"Hey, sepertinya aku tidak mau bekerja dengan orang itu lagi," ucap seorang lelaki berambut merah seraya memakan keripik kentang rasa madu mentega favoritnya.

"Kau sudah gila?! Itu perusahaan besar, tahu! Agensi kita bisa hancur gara-gara kau!" bentak seorang lelaki berambut cokelat panjang dengan frustasi.

Lelaki berambut merah itu kembali memakan keripik kentangnya dan menyahut, "Aku bisa menghancurkan perusahaan itu sebelum dia menghancurkan agensi kita, tuh."

Si lelaki berambut coklat berambut panjang itu merasa benar-benar jengkel hingga tidak bisa berkata-kata. Agensi bawah tanah tempatnya bekerja memintanya untuk mengurus si hacker berambut merah agar bisa menyelesaikan seluruh pekerjaannya tepat waktu. Namun ia seringkali diperbudak untuk membersihkan rumah dan melakukan hal lainnya sedangkan si hacker bersikap semaunya.

Rasanya ia sudah lelah membersihkan berkantung-kantung keripik kentang rasa madu mentega serta remahan-remahan keripik laknat itu dan soda kalengan yang dikonsumsi sebagai pengganti air mineral oleh hacker itu.

"Jangan seenaknya! Lakukan kewajibanmu! Klien kita sudah membayar mahal untuk pekerjaan ini!"

Hacker berambut merah itu tidak menyahut. Ia tidak suka diperintah dan biasanya ia terpaksa melakukan apapun yang diminta agensi karena membutuhkan uang. Perusahaan memintanya untuk menangani klien yang merupakan pemilik sekaligus direktur sebuah grup perusahaan terkemuka. Klien itu memintanya untuk mencari informasi mengenai seorang personil band terkenal dan memberi segala informasi padanya.

Awalnya hacker itu tidak peduli dengan apa yang dilakukan si pemilik perusahaan besar dengan informasi yang ia berikan. Namun setelah ia tahu kalau pemilik perusahaan itu berniat menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah dan menurutnya kasihan, ia tak bisa lagi membantu klien itu. Ia mengklaim dirinya sebagai orang yang religius dan itu adalah hal yang bertentangan dengan kepercayaannya.

"Ah!" seru hacker itu seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan memiringkan badannya. Tubuhnya terasa kaku setelah duduk di depan komputer selama berjam-jam.

"Hey! Kau tidak berniat meninggalkan tempat ini dan pergi berjalan-jalan dengan 'kesayanganmu', kan?"

"Ya, ya. Setelah itu tanyakan pada boss, si klien sudah bayar lunas atau belum? Kalau sudah, bilang padaku, ya."

"Memangnya untuk apa kau tahu soal pembayaran? Yang penting kau dibayar, kan?"

"Pokoknya tanya saja. Lalu beritahu aku."

Lelaki berambut panjang itu menghembuskan nafas. Ia merasa lelah mendadak, "Memangnya untuk apa, sih? Menyusahkan saja."

"Aku mau pergi jalan-jalan, ah," goda si hacker, membuat wajah lelaki berambut panjang itu memerah karena kesal.

"Hey! Selesaikan pekerjaanmu!"

"Lakukan apa yang kuminta."

"Baiklah," si lelaki berambut coklat panjang itu terpaksa mengalah. Untunglah setidaknya bosnya mengerti kondisinya yang kesulitan karena bekerja dengan hacker yang merepotkan seperti ini. Kalau saja hacker itu tidak sangat jenius, pasti bos sudah mengeluarkannya dari agensi sejak dulu.

Hacker itu menyeringai. Informasi yang akan ia berikan pada si klien adalah yang terakhir. Selanjutnya ia akan memulai proses 'pembalasan karma' dengan berusaha merestorasi citra si personil band yang ia berikan informasinya pada klien itu dan menghancurkan si klien itu sendiri.

.

.

Sakura menatap jam yang tertera di ponselnya dan menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun entah kenapa ia malah tidak bisa tidur setelah terbangun karena ia memutuskan untuk tidur lebih awal malam ini.

Ia teringat dengan ucapan Ino dan baru sadar kalau ia belum menelpon Sasuke. Mendadak ia ingin menelpon Sasuke untuk mengisi kebosanan, namun ia tak ingin menganggu lelaki itu. Bagaimana kalau lelaki itu ternyata sudah tidur dan ia malah menganggu?

Sakura memutuskan untuk meraih ponselnya dan menekan tombol untuk melakukan video call dengan Sasuke. Ia pikir, ia akan mematikan telepon jika Sasuke tidak mengangkatnya dalam sepuluh detik. Namun Sasuke langsung menerima telepon itu di detik kedua dan Sakura terkejut.

Sasuke terlihat lebih kurus dalam beberapa hari. Kantung matanya menghitam dan wajahnya terlihat lelah. Sakura berpikir kalau ia mungkin saja menganggu lelaki itu.

"Duh, maaf menganggumu. Kau sedang tidur?"

"Tidak."

Sakura merasa canggung karena ia berhadapan dengan Sasuke melalui video call. Ia bahkan tidak memakai riasan wajah sama sekali, namun ia sama sekali tidak peduli. Toh Sasuke juga sudah tahu seperti apa wajahnya bahkan sebelum ia mengenal kosmetik.

"Umm… sebetulnya, aku tanpa sengaja memencet video call. Aku masih agak mengantuk tadi."

Sakura tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang masih agak mengantuk, namun entah kenapa malah tidak bisa tidur. Ia asal memencet tombol untuk menelpon dan tidak begitu memerhatikan kalau itu video call atau voice call.

"Kau tidak tidur, hn?"

"Aku tidak bisa tidur," sahut Sakura sambil tersenyum tipis. "Omong-omong, bagaimana kabarmu sekarang?"

Sasuke terdiam sesaat. Ia sebetulnya juga lelah, namun entah kenapa ia juga tidak bisa tidur. Bahkan Gaara yang malam ini kembali menginap bersamanya sudah tertidur pulas tepat setelah kembali ke hotel dan mandi.

Sasuke hanya diam. Ia jelas tidak baik-baik saja, namun ia tak ingin mengatakannya pada Sakura. Ia hanya merasa tidak nyaman bercerita pada orang lain.

"Baik. Kau?"

"Sungguh? Kau tidak sedang berbohong, kan?"

"Bagaimana kabar okaasan dan aniki?"

Sakura tahu kalau Sasuke sebetulnya sedang berusaha mengelak. Bagaimana mungkin lelaki itu baik-baik saja setelah apa yang ia lalui belakangan ini.

"Anikimu juga sudah tahu soal orang jahat yang memarahimu dan kecewa padamu. Okaasanmu memberitahunya dan menyuruhnya menghiburmu ketika kau pulang."

Sasuke tak tahu bagaimana kakaknya bereaksi, namun ia merasa tidak nyaman karena keluarganya bahkan sudah mengetahui apa yang dilaluinya. Di saat seperti ini, ia bersyukur karena kakaknya idiot sehingga tidak bisa membuka internet dan membaca semua komentar jahat disana.

"Aku mungkin tidak bisa pulang hingga masalah ini selesai. Maaf aku semakin merepotkanmu."

Sakura menggeleng, "Tidak. Kau sama sekali tidak merepotkan. Aku akan berusaha membantumu sebisanya."

Sasuke menatap Sakura lekat-lekat. Gadis itu begitu baik padanya dan ia merasa tidak tega jika gadis itu malah berakhir bersamanya. Bagaimana jika gadis itu malah ikut mendapat cap buruk atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan karena menjadi kekasih atau bahkan istrinya? Lagipula ia juga harus menanggung ibu dan kakaknya sehingga tak bisa memfokuskan seluruh perhatiannya pada gadis itu. Namun rasanya sulit jika ia harus terus menerus menyembunyikan perasaannya sedangkan Sakura bersikap baik padanya dan membuat jantungnya semakin berdebar.

"Uang yang kuberikan padamu cukup?"

Sakura berdecak kesal, "Ckck… kau malah memikirkan ini di tengah malam? Seharusnya kau lebih memerhatikan dirimu sendiri."

"Hn. Aku takut uangnya kurang."

Sakura menggeleng. Uang yang diberikan Sasuke masih sangat cukup karena lelaki itu mentransfer uang tambahan setelah mengetahui kalau frekuensi cuci darah yang harus dilakukan ibunya meningkat.

"Cukup. Kalaupun tidak, kau tidak usah terlalu memikirkannya. Aku juga punya uang, kok."

"Tidak, aku-"

Sakura segera memutus ucapan Sasuke, "Ketimbang memikirkan uang yang kau berikan cukup atau tidak, aku lebih mengkhawatirkan keadaanmu."

Sasuke berdecak, namun sedetik kemudian ia menyeringai tipis. Seandainya Sakura berada di dekatnya saat ini, ia ingin meletakka kedua jarinya di kening gadis itu.

"Omong-omong, kenapa kau tidak bisa pulang?" tanya Sakura.

"Aku tak ingin paparazzi menganggu kalian jika aku pulang."

"Lalu kau tinggal dimana sekarang? Kau sedang bersama seseorang, ya? Aku mendengar suara seseorang mendengkur."

Sasuke segera meletakkan ponselnya ke kasur dan ia melirik Gaara yang tertidur pulas hingga mendengkur keras. Lelaki itu terlihat sangat kelelahan setelah latihan selama belasan jam bersama Sasuke.

"Di hotel. Bersama drummer yang akan menggantikanku di konser China dan Korea."

Sakura tertawa pelan. Ia bahkan tidak tahu siapa drummer itu dan ia hanya mendengar suara dengkurannya. Suara dengkuran lelaki itu semakin keras sehingga Sasuke terpaksa bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet.

"Kau mau kemana?"

"Toilet."

"Eh?!" Sakura terkejut Wajahnya memerah. "K-kalau mau ke toilet, untuk apa kau sekalian membawa ponselmu? Kau ingin memperlihatkan apa yang kau lakukan di toilet padaku?"

Sasuke tahu kalau Sakura bukanlah gadis yang sangat polos. Namun ia merasa miris karena pada awalnya ia merasa bingung dengan alasan wanita itu memekik kaget hingga gadis itu menyelesaikan ucapannya dan ia baru menangkap maksudnya. Padahal biasanya seorang gadis cenderung lebih polos dalam hal seperti itu ketimbang pria.

"Kau ingin video call sambil mendengar dengkuran temanku, hn?"

Sakura tersenyum, "Jangan-jangan kalian berdua melakukan duet dengkuran saat tidur. Kalau iya, aku merasa kasihan pada siapapun yang bersebelahan dengan kamar kalian."

"Aku tidak mendengkur."

"Masa, sih? Bukankah biasanya pria suka mendengkur saat tidur?"

"Kau ingin tidur bersamaku untuk membuktikannya?"

Wajah Sakura kembali memerah. Ia membayangkan 'tidur' dalam konteks yang berbeda dengan yang dimaksud Sasuke.

"Dasar. Kau pikir aku wanita macam apa yang tidur sembarangan dengan lelaki? Walaupun kita teman, tetap saja itu berlebihan."

Sasuke mengernyitkan dahi. Ucapannya pasti kembali membuat wanita itu salah paham. Padahal ia benar-benar membayangkan 'tidur' sungguhan.

Sebagai seorang pria, bukan berarti Sasuke tak pernah tertarik dengan wanita dan merasa bergairah. Ia tak sepolos itu.

Hanya saja, Sasuke merasa tak tega membayangkan Sakura dengan cara yang kotor sekalipun ia menyukai gadis itu. Ia tak akan membiarkan dirinya sendiri menatap Sakura dan membayangkan gadis itu dengan pikiran kotor meskipun banyak pria yang melakukan itu pada orang yang disukainya. Ia terlalu menyukai gadis itu hingga merasa kalau ia sedang melecehkan gadis itu dengan pikirannya jika ia sampai berpikir begitu.

"Bukan itu yang kumaksud," sahut Sasuke.

"Aku tahu."

Mereka berdua terdiam dan saling menatap satu sama lain. Tak satupun kata terucap, namun mereka merasa nyaman dengan keheningan di antara mereka dan berharap agar mereka bisa terus menatap seperti ini.

"Rasanya sudah lama sejak kali terakhir aku melihatmu."

"Hn."

Jeda sesaat sebelum Sakura berkata, "Aku merindukanmu, Sasuke-kun."

Sasuke terkejut mendengar apa yang diucapkan gadis itu. Padahal gadis itu hanya mengutarakan kerinduan, namun ia bereaksi seolah ia mendengar pernyataan cinta dari gadis itu. Cinta pasti sudah menumpulkan logikanya dan ekspresi rindu dari gadis yang disukainya sudah cukup membuat hatinya melonjak bahagia.

"Besok aku ingin bertemu denganmu," ucap Sasuke.

Sakura merasa bersalah seketika. Ucapannya pasti sudah membebani lelaki itu.

"Jangan. Kau tidak harus menemuiku sekarang. Pasti akan sangat repot kalau kau sampai terpergok sedang bersama dengan seorang wanita di saat seperti ini. Apalagi blog itu sudah berhasil mendapatkan fotoku."

Sasuke tidak peduli. Ia sudah lelah harus mati-matian menjaga imagenya. Saat ini segala hal mengenai kehidupannya, entah yang benar maupun tidak, sudah terungkap ke publik. Kali ini, untuk pertama kalinya, ia ingin bersikap egois. Ia ingin bertindak hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk keluarga, label, fans, teman, atau siapapun.

"Kau keberatan?"

Sakura menggeleng, "Aku tidak masalah. Bukankah itu berbahaya bagimu kalau kita bertemu?"

"Aku-" Sasuke memutus ucapannya dan ia melanjutkannya dengan suara yang sangat pelan, "-juga ingin melihatmu."

"Eh? Kau bilang apa? Aku tidak dengar."

"Aku akan memberitahu detil lokasi untuk besok di chat."

"Oke."

Sasuke tak tahu kalau Sakura benar-benar menunggu datang nya hari esok. Ia merindukan Sasuke dan ingin bertemu serta bersentuhan dengan lelaki itu.

.

.

Tsunade memutuskan untuk makan malam bersama dengan Orochimaru dan Jiraiya di kedai barbeque sekaligus minum alkohol. Pada awalnya Tsunade ingin minum sendirian, namun Jiraiya dan Orochimaru memaksa ikut meskipun mereka sama sekali tidak di ajak.

Alasan kedua lelaki itu sangat sederhana, mereka khawatir dengan wanita itu. Bagaimana kalau wanita itu terlalu mabuk hingga tidak bisa pulang dan mengalami hal buruk? Mereka berdua tak tega membiarkan wanita itu sendirian.

Terdengar suara notifikasi ponsel yang berbeda-beda dan mereka bertiga segera menatap ponsel masing-masing. Tumben sekali ada notifikasi pesan yang bersamaan untuk mereka bertiga.

Tsunade segera menatap pesan di layar ponselnya.


From : Jiraiya

Kalian tidak berencana mengadakan konferensi pers untuk Shu? Saat ini reaksi orang-orang di internet semakin parah. Kalau kalian terlalu lambat mengambil keputusan, bisa saja karier orang itu akan sulit untuk diperbaiki.

Kalian bisa mengadakan konferensi pers besok atau lusa karena blog Unveil The Truth akan berhenti memposting sebentar lagi. Kalau kalian konferensi pers setelah posting berhenti, mungkin respon masyarakat tidak akan sebagus yang kalian harapkan.

Kalian tidak perlu khawatir mengenai pihak yang sengaja menyabotase Shu. Kalian hanya perlu melakukan apapun yang kuminta. Percayalah padaku.

Kalian juga tidak perlu tahu siapa aku. Anggap saja aku malaikat pelindung kalian untuk saat ini. Hohoho…. XD ^0^!


Raut wajah Jiraiya dan Orochimaru juga memperlihatkan keterkejutan yang sama dengan Tsunade. Mereka bertiga mendapatkan pesan yang sama, hanya saja pengirimnya berbeda. Di ponsel Jiraiya tertulis kalau Orochimaru adalah pengirimnya. Sedangkan di ponsel Orochimaru tertulis kalau Tsunade adalah pengirimnya.

"Siapa?" tanya Tsunade seraya mengernyitkan dahi.

Jiraiya dan Orochimaru mengendikkan bahu. Mereka berdua juga tidak tahu. Yang jelas tak satupun di antara mereka bertiga yang mengirimkan pesan seperti ini.

"Haruskah kita mengikutinya? Bagaimana kalau ini jebakan?" tanya Jiraiya.

"Kita harus berdiskusi dengan 'tim' secepatnya," sahut Tsunade.

-TBC-


Author's Note :


Untuk chapter kali ini, aku sengaja masukin salah satu karakter dari game yang sempet populer karena menurutku karakternya cocok kalau dimasukin ke cerita ini. Ada yang bisa nebak dari hint di chapter ini?

Berhubung penyelesaian konflik ini udah mulai muncul, kemungkinan besar fanfict ini bakal selesai dalam beberapa chapter lagi. Untuk romance bakal diusahakan buat diperbanyak, tapi kemungkinan ga terlalu banyak karena menyesuaikan konteks ceritanya juga.