Hinata is Mine!
Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Fujimaki Tadatoshi
Rate : T
Pairing : GomxHinata
Happy Reading~
Suasana di aula gym masih begitu tegang.
Untungnya berkat campur tangan sang emperor baku hantam bisa terelakkan.
Hinata masih memeluk lengan sang kakak erat, menahannya agar tak menerjang Aomine dan Kise.
"Kau bocah kuning, jangan pernah coba sentuh Imoutoku. Seujung jari saja kau sentuh, sepuluh jemariku akan memutus saluran pernafasan di lehermu" Ucap Sasuke membuat semua yang mendengar merasakan aura kegelapan yang begitu pekat
Kise bahkan memucat. Aura ini persis saat Akashi marah.
"Nii-san jangan galak galak" Hinata berusaha memadamkan api amarah Sasuke
"Kau juga Hinata! Jangan terlalu baik pada orang. Bagaimana kalau mereka hanya memanfaatkanmu?" Ucap Sasuke dengan nada cukup tajam pada Hinata
Hinata yang berhati lembut merasa terluka dengan ucapan Sasuke.
"Gomen" Suara Hinata melirih dan melepaskan pelukannya pada lengan Sasuke
"Aku hanya jadi beban Nii-san kan kalau berada di sini? Aku akan telpon Tou-san dan kembali lagi ke Inggris"
Amarah Sasuke menguap begitu saja ketika melihat manik mata adiknya sudah berkaca kaca.
Crap! Sepertinya ia terlalu keras pada Hinata.
"Hinata, Nii-san minta maaf. Nii-san tak bermaksud membentakmu tadi"
Seorang Uchiha Sasuke yang terkenal pelit dengan kata maaf, akan menjadi mudah mengeluarkan kata maaf hanya pada Hinata, adik kesayangannya.
"Ka-kalau begitu, berhenti marah marahnya. Nii-san membuatku takut" Ujar Hinata dengan tubuh gemetar
Tangan Sasuke terangkat, menghapus air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata Hinata. Dan saat itu ia melihat sebuah gelang melingkari pergelangan tangan Hinata.
Sasuke yakin seyakin yakinnya, sebelum berangkat tadi Hinata tidak memakai aksesoris apapun.
"Hinata, darimana kau mendapatkan gelang itu?"
"Ini?" Tanya Hinata sambil menggerakkan tangannya membuat gelang itu mengeluarkan suara krincing krincing
"Ini lucky itemku Nii-san" Jawab Hinata tak menjawab siapa pemberi gelang tersebut
"Lucky item?" Ulang Sasuke tak paham
Sedangkan anggota basket menatap Midorima tak percaya, oh, kecuali Akashi tentunya.
Sasuke merasa kepalanya makin pening. Ia tahu adiknya memang mempesona. Tapi hanya dalam dua hari ia membuat seseorang memberinya sesuatu?
Sasuke memejamkan mata menarik nafas dalam dalam.
"Hinata, Nii-san janji tak akan marah marah lagi, sekarang lebih baik kau ke mobil duluan, dan kau" Tunjuk Sasuke pada Momoi "Antarkan Hinata ke mobilku dan temani dia sampai aku kembali"
"Ta-" Ucapan Hinata terpotong oleh kalimat Sasuke
"Nii-san tak akan lama Hinata"
Mendengar nada menenangkan dari Sasuke, Hinata akhirnya mengangguk.
Momoi yang malas berdebat dan ingin mengobrol dengan Hinata memilih mengikuti ucapan Sasuke.
Begitu Momoi dan Hinata menghilang dibalik pintu gym Sasuke kembali melemparkan deathglarenya pada para kisedai.
"Aku tak akan berbasa basi, adikku sedang menunggu. Sebutkan nama kalian semua"
Merasa menjadi kapten, Akashi menjadi yang pertama angkat suara "Akashi Seijuuro"
"Akashi?" Sasuke menaikkan alisnya. Ia tau perusahaan Akashi, pimpinannya, Akashi Masaomi, sedang menjalin relasi dengan Uchiha
"Ah iya, kita pernah bertemu di ruang kepala sekolah bukan? Aku tak sempat memikirkan margamu, karna saat itu kau sungguh mengancam"
Akashi mengerutkan alisnya. Mengancam? Bagian mananya saat di ruang kepala sekolah yang menunjukan ia mengancam?
"Lanjut" Titah Sasuke
"Aomine Daiki" Lelaki berkulit tan yang selanjutnya angkat bicara
"Kau. Berhenti menyamakan adikku dengan Horikita Mai"
Aomine hendak membantah. Tapi tatapan Sasuke membuat tubuhnya kaku. Ia kira hanya Akashi yang bisa mengeluarkan aura Iblis macam ini.
"Kau kuning!" Tunjuk Sasuke pada Kise
"Kise Ryouta ssu!"Jawab Kise, keceriaannya telah kembali
" Ingat pesanku tadi!"
"I-iya ssu" Kise mengangguk merasa terintimidasi dengan tatapan Sasuke
Sasuke lantas menatap Midorima, memintanya memperkenalkan diri.
"Midorima Shintarou, nanodayo"
Sasuke menatap Midorima dan bola voli bergantian. Bukankah ini ekskul basket? Apa gunanya membawa bola voli?
"Ini lucky item cancer hari ini, nanodayo" Ujar Midorima menjawab tatapan heran Sasuke
"Lucky Item?" Ekspresi Sasuke tak percaya "Artinya gelang yang dipakai Hinata itu darimu?"
"I-itu lucky item capricorn hari ini nanodayo, ta- tapi aku memberinya karna dia yang minta nanodayo, bukan karna aku ingin memberinya!"
Sasuke memijat alisnya, kepalanya pening. Ia harus meminta Hinata memasak menu dengan banyak tomat.
"Jangan berikan lucky item apapun lagi pada adikku, mengerti?"
Midorima terpaksa mengangguk.
"Lalu kau yang tinggi!" Tunjuk Sasuke pada Murasakibara yang asik memakan maibounya
"Ara~ Aku? Murasakibara Atsushi kraus kraus"
"Baik, sudah semua, kali ini a-"
"Maaf Uchiha-san, saya belum memperkenalkan diri"
Tiba tiba lelaki bersurai biru langit, berada di samping Sasuke.
Sasuke memejamkan matanya, mengatur nafas.
"Kurokocchi sejak kapan kau ada di sana ssu!"
Lelaki yang diketahui bernama Kise, melontarkan pertanyaan yang berada di benak Sasuke.
"Aku disini sejak tadi Kise-kun" Dengan wajah datarnya Kuroko menatap Sasuke
"Aku Kuroko Tetsuya"
Sasuke mengangguk "Baiklah, sekarang dengar a-"
"KYAA!!"
Suara teriakan menghentikan kata kata Sasuke.
"Itu Satsuki" Ujar Aomine sangat mengenali suara sahabat kecilnya
Momoi berteriak. Momoi bersama Hinata.
Semua mata melebar.
Dan seketika seperti kesetanan Sasuke Kisedai berlari menuju asal suara.
Dan begitu sampai disana, Sasuke merasa jantungnya nyaris berhenti melihat Hinata terduduk dengan dengan darah mengalir dari kakinya.
"Satsuki, kenapa bisa begini?!"
Sang emperor berbicara, Sasuke segera mendekati Hinata yang terduduk sambil meringis.
"Da-darahnya banyak sekali ssu" Ujar Kise
"Aku akan membawa peralatan P3K dulu, nanodayo" Midorima panik dan segera melesat ke lokernya
"Hinata kau baik baik saja?" Tanya Sasuke yang sudah jelas jawabannya
Hinata mengangguk. Tapi ringisannya mengatakan bahwa itu sakit.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Sasuke pada Momoi
"Tadi saat kami sedang mengobrol, tiba tiba ada seseorang, aku kira dia murid yang belum pulang, tiba tiba dia menunduk, menyayat kaki Hinata, lalu lari" Jelas Momoi berkaca kaca menyebabkan percikap amarah di kedua mata kelam Sasuke
"Wajahnya, kau lihat wajahnya?" Tanya Akashi mengepalkan tangan
Jadi Hinata sengaja dilukai begitu?
"Dia menutup wajahnya dengan topi jaket"
"Ini P3Knya nanodayo" Midorima datang tergesa memberikan kotak P3K pada Sasuke
Sasuke segera membalut luka Hinata, memberikan penangangan pertama.
"Kalian peduli pada Hinata?" Tanya Sasuke pada Kisedai
Mereka mengangguk serentak.
"Cari tau siapa saja yang masuk dan keluar dari sekolah ini dengan penampilan aneh, periksa cctv, malam nanti kirimkan hasilnya padaku"
Sasuke memberikan kartu namanya pada Akashi. Dan menggendong Hinata ala bridal.
"Percayakan pada kami" Jawab Akashi yang diiyakan yang lainnya
Melalui tatapan matanya Sasuke tau sorot mata para lelaki itu menajam, ada amarah juga kekhawatiran disana.
Sasuke mengangguk lantas pergi, Hinata pun tersenyum menahan sakit pada para kisedai, tak kuasa berbicara, ia takut meringis, dan Sasuke pasti akan semakin khawatir padanya.
"Biar kubantu bukakan mobilnya" Momoi berseru dan mengikuti Sasuke
Tatapan para Kisedai berkilat tajam.
"Aku marah" Ujar Kuroko dengan nada datarnya, tapi sorot matanya mengatakan hal yang sama dengan ucapannya
"Tanganku gatal ingin meninjunya" Aomine mengepalkan tangannya
"Aku ingin menangkapnya ssu" Ujar Kise dengan nada serius
"Aku ingin melempar kepalanya dengan lucky itemku, nanodayo" Midorima menggenggam bola volinya dengan kencang
"Aku akan menghancurkan orang yang menyakiti Hinata-chin" Ucap Murasakibara bahkan ia melupakan cemilannya
"Kita akan menemukannya dan menghabisinya" Akashi mengeluarkan gunting merah kesayangannya dari saku. Siap bertempur.
Bagi Akashi, Hinata spesial karna dia adalah satu satunya gadis yang tanpa kepurapuraan saat bersamanya.
Bagi Midorima, Hinata spesial karna menjadi orang pertama yang tak menganggapnya aneh.
Bagi Kuroko, Hinata spesial karna dia orang pertama yang bisa menyadari keberadaan Kuroko yang hawa keberadaannya tipis.
Bagi Aomine, Hinata spesial karna dia adalah Idolanya, Mai-chan dalam versi nyata.
Bagi Kise, Hinata adalah penyelamat hidupnya, Hinata spesial dan akan selalu spesial dimata Kise.
Bagi Murasakibara, Hinata spesial karna menjadi orang pertama yang memberinya permen pada pertemuan pertama.
Hinata adalah segala yang pertama bagi keenam pemuda itu. Dan melihat Hinata terluka dihadapan mereka?
Bersiaplah. Kisedai akan menghabisinya!
*
"Bagaimana dok?" Tanya Sasuke begitu Hinata selesai diobati.
Setelah dari THS tadi Sasuke langsung memacu mobilnya ke rumah sakit terbaik. Dengan dokter terbaik.
"Syukurlah walau lukanya cukup dalam tak mengenai pembuluh darah"
Sasuke mengembuskan nafas lega.
"Kira kira berapa hari lukanya akan sembuh?"
"Sekitar 4 hari lukanya sudah menutup"
"Adikku harus istirahat terus dirumah?"
"Dia boleh sekolah, tapi usahakan kakinya tidak terkena tendangan, dan kalau ingin sekolah dia bisa pakai tongkat"
Hinata sedikit terkikik melihat Sasuke yang cerewet seperti itu.
Kakaknya itu seperti es. Dingin. Kata kata yang keluar dari mulutnya selalu saja tajam.
Tapi, Sasuke bisa keluar dari semua karakter itu apabila menyangkut tentang keluarganya.
Dan Hinata bersyukur, terlahir sebagai adik dari Uchiha Sasuke.
"Besok istirahat dirumah saja ya?"
Suara Sasuke menyadarkan Hinata dari nostalgianya.
"Tidak Nii-san, aku harus sekolah, baru juga murid baru sudah absen" Jawab Hinata
Sasuke menatap lekat Hinata, lantas berdiri dan berjalan keluar.
Hinata yang heran segera menyusul.
"Nii-san? Nii-san kenapa? Mau kemana?"
Begitu Hinata menapakkan kaki dan mencoba berjalan, Ia meringis, Kakinya terasa sakit sekali.
Dan sebelum tubuh Hinata menyentuh dinginnya lantai, sebuah lengan kembali mengangkatnya ala bridal.
Itu Sasuke, Kakaknya.
"Nii-san bilang juga apa. Kau tak boleh masuk sekolah sampai kakimu mampu menopang tubuhmu. Tak ada penolakan, Hinata"
Kali ini, Hinata tak membantah, tau bahwa ucapan kakaknya benar.
*
Sementara itu para Kisedai sedang berkumpul di ruang cctv.
"Percuma Akashi-kun. Wajahnya tak terlihat di cctv manapun" Ujar Kuroko setelah melihat semua rekaman dari bagian cctv di sekolah
"Sepertinya dia tahu semua letak cctv sekolah ini" Aomine menyambung
"Ada satu cctv lagi" Ujar Akashi yang membuat petugas disana menelan ludahnya susah payah
"Sekolah ini punya hanya punya 12 cctv nanodayo" Jawab Midorima heran dengan pemikiran Akashi
"Ada 13, Perlihatkan padaku rekaman cctv ke 13" Titah Akashi
Para petugas heran, darimana dia tau ada satu cctv lagi?
"Ta-tapi itu hanya untuk-"
"Serahkan atau aku akan menelpon Akashi juga memberitahu Uchiha agar menarik saham dari sekolah ini" Kedua tawaran Akashi benar benar menyudutkan mereka
Cctv rahasia itu hanya boleh dilihat oleh Kepala Sekolah. Tapi dengan taruhan penarikan saham, sepertinya akan ada pengecualian.
Dengan gerak patah patah, petugas itu mengkoneksikan layar komputer dengan kejadian di cctv rahasia.
"Ada ssu!" Pekikan Kise menunjukan bahwa mereka menemukan pelakunya.
Memang samar tapi orang berjaket di rekaman tersebut sempat menoleh ke arah mesin penjual minuman, yang artinya menatap tepat di cctv rahasia.
Akashi segera mengkopi gambarnya dan mengirimkan wajah pelaku ke Intel khusus Akashi.
Dan dalam hitungan menit identitas pelaku yang melukai Hinata ditemukan.
"Hidan" Ucap Akashi mengucap nama pelaku dan membaca alamatmya serius
"6 blok dari sini"
"Ayo cepat kita kesana Aka-chin" Saking marahnya, lelaki ungu itu bahkan lupa pada snacknya
Tanpa kata Akashi segera keluar dari ruangan cctv diikuti para Kisedai
Dengan mobil Akashi mereka sampai 15 menit kemudian.
Sebenarnya mobil itu hendak menjemput Akashi, tapi dengan kemutlakannya, Akashi menyuruh supirnya turun dan menaiki mobil bersama ke5 kawannya.
*
Menangkap lelaki bernama Hidan rupanya tak sulit sebab ia tengah lengah.
Kuroko mendekatinya dengan hawa keberadaannya yang tipis dan menendang kaki lelaki beraki berambut perak itu dengan keras hingga terjatuh.
Lantas Kise datang dan berteriak tepat di telinganya membuat lelaki itu pening.
Midorima melanjutkan dengan menshoot lucky itemnya tepat mengenai kepala sang penjahat.
Hidan yang mulai menyadari situasi memburuk, segera berusaha bangkit, tapi pukulan Aomine yang tepat mengenai ulu hatinya membuatnya kembali tersungkur.
Lalu Murasakibara mencengkram tangan lelaki itu kuat, membuatnya tak bisa bergerak.
Dan Akashi datang sambil memainkan guntingnya.
"Ada apa ini?! Siapa kalian?! Aku bahkan tak mengenal satupun dari kalian!" Ujarnya membela diri, tak terima diperlakukan seperti itu oleh orang yang tak dikenalnya
"Kau melukai Uchiha Hinata. Itu alasan kami ada disini" Jawab Akashi tanpa basa basi, menatap tajam lelaki yang tiba tiba menjadi pucat pasi itu
"Kalian pasti suruhan Uchiha itu? Cih padahal aku sudah menyamar sebaik mungkin, Argh!!"
Pekiknya saat Murasakibara mengeratkan cengkraman tangannya, berniat meremukkan penjahat itu.
"Kau sudah mengakuinya. Jangan harap bisa terus hidup" Desis Akashi mematikan
"Jadi kita apakan dia Akashi?" Ujar Aomine mati matian menahan diri
"Biar guntingku yang bekerja Daiki"
Akashi memainkan guntingnya dihadapan Hidan, pria itu merasa tercekik dengan aura yang dikeluarkan Akashi. Akashi?!
"A-kashi?" Hidan terbata, wajahnya semakin pucat
"Namaku Akashi Seijuuro" Jawab Akashi menelpelkan gunting yang terbuka di hidung Hidan "Katakan apa alasanmu melukai Hinata"
Keringat turun dari pelipis Hidan. Ia harusnya tau resiko menerima tawaran untuk melukai Hinata. Pantas bayarannya besar. Resikonya mematikan.
Hidan tetap terdiam, dan dengan gerakan tiba tiba Akashi memotong rambut didekat wajah Hidan, sekaligus membuat goresan kecil dipipi lelaki itu.
"Argh! Kalau tau begini resikonya, Aku akan menolak perintah lelaki sialan itu"
"Perintah?" Tanya Akashi sambil sesekali memotong rambut Hidan acak.
"Aku diperintah melukai gadis bernama Uchiha Hinata itu"
"Siapa yang memerintahmu?"
"Berapa bayaran yang bisa kau berikan untuk informasi itu?" Aomine hampir saja kelepasan meninju lelaki itu
Saat nyawanya berada di tangan Raja Iblis. Ia masih membuat penawaran?
"Bayaran?" Dari nada suaranya jelas Akashi tak senang
"Dengan kebebasanku itu cu-"
"Atsushi remukkan tangannya" Potong Akashi
Murasakibara hampir meremukkan tangan Hidan, namun lelaki itu menjerit frustasi.
"Hyuga Neji! Dia yang memerintahku!"
Begitu kata itu terucap perlahan Murasakibara melonggarkan cengkramannya.
"Kau tak bohong?" Akashi menyelidik
"Tidak! Hyuga Neji yang memerintahku!"
"Dimana dia? Ciri cirinya bagaimana?"
"Aku tak tau, kami tak pernah bertatap muka. Aku bersumpah!"
Akashi mengeluarkan ponselnya, menelepon Sasuke, kalau nama yang diucap Hidan benar. Pasti Sasuke mengenal orang yang bernama Hyuga Neji itu.
Akashi meloudspeker teleponnya.
"Moshi moshi Uchiha-san, Aku sudah mendapatkan pelakunya"
"Bawa dia kemari" Ujar Sasuke berapi api di ujung telepom
"Dia berkata dia suruhan orang"
"Suruhan siapa?"
"Hyuga Neji" Dan begitu nama diucapkan, Akashi bisa mendengar suara gelas yang jatuh dan pecah
Diujung telepon sana ekspresi Sasuke mengeras "Hyuga Neji" Desisnya sarat amarah
-TBC-
Hallo~Gomen yaa di chapter ini interaksi GoM sama Hinatanya sedikit, banyakan interaksi SasuHina :DMau liat keproktetifan GoM ke Hinata? Tunggu chapter berikutnya yaa~Next update hari jum'at atau sabtu yaa..Makasih yang udah nyempetin baca fic ini, kalau sempat tinggalkan jejak yaa, hhe hhe XDSoalnya jejak kalian itu penyemangat~