Sasuke membuka mata seketika ketika menyadari tangan seseorang yang digenggamnya mulai bergerak-gerak. Ia segera melepaskan tangan orang itu dan menutup mulutnya dengan tangan serta menguap.

Sepanjang malam Sasuke tertidur di atas kursi sambil menyandarkan kepala pada besi yang merupakan tepian kasur rumah sakit. Semalam Itachi tertidur sambil mengenggam tangan Sasuke, dan Sasuke tak berniat melepaskannya hingga ia sendiri akhirnya juga tertidur.

"Ohayou," ucap Itachi dengan riang. Moodnya sangat baik setelah menghabiskan seharian penuh bersama Sasuke. Dan ia semakin senang karena berpikir kalau ibunya akan sembuh setelah ia memberikan ginjalnya.

"Hn. Ohayou," ucap Sasuke sambil menguap. Tubuhnya terasa pegal dan ia memiringkan kepala untuk meregangkan lehernya yang terasa kaku.

"Sasuke ngantuk? Tidur disini," ucap Itachi sambil seraya menepuk kasurnya.

Sasuke menggeleng. Ia bukan seorang pasien, sehingga rasanya tidak etis jika ia tidur di ranjang pasien.

"Sasuke bohong, ya?"

Sasuke terkejut mendengar pertanyaan Itachi. Sejak kapan lelaki itu mulai mempertanyakan jika seseorang membohonginya atau tidak. Setahunya, Itachi tak cukup pintar untuk menyadari seseorang sedang berbohong.

"Tidak."

"Kok Sasuke menguap?"

Sasuke tersenyum tipis, "Aku akan tidur di ruang tunggu setelah mengantarmu ke ruang operasi."

"Di kursi?"

"Hn."

"Nanti pegal. Sasuke jangan tunggu aku."

"Hn? Kau tidak takut?"

Pertanyaan Sasuke dibalas dengan senyuman oleh Itachi. Lelaki itu menatap sang adik lekat-lekat dan meletakkan kedua jarinya di kening Sasuke.

"Tidak, tuh."

Sasuke seolah meyakinkan dirinya kalau Itachi akan baik-baik saja dengan bertanya seperti itu. Sebetulnya ia sendiri yang merasa ketakutan, dan ia memilih berpura-pura terlihat berani dengan menanyakan hal itu pada Itachi.

"Kalau aku tidak bangun lagi, Sasuke baik-baik saja, 'kan?"

Sasuke benar-benar terkejut mendengar pertanyaan Itachi. Untuk pertama kalinya, Sasuke merasa sang kakak bertindak layaknya seorang lelaki dewasa. Namun hal itu malah membuat Sasuke merasa semakin takut.

"Menurutmu?" Sasuke berusaha menyanggah perasaannya sendiri dengan membalik pertanyaan yang diajukan padanya.

"Aku mau Sasuke baik-baik saja. Nggak mau lihat Sasuke nangis."

Sasuke terdiam. Kalau ia kehilangan Itachi, bagaimana ia akan menghadapi ibunya? Yang terpenting, bagaimana ia akan menghadapi dirinya sendiri? Ia akan merasa sangat bersalah karena mengusulkan Itachi untuk memberikan ginjal pada ibunya.

"Janji sama aku, ya?"

Itachi memperlhatkan kelingkingnya dan Sasuke segera mengaitkannya. Ia terlihat tak memiliki keraguan sama sekali meski sesungguhnya ia tak yakin jika ia bisa menepatinya.

"Kau akan baik-baik saja. Kalaupun kau tidak ada, hidupku juga baik-baik saja."

Detik selanjutnya, Sasuke menyesali apa yang baru saja ia katakan. Ia bermaksud mengucapkan sesuatu agar Itachi merasa tenang dan tidak berpikir berlebihan menjelang operasi, tetapi ia malah mengucapkan kalimat yang menyakitkan.

Itachi tersenyum dan ia mengulurkan tangan, membelai kepala Sasuke sebelum menepuknya dengan lembut. Sejak dulu ia begitu senang menepuk-nepuk Sasuke seperti ini hingga berubah menjadi suatu kebiasaan.

"Bagus, bagus. Aku senang."

Sasuke terdiam. Ia semakin bersalah setelah melihat reaksi Itachi yang tampaknya tidak mengerti maksud ucapannya yang sesungguhnya.

.

.

Itachi berhenti melangkah ketika ia berada di depan ruangan operasi. Ia berbalik dan menatap Sasuke yang pagi ini menemaninya menuju ruang operasi serta langsung memeluk Sasuke dengan sangat erat.

Sasuke tersentak ketika Itachi memeluknya begitu saja. Sebenarnya ia merasa malu karena perawat dan salah seorang dokter yang menangani ibunya menatapnya, tetapi Sasuke menyembunyikan wajahnya di punggung Itachi dan membalas pelukan lelaki itu.

"Aku sayang Sasuke."

Sasuke terdiam, tetapi pada akhirnya ia berbisik setelah mengesampingkan egonya, "Aku juga menyayangimu."

Sasuke merasa sangat malu mengatakan hal seperti itu. Rasanya ia ingin menggali lubang yang sangat dalam dan bersembunyi sekarang juga.

Mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya Itachi melepaskan pelukan terlebih dahulu. Lelaki itu menatap Sasuke lekat-lekat dan tersenyum.

Namun Sasuke menyadari kalau Itachi terlihat ragu. Perawat telah menghampirinya dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan, namun lelaki itu masih tak mau melepaskan pandangannya dari Sasuke.

Sasuke merasa kalau ia harus mengatakan sesuatu. Namun tak ada satupun kalimat yang berhasil ia pikirkan sehingga ia asal berkata, "Kau akan baik-baik saja. Setelah itu, aku akan membelikanmu kue apapun yang kau inginkan."

"Aku mau dango dan kue merah dengan kacang yang dibelikan okaasan."

Sasuke mengangguk, "Akan kubelikan untukmu."

Itachi melambaikan tangan pada Sasuke dan kembali tersenyum serta berjalan menuju ruangan operasi.

Pintu ruangan operasi itu tertutup dan lampu tanda bahwa operasi sedang berlangsung telah menyala.

Sasuke memutuskan untuk duduk di salah satu kursi ruang tunggu dengan jantung berdebar. Sebelumnya ia merasa pegal dan ingin tidur, tetapi kini rasa kantuknya hilang begitu saja. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya dan tertidur barang sedetikpun.

Ia memutuskan untuk memejamkan matanya meski sama sekali tidak bisa tidur. Barangkali ia akan tertidur sesaat dan waktu akan berlalu lebih cepat.

Sasuke baru akan terlelap di kursi ketika terdengar suara seseorang yang melangkah dan ia segera membuka matanya. Ia mendapati Sakura dan Naruto yang datang bersamaan.

"Teme, lama tak melihatmu," sapa Naruto.

Sakura tersenyum dan melambaikan tangan serta mengeluarkan kantung plastik berisi makanan dan memberikannya untuk Sasuke, "Nih, kubawakan onigiri."

Sasuke menerima onigiri itu, namun ia tak bisa memakannya meski ia sama sekali belum mengisi perutnya dengan makanan apapun. Ia menatap Naruto dengan heran dan bertanya, "Ngapain kau?"

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk, "Umm.. aku dengar dari Sakura kalau okaasanmu akan dioperasi. Lalu okaasanku menyuruhku datang kesini dan menemanimu."

Sasuke tak bereaksi apapun. Ia hanya diam dan memegang onigiri yang diberika Sakura tanpa berniat memakannya. Matanya terus menerus memandang ke arah ruang operasi, dan sesekali memandang ke arah lain ketika ia mulai bosan.

"Itachi-nii juga dioperasi?" tanya Naruto.

"Hn."

Naruto dan Sakura saling berpandangan. Biasanya Sasuke memang tidak banyak bicara, tetapi kali ini lelaki itu bahkan lebih diam ketimbang biasanya. Sasuke bahkan tak menjawab sapaannya.

"Kau tidak makan onigirinya? Aku buat ongiri khusus dengan tomat dan okaka kesukaanmu, lho," ucap Sakura seraya menatap Sasuke.

"Masih kenyang."

"Memang kau sudah sarapan?"

"Belum."

Naruto menyadari kalau Sasuke sama sekali tidak baik-baik saja. Ia langsung menepuk bahu Sasuke dan bertanya, "Kau kenapa? Khawatir dengan operasi okaasan dan anikimu?"

Sasuke malu mengakuinya, namun sebetulnya ia merasa ketakutan. Meski Sasuke merasa ibu dan kakaknya membuatnya harus bekerja lebih keras, namun mereka adalah tujuan hidupnya. Jika ia kehilangan ibu dan kakaknya, ia tak lagi memiliki tujuan hidup.

Mungkin terdengar berlebihan, namun Sasuke benar-benar berpikir begitu. Ia mengumpulkan banyak uang dengan tujuan membayar pengobatan ibunya, menyenangkan kakaknya, serta membeli rumah yang nyaman untuk keluarganya suatu saat nanti. Namun jika ia tidak lagi memiliki keluarga, ia tidak tahu harus mengumpulkan uang dan bertahan hidup untuk siapa?

Baik Sakura maupun Naruto mengartikan diamnya Sasuke sebagai persetujuan atas pertanyaan Naruto. Secara tak langsung lelaki itu berusaha mengungkapkan kalau ia sedang khawatir meski tak mengatakan apapun.

"Bagaimana dengan tur Black Ash dan konferensi pers kemarin?" Sasuke bertanya dengan maksud mengalihkan topik.

"Kau tidak menonton berita?"

"Tidak."

"Baguslah," ucap Naruto sambil tersenyum lebar. Ia merasa canggung jika Sasuke sampai melihatnya sedang memuji-muji lelaki itu kemarin.

Sasuke mengernyitkan dahi karena reaksi Naruto yang aneh. Dan Sakura menepuk bahu Sasuke, "Konferensi pers kemarin sangat lancar. Kulihat reaksi orang-orang di internet semakin positif padamu."

"Hn."

"Kau beruntung memiliki teman-teman satu band yang mendukugmu, Sasuke-kun. Bahkan si baka ini saja sampai memasang foto berdua denganmu dan membuat caption super panjang untuk membelamu. Saat wawancara, dia bah-"

Naruto cepat-cepat menutup mulut Sakura dan ia mengalihkan pandangan ketika Sasuke menatapnya.

"Yah… kebetulan kita berteman. Jadi aku harus meluruskan kesalahpahaman mengenaimu, 'kan? Lagipula itu bisa mempengaruhi image band kita."

"Arigtou, dobe."

Naruto tersenyum dan menepuk lengan Sasuke, "Ternyata menjadi pemimpin band benar-benar melelahkan. Aku sekarang benar-benar mengerti bagaimana sulitnya."

Ucapan Naruto menarik atensi Sasuke dan ia segera menoleh, "Pemimpin band?"

"Ya. Kakashi-san memintaku menggantikanmu selama sisa tur dan aku merasa mau gila. Pertama, aku harus bangun paling pagi dan memastikan semua anggota band bangun di jam yang tepat agar tidak terlambat. Lalu aku harus memastikan mereka semua tampil sebagus mungkin, menjaga agar mereka tidak bersikap aneh-aneh."

Sasuke menyeringai, "Padahal selama ini kau yang sering bersikap aneh-aneh dan membuatku pusing."

"Kau sendiri selalu menyembunyikan semua masalah sendiri. Kalau Kakashi-san tidak bilang pada kami, kami tidak akan tahu kalau pihak promotor complain karena kau memberi encore. Lalu kau pernah dapat kritik dari pihak promotor karena memakai studio melebihi waktu yang seharusnya hingga band lain yang ingin menyewa studio protes karena dirugikan."

"Itu bukan urusanmu."

"Kita ini satu band, jadi semua masalah yang berkaitan dengan band jelas urusanku juga."

Sakura menempelkan telunjuknya, khawatir kalau Naruto dan Sasuke akan bertengkar seperti biasa dan menimbulkan kegaduhan. Di sisi lain, Sakura merasa beruntung karena Sasuke terlihat lebih ceria dengan keberadaan Naruto.

.

.

Tak ada tanda-tanda dokter ataupun perawat hendak keluar dari ruangan hingga pada akhirnya lampu tanda operasi sedang berlangsung akhirnya dipadamkan.

Jantung Sasuke berdebar lebih keras dan ia seketika mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Ia bangkit berdiri secara refleks ketika seorang dokter keluar dari ruangan itu.

Sasuke membuka mulutnya, namun otaknya seolah buntu. Tak ada satupun kata yang keluar hingga dokter itu menyadari apa yang ingin diucapkan Sasuke dari gesture lelaki itu.

"Selamat. Operasi ibu dan kakak anda berjalan dengan lancar," ucap dokter itu.

Sasuke merasa benar-benar lega. Apa yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan.

"Arigatou," Sasuke menundukkan kepala dalam-dalam.

"Sementara kami akan memantau kondisi ibu dan kakak anda. Ketika sudah stabil, kami akan memindahkan mereka ke ruang perawatan biasa."

Sasuke menganggukan kepala. Salah seorang perawat yang bertugas menghampiri Sasuke dan memberitahu jika Sasuke diminta mengikutinya pergi ke bagian administrasi untuk mengurus administrasi terkait pemindahan ke ruangan perawatan biasa.

.

.

Seorang dokter yang berjaga di dalam ruang pemulihan setelah operasi menepuk lengan Itachi beberapa saat setelah lelaki itu menjalani operasi yang memerlukan anestesi umum.

Itachi membuka matanya perlahan. Ia sedang tertidur sangat lelap dan merasa kebingungan ketika ia membuka matanya. Kepalanya benar-benar pusing dan ia merasa sangat mual.

Rasa mual yang dirasakan Itachi semakin menjadi-jadi hingga akhirnya ia mengeluarkan isi perutnya, namun cairan itu kembali tertelan karena posisi tubuhnya dan masker oksigen yang menghalangi cairan itu keluar.

Dokter yang berjaga benar-benar terkejut karena hal itu terjadi begitu cepat. Ia segera menghubungi rekan lainnya untuk membantu sedangkan ia berusaha memberikan bantuan pertama.

Itachi terlihat sesak nafas dan terbatuk berkali-kali meski dokter itu berusaha memberikan bantuan dengan menggunakan alat untuk menyedot muntahan yang tertelan kembali.

Dengan cepat beberapa dokter dan perawat yang dimintai bantuan segera memasuki ruangan dan berusaha memberikan bantuan.

Namun tubuh Itachi tak lagi bergerak dan mata lelaki itu terpejam seketika. Jantung lelaki itu berhenti berdetak, sehingga para dokter berusaha melakukan resusitasi jantung paru.

Tiga puluh menit berlalu dan tak ada tanda-tanda jantung yang kembali berdetak sehingga para dokter memutuskan untuk menghentikan resusitasi.

Salah seorang dokter memutuskan untuk keluar dari ruang pemulihan dan mencoba mencari keberadaan Sasuke. Ia menemukan Sasuke yang baru saja akan duduk di ruang tunggu, dan ia memberanikan diri menghampiri Sasuke.

"Maaf, apakah anda adik dari pasien bernama Uchiha Itachi?"

Sasuke menoleh dan segera menganggukan kepala.

"Ada apa?"

Dokter wanita itu terdiam sejenak, ia merasa benar-benar tidak nyaman mengatakanya. Dengan satu tarikan nafas ia segera berkata sambil menundukkan kepala dalam-dalam, "Mohon maaf, kakak anda telah meninggal."

Naruto dan Sakura yang mendengar ucapan dokter itu seketika sangat terkejut. Namun mereka tak bisa melihat raut wajah Sasuke karena posisi lelaki itu membelakanginya.

"Kenapa?" tanya Sasuke dengan tenang meski tatapannya menunjukkan sebaliknya.

Dokter itu memberikan penjelasan pada Sasuke, yang tak dijawab sepatah katapun oleh Sasuke.

Sasuke tak bereaksi apapun. Raut wajahnya tetap datar bahkan ketika dokter itu telah pergi dan ia kembali ke kursi.

"Ada apa?" tanya Sakura.

"Itachi-nii meninggal," ucap Sasuke tenang, bahkan raut wajahnya tampak datar.

Sakura menyadari Sasuke yang terlihat berusaha menahan tangis meski terlihat tenang. Bola mata lelaki itu bahkan berdenyut-denyut menahan air mata yang hendak mengalir, dan Sakura memeluk erat Sasuke tanpa berpikir panjang.

Sakura meneteskan air mata. Ia merasa terkejut dan tidak mengira lelaki yang baru saja ditemuinya dua hari yang lalu kini telah meninggal. Ia juga merasa bersalah karena sempat bersikap agak kasar selama satu bulan bersama lelaki itu.

"Aku merasa bersalah. Terkadang aku tak cukup sabar menghadapinya. Maafkan aku," ucap Sakura dengan parau.

Sasuke masih tak bereaksi apapun meski dadanya mulai terasa sesak. Naruto bahkan sudah menepuk punggung Sasuke.

"Maafkan aku," Sakura mencicit di sela isakannya.

Perawat mendorong sebuah kasur beroda dengan tubuh Itachi di atasnya. Sasuke segera bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Sakura, kemudian menghampiri kasur itu. Ia membuka kain putih yang menutupi wajah kakaknya dan ia menyentuh tangan lelaki itu. Tangan lelaki itu masih hangat, namun kini nadi lelaki itu tak lagi berdenyut.

Sasuke mulai kehilangan pertahanan ketika menatap wajah sang kakak. Bola mata sehitam oniks itu mulai terlihat berkaca-kaca, namun raut wajah Sasuke tetap datar ketika ia akhirnya menutup kain yang menutup wajah Itachi.

Perawat yang mendorong kasur itu segera berlalu dan Sasuke kembali ke kursi. Tenggorokannya tercekat dan tubuhnya terasa lebih lemas dibanding sebelumnya.

Sasuke merasa tak tahan lagi, dadanya benar-benar sesak akan emosi yang menumpuk. Ia berusaha memejamkan mata, berharap tak ada air mata yang mengalir.

Sakura tahu kalau Sasuke terlihat berusaha keras menahan air matanya. Ia segera berkata, "Kalau kau mau menangis juga tidak masalah."

Sasuke membuka mata dan menatap gadis itu lekat-lekat. Ia segera memeluk gadis itu dan berbicara dengan suara pelan, "Tolong biarkan aku sebentar saja."

Sakura membalas pelukan Sasuke dan seketika tangisan Sasuke meledak seketika. Air mata mengalir deras dari mata lelaki itu.

Ia menangis di pelukan gadis yang dicintainya.

-TBC-


Author's Note :


Untuk chapter ini, author berniat ngejelasin mengenai plot nya sebelum ada pembaca yang mungkin merasa chapter ini nggak logis.

Sebelumnya, aku udah baca di berbagai artikel, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia mengenai efek samping anestesi umum, termasuk perawatan setelah operasi. Maaf kalau mungkin ada kesalahan karena ha berkaitan medis sebetulnya bukan bidangku.

Biasanya sebelum operasi pasien yang mau menjalani operasi dilarang makan & minum selama 8 - 12 jam, cuma masih diperbolehkan minum cairan kayak jus atau air putih sampai 4 jam sebelum operasi untuk menghindari mual.

Setelah anestesi umum, pasien biasanya dibawa ke ruang pemulihan sebelum dipindahin ke ruangan biasa. Nah disana ada dokter yang mantau keadaan pasien sekaligus ngecek udah cukup stabil untuk dipindahin ke ruang perawatan biasa atau belum.

Biasanya setelah anestesi umum pasien bisa aja merasakan beberapa efek samping, contohnya mual & (maaf) muntah.

Mengenai kematian karena tersedak (maaf) muntahan yang masuk ke paru-paru aku ambil dari pengalaman pribadi. Kakekku sendiri meninggal karena alasan yang sama. Beda nya, saat itu kakekku masih tertolong walaupun jantung sempat berhenti & baru meninggal beberapa hari kemudian.

Balik lagi ke plot, sebetulnya dari awal aku udah berencana membuat karakter Itachi meninggal walaupun aku agak ragu juga di pertengahan chapter. Awalnya sempet berpikir ngebuat karakter Itachi & Mikoto meninggal, cuma akhirnya kubatalin.

Fanfict ini juga ternyata lebih panjang dari perkiraan awal. Awalnya kukira bakal ending sebelum chapter 30, tapi ternyata kemungkinan bisa lebih panjang.