Utopia
(n.) an imagined place or state of things in which everything is perfect.
.
.
.
.
.
"Bukankah sekarang sedang musim panas? Kau seharusnya pergi bersenang-senang bersama teman-temanmu Namjoon, bukannya membuang-buang waktumu untuk pergi menemuiku disini," Yoongi berujar sambil mengunyah roti cokelat yang ada di atas meja.
Namjoon terkekeh di seberang Yoongi, "Tidak mau. Lagipula, jika aku pergi bersama mereka, nanti hyung akan kesepian kan?"
Yoongi mengerucutkan bibirnya, "Tapi kalau kau mengorbankan liburanmu hanya untuk menemuiku, aku yang akan merasa bersalah," balas Yoongi.
Namjoon menggeleng dan terkekeh, "Jangan merasa seperti itu hyung. Aku justru senang bisa menemuimu setiap hari selama liburan seperti ini," ucap Namjoon.
"Sungguh kau merasa senang?"
Namjoon mengangguk mantap, "Tentu saja. Menghabiskan waktuku bersama hyung adalah hal yang paling berharga bagiku. Jadi berhentilah merasa bersalah hyung," ucap Namjoon sembari menatap Yoongi dengan senyuman ber-dimple-nya itu.
Senyum manis terukir di bibir Yoongi, "Kau paling bisa membuatku merasa bahagia Joon-ah."
.
.
.
"Hah... Tak terasa sekarang sudah musim gugur... Sebentar lagi Chuseok kan, Namjoon-ah?"
Namjoon duduk diseberang Yoongi. Mereka berdua dipisahkan oleh meja bundar kecil yang biasa menjadi tempat Namjoon mengobrol dengan Yoongi.
"Ne hyung, sebentar lagi Chuseok akan tiba," ucap Namjoon mengiyakan perkataan Yoongi.
Yoongi menghela napasnya, "Hah... Dan sekali lagi aku akan menghabiskan Chuseok-ku tanpa keluargaku..." keluh Yoongi.
Namjoon menatap Yoongi yang menundukkan kepalanya. Mereka berdua sama-sama terdiam. Keheningan kecil terjadi diantara mereka.
"Aku akan datang kemari di hari Chuseok nanti," ucap Namjoon tiba-tiba.
Yoongi mengangkat kepalanya dan menatap Namjoon terkejut.
"Hah? Apa maksudmu?"
Namjoon tersenyum tipis, "Aku akan menemani hyung di hari Chuseok nanti," ucap Namjoon sekali lagi.
Yoongi membulatkan matanya, "Ne?"
Namjoon terkekeh, "Kenapa terkejut sekali, eh?"
Yoongi menggelengkan kepalanya, "Tidak tidak... Kau tidak boleh menghabiskan hari Chuseok bersamaku! Kau harus pergi ke rumah orang tuamu, kau tahu?"
Namjoon terkekeh melihat reaksi Yoongi. "Tenang saja, adikku akan ada bersama kedua orang tuaku ketika Chuseok nanti. Karenanya aku bisa menemani hyung disini," balas Namjoon sambil tersenyum ke arah Yoongi.
Yoongi memandang Namjoon dengan tatapan yang sulit diartikan, "Kau... Pasti merasa kasihan padaku kan?" tanya Yoongi dengan suara pelan.
Namjoon menggeleng cepat, "Hei, bukan seperti itu hyung. Aku menemanimu karena memang itu keinginanku. Aku tidak bisa membiarkan hyung melewati Chuseok sendirian saja."
Yoongi menundukkan kepalanya, "Tapi... Bagaimana pendapat orang tuamu nanti Joon-ah? Mereka pasti ingin bertemu denganmu kan?"
Namjoon tersenyum tipis memandang Yoongi, "Tenang saja hyung, aku yakin kedua orang tuaku malah senang jika aku menemanimu. Hyung kan sudah seperti anak eomma dan appa-ku sendiri," terang Namjoon.
Yoongi masih menatap Namjoon tak yakin. Bagaimanapun, ia masih merasa tak enak jika Namjoon harus bersamanya disaat Chuseok nanti.
"Tenanglah hyung. Kedua orang tuaku tidak akan mencoretku dari daftar keluarga meskipun aku tidak merayakan Chuseok bersama mereka," canda Namjoon sambil tertawa kecil.
Yoongi memandang Namjoon yang tertawa. Akhirnya ia ikut terkekeh, "Baiklah.. baiklah. Aku percaya padamu Joon."
.
.
.
"Ini... Semuanya untukku?"
Yoongi menatap seluruh bingkisan hadiah yang tersusun di atas meja kecil bundar itu. Di atas meja itu, terdapat lebih dari sepuluh bingkisan hadiah yang sudah rapi dibungkus dengan kertas kado. Mengalihkan pandangannya dari susunan hadiah itu, Yoongi menatap Namjoon yang sibuk tersenyum dari tadi.
"Selamat Natal hyung. Dan selamat tahun baru juga."
Yoongi masih menatap Namjoon dalam diam.
"Ini, kau bercanda kan Joon?"
Namjoon terkekeh, "Ani. Semua ini memang sengaja aku beli untuk hyung."
Yoongi mengambil salah satu bingkisan dengan hati-hati.
"Joon... Ini..."
"Kau suka kan hyung?"
"YA!"
Yoongi memukul Namjoon tiba-tiba.
"Ah! Sakit hyung!"
Namjoon mengelus-elus lengannya yang menjadi sasaran empuk pukulan Yoongi.
"Hyung kenapa memukulku, eh?"
Yoongi mendelik menatap Namjoon.
"Namjoon! Sudah berapa kali kubilang, jangan menghabiskan uangmu untuk membelikanku hadiah! Harusnya kau menyimpan uangmu untuk hal-hal yang lebih berguna!" ucap Yoongi sambil masih memukul lengan Namjoon.
"Kenapa membuang-buang uangmu hanya untukku, eoh?"
"Aduh hyung, sudah dong! Sakit tahu"
Namjoon mencoba menahan tangan Yoongi yang akan mengenai lengannya lagi. Yoongi akhirnya menghentikan pukulannya.
"Ya! Makanya jangan bertindak seenaknya! Jangan membelikan hyung kado-kado semacam ini!" ucap Yoongi kesal.
Namjoon menatap Yoongi dengan pandangan merajuk.
"Hyung... Tidak bisakah kau menerima hadiah dariku dengan senang hati? Aku sengaja membelikan semua ini untukmu..." Namjoon berujar sambil menundukkan kepalanya.
Yoongi terperangah melihat reaksi Namjoon.
"Aku tahu hyung merasa tidak enak hati untuk menerima semua hadiah ini... Tapi, aku memang tulus memberikan semua ini untuk hyung," ungkap Namjoon.
Yoongi menatap Namjoon yang menunduk.
"Jadi... Kumohon terima semua ini ya hyung? Kalau hyung menolaknya, aku yang akan sedih," Namjoon berujar sambil tersenyum tipis kepada Yoongi.
Yoongi terdiam sejenak, kemudian menghela napasnya.
"Ne Namjoon-ah... Tentu aku akan menerimanya. Mana tega aku menolaknya huh?"
Senyum lebar mulai terukir di bibir Namjoon.
"Syukurlah. Aku senang hyung menerimanya," ungkap Namjoon sambil tersenyum lebar. Lesung pipit Namjoon dapat terlihat saking lebarnya Namjoon tersenyum.
"Ne. Tapi, jangan sembarangan belikan aku hadiah-hadiah seperti ini lagi Joon-ah! Kau harusnya menyimpan uangmu untuk hal-hal yang lebih penting," balas Yoongi masih mengomel.
Namjoon terkekeh, "Tidak apa hyung. Sekali-kali memberikan hyung banyak hadiah tidak akan membuatku jatuh miskin. Lagipula ini kan Natal, aku ingin hyung mendapatkan banyak hadiah di hari spesial ini," ujar Namjoon.
Yoongi tersipu, "Ya! Cukup kau datang saja itu sudah cukup bagiku Namjoon!" ujar Yoongi dengan pipi yang bersemu.
Namjoon tertawa melihat ekspresi Yoongi, "Hyung, kau lucu sekali," ungkap Namjoon.
"Diamlah!"
.
.
.
"Dia selalu bersikap seperti itu sejak pertama kali dia datang kemari."
Mrs. Min mengangguk. Ia terdiam, masih menunggu perawat itu melanjutkan kalimatnya.
"Selama tinggal disini, tidak pernah sekalipun Yoongi membuat keributan. Dia adalah seorang pasien yang baik. Dia selalu bersikap ramah dan sopan kepada semua orang disini. Dia selalu mempunyai aura bahagia yang senantiasa mengelilinginya," terang sang perawat yang ternyata bernama Hana itu.
"Syukurlah..." ujar Mrs. Min sambil tersenyum tipis.
"Aku selalu mengkhawatirkan keadaan Yoongi selama ia disini. Aku takut anak itu merasa kesepian dan sedih," ujar Mrs. Min sekali lagi.
Hana tersenyum tipis menanggapi perkataan Mrs. Min.
Mereka berdua saling berdiam diri, memusatkan atensi mereka kepada Yoongi yang terlihat duduk sendirian di depan sebuah meja bundar kecil. Yoongi terlihat tersenyum senang dari pandangan mereka.
"Ah, maaf. Apakah... Kau tahu tentang seorang pria yang bernama Namjoon, Mrs. Min?"
Mrs. Min tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba oleh Hana.
"Ne?"
Hana terdiam sejenak. Dia terlihat tidak yakin untuk melanjutkan kalimatnya.
"Maaf... Tapi, darimana Anda tahu tentang Namjoon?"
Mrs. Min memutuskan untuk menyuarakan kebingungannya.
"Umm itu... Seperti yang kita ketahui, Yoongi memang sering mengalami gejala halusinasi kan?"
Mrs. Min menganggukkan kepalanya.
"Pria yang bernama Namjoon itu... Yoongi sering sekali berbicara mengenainya. Ah tidak, dia selalu berbicara tentangnya. Dia menceritakan bahwa Namjoon selalu datang menemuinya disini. Membawa banyak hadiah dan selalu mengajak Yoongi mengobrol," terang Hana.
Hana kembali melanjutkan, "Yoongi tampak selalu senang setiap kali menceritakan pria bernama Namjoon itu. Dia selalu berkata bahwa ia tidak sabar untuk menunggu hari esok karena ia akan bertemu dengan Namjoon lagi."
Mrs. Min terdiam mendengarkan penjelasan Hana.
"Tapi Mrs. Min, pria yang bernama Namjoon itu... Dia tidak pernah datang."
Mrs. Min akhirnya balik menatap Hana yang sedari tadi memandangnya.
"Pria bernama Namjoon itu... Apakah ia orang yang berharga di dalam hidup Yoongi?" Hana akhirnya bertanya kepada Mrs. Min.
Mrs. Min masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Hana.
"Ah maaf, aku bertanya karena kupikir, jika pria bernama Namjoon itu benar-benar datang kemari, mungkin itu bisa membantu memulihkan Yoongi sedikit. Kupikir, Yoongi dan Namjoon pasti memiliki hubungan yang sangat dekat, jika mendengar dari cerita Yoongi," terang Hana sekali lagi.
Mrs. Min menggeleng lemah.
"Ani. Aku mengerti apa yang coba kau sampaikan Hana-ssi," ujar Mrs. Min.
"Ne. Jika aku menjadimu, aku juga berharap Namjoon dapat menemui Yoongi di sini," lanjut Mrs. Min lagi.
Hana menatap Mrs. Min dengan pandangan bertanya, "Maksudmu Mrs. Min?"
Mrs. Min memandang sendu kearah putranya yang duduk sendirian di depan meja kecil bundar itu. Masih tersenyum senang entah karena apa.
"Namjoon... Dia adalah kekasih dari Yoongi."
"Mereka berdua sudah bersama sejak sekolah dasar. Mereka berdua adalah dua orang sahabat yang sangat dekat, tapi mereka berdua adalah sepasang kekasih yang lebih dekat lagi."
"Mereka sangat menyayangi satu sama lain. Selalu bersama jika kesempatan mengijinkan mereka. Jika ada seseorang yang mencari Yoongi, maka carilah Namjoon. Dan jika seseorang mencari Namjoon, maka cari saja Yoongi. Kau pasti bisa menemukan mereka berdua disetiap kesempatan."
"Kadang mereka bertengkar, tetapi mereka selalu dapat menyelesaikan permasalahan mereka dengan kepala dingin. Mereka tidak pernah menggunakan fisik ketika bertengkar. Mereka akan selalu membicarakan semuanya secara baik-baik."
"Mereka pasangan yang sangat manis," Hana berujar ketika Mrs. Min berhenti berbicara.
Mrs. Min mengangguk singkat, senyuman sendu masih menghiasi wajahnya.
"Mereka adalah pasangan yang sangat manis."
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Hana.
"Pernah dengar bahwa cinta sejati hanya bisa dipisahkan oleh waktu dan kematian?"
Hana tertegun mendengar pertanyaan dari Mrs. Min.
"Ne?"
Mrs. Min memandang sedih kearah Yoongi.
"Hari itu, di malam Natal. Namjoon sedang dalam perjalanan pulang dari Ilsan menuju Seoul. Sudah menjadi tradisi bagi Yoongi dan Namjoon untuk merayakan berbagai hari penting bersama, termasuk Natal."
"Namjoon sudah berjanji untuk pulang dan merayakan Natal bersama Yoongi. Tapi... Kurasa Tuhan memang berkehendak lain."
"Apakah Namjoon mengalami..." Hana tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Mrs. Min mengangguk lemah, "Ne. Dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya."
Hana menatap Mrs. Min iba, "A-aku.. maaf, aku tidak bermaksud..."
Mrs. Min menggeleng singkat, "Tidak. Tidak apa..."
"Lalu, apakah Yoongi mengalami gejala-gejala halusinasi setelah kejadian itu?" Hana bertanya.
"Ne, dia mulai berhalusinasi dan mengalami depresi sejak saat itu," Mrs. Min menatap iba kearah Yoongi.
"Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa ia masih terguncang akan kematian tiba-tiba Namjoon. Dokter itu memberikan obat antidepresan kepada Yoongi, tapi tidak banyak perubahan yang terjadi. Yoongi malah semakin depresi. Itulah kenapa akhirnya aku membawanya kemari. Aku berharap ia akan membaik jika ditangani disini..." ungkap Mrs. Min.
Hana mengangguk, "Ne. Aku mengerti bagaimana perasaanmu Mrs. Min."
"Aku hanya mengharapkan kesembuhan baginya."
.
.
.
"Hei, sekarang sudah musim semi Namjoon. Kau tidak bosan apa terus menerus menemaniku disini?"
Yoongi bertanya kepada Namjoon yang duduk dihadapannya di depan meja kecil bundar itu.
Namjoon terkekeh sebelum menjawab.
"Kenapa hyung? Apakah kau mulai bosan karena aku terus kemari?"
Yoongi mengerucutkan bibirnya, "Bagaimana bisa bosan, aku malah senang karena kau selalu datang kemari Joon-ah," ujar Yoongi kepada Namjoon.
"Tapi, apakah kau tidak malas jika setiap hari harus kemari? Kau kan pasti mempunyai pekerjaan lain yang harus kau lakukan," lanjut Yoongi.
Namjoon menggeleng, "Hyung, aku bisa meninggalkan seluruh kegiatanku hanya untuk bertemu denganmu kau tahu? Jadi berhentilah bertanya apakah aku bosan kemari atau tidak," balas Namjoon sambil tersenyum lebar.
Rona merah mulai terlihat di pipi Yoongi.
"Karena hanya ketika bersamamu hyung, waktuku terasa berjalan lagi."
.
.
.
.
.
