Presented by addictiveKokain

.

Jongin x Kyungsoo

.

.

CHAPTER 2

Masih tak ada yang berbeda di tiap harinya. Jongin akan selalu bangun pagi, sekolah, bekerja, pulang, dan tidur dengan perasaan lelah menyelimuti dirinya. Hari-harinya terasa hambar, kurangnya waktu untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Terbesit di dalam hatinya ingin bergaul, namun apa mau dikata bilamana uang memanggilnya. Serta pamannya yang membuat kehidupannya semrawut.

Pagi itu masih sama, keluar dari rumah di lingkungan kumuh dengan sepatu sekolahnya yang usang dan robek. Jongin ingin memiliki sepatu baru, dan saat ini ia tengah menabung. Bukan hal yang biasa, uang tabungannya akan hilang entah kemana walau ia sudah menyimpannya di tempat paling sulit untuk dicari. Penciuman dari paman nya mengenai uang tak terpungkiri.

Namun, ada sedikit perbedaan di pagi hari saat itu. Mentari tidak menampakannya rupanya, langit sehingga kelabu, angin berhembus sedikit kencang menyapu surai hitam pemuda bermarga Kim itu. Dan sangat di sayangkan, tiba-tiba saja turun hujan. Jongin tidak memiliki payung. Tungkai jenjangnya ia arahkan menuju kios yang masih tutup, berteduh disana entah sampai kapan. Ia ingin menaiki bus untuk ke sekolahnya, halte masih jauh di ujung sana. Yang dapat ia simpulkan adalah hanya satu, ia tidak pergi ke sekolah.

"Halo, nak."

Pundaknya tersentuh lembut, sang empu bahu sontak menoleh ke sumber suara. Menampakkan sesosok wanita yang tersenyum simpul padanya, guratan pada kedua matanya muncul, tampaknya wanita itu berumur sekitaran empat puluhan. Atau malah lebih.

Jongin ikut tersenyum tipis, tidak mungkin kan, ia menjadi seseorang yang pelit senyum yang dihadapannya saat ini adalah seseorang yang ramah padanya. "Ya, Nyonya?"

"Kau sekolah di SMA Seogong-ye, bukan?" Tanyanya lembut.

Bahkan, saking lembutnya, Jongin tidak begitu mendengar pertanyaan dari Nyonya itu karena derasnya hujan yang meredam suara dari wanita dihadapannya saat ini. Sedikit mendengar tersamar-samar di telinganya sesaat, namun otaknya mudah mencerna saat gestur bibir dari Nyonya itu menanyai sekolahnya.

"Iya, Nyonya." jawab Jongin singkat.

"Ambil payung ini, segeralah kau sekolah." Nyonya itu memberikannya sebuah payung lipat berwarna pink.

Kedua mata Jongin terbelalak, "B-benarkah? Bagaimana aku akan mengembalikannya?"

"Anakku juga bersekolah disana, kau bisa mengembalikan ini padanya." Nyonya itu kembali tersenyum simpul.

Jongin mengambil uluran payung tersebut, ia segera membukanya dan akan menerjang hujan deras. "Kalau boleh tahu, siapa nama anak anda, Nyonya?" Tanyanya sopan sebelum beranjak kaki.

Masih dengan senyuman simpul, wanita itu berkata, "Do Kyungsoo."

-000-

Setidaknya Jongin sudah memasuki pekarangan sekolah lima menit sebelum gerbangnya di tutup. Ia segera memasuki lobby sekolahnya, menaruh payung basah itu ditempat penempatan khusus payung di sebelahnya. Ujung celananya basah, sepatunya pun sama. Ia bisa merasakan rasa basah dan rembesan air di kedua kakinya.

Ia segera menggantikan alas kakinya itu dengan sepatu indoor di sekolahnya, serta mengganti kaos kaki. Untung saja ia selalu menyiapkan kaos kaki cadangan di loker miliknya untuk disaat-saat seperti ini.

Jongin menyusuri lorong untuk menuju kelasnya, menaiki anak tangga satu persatu. Hendak membelok untuk menuju ke atas, ia mendapati seorang siswa yang tengah bernapas ngos-ngosan sembari satu tangannya menahan dirinya di dinding. Jongin sama sekali tak acuh, ia kembali menjalankan kedua kakinya menuju kelas.

Tunggu dulu, wajahnya pucat sekali. Batinnya tiba-tiba saat irisnya sengaja menangkap penglihatan sekilas dari siswa itu.

"Hei, kau kenapa?" Tuturnya pelan sambil mendekati siswa itu.

"Eum.. Ya, aku tidak apa-apa.. hah.. hah.." Jawab siswa tadi masih dengan napasnya yang megap-megap.

Awalnya Jongin tak menyadari siapa yang ia ajak bicara, tapi sesaat ia melihat wajahnya, ia tahu betul siapa siswa itu. Do Kyungsoo namanya. Tidak salah lagi. Siapa yang tak mengenalnya? Selalu menjadi rangking satu paralel di sekolahnya. Cerdas, baik, murah senyum, serta orang yang sangat berkecukupan. Yang terakhir, Jongin tidak tahu itu benar atau tidak. Jongin pun juga tidak begitu tahu banyak, nampaknya pemuda itu tak begitu banyak memiliki teman. Pernah ia sekali mendengar gosip dari beberapa teman perempuan di kelasnya.

'Do Kyungsoo itu memilih-milih teman.'

'Maklum lah. Orang kaya raya seperti dia harus memilih teman.'

'Aku ingin dekat dengannya tapi rasanya sulit. Aku merasa kasta kita itu berbeda.'

Jongin bergeming sejenak, haruskah ia membantunya? Bukannya si Do Kyungsoo itu memilih-milih teman? Orang kaya pula. Bagaimana kalau tiba-tiba saja anak itu melaporkan kepada orang tuanya, ada bocah dekil yang pura-pura baik untuk menolongnya?

"Kau tampak tidak baik-baik saja." Ujarnya lalu berjongkok dihadapan Kyungsoo, "naiklah." Pada akhirnya ia mengatakan itu. Lebih baik ia dilaporkan dan dimasukkan penjara daripada melihat orang tersebut akan pingsan.

"J-Jangan, aku berat." Jawabnya gugup. Kedua bola matanya yang menggemaskan itu seketika makin terbelalak dengan sikap Jongin yang mau menolongnya.

"Maaf, kalau aku menyinggungmu. Aku tahu kau orang kaya, aku tahu kau tidak ingin menyentuhku. Tapi setidaknya biarkan aku membantumu, kau kelihatan kesulitan, Kyungsoo."

Kyungsoo yang mendengarkan itu seketika terpaku sejenak. Bukan, bukan itu maksud Kyungsoo. Dia hanya saja tidak biasa merepotkan orang lain untuk membantunya, apalagi menggendongnya hingga ke kelas. Kalau dibilang Kyungsoo memilih-milih teman itu memang benar, tapi ia bukan berarti ingin menjauhi dan menepis Jongin di kehidupannya. Ia bahkan ingin mendekatinya.

Tidak, ia tidak ingin Jongin berpikiran hal yang buruk tentangnya. "Aku tak pernah berpikir seperti itu, Jongin-ah." Katanya pelan lalu menempelkan dadanya kepada punggung lebar Jongin. Kedua tangannya ia rangkul pada leher pemuda berkulit tan itu. Sedangkan Jongin segera menaikkan badannya sendiri, dan sesekali menyamankan posisi Kyungsoo di punggungnya.

Jongin melangkahkan kedua kakinya, meninggalkan area tangga tadi lalu menuju kelasnya. Sebenarnya Jongin bukan tipikal orang yang suka memperhatikan orang lain, tetapi sosok Do Kyungsoo ini memang cukup terkenal di sekolahnya. Sehingga desas-desus tentang dirinya suka menusuk kedua telinga, mau tak mau ia mendengarnya. Tak sampai disitu, terkadang Jongin melirik Kyungsoo disaat-saat sempit hanya untuk memastikan kabar itu benar atau tidak.

Salah satunya, Kyungsoo berkulit kuning pucat. Bukan warna yang semestinya dimiliki orang pada umumnya. Dan itu fakta.

Memasuki kelas, semua mata tertuju pada kedua insan yang baru saja datang. Siapa yang tak tercengang melihat dua manusia yang notabenenya yang satu orang kaya yang kurang suka didekati orang, dan yang satunya lagi orang pendiam dan kurang pergaulan. Bisik-bisik mulai memenuhi seisi kelas. Jongin sih tidak peduli, ia langsung membawa Kyungsoo ke arah kursi yang didudukinya.

"Terima kasih, Jongin-ah." Kyungsoo tersenyum cukup lebar. Mulutnya yang jadi daya tarik dari dirinya, membuat orang-orang didalam kelas itu tertegun. Sangat manis.

"Hm." Jawabnya singkat sambil mengangguk.

Kedua kaki Jongin ia arahkan lagi menuju kursinya. Lalu melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan setiap pagi. Melanjutkan tidur. Sementara dirinya ingin menempelkan kepalanya diatas persilangan kedua tangannya, manusia yang tidak diinginkan menghampiri dirinya dengan larian kecil.

"Wow, Jongin. Apa yang sudah kau lakukan?" Sehun menatapnya dengan tatapan penasaran. Jongin yang melihat itu langsung menghela napasnya sekilas.

"Lakukan apa maksudmu?"

"Menggendong Christian D.O."

"Nama apa-apaan itu?"

"Panggilan untuk si Pangeran."

Jongin memutar bola matanya malas, "tidak jelas."

Sehun hendak membuka mulutnya lagi, ingin bertanya lebih lanjut. Ahn seonsaengnim datang memasuki kelas, menahan pertanyaan tadi, lalu kembali ke kursinya.

Jongin tidak begitu banyak memikirkan hal-hal tadi. Ia hanya membantunya, 'kan? Ia merasa ia tidak berhak untuk marah, kalaupun ia meladeni mereka dengan mengelak serta amarah, yang ada mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak. Secara tak langsung, Jongin membenarkan bahwasannya ia mendekati seorang Do Kyungsoo.

-000-

Bel pulang sekolah disambut dengan sorak sorai dari para murid, guru-guru yang mengajar di tiap kelas segera mengakhiri kelasnya. Jongin biasanya sudah segera beberes untuk siap-siap pergi bekerja sambilannya, tetapi tugas dari Im seonsaengnim tadi menghambatnya untuk pergi dari kelas. Katanya, ada nilainya yang kurang dan harus ditambah, itu bisa naikkan dengan cara mengerjakan tugas tambahan.

Awalnya Jongin mengelak, ia pikir ia sudah mengerjakan semua tugas sekolahnya. Sampai pada akhirnya ia tersadar ia melewatkan sebuah tugas karena lupa waktu lalu. Dan karena itulah Jongin merutuki dirinya sendiri. Sendirian pula. Hanya dirinya yang masih kurang. Belum lagi ia tak begitu paham dengan materi ini.

Kalau sudah begini, siapa yang disalahkan?

Sekitaran dua puluh menit setelah bel berbunyi, menyisakan dirinya sendirian di dalam kelas sementara tangan kanannya sibuk mencoret-coret angka supaya menemukan jawabannya yang benar. Tak jarang ia melihat buku nya, mencari cara penyelesaian yang setidaknya sesuai dengan perihal soal yang harus dikerjakan.

"Lho? Jongin-ah kau belum pulang?" Atensi si penghuni kelas langsung mengarah ke sumber suara. Mendapati lelaki yang tak asing lagi baginya. Orang berkulit kuning pucat dengan cucuran keringat banyak.

"Ya. Kau sendiri?"

Orang yang ia ajak bicara memasuki kelas, menghampiri meja miliknya sendiri dan mengambil sebuah botol di laci meja belajarnya. "Hah? Oh, ya. Aku ada yang ketinggalan, hah.. Makanya aku kembali hah.." Jawab Kyungsoo masih dengan napas megap-megap, lantas menghampiri Jongin.

"Apa yang kau kerjakan?" Sebenarnya, tanpa Kyungsoo tanya, ia tahu kalau pria didepannya ini sedang mengerjakan tugas matematika. Dia memang buruk untuk memulai pembicaraan yang baik.

"Kau tahu cara mengerjakan ini?" Jongin menunjuk salah satu soal yang membuatnya menetap disana. Kyungsoo memutar sedikit buku yang ditunjuk Jongin supaya ia dapat membaca dengan jelas.

"Oh, ini. Kau harus memfaktorkan persamaannya terlebih dahulu lalu memasukkan angka ini pada x." Tutur Kyungsoo pelan. "Pinjamkan aku pensilmu," tambahnya lagi.

Kyungsoo menjelaskan tahapan-tahapannya pada Jongin dengan telaten. Memastikan di tiap tahapan pengerjaannya Jongin paham betul. Jongin yang sedari tadi diajarkan mengangguk paham, sesekali ia terkadang tak paham dan mengharuskan Kyungsoo untuk menjelaskan kedua kalinya dengan lebih detail. Kyungsoo sama sekali tidak keberatan.

"Kau paham?" Kyungsoo menatap kedua manik hitam Jongin dengan senyuman tipis.

"Ya, sangat paham. Terima kasih, Kyungsoo." Jongin membalasnya dengan senyuman tipis, lalu ia membereskan buku-bukunya ke dalam tas.

Jongin teringat sesuatu, ia pagi ini meminjam sebuah payung kepada seorang nyonya tadi pagi. "Kyungsoo, aku ingin mengembalikkan payung padamu."

Awalnya Kyungsoo mengernyit heran, Jongin segera menjelaskannya dengan singkat. Setelahnya pemuda bermata bulat itu langsung menganggukan kepalanya paham, "oke, kau menaruhnya di lobby, 'kan? Bagaimana kalau kita kesana bersamaan?"

"Tentu."

Jongin dan Kyungsoo pergi dari ruang kelas. Keduanya berjalan beriringan, namun keheningan menyelimuti mereka. Kyungsoo tidak tahu harus memulai pembicaraannya bagaimana, sedangkan Jongin sedari tadi berwajah datar, pikirannya melayang kemana-mana. Seorang imajiner. Jongin kalau sudah memasuki dunia imajinasinya, ia menjadi tak sadar dengan sekelilingnya.

"Eh?" Kepala Jongin melihat ke samping. Tidak mendapati seseorang yang lebih pendek darinya. Ia pun baru merasakan kehilangan seseorang disampingnya tadi, padahal ia sudah menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Kyungsoo supaya tak tertinggal.

"Kyungsoo?" Panggilnya pelan. Ia memutar kepalanya ke belakang bersamaan dengan badannya. Maniknya melihat pria yang ia cari dengan posisi yang sama seperti pagi tadi di belakangnya cukup jauh. Berusaha untuk tetap berdiri dengan tangannya yang menempel di dinding.

Jongin berlari menghampiri temannya itu, wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, rasa panik membakarnya. "Kyungsoo, kau tidak apa-apa?"

Pertanyaannya tak digubris, Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya pelan setelah beberapa detik ia melayangkan pertanyaan itu. Lagi, Jongin melakukan hal yang sama. Berjongkok di hadapan Kyungsoo, "cepat, naiklah."

Kyungsoo tidak mengoceh, ia menerima tawaran itu. Kedua kaki Jongin sedikit berlari, segera pergi meninggalkan sekolah menuju rumah sakit terdekat. Di depan sana ada seseorang laki-laki paruh baya mengenakan jas rapi, Jongin berpikir mungkin beliau adalah orang terpercaya Kyungsoo atau siapalah. Ia langsung memasuki Kyungsoo ke dalam mobil setelah pria itu membukakan pintu penumpang.

Pria ber jas itu segera menutup pintu mobil, memasuki kursi kemudi dan meninggalkan Jongin dibelakang. Tangan kanannya yang sedari tadi memegang buku tugasnya, ia remas, pikirannya cemas sehingga buku itu sedikit lecak. Kedua matanya melihat nanar seiring mobil itu tampak mengecil.

Jongin telat bekerja, seharusnya ia sudah berada di pasar dari beberapa jam yang lalu. Setelah ia mengumpulkan tugasnya di meja guru, ia memutuskan untuk pulang, bersama dengan payung lipat di genggamannya. Jongin belum sempat mengembalikannya. Mungkin hari senin ia akan mengembalikannya, sebab besok adalah hari minggu. Di hari itu beberapa pekerja ada yang libur, dan ada yang bekerja seperti dia.

Jongin tidak memegang beberapa lembar uang sekarang. Ia tahu betul apa yang akan terjadi apabila dirinya tak membawa sepersen pun uang. Mungkin kemungkinan terburuknya, ia tak sadarkan diri setelah di hajar habis-habisan. Ya, Jongin sudah kebal juga. Toh, paling-paling perut atau beberapa tulangnya akan terasa nyeri.

Saat ini Tuhan memberikannya sebuah keajaiban yang datangnya sangatlah langka. Pamannya tak ada dirumah, mungkin paman nya itu kini tengah mabuk-mabukkan di tempat lain. Atau malah di tempat prostitusi? Ah, Jongin sama sekali tidak peduli dimana orang itu kini berada. Ia malah senang manusia tidak berguna itu tidak ada dirumah.

-000-

Minggu menyambut hari. Pagi ini cukup cerah, banyak mobil yang berlalu-lalang mengisi jalanan bersama anggota keluarga masing-masing didalamnya. Entah berlibur, bertamasya, atau makan-makan. Entahlah. Dan ada juga yang bekerja, pekerjaan itu pun juga tak bisa dihitung dengan jari. Ada banyak pekerjaan yang tidak libur pada hari minggu maupun hari raya.

Jongin contohnya.

Kedua tangannya lihai membersihkan taman pemakaman yang dibaluti sarung tangan. Mencabut ilalang yang sekiranya menganggu keindahan tempat itu. Ia juga membawa ember berisi air serta kain lap. Terkadang ia merasa kurang kerjaan sehingga membersihkan tiap batu nisan setiap minggunya. Tergantung mood dia juga, sih. Pemakaman disana Jongin rasa cukup luas, maka dari itu tidak semua akan ia bersihkan. Bergiliran tiap minggu per-meternya.

"Jongin, kau rajin sekali membersihkan tiap batu nisan disini." Ucap salah satu temannya.

Jongin menganggapnya teman –mungkin begitu. Park Chanyeol namanya. Pemuda yang berusia lebih tua dua tahun darinya. Sama seperti Jongin, Chanyeol tidak begitu banyak teman. Lelaki itu biasa keluar hanya di hari minggu, untuk bercakap-cakap tidak jelas pada Jongin. Si pemakai marga Kim itu juga tak merasa keberatan juga. Tidak semenyebalkan Sehun pikirnya.

Chanyeol sendiri cacat sejak lahir. Kedua kakinya nampak normal seperti kaki pada umumnya. Tungkainya bagus, panjang seperti kaki idaman para lelaki. Namun disayangkan saraf pada kakinya tidak berfungsi semestinya. Mengharuskannya berjalan menggunakan tongkat atau kursi roda.

"Ah, ya, Hyung. Aku bosan." Jawab Jongin singkat setelah dia kembali menuju rumah kecil sebagai tempat teduh di pemakaman itu.

Chanyeol mengangkat kedua tangannya bersama dua tongkatnya, menghampiri Jongin yang tengah terduduk di bangku taman pemakaman dibawah pohon rindang. Pohon disaat-saat seperti ini kelihatan bagus, indah, serta menyejukkan. Bagaimana kalau malam? Pohon itu dihuni oleh berbagai macam makhluk, lalu bisa saja 'ada' yang menduduki bangku ini disaat sepi.

Horor memang. Tapi Jongin tidak takut. Ia malah ingin bisa berbicara kepada hantu-hantu disini. Gila dia itu.

"Bagaimana sekolahmu, Kkamjong?" Tanya Chanyeol sambil menduduki dirinya diatas bangku itu. Tongkatnya ia taruh disebelahnya.

Jongin melirik sekilas kearahnya, "tidak ada yang spesial. Biasa-biasa saja." Katanya. "Bagaimana dengan kakimu?"

"Tidak ada yang buruk. Biasa-biasa saja." Chanyeol menjawab dengan copy-an dari temannya itu. Jongin hanya mendengus bersamaan dengan senyuman tipis terpatri jelas di sudut bibirnya. "Dasar copas."

Jongin pernah bercerita tentang latar belakang dirinya, dan ia hanya mengatakan kehidupannya pada Chanyeol. Ia belum pernah bercerita pada siapapun selain Chanyeol. Tidak tahu bagaimana, ia berpikir pemuda tampang dungu itu bisa menjadi wadah segala curhatannya. Bahkan ia pernah bercerita ia diperlakukan secara kasar.

"Kau tidak ada niatan untuk pergi dari rumah itu?" Chanyeol bertanya tiba-tiba. Jongin hanya menatap lurus dengan tatapan kosong.

"Entahlah. Aku ingin bunuh diri saja rasanya." Jongin menghela napasnya pelan.

"Kau gila?!"

"Ya, aku gila. Aku stres. Aku depresi. Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku hidup. Aku hidup terasa hambar. Aku selalu melakukan hal yang sama dan diperlakukan hal yang sama." Chanyeol terdiam mendengar ucapan Jongin. Lelaki jangkung itu sendiri juga tahu diri bahwa dirinya memang tak bisa membantu banyak. Yang bisa dan biasa ia lakukan hanyalah menyemangat Jongin.

"Setidaknya aku ingin mati dengan perasaan tujuan hidupku ada." Tambahnya lagi.

Chanyeol masih terdiam. Manik hitamnya menatap Jongin penuh kesedihan. "Aku.. aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku ingin memberimu kata-kata penyemangat, tapi aku takut kalau perkataan ku nanti akan membuat hatimu sakit."

"Aku ingin membantumu, namun yang bisa ku lakukan hanyalah duduk dan memikirkan hidupmu." Tambahnya.

Jongin tersenyum tipis, "terima kasih, Hyung. Setiap kali ku bercerita dan kau selalu ada untuk menemaniku, sudah lebih dari cukup. Kau sudah membantuku dengan melepas rasa stresku, Hyung. Kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri."

"Astaga, Kkamjong. Kau ini benar-benar.." Chanyeol menutup kedua matanya dengan lengan kanannya, tampak seperti menahan tangis ala-ala di dunia kartun. "Apa-apaan, sih, Hyung. Berlebihan sekali." Jongin tertawa pelan sambil mengguncang bahu temannya itu pelan.

Kedatangan Jongin di hari minggu selalu ditunggu oleh Chanyeol. Sebenarnya kalau dibilang ada teman selain Jongin, ya, ada. Hanya saja Chanyeol lebih nyaman berteman dengannya karena memiliki selera humor yang sama. Mereka akan membahas sesuatu hal yang tidak penting hingga sesi curhat yang serius. Seperti masalah keluarga Jongin atau malah masalah percintaan Chanyeol.

Chanyeol kerap kali ditolak mentah-mentah oleh wanita yang ingin dia pacari hanya masalah kekurangan fisik yang ia miliki. Jongin berpikir bahwa wanita-wanita itu bodoh sekali, mereka tidak ingin menerima segala kekurangan dari pasangannya. Dan reaksi Chanyeol hanyalah, 'tidak masalah, mungkin Tuhan sudah merencanakan seseorang yang lebih pantas untukku.'

Sibuk berbicara hingga tertawa bersama, manik hitam Jongin menangkap seseorang yang sangat ia kenal. Berjalan di jalan setapak yang dikeliling gundukan pemakaman. Tangan kirinya memegang sebuket bunga yang tak tahu apa jenisnya, hingga akhirnya orang itu berhenti di salah satu pemakaman yang Jongin pastikan adalah anggota keluarganya.

"Melayat sendirian kah orang itu?" Tanya Chanyeol tiba-tiba saat ia ikut meluruskan pandangannya seperti Jongin.

"Sepertinya iya." Jongin menjawab singkat. "Aku baru lihat dia pertama kali kesini."

"Mungkin dia sering datang kesini di setiap bukan hari minggu. Lalu ia ada waktu untuk melayat hari ini." Tebak Chanyeol yang hanya disahut anggukan pelan dari temannya itu.

"Dia Baekhyun." Ujar Jongin.

"Eh? Kau mengenalnya?"

"Teman sekelasku."

"Oh, pantas."

Jongin menatap intens teman sekelasnya itu, ia bisa melihat pemuda itu kini tengah berbicara di samping gundukan salah satu keluarganya. Bercerita yang mungkin menurutnya akan didengar oleh mendiang keluarganya itu. Toh, ia sering begitu pada makam kedua orang tuanya. Bercerita, sampai menangis dengan perasaan depresi. Ingin segera mati agar segera bergabung bersama orang tuanya, dan malamnya ia bermimpi bertemu dengan ayah ibunya, lalu berkata untuk tidak berpikir hal yang bodoh seperti itu.

Cukup lama Baekhyun disana, sulit bagi dia untuk meninggalkan pusara keluarganya itu. Ia tak ingin meninggalkan sisi orang yang ia sayangi. Baekhyun meluruskan lututnya, hendak pergi dari sana sebelum matahari makin terbenam. Ia kembali dengan tungkai mungilnya meninggalkan area pemakaman itu.

"Baekhyun!"

Yang dipanggil menolehkan kepalanya, mendapati Jongin disana bersama dengan seorang lelaki yang tak ia kenal. Jongin melambaikan tangannya, seakan-akan memberi kode bahwa raganya tengah disini. Baekhyun yang merasa heran kenapa teman sekelasnya disini, ia langsung menghampiri sumber suara. "Jongin, sedang apa kau disini?"

"Berjaga."

"Wow, kau menjaga pemakaman ini?"

"Ya."

Baekhyun mengangguk singkat, tak menyangka ternyata teman sekelasnya ini berjaga di pemakaman disini. "Jong, aku tak menyangka kau punya teman juga. Ku kira kau anti sosial." Chanyeol menimpal begitu saja didalam percakapannya dengan Baekhyun. Si tubuh mungil itu malah terkekeh pelan sampai kedua matanya menyipit.

"Jahatnya kau, Hyung. Perkenalkan ini Byun Baekhyun." Jongin menunjuk temannya itu dengan kelima jarinya.

"Baek, si idiot ini namanya Park Chanyeol."

"Jahat sekali kau. Oh ya, salam kenal, Baekhyun." Chanyeol mengulurkan tangan kanannya.

Baekhyun pun ikut menyambar tangan itu, bersalaman dengan orang yang baru ia kenal. "Iya, salam kenal juga." Ucapnya dengan senyuman manis.

Omaygat ini tangan alus bener macem anduk gua. Pikir Chanyeol. Ia merasakan kelembutan tangan teman Kim Jongin itu. Ia memiliki handuk favorit dirumahnya, sama halusnya seperti tangan Baekhyun.

"Lama amat." Cibir Jongin.

"Ealah, punten. Leungeun na lemes pisan, Ya Karim. (Ealah, maaf. Tangannya lembut sekali, Ya Gusti)" Chanyeol berkata seraya melepas tautan tangannya dengan Baekhyun. Si mungil hanya memiringkan kepalanya sedikit tanda tak paham dengan ucapan teman barunya itu.

"Idiot, 'kan?" Ucap Jongin sambil menatap Baekhyun.

Baekhyun hanya terkekeh manis, Chanyeol yang ada di hadapannya itu malah wajahnya bersemu merah. "Najis, salting." Jongin malah kompor.

"Woi!" Chanyeol langsung menyambar leher Jongin, hendak mencekik temannya itu. Baekhyun yang berada didepan mereka berdua tertawa terbahak melihat tingkah konyol keduanya. Rasa sedih dan kesepian didalam dirinya seketika hilang begitu saja.

To Be Continued

.

Maapkan kalo ga seru di chapter ini, yeorobun /deep bow/. Aku bingung buat ngerangkai kata-kata yang puitis ala-ala gitu, aku ga pro soalnya :') Mohon maap kalo Kaisoo-nya disini kerasa kurang banyak, next chapter kaisoo nya aku banyakin dan ada bumbu chanbaek dikit xD

review sangat membantu~ see you in next chapter! /tring/