Sakura benar-benar heran dengan sikap Sasuke yang menurutnya aneh. Sebelumnya lelaki itu cenderung cuek dan sama sekali tidak peka, tetapi kini lelaki itu bahkan bertanya apakah Sakura marah padanya?

Sasuke juga cenderung tidak percaya begitu saja meski Sakura sudah mengatakan kalau dia sama sekali tidak marah.

Dulu Sakura memang berharap memiliki kekasih yang perhatian. Namun ketika ia sudah semakin dewasa dan juga memiliki kesibukan, ia malah terganggu dengan pesan berlebihan. Jika kekasihnya mengirim spam dan missed calls berkali-kali ketika ia sedang sibuk, ia malah merasa risih seketika dengan lelaki itu.

Dan untungnya Sasuke tidak sampai ke tahap seperti itu. Hanya saja Sakura merasa tidak nyaman dengan sikap Sasuke yang lain dari biasanya.

Sakura teringat kalau hari ini adalah hari sabtu dan ia tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. Semula ia ingin di rumah saja, tetapi ia tanpa sengaja membuka Instagram dan melihat-lihat makanan di kafe baru yang diposting oleh food reviewer yang diikutinya. Seketika ia memutuskan kalau ia harus makan siang di kafe itu.

Menurut food reviewer itu, rasa makanan di kafe itu enak, porsinya besar, harganya tidak terlalu mahal dan kafe nya benar-benar lucu.

Kafe itu hanya buka selama enam bulan dan seluruh bagian kafe itu bertema Gudetama, salah satu karakter terkenal dari Sanrio. Bahkan makanan di restoran itu juga dihias dengan tema Gudetama.

Sakura harus makan di kafe itu secepat mungkin sebelum kafe itu tutup. Dan ia harus berangkat secepat mungkin karena katanya kafe itu sangat ramai.

Sakura meraih ponselnya dan ia langsung menelpon Sasuke tanpa berpikir dua kali.

"Halo, Sasuke-kun?"

"Halo."

Hanya jawaban singkat dari lelaki itu, tetapi Sakura tak ragu mengutarakan ajakannya.

"Mau pergi ke Kafe Gudetama, tidak? Aku mau pergi ke sana sesudah mandi."

"Kafe Gudetama? Dimana?"

Sakura menyebutkan nama pusat perbelanjaan tempat kafe itu berada yang dilihatnya melalui caption di posting Instagram food reviewer tadi.

"Hn."

"Kau mau pergi ke kafe itu?"

"Hn."

Sakura langsung mematikan telepon dan cepat-cepat ke kamar mandi. Ia harus pergi ke kafe itu secepatnya demi menghindari antrian di akhir pekan.

.
.

Sakura tiba di depan kafe dan tersenyum ketika melihat kafe yang bertema Gudetama seluruhnya. Bahkan terdapat merchandise official Gudetama yang dijual serta televisi yang memutarkan film Gudetama tanpa henti.

Sasuke sendiri sedang menunggu di depan kafe seraya bersandar pada tiang di dekat kafe seraya memegang secarik kertas kecil berwarna putih yang merupakan nomor antrian.

Lelaki itu memakai masker hitam yang menutupi wajahnya dan mengenakan kaus hitam serta celana panjang hitam. Tampaknya Sasuke juga terburu-buru hingga memakai baju seadanya.

Sakura menundukkan kepala dan menatap tubuhnya sendiri. Barangkali ia adalah wanita paling gila yang berkencan tanpa memakai riasan wajah apapun selain bedak dan lipgloss tanpa warna yang dioles dengan asal, itupun karena lipgloss itu satu-satunya benda yang ada di tasnya. Ia sendiri hanya memakai kaus dan celana pendek serta sandal bulu-bulu.

"Maaf kau jadi menungguku. Sudah ambil nomor antrian, 'kan?" tanya Sakura sambil melirik kertas putih yang dipegang Sasuke.

Menyadari reaksi Sakura, Sasuke segera memperlihatkan kertas itu dan berkata, "Masih dua antrian lagi."

Sakura menganggukan kepala. Ia terlihat benar-benar antusias dengan kafe itu, sangat kontras dengan Sasuke yang malah terlihat canggung berada di tempat seperti ini.

"Lihat merchandise sebentar, yuk," ujar Sakura sambil memegang pergelangan tangan Sasuke dan berniat menariknya.

Sasuke hanya pasrah ketika Sakura menarik tangannya dan ia berjalan mengikuti wanita itu.

Semula Sasuke berpikir kalau wanita itu mengajaknya kencan sehingga Sakura akan memakai lebih banyak riasan ketimbang biasanya dan ia harus menunggu lama. Dan ternyata Sakura malah tiba tak lama setelah dirinya, dengan wajah yang hampir tanpa makeup dan rambut yang digerai begitu saja.

Sasuke sama sekali tidak kecewa, sebaliknya ia malah merasa senang melihat Sakura yang tampil seperti itu. Menurutnya Sakura malah terlihat lebih segar tanpa kosmetik tebal dan wajahnya tetap cantik. Selain itu ia juga tidak perlu menunggu lama sendirian.

"Boneka Gudetamanya lucu sekali," ucap Sakura sambil mengambil salah satu boneka dan meremasnya karena gemas.

Sasuke mengulum sudut bibirnya, menahan diri untuk tidak tersenyum melihat reaksi menggemaskan kekasihnya.

Selama ini Sasuke sangat jarang melihat sisi menggemaskan Sakura. Dibanding sisi manis, Sasuke lebih sering melihat sisi 'maskulin' dari Sakura, misalnya Sakura yang mengangkat barang berat sendirian, atau sisi lainnya. Dan setelah melihat sisi menggemaskan Sakura, Sasuke merasa lega karena kekasihnya benar-benar wanita sungguhan.

"Mau?"

"Ah, tidak. Ini lucu, sih. Tapi untuk apa aku beli boneka seperti ini?"

Sasuke menyadari kalau Sakura sebenarnya menginginkan boneka itu. Sakura bahkan masih tetap memegangnya dan menaruhnya ke rak dengan pandangan tidak rela.

Sasuke segera mengambil boneka itu dan memegangnya, membuat Sakura yang melihatnya merasa heran.

"Lho? Kau mau beli boneka itu?"

Sasuke merasa gugup. Sebetulnya ia ingin membelinya untuk Sakura, tapi wanita itu pasti menolak.

"Okaasan-ku suka boneka semacam ini," jawab Sasuke dengan asal.

Sakura mengernyitkan dahi. Sasuke terlihat gugup untuk sesaat, tetapi kemudian wajahnya terlihat datar.

"Hah? Ibumu juga suka benda seperti ini?"

"Hn. Dia suka benda yang lucu seperti ini."

Sakura menganggukan kepala. Ia baru tahu kalau ibu Sasuke memiliki selera yang unik meski usianya sudah lima puluhan.

Sakura berjalan melihat botol minuman Gudetama yang lucu dan ia berseru, "Lucu sekali!"

Sasuke hanya diam. Sepertinya wanita begitu ekspresif hingga mampu bersikap seperti ini ketika melihat benda lucu. Sasuke tak pernah menemukan reaksi yang sama ketika bersama dengan teman-teman prianya, kecuali Naruto yang tampak sangat antusias saat menemukan ramen atau Kiba yang terlihat gemas dengan anjing lucu atau pernak-pernik anjing.

Sakura menoleh dan melihat layar yang tertera di depan restoran dan kini hanya ada satu antrian sebelum gilirannya dan Sasuke tiba.

"Sebentar lagi giliran kita, nih."

"Tunggu saja dulu. Nanti aku akan menyusulmu."

"Oke."

Sakura segera meninggalkan Sasuke seraya memegang kertas antrian dan kembali ke depan kafe.

Tak lama kemudian Sasuke kembali membawa sebuah kantung kertas berisi boneka Gudetama tadi.

"Untukmu."

Sakura mengernyitkan dahi ketika melihat boneka di dalam kantung kertas itu, "Kok untukku? Katanya kau membeli boneka ini untuk ibumu?"

Sasuke mengalihkan pandangan dan tersipu malu, "Cepat ambil saja."

Sakura tersenyum dengan Sasuke yang terlihat malu-malu. Sakura belum pernah memiliki kekasih yang begitu pemalu seperti ini, bahkan ketika ia berpacaran saat SMA.

"Arigatou."

"Hn."

Sakura tersenyum menatap boneka imut pemberian kekasihnya itu. Meski ia tidak memiliki kebiasaan memeluk boneka saat tidur, pasti ia akan memeluk boneka Gudetama itu saat tidur nanti. Atau setidaknya meletakkan boneka lucu itu di samping dirinya.

.
.

Sakura tersenyum lebar melihat makanan dan minuman lucu yang tersaji di atasnya.

Sakura sendiri memesan cheese tart lucu dengan potongan jelly berbentuk Gudetama dan matcha float dengan cookies berbentuk Gudetama yang terlihat sangat lucu hingga tidak tega untuk dimakan.

Sedangkan Sasuke sendiri memilih nasi kari dengan chicken katsu yang juga dihias dengan bentuk Gudetama serta green tea latte yang ia coba untuk pertama kalinya karena hanya itulah minuman yang sepertinya paling tidak manis dibandingkan minuman lainnya di buku menu.

"Jangan dimakan dulu. Aku harus foto ini dan memasukkannya ke Instagram."

Sasuke mengangguk dan ia melihat Sakura yang mengambil foto makanan dengan berbagai posisi.

Pemandangan orang seperti Sakura di kafe ini cukup lazim. Bahkan ada pula yang mengambil foto diri mereka sendiri di dalam restoran.

Sasuke sepertinya termakan dengan ucapannya sendiri karena ia pernah meledek Naruto yang berkali-kali melakukan selfie dengan latar pemandangan di salah satu negara yang mereka kunjungi untuk tur Black Ash.

Kini Sasuke beberapa kali mengambil foto dirinya sendiri di kafe seraya menunggu Sakura mengambil foto makanannya.

Ia segera berhenti mengambil foto ketika Sakura selesai mengambil foto makanan dan merasa lega karena Sakura sepertinya tidak menyadari apa yang ia lakukan.

Kemudian Sasuke mengambil foto makanannya sendiri satu kali dengan latar belakang dinding yang ditempeli kertas dinding bergambar Gudetama.

Setelahnya ia mulai meminum green tea latte yang sengaja ia aduk agar tidak terlalu manis. Dan Sasuke bersyukur karena rasa minuman itu ternyata cenderung pahit ketimbang manis.

"Mau coba minumanku? Tidak manis, kok." ucap Sakura setelah mencoba minumannya sendiri.

Sasuke semula merasa ragu melihat es krim matcha yang menurutnya pasti terasa manis. Tetapi karena ia sudah mencoba minuman matcha miliknya sendiri yang memang tidak manis, ia berani mencoba minuman Sakura.

Sasuke meraih gelas yang diberikan Sakura dan tanpa ragu meminum dari sedotan Sakura seolah itu adalah minumannya sendiri, sedangkan Sakura meminum green tea latte milik Sasuke.

"Tidak manis, 'kan?"

"Hn."

Di luar dugaan, minuman Sakura cenderung pahit dengan rasa teh hijau yang kuat. Bahkan es krim nya juga tidak manis. Untuk pertama kalinya Sasuke benar-benar menikmati dessert yang tidak manis.

Sakura kembali meminum minumannya dengan sedotan yang sama dan Sasuke langsung meringis. Ia bahkan tidak sadar kalau ia memakai sedotan wanita itu dan kini mereka berciuman secara tidak langsung.

"Kenapa?"

"Itu.. tadi aku memakai sedotanmu," ucap Sasuke tanpa menatap Sakura.

Sakura tersenyum seketika. Kekasihnya benar-benar menggemaskan. Padahal ia sama sekali tidak mempermasalahkannya.

"Memangnya kenapa?"

"Kau tidak keberatan?" Sasuke balik bertanya.

Sakura tersenyum dan menahan diri agar tidak tertawa.

"Tentu saja tidak. Lagipula kau ini kekasihku."

"Hn."

Sasuke baru tahu kalau sepasang kekasih benar-benar bisa bertukar makanan dan minuman tanpa merasa risih satu sama lain. Padahal ketika kecil ia selalu diajarkan agar tidak berbagi makanan dan minuman untuk menghindari tertular penyakit.

"Boleh kucoba nasi karimu? Aku penasaran."

"Coba saja," sahut Sasuke sambil menyerahkan sendoknya meski ia merasa was-was karena tak terbiasa melakukannya.

Sakura mengambil sesendok nasi dengan saus kari dan sedikit potongan daging ayam.

Kari itu tidak terlalu kental, tapi rasanya cukup kuat. Ayam nya juga empuk dan tepungnya juga renyah serta sama sekali tidak berminyak.

"Oh. Enak juga," ucap Sakura sambil tersenyum dan mengembalikan sendok pada Sasuke.

Sasuke menatap Sakura dan diam-diam mengambil tisu basah yang tersedia di atas meja serta mengelap sendoknya. Ia masih tidak terbiasa berbagi peralatan makan yang sama dengan orang lain.

.
.

Sasuke duduk diam dan menunggu Sakura menghabiskan makanannya sedangkan ia sendiri meminum green tea latte nya yang sudah hampir habis.

Sasuke menikmati waktu yang ia habiskan bersama Sakura dan berharap bisa menikmati momen seperti ini di lain waktu.

Dan seketika Sasuke teringat dengan ucapan Naruto kemarin. Dan ia harus bertanya pada Sakura meski sebetulnya ia merasa sangat tidak nyaman.

"Kau mau melakukan seks, tidak?"

Sakura seketika membelalakan matanya dan ia hampir tersedak seketika. Rasanya ia ingin menampar Sasuke karena bertanya begitu, tetapi Sasuke terlihat gugup meski wajahnya datar. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak menatap mata Sakura.

Ini pertama kalinya Sakura mendapat tawaran bercinta dari orang yang baru tiga hari berpacaran dengannya dan ia terkejut setengah mati. Sasuke tidak memanfaatkannya hanya untuk seks, kan?

Sasuke menyadari ada yang salah dengan ucapannya jika dilihat dari reaksi Sakura. Ia pikir ia harus bertanya terus terang agar maksudnya jelas, tapi reaksi Sakura malah terlihat seperti ingin marah.

"Maaf, aku..."

Ucapan Sasuke terputus ketika Sakura berkata, "Apa kau sebegitu inginnya melakukan seks hingga mengajakku melakukannya meski aku baru menjadi kekasihmu tiga hari yang lalu?"

Sasuke terkejut. Ia tidak bermaksud mengajak Sakura bercinta. Kalau bersama Sakura, ia tidak keberatan jika wanita itu tidak menginginkannya. Namun kalau wanita itu menginginkannya, ia akan memuaskan hasrat wanita itu dengan senang hati.

"Tidak. Maksudku..." Sasuke memutus ucapannya dan ia terdiam, kebingungan memikirkan kata-kata yang tepat.

"Apa maksudmu?"

Sakura merasa heran dengan Sasuke. Ia pikir lelaki itu bukan tipikal orang yang akan memanfaatkan wanita itu untuk seks.

Sasuke tak berani memandang wajah Sakura. Ia bahkan memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena ia sangat malu.

"Aku bertanya pada dobe mengenai apa yang harus dilakukan saat berpacaran. Lalu dia menyarankanku untuk bertanya apakah kau mau melakukan seks atau tidak?"

Jika Sasuke bisa menghilang saat ini, ia benar-benar ingin menghilang sekarang juga. Ia benar-benar malu mengucapkan hal seperti ini.

Reaksi Sakura sungguh di luar dugaan. Seketika Sakura tertawa hingga wajahnya memerah.

Sakura benar-benar tak mengira kekasihnya sepolos ini meski ia pikir seharusnya Sasuke malah lebih berpengalaman dalam hal seperti ini, terlebih Sasuke sempat tinggal di negara dengan budaya liberal.

"Ini kali pertamamu berpacaran, ya?" tanya Sakura setelah tawanya berhenti.

Dengan wajah memerah, Sasuke menganggukan kepala. Rasanya ia sudah tidak berani bertemu dengan Sakura lagi setelah mengatakan hal-hal konyol begini.

Sakura tersenyum. Jika seorang wanita umumnya menyukai lelaki badass karena tidak membosankan, ia malah merasa hubungan dengan lelaki polos seperti Sasuke terasa lebih menarik.

-TBC-