Presented by addictiveKokain

.

Jongin x Kyungsoo

.

.

CHAPTER 1
"Dasar bocah bodoh! Mana uangnya!?"

Pipi anak itu seketika memar, bibirnya tak mampu membuka, ia hanya menundukan wajahnya. "Susah payah aku membesarkanmu, tapi ini hasil yang aku dapatkan selama ini?! Dasar tidak berguna!"

Pipi kanannya yang kena imbas sebelumnya, berganti tempat di sebelah kiri. Anak itu hanya berkata, "maaf." Dengan sudut bibirnya yang berdarah.

"Sana pergi! Melihat mukamu membuat aku muak!"

Tanpa memberikan jawaban, dipersilahkan dirinya untuk pergi, sudah terasa seperti melewati neraka. Hatinya lega. Setidaknya ia tak menghabiskan bermenit-menit untuk sekedar disiksa.

Tangan kotornya menutup knop pintu rumah, ia melepaskan seragam kumal dan lusuh itu, berganti pakaian dengan pakaian rumahan yang sudah tersobek di beberapa bagian.

Jongin tertidur diatas matras tipis itu, membiarkan dirinya untuk beristirahat, ia menghirup lengannya sendiri yang bau nya tak dapat dipungkiri. "Astaga, aku lupa kalau aku tidak mandi dari tiga hari lalu." Gumamnya pelan dan tanpa sadar dirinya sudah terlelap dengan perasaan lelah.


"Paman, aku berangkat." Tuturnya pelan, dan langsung meninggalkan pamannya yang terlelap diatas sofa. Ditemani dengan beberapa botol soju serta rokok-rokok yang menumpuk di asbak.

Kim Jongin, nama asli si pemuda itu. Kini ia hidup bersama paman nya, ia masih menduduki bangku SMA kelas dua, namun hidupnya sangat keras membuatnya mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Kehidupannya tak selayak teman-temannya, yang masih bisa menikmati rasa sayang dan disayangi.

Dan semua itu tak berlaku lagi bagi Jongin setelah insiden mematikan itu.

Ia hidup bersama paman dari ayahnya. Manusia yang tak memiliki hati dan senang duniawi dengan menyiksa orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat nafsunya.

Jongin tak mempermasalahkan itu. Setidaknya ia masih bisa sekolah dengan modal beasiswa ia dapatkan dari saat dirinya menginjak sekolah menengah pertama. Ia bisa saja hidup sendirian dengan mengontrak rumah kecil, tapi si pemuda kuat hati itu masih belum cukup berbiaya untuk membiayai sebuah kontrakan, lagipula Ia sendiri mengkhawatirkan kondisi pamannya itu yang tidak bisa tinggal sendirian.

Sang surya telah menyembulkan rupa dan sinarnya, mengganti hari yang baru setelah membiarkan manusia-manusia di bumi ini terlelap, aktivitas-aktivitas dari berbagai kalangan menyambut iris hitam Jongin. Ia tidak berpikir macam-macam selain untuk belajar giat serta masa depan yang akan menyambutnya nanti.

Walaupun begitu, selama perjalanannya menuju sekolah, Jongin selalu saja membayangkan bagaimana ia masih mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sampai saat ini. Menikmati indahnya dicintai walaupun hanya di dalam imajinasi. Setidaknya pemuda berkulit tan tersebut tak pernah menangis, Ibu nya berkata lelaki tidak boleh mudah rapuh, dan dirinya pun memegang prinsip itu.

Walaupun hatinya sangat sakit.

Jongin hanya ingin dicintai.

Tak tersadarkan akibat jatuh dalam imajinasi, kedua kakinya memasuki pekarangan halaman sekolah, berjalan pelan menuju kelasnya yang mulai ramai dengan berbagai percakapan dari mulut ke mulut antar siswa. Dan Jongin sama sekali tidak menimbrung. Dia lebih baik diam di kursi belakang sambil menutup wajahnya yang lelah diatas meja.

"Wow, sobat! Kau bau seperti biasanya!" Jongin mengangkat kepalanya sendiri, menyembulkan kedua matanya untuk melihat sekilas ke arah suara. Oh Sehun.

Sehun selalu menganggap dirinya sebagai teman, tapi tidak bagi lelaki kumal itu. Ia tidak butuh teman hingga ia memiliki uang yang banyak. Namanya pertemanan butuh pengorbanan, bukan?

"Oh." Jawabnya singkat, sekali lagi ia menyembunyikan wajahnya didalam tangannya yang bersilangan diatas meja.

"Eh, aku benar-benar peduli padamu, teman. Kau tidak apa-apa? Apa perlu aku memandikanmu?" Sehun menusuk kecil pundak temannya itu dengan telunjuknya.

Jongin tak tahu pasti apa maksud dari Sehun selama ini setiap kali datang padanya. Terkadang ia seperti melakukan perundungan secara halus, tapi di sisi lain bocah albino ini pernah membantunya sesekali, saat itu ada tugas pekerjaan rumah bidang studi matematika. Walaupun Jongin tak meminta sama sekali dari awal.

"Hm." Jongin sama sekali tidak memberikan respon yang bagus, sering kali ia begitu. Suasana hatinya saat ini sedang memburuk akibat perkataan teman sekelasnya itu.

"Jongin, aku serius."

"Aku pun serius."

"Serius apa? Mengabaikanku?"

"Iya."

"Huhu, jahatnya." Lelaki albino itu berpura-pura memasang wajah sedih. Tapi, Sehun sangat paham. Ia tahu Jongin saat ini tengah membutuhkan waktu sendirian, ia pun memutuskan meninggalkannya dan kembali berbincang dengan teman seperkumpulannya.

Jongin masih setia menumpukan kepalanya diatas lengannya diatas meja. Menenangkan pikirannya sejenak, tertidur sebentar agar tidak mengantuk di saat pelajaran Choi seonsaengnim.

Dan ia pun tak sadar sedari tadi ada dua buah mata yang menatap prihatin padanya. Ingin mendekatinya. Berpikir keras untuk mencari kalimat permulaan agar tak menyakiti dirinya.

"Jongin..."

"Kenapa sama Jongin?" Salah satu teman tepat dihadapannya langsung membalikan badannya sesaat mendengar Kyungsoo menyebutkan nama itu.

"Baek, aku khawatir dengan Jongin." Tutur si pemuda bermata bulat, maniknya masih belum melepaskan pandangannya dari pria itu. "Baru kali ini ia terlihat seperti itu."

"Mungkin dia sedang banyak pikiran dan tidak ingin diganggu?" Baekhyun mengendikan kedua bahunya, membuat alasan klise yang umumnya dialami orang.

"Ya.. aku paham soal itu. Tapi, aku selalu melihatnya tanpa ekspresi, sekalinya tersenyum, aku sudah tahu pasti, senyumannya bukanlah senyuman yang tulus. Ia tidak pernah menghadiri acara pertemuan sekolah, study tour, bahkan diajak teman-temannya untuk pergi bersenang-senang ia selalu menolak."

"Wah, Kyungsoo, kau diam-diam suka memperhatikan dia, eh?" Baekhyun memincingkan matanya sembari tersenyum intimidasi.

"A-apa maksudmu?! Jelas-jelas dia itu teman sekelas kita, wajar kalau aku khawatir, 'kan!" Kyungsoo mengelak, wajahnya kini kian memerah.

"He? Benarkah?" Wajah intimidasi serta senyuman menjengkelkan itu masih terpatri jelas di kedua sudut bibir Baekhyun. Yang di ajak bicara hanya diam saja, sudah malas untuk menanggapi omong kosong sahabatnya itu.

Baekhyun menghela napasnya, "yang kau katakan itu benar, Soo. Bagaimana kalau kau mendekatinya pelan-pelan?"

Kyungsoo mengigit bibir bawahnya, "a-akan kucoba. Tapi, entah kapan. Aku akan mencari waktu yang tepat."

Tanggapan itu dibalas dengan senyuman merekah dari seorang Byun Baekhyun, "Okay!"


Bel pulang sekolah menyambut setiap telinga siswa yang berada di kelas, guru yang tengah mengajar lantas memberhentikan penjelasannya lalu keluar setelah mengatakan, 'pelajarannya sampai disini terlebih dahulu'.

Jongin segera memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya, ia spontan meninggalkan kelas tanpa berpamitan dengan teman-temannya. Tak ada waktu untuk itu. Ia harus segera bekerja untuk kebutuhan hidup dirinya dan pamannya. Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk berjalan kaki menuju tempat bekerjanya saat ini.

"Sore, Pak." Sapa Jongin mengetahui bos nya kini tengah mengarahkan pekerja-pekerjanya.

"Oh, Jongin! Sore juga." Bos Ahn memberikan sapaan dengan penuh semangat seperti biasa. "Kau akan bekerja dengan seragam sekolahmu?"

"Iya, Pak. Tak masalah." Pemuda itu hanya memberikan senyuman tipis seusai menaruh tas sekolahnya di pojokan.

Jongin bekerja di suatu pasar tradisional sebagai pengangkut barang, membersihkan sampah, dan juga sebagai penjaga serta penggali kubur di dua pemakaman pada hari senin dan minggu. Bukan hal yang lumrah baginya dibayar mahal untuk menggali sebuah makam yang dibayar oleh pihak lain, seperti dokter dan ahli anatomi.

Tak hanya itu, malamnya ia akan pergi menjadi seorang pelayan cafe setiap hari rabu. Hanya di hari tersebut, ia harus mandi dan membersihkan dirinya di salah satu kamar mandi umum di pasar. Tak bisa ia mandi di rumah terlebih dahulu, karena perjalanannya yang jauh dari rumah menuju cafe. Lebih dekat dari pasar dengan jalan kaki.

Jongin sudah terbiasa mengangkut berbagai barang berat yang ia angkut di pundaknya. Beras, kontainer, galon air, bahkan semen pun pernah. Apapun ia lakukan untuk memenuhi kesehariannya dengan bahunya yang masih kuat itu. Jongin merasa untung dirinya masih muda dan kuat.

"Jongin, ini uangmu hari ini." Bos Ahn memberikannya beberapa lembar uang yang tak beramlop. Jongin mengangkat kedua tangannya, menerima upahnya dengan senyum yang merekah, "terima kasih, Pak."

"Besok datang lagi, ya."

"Siap, laksanakan." Sahut Jongin dengan senyuman yang mengembang, ia memandang uang-uang itu, menempelkan lembaran itu ke keningnya, mencerminkan rasa syukur.


"Jongin! Astaga! Kenapa seragam mu lusuh sekali?" Manager nya, Kim Minseok terkejut sesaat setelah Jongin datang dari pintu masuk cafe.

"Ah, iya. Maaf, Hyung. Hari ini aku ada pelajaran olahraga, dan aku lupa bawa pakaian training. Maaf kalau aku nampak sangat kumal." Jongin menundukan kepalanya sedikit.

"Haish, cepat ganti bajumu dengan seragam cafe, berikan seragam sekolahmu padaku, biar aku cucikan." Minseok menarik lengan Jongin memasuki ruang ganti.

"Tapi, Hyung... Bukannya keringnya lama? Tidak masalah sama sekali, kok. Aku bisa cuci sendiri." Jongin mencoba menolak halus.

"Tidak ada tapi-tapian, kutunggu di luar dengan seragam sekolahmu. Tenang saja, saat kau pulang nanti, pakaianmu sudah kering dan akan ku setrika." Manager Kim langsung bergegas keluar.

Jongin hanya melongo, dan ia langsung menuruti apa mau sang manager. Ia ingat betul saat pertama kali datang kesini saat dulu masih dibutuhkan pekerja paruh waktu, Minseok tak ingin menganggap dirinya sebagai manager, ia tidak suka ke-formalan. Maka dari itu, Jongin memanggilnya dengan sebutan hyung walau itu dipaksa.

Lelaki tan itu meninggalkan ruang ganti, memberikan seragamnya pada Minseok setelah ditolak mentah-mentah darinya, Jongin tidak ingin merepotkan siapapun, namun apa mau dikata, Minseok sudah menganggap Jongin sebagai adiknya sendiri.

"Kau jaga didepan, kau bisa kan melayani sambil menjaga kasir? Seperti biasa, adikku, Jongdae, akan membantumu kalau kau butuh bantuan." Ujar si manager sebelum meninggalkan kakinya untuk menjauhi dirinya ke ruang pencucian.

Minseok dan Jongdae adalah kakak-adik yang mendirikan cafe kecil dan nyaman ini. Adiknya, Kim Jongdae sebagai juru masak, Minseok sebagai pelayan serta kasir. Dan saat itu dibutuhkan satu pekerja paruh waktu sesegera mungkin sebagai pelayan, kini Jongin lah satu-satunya pelayan yang menempati posisi pelayan ini.

Cafe Amore adalah namanya, walaupun kecil, sangatlah nyaman dan memiliki interior yang indah. Seringkali ramai pengunjung kesini karena berlokasi yang strategis, berdekatan dengan gedung perkuliahan. Cocok sebagai tempat berbincang, mengerjakan tugas, atau butuh waktu sendiri.

Jongin melayani para pengunjungnya dengan senyuman. Tak jarang banyak gadis dari berbagai kalangan datang hanya untuk merasakan pesona, senyuman, serta suara Jongin yang mendebarkan hati wanita.

Dan semua itu dilihat oleh sepasang dua mata bulat yang kini berada di dalam mobil, memandang wajahnya yang saat ini tengah tersenyum dihadapan para gadis. Dan momen itu menyayat hatinya.

Kenapa kau tak tersenyum seperti itu kepada teman-teman kelasmu?

"Padahal kita tak pernah berbicara, tak pernah menyapa. Tapi kenapa rasanya sangat menjengkelkan melihatmu tersenyum semanis itu kepada orang yang tak kau begitu kenal?"

Lamunannya buyar, setelah supirnya kembali masuk ke dalam kursi supir sembari membawa sepotong kue serta milkshake coklat yang baru saja di beli di cafe tersebut. "Terima kasih, Pak Yoon."

"Tidak masalah, Tuan Muda. Tapi saya masih penasaran kenapa anda harus beli disini? Alangkah lebih baik Tuan Muda memesan kue yang jauh lebih nikmat dari pelayan dirumah Tuan Do." Pertanyaan itu keluar dari mulut sang supir yang sudah berumur empat puluh tujuh tahun.

"Awalnya aku hanya penasaran ada rumor mencengangkan, ada pelayan cafe yang membuat geger dari kalangan anak teman-teman bisnis ayah. Tak kusangka ternyata orang itu adalah orang yang sangat ku kenal." Kyungsoo masih memandang rupawan itu dari dalam mobilnya.

"Ah, begitu, Tuan Muda." Respon dari supirnya yang mengangguk paham.

Kyungsoo masih melekatkan maniknya pada sosok lelaki dibalik jendela cafe disana, tak ingin melepaskan momen senyuman langka yang dibuat oleh lelaki jarang berekspresi seperti Jongin. "Anu, Tuan Muda. Bisakah kita jalan sekarang?"

Lamunannya pecah, pandangannya langsung lurus, menatap supirnya dari kaca spion, "I-iya. Jalankan mobilnya sekarang."


"Jongin-ya! Terima kasih atas kerja kerasmu!" Suara Jongdae melengking ketika dalam cafe sudah sepi. "Iya, hyung. Terima kasih untuk kerja samanya juga." Jongin tersenyim tipis.

"Tak kusangka tempat ini langsung ramai dua hari setelah kau datang, haha." Minseok pergi ke atas tangga setelah mengatakan itu, lalu turun dengan membawa sebuah tas karton yang berisikan pakaian Jongin yang bersih dan wangi.

"Jongin, terima kasih untuk hari ini, ya. Gajimu hari ini sudah ku masukan ke dalam tas itu." Minseok tersenyum manis, menepuk-nepukkan kepala Jongin sambil berjinjit dikit supaya tangannya itu dapat menggapai pelayan pekerja paruh waktunya.

"Iya, hyung. Terima kasih juga sudah mencucikan pakaianku. Maafkan aku sudah merepotkanmu, hyung."

"Ya ampun, Jongin! Kenapa kau sangat manis! Aku tak menyesal sudah merekrutmu!"

Seusai Jongin berpamitan, ia pulang berjalan kaki yang akan menguras waktu tiga puluh menit dari cafe hingga ke rumahnya. Sebuah jam analog terpampang jelas diatas suatu gedung, "setengah dua belas, ya? Cepat juga berarti." Tuturnya pelan. Biasanya ia akan pulang sekiranya jam dua belas atau malah jam setengah satu, tergantung dari jumlah pelanggan terakhir yang meninggalkan cafe.

Jalanan kota sudah sangat sepi, penerangan jalan umum yang hanya menerangi serta menemaninya saat ini. Tak ada lagi angkutan umum yang mau membawa seorang penumpang di jam segini.

Tak membutuhkan waktu lama hingga ia sampai dirumah. Pikirannya terjun dalam imajinasi, membuatnya seperti tak berlama-lama di dinginnya suhu malam yang terkadang hingga menusuk tulang.

"Aku pulang." Ucapnya pelan sambil membuka pintu rumah pamannya itu.

"Mana uangnya?" Sahutan pertama yang keluar dari mulut paman nya.

Jongin memberikan amplop berisi uang hasil jerih payahnya hari ini, tidak semua tapi. Ia berusaha untuk menyembunyikan uangnya di suatu tempat.

"Kenapa sedikit sekali?! Sebelumnya tidak sesedikit ini!" Pekikan kembali menusuk telinga setiap malam, setiap kali ia pulang. Dan ia sudah paham hal itu. "Hanya itu yang ku dapat.." Jawabnya lemah. Ia sudah sangat lelah hari ini.

"Kau pasti menyembunyikan untuk dirimu sendiri kan?!" Paman nya menarik kerah baju Jongin, memaksanya untuk menatap matanya agar jujur. Jongin selalu bersikap tenang, "aku memang mendapat segitu. Sungguh."

"Ack!"

Paman nya menghempaskan tubuh Jongin ke lantai, menabrak tubuhnya dengan lantai kayu yang keras. Tak berhenti sampai disana, pria besar itu menendang perut keponakannya itu tanpa belas kasih.

"Jual saja dirimu itu ke tante-tante girang! Aku butuh banyak uang! Apa perlu aku yang akan menjualmu?!" Paman nya kembali berteriak, meludahinya sebelum pria besar tersebut meninggalkan dirinya.

Jongin masih bersikap tenang, ia memasuki kamarnya, "oh, tidak. Baru saja baju ini di cuci oleh Minseok-hyung." Ucapnya pelan setelah menghembuskan napasnya. Ia mengganti bajunya dengan baju rumah, menidurkan dirinya diatas matras tipis.

"Ibu, Ayah. Apa perlu aku menjual diriku supaya aku bisa lepas dari tangannya?"

Jongin menitikan air matanya yang tak bisa ia bendung lagi. Hatinya saat ini sangat gelisah, otaknya pun sudah lelah. Untuk apa dia hidup? Apa tujuannya untuk bertahan hidup? Hanya untuk di siksa kah? Atau ia menunggu ajal dimana harga dirinya jatuh sebagai lelaki prostitusi?

Pikiran itu berkecamuk di dalam pikirannya. Hingga akhirnya ia terlelap bersamaan dengan deru napasnya yang sesegukan.

To Be Continued =

.

Hai, hai! Jangan lupa untuk review supaya aku makin semangat buat ngelanjutin ini! Untuk kalian yang silent reader, terima kasih buat sempatin baca, lebih bagus lagi kalo ikut review!