Sasuke duduk di atas kursi seraya meneguk ludah dan menatap wajah Tsunade dan para pemegang saham yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Lelaki itu bagaikan seorang terpidana mati yang hendak menunggu di eksekusi. Namun faktanya kariernya memang akan ditentukan melalui rapat pagi ini. Tsunade memang harus mengupayakan pembersihan citra Sasuke, namun bisa saja kontrak Sasuke sebagai anggota Black Ash akan berakhir.
"Siapa gadis itu?" tanya Tsunade seraya menunjukkan sebuah posting baru yang diambil secara tersembunyi melalaui CCTV apartemen kalau Sakura sedang masuk ke dalam apartemen Sasuke. Di headline tertulis 'Shu Black Ash Tinggal Bersama Kekasih dan Keluarganya'
Sasuke tak bisa berkata apapun. Ia mati-matian menahan air mata agar tidak mengalir. Ia tak mengerti mengapa seseorang begitu berniat menghancurkan kariernya hingga mencari berita mengenainya setiap hari.
"Gadis itu teman saya. Selama saya pergi, saya memintanya untuk tinggal di rumah serta mengawasi ibu dan kakak saya."
Jawaban Sasuke terdengar sangat tenang, namun sebetulnya jantungnya berdebar sangat keras. Saat ini ia bahkan tidak tahu bagaimana nasib kariernya setelah ini atau apa yang seharusnya ia lakukan.
Rasanya Sasuke tak berniat melakukan apapun. Ia pikir apapun yang ia lakukan akan berubah menjadi sebuah gosip. Mungkin ketika ia pergi ke toilet pun juga akan dijadikan sebagai bahan gosip oleh para paparazzi gila itu.
"Apa kau tidak berpikir apa efeknya membiarkan seorang gadis tinggal di rumahmu? Sebetulnya kau sadar kalau kau sudah populer tidak, sih?" tanya salah seorang pemegang saham dengan nada marah.
"Sama! Aku juga heran. Memang sih ibumu sakit dan kakakmu keterbelakangan mental. Setidaknya kau bisa membawa ibumu untuk tinggal di rumah sakit dan menitipkan kakakmu di panti cacat mental untuk sementara, kan?"
Sasuke hanya diam. Rasanya apapun yang ia lakukan selalu salah di mata orang-orang. Jangankan melakukan hal seperti itu, ibunya saja sudah membentak dan menyalahkannya hanya karena ia menyarankan untuk mendonorkan salah satu ginjal pada ibunya.
"Saya tidak bisa melakukannya. Ibu saya pasti akan sangat khawatir kalau sampai terpisah dengan kakak saya."
"Lalu bagaimana dengan kariermu? Apa kau tidak bisa memberikan pengertian pada ibumu? Lihatlah, saham label ini turun dan aku rugi ratusan ribu yen! Memangnya kau mau ganti, hah?!" ucap salah seorang pemegang saham dengan emosi.
"Cukup!" ucap Tsunade dengan suara meninggi. "Tujuan saya mengumpulkan anda semua disini adalah untuk membahas langkah yang tepat, bukan untuk mendengar kemarahan yang anda tujukan pada artis di dalam rapat!"
Para pemegang saham terdiam dan menatap ke arah Tsunade. Namun beberapa menatap Sasuke dengan tatapan sengit yang seolah berkata 'Mati kau!'.
"Saya dan kedua rekan saya berusaha mendapat informasi mengenai apa yang terjadi. Pasti ada seseorang yang berniat menghancurkan band dengan cara seperti ini dan tidak akan membiarkannya," jelas Tsunade.
"Dan sesuai kesepakatan kita semua, Sasuke akan mengajari Gaara, personil band Phantom, semua lagu yang akan dimainkan pada konser di China dan Korea."
Para pemegang saham itu menganggukan kepala.
"Dan para personil Black Ash berencana mengadakan konferensi pers mengenai masalah yang menimpa drummer mereka. Menurut mereka, seharusnya publik lebih mendengar mereka karena mereka lah orang yang paling banyak berhubungan dengan Sasuke. Karena itulah saya berencana mengadakan voting, apakah anda semua setuju atau tidak."
Para pemegang saham saling menatap satu sama lain dan sesekali menatap Sasuke. Sasuke tak tahu apa yang sedang mereka pikirkan, yang jelas nasibnya berada di tangan orang-orang itu.
.
.
Entah kenapa Sasuke merasa lemas dan mual sesudah rapat. Nafsu makannya bahkan hilang meski jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore dan dia sama sekali tidak makan sejak pagi. Tampaknya beban mental yang dialami Sasuke mempengaruhi fisiknya.
Hasil rapat menyatakan bahwa Black Ash akan mengadakan konferensi pers. Namun rapat itu juga membahas mengenai masa lalu Sasuke sebagai anggota keluarga Uchiha dan mereka semua mendesak Sasuke untuk meminta maaf kepada publik serta memberikan klarifikasi mengenai segala hal, termasuk apapun yang disembunyikannya.
Sasuke tidak tahu bagaimana ia harus bertindak. Jika ia mengaku kepada publik kalau ia memiliki kakak yang selama ini disembunyikan olehnya, bagaimana persepsi publik terhadap dirinya dan keluarganya? Bagaimana kaalu ibunya ikut menjadi korban hujatan?
Lagipula Sasuke merasa tidak nyaman mengakui segalanya. Ia merasa seolah sedang menunjukkan sisi terdalamnya pada orang-orang yang tidak ia kenal dan ia tidak siap di-judge oleh siapapun yang tidak mengetahui apapun yang ia rasakan.
Sasuke pergi ke toilet dan segera masuk ke dalam bilik. Ia memegang pintu dan wajahnya agak pucat. Ia merasa mual dan seolah ingin mengeluarkan isi perutnya, namun tak ada apapun yang bisa ia keluarkan.
Sasuke menutup dudukan toilet dan duduk di atas toilet. Ia menaikkan kakinya ke atas toilet dan ia menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya lemas dan ia merasa tak ingin bertemu dengan siapapun kalau bisa.
Siapapun yang ia temui pasti akan membahas masalahnya, dan ia tak berniat membahasnya karena ia pasti akan terus memkirkannya. Rasanya Sasuke ingin melarikan diri dan menyendiri untuk waktu yang sangat lama, namun ia tak bisa melakukannya.
Sasuke menatap tubuhnya sendiri yang masih terlihat mulus sampai saat ini. Itachi menggantikannya untuk menerima luka dari sang ayah sehingga tubuhnya baik-baik saja.
Sebelumnya Sasuke pernah membaca mengenai orang yang melarikan diri dari masalah dengan cara melukai diri sendiri. Dulu ia pikir itu adalah hal yang konyol, namun sekarang ia malah ingin melakukannya. Ia tak bisa melakukan bunuh diri sungguhan karena harus menanggung orang lain, namun ia merasa sangat tersiksa. Maka ia pikir kalau ia kesakitan secara fisik maka ia tak akan memikirkan rasa sakit di tubuhnya.
Namun ia pasti akan menjadi bahan pemberitaan negatif karena melakukan hal seperti itu. Dan kali ini bisa saja orang-orang menuduh agensinya karena memberikan tekanan yang sangat berat, padahal tekanan sesungguhnya yang ia dapat bersala darii keluarga dan publik.
Sasuke mulai membenci dirinya sendiri. Ia benci karena membiarkan dirinya ditekan oleh orang-orang. Namun ia sendiri tak bisa melakukan apapun. Mustahil melawan para pemegang saham yang dihormati oleh Tsunade jika ia menginginkan kelangsungan kariernya. Dan ia tidak mungkin membalas setiap komentar kejam dari netizen.
Mendadak kepala Sasuke terasa sakit dan pusing. Ia memejamkan mata dan meringis. Ia benar-benar sudah mencapai batasnya dan tak sanggup menahan lebih dari ini. Ia ingin menghentikan semuanya, namun tak ada yang bisa ia lakukan. Ia merasa ingin mati, namun tidak boleh mati. Ia ingin berteriak, namun orang-orang bisa mendengarnya dan menganggapnya aneh sehingga kariernya terancam.
Sasuke meremas rambutnya karena frustasi. Ia takut kalau ia akan mengalami gangguan jiwa karena masih harus menanggung ibu dan kakaknya. Ia takut kalau menjadi beban dan kehilangan seluruh fansnya serta tak lagi memiliki penghasilan.
Rasanya benar-benar melelahkan.
.
.
Gaara, lelaki berambut merah dengan tattoo '爱' di keningnya menatap jam di ponselnya dan mengernyitkan dahi. Ini sudah lewat dua puluh menit dari waktu yang seharusnya, namun Sasuke masih belum datang.
Rasanya sangat aneh. Padahal Sasuke biasanya adalah orang yang selalu on time. Kenapa kali ini malah telat?
Gaara segera menyentuh ponselnya dan berniat menelpon Sasuke, namun lelaki itu sudah memasuki studio dengan penampilan paling kacau yang pernah ia lihat. Wajahnya terlihat kusut dan pucat. Tatapan matanya juga kosong dan ia terlihat seolah tak bertenaga.
"Tumben sekali telat. Kau baik-baik saja?"
"Hn."
Gaara tidak suka berbasa-basi, begitupun dengan Sasuke. Karena itulah mereka berdua cukup akrab meski berada di band yang berbeda.
"Aku merasa tidak enak sudah mengambil posisimu di konser. Sebetulnya aku juga berada di posisi yang sulit."
Sasuke menatap wajah temannya dan berkata, "Tidak perlu merasa tidak enak. Bukankah itu perintah direktur?"
Gaara mengangguk. Ia merasa terbebani karena teman se-bandnya pasti merasa iri karena ia mendapat penghasilan tambahan dengan menjadi drummer pendukung di band sebesar Black Ash.
Lagipula gaya permainan drum dirinya dengan Sasuke juga berbeda. Gaya permainan Sasuke cenderung lebih berfokus pada kecepatan dan permainannya cenderung menonjol sehingga membuat fans tertarik meski sebetulnya drummer berada paling jauh dari penonton.
Sedangkan gaya permainan drum Gaara lebih berfokus pada kekuatan memukul dan ritme. Ia cenderung menjadi support bagi sebuah lagu dan tidak berusaha menarik atensi bagi dirinya sendiri. Permainannya mengalir mengikuti lagu dan ia seringkali ikut bernyanyi karena begitu menikmati lagu.
"Aku sudah lihat list lagu untuk konser di Korea dan China. Untung tidak ada 'lagu gila' mu itu."
"Hn? Lagu gila?"
"Phantom in Abyss. Setiap kali melihatmu memainkan lagu itu, aku masih tak habis pikir bagaimana bisa kau bermain secepat itu."
"Padahal kuharap mereka memasukkannya. Siapa tahu lagu itu malah jadi berbeda kalau kau yang memainkannya."
Gaara menggeleng. Walaupun ia berteman dengan Sasuke, sebetulnya ia mengagumi kemampuan lelaki itu bermain drum dengan cepat. Ia bahkan membandingkan Sasuke dengan drummer band-band metal di negara barat dan ia yakin Sasuke cukup berkualifikasi untuk menjadi drummer di band-band seperti itu.
Sedangkan Sasuke sendri mengagumi teknik Gaara memainkan drum. Permainan drum Gaara cenderung fokus pada melodi dan teknik sehingga permainannya benar-benar mendukung sebuah lagu serta tidak terkesan menojolkan instrumennya sendiri.
"Aku sudah lihat list lagu yang kau mainkan di Amerika dan Eropa. Semuanya lagu 'kelas berat'. Aku salut karena kau masih baik-baik saja setelah memainkan semua lagu semacam itu."
Sasuke menyeringai, "Besoknya tanganku sakit sampai tidak bisa digerakkan."
Sebetulnya Gaara sengaja mengajak Sasuke mengobrol untuk mengulur waktu latihan. Lelaki itu terlihat tidak sehat dan tidak siap untuk mengajarinya.
"Bagaimana kau mandi, memakai baju dan makan? Kau memanggil rekan satu bandmu untuk membantu?"
"Sudah! Cepat tunjukkan permainanmu untuk lagu pertama. Aku ingin tahu seperti apa bedanya dengan versiku."
Gaara mulai memainkan lagu pertama setelah membaca not dan Sasuke mengamatinya. Kecepatan bermain drum Gaara berbeda dengan dirinya, namun terdengar lebih sinkron jika dipadukan dengan instrument lain. Ia yakin gitar dan bass akan lebih menonjol jika diiringi dengan permainan drum seperti ini.
"Bagaimana menurutmu? Aku sudah mencoba meningkatkan kecepatanku dbanding biasanya."
"Bagus. Gitar dan bass bisa lebih menonjol."
"Atau harus kutingkatkan kecepatannya?"
"Tidak. Segitu saja cukup."
Gaara menatap Sasuke lekat-lekat, "Serius? Aku tak ingin menghancurkan penampilan bandmu."
"Hn."
Gaara menatap Sasuke dengan ekor matanya. Lelaki itu berusaha tampak biasa saja, namun sebetulnya ia tahu kalau Sasuke tidak baik-baik saja.
"Setelah latihan mau minum? Aku ingin makan samgyeopsal di restoran Korea dekat studio."
Tentu saja Sasuke ingin minum alkohol sampai mabuk. Namun ia tak ingin semakin merepotkan label jika ia sampai terlihat di depan publik dalam kondisi mabuk.
"Tidak."
"Biasanya kau tak pernah menolak ajakan minum. Atau kau takut disorot paparazzi gila?"
Sasuke mengangguk. Ia merasa akan gila menghadapi orang-orang itu. Seandainya ia bertemu dengan paparazzi itu, ia ingin berteriak sekeras mungkin dan memaki mereka karena telah menganggu hidupnya. Namun ia tak mungkin melakukannya.
"Kalau begitu minum di rumahku saja?"
"Tidak aman," sahut Sasuke.
"Hotel, bagaimana? Akan kupastikan ada kompor, jadi kita bisa memanggang daging."
Sasuke mengangguk, "Akan kutanyakan pada Direktur."
Gaara menyeringai. Ia sudah tahu kalau Sasuke cenderung emosional saat mabuk. Dan dengan membuat lelaki itu mabuk, ia bisa membuat temannya merasa lebih baik.
-TBC-
