"Kau terlihat lelah. Biar aku saja yang menemani Mikoto-basan malam ini," tawar Sakura pada Sasuke yang terlihat lelah.

Sasuke menggeleng meski kantung matanya terlihat menghitam dan ia berkali-kali menguap. Sore ini ia makan begitu banyak daging hingga ia mengantuk dan sulit meninggalkan tempat duduknya.

"Aku tidak ingin merepotkanmu, Sakura."

Sakura benar-benar mengagumi sikap Sasuke yang begitu mandiri. Lelaki itu berusaha begitu keras agar tak merepotkan banyak orang dan berusaha melakukan semuanya sendiri sehingga membuat Sakura khawatir. Namun di sisi lain Sakura menganggap kalau hal itu adalah hal yang keren baginya.

"Aku sama sekali tidak kerepotan. Kenapa kau selalu berpikir kalau kau merepotkanku?" tanya Sakura seraya memanggang selembar daging di atas pemanggang.

Naruto yang sedang membalik daging panggangnya menimpali, "Kau sama sekali tidak merepotkan, teme. Sebaliknya kami yang selalu merepotkanmu."

Sasuke mengangkat gelasnya dan meminum ocha dingin yang baru saja diambilnya di mesin penyedia minuman. Sebetulnya bukan tanpa alasan ia berusaha melakukan semuanya sendiri. Ia merasa kalau dirinya adalah tumpuan bagi keluarga maupun orang-orang di sekitarnya. Karena itulah kini ia merasa bersalah setelah pada akhirnya mencapai batas pertahanannya dan perlahan mulai menunjukkan sisi rapuh dari dirinya belakangan ini.

"Aku tidak suka melihatmu selalu berusaha menanggung semuanya sendiri, tahu. Padahal aku ingin menanggungnya bersama denganmu," ucap Naruto.

Naruto menoleh pada keempat rekannya dan keempat rekannya ikut menganggukan kepala.

"Omong-omong, aku tak sabar menunggu saat dimana bisa tampil bersama leader-san di konser. Dua konser terakhir di world tour terasa berbeda tanpamu," ujar Kiba seraya menatap Sasuke lekat-lekat.

"Hn? Ada yang salah dengan permainan Gaara?"

"Tidak. Gaara bisa menyesuaikan dengan baik, kok. Walaupun tetap saja permainannya berbeda denganmu," ucap Neji dengan jujur.

Sasuke merasa khawatir seketika. Bagaimanapun juga ia merasa bertanggung jawab atas penampilan Gaara di dua konser terakhir karena ia lah yang melatih lelaki itu atas permintaan label.

"Sepertinya latihan yang kuberikan tidak cukup," ucap Sasuke dengan suara pelan.

"Gaya permainanmu dengan si merah itu memang berbeda, teme. Permainan drummu sangat mencolok dan menjadi daya tarik untuk penonton. Sedangkan si merah itu malah berusaha mendukung agar instrumen lain lebih menonjol."

"Hn."

Sasuke meletakkan sepotong daging di atas pemanggang meski sebetulnya ia sudah kenyang. Ia merasa tergoda mencium aroma daging panggang milik Sakura yang sudah matang di satu sisi.

"Aku berpikir ingin keluar dari band."

Sakura membelalakan mata, begitupun dengan Naruto dan anggota band lainnya. Mereka berpikir kalau itu hanyalah guyonan semata, tetapi ekspresi dan intonasi Sasuke terlihat sangat serius.

"Kau sudah serius memikirkannya, Sasuke-kun? Apa kau sudah menentukan apa yang ingin kau lakukan sesudah keluar dari band?" Sakura menatap Sasuke lekat-lekat.

"Kupikir ini yang terbaik. Kalau aku terkena skandal lagi, image band bisa terpengaruh. Okaasan juga terpengaruh. Aku tidak ingin menghancurkan karier kalian," jelas Sasuke.

Sasuke terdengar seperti orang yang labil, tetapi sebetulnya ia telah memikirkan matang-matang mengenai keputusannya. Di masa depan, ia tak tahu rumor seperti apa yang akan menimpanya. Dari pengalamannya saat ini, ia sadar kalau fans yang dimilikinya bukanlah tipe fans setia yang akan mendukung idolanya apapun yang terjadi. Mereka bahkan bertindak ekstrim hingga meminta Sasuke untuk tidak tampil di konser. Jika Sasuke terkena skandal lagi, bukan tidak mungkin kalau mereka juga akan memboikot Black Ash secara keseluruhan. Dan Sasuke tak ingin teman-teman satu bandnya sampai ikut terpengaruh.

Lagipula dengan kondisi ibunya yang seperti ini, Sasuke tak yakin apakah ibunya cukup kuat untuk meghadapi rumor lain yang menimpa dirinya. Maka Sasuke berpikir kalau ini adalah keputusan yang terbaik.

"Bukankah selama ini kau terlihat paling bahagia ketika sedang bermain drum dan tampil di atas panggung? Kalau kau berhenti, bagaimana dengan dirimu sendiri, Sasuke-kun?"

Sasuke menatap mata emerald Sakura dan mengerjap sesaat. Selama ini ia jarang memperlihatkan ekspresi di wajahnya. Ia tidak mengira kalau wanita itu begitu memperhatikan dirinya hingga menyadari kalau ia tampak begitu bahagia di atas panggung.

Sebetulnya ada alasan lain mengapa Sasuke begitu keras berusaha mencari uang. Ia memang berpikir untuk menyenangkan ibu dan kakaknya, namun ia juga ingin membahagiakan gadis merah muda yang dicintainya itu dengan membelikan sesuatu yang bagus untuk gadis itu sesekali.

Sasuke merasa dirinya begitu melankolis setiap kali ia memikirkan hal ini. Ia pernah bermimpi untuk memiliki kehidupan yang mapan dan membangun rumah tangga bersama gadis yang dicintainya suatu saat nanti. Ia merasa tak tega membiarkan gadis itu hidup menderita bersama dirinya.

Namun Sasuke tak pernah berusaha merealisasikan mimpinya. Ia tak pernah sekalipun mengajak Sakura berkencan, apalagi menyatakan perasaan padanya. Ia hanya mengamati gadis itu dari jauh dan berusaha memastikan gadis itu baik-baik. Bahkan ia ikut mengucapkan selamat ketika Sakura memberitahunya kalau gadis itu telah memiliki kekasih bertahun-tahun lalu. Ketika akhirnya Sakura putus dengan lelaki yang ternyata brengsek itu, Sasuke merasa kesal sekaligus senang di saat yang sama.

Sasuke berpikir kalau dirinya tak pantas untuk bersama Sakura. Meski saat ini Itachi sudah meninggal dan beban Sasuke sedikit berkurang, tetapi ia tak yakin bisa membahagiakan gadis itu.

"Aku baik-baik saja."

"Kau selalu bilang begitu, bahkan ketika kau sama sekali tidak baik-baik saja. Kau malah membuatku semakin khawatir, bodoh!" seru Sakura.

Naruto berdecak kesal, "Kalau kau kena skandal tidak jelas lagi, kita tinggal menghadapinya bersama. Lagipula kita berjuang bersama, bagaimana mungkin kita semua meninggalkanmu di puncak kesuksesan?"

Kiba menimpali, "Pokoknya aku tidak mau dipimpin Naruto lagi. Aku juga tidak mau drummer baru."

Naruto menepuk bahu Kiba dengan keras dan mendelik, "Memangnya aku mau jadi leader? Bisa-bisa aku mati sebelum dapat pacar dan melakukan it-"

Ucapan Naruto terputus ketika ia membuat isyarat seks dengan tangannya. Neji yang merasa jengkel langsung menutup mulut Naruto. Wajahnya memerah karena malu dengan ucapan konyol Naruto.

"Hei. Kalau kau keluar dari band, siapa lagi yang bisa memainkan 'lagu gila'buatanmu itu? Memangnya kau pikir menemukan drummer penggantimu itu mudah? Label bakal kesulitan mencarinya," ucap Sai.

"Buatku Black Ash bukan Black Ash kalau kau sampai keluar, teme."

Sebetulnya Sasuke tahu kalau teman-teman satu bandnya adalah orang yang akan datang ketika ia membutuhkan bantuan, karena itulah ia setuju untuk membentuk band bersama mereka. Mereka tak biasanya mengungkapkan perasaan seperti ini, dan jika mereka sampai melakukannya, maka mereka benar-benar serius sekarang.

"Aku juga masih harus mengurus ibuku setelah operasi. Aku akan menghambat karena tidak bisa merilis album atau single dalam waktu dekat," jelas Sasuke. Ia berusaha menjelaskan apa yang ia pikirkan sejelas mungkin pada orang lain.

Sakura masih tak habis pikir dengan Sasuke yang terus menerus memikirkan orang lain di saat seperti ini. Meski Sasuke biasanya bukan orang yang banyak bicara dan bermulut tajam, sikap perhatian lelaki itu membuatnya merasa nyaman.

Naruto meringis, "Kau baru saja kehilangan Itachi-nii dan sekarang mengkhawatirkan single dan album, teme? Memang kenapa kalau kita tidak merilis album atau single?"

"Black Ash bisa kehilangan popularitas, dobe," sahut Sasuke.

Kiba dan Neji bahkan ikut meringis. Mereka berdua sadar kalau Black Ash memang membutuhkan leader seperti Sasuke yang benar-benar memikirkan band melebihi dirinya sendiri. Di sisi lain, mereka juga merasa khawatir karena Sasuke terlalu memikirkan band dan seolah melupakan dirinya sendiri.

"Sebetulnya apa tujuanmu bekerja sekeras ini?" tanya Neji.

Sasuke seketika mengarahkan pandangannya pada Sakura. Gadis itu adalah salah satu alasannya untuk bekerja keras.

"Aku suka bekerja."

"Itu passionmu, 'kan? Jangan melepasnya, Sasuke-kun. Aku ingin melihatmu melakukan apapun yang kau sukai, selama itu bukan hal yang aneh-aneh," ucap Sakura.

Sasuke menatap Sakura. Gadis itu adalah fans wanita pertamanya, sekaligus salah satu dari segelintir orang yang benar-benar mendukungnya bukan karena wajahnya atau statusnya, melainkan mendukungnya sebagai seorang Uchiha Sasuke yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

"Kalau kau memang begitu mengkhawatirkan soal single, album, atau apapun lah, bagaimana kalau kau buat single khusus untuk aniki-mu? Walaupun isi liriknya cuma 'Itachi' yang diulang-ulang atau 'Aku mencintaimu, Itachi', aku akan tetap menyanyikannya dengan senang hati khusus untukmu, teme."

Ucapan Naruto berhasil membuat seulas senyum yang sangat tipis muncul untuk sesaat di wajah Sasuke. Ia menepuk punggung Naruto denga keras sambil meringis karena risih membayangkannya, "Kau pikir aku sudah gila, hn?"

"Mana kutahu," jawab Naruto seraya mengendikkan bahunya.

Ucapan Naruto ada benarnya. Mungkin ia bisa mulai menulis lagu baru dan memberitahukan pada pihak label meski ia tak tahu bagaimana kelanjutan kariernya di Black Ash.

.

.

'Sidang Kedua Kasus Kriminal Hyuuga Hizashi Akan Dilaksanakan Pekan Ini.'


'Bukti Terhadap Pemusnahan Karyawan T Company Kembali Ditemukan.'


'Kakak Meninggal, Shu Black Ash Tengah Berduka.'


'Viral! Petisi Agar Kasus Pemfitnahan Shu Black Ash Cepat Ditangani Telah Ditandatangani Dua Puluh Ribu Orang Dalam Tiga Jam.'


'Dukungan BLash Terhadap Shu Dengan Berdemo di Depan Kantor TJO Entertainment'


Vanderwood menatap berita-berita yang sedang populer di situs berita online dan memutar matanya. Kali ini bukan ia yang membuat berita-berita itu, melainkan para wartawan sungguhan.

Lelaki berambut cokelat itu hanya mendapat tugas dari si hacker untuk mengamati berita-berita di internet terkait Shu dan mantan klien mereka. Dan kali ini ia menuruti lelaki itu dengan senang hati demi mobil limited edition yang sudah berada di tangannya.

"Ck.. aku penasaran. Memangnya si Shu atau siapalah itu bayar berapa sampai kau bisa serius begini untuk membantunya?"

Saeyoung, alias Seven, si hacker berambut merah itu mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Kali ini ia sedang mengambil cuti mendadak hingga ia menyelesaikan perannya untuk membantu Shu sekaligus menjatuhkan si mantan klien. Dan kini ia hanya perlu sesekali mengecek komputernya untuk memastikan tak ada yang berusaha menyerang server-nya.

"Defender 707 bekerja secara cuma-cuma untuk menghukum orang jahat."

Vanderwood meringis, "Seandainya kau seserius ini ketika bekerja untuk klien kita, bos tidak perlu sampai menugaskan aku untuk mengawasimu."

"Huhu… kalau aku membiarkan orang jahat begitu saja, mana mau dewa hacker menolongku lagi?"

Vanderwood menatap hacker berambut merah itu dan merasa takjub dengan kemampuan lelaki itu. Ketika lelaki itu serius, ia bahkan bisa memanipulasi berita di internet hingga mendapatkan bukti-bukti yang disembunyikan klien tanpa harus meninggalkan rumahnya selangkahpun. Kekuatan hacker benar-benar mengerikan.

"Tak kusangka fans orang bernama Shu itu hebat juga. Mereka seperti tanaman yang mengikuti angin bertiup. Ketika aku meniupkan kebenaran mengenai Shu, mereka langsung mendukung orang itu mati-matian," ucap Saeyoung.

"Yah," sahut Vanderwood. "Omong-omong kapan kau menyelesaikan pekerjaan sukarelamu itu? Boss sudah mulai menggila karena kau mendadak minta cuti."

Bukan tanpa alasan Saeyoung memutuskan menghancurkan kliennya sendiri. Dan ketika ia mengetahui lebih dalam mengenai kebusukan sang klien, ia semakin yakin kalau ia telah melakukan hal yang benar.

Klien itu mengingatkannya dengan ayah kandungnya sendiri, salah satu orang penting di negaranya. Sang klien berniat menghabisi anak di luar nikah yang dimilikinya untuk menutupi aibnya, sama seperti ayahnya yang berniat menghabisi dirinya dan adik kembarnya yang berasal dari hubungan di luar nikah. Dan ia terpaksa berlindung dengan hidup di dunia bawah, begitupun dengan sang adik kembar yang juga menjadi hacker.

"Akan kuselesaikan secepatnya," sahut Saeyoung.

-TBC-


Author's Note :


Awalnya berencana nyicil untuk chapter berikutnya, ga nyangka ideku malah lancar & akhirnya malah jadi 1 chapter. Jadinya hari ini double update. Kalau sempet, mungkin aja malah triple update.

Berhubung masih ada pertanyaan-pertanyaan mengenai sosok hacker, aku kembali munculin sosok hacker disini. Buat kalian yang bingung sama sosok hacker, hacker ini karakter dari luar anime Naruto, melainkan dari game Mystic Messenger yang sempet populer 2 tahun lalu. Aku sendiri pernah main game itu walaupun Saeyoung bukan karakter favoritku.