Sakura berjalan mondar-mandir seraya menatap jam yang tertera di layar ponselnya. Sesekali matanya melirik Itachi yang sedang tertidur di atas kursi ruang tunggu di depan rumah sakit.

Sebelumnya ia terpaksa menelpon ambulans setelah Itachi mengetuk pintu kamarnya pada pukul sepuluh malam dan mendadak muntah. Ketika Sakura memasuki kamar Itachi, Mikoto sudah kejang dan sesak nafas.

Saat itu Sakura beruntung karena langsung terpikir menelpon ambulans, dan berusaha melakukan pertolongan pertama sesuai penjelasan tenaga medis melalui telepon selama menunggu ambulans. Namun ia merasa lelah hingga ingin menangis sesudahnya. Ia harus melakukan pertolongan pertama, menenangkan Itachi yang terlihat panik dan bertanya-tanya, serta membawa lelaki itu ke rumah sakit karena tidak mungkin meninggalkannya sendiri di rumah.

Dan kini, Sakura merasa panik hingga tak bisa berpikir jernih dan hanya bisa mondar-mandir sambil menatap ponselnya, padahal dia tidak menghubungi siapapun.

Sakura memohon pada dokter untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Mikoto dan dokter berkata hanya ingin membahasnya dengan keluarga pasien. Dan kini Mikoto berada di ruang perawatan intensif dengan Sakura yang menjadi penjamin untuk sementara.

"Sasuke dimana?" tanya Itachi tepat ketika ia terbangun.

Sakura menggelengkan kepala. Ia tahu kalau Sasuke sedang sibuk dengan masalahnya. Belakangan ini ia bahkan semakin mendapat sorotan setelah fakta mengenai T Group yang berusaha mencelakainya terkuat serta postingan berupa klarifikasi dari Naruto di Instagram.

Belakangan ini Sasuke muncul di berbagai acara reality show dan memberikan begitu banyak klarifikasi sesuai arahan manajemen. Dan besok seluruh anggota Black Ash selain Sasuke juga akan melakukan konferensi pers secara resmi berkaitan dengan masalah Sasuke.

Seandainya Sasuke mengetahui hal ini, lelaki itu pasti akan merasa sangat hancur dan mungkin saja akan panik. Sakura tak ingin semakin membebani lelaki itu dengan masalah ini, namun ia harus memberitahu lelaki itu.

"Aku tidak tahu."

"Telepon Sasuke," desak Itachi.

Sakura meringis. Tak hanya pihak dokter yang mendesaknya menghubungi Sasuke meski ia sudah memberi penjelasan dan berharap agar pihak dokter memberitahu apa yang terjadi pada Mikoto, namun juga Itachi.

"Okaasan sakit. Sasuke mana?"

Sakura memijat pelipisnya. Ia tak tahu bagaimana memberi penjelasan yang dapat dimengerti Itachi.

"Umm… Sasuke sedang tidur sekarang. Jadi kau tidur saja. Aku akan mengurus semuanya."

"Maksudnya?"

"Kau tidur saja," ujar Sakura.

"Sasuke dimana? Aku mau ketemu Sasuke."

Sakura meringis dan ia menjawab dengan asal, "Sasuke sedang tidur di rumah temannya. Nanti kutelpon kalau dia sudah bangun."

Itachi menatap Sakura lekat-lekat. Tatapan lelaki itu tampak berbeda dibanding biasanya, namun Sakura tak peduli.

"Aku mau pergi ke toilet. Kau duduk saja disini. Jangan pergi kemanapun, ya. Janji?"

"Ikut."

Sakura menggelengkan kepala, "Tidak boleh. Aku akan masuk ke toilet perempuan. Kau tidak boleh mengikutiku."

"Pipis."

Sakura mendesah lelah, "Baiklah. Ikut saja denganku. Kau masuk ke toilet pria, ya."

Itachi mengangguk dan segera bangkit berdiri mengikuti Sakura yang kini berjalan menuju toilet. Sakura bersyukur karena setidaknya lelaki itu mengerti cara membersihkan dirinya sendiri sehingga Sakura tidak perlu berada dalam situasi yang canggung.

Sebetulnya Sakura merasa sangat lelah dan ia sangat mengantuk, namun ia merasa harus memperhatikan lelaki itu agar tidak melakukan hal yang aneh.

Sakura yang baru menghabiskan lebih dari sebulan terakhir bersama Itachi dan Mikoto saja sudah merasa lelah secara emosional. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasuke yang menghabiskan bertahun-tahun bersama ibu dan kakaknya.

Dulu Sakura merasa kesal karena Sasuke memiliki kebiasaan merokok, bahkan terkadang menghabiskan satu kotak perhari. Lelaki itu juga memiliki tato dan beberapa tindikan di telinga, benar-benar terlihat seperti preman.

Namun kini ia mengerti kalau Sasuke sepertinya benar-benar stres hingga bersikap seperti itu. Lagipula sepertinya apa yang dilakukan Sasuke tidak aneh karena banyak personil band rock yang juga seperti itu, bahkan ada yang jauh lebih parah.

Terkadang Sakura kesulitan mengontrol Itachi dan ia dalam hati menganggap kalau lelaki itu sangat menyusahkan meski di sisi lain ia merasa pemikirannya sangat jahat. Namun ia berpikir, seandainya ia sudah mulai merasa kelelahan secara mental dan merasa ingin menangis karena tidak bisa melarikan diri dari situasinya saat ini, bagaimana dengan Sasuke? Sebetulnya ia bisa 'melarikan diri' kalau ia mau, namun tidak dengan Sasuke.

"Takut," ucap Itachi tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Takut okaasan tidur dan tidak bangun lagi. Otousan begitu."

Sakura terdiam. Ia tidak menyangka kalau lelaki itu bahkan menyadari kalau saat ini ibunya sedang berada dalam kondisi kritis. Ia merasa heran, namun mungkin saja lelaki itu masih memiliki naluri yang tersisa terlepas dari tingkat intelegensinya yang dibawah normal.

"Okaasanmu akan baik-baik saja. Dokter sedang berusaha mengobatinya."

Itachi menghentikan langkah dan menatap Sakura, "Aku mau kasih milikku pada okaasan."

Sakura terkejut dengan ucapan Itachi. Ia segera berkata, "Maksudmu?"

"Kata Sasuke, okaasan bisa sembuh kalau aku kasih milikku. G-ggi-" Itachi terbata-bata berusaha menyebutkan kata 'ginjal', namun tak berhasil menyebutnya.

Sakura sangat terkejut dan tak tahu harus berkata apa. Ia hanya terdiam dan mempercepat langkah menuju toilet.

"Aku mau bilang sama dokter."

Sakura benar-benar tak tahu harus berkata atau bersikap bagaimana. Dan ia semakin yakin kalau ia harus menghubungi Sasuke secepatnya.

.

.

Sasuke mendadak terbangun pada pukul lima pagi dan sama sekai tidak bisa tidur. Malam ini ia tidur pukul delapan malam, jauh lebih cepat dibandingkan biasanya.

Ia memutuskan untuk menyalakan ponselnya seraya berbaring di atas kasur. Pukul delapan nanti ia harus datang ke kantor agensi dan menghadiri rapat membahas kasusnya dan skandal T Group yang sedang menjadi berita terhangat. Entah bagaimana, kini kepolisian bahkan mulai bergerak menyelidiki kasus dan bukti-bukti yang tersebar di internet.

Siang ini Sasuke bahkan mendapat panggilan pemeriksaan dari pihak kepolisian terkait kasus pencemaran nama baik yang didalangi oleh Hyuuga Hizashi.

Hingga saat ini Sasuke masih tidak tahu siapa hacker itu maupun alasan orang itu membantunya. Hacker itu bahkan sampai meretas situs kepolisian dan menyuruh polisi untuk menyelidiki kasus ini.

Sasuke terkejut saat mendapati notifikasi berupa belasan missed calls dari Sakura serta pesan dari gadis itu yang menyuruh untuk menghubunginya jika sudah membaca pesannya.

Sasuke merasa ragu untuk menghubungi gadis itu karena ini pukul lima pagi. Namun jika gadis itu sampai menelpon berkali-kali, pasti ada sesuatu yang sangat mendesak.

Mendadak Sasuke terpikir dengan ibunya dan berpikir jika mungkin saja terjadi sesuatu dengan wanita itu. Dan tanpa berpikir panjang, Sasuek langsung menekan tombol untuk menelpon Sakura.

Sasuke berpikir kalau Sakura mungkin saja tak mengangkatnya, namun wanita itu langsung mengangkat teleponnya.

Sakura bahkan tak mengucapkan salam padanya. Wanita itu langsung berkata, "Cepat datang ke rumah sakit X, Sasuke-kun!"

Sasuke tak sepenuhnya terjaga, dan ia berusaha mencerna perkataan Sakura. Ia masih sedikit mengantuk karena tubuhnya bahkan masih belum meninggalkan kasur.

"Ada apa?"

"Ibumu muntah, kejang dan sesak nafas semalam! Dokter dan kakakmu menyuruhku menelponmu! Aku akan menunggumu di lobi rumah sakit-"

Sakura tak sempat menyelesaikan pembicaraannya dan Sasuke langsung menutup telepon. Ia merasa sangat terkejut dan segera melompat dari kasur, mengambil dompet yang kebetulan terletak di nakas dan melepaskan celana tidurnya serta mengambil celana jeans dan jaket yang berada di lemari.

Sasuke bahkan hanya merapikan rambutnya secara asal dengan tangan. Ia tak berpikir sama sekali untuk memberitahu Tsunade meski ia berada di rumah wanita itu dan hanya berpikir untuk pergi ke rumah sakit secepat mungkin.

.

.

Sakura mengernyitkan dahi ketika melihat Sasuke yang datang dengan rambut yang masih agak berantakan. Lelaki itu bahkan berusaha mengatur nafasnya dan terlihat jelas kalau lelaki itu datang dengan tergesa-gesa.

"Bagaimana keadaan okaasan? Itachi-nii dimana?"

"Anikimu sedang tidur di kursi. Mengenai okaasanmu, aku sama sekali tidak tahu karena dokter tidak mau berbicara padaku."

Sasuke mengangguk. Sebetulnya ia ingin bertanya lebih detil pada Sakura, namun ia menahan diri untuk tidak bertanya. Sakura terlihat sangat lelah dan sepertinya bahkan belum tidur sama sekali. Kantung mata gadis itu menghitam dan ia bahkan berbicara sambil menguap dan mata gadis itu bahkan berair.

"Kau pulang saja."

Sakura menggeleng, "Bagaimana denganmu? Bukankah kemarin kau bilang kalau siang ini kau harus datang ke kantor polisi?"

"Hn. Aku akan menemani Itachi-nii disini. Kau istirahat saja."

"Bagaimana dengan panggilanmu ke kantor polisi?"

"Bukan urusanmu."

Sakura mengerti kalau Sasuke tidak akan mau bicara jika sudah menjawab seperti ini. Ia sudah memahami kebiasaan lelaki itu. Dan sebetulnya, ia tahu kalau lelaki itu bahkan masih belum yakin apa yang akan ia lakukan, karena itulah Sasuke tak mau membahasnya.

"Kau tidak perlu bantuanku?"

Sasuke tak menjawab. Ia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu yen yang jumlahnya tidak sempat dihitungnya dan menyerahkannya pada Sakura, "Aku tak bisa mengantarmu pulang. Pergi saja ke hotel terdekat. Bilang padaku kalau uangnya kurang."

"Aku tidak butuh uangmu. Simpan saja," sahut Sakura dengan tegas. Ia meninggalkan Sasuke tanpa berkata apapun, membuat lelaki itu merasa heran.

Namun Sasuke sudah tidak memikirkan Sakura dan langsung menghampiri perawat yang berjaga di meja resepsionis yang ada di setiap lantai. Ia segera berkata, "Saya putra Uchiha Mikoto yang berada di ruang ICU tiga. Bisakah saya bertemu dengan dokter?"

Perawat itu menatap Sasuke yang langsung bertanya secara to the point. Ia menggelengkan kepala dan berkata, "Mohon maaf. Namun dokter menangani ibu anda sedang beristirahat saat ini dan baru akan datang pukul delapan pagi. Saat ini hanya ada dokter jaga."

Sasuke hanya menganggukan kepala. Ia bahkan lupa meminta Sakura untuk mengubah nama penjamin yang semula menggunakan nama Sakura menjadi namanya. Ia hanya berpikir kalau gadis itu harus segera beristirahat dan ia harus segera mengetahui kondisi ibunya.

Sasuke bertanya mengenai letak ruangan ICU tiga dan perawat itu menunjukkan lokasi. Sasuke segera melewati sebuah pintu dan mendapati sebuah koridor dengan beberapa pintu serta kaca besar di setiap ruangan untuk mempermudah melihat pasien.

Tatapan Sasuke secara otomatis tertuju pada sosok sang ibu yang terlihat di balik kaca. Mata wanita itu terpejam dan terdapat begitu banyak alat penunjang kehidupan di sekitarnya.

Sasuke tak berniat untuk masuk ke dalam ruangan. Ia tidak akan sanggup melihat ibunya dalam kondisi seperti itu sehingga ia memutuskan untuk berada di luar ruangan dan menghampiri Itachi yang sedang terduduk di atas kursi dengan mata terpejam.

Seolah menyadari keberadaan Sasuke, Itachi membuka matanya dan menatap Sasuke yang kini sedang duduk sambil bersandar di sampingnya.

"Sasuke?"

Sasuke menoleh dan menatap itachi. Ia tak berharap lelaki itu akan memeluknya atau banyak bertanya padanya. Sasuke sedang ingin sendiri dan ia pasti akan meninggalkan lelaki itu sendiri seandainya lelaki itu normal, bukan orang dengan keterbelakangan mental yang perlu diawasi olehnya.

"Hn?"

"Okaasan sakit."

"Aku tahu," sahut Sasuke dengan sinis. Ia sedang tak ingin bicara dan berharap Itachi menyadarinya.

"Aku mau kasih milikku pada okaasan."

Sasuke terkejut mendengar ucapan Itachi. Ia pikir lelaki itu akan banyak bertanya mengenai kemana Sasuke pergi selama ini, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Sasuke tak sempat menjawab ketika Itachi berkata, "Aku mau okaasan bangun lagi."

Mendadak Sasuke merasa takut mendengar ucapan Itachi. Ia tak berharap jika ucapan dan tindakan kakaknya yang sedikit lebih dewasa ketimbang biasanya merupakan pertanda jika ini adalah kali terakhirnya bertemu dengan lelaki itu.

-TBC-


Author's Note :


Belakangan ini, aku mulai lebih aktif dalam review restoran di beberapa aplikasi review ketimbang sebelumnya & kalau udah cape nulis review, mood buat nulis fanfict pun ga tau kenapa mulai hilang

Kemungkinan untuk sementara akan slow update dibanding sebelumnya. Diusahakan aku update chapter selanjutnya sebelum UAS pas awal desember nanti.

Trims udah baca fanfict ini.