidak pernah satu sekolah dengan mereka."
"Mungkin di tempat kursus yang lain, pig?"
"Aku cuma kursus bahasa Inggris dan pelajaran, kok. Itupun kita satu kelas, kan?"
Ino tetap merasa curiga dengan Sakura. Gadis itu bahkan tidak menatap mata nya meski mereka saling bertatapan.
"Ayolah, pig. Aku berjanji tidak akan mendesakmu mempertemukan kita dengan personil Black Ash atau mengambil foto mereka atau apapun deh. Ini hanya rahasia di antara kita bertiga," ucap Ino.
Sakura merasa ragu untuk mengatakannya. Sejauh ini Ino dan Tenten bisa dipercaya. Namun bukan berarti mereka selamanya bisa dipercaya.
"Aku takut kalian menyebarkannya pada orang lain. Aku menghargai mereka dan mengkhawatirkan privasi mereka."
Ino mengangguk. Walaupun ia fans garis keras, namun kekagumannya pada Shu benar-benar tulus. Ia begitu ingin melihat sang idola bahagia dan ia merasa marah ketika merasa sang idola diperlakukan tidak adil.
Tenten juga berpikiran sama dengan Ino. Ia mengagumi Black Ash dan merupakan fans Yuu dan Shu. Namun bukan berarti ia akan melakukan hal-hal yang akan mencelakai idolanya baik secara langsung maupun tidak.
"Shu dan Rui adalah temanku sejak kecil. Ibu kami berteman," Sakura mengaku dengan jujur.
Ino dan Tenten benar-benar terkejut. Mereka merasa iri karena Sakura benar-benar beruntung.
"Gila! Kau beruntung sekali, forehead!"
Tenten mengangguk, "Bagaimana kalau Sakura cepat-cepat menikah? Siapa tahu saja para personil Black Ash akan datang. Jadi aku bisa melihat idolaku secara langsung."
"Memangnya kau pasti akan diundang?" ledek Sakura.
"Jadi kau berniat tidak mengundangku? Kita ini teman, kan? Kenapa kau jahat padaku?"
"Oh, kita teman?"
Terkadang mereka bertiga suka bercanda seperti ini. Namun mereka semua tak tersinggung dengan ucapan satu sama lain.
Sakura menatap kedua sahabatnya dan berkata, "Shu itu memang cenderung dingin dan kata-katanya tajam. Tapi menurutku dia sebenarnya tulus dan baik. Dia juga bukan tipe pria yang akan memanfaatkan para fans untuk ditiduri."
"Jadi rumor mengenai dia meniduri para fans seusai konser itu bohong? Padahal aku tidak keberatan. Bagaimanapun juga, Shu adalah lelaki dewasa. Kalau fans bersedia dan dia juga bersedia, apa yang salah dengan cinta satu malam?" ucap Ino dengan serius. Ia tidak keberatan dengan hal itu, namun ia lega saat mendengar ucapan Sakura.
"Tentu saja. Sebenarnya dia selalu menghilang setiap selesai konser untuk segera pulang. Aku bisa tahu karena aku tahu seperti apa keluarganya," ucap Sakura.
Ucapan Sakura membuat Ino dan Tenten membelalakan mata karena takjub. Mereka semakin mengagumi sosok Sasuke yang tanpa diduga adalah seorang 'family man'.
"Kalau boleh tahu, seperti apa keluarganya?" tanya Tenten karena penasaran.
Sakura menggeleng, "Aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Intinya, semua personil Black Ash mengagumkan. Aku bilang begini bukan karena aku mengenal mereka. Tapi karena aku tahu bagaimana mereka berjuang dan seperti apa latar belakang mereka."
Sakura benar-benar tulus mengucapkannya. Ketenangan Sasuke dalam menghadapi masalah adalah salah satu hal yang membuatnya mengagumi Sasuke.
Sebagai manusia, setiap orang memiliki kekurangan. Sakura mengetahui apa kelebihan dan kekurangan Sasuke, namun ia mengagumi kelebihan lelaki itu dan menerima kekurangan lelaki itu. Sekalipun ia tidak menyukai Sasuke, ia tetap menganggapnya sebagai sosok yang menakjubkan, sama seperti ketika ia mengagumi Naruto dan personil Black Ash lainnya yang sangat kuat.
Mendadak Sakura teringat akan rumor yang menyebar dan seketika ia merasa khawatir. Tampaknya Sasuke sedang memiliki masalah dengan ibunya karena semalam ia terbangun dan mendengar teriakan Mikoto di dalam kamar ketika ia menuju dapur untuk mengambil minum dari dispenser. Ia merasa tidak enak bertanya pada Mikoto dan wanita itu juga tidak membahasnya. Namun Sakura tak berharap kalau Mikoto khawatir setelah mengetahui rumor yang beredar dan ia harus menghubungi Sasuke.
-TBC-
