"Menurut hasil pemeriksaan, ginjal kakak anda cocok dengan milik ibu anda," ujar dokter seraya membaca hasil laporan pemeriksaan dan menatap dua lelaki dihadapannya bergantian.
Sasuke melirik Itachi yang tampak kebingungan, dan Sasuke berkata, "Kau bisa memberikan ginjalmu untuk okaasan."
"Aku bisa memberikan milikku untuk okaasan? Okaasan bisa bangun lagi?" tanya Itachi sambil tersenyum riang.
"Hn."
"Aku ingin memberikannya sekarang! Pak dokter, tolong berikan milikku pada ibu sekarang."
Sasuke merasa malu dan risih karena tingkah Itachi, terlebih dengan tatapan sang dokter yang sulit dipahami.
"Berapa kemungkinan operasi berhasil?"
"Sembilan puluh lima persen, dengan kemungkinan lima persen kegagalan karena tubuh menolak ginjal yang ditransplantasikan. Namun sekalipun operasi berhasil, ibu anda harus tetap mengkonsumsi obat seumur hidup untuk menghindari reaksi penolakan terhadap ginjal baru."
"Berapa biaya yang diperlukan?" tanya Sasuke. Ia mulai merasa khawatir mengingat limit asuransi kesehatan tahunan ibunya yang telah habis digunakan untuk dialisis selama ini.
"Seharusnya anda menanyakan hal ini pada bagian administrasi rumah sakit. Namun saya bisa membantu anda agar mendapatkan keringanan biaya. Saya akan mengatakan kalau anda adalah saudara saya sehingga anda akan mendapat potongan harga sebesar dua puluh lima persen."
Sasuke menundukkan kepala dalam-dalam, "Terima kasih."
Dokter itu tersenyum dan berbicara dengan bahasa non formal, "Pasti sulit harus menanggung semuanya sendiri. Aku akan berusaha membantumu mendapatkan potongan harga."
Sasuke terkejut karena dokter itu bahkan mengetahuinya. Ia tak mengira dokter itu bahkan mengikuti gosip terkini.
"Bagaimana anda tahu?"
"Aku sering mendengar percakapan para suster yang mengikuti berita tentangmu. Akhirnya aku juga penasaran dan ikut membacanya ketika menemukan berita-berita itu di situs berita online yang kubaca setiap hari."
Dokter itu menatap Itachi sesaat sebelum bertanya, "Sebetulnya untuk persetujuan tindakan transplantasi diperlukan persetujuan pasien dan pihak keluarga. Pasien harus sepenuhnya menyadari konsekuensi dari keputusannya. Apakah kau benar-benar yakin membiarkan kakakmu mendonorkan ginjalnya?"
Sasuke mengerti kemana arah pembicaraan dokter itu. Ia segera menganggukkan kepala, "Saya sudah menjelaskan pada kakak saya. Dia mengalami keterbelakangan mental, namun setidaknya dia memahami penjelasan saya. Dan saya pikir ini pilihan yang terbaik."
Dokter itu menganggukan kepala. Setidaknya pihak keluarga telah setuju, dan jika terjadi apapun, maka ia tak bisa disalahkan secara hukum.
.
.
Naruto duduk berjejer bersama Sai, Neji dan Kiba. Tatapan mereka tertuju pada para wartawan yang sibuk memotert maupun merekam mereka.
Neji dan Kiba terlihat sangat gugup meski sebetulnya merek sudah terbiasa berdiri di atas panggung, termasuk panggung megah sekalipun. Ini pertama kalinya mereka mengadakan konferensi pers dan potret mereka terus diabadikan oleh puluhan wartawan dalam beberapa jam.
"Rui-san, bukankah kau bersahabat dengan Shu sejak kecil sehingga paling dekat dengannya? Apa benar dia berniat menjual ginjal kakaknya seperti yang diberitakan beberapa waktu yang lalu?" tanya salah seorang wartawan.
Naruto segera menjawab. Berbeda dengan biasanya, kali ini ia lebih tenang karena telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai pertanyaan yang akan diajukan padanya.
"Sebagai orang yang paling lama berteman dengannya, aku sangat mengenalnya. Keluarga kami bahkan saling mengenal, dan aku tahu seperti apa kehidupan Shu selama ini. Shu bukan berniat menjual ginjal kakaknya, dia hanya berniat meminta kakaknya untuk melakukan transplantasi ginjal pada ibunya yang harus menjalani cuci ginjal setiap minggu. Sekarang kondisi ginjal ibunya semakin memburuk, jadi dia harus cepat mengambil tindakan," jawab Naruto dengan sangat formal.
"Seperti apa kehidupan Shu selama ini? Belakangan ini menyebar banyak isu mengenai Shu yang cepat-cepat meninggalkan tempat konser untuk bermalam dengan salah satu fansnya, isu bahwa dia memiliki kekasih, juga isu-isu lainnya," tanya wartawan lain.
Neji mengambil mic dari tangan Naruto dan langsung menjawab. Ia tahu kalau Naruto mungkin saja kehilangan kesabarannya jika terus menerus menjawab.
"Leader kami tidak melakukan hal-hal seperti itu. Dia selalu kembali ke rumah sepulang konser, aku sendiri pernah datang ke rumahnya satu kali dan ibunya sedang sakit. Sedangkan kakaknya keterbelakangan mental, jadi Shu harus menjaga mereka."
Neji terdiam sejenak sebelum berkata, "Kalau soal kekasih, kurasa juga tidak ada. Zuka bahkan pernah meledeknya gay karena tidak pernah berpacaran dan tidak pernah dikunjungi wanita manapun ketika di studio."
Neji menatap Kiba dan lelaki itu tertawa pelan, "Haha.. bagaimana aku tidak berpikir begitu? Habisnya dia benar-benar giat berlatih. Bayangkan saja, saat tidak ada konser, dia tetap berlatih setidaknya lima jam sehari dan meninggalkan ponselnya. Kami bahkan langsung tahu kalau dia ada di studio kalau dia tidak bisa dihubungi."
Sai menimpali, "Kalau dia sedang membuat lagu, dia bahkan bisa berada di dalam studio sendirian selama lebih dari delapan jam dan tidak makan sama sekali. Kami bahkan bergantian untuk membelikan makanan."
"Wow! Shu-san bekerja sangat keras. Kudengar kalian dipaksa berlatih selama lebih dari delapan jam ketika sedang konser. Memangnya kalian tidak keberatan?"
Naruto langsung menjawab, "Tentu saja aku keberatan pada awalnya! Ketika dia menyuruh latihan sepuluh jam per hari menjelang konser dan hanya istirahat satu jam, kupikir dia sudah gila. Tapi setelah kupikir-pikir, seandainya dia membiarkan kita berlatih sesukanya, band kita tidak mungkin seperti sekarang. Kami semua memiliki alasan pribadi, tapi intinya kami ingin segera sukses."
Sai menyentuh mic dan berkata, "Awalnya jadwal latihan kami tidak seberat itu, kok. Sebelum kami dikontrak oleh label, kami hanya band indie dan kami semua memiliki pekerjaan paruh waktu untuk membiayai kehidupan kami. Kami hanya latihan dua jam setiap hari, dan meningkat jadi enam jam ketika menjelang konser perdana kami. Setelah kami dikontrak oleh label dan tidak perlu mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu, leader meningkatkan durasi latihan kami."
"Begitukah? Jadi intinya kalian sama sekali tidak merasa keberatan dengan jadwal latihan dari Shu-san?"
"Tidak. Berkat jadwal latihan darinya, kami hampir tidak pernah mengalami kendala di atas panggung. Sejak masuk label, penampilan live kami belum pernah mendapat kritik," sahut Sai.
"Lagipula aku akan sangat malu kalau mengeluh latihannya berat ketika Shu berlatih lebih keras dariku. Suatu kali aku tiba di studio tiga puluh menit lebih awal dari jadwal latihan dan sudah menemukan Shu yang sedang latihan bagiannya. Lalu aku penasaran dan keesokan harinya aku sengaja datang satu jam lebih awal, dan aku juga sudah menemukannya di studio," ucap Neji.
Kiba menimpali, "Benar, tuh. Bahkan aku pernah meninggalkan ponselku di studio dan baru sadar ketika aku sudah sampai di rumah satu jam kemudian. Lalu aku cepat-cepat kembali ke studio dan menemukan Shu yang baru saja selesai latihan."
"Jadi bagaimana pendapat kalian terhadap Shu-san dan gosip-gosip yang belakangan ini menerpanya?"
"Sebagai seorang musisi, aku sangat mengagumi dedikasinya terhadap musik. Aku kagum karena dia berusaha memberikan penampilan terbaik pada seluruh fans walaupun tidak semua fansnya peduli seperti apa kualitas penampilannya selama bisa melihat Shu di atas panggung," ujar Sai.
"Untung leader band ini Shu. Seandainya aku yang jadi leader, band ini pasti sudah bubar. Aku masih ingat kalau aku menangis dan hampir keluar dari band setelah penonton yang menyaksikan penampilan kami di jalan semakin berkurang hingga tersisa lima orang. Aku juga malu sekali ketika ingat kalau ada salah satu band jalanan lainnya yang meledek kami dan aku berniat menghajarnya kalau Shu tidak menahanku," ucap Kiba dengan serius, berbeda dengan biasanya.
"Aku berharap gosip itu cepat berhenti dan Shu bisa segera kembali beraktivitas bersama band kami. Kalau dia tidak ada, band kami tidak bisa menemukan penggantinya," ujar Neji seraya menatap tajam ke arah para wartawan.
Naruto menatap teman-temannya dan ia merasa terharu. Ini kali pertamanya mendengar mereka membahas mengenai Sasuke, dan selama ini ia pikir mereka tidak terlalu menyukai Sasuke. Ternyata mereka semua memiliki opini yang baik terhadap lelaki itu, dan mereka tampaknya jujur saat mengatakannya.
"Aku…" wajah Naruto memerah. Ia risih mengatakannya secara terus terang dan berharap Sasuke tidak menonton televisi atau membaca berita mengenai ini, "Sebagai sahabat, anggota band, maupun musisi, aku sangat mengagumi Shu. Kehidupannya sangat berat, namun dia tidak pernah mengeluh dan berusaha melakukan semuanya sendiri. Aku juga beruntung memiliki leader sepertinya di band kami. Dia benar-benar mengurus semuanya dengan baik, dan kami tidak pernah tahu mengenai masalah apapun di band kami kalau Kakashi-san tidak memberitahu kami setelah masalahnya selesai. Dia juga berlatih sangat keras dan tidak mempedulikan dirinya sendiri. Ia berlatih sangat keras dan memastikan fans selalu menyaksikan penampilan terbaik darinya walaupun dia tidak selalu baik-baik saja."
Naruto terkejut ketika setetes air mata mendadak mengalir sesudah ia selesai berbicara. Matanya sudah berkaca-kaca, namun ia tidak menyangka kalau ia malah menangis saat konferensi pers.
"Adakah sesuatu yang ingin kalian sampaikan pada fans Black Ash yang sedang menyaksikan kalian saat ini?"
"Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Kumohon tetap dukunglah Shu dan percayalah padanya," ucap Naruto sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Naruto terkejut karena ketiga personil lainnya ikut menundukkan kepala dan mengucapkan hal yang sama. Dalam hati Naruto merasa senang karena Sasuke memiliki orang lain yang mendukungnya selain Naruto.
.
.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini? Ada tempat yang ingin dikunjungi?" tanya Sasuke pada Itachi.
"Aku ingin kasih milikku pada okaasan."
Sasuke merasa miris mendengar ucapan Itachi. Lelaki itu begitu tak sabar menjalani operasi, entah dia mengerti apa yang terjadi atau tidak. Seandainya Itachi tidak mengalami keterbelakangan mental, pasti lelaki itu tidak akan berkata begitu.
"Hn. Operasimu dua hari lagi, dan besok kau harus tidur di rumah sakit."
"Op-opra- itu apa?"
"Proses untuk memindahkan ginjalmu pada okaasan."
Itachi menganggukan kepala dan menatap Sasuke lekat-lekat, "Mau makan dango… sama Sasuke."
Sasuke meringis. Sebetulnya ia tidak suka makanan manis semacam dango. Hanya dengan melihatnya saja, ia sudah merasa mual. Ia tidak mengerti kenapa Itachi malah sangat menyukai makanan itu.
"Bagaimana kalau kau makan dango ditemani okaasan atau Sakura saja? Mereka suka dango, sedangkan aku tidak."
"Mau sama Sasuke," Itachi mengulang ucapannya dan memasang wajah yang tampak merajuk.
Sasuke mendesah dan tak memiliki pilihan selain menuruti keinginan Itachi untuk pergi ke kedai yang menjual dessert tradisional khas Jepang.
.
.
Sasuke melirik Itachi yang terlihat begitu senang menikmati dango favoritnya, sedangkan ia sendiri hanya memesan segelas teh hijau serta es krim rasa teh hijau yang rasanya sama sekali tidak manis, melainkan cenderung pahit.
Sasuke bukanlah pecinta dessert, namun jika ia harus menemani seseorang makan dessert, maka ia akan memesan es krim atau es serut rasa teh hijau. Es krim atau es serut rasa teh hijau yang biasanya dijual cenderung pahit, walaupun ada juga yang manis. Dan jika ia mendapati dessert rasa teh hijau yang manis, biasanya ia akan memberikan sisanya pada siapapun yang sedang makan dessert bersamanya.
"Sasuke, makan ini," Itachi memberikan setusuk dango pada Sasuke.
Sasuke meringis melihat dango yang dilapisi dengan gula dan membuatnya mual hanya dengan membayangkannya.
"Aku tidak suka makanan manis. Kau lupa, hn?"
"Aku mau Sasuke makan ini."
Sasuke tidak mengerti kenapa Itachi memaksanya makan dango. Lelaki itu biasanya ingat kalau Sasuke tidak menyukai makanan manis.
"Coba makan. Dango enak."
"Aku tidak suka dango, Itachi-nii."
"Ayo coba."
Sasuke sedang merasa lelah, bahkan untuk sekedar meninggikan suaranya. Ia mengambil setusuk dango, lalu meletakkannya di atas tisu dan berusaha menghilangkan gula yang menempel.
Gula dari dango tersebut menyerap pada tisu meski tidak seluruhnya, lalu Sasuke meletakkan dango itu di dalam mangkuk berisi es krim teh hijau pesanannya. Ia mengambil es krim dalam jumlah banyak dan memasukkan ke mulutnya, lalu memakan dango itu bersama es krim teh hijau.
Rasa dango itu menjadi tidak semanis sebelumnya berkat rasa es krim yang pahit. Namun ketika Sasuke menggigit bagian yang manis dari dango itu, ia tetap meringis.
"Enak, 'kan?"
Sasuke hanya diam. Namun mendadak ia menganggukan kepala dan terkejut setelahnya. Ia tak biasanya berbohong untuk hal seperti ini, namun kali ini ia malah refleks berbohong untuk menyenangkan Itachi.
"Aku ingin makan dango sama Sasuke lagi," ucap Itachi sambil tersenyum lebar. Namun senyumnya menghilang sesaat kemudian dan ia berkata, "Bisa tidak, ya?"
"Tentu saja. Aku akan menemanimu makan dango setelah kau pulang dari rumah sakit."
"Kalau aku tidak bisa gimana?"
Sasuke merasa ucapan Itachi benar-benar aneh. Pasti lelaki itu kelelahan karena kurang tidur selama di rumah sakit.
"Aku sayang Sasuke."
Sasuke terkejut karena Itachi mendadak bangkit berdiri dan memeluknya yang sedang duduk. Padahal lelaki itu sudah diajari untuk tidak memeluknya di tempat umum.
Beberapa orang menoleh dan Sasuke merasa sangat malu. Orang-orang yang tidak mengetahui kondisi Itachi pasti akan mengira mereka berdua sebagai pasangan gay.
Sasuke merasa sangat malu dan ia mendorong tubuh Itachi dengan keras dan berkata, "Jangan memelukku di tempat umum. Kau memalukan."
Itachi segera melepaskan pelukannya dan ia terlihat kecewa serta segera kembali ke kursinya. Ia menundukkan kepala dan meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca.
Sasuke hanya diam dan tidak berniat menjawab karena msih merasa malu. Ia tidak sadar kalau apa yang ia lakukan sore ini akan berujung pada penyesalan sesudahnya.
-TBC-
