"Aku nggak ngerti kenapa semuanya jadi kacau begini," keluh Sasuke dengan muka yang memerah. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat jauh lebih ekspresif.

Gaara menatap Sasuke yang sudah mulai mabuk dan kembali menuangkan sake. Ia tahu kalau Sasuke adalah orang yang mudah mabuk. Lelaki itu akan mulai mabuk dengan satu botol sake, dan sesudah botol kedua, lelaki itu akan benar-benar mabuk hingga bercerita aja dan bersikap emosional sebelum tertidur pulas hingga besok pagi.

Biasanya mereka akan memilih minum bir jika makan daging atau terkadang meminum alkohol yang lain dengan kuantitas yang lebih sedikit, namun Gaara sengaja membeli berbotol-botol sake untuk malam ini.

Gaara merasa benar-benar kasihan pada Sasuke. Ia tahu kalau Sasuke memiliki beban yang sangat berat meski lelaki itu tak pernah bercerita. Namun Sasuke terlihat biasa saja dan memasang wajah datar, padahal ia yakin pasti lelaki itu merasa sangat tertekan dan sebetulnya membutuhkan pelampiasan.

Gaara sendiri juga merupakan leader di bandnya. Dan meskipun ia terlihat orang yang jarang bicara, ia akan bercerita pada Sasuke dan mencari solusi dari lelaki itu jika sudah benar-benar tidak tahan. Dan kalau label menekannya berlebihan, dia pasti akan menolak. Berbeda dengan Sasuke yang selalu mengiyakan apapun permintaan label.

"Gara-gara gosip di blog itu?"

"Bukan cuma itu!" seru Sasuke sambil mengangkat gelas sake dan meneguknya. "Semuanya kacau. Keluargaku, karierku, pokoknya kacau banget."

"Kondisi ibumu bertambah parah?" tanya Gaara.

"Kok tau?"

"Menebak saja. Waktu mabuk dulu kau pernah cerita padaku, kan?"

Sasuke meringis. Ia menatap Gaara lekat-lekat dan menyatukan kedua tangan di depan dada, "Kumohon, tolong jangan bilang siapapun, ya. Yang tahu cuma anggota band dan petinggi saja. Pokoknya cerita apapun yang semacam itu rahasia."

Gaara tersenyum tipis. Ia merasa kalau Sasuke yang sedang mabuk terlihat sangat lucu. Mendadak lelaki itu jadi lebih ekspresif dan banyak bicara. Sikapnya juga cenderung polos dan terus terang, mengingatkannya akan Naruto, teman satu band Sasuke.

"Tentu saja. Sebenarnya bukankah public sudah mengetahui semuanya?"

"Ah, iya," wajah Sasuke muram seketika. "Aku masih heran siapa orang yang sampai membuat blog seperti itu. Padahal rasanya aku tidak pernah membuat masalah dengan siapapun. Setiap bertemu fans yang mengajak foto bersama atau tanda tangan juga kulayani. Posting di sosmed juga tidak terlalu sering. Isinya paling mengenai musik atau keseharianku."

Sasuke mengambil jeda sesaat sebelum berkata, "Dengan anggota band lain juga aku tidak macam-macam, kok. Aku punya teman dari band lain yang berbeda label. Bahkan penyanyi dan aktor juga ada."

"Bagaimana kalau label lain merasa iri dengan kesuksesan bandmu, lalu berusaha menghancurkannya dengan menyewa orang-orang untuk memata-mataimu. Sebetulnya aku curiga dengan orang yang ikut denganmu saat tour."

"Bisa juga. Kenapa kau curiga?"

"Video ketika kau merokok itu yang paling jelas. Saat itu kau sedang rekaman di studio baru yang dipilih manajermu, kan? Lalu bagaimana bisa ada rekaman dari belakang? Itu jelas-jelas bukan dari CCTV, tapi ada orang yang diam-diam merekammu. Mereka tidak mungkin sempat memasang kamera tersembunyi."

"Hm… dari belakang? Jangan-jangan orang studio. Atau bisa juga body guard yang ikut menemaniku dan manajerku."

"Bisa saja. Pokoknya untuk sementara kau tidak usah memikirkannya dan tetap berhati-hati saja. Kalau kau bisa menangkap pelakunya malah lebih bagus lagi."

'Tentu saja! Kalau aku menangkap pelakunya, aku ingin memakinya habis-habisan karena sudah buat hidupku susah begini. Lalu aku ingin mengulitinya, mencincang dagingnya, memasaknya, lalu memberikannya pada kebun binatang terdekat! Zruk! Zruk! Zruk!" seru Sasuke dengan berapi-api seraya menirukan gerakan mencincang daging dengan pisau khusus untuk daging.

Gaara tertawa seketika saat mendengar ucapan Sasuke yang sangat lucu. Rasanya ia seolah sedang menonton acara stand up comedy, bukan mendengarkan rekannya yang sedang mabuk.

"Mengapa kau menertawaiku, huh? Memangnya lucu? Atau kau ingin menjadi orang pertama yang kupotong?"

Gaara kembali tertawa. Sasuke benar-benar lucu ketika sedang seperti ini. Mendadak ia merasa ingin menjahili Sasuke dengan merekamnya dan memperlihatkannya saat sudah sadar nanti. Ia penasaran bagaimana ekspresi lelaki itu.

Gaara segera menyalakan ponselnya dan mengaktifkan perekam untuk merekam Sasuke. Namun Sasuke menyadarinya dan berseru, "Apa yang kau lakukan? Tolong… matikan."

Suara Sasuke terdengar parau di akhir kalimat dan Gaara cepat-cepat mematikannya. Gaara mengambil sepotong samgyeopsal dan mengunyahnya serta mengampiri Sasuke. Kini ia duduk bersebelahan dengan lelaki itu.

"Hm? Kau kenapa?"

"Sekarang aku takut dengan semua perekam. Aku selalu teringat dengan rekaman yang diunggah ke blog dan membuatku takut. Aku juga takut pergi keluar rumah karena tidak ingin menjadi bahan gosip tidak jelas lagi. Dan aku takut dengan kerumumunan karena mungkin saja paparazzi sedang menyamar disana."

Gaara merasa ngeri mendengar ucapan Sasuke. Padahal biasanya Sasuke tidak pernah menyebutkan ketakutannya. Bahkan saat mabuk lelaki itu pernah bilang kalau dia tidak takut apapun.

"Kau tahu, ibuku membentakku di telepon hanya karena aku menyarankan untuk membiarkan kakakku yang keterbelakangan mental itu untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk kondisi ibuku yang memburuk. Katanya aku kejam. Memangnya aku harus bagaimana kalau ibuku sampai meninggal? Siapa yang bisa merawatnya? Aku bahkan jadi rutin merokok sejak harus merawat kakakku karena aku tidak cukup sabar menghadapinya," Sasuke mulai bercerita panjang lebar.

Gaara mendengarkan ucapan Sasuke dan melihat wajah lelaki itu sudah merah bagaikan kepiting rebus. Sasuke sudah benar-benar mabuk saat ini. Dan setelah bercerita semuanya lalu mengekspresikan apapun yang ia rasakan, pasti lelaki itu akan langsung tertidur bagaikan mayat.

"Lalu salah satu promotor menghubungi manajemen dan protes karena aku seenaknya memberi encore dan mereka harus membayar biaya tambahan untuk sewa venue. Padahal aku juga melakukannya karena keinginan fans. Fans di Australia pasti sudah menyaksikan kedatangan bandku dan berharap banyak. Apalagi katanya tiket konsernya mahal dibandingkan dengan di negara lain. Jadi kalau mereka kecewa, pasti bandku yang disalahkan."

"Mau bagaimana lagi? Namanya promotor pasti mereka ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Terutama kalau band yang diundang meminta yang aneh-aneh. Aku tahu karena orang tuaku memiliki perusahaan promotor yang mendatangkan artis dari luar negeri."

"Aku tahu. Tapi bandku tidak meminta yang aneh-aneh. Kami cuma meminta disediakan studio untuk dipakai sebelum rehearsal, transportasi dan penginapan yang layak serta satu kamar untuk setiap anggota band. Itu tidak aneh, kan?"

Gaara mengangguk. Permintaan seperti itu sangat wajar. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan musisi band visual kei kalau ada pula beberapa musisi aliran visual kei yang meminta hal yang aneh saat konser, khususnya musisi senior atau band lama yang sudah sangat populer. Ada yang meminta piano Kristal miliknya harus digunakan di setiap konser yang memerlukan piano, sekalipun sedang konser di luar negeri. Ada yang meminta empat pelacur bagi setiap anggota band dan pelacur itu harus diseleksi sendiri oleh setiap anggota band serta satu pak kondom bagi setiap personil Bahkan ada pula yang meminta untuk mandi dengan air mineral dengan merek tertentu serta van mewah dengan tahun produksi maksimal dua tahun sebelum tahun konser. Dan semuanya harus dibayar oleh promotor.

"Itu wajar. Berarti memang pihak promotor yang terlalu gila mencari untung."

"Lalu gosip aneh itu menyebar dan rahasia keluargaku sampai terbongkar. Para fans juga banyak yang tidak percaya padaku dan ada yang menyuruhku mati saja. Padahal aku memang ingin mati kalau bisa."

Gaara merasa semakin ngeri. Banyak orang Jepang yang melakukan bunuh diri. Bahkan sampai ada hutan yang dijadikan destinasi khusus untuk bunuh diri. Dan belakangan ini pemerintah mengalakkan sosialisasi untuk tidak bunuh diri dan menyediakan hotline gratis khusus untuk mendengarkan cerita orang-orang yang ingin bunuh diri.

Mendadak Gaara teringat dengan salah satu teman semasa SMA nya dulu. Saat itu lelaki itu gagal masuk ke universitas dan berada di band yang sama dengannya. Ketika ia mencoba ujian lagi, ia kembali gagal sehingga mulai putus asa. Hal itu diperparah dengan kemarahan kedua orang tuanya yang malu dan kegagalan kariernya dalam band sehingga ia memutuskan bunuh diri.

Gaara tak ingin kehilangan teman karena bunuh diri. Ia akan berusaha sekeras mungkin agar tak ada satupun orang yang dikenalnya meninggal karena bunuh diri. Dan kini ia bahkan mengajak Sasuke minum agar lelaki itu bisa bercerita dengan leluasa dan melupakan kefrustasiannya.

"Sasuke! Jangan bunuh diri. Pikirkan teman-temanmu yang akan kehilangan dirimu. Pikirkan juga fans-fans sungguhanmu yang akan merasa sedih. Dan yang terpenting, pikirkan dirimu sendiri. Kalau kau mati, orang yang akan menjatuhkanmu malah merasa semakin senang karena tujuannya tercapai," ujar Gaara panjang lebar.

Sasuke menggeleng, "Kalaupun aku mau, aku juga tidak bisa melakukannya. Bagaimana dengan keluargaku? Rasanya aku ingin melukai diriku saja. Tapi hal itu pasti akan menjadi gosip. Aku lelah."

Sasuke mulai meneteskan air mata dan Gaara segera memeluk lelaki itu. Gaara bukanlah seorang gay, namun ia mengesampingkan perasaan risih karena memeluk sesama pria.

Di dalam pelukan Gaara, Sasuke yang sedang mabuk mulai menangis hingga air matanya membasahi pakaian Gaara. Seandainya saja Sasuke mengetahui hal yang sudah ia lakukan nanti, pasti lelaki itu akan merasa semakin tidak nyaman. Karena itulah Gaara memutuskan akan merahasiakannya.

Sesuai dugaan Gaara, Sasuke langsung tertidur di pelukan Gaara segera setelah berhenti menangis. Dan Gaara segera mengangkat tubuh Sasuke serta memindahkannya ke kasur. Ia menepuk bahu Sasuke dengan pelan ketika lelaki itu sedang tertidur, berharap agar lelaki itu dapat bertahan menghadapi apapun yang ia alami saat ini.

.

.

Sasuke terbangun dengan perut yang mual dan kepala yang terasa sangat sakit. Ia tak begitu ingat dimana ia berada. Yang jelas ia tidak berada di kamarnya karena Itachi pasti akan berisik di pagi hari.

Sasuke menyentuh kasur dan menyadari kalau ia sedang tidur di sebuah kasur berukuran single size. Ia menatap sekeliling dan menyadari seorang lelaki berambut merah yang tidur di kasur yang bersebelahan dengannya.

Kepala Sasuke benar-benar sakit dan ia tidak tahu berapa banyak alkohol yang sudah ia minum kemarin. Ia tak pernah suka dengan apa yang terjadi sesudah ia mabuk, karena itulah ia hanya pernah mabuk dua kali sepanjang hidupnya, termasuk kali ini.

Sasuke memaksakan diri untuk bangkit berdiri dan berjalan sambil berpegangan pada dinding. Ia berjalan menuju kamar mandi dan segera mengeluarkan isi perutnya tepat sesudah tiba di kamar mandi.

Gaara yang sedang tertidur seketika terbangun saat mendengar suara orang yang sedang mengeluarkan isi perutnya. Ia membuka matanya dan menyadari Sasuke sudah tidak berada di kasurnya sehingga ia segera bangun.

"Sudah bangun?" tanya Gaara ketika Sasuke keluar dari kamar mandi dengan air yang membasahi wajahnya.

"Hn. Aku mabuk semalam?"

Gaara mengangguk. Ia segera membuka kulkas kecil yang berada di dalam ruangan dan memberikan sebuah minuman untuk Sasuke.

"Untukmu."

Sasuke segera membuka minuman yang diberikaan Gaara dan segera menghabiskan isinya. Sakit kepalanya membaik tak lama sesudah ia meminum minuman itu.

"Aku tidak melakukan sesuatu yang aneh saat mabuk, kan?"

Gaara menyadari kalau Sasuke adalah orang yang cenderung insecure. Lelaki itu begitu takut terlihat tidak sempurna hingga bertanya seperti itu setiap kali mabuk.

"Tidak. Kau langsung tidur, kok."

"Hn."

Sasuke merasa lega mendengar ucapan Gaara. Ia menatap jam digital yang terpasang di atas meja dan seketika ia langsung menepuk bahu Gaara dengan keras.

"Cepat mandi! Kita harus berangkat ke studio secepatnya!"

Gaara mengenyitkan dahi. Ini baru jam setengah delapan. Untuk apa pergi ke studio sepagi ini?

"Oi! Ini baru jam setengah delapan."

"Kita harus berlatih keras sebelum kau pergi ke China besok. Hari ini harus berlatih sampai jam setengah sebelas kalau kau mau istirahat makan siang dan makan malam satu jam."

Gaara meringis. Selama ini ia pikir ia adalah orang yang paling ketat karena kerap mengomeli teman satu bandnya yang terlambat latihan, meski hanya lima menit sekalipun. Namun ternyata ia merasa kalau ia masih jauh lebih normal ketimbang Sasuke. Teman satu bandnya pasti akan gila seandainya Sasuke menjadi pemimpin band mereka.

Sepertinya kini ia mengerti kenapa para fans menganggap Sasuke menekan anggota bandnya. Namun di sisi lain ia mengerti kalau Sasuke menginginkan penampilan yang terbaik.

-TBC-


Author's Note :


Mendadak terpikir buat masukin unsur mental illness di fanfict ini. Kebetulan belakangan ini lg tertarik dgn mental illness setelah nemu banyak posting mengenai mental illness. Bahkan beberapa kenalan juga ada yg ngalamin. Dan aku baru sadar kalau mental illness itu hal yg sangat lazim sekarang.

Jadinya untuk 2 chapter terakhir aku sempet masukin unsur mental illness dimana Sasuke mulai menunjukkan gejala depresi (pengen mati, ga berniat melakukan apapun, ga bersemangat).

Tapi aku ngerasa tema kayak gitu terlalu berat buatku. Sampai saat ini aku masih ga paham mengenai jalan pikir orang yg mengalami mental illness & takut kalau karyaku malahan bakal nggak realistis karena aku nulis dari sudut pandangku.

Sebetulnya aku milih depresi karena itu satu-satunya mental illness yang paling familiar buatku. Pas SD dulu, aku pernah didiagnosis depresi pas dibawa ke psikolog karena bullying. Untungnya nggak terlalu parah & ga sampai harus minum obat segala. Sekarang aku cenderung ga mau terlalu mikirin masalah apapun & untungnya baik-baik saja. Jadi aku ga terlalu paham sama sudut pandang orang yg mengalami mental illness, apalagi yg cukup parah.

Untuk karya selanjutnya, kemungkinan aku berniat ngambil tema bullying. Gimana menurut kalian?