Eifersucht

(n.) jealousy.

.

.

.

.

.

Yoongi melirik Namjoon yang masih merajuk diatas tempat tidurnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya itu. Tak habis pikir kekasihnya yang biasa berpikiran dewasa dan mendalam itu dapat bersifat kekanak-kanakan seperti ini.

"Hey Joon."

Yoongi kembali mencoba memanggil Namjoon. Nihil. Kim Namjoon masih mengabaikannya.

Menghela napas, Yoongi akhirnya menghampiri Namjoon dan duduk di pinggir tempat tidur Namjoon.

"Namjoon-ah."

Hening.

"Kim Namjoon."

Hening.

"Joonie~"

Hening.

"Joon-ah~"

Hening.

"YA KIM NAMJOON!"

Habis sudah kesabaran Yoongi menghadapi kekasihnya ini. Yoongi mengerang kesal menyadari Namjoon masih tak acuh terhadap panggilannya. Namjoon masih terdiam sambil memainkan ponsel pintarnya.

"Ya Namjoon-ah! Sampai kapan kau mau cemburu seperti ini huh? Sudah kubilang waktu itu Seokjin hyung hanya membantuku mengerjakan tugas matematikaku! Kenapa kau semarah ini eoh?"

Yoongi melontarkan pertanyaan yang terus menerus terngiang dalam benaknya. Meminta penjelasan dari kekasihnya itu. Ya, sejujurnya Yoongi tak mengerti dimana letak kesalahannya sampai-sampai Namjoon menjadi cemburu dan mengabaikannya selama seminggu ini.

Namjoon masih terdiam, mengabaikan Yoongi. Seolah-olah tidak mendengar perkataan dari Yoongi.

Yoongi mendengus kasar, "Sampai kapan kau mau mengabaikanku huh?" Yoongi kembali membuka suara.

Namjoon akhirnya menghela napas dan bergerak bangun dari posisi tidurannya tadi. Sekarang ia duduk berhadap-hadapan dengan Yoongi.

"Hyung, aku tidak marah padamu. Sudah kukatakan aku hanya cemburu karena kau terlalu dekat dengan Seokjin hyung waktu mengerjakan tugasmu, "Namjoon akhirnya membuka suara.

Yoongi memutar bola matanya, "Alasanmu invalid Kim Namjoon. Kenapa kau tidak suka jika aku dekat dengan Seokjin hyung? Dia kan tentorku Joon!"

"Dan lagi, jika kau memang tidak marah padaku, kau tidak akan mengacuhkanku selama seminggu ini!" Yoongi meluapkan kekesalannya sambil menahan tangis. Sungguh, ia merasa kesal dengan kekasih tingginya itu. Kenapa bisa kekasihnya se-cemburu ini hanya karena Yoongi dekat dengan Seokjin, yang notabene merupakan tentornya di sekolah.

Namjoon menyadari tubuh Yoongi yang mulai bergetar. Akhirnya Namjoon menarik Yoongi kedalam pelukannya.

"Hyung maafkan aku oke? Kumohon jangan menangis... Aku minta maaf ya?" Namjoon memeluk dan mengelus punggung Yoongi, berharap agar Yoongi tidak menangis lagi.

Merasa masih kesal, Yoongi mencoba melepaskan pelukan Namjoon, "Joon lepaskan aku."

Namjoon malah semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak hyung, tidak sampai kau memaafkanku. Aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu hyung. Maafkan aku..." Namjoon kembali meminta maaf.

"Kenapa? Aku tidak mau memaafkanmu kalau kau belum mengatakan alasanmu Joon," ucap Yoongi yang masih sesenggukkan.

Namjoon menatap Yoongi tak yakin. Tidak yakin untuk mengatakan alasannya itu.

"Joon aku perlu kau berkata jujur agar aku mengerti kenapa kau tidak suka aku dekat dengan Seokjin hyung," ungkap Yoongi sambil menatap Namjoon dalam. Meyakinkan kekasihnya bahwa alasan apapun itu, jika Namjoon berkata jujur, maka Yoongi akan memaafkannya.

"Err.. sebenarnya, aku merasa khawatir setiap kali kau berdekatan dengan Seokjin hyung. Kau tahu sendiri kan hyung, Seokjin hyung pintar, ramah, dan tampan. Terlebih lagi dia bisa menyetir dan pintar memasak. Ditambah dia bukan orang yang ceroboh. Aku merasa takut kalau kau akan berpaling dariku kepadanya hyung..."

Yoongi mencerna penjelasan dari Namjoon dalam diam. Sampai akhirnya Yoongi tertawa terbahak-bahak.

"Namjoon-ah, kau takut aku berpaling ke Kim Seokjin? Yang benar saja, Seokjin hyung sudah punya pacar tahu!" ucap Yoongi sambil tertawa.

"Eh?" Namjoon menatap Yoongi dengan tatapan bingung. "Seokjin hyung sudah punya pacar?" Namjoon mengulang kembali pernyataan Yoongi menjadi sebuah pertanyaan.

Yoongi terkekeh geli, "Ne! Ya ampun Kim Namjoon... Rasa khawatirmu itu tidak perlu kau tahu? Asal kau tahu, Seokjin hyung sudah berpacaran dengan Hoseok yang satu tingkat denganmu!" jelas Yoongi.

Namjoon melongo, "Hah? Se-sejak kapan...?"

Yoongi kembali tertawa melihat ekspresi Namjoon yang melongo. Terlihat wajah Namjoon yang mulai memerah.

"Lihat, siapa yang malu sekarang," goda Yoongi kepada Namjoon.

Namjoon memeluk dan menyembunyikan kepalanya ke lekukan leher Yoongi.

"Hyung kenapa kau tidak bilang sih!" Namjoon bergumam di leher Yoongi, membuat Yoongi terkekeh geli.

"Ya Joon-ah..."

Namjoon masih menyembunyikan wajahnya.

"Namjoon-ah," Yoongi akhirnya sedikit mendorong Namjoon agar melepas pelukannya dulu.

"Tidak mau ah hyung."

Yoongi kembali terkekeh, "Ya Kim Namjoon, asal kau tahu, tidak akan ada orang yang mampu membuatku berpaling darimu, bahkan diriku sendiri. Karena yang mampu dilihat oleh Min Yoongi hanyalah dirimu seorang. Hanya Kim Namjoon yang mampu aku lihat."

.

.

.

.

.

Yes, love is blind. Because of it, I can't see anything, except you.

.

.

.

.