Sakura duduk bersandar di kursi kerjanya seraya menatap ponsel. Jam istirahat makan siang akan berakhir pukul satu, namun ia sudah kembali ke kantor dua puluh menit lebih awal.
Tatapan Sakura tertuju pada headline berita yang muncul ketika ia membuka portal berita. Ia mendelik ketika membaca judul-judul artikel di portal berita yang memberitakan Sasuke.
'Mengulik Kehidupan Keluarga Shu, Personil Black Ash'
'Shu Tidak Bersedia Meninggalkan Black Ash'
'Blog Unveil The Truth Kembali Membuat Posting, Shu Personil Black Ash Terekam Berniat Menjual Ginjal Kakaknya'
Sakura segera meng-klik judul berita teratas dan ia segera membaca isinya. Berita itu mengenai masa lalu Sasuke sebagai putra konglomerat yang bangkrut dan ayahnya bunuh diri sehingga harus meninggalkan studi di luar negeri. Berita itu juga memberitakan mengenai sosok kakak Sasuke yang tidak normal dan selama ini disembunyikan oleh ayah Sasuke maupun Sasuke sendiri serta fakta bahwa ibu Sasuke sedang sakit parah.
Tatapan Sakura segera tertuju pada kolom komentar yang sudah terdapat ratusan komentar dalam waktu tiga jam. Mayoritas komentar itu menyudutkan Sasuke yang menyembunyikan kakaknya sendiri dan bahkan banyak juga yang menyuruhnya mati saja.
SkySky12 : Gila! Benar-benar tidak punya hati. Katanya dia berniat menjual ginjal kakaknya yang cacat mental. Walaupun butuh uang tetap saja keterlaluan!
Mio_Neko : Aku jadi merasa malu karena sempat begitu mengidolakannya. Kupikir dia orang yang tampan, berkharisma dan keren. Ternyata tingkahnya menjijikan.
Daichi_Sato : Sebagai seorang drummer, aku mengagumi kemampuannya sebagai pemusik. Tapi setelah tahu sikapnya seburuk ini, aku ragu untuk tetap mengaguminya. Padahal aku belajar bermain drum karena terinspirasi oleh Shu dan menonton semua video tutorial dan cover drum yang diunggah Shu di Youtube.
Ono_Ryu : Tadi baru saja buka portal berita luar negeri dan mereka juga membahas orang ini. Benar-benar bikin malu orang Jepang saja. Cepat seppuku sana!
Reply to Ono_Ryu :
Light88 : Seppuku masih terlalu bagus. Itu terlalu bermartabat. Sebaiknya buka jendela, lalu lompat saja dari sana. Atau minum saja semprotan anti serangga.
KyoSaitoo : Mending pergi ke Aokigahara dan bunuh diri di sana.
Matsu_Ta : Untung orang itu bukan saudaraku. Kalau iya, bisa-bisa aku yang bunuh diri karena malu. Ibunya kasihan sekali bisa melahirkan anak seperti itu.
Sakura membaca komentar-komentar itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak tahu apakah Sasuke sudah membacanya atau tidak. Namun seandainya ia adalah seorang hacker, ia pasti akan meng-hack ponsel Sasuke sehingga tidak bisa mengakses internet.
Sakura memberanikan diri membuka blog 'Unveil The Truth' yang sedang ramai diperbincangkan. Ia menemukan sebuah unggahan baru pada pukul tujuh pagi dan ia segera membuka posting yang disertai video itu.
Di video itu terdapat Sasuke dan seorang lelaki berambut perak yang wajahnya tidak begitu jelas karena sudah larut malam. Kedua lelaki itu sedang merokok dan terdapat potongan pembicaraan.
Terdapat perkataan 'Aku bertanya apakah anikiku bersedia memberikan ginjalnya dan dia "Sasuke berniat menjual ginjal Itachi.
Sakura merasa benar-benar marah. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia bahkan tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Sasuke. Ia hanya berharap kalau Mikoto tidak sampai membuka sosial media dan menemukan berita mengenai Sasuke..
.
.
Tangis Mikoto meledak ketika ia browsing di internet dan menemukan begitu banyak berita mengenai Sasuke. Dan ketika ia membaca kolom komentar, ia menemukan begitu banyak komentar yang menyakitkan untuk Sasuke. Bahkan yang terparah, terdapat komentar-komentar yang menyuruh Sasuke untuk bunuh diri saja.
Sebagai seorang ibu, hati Mikoto terasa sakit ketika ia membaca komentar-komentar seperti itu yang ditujukan untuk putranya.
Mikoto sendiri menyesal karena terlanjur marah dan membentak Sasuke di tengah malam meski ia sendiri mengerti alasan Sasuke menyarankan seperti itu. Ia merasa bersalah karena menambah beban mental Sasuke dan ia belum sempat minta maaf. Dan kini masalah kembali menyerang Sasuke.
Mikoto duduk di sudut ruangan dan memeluk lututnya seraya menyembunyikan wajahnya Ia sengaja melakukannya agar isakan dan tangisannya tidak terdengar oleh Itachi yang sedang bermain di dalam kamar.
Namun dugaan Mikoto salah. Itachi malah menghampirinya seraya membawa mainan robot-robotan dan menepuk Mikoto, "Okaasan kenapa?"
Mikoto tak menjawab. Ia mengusap air matanya dan mengangkat wajahnya, menatap putra sulungnya lekat-lekat.
"Kau tidak mengerti."
"Kenapa?"
Mikoto terdiam. Otaknya tak bisa memikirkan satupun kata yang tepat untuk memberikan penjelasan sehingga akhirnya dia berkata, "Kalau Sasuke pulang nanti, hibur dia, ya."
"Hi-b-bur? Maksudnya?"
"Sasuke sedang sedih."
"Kenapa?"
Mikoto terdiam. Itachi tak akan mengerti sekalipun ia menjelaskannya. Lelaki itu bahkan tidak tahu apa pekerjaan Sasuke. Yang ia tahu, Sasuke bekerja dan terkadang tampil di televisi. Hanya itu saja.
"Orang-orang marah pada Sasuke."
Itachi baru akan bertanya lagi. Namun Mikoto segera berkata, "Nanti kita telepon Sasuke, ya."
"Oke."
Mikoto menepuk kepala putra sulungnya dengan lembut seraya membayangkan Sasuke. Seandainya Sasuke sedang berada di sini sekarang, ia pasti akan memeluk lelaki itu dengan erat dan mendukungnya. Sasuke sudah terlalu banyak menderita.
.
.
Sasuke duduk di bandara dengan mata yang menatap kosong. Setelah rekaman ia memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur hingga waktu check out maksimal. Ia bahkan tak bertemu dengan teman-temannya yang sudah meninggalkan hotel pada pukul lima pagi untuk pergi ke bandara dan kini ia benar-benar sendirian.
Untuk pertama kalinya Sasuke merasa 'ditinggakan' dan perasaan itu membuatnya merasa sesak. Semua teman satu bandnya pergi ke Singapura untuk tur, dan ia kembali ke Jepang hanya dengan seorang body guard yang menemaninya.
Sasuke bahkan tak bisa berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Ketika pulang, apakah sebaiknya ia menginap di hotel untuk sementara waktu hingga waktu pulang yang seharusnya agar ibunya tidak merasa curiga? Atau mungkin dia bisa menginap di rumah temannya yang merupakan personil band lain. Namun keberadaannya mungkin akan menarik wartawan dan bisa saja rumah temannya malah menjadi tidak aman.
Sasuke sengaja tidak mengaktifkan ponselnya untuk sementara waktu. Dan ketika ia mengaktifkannya, terdapat ratusan pesan masuk dan puluhan missed calls dari orang-orang yang mengenalnya. Ia tak sempat membaca semuanya, namun semuanya berupa pesan dukungan dan ia merasa sedikit lebih baik berkat dukungan mereka.
Ponsel Sasuke mendadak bergetar dan Sasuke segera mengangkatnya. Direktur menghubunginya secara langsung melalui telepon.
"Moshi-moshi," ucap Sasuke dengan datar, namun terdengar lesu.
"Sasuke, apakah kau sudah membaca pesanku?"
"Pesan?" Sasuke mengernyitkan dahi. "Oh, belum. Maaf saya tidak mengaktifkan ponsel selama rekaman dan baru mengaktifkan sekarang."
"Aku hanya ingin mengingatkan kalau besok pagi kita akan rapat dengan para petinggi dan pemegang saham di kantor. Setelah itu kau bisa mengajari Gaara untuk lagu-lagu yang akan dibawakan selama konser di China dan Korea. Dia yang akan menggantikan posisimu."
"Hn."
"Untuk sementara ini berhati-hatilah. Kalau bisa, sebaiknya tidak usah pulang ke rumah. Para wartawan sedang menggila. Mereka bahkan berkeliaran di sekitar gedung perusahaan untuk mencari informasi."
"Tsunade-sama, bisakah saya meminta bantuan anda? Apapun yang terjadi, jangan biarkan wartawan menganggu keluarga saya. Keluarga saya tidak boleh mengetahui hal ini. Publik juga tidak seharusnya tahu mengenai keluarga saya."
Tsunade terdiam sejenak. Kemudian ia berkata, "Kau belum lihat posting terbaru blog Unveil The Truth? Blog sialan itu mendapat rekamanmu ketika bersama Kakashi tadi malam dan kembali memotongnya. Bahkan mereka juga sudah membahas masa lalumu, hingga kondisi ibu dan kakakmu. Dan mereka mengatakan kalau kau ingin menjual ginjal kakakmu."
Sasuke hampir menjatuhkan ponselnya. Ia benar-benar terkejut mendengarnya. Perutnya mendadak mual dan ia merasa ingin mengeluarkan isi perutnya karena beban emosional yang semakin menumpuk.
Sasuke benar-benar lelah. Ia tak mengerti kenapa ia terus menerus menjadi target fitnah. Sasuke bahkan tak pernah berpikir sekalipun untuk menjual ginjal atau organ tubuh lain milik Itachi sekalipun ia benar-benar membutuhkan uang. Ia bahkan memilih melakukan sebanyak mungkin pekerjaan paruh waktu yang melelahkan ketika membutuhkan uang.
Air mata Sasuke hampir mengalir, namun ia berusaha keras menahannya. Ia sudah terlalu lelah hingga ia merasa ingin menghilang saja kalau bisa. Egoiskah kalau ia memutuskan untuk melarikan diri dari segala tanggung jawabnya? Egoiskah kalau dia memilih mati dan meninggalkan segalanya?
"Saya tak pernah berkata atau bahkan berpikir untuk menjual organ tubuh keluarga saya."
"Aku percaya padamu, Sasuke," ucap Tsunade di seberang telepon. "Jadi tetaplah kuat. Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu. Sekarang aku juga sedang mencari tahu mengenai penyebar berita palsu itu."
"Terima kasih," ucap Sasuke. Ia teringat akan satu hal dan berkata, "Bisakah saya meminta bantuan anda? Saya ingin memesan kamar hotel selama beberapa hari ke depan. Namun saya tidak bisa menggunakan identitas saya untuk memesan kamar hotel."
"Kurasa lebih baik kalau kau tinggal di apartemenku saja. Disana jauh lebih aman karena menggunakan elevator pribadi.
Sasuke merasa sungkan. Setahunya, tidak ada satupun anggota band di label yang pernah mengunjungi rumah pribadi sang direktur. Dan ia malah ditawari untuk tinggal disana selama beberapa hari.
"Tidak apa. Saya tidak ingin merepotkan."
"Akan jauh lebih merepotkan kalau wartawan gila sampai masuk ke dalam hotel dan mengangg privasimu. Setelah kau tiba di Jepang, pengemudi akan menjemputmu dan mengantarmu menuju kediamanku."
"Arigatou."
"Ya."
Sang direktur mematikan telepon dan Sasuke menatap sekeliling. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang. Ia merasa takut kalau seseorang mungkin saja sedang mengintainya saat ini.
-TBC-
