"Bagaimana keadaanmu, okaasan? Sudah lebih baik?"
Mikoto tersenyum pada Sasuke. Beberapa hari telah berlalu dan kondisinya telah membaik dibanding sebelumnya. Kini ia bahkan sudah diperbolehkan untuk duduk meski masih harus berhati-hati dengan bekas luka operasinya.
Mikoto tak menampik kalau ia kehilangan Itachi. Ia merindukan sikap yang riang dan cenderung cerewet dari lelaki itu. Namun ia berusaha membiasakan diri dengan Sasuke yang cenderung lebih tenang ketimbang Itachi.
Mungkin Mikoto terdengar jahat, tetapi ia bersyukur karena Itachi sudah pergi ke tempat yang lebih baik meski ia masih tetap merindukan lelaki itu. Seandainya Itachi masih hidup, ia tak akan bisa mati dengan tenang karena lelaki itu selalu membutuhkan bantuan seseorang untuk mengawasinya. Di sisi lain, ia khawatir kalau Sasuke akhirnya malah tidak bisa menikah karena harus mengurus Itachi meskipun ia merasa kalau Sasuke sepertinya menyukai Sakura.
Sebagai seorang ibu, Mikoto bisa membaca sikap putranya dengan mudah, meski Sasuke adalah orang yang tertutup dan cenderung dingin. Sasuke terlihat berbeda ketika bersama Sakura, mulai dari caranya menatap hingga ekspresi wajahnya. Sasuke terlihat lebih banyak tersenyum ketimbang biasanya dan terlihat senang.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya sudah boleh pulang beberapa hari lagi."
Sasuke tersenyum dan ia meletakkan tasnya di sofa empuk yang menjadi tempat tidurnya selama beberapa hari terakhir.
"Kau mau menginap lagi, Sasuke-kun?"
"Hn."
"Kau tidak mau pulang saja? Aku baik-baik saja disini, kok. Lagipula teman-temanku juga datang setiap hari."
"Aku tidak akan meninggalkan okaasan sendiri di rumah sakit."
Mikoto tersenyum. Kata orang, anak laki-laki cenderung lebih cuek pada orang tua ketimbang anak perempuan. Namun ia memiliki dua anak lelaki yang memperhatikan dan menyayanginya dengan cara mereka sendiri dan merasa sangat diberkati oleh Tuhan.
"Tidak apa-apa, nih? Memangnya kau tidak mau pergi bersama temanmu?"
"Tidak."
Untuk pertama kalinya Mikoto merasa hidupnya begitu lega karena tak perlu harus terus menerus mengawasi Itachi. Sampai saat ini, ia terkadang masih berniat menanyakan keberadaan Itachi karena mengkhawatirkan lelaki itu. Namun ia teringat kalau lelaki itu sudah pergi dan ia urung bertanya.
Mikoto tahu kalau selama ini Sasuke sudah berjuang begitu keras hingga merelakan begitu banyak hal. Kini sebuah beban telah terangkat dan ia pikir sudah saatnya Sasuke mengejar kebahagiaannya sendiri.
"Bagaimana kabar Sakura-chan?"
"Hah?"
Sasuke begitu terkejut dengan pertanyaan ibunya dan ia menjawab secara refleks. Ia bahkan tak sempat menyembunyikan rona wajahnya yang memerah begitu ibunya menyebut nama gadis itu secara mendadak.
"Dia baik-baik saja. Kenapa okaasan bertanya padaku?"
Mikoto tersenyum. Ia merasa senang menjahili putranya sendiri yang menurutnya terlihat menggemaskan. Entah kenapa, menurutnya lelaki yang sedang jatuh cinta terlihat menggemaskan.
"Cuma penasaran."
"Seharusnnya kau menanyakan hal ini pada Mebuki-obasan, bukan padaku."
Mikoto tahu kalau Sasuke adalah orang yang blak-blakan dan kata-katanya cenderung tajam. Sikap Sasuke mengingatkannya akan sang suami yang juga memiliki kepribadian yang serupa.
Kalau dipikirkan lagi, Mikoto merasa heran pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tertarik pada laki-laki bermulut tajam hingga bersedia menikah dan menghasilkan dua anak? Ia yakin wanita yang menjadi pasangan Sasuke pasti juga akan memikirkan hal yang sama suatu saat nanti.
"Kalau kau menyukai seseorang, kau harus mengejarnya, Sasuke-kun. Kalau kau terus mengabaikannya, bisa-bisa dia memutuskan berpaling meski dia suka padamu karena mengira kalau kau tidak suka padanya," jelas Mikoto panjang lebar.
Sasuke begitu terkejut dengan ucapan sang ibu. Ia segera berkata, "Aku tidak tertarik pada siapapun."
Mikoto menyeringai, "Kau tumbuh di perutku selama sembilan bulan dan tinggal bersamaku. Kau pikir bisa membohongiku, hm?"
Sasuke meringis. Ia merasa malu dan tidak nyaman dengan topik yang sedang dibahas ibunya. Ia merasa ibunya sedang berusaha menelanjangi dirinya secara paksa.
"Sakura-chan, 'kan?"
Wajah Sasuke memerah seketika ketika sang ibu menyebut nama gadis yang dicintainya. Seketika ia terbayang senyuman gadis itu dan ia tanpa sadar tersenyum, membuat Mikoto merasa semakin ingin menjahilinya.
"Tidak! Aku tidak suka gadis cerewet begitu. Kepalaku pusing ketika bersamanya."
Mikoto kembali tersenyum. Lihatlah, kini Sasuke berusaha mengelak dengan wajah yang bersemu merah. Lelaki itu bahkan memberikan penjelasan panjang lebar sebagai alasan di balik penolakannya, hal yang biasanya tak akan ia lakukan.
.
.
Sakura menatap orang-orang yang berlalu lalang melalui jendela. Ia duduk di salah satu meja yang berada tepat di depan jendela sehingga bisa mengamati orang-orang yang berlalu lalang di luar kafe, pemandangan yang sangat umum di sore hari.
Sakura tak terbiasa menunggu seperti ini jika ia bertemu dengan Sasuke. Biasanya, ia lah yang terlambat dan Sasuke akan menunggunya.
Namun kali ini berbeda. Ia sengaja datang tiga puluh menit lebih awal dari waktu perjanjian untuk memastikan dirinya tidak terlihat kacau dengan peluh yang berceceran dan wajah kusut ketika menemui Sasuke. Kali ini ia bahkan memakai lebih banyak riasan wajah ketimbang biasanya dan memastikan riasannya terlihat sempurna.
Seharusnya Sasuke baru akan menyelesaikan konferensi pers terkait masalahnya dengan direktur T Company tiga puluh menit lagi dan berangkat menemuinya. Dan Sakura menunggu lelaki itu dengan jantung berdebar.
Sakura tak tahu sejak kapan ia memiliki perasaan pada Sasuke. Ketika ia menyadarinya, ia memikirkan lelaki itu lebih dari yang seharusnya dan merasa jika lelaki itu adalah tipe pendampang hidup idamannya. Dan semakin lama ia berinteraksi dengan Sasuke, ia semakin yakin dengan pemikirannya.
Perasaan yang terus menerus tumbuh bagaikan telur yang menunggu untuk menetas. Lama kelamaan perasaan itu membuat Sakura merasa sesak dan ia merasa harus mengungkapkannya.
Namun Sakura memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan memendam perasaannya. Bagaimana kalau seandainya Sasuke menolaknya? Hubungan pertemanan mereka pasti tak akan pernah sama.
Sakura meraih ponselnya dan membunuh waktu dengan melihat berbagai foto yang diunggah di Instagram.
Jempol Sakura sesekali menekan tombol likeuntuk foto yang ia sukai. Dan sebuah meme berbentuk komik empat panel serta caption posting yang terpampang di layar ponselnya membuatnya terhenyak.
Komik itu bercerita tentang seorang gadis yang ragu akan perasaannya dan pada akhirnya lelaki yang disukainya malah menikah dengan orang lain serta caption yang berbunyi 'Sadari perasaanmu sebelum terlambat'.
Mendadak Sakura terpikir, bagaimana kalau seandainya ia nekat menyatakan perasaannya pada Sasuke? Atau setidaknya memberikan sedikit kode akan perasaannya pada lelaki itu? Mungkin saja hubungannya malah berakhir bahagia. Atau sekalipun Sasuke menolaknya, setidaknya dia sudah mencoba.
.
.
"Kau sudah menunggu lama, hn?" Sasuke bertanya tepat ketika ia tiba di kafe.
"Tidak. Aku memang sengaja datang lebih awal tiga puluh menit."
Sasuke mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Sakura datang begitu awal. Biasanya gadis itu akan datang tepat waktu, atau setidaknya lima atau sepuluh menit lebih awal.
"Kenapa?" Sasuke menyuarakan rasa penasarannya.
Sakura tersenyum, "Aku hanya penasaran bagaimana rasanya menunggu. Selama ini kau selalu datang lebih awal dan menungguku, 'kan?"
Sasuke mengangguk. Ia memang selalu datang jauh lebih awal ketika memiliki janji dengan siapapun, baik rekan kerja, atasan, atau bahkan ketika memiliki janji dengan Naruto atau Sakura.
"Ternyata menunggu itu membosankan. Aku salut karena kau mau menungguku setiap kali kita bertemu."
"Tidak juga. Aku tidak keberatan menunggu."
Sakura mengerjapkan mata dan menatap Sasuke. Ia bisa menyimpulkan kalau lelaki itu adalah orang yang cukup sabar hingga tidak keberatan untuk menunggu orang lain.
"Bagaimana konferensi persmu? Lancar?"
Sasuke menganggukan kepala. Konferensi persnya berjalan lancar meski di saat yang sama ia merasa malu dan lelah karena para wartawan terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Ketika ia menjawab, ia merasa seolah sedang menelanjangi dirinya di depan publik.
Di luar sana, masih banyak orang yang menganggap Sasuke sebagai orang yang berusaha untuk dikasihani. Tetapi Sasuke sama sekali tidak peduli. Ia merasa harus membuat klarifikasi atas kesalahpahaman mengenai dirinya dan untungnya agensinya mengijinkan hal tersebut.
Sakura memutuskan untuk memberi kode pada Sasuke, namun sebelumnya ia harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa tipe gadis yang disukai lelaki itu. Ia tak ingin kalau ternyata lelaki itu tidak menyukainya dan membuat hubungannya malah menjadi canggung.
"Seperti apa tipe gadis idamanmu?"
Di saat yang sama, Sasuke juga mendadak bertanya, "Seperti apa tipe lelaki idamanmu?"
Sakura dan Sasuke saling menatap sesudahnya, terkejut karena secara kebetulan mereka berdua menanyakan hal yang sama di waktu yang bersamaan. Wajah keduanya sedikit memerah, merasa canggung tiba-tiba.
Sasuke sendiri tak tahu kenapa mendadak ia menanyakan hal itu. Selama lebih dari dua puluh tahun saling mengenal, Sasuke tak pernah sekalipun menanyakan hal itu. Ia tak peduli seperti apa tipe lelaki idaman gadis itu, toh itu bukan urusannya.
"Eh… kenapa kau mendadak menanyakan itu, Sasuke-kun?"
"Itu…" Sasuke terdiam sesaat. Otaknya terasa kosong dan ia tidak bisa memikirkan alasan yang tepat. Ekspresi wajahnya terlihat datar, tetapi sebetulnya jantungnya berdebar keras dan ia merasa wajahnya panas.
"Oh. Aku menemukan artike kalau wanita jaman sekarang suka pria yang perutnya buncit. Aku jadi penasaran, memangnya itu benar?" Sasuke memutuskan untuk berkata setelah berhasil memikirkan alasan yang tepat.
"Bukankah banyak gadis mengagumimu karena wajahmu tampan dan tubuhmu berotot?" Sakura balik bertanya.
"Bagaimana denganmu?"
Sakura terdiam. Ia merasa penasaran mengapa Sasuke bersikeras menanyakan hal itu padanya. Sikap lelaki itu jelas tak seperti biasanya.
Jika Sasuke bisa menghilang saat ini, rasanya ia ingin menghilang saja. Ia merasa begitu malu dan gugup meski ia terlihat tenang. Ia bahkan cepat-cepat meminum kopi hitam hangat yang baru diantarkan ke mejanya untuk menyembunyikan wajahnya yang ia pikir memerah padahal tidak sama sekali.
Rasanya Sakura ingin menjawab 'Tentu saja seperti kau, bodoh!'. Tetapi Sakura terlalu malu untuk mengatakannya.
"Jawab dulu pertanyaanku."
Sasuke akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan menatap mata Sakura lekat-lekat. Ia menjawab dengan membayangkan sosok gadis itu sebagai pasangannya, bukan lagi sekadar kekasih.
"Aku suka gadis yang bisa menerima segala hal dalam diriku, mandiri, kuat, dan…" ucapan Sasuke terputus. Ia ingin mengatakan kalau ia menyukai segala hal mengenai Sakura, baik sisi positif maupun negatif dalam diri gadis itu.
"…Sebenarnya aku juga tidak tahu seperti apa kriteriaku," Sasuke memutuskan untuk mengaku dengan jujur. Selama ini ia tak memiliki kriteria khusus mengenai gadis yang disukainya. Ia hanya pernah menyukai Sakura sepanjang hidupnya dan ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan itu bisa tumbuh secara mendadak.
"Hah? Maksudmu bagaimana? Yang kau bilang sebelumnya itu termasuk kriteria, 'kan?"
Sasuke menggelengkan kepala, "Itu ciri-ciri gadis yang kusukai, bukan kriteriaku."
Sakura tak ingin merasa geer, tetapi ia sangat penasaran dengan gadis yang disukai Sasuke. Lelaki itu tak mungkin menyukai dirinya, 'kan?"
"Wah! Tak kusangka akhirnya kau jatuh cinta juga. Semoga cepat jadian, ya," Sakura tersenyum di akhir kalimat.
Sasuke ikut tersenyum, namun senyumnya memudar beberapa saat kemudian. Ia begitu menyukai Sakura hingga berharap gadis itu menjadi istrinya, bukan lagi sekadar kekasih.
Tetapi Sasuke sadar kalau kondisi finansialnya sendiri belum stabil. Ia baru saja berhasil meraih puncak kesuksesan dan inilah saat yang tepat untuk mendapat banyak uang. Meski kini bebannya sedikit berkurang karena Itachi sudah pergi dan ibunya juga sudah membaik sehingga bisa ditinggal sendirian, Sasuke masih harus bekerja keras dan mengumpulkan banyak uang.
Meski banyak orang mengatakan kalau pasangan yang baik adalah orang yang mau berjuang bersama-sama dari titik terendah, Sasuke malah tidak mau orang yang dicintainya hidup susah bersamanya. Ia begitu mencintai Sakura hingga tak ingin gadis itu hidup susah, dan sekalipun ia memiliki kesulitan, ia ingin menyembunyikannya dari orang lain.
"Aku ragu," Sasuke memutuskan untuk mencurahkan isi hatinya.
"Kenapa?"
Sasuke merasa tidak nyaman mengungkapkan apapun yang berkaitan dengan perasaannya. Ketimbang bicara, ia lebih suka mengungkapkannya dengan tindakan. Setidaknya kini Sasuke sudah mulai terbiasa setelah beberapa kali konferensi pers dan ia mau tak mau menceritakan segalanya pada publik.
"Meski Itachi-nii sudah pergi dan okaa-san sudah membaik, kondisi finansialku belum stabil. Aku masih harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan memperbaiki taraf hidup keluarga. Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk memiliki hubungan."
Sasuke terkejut ketika sebuah tonjokan keras melayang tepat di bawah bisepnya. Ia segera meletakkan telapak tangan pada lengannya dan diam-diam mengusapnya.
"Bodoh! Kalau gadis itu memang menyukaimu, dia akan menerima kondisimu. Kalaupun kau sibuk dan hanya bisa mengirim pesan sekali sehari padanya, atau bahkan tidak bisa kirim pesan sama sekali, gadis itu akan tetap setia padamu."
Sakura merasa jengkel pada Sasuke. Tak bisakah lelaki itu bersikap lebih egois dengan memikirkan dirinya sendiri?
"Aku tak ingin gadis yang kusukai menderita bersamaku," ucap Sasuke dengan suara pelan, namun masih terdengar oleh Sakura.
Ini kali pertama Sasuke mengatakan hal ini pada orang lain. Sebelumnya semua hal itu hanya berada di dalam pikirannya sendiri tanpa pernah dikatakan pada siapapun.
"Bagaimana kalau gadis yang kau sukai malah bahagia karena bisa berjuang bersamamu? Kau sudah berjuang keras selama ini dan kau juga pantas mengejar kebahagiaanmu, Sasuke-kun. Kau harus lebih egois dan memikirkan dirimu sedikit."
Sasuke terdiam. Sepanjang hidupnya, ia sudah terbiasa berkompromi dengan orang lain. Ia harus berkompromi dengan kondisi Itachi yang cacat mental, juga dengan ayahnya yang bangkrut dan meninggalkan setumpuk utang yang harus ia lunasi dengan bekerja mati-matian. Dan ia juga harus berkompromi dengan kondisi kesehatan ibunya yang buruk dan juga memerlukan uang dalam jumlah besar untuk pengobatan.
Dengan kondisi kehidupan seperti itu, mustahil Sasuke bisa hidup dengan memikirkan dirinya sendiri. Seandainya ia memikirkan dirinya sendiri, maka ia tak akan kembali ke Jepang dan berhenti kuliah. Ia pasti akan tetap melanjutkan pendidikannya dan bekerja apa saja untuk biaya hidup, misalnya dengan menjadi pekerja seks komersial atau mencari sugar mommies yang mau membiayai hidupnya. Persetan dengan ibu dan kakaknya, yang penting hidupnya baik-baik saja.
"Kau ingin tahu siapa gadis yang kumaksud?"
"Aku penasaran, sih. Tapi itu privasimu, 'kan? Jadi aku tidak akan memaksa."
"Kau."
Sakura terdiam sesaat. Ia yakin kalau ia salah dengar.
"Wah! Namanya Kou?" ucap Sakura sambil tersenyum kikuk, merasa konyol karena ia mendengar 'kau' dan sempat berpikir kalau Sasuke menyukainya.
Wajah Sasuke sedikit merona karena gugup. Ia cepat-cepat meminukm kopi dan menyembunyikan ekspresi wajahnya untuk sesaat. Dan wajah lelaki itu kembali terlihat datar seperti biasa ketika lelaki itu selesai meneguk cairan penuh kafein itu.
"Aku suka padamu, Sakura," ucap Sasuke dengan wajah datar dan tenang. Namun wajahnya merona merah hingga ia harus menundukkan kepala setelah mengatakannya.
Sakura terkejut, tetapi kali ini ia yakin kalau ia tidak salah dengar.
"Aku juga menyukaimu, Sasuke-kun."
Keheningan mengalir diantara kedua insan berlainan jenis itu setelah keduanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Hormon endorphin mulai menjajah paksa diri mereka, mengambil alih logika secara perlahan.
Sasuke masih tetap diam, begitupun dengan Sakura. Keduanya saling menunggu satu sama lain untuk mulai bicara maupun bertindak.
"Kita… pacaran?" tanya Sasuke dengan wajah memerah yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
Entah kenapa tindakan Sasuke terlihat begitu lucu dan menggemaskan saat ini. Tidak setiap hari Sasuke bersikap manis seperti ini, dan Sakura merasa bahagia bisa melihatnya.
"Kalau kau belum siap juga tidak apa-apa. Yang penting kita mengetahui perasaan satu sama lain."
Sasuke mengulurkan tangannya dan meletakkan kedua jarinya di kening Sakura, "Aku ingin menjadi kekasihmu."
Sakura tersenyum dan menganggukan kepala. Ia tak pernah mengira kalau Sasuke malah akan menyatakan perasaan padanya sore ini. Ia pikir ia sedang bermimpi sekarang, dan ketika ia bangun, pasti ia sedang berada di kasurnya.
-TBC-
