Ontmoeten
(n.) meet.
.
.
.
.
.
Namjoon tersenyum memerhatikan Yoongi yang sedang memasukkan kue ulang tahunnya ke dalam kulkas. Matanya mengikuti Yoongi yang telaten membereskan berbagai peralatan makan kotor dan membawanya ke dalam bak cuci piring.
Atensi Namjoon berpindah ke ruangan di sekitarnya. Ia menatap ke sekeliling rumah yang ia beli bersama Yoongi. Matanya menatap jauh, bibirnya terangkat membentuk senyuman manis.
Pikiran Namjoon menerawang jauh, kembali ke masa lalu, jauh ketika ia pertama kali bertemu dengan Yoongi. Jauh sebelum mereka berdua menikah. Namjoon ingat, pemuda pucat yang berusia setahun lebih tua darinya itu merupakan pemuda pemalu disaat pertemuan pertama mereka.
Namjoon dan Yoongi berkenalan lewat Jung Hoseok. Hoseok merupakan sahabat Namjoon, teman seangkatannya saat kuliah. Waktu itu Hoseok meminta tolong Namjoon untuk menjadi model untuk salah seorang temannya yang sedang kuliah jurusan seni lukis.
Namjoon mengiyakan saja permintaan Hoseok, mengingat ia tidak mempunyai kesibukan apapun pada saat itu.
Pertemuan pertama mereka terjadi di flat kecil milik Yoongi. Sehari sebelum waktu yang sudah ditentukan, Hoseok sudah mengabari Namjoon untuk datang ke flat milik Yoongi pukul 10. Mengatakan bahwa ia akan berada disana dari pagi bersama Yoongi. Jadi Namjoon tidak perlu takut akan salah orang.
Mengikuti perintah Hoseok, Namjoon datang ke flat Yoongi pukul 09.59. Ia datang berpakaian santai (juga perintah dari Hoseok), membawa tas ransel kecil miliknya yang hanya berisikan macbook. Namjoon memastikan sekali lagi bahwa is sudah berada di depan pintu yang tepat. Pintu bernomorkan 309. Memantapkan kepercayaan dirinya, ia pun menekan bel di samping pintu.
Selang beberapa detik, pintu terbuka dan menampilkan sosok pemuda berkulit pucat yang masih memakai piyama berwarna biru tua. Pemuda yang lebih pendek sekitar 10 senti dari Namjoon itu menguap lebar, ia menatap Namjoon heran.
"Eh.. maaf, kau siapa?"
Pemuda itu bertanya kepada Namjoon, sambil mengusap matanya. Tampak pemuda itu baru saja bangun tidur.
"Eh, ini flat Min Yoongi kan?"
Namjoon balik bertanya, bingung. Bertanya-tanya, apakah Hoseok mengerjainya kali ini?
Pemuda pucat itu mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ne, aku sendiri. Kau siapa?"
Pertanyaan lagi. Namjoon geleng-geleng kepala.
"Ah itu, sahabatku yang bernama Jung Hoseok mengatakan bahwa seseorang bernama Min Yoongi membutuhkan model untuk lukisan terbarunya. Dan, aku di suruh untuk langsung pergi ke flat-nya hari ini pukul 10 untuk menjadi modelnya," Namjoon menjelaskan panjang lebar.
Pemuda dihadapan Namjoon mematung setelah mendengar penjelasan Namjoon.
"Tunggu... Kau Kim Namjoon?"
Pemuda pucat bernama Min Yoongi itu kembali mengajukan pertanyaan. Yoongi tampak sudah sadar dan menatap Namjoon lekat-lekat.
"Ne," Namjoon mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yoongi.
*BLAM*
Namjoon terlonjak kaget. Yoongi baru saja membanting pintu flat-nya sendiri. Namjoon memandang pintu yang baru dibanting itu terheran-heran.
"Maafkan aku! Kumohon tunggu sebentar!"
Namjoon tercengang mendengar teriakan Yoongi dari dalam. Tak lama, ia terkekeh kecil.
"Imutnya..." ujar Namjoon pelan sambil tersenyum tipis.
Yoongi membukakan pintu kembali untuk Namjoon setelah 10 menit. Pemuda pucat itu sudah berganti baju dengan kaos putih dan celana hitam sependek lutut. Rambut pemuda itu tampak masih meneteskan air, tanda ia baru saja selesai mandi.
"Maaf membuatmu menunggu," Yoongi meminta maaf sambil membungkukkan badannya.
"Ne, tidak apa-apa Yoongi-ssi. Santai saja," balas Namjoon sambil tersenyum ramah. "Lebih baik kita mulai saja proses melukisnya," lanjut Namjoon.
Setelah pertemuan pertama itu, Yoongi dimata Namjoon adalah pemuda pendiam dan pemalu yang terlalu sopan. Ya terlalu sopan. Namjoon mengingat bahwa Yoongi meminta maaf hampir 8 kali atas keterlambatannya tadi pagi. Bahkan Yoongi sampai membuatkannya makan siang sebagai permintaan maaf. Ah, satu lagi yang diingat Namjoon akan Yoongi, masakan Yoongi enak untuk ukuran seorang pemuda yang hidup mandiri.
Mereka banyak berbicara hari itu. Namjoon terkejut mengetahui bahwa Yoongi berusia setahun lebih tua darinya, mengingat postur tubuh Yoongi yang lebih kecil dan lebih pendek dari Namjoon. Yoongi tersenyum malu dan mengatakan bahwa dirinya memang berhenti meninggi sejak kelas 2 SMA, hal ini mengundang gelak tawa dari Namjoon.
Mereka membahas tentang jurusan kuliah masing-masing. Namjoon memulainya dengan bertanya mengapa Yoongi mengambil jurusan seni lukis. Hal ini dijawab Yoongi karena ia senang melukis sejak kecil. Ia senang menggambar apapun, entah itu pemandangan, hewan, orang yang sedang berkegiatan, atau apapun itu. Yoongi balik bertanya kepada Namjoon, jurusan kuliah apa yang diambil Namjoon. Yoongi cukup terkejut ketika Namjoon mengatakan bahwa ia adalah mahasiswa musik modern. Namjoon tertawa melihat ekspresi Yoongi. Bertanya apakah ia tidak terlihat seperti orang yang tertarik musik. Yoongi buru-buru menggelengkan kepalanya, menjawab bahwa ia hanya tidak menyangka saja. Namjoon kembali tertawa.
Mereka juga berbicara mengenai Hoseok. Ternyata Yoongi mengenal Hoseok karena Hoseok adalah adik kelas Yoongi sewaktu SMA dulu. Dulu Hoseok adalah adik kelas yang usil dan senang bercanda sewaktu SMA. Dia sering kali mengusili Yoongi meskipun tahu Yoongi adalah sunbae-nya. Namjoon terkekeh, ia ikut bercerita bahwa Hoseok masih sering bercanda dan berbuat usil bahkan ketika sudah kuliah. Namjoon ingat ia juga pernah dikerjai Hoseok saat baru pertama kali kenal. Bahkan ia juga dikerjai sekarang ketika harus bertemu dengan Yoongi. Untung saja dia tidak memberiku alamat yang salah, ungkap Namjoon sambil terkekeh.
.
Pertemuan mereka hari itu berlangsung cukup baik, pikir Namjoon. Ia cukup nyaman menjadi model Yoongi dan Yoongi mempunyai gaya melukis yang sesuai dengan seleranya. Hasil lukisan Yoongi terlihat indah dimatanya.
Setelah pertemuan pertama itu, Namjoon bercanda untuk dibuatkan lagi lukisan dirinya oleh Yoongi. Namjoon mengatakannya dengan nada bercanda sambil tertawa. Tetapi Yoongi mengiyakannya dengan serius. Mengatakan bahwa ia akan melukis Namjoon lagi suatu saat nanti.
Namjoon sempat terperangah. Ia berpikir permintaannya hanyalah candaannya semata, tidak menyangka kalau Yoongi akan menyanggupinya.
Akhirnya Namjoon pamit pulang dari flat Yoongi sekitar pukul 5 sore. Mereka saling mengucapkan sampai jumpa dan Namjoon berjalan pergi dari flat Yoongi.
.
.
.
"Sedang melamun apa?"
Suara Yoongi memecah lamunan Namjoon. Yoongi sudah duduk disamping Namjoon, menyenderkan kepalanya ke bahu Namjoon.
"Ah, tidak hyung. Hanya teringat akan pertemuan pertama kita," jawab Namjoon sambil menatap Yoongi yang sudah memejamkan matanya.
"Dulu kau sangat pemalu lho hyung," goda Namjoon sambil tertawa kecil. Yoongi merengut, "Ah, jangan membahasnya lagi," ucap Yoongi sambil menutupi wajahnya dengan tangan. "Dulu aku bersikap sangat bodoh dengan bangun terlambat dan membukakan pintu untukmu" keluh Yoongi.
Namjoon terkekeh, "Tapi berkat itu aku jadi bisa melihatmu yang baru bangun tidur lho hyung."
"Ya, aku tampak sangat jelek saat itu," erang Yoongi.
Namjoon kembali tertawa, "Jangan merendah hyung, kau adalah orang terimut yang pernah kulihat untuk seseorang yang baru bangun tidur."
"Bahkan hingga sekarang," lanjut Namjoon sambil memainkan anak rambut Yoongi.
Yoongi mencubit Namjoon gemas. "Jangan menggodaku," ucap Yoongi sambil tertawa.
"Aku serius hyung, kau orang terimut yang pernah kutemui."
"Ya, terserah apa katamu Joon."
"Hyung."
"Hmm?"
"Terima kasih sudah melengkapi hidupku hyung," ucap Namjoon masih memainkan rambut Yoongi.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
Karena hanya butuh satu pertemuan bagi Kim Namjoon untuk jatuh cinta kepada pemuda imut itu, Min Yoongi.
.
.
.
.
.
A/n.
fic singkat ini aku persembahkan untuk merayakan ulang tahun dari leader BTS kita, Kim Namjoon! Yeah XD
Happy birthday to Kim Namjoon, the man who taught me to how love myself :')
I hope your birthday is full with tons of hugs and kisses :D
oke, segini aja kurasa cuap2ku, aku harap kalian menyukai fic ini.
Terima kasih :)
