Upacara kematian telah dimulai ketika pendeta Buddha datang. Upacara itu diawali dengan meneteskan air ke bibir jenazah, lalu dilanjutkan dengan kegiatan wake, yakni pembacaan sutra yang dilakukan oleh pendeta Buddha dan diikuti oleh tamu yang duduk di belakang kursi khusus keluarga dan menggunakan juzu (sejenis manik-manik untuk berdoa), serta diikuti dengan pihak keluarga yang saling menawarkan hio sebanyak tiga di tempat hio yang diletakkan di depan jenazah.

Sakura dan Naruto duduk bersama dengan seluruh personil Black Ash yang berpakaian serba hitam dan menatap Sasuke yang memunggungi mereka. Kursi keluarga berada di baris terdepan, namun hanya ada Sasuke seorang yang duduk di sana.

Rasanya benar-benar menyedihkan melihat Sasuke yang menjalani seluruh rangkaian prosesi upacara kematian sendiri. Ia bahkan tampak sangat canggung ketika ia seharusnya menawarkan dupa pada anggota keluarga lainnya, namun tak ada seorangpun yang bisa ditawarkan.

Sakura mengusap air matanya seraya ikut membaca sutra dari buku doa yang dibagikan kepada setiap pelayat. Ia duduk tepat di belakang Sasuke dan ia berniat memeluk lelaki itu seandainya ia bisa melakukannya.

Ini bukanlah kali pertama Sakura datang ke acara kematian, tetapi ini adalah kali pertamanya menyaksikan acara kematian dimana hanya terdapat satu orang keluarga. Dan kemungkinan besar Sasuke akan kembali mengalami hal yang sama suatu saat nanti ketika ibunya meninggal.

Sakura melirik Naruto yang juga sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya. Tak hanya Sasuke, bahkan mata Kiba juga tampak berkaca-kaca. Ia tak tahu apakah para personil Black Ash sebetulnya mengenal Itachi atau tidak, namun mereka semua tampak sedih.

Sasuke sendiri menahan diri agar tidak sampai menangis selama prosesi wake. Ia berkali-kali memejamkan mata dan membelalakannya agar air matanya mengering. Padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis, tetapi pada akhirnya ia tak bisa menepati janji.

Rasanya sungguh sulit dipercaya kalau lelaki yang masih berbincang dengannya tadi pagi kini sudah terbuju di atas peti mati dengan raga yang tak lagi bernyawa. Bahkan Sasuke pun sulit percaya hingga ia memutuskan menyentuh tangan Itachi ketika belum ada tamu yang berdatangan.

Malam ini, untuk pertama kalinya, Sasuke merasa kesepian dan canggung karena berada di bangku keluarga sendirian. Setidaknya ia cukup beruntung karena pelayat yang datang melebihi dugaannya meski awalnya ia mengira paling-paling hanya Sakura dan Naruto yang datang.

Awalnya Sasuke bahkan berpikir untuk langsung melakukan kremasi saja tanpa melakukan upacara dalam bentuk apapun. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia ingin memberikan yang terbaik bagi Itachi untuk terakhir kali, termasuk upacara kematian yang biasanya diadakan bagi orang yang sudah meninggal.

Sasuke hampir tidak mengenal keluarga besarnya. Ibu dan ayahnya adalah anak tunggal, dan kakek maupun neneknya sudah lama meninggal. Maka keluarga besar yang dimilikinya adalah sepupu dari ibu dan ayahnya yang bahkan hanya ditemuinya ketika ada acara pernikahan, kematian salah seorang anggota keluarga besar atau perayaan ulang tahun kedua orang tuanya. Dan Sasuke sendiri bahkan tidak memiliki nomor telepon mereka.

Sasuke tak berniat menghubungi sepupu ayah maupun ibunya meski ia bisa saja mengecek nomor telepon mereka dari ponsel ibunya, itupun kalau ibunya menyimpan seluruh kontak mereka.

Sasuke tak tahu apakah keluarga besar orang lain juga sepertinya, namun ia merasa tak ada gunanya berhubungan dengan keluarga besarnya. Bukan berarti ia sombong, hanya saja ia merasa kecewa karena ketika mereka bangkrut, tak satupun keluarga besar yang berniat menolongnya, entah dengan meminjamkan uang atau setidaknya membantu mencarikan pekerjaan. Bahkan ketika salah seorang anak sepupu ibunya merayakan ulang tahun ke tujuh belas di hotel bintang lima, keluarga Sasuke sama sekali tidak diundang. Padahal ketika keluarganya masih sukses, ayah atau ibunya akan mentraktir para sepupunya di setiap hari ulang tahun untuk makan bersama di restoran hotel bintang lima.

Sasuke merasa risih ketika berita mengenai kesuksesan Black Ash telah menyebar dan sampai ke telinga keluarga besarnya. Beberapa bahkan langsung mem-follow Instagram Sasuke dan mengirimkan direct message serta mengatakan kalau mereka ingin bertemu dan meminta nomor ponsel Sasuke. Pada akhirnya, Sasuke tidak membalas sama sekali dan ia sengaja mem-posting screenshot berupa ratusan direct message yang tidak terbaca di kotak pesan dan mempostingnya ke Instagram story serta meminta maaf karena tidak bisa membalas satu persatu serta berterima kasih pada orang-orang yang telah mengirimkan pesan padanya.

Sasuke menoleh ke belakang dan ia terkejut mendapati teman-teman yang menghadiri prosesi kematian walau ia tak mengatakan apapun. Ia mendapati seluruh personil Black Ash, juga Gaara yang datang bersama seluruh personil bandnya. Ia bahkan mendapati beberapa artis lain yang juga satu label dengannya, para staf dan teman-teman sekolahnya meski ia tak sempat mengabarkan pada siapapun.

Setidaknya, Sasuke tidak lagi sendirian.

.

.

Sasuke terlihat benar-benar kacau, tak lagi glamor seperti image-nya di atas panggung. Ia juga terlihat jauh lebih emosional ketimbang di depan publik.

Sasuke berbincang dengan setiap tamu meski ia pada akhirnya merasa lelah karena interaksi sosial yang berlebihan. Dan matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca meski ia berusaha menyembunyikannya dengan sesekali memalingkan wajahnya untuk mengusap air mata.

Satu per satu tamu mulai pergi ketika malam semakin larut dan hanya tersisa beberapa teman dekat Sasuke yang masih berada di rumah duka.

"Kau tidak pulang? Bukankah besok kau masih harus pergi ke krematorium?" tanya Neji yang menguap di akhir kalimat karena mengantuk.

Seluruh personil Black Ash sebetulnya masih kelelahan setelah konser selama sebulan lebih. Ketika mereka kembali ke Jepang, mereka baru saja berpikir untuk beristirahat, namun diharuskan melakukan konferensi pers keesokan harinya. Dan setelah konferensi pers, mereka kembali ke rumah dan tidur selama berjam-jam. Sebetulnya hari ini pun mereka berniat tidur berjam-jam seperti kemarin kalau saja tidak mendapat kabar mengenai kematian kakak Sasuke dan mereka semua pergi melayat malam ini.

"Malam ini aku menginap."

"Menginap?!" Naruto meringis seketika. Ia merasa ketakutan membayangkan jika ia sendirian di rumah duka dan mungkin saja bertemu dengan hantu di tengah malam. Ia merinding hanya dengan membayangkannya.

"Hn."

"Hiyyyy… kau gila, teme. Kalau kau bertemu hantu bagaimana? Mau kutemani, tidak?"

"Bisa-bisa dia semakin merepotkan karena ketakutan," ucap Sai yang dibalas dengan tatapan tajam dari Naruto.

"Sudahlah, kalian pulang saja. Aku ingin sendiri disini," kata Sasuke dengan suara pelan.

Sebetulnya Sakura ingin menemani Sasuke malam ini. Tetapi ia tak akan memaksa jika Sasuke menginginkan privasi.

"Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa menelponku meskipun di tengah malam," Sakura menepuk bahu Sasuke.

"Hn."

Naruto tampak ragu meninggalkan Sasuke. Ia bahkan menghampiri Sasuke dan kembali bertanya apakah lelaki itu tidak ingin ditemani saja? Dan Naruto kembali mendapat penolakan untuk kali kedua.

"Sudahlah. Mungkin leader-san butuh waktu sendiri," Kiba segera merangkul Naruto dan bersiap membawanya meninggalkan rumah duka.

Sakura mengiyakan ucapan Kiba meski ia tampak khawatir. Ia tahu kalau Sasuke membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan dirinya. Dan ia tak ingin menganggu lelaki itu.

.

.

Sakura menatap langit berwarna cerah dimana sang mentari yang bersinar begitu terik menerpa laut berwarna kebiruan, juga objek lainnya yang berada di bawah jangkauan sang mentari.

Mata sewarna emerald Sakura tertuju pada sosok Sasuke yang memeluk sebuah guci keramik yang berukuran lumayan besar berisi tulang belulang milik Itachi yang telah dikremasi.

Naruto dan anggota band Black Ash lainya juga berada di dalam kapal yang melaju cepat menyusuri tepi laut. Mereka juga tak berucap sepatah katapun dan hanya menatap pemandangan yang terlihat.

Suasana sedih masih memengaruhi mereka meski Itachi bukanlah siapapun bagi mereka. Pagi ini mereka menyaksikan Sasuke yang menjalani prosesi kremasi sendirian, termasuk proses memindahkan tulang jenazah satu persatu menggunakan semacam sumpit yang seharusnya dilakukan antar anggota keluarga. Bagi mereka, hal itu sangat menyedihkan meski mereka juga tahu kalau Sasuke tak memiliki pilihan selain menjalaninya sendiri.

Sasuke memeluk guci itu seolah sedang memeluk sesuatu yang berharga meski ia tahu kalau sang kakak kini telah berubah menjadi abu dan tulang belulang yang berada di dalam guci dan tak akan bisa ditemuinya lagi.

Ketika Sasuke mengatakan kalau ia tidak akan memasang meja abu di rumahnya atau meletakkan jenazah kakaknya di tempat penyimpanan abu serta memilih membuang abu tersebut di laut, orang-orang menganggap pilihannya aneh dan seolah tidak menghormati mendiang sang kakak meski pilihan itu tidak aneh bagi orang di luar Jepang.

Sasuke sengaja memilih cara seperti itu agar tak ada lagi yang tersisa dari sang kakak. Ia tak ingin membebani dirinya dengan emosi yang berlebihan lebih lama lagi. Sudah cukup ia menghabiskan dua hari dengan menangisi kematian sang kakak, dan kini ia ingin berhenti melakukannya.

Sebelumnya Sasuke sempat mendiskusikan hal ini dengan ibunya dan wanita itu juga menyetujui metode apapun yang dipilih oleh Sasuke.

"Kita sudah berada di tengah laut, Tuan," ujar seorang pria paru baya yang mengemudikan perahu motor tersebut.

Sasuke mendongak sesaat sebelum ia melirik guci yang berada di tangannya. Ketika ia melepaskan guci itu, maka tak ada lagi yang tersisa dari sang kakak.

Sakura menatap Sasuke dan menepuk punggung Sasuke. Ia berharap apa yang dilakukannya bisa menguatkan lelaki itu.

Naruto dan personil Black Ash lainnya menatap Sasuke lekat-lekat. Dan Sasuke meletakkan guci itu sedekat mungkin dengan air laut dan melepaskannya.

Pandangan Sasuke tertuju pada guci yang perlahan tenggelam dan ketika guci itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam air, ia berkata, "Ayo kembali."

Perahu motor bergerak membawa Sasuke menuju tepi laut. Sepanjang perjalanan lelaki itu tak melepaskan pandangan dari air laut yang berwarna kebiruan, seolah tak bisa melepaskan sesuatu yang baru ia tinggalkan disana.

Sasuke merasa aneh karena melepaskan abu kremasi Itachi ke laut ketika lelaki itu sama sekali tak pernah pergi ke pantai sepanjang hidupnya. Pada akhirnya, ia 'membawa' lelaki itu pergi ke pantai yang selama ini hanya bisa disaksikan di televisi, hanya saja dalam wujud yang tak lagi bernyawa.

"Setelah ini pergi makan barbeque, yuk," ajak Sasuke tiba-tiba.

Naruto mengernyitkan dahi. Ia pikir Sasuke ingin mengajaknya pergi kedai untuk minum-minum sekaligus makan barbeque, "Barbeque? Di siang hari yang panas begini? Kau serius, teme?"

"Hn. All you can eat."

Sakura dan para personil Black Ash saling memandang karena heran. Mereka semua tahu kalau Sasuke bukanlah orang yang memiliki porsi makan besar dan bukanlah pecinta restoran semacam itu. Mereka tak mengira kalau Sasuke malah mengajaknya pergi ke restoran seperti itu.

Bukan tanpa alasan Sasuke memilih pergi ke restoran yang tak biasanya ia kunjungi. Ia ingin melakukan sesuatu yang tak biasa ia lakukan agar terlepas dari bayang-bayang Itachi dengan mudah.

-TBC-