Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi, sementara Katekyo Hitman Reborn adalah milik Amano Akira. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari pembuatan fanfik ini
Warning: AU, OOC, OC, reincarnation, violence, etc
Rating: T
Genre: Adventure
BLOOMING MISTY
By
Sky
Apa yang terjadi hari ini adalah sesuatu yang tidak pernah Tetsuya prediksikan sebelumnya, seperti menolong Sasagawa Ryohei dari pemukulan siswa SMP Kokuyo sampai Tetsuya harus menggunakan payung peninggalan Elena untuk bertarung. Ini kali pertama Tetsuya harus bertarung menggunakan ilusi, dan sesungguhnya Tetsuya sendiri terkejut kalau dirinya bisa melakukan hal itu mengingat betapa lemahnya fisik Tetsuya tersebut serta betapa sulitnya menggabungkan ilusi dengan kekuatan fisik. Rasanya seperti dirinya berubah menjadi sosok yang lain, seperti Kuroko Tetsuya ketika dirinya berada dalam sebuah pertandingan basket dengan bola berwarna oranye menjadi fokus perhatiannya seperti dulu. Meski demikian, Tetsuya merasa senang karena ia bisa menolong Ryohei dari takdir terburuknya, setidaknya dengan bantuan yang Tetsuya berikan ia tidak terluka terlalu parah, atau setidaknya pemuda itu mampu menghindari beberapa tulangnya patah karena serangan Ken yang begitu kuat tersebut.
Berbicara mengenai Ken, Tetsuya sendiri begitu penasaran akan bagaimana seorang manusia bisa berubah wujud menyerupai binatang ketika mereka memasang sebuah taring hewan di dalam mulutnya, hal ini mengingatkan Tetsuya dengan video game yang pernah ia mainkan sebelumnya. Namun, apa yang ia lihat sebelumnya bukanlah sebuah permainan dunia nyata, karena impaknya begitu nyata, Ryohei adalah bukti nyata dari penyerangan yang dilakukan oleh Ken dan mungkin akan mendapatkan kemungkinan terburuk –seperti koma di rumah sakit selama beberapa hari– bila Tetsuya tidak datang menolongnya. Bila manusia berubah menjadi binatang saja bukanlah hal yang aneh lagi, berarti orang yang memiliki api kehidupan serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang aneh juga, seperti Tetsuya sebagai contohnya. Tetsuya pernah membaca tulisan Elena yang ia temukan di dalam bukunya mengenai apa itu api kehidupan.
Pada kenyataannya setiap mahluk hidup memiliki api kehidupan dalam tubuh mereka dalam bentuk pasif, tetapi kurang dari lima persen saja dari keseluruhan yang mampu mengaktifkan api kehidupan serta memanfaatkannya dengan baik, itu artinya api kehidupan di dunia ini adalah hal yang begitu normal meski tidak banyak orang yang mengetahuinya. Entah mengapa ketika Tetsuya memikirkan hal ini dirinya merasakan senyuman kecil mereka pada bibirnya dan juga lega, apapun yang normal dalam kamus Tetsuya merupakan pertanda yang baik, meski sesungguhnya Tetsuya sendiri sudah memasrahkan diri kalau dirinya akan menjadi seseorang yang tidak normal dalam kehidupan keduanya.
Sejak dulu impian Tetsuya itu sangatlah sederhana, yaitu menjadi seseorang yang tidak terlalu istimewa serta tidak terlalu menonjol, dalam artian lain adalah seorang yang normal. Mungkin normal dalam artian lain setelah Tetsuya tahu kalau dirinya memiliki kekuatan ilusi serta api kehidupan, dan jangan lupakan pada kemampuan Tetsuya ketika ia masih menjadi Kuroko Tetsuya ia bawa sampai ia menjadi Hiwatari Nagi sekarang ini. Gadis kecil itu pun memejamkan kedua matanya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidurnya, Tetsuya terlahir sebagai seorang anak perempuan yang bernama Hiwatari Nagi, tetapi sampai saat ini Tetsuya masih belum bisa menyebut dirinya selain sebagai Kuroko Tetsuya, mungkin dalam bentuk lain lebih tepatnya. Ia tidak masalah akan hal itu, atau lebih tepatnya Tetsuya sudah mampu menerima keadaannya sedikit demi sedikit meski sebelumnya ia sulit sekali menerimanya. Kunci dari kebahagiaan dirinya adalah menerima dirinya apa adanya, tanpa penyangkalan maupun bertarung dengan dirinya.
Tetsuya menerima dirinya mendapatkan kesempatan kedua sehingga ia terlahir lagi di dunia ini. Ia juga menerima kalau dirinya berbeda dengan orang pada umumnya karena kemampuannya untuk menggunakan dan memanipulasi ilusi, serta dirinya juga masuk dalam kategori manusia yang memiliki api kehidupan aktif. Namun, menjadi seorang anak perempuan itu sulit sekali Tetsuya terima. Semua ini dikarenakan Tetsuya sering menganggap dirinya sebagai laki-laki, ia hidup selama 20 tahun pada kehidupan pertamanya sebagai seorang laki-laki, dan tentu akan menjadi 33 tahun sebagai laki-laki andaikan Kuroko Tetsuya itu hidup. Sayangnya hal yang terakhir ini tidak lebih dari sebuah angan-angan saja, ia adalah seorang Hiwatari Nagi sekarang ini, Hiwatari Nagi yang terlahir sebagai seorang anak perempuan tetapi dengan jiwa seorang laki-laki bernama Kuroko Tetsuya. Dewi keberuntungan sepertinya tidak pernah berpihak kepada Tetsuya, anak itu berpikir untuk sesaat lamanya.
"Meski terasa begitu sulit untuk diterima, tetapi ini adalah hidupku yang sekarang. Mungkin akan lebih baiknya kalau aku menjadi diri sendiri, Nagi adalah Tetsuya dan Tetsuya adalah Nagi," gumam Tetsuya pada dirinya sendiri. "Aku adalah Tetsuya dan juga Nagi pada saat yang sama."
Suaranya yang terdengar lirih tersebut tak mampu didengar oleh siapapun kecuali Tetsuya sendiri, tidak hanya karena ruangan besar itu hanya dihuni oleh Tetsuya seorang, tetapi hawa keberadaannya yang tipis akan membuat orang lain merasa kesulitan untuk menyadari keberadaannya maupun mendengar suaranya.
Dari pemikiran yang sudah ia miliki sebelum-sebelum ini, anak berambut biru gelap pendek itu pun pada akhirnya memiliki sebuah tekat yaitu ia harus menjadi diri sendiri. Ia tidak lagi akan menganggap dirinya sebagai laki-laki maupun perempuan, namun sebuah kesatuan yaitu Kuroko Tetsuya – Hiwatari Nagi, tidak lebih maupun kurang dari semua itu. Bibirnya berkedut untuk sesaat ketika jalan pikirannya tersebut dapat diterima oleh hatinya, bahkan bulatnya tekat yang Tetsuya miliki tersebut membuat semangatnya bergemuruh, lebih dari biasanya. Anak itu pun membuka kedua telapak tangannya yang terkepal, ia pun mengonsentrasikan dirinya pada energi yang ada dalam tubuhnya untuk membuatnya menjadi nyata serta menuju permukaan kulitnya, dan satu detik kemudian telapak tangan yang kosong tersebut kini memiliki api kehidupan berwarna biru indigo yang muncul di atasnya. Api kehidupan tersebut terlihat begitu jernih, biru indigo jernih serta berselimut biru yang cemerlang, dan tanpa Tetsuya sadari pun ia bisa merasakan betapa kuatnya api kehidupan yang terpancar dari kedua telapak tangannya tersebut.
Semakin kuat tekat seseorang, maka semakin kuat pula api kehidupan yang mereka hasilkan. Tetsuya teringat akan tulisan yang Elena guratkan pada buku yang ia miliki, dan dari sini Tetsuya pun menyadari kalau tekatnya untuk menerima dirinya sendiri memang begitu kuat sehingga dirinya mampu menghasilkan api kehidupan yang begitu kuat dan juga murni seperti ini. Anak itu tidak ingat sudah berapa lama ia melakukan hal ini, menunjukkan api kehidupannya pada dunia di dalam kamar pribadi milik Tetsuya tanpa orang lain ketahui, begitu kuat serta cemerlang, sebuah kemurnian yang tidak bisa dipungkiri oleh pengguna api kehidupan yang aktif. Tidak sedetik pun Tetsuya mengalihkan pandangannya dari dua api kehidupan berjenis sama yang ia hasilkan, ia masih merasa takjub akan apa yang ia lakukan serta hanya di kehidupan inilah Tetsuya melakukannya. Dari buku milik Elena, Tetsuya mengetahui api kehidupan dibedakan menjadi dua kategori umum, yaitu api kehidupan yang berasal dari langit dan juga api kehidupan yang berasal dari bumi. Api milik Tetsuya adalah api kehidupan tipe kabut, merupakan salah satu bagian api kehidupan dari langit. Di samping api tipe kabut seperti milik Tetsuya, dalam api yang berasal dari langit juga memiliki enam tipe lainnya, yaitu tipe langit, matahari, awan, hujan, petir, dan juga badai. Dari keseluruhannya, masing-masing memiliki dua karakteristik yang berbeda dan hal ini didasarkan dari pemilik api kehidupan itu sendiri. Karakteristik api kehidupan klasik dan juga api kehidupan intervasi.
Dalam kasus Tetsuya, api kehidupannya merupakan jenis api kehidupan kabut bertipe intervasi. Tetsuya bukanlah seorang yang ekstrovert seperti pengguna api kehidupan kabut klasik, dan ketika anak itu menggunakan api kehidupannya dirinya condong memeluk api kehidupan itu sendiri serta menariknya ke dalam, itulah yang membuat Tetsuya menjadi tipe pengguna api kehidupan kabut dalam jenis intervasi. Sesungguhnya Tetsuya sendiri tidak terlalu paham akan penjelasan yang Elena tuliskan dalam bukunya, mengingat bahasa Italia yang Tetsuya kuasai tidak terlalu bagus. Namun, yang membuat Tetsuya percaya kalau dirinya adalah seorang intervasi adalah penjelasan Elena mengenai seseorang yang bernama Daemon begitu berbeda dengan Tetsuya, dan hal itu pun menurutnya cukup menarik untuk ia kupas lebih dalam lagi.
"Andai saja aku bisa bertemu dengan Spade-san, mungkin aku bisa belajar lebih banyak darinya," kata Tetsuya lagi, yang lagi-lagi ditujukan kepada dirinya.
Kedua mata biru milik anak itu terus-terusan menatap kedua api kehidupan tipe kabut yang ia lepaskan di udara. Dan birunya warna api tersebut tanpa sengaja mempengaruhi kedua pupil milik Tetsuya, menghipnotisnya untuk beberapa saat lamanya sebelum kedua iris Tetsuya membesar dan warna biru yang ada di kedua matanya tersebut bertambah lebih terang dari sebelumnya. Andaikata Tetsuya tengah menghadap cermin sekarang ini, tentu ia akan terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya, karena pembesaran pupil miliknya dengan warna yang lebih terang dari warna mata yang sebelumnya adalah tanda mata kaisar milik Kuroko Tetsuya bangkit seperti yang pernah terjadi di kehidupan pertamanya. Tetsuya tidak menyadari hal ini, karena sedetik ia mengamati api kehidupan yang ia ciptakan, dan detik berikutnya Tetsuya hanya bisa melihat gelap untuk beberapa saat lamanya.
Warna gelap yang menyelimuti pandangan Tetsuya pun kini mulai pudar karena cahaya yang sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam matanya, memberikan penerangan bagi Tetsuya sehingga anak itu bisa melihat lurus ke depan, serta pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Aku ada di mana?" Tanya Tetsuya pada dirinya sendiri, anak itu pun menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat ada di mana dirinya sekarang karena saat itu Tetsuya sadari dirinya sudah tidak berada di dalam kamarnya seperti beberapa saat yang lalu.
Anak itu tengah berdiri di hadapan sebuah tangga di dalam bangunan yang sama sekali tidak ia kenali, sepertinya bangunan tersebut sudah tidak berpenghuni dan bertahun-tahun ditinggalkan oleh manusia. Tetsuya melihat banyak sampah berserakan di mana-mana, pun dengan puing-puing bangunan serta gorden warna merah yang sobek di sana-sini. Ketika Tetsuya menoleh ke arah jendela, ia pun mengemukan kaca jendela yang seharusnya terpasang pada bingkainya pun kini sudah tidak ada di sana. Ia benar-benar penasaran mengapa dirinya bisa berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat, karena ingatan terakhir yang Tetsuya miliki adalah dirinya tengah berada di dalam kamarnya yang ada di rumah besar kediamanan Hiwatari.
Bangunan tersebut cukup menyeramkan, dan andaikata Tetsuya seorang yang penakut pasti anak itu akan segera berlari keluar dari tempat itu, meninggalkannya tanpa mau berada di sana barang sedetik pun. Namun, rasa penasaran pun menyelimuti sosok mungil berambut biru tersebut, sehingga gadis kecil itu pun memutuskan untuk menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai atas. Di samping itu, insting yang Tetsuya miliki pun menyuruh anak itu untuk menaiki tangga tersebut. Rasanya seperti ada sesuatu yang perlu Tetsuya lihat dan apapun itu tidak membiarkan Tetsuya untuk pergi begitu saja tanpa melihatnya terlebih dahulu, oleh karenanya Tetsuya pun segera beranjak untuk menuju ke sana.
Langkah demi langkah pun Tetsuya ambil, dirinya begitu berhati-hati saat menaiki anak tangga tersebut karena ia takut terjatuh begitu saja, bangunan tersebut sudah tak terawat sehingga Tetsuya yakin tidak sekokoh dulu, dan bila dirinya salah langkah maka sudah bisa dipastikan ia akan terjatuh begitu saja. Tetsuya tidak tahu bagaimana dirinya bisa berada di tempat ini, namun terluka di tempat asing seperti ini adalah apa yang ingin ia hindari. Setibanya Tetsuya di sebuah ruangan yang ia yakini berupa teater atau sesuatu seperti itu ketika tempat ini masih jaya, ia mendengar beberapa suara keras seperti adanya sebuah perkelahian di ruangan itu. Penasaran, Tetsuya pun semakin masuk ke dalam dan ia pun menemukan beberapa mahkota dari bunga sakura berterbangan di tempat itu.
"Sakura?" Tanya Tetsuya pada dirinya sendiri, anak itu mengulurkan tangan ke depan ketika beberapa buliran bunga sakura tersebut menyambut kedatangannya, bahkan sebuah kelopak warna merah muda dari bunga asli Jepang itu pun mendarat pada permukaan tangan Tetsuya yang terbuka.
Kali ini rasa penasaran Tetsuya semakin tinggi karena tiba-tiba saja Tetsuya berada di tempat seperti ini serta menemukan dirinya dihujani oleh bunga Sakura. Namun, semua itu tidak sebanding dengan apa yang tersaji di hadapannya. Tetsuya bisa merasakan kedua matanya terbuka sedikit lebih lebar saat ia melihat perkelahian oleh dua orang pemuda yang sama sekali tidak Tetsuya kenali tengah terjadi di hadapannya, sebuah perkelahian yang terlihat begitu tidak seimbang karena pemuda berambut hitam tersebut terlihat tidak sehat serta kewalahan ketika menghadapi lawannya. Seperti hujan mahkota merah muda bunga sakura ini membuat pemuda itu semakin sakit, tapi tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Tetsuya tidak pernah mendengar seseorang yang alergi dengan bunga sakura.
Pemuda berambut biru gelap terikat seperti pucuk nanas itu menghajar habis-habisan seorang pemuda berambut hitam. Ketika Tetsuya mendekat tanpa diketahui oleh dua orang pemuda itu, Tetsuya menemukan kalau pemuda yang tengah berlutut akibat rambutnya digenggam oleh pemuda berambut biru itu adalah orang sama yang berpapasan dengan Tetsuya ketika anak itu meninggalkan rumah sakit pagi tadi. Dan melihat ekspresi yang pemuda berambut hitam tersebut, sepertinya ia terlihat tidak sehat, mungkin kah ia sakit dan terus memaksakan diri untuk menghadapi pemuda berambut biru itu?
"Kufufufu... sepertinya Hibari Kyoya yang dirumorkan sangat kuat itu tidak lebih dari seorang lemah yang bermulut besar," pemuda berambut biru tersebut berucap, tanpa basa-basi lagi ia pun menghantamkan lutut kanannya pada kepala pemuda yang bernama Hibari tersebut sampai Hibari terjungkal ke belakang setelahnya dengan mulut dan hidung yang berlumuran darah.
Tetsuya mengeluarkan suara penuh keterkejutan, cukup keras untuk didengar oleh dua orang pemuda tersebut, tetapi anehnya mereka berdua tidak menyadari Tetsuya ada di sana. Satu hal yang tidak Tetsuya sukai adalah kekerasan, dan adegan kekerasan yang tersaji di hadapannya tersebut membuat perut Tetsuya mual. Bahkan tak jarang Tetsuya menutup mulutnya menggunakan kedua jemari tangannya ketika pemuda berambut biru tersebut kembali menghajar Hibari –yang tidak bisa melakukan apapun pada saat itu– sampai Hibari babak belur dan terluka parah, lebih dari sebelumnya. Bau anyir darah yang bercampur dengan wanginya bunga sakura membuat Tetsuya semakin mual. Tanpa Tetsuya sadari, kedua kakinya pun menuntun anak itu untuk maju ke depan. Ia baru saja akan menyentuh bahu pemuda berambut biru tersebut sebelum sebuah tangan menangkap lengannya dari belakang, membuat Tetsuya menoleh ke belakang dan menemukan seorang wanita cantik berambut pirang ikal panjang yang mengenakan gaun berwarna putih tengah berdiri di sana. Wanita itu tersenyum kepada Tetsuya, begitu lembut namun juga misterius pada saat yang sama, dan wanita itu pun juga meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, menyuruh Tetsuya untuk tidak melakukan apapun.
Anehnya Tetsuya tidak bisa berontak karena itu, dan ketika ia akan membuka mulutnya untuk bertanya pada wanita itu, sebuah cahaya yang begitu terang dan sangat menyilaukan menyinari tempat di mana mereka berada, membuat Tetsuya buta untuk beberapa saat lamanya. Anak itu pun memejamkan kedua matanya untuk menghindari semua hal tersebut.
Ketika Tetsuya membuka kedua matanya untuk yang kedua kalinya, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya dan ia tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Tetsuya tidak berada di sebuah gedung yang terbengkalai, tidak menyaksikan seorang yang bernama Hibari tengah dihajar habis-habisan, maupun dengan sosok wanita berambut pirang yang menyuruhnya diam. Tetsuya tidak pergi ke mana-mana, ia masih tiduran di atas tempat tidur dan tersadar dari lamunannya, atau sesuatu yang barusan ia lihat tanpa bisa ia sadari apa itu.
Tetsuya pun menyadari kalau dirinya berkeringat dan napasnya tersengal-sengal, bahkan tenaganya pun juga terasa begitu terkuras, seperti Tetsuya baru saja melakukan lari maraton keliling kota sebelum kemudian pingsan di tempat akibat kelelahan, tapi perumpamaan itu sangatlah tidak sesuai dengan apa yang terjadi sekarang ini, karena Tetsuya tidak pernah beranjak keluar dari dalam kamarnya apalagi melakukan lari maraton seperti dalam angannya tersebut. Semuanya terasa aneh, penglihatan yang barusan Tetsuya lihat sama sekali tidak masuk akal. Tetsuya ingin sekali mengatakan kalau apa yang ia lihat barusan tidak lebih dari sebuah mimpi buruk belaka yang tidak terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi sebanyak apapun Tetsuya menyangkal hal itu hatinya tidak sependapat akan apa yang ia pikirkan, malahan hati Tetsuya mengatakan kalau apa yang ia lihat sebelumnya adalah sebuah hal yang tengah terjadi sekarang ini dan seharusnya Tetsuya berada di tempat itu. Penglihatannya tersebut merupakan sebuah pertanda, sesuatu yang harus Tetsuya ketahui karena hal itu akan bersangkutan dengan hidup Tetsuya kelak.
Penglihatan ke masa depan, entah kenapa hal ini malah semakin mirip dengan sebuah cerita konyol yang tidak memiliki akhir, pikir Tetsuya kepada dirinya. Anak itu pun memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya, mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lihat hanyalah sebuah mimpi meski hatinya bergemuruh tidak setuju. Andaikata apa yang ia lihat barusan memang terjadi sekarang ini, memang Tetsuya bisa apa untuk mencegahnya? Terlebih lagi Tetsuya juga tidak mengenal mereka berdua.
Pemuda berambut hitam yang terlihat tengah sakit ketika bunga sakura berjatuhan kepadanya tersebut bernama Hibari Kyoya –pemuda berambut biru menyebut namanya sebagai Hibari Kyoya–, pemuda sama yang Tetsuya lihat secara tidak sengaja ketika ia berpapasan dengannya. Sementara pemuda berambut biru yang tengah menghajar Hibari itu juga entah kenapa rasanya begitu familier dengan Tetsuya, seperti Tetsuya tahu siapa orang itu namun pada saat yang sama ia tidak mengenalnya. Tapi...
"Siapa wanita berambut pirang itu?" Tanya Tetsuya dengan suara sedikit keras, ia pun membuka kedua matanya sebelum bangkit dari tempat tidurnya.
Wanita berambut pirang tadi adalah satu-satunya orang yang menyadari keberadaan Tetsuya, bahkan ia juga merupakan satu-satunya orang yang mampu menyentuh Tetsuya ketika ia berada dalam benaknya tadi. Tetsuya tidak mengenal wanita itu, atau setidaknya tidak seperti dengan dua orang pemuda yang tengah berkelahi tersebut. Oleh karena itu tidak heran lagi kalau Tetsuya merasa penasaran, dirinya ingin tahu siapa wanita tersebut dan bagaimana ia bisa muncul dalam penglihatannya. Tetsuya pun memeluk kedua lututnya dan mendekatkannya pada dadanya seraya meletakkan dagunya pada kedua lutut tersebut, tatapan anak itu pun kini terarah pada sebuah buku tua bersampul kulit warna kecoklatan yang ada di meja nakasnya, buku itu adalah buku yang ia dapatkan dari toko barang antik milik Kawahira, buku catatan milik Elena yang selama ini membantu Tetsuya untuk menggunakan ilusi serta api kehidupan kabutnya tersebut.
Kesal, itulah perasaan yang Tetsuya rasakan sekarang ini, ditambah pula dengan perasaan khawatir sekaligus penasaran maka lengkap sudah penderitaannya untuk hari ini. Tetsuya bisa menjelaskan mengapa ia merasa kesal maupun penasaran, tapi dengan perasaan khawatir? Sama sekali tidak beralasan. Mungkin kah Tetsuya khawatir dengan keadaan Hibari Kyoya yang tengah dihajar oleh pemuda berambut biru yang ia lihat dalam penglihatannya? Tidak masuk akal, Tetsuya tidak mengenal siapa itu Hibari meski ia pernah melihatnya sekali pada hari ini. Tapi, lagi-lagi dada Tetsuya bergemuruh hebat setelah ia mendapatkan penglihatan tersebut, seperti instingnya memberitahu kalau sesuatu yang berbahaya tengah terjadi di kota ini, dan apapun yang terjadi tersebut akan mempengaruhi hidup Tetsuya baik ia menyukainya maupun tidak.
"Ini benar-benar menyebalkan," ujarnya pada diri sendiri.
Melihat hatinya tidak bisa tenang kalau ia berdiam diri seperti sekarang dan tidak melakukan apapun, Tetsuya pun memutuskan untuk bergerak serta pergi menuju tempat yang ada dalam penglihatannya. Tetsuya tahu kalau ia begitu bodoh karena menuruti penglihatan yang ia dapat, mengingat apa yang ia lihat itu belum tentu sebuah kenyataan dan mungkin saja tidak lebih dari sebuah delusi, tetapi Tetsuya tidak menyukai ketidakpastian yang hatinya rasakan sekarang ini. Oleh karena itu, untuk kali kedua pada hari ini Tetsuya pun akan menuruti kata hatinya.
Ia pun segera turun dari tempat tidurnya, menghiraukan bagaimana tubuhnya menggigil perlahan ketika kakinya yang tak mengenakan alas kaki barang sedikit pun menyentuh lantai dingin yang tak berkarpet. Tetsuya menghiraukan itu, ia segera mengambil payung milik Elena –yang sekarang menjadi miliknya– dan juga sebuah tas ransel kecil yang berisi kotak pertolongan pertama serta sebotol air, insting Tetsuya mengatakan kalau ia akan membutuhkan benda-benda itu sehingga ia pun membawanya, setelahnya ia pun segera mengenakan sepatu kets berwarna putih dan tidak lupa dengan sebuah topi serta membawa peta. Untuk barang yang terakhir ini Tetsuya yakin ia sangat membutuhkannya, mengingat anak itu baru berada di kota ini sejak tiga bulan yang lalu, artinya kemungkinan besar Tetsuya bisa tersesat kapan saja.
Ketika anak itu berada di ambang pintu kamarnya, tiba-tiba saja ia teringat pada pakaian yang dikenakan oleh pemuda berambut biru yang ada dalam penglihatannya. Pemuda itu mengenakan seragam sekolah berwarna hijau tua, baju yang sama dengan yang Ken kenakan ketika mereka bertarung satu sama lain pagi tadi. Sepertinya hal ini bukanlah sebuah kebetulan semata, kalau memang pemuda itu memiliki hubungan dengan Ken pasti pemuda itu adalah salah seorang murid SMP Kokuyo yang melakukan penyerangan terhadap murid SMP Namimori, tidak salah lagi. Tetsuya pernah mencuri dengar dari beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya mengenai rumor geng kecil yang menakutkan dari SMP Kokuyo, mereka mengatakan kalau geng tersebut membuat taman bermain Kokuyo yang sudah bertahun-tahun ditelantarkan oleh pihak pemerintah kota Kokuyo sebagai markas mereka, dan bila tempat yang Tetsuya lihat dalam penglihatannya merupakan tempat yang sama, yaitu taman bermain Kokuyo, berarti tujuan Tetsuya sekarang ini adalah taman bermain Kokuyo.
"Semoga tebakanku tersebut tidak salah," ujar Tetsuya pada dirinya sendiri. "Karena kalau salah maka aku tidak akan bisa tiba dengan tepat waktu."
Tetsuya pun segera membuka peta yang tadi ia ambil dari lemari bukunya, dengan sabar ia segera mencari letak kota Kokuyo yang terletak tidak terlalu jauh dari Namimori, bahkan Tetsuya sendiri merasa beruntung karena di dalam peta yang tengah ia baca tersebut dirinya menemukan letak taman bermain Kokuyo juga. Melihat tahun yang tertera pada sudut kanan atas peta itu, tidak heran kalau taman bermain Kokuyo masih tercantum di dalamnya karena peta ini adalah keluaran tahun lama. Bagi Tetsuya hal tersebut tidak masalah, asalkan tempatnya itu jelas dengan koordinat yang sesuai ia pun bisa membayangkan di mana letak tempat yang dimaksud. Tetsuya tidak berencana untuk berjalan kaki menuju ke taman bermain Kokuyo ataupun menggunakan kendaraan umum, ia tidak membutuhkan semua itu karena api kehidupan jenis kabut bisa digunakan untuk memindahkan sesuatu ke sebuah tempat yang berbeda, seperti yang pernah Tetsuya lakukan kepada Ken pagi tadi.
Buku Elena yang menjadi panduan bagi Tetsuya memberikan sebuah informasi kalau untuk melakukan ilusi tingkat tinggi maka seorang ilusionis seperti dirinya membutuhkan medium yang kuat untuk menyalurkan api kehidupan kabut. Medium yang dimaksud harus terbuat dari metal khusus sehingga benda tersebut mampu menahan tekanan yang berasal dari api kehidupan, dalam kasus Tetsuya ia memiliki payung Elena sebagai medium yang dimaksud, namun Tetsuya sendiri ragu apakah benda itu mampu menahan kekuatan anak itu dengan kondisinya yang begitu rapuh. Andai saja Tetsuya tidak pernah membaca bagian terakhir mengenai payung milik Elena, maka Tetsuya tidak akan mengetahui kalau payung tersebut merupakan wujud pertama dari senjata Elena setelah Elena menyegelnya. Tetsuya pernah menduga kalau payung rapuh seperti yang ia miliki tersebut tidak mungkin bisa dijadikan sebagai senjata untuk bertarung, susunannya terlalu rapuh dan metal yang membangunnya juga tidak kuat, sehingga Tetsuya pun pernah berasumsi kalau Elena menyembunyikan wujud asli senjatanya sebagai payung berwarna putih indigo tersebut. Dan kelihatannya dugaan Tetsuya pun terbukti.
Anak itu mengingat-ingat bagaimana caranya untuk melepas segel yang Elena pasang pada payungnya, ada satu paragraf yang cocok untuk menjelaskan segalanya, dan semua itu berkaitan dengan api kehidupan dalam skala besar namun pada saat yang sama juga berada dalam skala kecil. Tetsuya menganalisa ide tersebut, ia tidak akan bisa melepaskan api kehidupan dalam skala besar namun kecil pada saat yang sama, kecuali kalau ia menekannya dan kemudian mengarahkan aliran energi tersebut kepada senjata yang dimaksud. Namun, untuk memberikan proporsi yang sesuai ia harus mampu melihat api tersebut dengan jelas, tetapi aliran api kehidupan sangat sukar untuk dilihat kecuali bagi mereka yang benar-benar memiliki mata yang begitu tajam. Tetsuya bukalah orang yang memiliki penglihatan yang tajam, kecuali kalau ia menggunakan mata kaisarnya seperti apa yang Akashi pernah lakukan ketika bertanding menghadapi lawannya, dengan bantuan mata kaisar ia akan mampu mengobservasi aliran yang dimaksud. Sayangnya hal itu mustahil untuk dilakukan, Tetsuya mungkin masih memiliki hawa keberadaannya yang sangat tipis, tetapi ia tidak tahu apakah dirinya masih memiliki kemampuan untuk menggunakan mata kaisarnya apa tidak, dan pada situasi pelik seperti ini Tetsuya tidak memiliki banyak waktu untuk mencobanya.
Akashi pernah memberitahunya dulu kalau mata kaisar yang sudah diaktifkan tersebut adalah sesuatu yang sensitif, tidak bisa digunakan secara sembarangan maupun tidak tepat waktu karena risiko yang diberikan sangat besar, berupa kebutaan permanen. Tetsuya tentu tidak menginginkan dirinya buta dalam usia yang masih begitu muda, oleh karena itu Tetsuya pun tidak ingin mencoba-coba sesuatu yang hasilnya tidak ia ketahui secara pasti.
Nanti, kalau aku ada waktu maka aku akan mencoba untuk mematahkan segel payung ini. Untuk sekarang ini aku harus segera bergegas sebelum semuanya terlambat, pikir Tetsuya kepada dirinya. Anak itu merasakan jantungnya berdetak dengan begitu keras, tidak beraturan yang membuatnya semakin gelisah ketimbang tadi.
Mengambil napas dalam-dalam, anak itu pun meletakkan peta yang tadi ia pegang di atas lantai sebelum Tetsuya mengambil payung peninggalan Elena yang tadi ia sandarkan pada dinding kamar. Tetsuya memegang payung tersebut dengan kedua tangannya, begitu erat dan dengan mata terpejam. Dalam diam Tetsuya bisa merasakan inti api kehidupannya yang berada di dalam tubuhnya bergetar, menyalurkan api kehidupan tersebut sampai aura yang berwarna biru indigo dengan balutan warna putih pun menyelimuti sosok mungil Tetsuya, ia begitu berhati-hati dalam menyalurkan api kehidupannya pada metal yang ia pegang tersebut, ia tidak ingin mengalirkan api kehidupan dalam porsi besar maupun kecil, ia harus menyeimbangkan semuanya. Dalam benaknya, Tetsuya membayangkan lokasi taman bermain Kokuyo yang ada di perbatasan kota Namimori dengan Kokuyo, lalu ia pun menggabungkan gambaran lokasi yang ia lihat dari peta dengan gambaran taman bermain tersebut yang sebenarnya, berupa taman bermain yang ditinggalkan serta terabaikan. Tetsuya mampu membayangkannya dengan jelas karena penglihatan yang ia lihat beberapa saat yang lalu. Ketika semuanya sudah mencapai keseimbangan yang Tetsuya maksud –dan di sini Tetsuya bisa merasakan bulir keringat mengalir dari keningnya–, kabut berwarna biru indigo pun muncul dari udara kosong dan mereka menyelimuti sosok Tetsuya. Saat kabut tebal yang munculnya begitu misterius tersebut menghilang, Tetsuya pun sudah tidak ada di tempat itu, ia menghilang atau lebih tepatnya berpindah tepat sesuai dengan gambaran yang ia miliki dalam benaknya tadi.
Hutan yang berada di pinggiran taman bermain Kokuyo itu sangat menyeramkan karena pepohonan yang tumbuh di sana begitu lebat, membuat sinar matahari sedikit susah untuk masuk ke dalamnya, dan suara-suara hewan liar yang menghuni tempat itu juga menambah aura seram yang hutan itu pancarkan. Andai saja Tsuna tidak melihat Fuuta masuk ke dalam hutan itu setelah ia muncul beberapa saat yang lalu di hadapannya dan yang lainnya, ia pun tidak akan masuk ke dalam hutan yang menyeramkan tersebut, Tsuna tidak ingin tersesat di dalam sana apalagi harus merenggang nyawa akibat kecerobohannya. Membayangkan dirinya mati akibat tersesat serta bertemu dengan orang menyeramkan macam pemuda yang bisa berubah wujud menjadi setengah hewan atau lebih parahnya adalah Rokudo Mukuro sendiri, membuat Tsuna pucat setengah mati. Ia ingin keluar dari tempat itu sekarang juga, tapi Tsuna yang begitu khawatir pada Fuuta pun tidak mampu melakukan hal itu, oleh karenanya ia terus masuk dan memanggil nama Fuuta.
Beberapa menit pun berlalu dan Tsuna sama sekali tidak melihat tanda-tanda adanya Fuuta di tempat itu.
"Fuuta! Fuuta! Jawab aku!" Teriak Tsuna yang tengah memanggil Fuuta, ia harap anak itu baik-baik saja, ia begitu khawatir pada Fuuta.
Perhatian Tsuna yang begitu terfokus untuk mencari sosok Fuuta pun langsung teralihkan ketika tiba-tiba saja ia merasakan kehadiran sesuatu dari belakang, dan apa yang ia rasakan tersebut berubah menjadi nyata ketika suara gemerisik dari semak-semak pun terdengar, membuatnya langsung menengok ke belakang dengan senyum kecil terpatri di bibirnya.
"Fuuta!" Panggil Tsuna dengan penuh harap kalau siapapun yang muncul dari belakang adalah Fuuta.
Sayangnya harapan dari Tsuna pun kandas karena orang yang keluar dari balik semak-semak tersebut bukanlah Fuuta, melainkan seorang pemuda yang tidak Tsuna kenal, terlebih lagi yang membuat bulu kuduk Tsuna berdiri adalah seragam yang dikenakan oleh pemuda berambut biru –dengan model rambut yang menyerupai pucuk nanas– tersebut adalah seragam siswa SMP Kokuyo.
"HIIIEE...Siswa Kokuyo?!" Seru Tsuna dengan nada yang penuh akan keterkejutan serta ketakutan di dalamnya, dan karena itu pula ia pun langsung terjatuh ke belakang kala ia ingin mundur beberapa langkah.
"Syukurlah kau datang ke tempat ini, aku pikir kau adalah mereka tadi. Aku benar-benar tertolong," ujar pemuda berambut biru tersebut dengan senyum ramah terpatri di bibirnya.
Nadanya yang mengisyaratkan kelegaan serta sorot mata yang tidak bisa Tsuna artikan tersebut membuat sang Pewaris Vongola tersebut beranggapan kalau pemuda ini bukanlah komplotan dari geng Rokudo Mukuro yang harus ia tangkap, Tsuna pun merasa begitu lega karena ini. Dengan senyum kecil namun kikuk yang muncul di bibirnya, Tsuna pun bertanya kepada pemuda berambut biru tersebut apakah ia diculik dan disekap di tempat ini. Tsuna sama sekali tidak memiliki kecurigaan meski ia merasakan semuanya begitu aneh, tentang mengapa pemuda itu bertanya mengenai bayi yang tidak lain adalah Reborn, dan semuanya pun semakin bertambah janggal ketika aura yang begitu mematikan menyelimuti tubuh pemuda itu, pun dengan mata kanannya yang sedari tadi tertutupi oleh poni depannya kini mulai terlihat dan memancarkan warna merah.
Tsuna membeku di tempat, bahkan ia pun tidak bisa pergi dari sana ketika pemuda itu datang mendekat ke arahnya. Kedua kakinya gemetaran, wajahnya memucat, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, Tsuna ingin segera kabur karena intuisinya benar-benar mengisyaratkan alarm tanda bahaya. Ia berharap siapapun bisa menolongnya dalam situasi sekarang ini, tidak peduli siapa orang tersebut.
Dan seperti Tuhan telah mendengar doa Tsuna, seseorang pun muncul di tempat itu dan tanpa Tsuna sadari lengan kanannya pun ditarik oleh orang itu, membuatnya berlari untuk mengikuti sosok tersebut, meninggalkan pemuda berambut biru yang terlihat terkejut akan respon cepat dari seseorang yang keberadaannya tidak ia sadari terlebih dahulu.
"Te-terima kasih..." sahut Tsuna dengan napas yang tersengal-sengal padahal kurang dari satu menit mereka berlari meninggalkan tempat tadi. Tsuna memang lemah dalam pelajaran olahraga, tidak heran kalau Reborn sering membully-nya karena itu. "Ano..."
Sepasang mata hazel milik Tsuna pun mengikuti gerak tubuh dari penyelamatnya. Seorang anak laki-laki yang bertubuh sedikit lebih kecil darinya dengan rambut pendek berwarna biru gelap. Anak itu memiliki sebuah ransel kecil di punggungnya serta payung aneh di tangan kanannya, dan melihat penampilannya yang mengenakan baju kasual maka Tsuna menyimpulkan kalau ia bukanlah seorang siswa SMP Kokuyo seperti yang barusan ia temui tadi.
Tsuna ingin mengatakan sesuatu lagi kepada anak yang tidak melepaskan genggamannya itu dari pergelangan tangannya, tapi sayangnya karena kepayahan Tsuna pun tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun kepadanya, ia benar-benar kelelahan hanya karena berlari kurang dari dua menit. Tidak heran kalau Reborn terus mengatakan betapa payah dan Dame-nya Tsuna tersebut, entah mengapa ia langsung diselimuti oleh aura mendung yang disebabkan oleh depresi yang berlebihan. Tsuna memang begitu dame, tidak heran kalau ia akan kepayahan dalam melakuka olahraga kecil seperti ini. Hampir saja Tsuna terjungkal akibat kakinya terasa kaku kalau saja anak itu tidak menghentikan langkahnya serta menyeimbangkan tubuh Tsuna dengan memeluknya singkat, membuat keduanya jatuh di atas lantai hutan dengan Tsuna berada di bawah tubuh mungil anak itu.
"Aduh...duh... maafkan aku. Aku benar-benar tidak kuat berlari lagi sampai aku hampir pingsan," sahut Tsuna dengan nada memelas. Perlahan ia pun membuka kedua matanya yang tanpa sadar ia pejamkan, dan Tsuna menatap ke atas tepat ke arah anak laki-laki yang kini duduk di atas pangkuannya serta menatapnya dengan tatapan yang begitu kalem tersebut.
Helaian rambut biru yang terlihat begitu halus dan membingkai wajahnya, lalu dengan sepasang mata berwarna biru gelap yang begitu besar tersebut tengah menatap Tsuna dengan lekat dan membuat Tsuna tanpa sadar merona di wajahnya. Satu kata yang bisa Tsuna utarakan ketika ia melihat wajah penyelamatnya tersebut, dan kata yang dimaksud adalah 'manis'. Anak ini benar-benar manis, bahkan Tsuna pun ragu kalau anak itu adalah seorang laki-laki meski potongan rambutnya pendek dan ia mengenakan pakaian anak laki-laki, tidak ada anak laki-laki yang terlihat seperti boneka porseleain mahal dan semanis ini.
Berpikir apa aku ini. Dia adalah seorang laki-laki, bisa-bisanya aku menganggapnya manis. Aku masih suka Kyoko-chan dan juga seorang laki-laki normal, jerit Tsuna dalam hati.
"Tadi itu sangat berbahaya," bibir mungil milik pemuda yang menyelamatkannya dari siswa Kokuyo misterius itu pun membuat Tsuna kembali fokus, ia menemukan pemuda itu kini sudah beranjak dari posisinya di atas Tsuna, bahkan anak itu pun mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Tsuna berdiri. "Tidak seharusnya kau memberitahukan sesuatu yang vital kepada orang yang barusan kau kenal."
"Eh?" Tsuna benar-benar gagal paham akan maksud anak ini, ia menerima uluran tangan anak itu yang kini membantunya berdiri.
Ekspresi kalem yang terpancar pada wajah anak berambut biru itu pun sama sekali tidak berubah barang sedikit pun, bahkan tatapan yang terasa begitu lekat dari anak itu pun membuat Tsuna menjadi semakin kikuk dari sebelumnya. Ia ingin bertanya siapa anak itu dan mengapa ia bisa berada di taman bermain Kokuyo seorang diri melihat tempat ini begitu berbahaya, dalam artian lain Tsuna pun merasa khawatir pada sosok mungil yang ada di hadapannya tersebut. Seolah tahu akan apa yang Tsuna pikirkan, anak itu pun menyunggingkan sebuah senyum kecil yang hanya bertahan kurang dari satu detik, tetapi Tsuna sendiri mampu menangkapnya.
Perhatian Tsuna dan anak itu pun berpindah kala mereka mendengar keributan yang terjadi di bawah sana, hal ini membuat pertanyaan Tsuna seputar anak misterius tersebut menghilang begitu saja karena ia begitu penasaran akan apa yang terjadi. Perlahan, Tsuna pun menengok ke bawah dan menemukan baik Gokudera terkapar di atas tanah sementara Yamamoto tengah melawan seorang pria berambut hitam yang Tsuna ketahui bernama Rokudo Mukuro. Pria itu terlihat begitu kuat karena ia mampu mengendalikan bola besi yang begitu besar dan berat seolah benda itu bukan apa-apa, dan tidak heran kalau Yamamoto kewalahan dalam menghadapinya.
"Hiiiee... Yamamoto..." Tsuna langsung panik ketika Mukuro menghantamkan bola besi besar itu kepada Yamamoto, membuat sahabat Tsuna tersebut terpental ke belakang.
Tsuna begitu khawatir kepada mereka, sehingga tanpa mengucap sepatah kata apapun kepada pemuda berambut biru pendek yang menolongnya tersebut ia pun langsung berlahir menuruni bukit untuk tiba di tempat penyerangan itu. Tsuna mungkin memang takut dan juga pengecut, namun dirinya tidak ingin melihat teman-temannya terluka begitu saja. Dalam kepanikannya, Tsuna sama sekali tidak sadar kalau anak yang menolongnya tadi mengulaskan senyum kecil ke arahnya, sepertinya anak itu mengetahui apa yang tengah Tsuna pikirkan dan ia pun menyukai hal tersebut. Setia kawan, anak itu menyukai Tsuna dengan sifat tersebut.
Untuk sesaat Tetsuya masih bertahan pada posisinya berdiri di tepi tebing yang tidak terjal itu, ia menatap sosok pemuda berambut kecoklatan jabrik yang ia selamatkan dari pemuda berambut biru yang Tetsuya lihat dari penglihatannya tadi. Pemuda berambut biru itu adalah orang yang sangat berbahaya, Tetsuya bisa merasakan aura yang menyelimuti sosok pemuda itu, begitu gelap dan dipenuhi oleh aura ingin membalas dendam. Dari keseluruhan yang Tetsuya rasakan akan sosok misterius tersebut ada satu hal yang Tetsuya temukan dan baru ia sadari setelah mereka bertemu secara langsung. Sosok pemuda berambut mirip pucuk nanas tersebut terasa begitu familier dengan Tetsuya, seperti mereka pernah mengenal sebelumnya, dan ini bukan dari penglihatannya ketika Tetsuya menyaksikan pertarungannya melawan Hibari Kyoya. Tidak, tapi lebih jauh lagi, seperti ia pernah melihatnya ketika Tetsuya masih menjadi seorang Kuroko Tetsuya. Ia baru menyadari akan hal ini, tetapi ada secercah harapan yang muncul di benak Tetsuya mengenai semua ini, mungkinkah sosok pemuda misterius tersebut adalah orang yang Tetsuya kenal di kehidupan pertamanya?
Tetsuya tidak berani berharap karena ia takut dengan perasaan kecewa yang akan menyambutnya nanti.
Meski demikian ada satu pikiran yang mengganjalnya sekarang ini, ia ingin bertemu dengan pemuda itu lagi untuk memastikan kalau ia adalah orang yang pernah Tetsuya kenal atau bukan. Dan satu-satunya jalan untuk melakukan itu adalah menemui pemuda tersebut. Oleh karena itu, Tetsuya segera berbalik dari tempatnya berdiri untuk kembali masuk ke dalam hutan, ia menghiraukan sebuah pertarungan yang terjadi di bawah sana karena ia memiliki sebuah hal penting yang harus ia ketahui, untuk itu Tetsuya pun melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke tempat di mana Tetsuya bertemu dengan pemuda berambut biru tadi.
"Dia ada di mana?" Tanya Tetsuya kepada dirinya sendiri ketika ia tiba di tempat itu, namun sayangnya Tetsuya tidak menemukan adanya tanda-tanda pemuda itu ada di sana. Mungkin ia sudah pergi ketika Tetsuya tengah menyelamatkan pemuda berambut kecoklatan tadi.
Ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, bukan sebuah perasaan kecewa namun juga bukan perasaan lega, mungkin lebih tepatnya seperti kekhawatiran berlebih yang menyumpal diri Tetsuya sampai membuatnya sedikit susah untuk menelan ludah. Anak itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan sedikit petunjuk yang mungkin ditinggalkan oleh pemuda berambut biru tadi, dan setelah dua menit mencari akhirnya pencarian Tetsuya pun membuahkan sebuah hasil. Orang lain mungkin tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi ketika Tetsuya menoleh ke arah kiri ia bisa melihat sebuah kupu-kupu bersayap kuning yang bentuknya sedikit transparan terbang ke arahnya.
Orang lain pasti menganggap itu adalah binatang yang tersesat di tempat ini atau tidak sepatutnya berada di sana, tetapi Tetsuya yang merupakan pengguna api kehidupan jenis kabut dan juga seorang ilusionis tahu kalau kupu-kupu yang menghampirinya itu bukanlah benda hidup. Kupu-kupu tersebut lebih mirip seperti Nigou yang Tetsuya ciptakan di dunia ini, artinya binatang tersebut tidak lebih dari sebuah ilusi belaka.
"Siapa yang menciptakanmu?" Tanya Tetsuya kepada kupu-kupu tersebut, anak itu pun mengulurkan tangan kanannya ke depan dan membuat binatang yang berasal dari api kehidupan tersebut hinggap di tangannya. Di sana Tetsuya pun memperhatikan detail yang tergampar pada sayap kupu-kupu tersebut, dan harus ia akui siapapun yang menciptakan kupu-kupu ini adalah orang yang begitu artistik karena detail yang digambarkan begitu nyata, membuat Tetsuya merasa terkagum sendiri.
Binatang itu tidak menjawab karena pada dasarnya ia tidak memiliki pita suara maupun pemikiran tersendiri, tetapi binatang tersebut yang seolah-olah mengerti akan pertanyaan Tetsuya pun segera beranjak dari telapak tangan anak itu, terbang sedikit ke atas sebelum melesat ke depan dengan kecepatan pelan, seperti ia berharap Tetsuya untuk mengkutinya.
Aku punya firasat kalau orang yang menciptakan kupu-kupu ini adalah orang tadi, semoga saja keputusanku untuk mengikutinya dapat memberiku jawaban dan aku tidak menyesal kemudian, pikir Tetsuya saat ia memutuskan untuk mengikuti kupu-kupu itu dari belakang. Mereka mengambil jalan memutar dan jauh dari tempat pertempuran Tsuna serta yang lainnya sampai keduanya pun tiba di sebuah gedung mall dalam taman bermain Kokuyo yang sudah terbengkalai tersebut.
Ketika Tetsuya masuk ke dalamnya, secara otomatis ia langsung mencengkeram payung miliknya karena aura yang ada di dalam tempat itu begitu mencekam, membuat Tetsuya secara tidak sadar merinding hebat sebelum ia menyuruh dirinya untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh. Meski demikian, Tetsuya pun merasa tidak terlalu asing lagi dengan interior dalam tempat itu, bahkan ketika ia menaiki tangga yang akan membawanya ke ruang teater yang ada di dalam gedung tersebut. Tiba-tiba saja langkah Tetsuya pun berhenti dan kedua matanya terbuka lebar, ia ingat di mana dirinya mengetahui tempat ini, tempat di mana Tetsuya berada sekarang ini adalah tempat yang sama Tetsuya lihat dalam penglihatannya. Ketika dirinya masuk ke dalam ruang teater yang pencahayaannya kurang terang, Tetsuya bisa mengingat kalau itu adalah tempat di mana pemuda berambut biru dan Hibari bertarung. Kalau tidak salah Tetsuya melihat sebuah sofa yang membelakangi jendela besar di ruangan itu, ia pun menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya Tetsuya sekarang ini ketika ia melihat orang yang tengah ia cari sekarang ini duduk dengan santai pada sofa yang tergeletak di sana, kelihatannya orang tersebut tengah menanti kedatangan Tetsuya, dan dugaan anak itu pun tepat sekali karena ia bisa melihat sebuah senyum tipis muncul di bibir sang Pemuda berambut biru kalau kedua mata mereka saling bertemu.
"Kufufufu... selamat datang di tempat ini, aku sudah lama sekali menantimu," ujar pemuda berambut biru tersebut dengan santainya.
Tetsuya tidak bisa menurunkan penjagaannya barang sedikit pun, karena pada pasalnya insting Tetsuya meneriakkan kalau pemuda itu memiliki agenda tersembunyi di samping dirinya ingin bertemu dengan Tetsuya. Dan bagaimana mungkin pemuda itu ingin bertemu dengan Tetsuya mengingat mereka sebelumnya tidak saling mengenal? Tapi, ada satu hal yang membuat Tetsuya penasaran lebih dari itu, sesuatu yang membuatnya terganggu.
"Kau bisa merasakan keberadaanku," sahut Tetsuya dengan kalem, kedua mata birunya bertemu mata dengan heterokromatik –biru dan merah– milik sang Pemuda yang ada di hadapannya. Meski perasaan Tetsuya bercampur menjadi satu, nada suara yang ia gunakan begitu lurus dan tidak ada perasaan takut barang sedikit pun.
Anak itu melihat bagaimana pemuda berambut biru yang berbentuk seperti pucuk nanas itu pun tercengang untuk beberapa saat lamanya setelah mendengar pertanyaan Tetsuya, sebelum kemudian dia tertawa dengan model tertawanya yang menurut Tetsuya sangat aneh.
"Maaf, apa ada yang lucu dengan pertanyaanku?" Kali ini gantian Tetsuya yang bertanya pada pemuda itu, rasanya pertanyaan yang ia lontarkan tadi bisa dikatakan sangat wajar serta tidak aneh, dan sesungguhnya Tetsuya juga tidak menyukai dirinya ditertawakan seperti sekarang ini.
Tetsuya merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, karena pada dasarnya jarang –dan hampir tidak pernah– ada orang yang mengetahui keberadaan Tetsuya kalau ia tidak memberitahu mereka dengan keras dirinya berada di sana, hal ini dikarenakan Tetsuya mewarisi hawa keberadaan yang tipis dari Kuroko Tetsuya yang tidak lain adalah dirinya di kehidupan pertama. Oleh karena itu, sangat mengejutkan kalau seseorang di tempat ini mampu mendeteksi hawa keberadaannya dengan begitu mudah sampai repot-repot segala menunggu Tetsuya untuk muncul. Pertanyaan singkat pun muncul di dalam benak Tetsuya, siapa pemuda berambut biru tersebut?
"Oya... apa ini hal pertama yang kau tanyakan setelah kita bertemu? Kau terlihat terkejut," kata pemuda itu lagi, kali ini pemuda tersebut beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan untuk menghampiri Tetsuya sampai keduanya hanya terpisah dalam jarak kurang dari satu meter.
Dengan sedikit malas, Tetsuya pun mengangkat dagunya untuk bertemu mata dengan pemuda itu. Sejak dulu sampai sekarang Tetsuya selalu dianugerahi dengan tubuh pendek, hal ini membuatnya selalu menghabiskan banyak energi untuk berbicara dengan orang yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. Itu terjadi di dalam kehidupan pertamanya, belum tentu di kehidupan keduanya ia akan mengalami masalah yang sama –bernama krisis kurang tinggi tubuh– mengingat Tetsuya masih seorang anak-anak yang nantinya akan tumbuh tinggi suatu saat nanti. Ia menghela napas pelan, dalam hati merasa lelah namun di wajahnya Tetsuya tidak menampilkan apapun kecuali ketenangan, bahkan tidak ada emosi yang terpancar di dalam kedua mata birunya tersebut. Di dalam menghadapi seorang lawan yang terkenal jauh lebih kuat dari dirinya –dan Tetsuya tahu kalau pemuda ini jauh lebih kuat dari dirinya, mengingat aura yang menyelimuti pemuda ini begitu berbeda dari milik Tetsuya–, berada dalam kepanikan bukanlah jawaban yang tepat meski Tetsuya berada dalam pihak yang dirugikan, terlebih lagi bukan gaya Tetsuya yang masuk ke dalam mode panik dalam segala hal. Bahkan ketika Tetsuya melawan generasi keajaiban dalam kehidupannya yang pertama dan mereka terkenal kuat, Tetsuya hanya bisa menampilkan ketenangan saja. Akashi pernah mengatakan kalau kemampuan misdirection miliknya yang dikombinasikan dengan hawa keberadaannya yang sangat tipis tidak akan berguna kalau dirinya begitu ekspresif, oleh karena itu hal pertama yang Tetsuya pelajari dalam hidupnya –baik kehidupannya sebagai Kuroko Tetsuya maupun Hiwatari Nagi– adalah bagaimana menyembunyikan emosinya sehingga mereka tidak terlihat di wajahnya.
"Akan sangat bohong namanya kalau aku tidak terkejut, tapi sejujurnya daripada aku terkejut aku lebih merasa terkesan, orang asing," sahut Tetsuya dengan datar, genggamannya pada payung miliknya tersebut begitu erat karena keberadaan orang ini begitu dekat dengan dirinya, membuat Tetsuya merasa sedikit tidak nyaman tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.
"Terkesan? Orang asing?" Pemuda itu tersenyum singkat tanpa memindahkan tatapan mata heterokromatik biru dan merah miliknya tersebut dari sosok Tetsuya yang sedari tadi masih betah memasang tampang datarnya.
"Aku terlahir dengan memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, selama ini tidak ada orang yang mengetahui keberadaanku kecuali kalau aku memberitahu mereka. Karena itu aku merasa terkesan karena kau bisa menyadari aku ada di sini dalam sekali lihat," jawab Tetsuya, menjelaskan maksud ucapannya yang barusan.
Anak itu tidak merasa keberatan untuk menjelaskan mengenai hawa keberadaannya yang sejujurnya tidak bisa dikatakan keberadaan karena saking semunya, karena pada dasarnya hal itu bukanlah sesuatu yang besar. Di samping itu, pemuda berambut biru yang ada di hadapannya tersebut terasa tidak terlalu asing bagi Tetsuya, sehingga ia pun merasa sedikit nyaman untuk memberitahunya akan sesuatu yang sudah mereka berdua ketahui. Insting anak itu mengatakan kalau pemuda berambut biru ini tahu akan semuanya, mengenai hawa keberadaannya yang tipis serta kemunculannya di tempat ini, oleh karena itu ia pun tidak lagi merasa terkejut ketika ia mendapatkan penjelasan dari Tetsuya mengenai hal ini, dari sanalah Tetsuya merasa curiga dan dugaannya kalau pemuda berambut biru ini dulunya adalah orang yang pernah Tetsuya tahu serta kenal dengan baik. Tapi siapa orang itu? Tetsuya sedikit merasa frustrasi karena dirinya sama sekali tidak memiliki gambaran mengenai identitas pemuda itu di dalam kehidupan pertama Tetsuya.
"Sepertinya kau mengetahui hal ini," sahut Tetsuya untuk yang pertama kalinya menginisiasi sebuah percakapan.
Pemuda itu hanya memberikan sebuah senyum kecil di bibirnya kala ia mendengar ucapan yang Tetsuya lontarkan, bahkan tak jarang ia pun kembali mengambil beberapa langkah ke depan sampai kini dirinya sudah berdiri dalam jarak yang begitu dekat dengan Tetsuya, tepat di hadapan anak itu dan membuat Tetsuya sedikit kesal karena ia melihat kepalanya hanya sampai pada dada pemuda tersebut. Seolah tahu akan apa yang Tetsuya pikirkan, pemuda itu pun mengeluarkan tawa kecil yang mengutarakan kalau tingkah Tetsuya benar-benar membuatnya terkesan sekaligus terhibur pada saat yang sama.
Sebuah guratan ketidaksukaan pun tentu saja muncul di kening Tetsuya meski ekspresinya masih tetap datar seperti biasanya, tidak sekalipun Tetsuya memindahkan tatapannya dari sosok pemuda misterius tersebut karena instingnya mengatakan kalau Tetsuya memindahkan tatapannya barang sedikit pun bisa jadi pemuda itu akan menghilang dari hadapan Tetsuya. Bulu kuduknya sedikit berdiri ketika aura yang mencekam tiba-tiba menyelimuti ruangan tersebut, membuat Tetsuya menyipitkan kedua matanya.
"Tentu saja aku mengetahui hal itu, tujuh tahun mengenalmu tidak mungkin membuatku lupa akan kemampuan spesialmu itu, Tetsuya," nama Tetsuya yang keluar dari mulut pemuda tersebut membuat Tetsuya membelalakkan kedua matanya, keterkejutan menyelimuti dirinya.
Seharusnya Tetsuya tidak merasa terkejut lagi kala pemuda itu memanggil namanya, mengingat ia memiliki teori kalau keduanya itu berasal dari dunia yang sama di kehidupan pertamanya, dan nama yang seharusnya tidak diketahui oleh siapapun tersebut meluncur dengan nyamannya dari mulut sang Pemuda. Itu artinya dugaan Tetsuya benar-benar terkonfirmasi, dan Tetsuya mengenal siapa pemuda itu di kehidupan pertamanya. Rasanya sukar untuk dipercaya karena orang itu tiba-tiba saja berdiri di hadapan Tetsuya, dan tujuh tahun yang dimaksud pasti mengenai pertemuan mereka yang ada di kehidupan pertama Tetsuya. Tetsuya meninggal pada usia 20 tahun, kalau tujuh tahun keduanya saling mengenal maka kemungkinan besar Tetsuya bertemu dengan orang ini ketika ia masih berusia 13 tahun yang artinya mereka ada di Teiko. Tetsuya sangat yakin kalau pemuda ini bukanlah Ogiwara, karena Tetsuya kenal sekali bagaimana Ogiwara dan keduanya sudah saling mengenal sejak Tetsuya duduk di sekolah dasar, artinya pemuda ini adalah reinkarnasi dari salah satu generasi keajaiban yang ada di Teiko, tapi siapa?
Tetsuya langsung mengeliminasi Kise, Midorima, dan juga Murasakibara karena ketiganya tidak mungkin menggunakan permainan mengintimidasi seperti yang pemuda ini lakukan. Dan Tetsuya memiliki firasat kuat kalau ia juga bukan Aomine karena suatu hal, aura keduanya terlalu berbeda, oleh karena itu satu-satunya orang yang mampu melakukan semua ini adalah...
Kedua mata Tetsuya pun terbelalak lebar ketika ia menyadari siapa sosok yang ada di hadapannya. Tidak hanya itu saja, namun Tetsuya juga baru sadar ketika pemuda berambut biru tersebut kini telah mengeliminasi jarak yang memisahkan keduanya dan kini tengah membelai pipi kiri Tetsuya menggunakan punggung tangan kirinya dengan lembut, seperti apa yang sering dilakukan oleh orang itu kepadanya. Tetsuya merasa bodoh karena tidak menyadari hal ini sebelumnya, memang siapa lagi yang mampu mengetahui keberadaan Tetsuya dengan mudah serta memanggil Tetsuya dengan "Tetsuya" kalau bukan orang itu? Karena pada dasarnya orang itu adalah yang mengajari Tetsuya pertama kali dalam menggunakan misdirection.
"Akashi-kun," panggil Tetsuya dengan lirih, kedua mata birunya terus menatap sepasang heterokromatik yang balik menatapnya dengan lembut, begitu berbeda dengan tatapan yang pemuda itu berikan kepadanya beberapa saat yang lalu.
"Kau terlalu lama untuk mengingat siapa aku, Tetsuya, apa mungkin mati muda dan kemudian bereinkarnasi menjadi sosok yang baru mengurangi daya ingatmu?"Goda pemuda dengan rambut yang menyerupai pucuk nanas tersebut. "Dan di tempat ini aku bukanlah Akashi Seijuurou lagi, Tetsuya, aku terlahir lagi menjadi seorang yang bernama Rokudo Mukuro."
Tetsuya memiringkan kepalanya sesaat ketika ia merasakan Aka... Mukuro meninggalkan wajahnya dan mengambil satu langkah ke belakang dengan senyuman yang masih tidak meninggalkan wajahnya. Sosok Mukuro dan sosok Akashi benar-benar berbeda meski aura yang keduanya pancarkan sama-sama berbahaya, meski demikian Tetsuya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sosok Mukuro tersebut, sesuatu yang jauh lebih sinis dari sebelumnya. Apa yang ia pikirkan tersebut membuatnya khawatir dan sebuah pertanyaan singkat pun muncul di dalam benak Tetsuya, hal itu mengenai apa yang Mukuro alami di dunia ini sampai membuatnya berubah menjadi sekarang ini?
"Rokudo-kun," gumam Tetsuya, mencoba untuk memanggil sosok yang ada di depannya seperti apa yang ia lakukan kepada Akashi.
"Tetsuya, tidak bisakah kau memanggilku Mukuro? Kau terlalu formal seperti biasanya, bahkan ketika aku memintamu untuk memanggilku Seijuurou berkali-kali kau masih tetap memanggilku Akashi-kun," sahut Mukuro dengan kedua tangannya kini bersilang di depan dadanya, kelihatan sekali kalau ia tidak terlalu menyukai gaya formal Tetsuya yang menurutnya terlalu kaku, namun hal itulah yang membuat Tetsuya sebagai Tetsuya.
Bibir Tetsuya membentuk sebuah lengkungan tipis, senyuman yang terpatri di sana untuk beberapa saat lamanya sebelum ekspresinya kembali datar seperti biasanya.
"Akashi-kun adalah Akashi-kun, dan kurasa Rokudo-kun juga tidak akan jauh berbeda," jawab Tetsuya dengan pelan. Ia pun meluruskan tatapannya ketika berhadapan dengan Mukuro. "Nagi, Rokudo-kun. Namaku di tempat ini adalah Hiwatari Nagi. Dan aku senang bisa bertemu dengan Aka... ah maksudku Rokudo-kun sekali lagi."
Kesempatan di kehidupan pertama Tetsuya sangat pendek, ia harap dirinya bisa mengenal Rokudo Mukuro dengan baik seperti ia mengenal Akashi dulu.
Mukuro tidak memberikan komentar mengenai nama baru Tetsuya yang terkesan begitu feminim dan seperti milik anak perempuan, entah karena ia tahu kalau Tetsuya terlahir sebagai seorang perempuan namun mengabaikan fakta itu atau mungkin Mukuro tidak tahu kalau Tetsuya adalah seorang perempuan dan menganggap nama Nagi seperti nama Tetsuya. Apapun itu, Tetsuya merasa berterimakasih karena Mukuro tidak memberikan komentar yang aneh-aneh mengenai namanya maupun penampilannya.
"Aku sangat merindukanmu, Nagi, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu namun semuanya terlambat karena kau meninggalkan kami semua waktu itu. Tidak kusangka kalau kita pada akhirnya bertemu di tempat seperti ini, meski keadaannya berbeda bukan berarti aku tidak senang akan hal itu," sahut Mukuro dengan lembut. "Kalau aku boleh bertanya, mengapa kau berada di taman bermain Kokuyo, Nagi? Tempat ini begitu berbahaya untukmu dan aku tidak ingin kau terluka barang sedikit pun setelah aku menemukanmu."
Kotak pandora yang sedari tadi tertutup kini mulai terbuka sedikit demi sedikit, memberitahukan apa yang ia sembunyikan dari dunia, dan semua itu diawali oleh pertanyaan Mukuro mengenai keberadaan Tetsuya yang ada di taman bermain Kokuyo yang terabaikan ini. Tetsuya mungkin tengah mengalami keterkejutan karena ia bertemu kembali dengan teman lama yang ia sayangi, tapi Tetsuya tidak melupakan tempatnya di dunia ini, terlebih lagi setelah ia mendapatkan gambaran yang tidak mengenakan yang ia lihat beberapa saat yang lalu sebelum ia datang ke tempat ini. Mukuro bertarung dengan Hibari dan menghajar Hibari sampai pemuda itu babak belur karena Hibari sakit, sebuah hal yang menurut Tetsuya sedikit curang, tapi ia tidak mengatakan hal itu secara jelas karena ia bukanlah orang yang bodoh. Mukuro mungkin adalah reinkarnasi dari Akashi, tetapi Tetsuya tidak terlalu tahu siapa Rokudo Mukuro yang sebenarnya.
"Dan apa yang Rokudo-kun lakukan di tempat ini juga?" Tetsuya pun balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Mukuro.
Mukuro terlihat sedikit tidak suka dengan sikap Tetsuya, ia lupa kalau Tetsuya itu adalah anak yang begitu keras kepala serta penuh akan misteri dalam hidupnya. "Aku bertanya terlebih dahulu, Tetsuya."
"Dan aku bertanya setelahnya, Rokudo-kun, kurasa pertanyaan tersebut tidak susah untuk Rokudo-kun jawab, bukan? Kecuali kalau Rokudo-kun memang tidak ingin aku mengetahui alasannya berada di tempat ini."
Telak dan sangat terus terang, itulah Tetsuya. Anak itu sama sekali tidak memfilter ucapannya, begitu lurus menuju sasaran dan hal ini membuat Mukuro tertawa 'kufufu' yang menurut Tetsuya sangat aneh. Sejak kapan Akashi Seijuurou aka Rokudo Mukuro tertawa dengan cara mengerikan seperti itu? Pikir Tetsuya yang tengah bertanya-tanya tersebut. Pemuda berambut merah yang Tetsuya ingat selalu melakukan apapun dengan begitu elegan, dan meski Mukuro itu juga sama elegannya tetapi ada sesuatu yang membedakannya dengan diri Akashi yang dulu.
"Menurutmu mengapa aku berada di tempat ini, Nagi?" Sebuah pertanyaan aneh pun keluar dari bibir Mukuro tanpa pemuda itu memutus tatapannya dari sosok Tetsuya. "Kau adalah orang yang memiliki pemikiran tajam, bahkan Shintarou pun tidak mampu melampaui ketajaman pemikiranmu, Nagi. Aku tahu kalau kau mengetahui mengapa aku ada di sini, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, bukan?!"
Dan Mukuro pun benak akan satu hal ini, mengenai Tetsuya yang sebenarnya tahu –atau lebih tepatnya memiliki ide mengapa pemuda berambut biru itu berada di taman bermain Kokuro yang terabaikan tersebut– alasan Mukuro di sini, dan Mukuro pun mengetahui kalau Tetsuya tahu. Dengan tatapan yang begitu tenang serta kedua tangannya yang menggenggam payung miliknya, Tetsuya pun tidak gentar ketika menghadapi heterokromatik yang begitu misterius tersebut. Ia mengambil napas pelan sebelum membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Mukuro.
"Rokudo-kun salah, aku tidak tahu alasan sebenarnya ia berada di tempat ini, tapi aku memiliki sebuah ide mengenai keberadaannya di sini," ujar Tetsuya, anak itu menenangkan dirinya. Ia pernah berhadapan dengan Akashi, jadi ia tahu bagaimana mengatur dirinya bila kali ini mereka harus bertarung sebagai kemungkinan terburuknya. "Rokudo-kun mengenakan seragam SMP Kokuyo dan berada di tempat terbengkalai ini. Dari apa yang aku lihat di hutan tadi, Rokudo-kun berusaha untuk mencari sesuatu dari anak berambut kecoklatan yang aku temui, dan pasti ia akan melakukan sesuatu yang tak terduga pada anak itu bila aku tidak bertindak cepat. Pria yang bertarung menggunakan bola besi besar mengakui dirinya sebagai Rokudo-kun, dan Ken yang menyerang Sasagawa-san memiliki sedikit aura yang sama dengan Rokudo-kun.
"Rokudo-kun adalah orang dibalik penyerangan yang terjadi di Namimori dan sasaran Rokudo-kun adalah mereka yang tengah bertarung itu. Apa aku salah, Rokudo-kun?" Dan Tetsuya mengakhiri observasinya dan menunggu bagaimana reaksi yang Mukuro berikan kepadanya nanti.
Tidak ada reaksi khusus yang Mukuro berikan atas jawaban yang Tetsuya lontarkan tersebut, dan menunggu hal itu membuat Tetsuya menjadi semakin tidak tenang. Ia ingin tahu apa yang tengah Mukuro pikirkan tersebut.
"Kufufufu... kau memang tajam sama seperti sebelumnya, Nagi, benar-benar menakjubkan karena dugaanmu tersebut begitu benar. Aku adalah orang dibalik penyerangan untuk memancing Vongola Decimo untuk datang ke tempat ini, dan sepertinya kau tahu siapa Ken, aku tebak kau adalah orang yang mengalahkan Ken ketika ia menyerang targetnya," sahut Mukuro, sebuah kabut tebal pun muncul di samping kanan Mukuro dan langsung menghilang ketika sebuah trisula muncul di samping Mukuro, yang mana pemuda itu langsung memegang benda tersebut dengan begitu tenang. "Kau memang orang yang penuh akan kejutan, Nagi. Namamu, Hiwatari Nagi, tidak muncul dalam rangking siswa terkuat yang ada di SMP Namimori, itu artinya kau bukanlah siswa dari sekolah yang dipimpin oleh Hibari Kyoya. Meski demikian, bukan berarti kau tidak terlibat dengan keluarga Vongola ataupun Vongola Decimo sendiri karena kau bisa berada di tempat ini serta menolongnya tadi. Kau tidak pernah gagal untuk membuatku terkesan, Nagi."
Di sini Tetsuya tidak tahu apa maksud Mukuro mengenai keluarga Vongola maupun Vongola Decimo yang menjadi topik pembicaraan mereka sekarang ini, tetapi ia yakin dirinya pernah mendengar nama keluarga itu sebelumnya, hanya saja Tetsuya lupa di mana ia pernah mendengarnya. Ini tidak seperti Akashi, Mukuro terlalu gegabah dalam memberikan sebuah kesimpulan mengenai Tetsuya yang menjadi bagian dari keluarga Vongola hanya karena ia datang ke tempat ini untuk mencari tahu sesuatu yang mengganjal pikirannya, Tetsuya bukanlah bagian dari keluarga Vongola, pun dengan tuduhan Mukuro kalau ia mengenal siapa Vongola Decimo yang dimaksud. Ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Rokudo-kun salah, aku bukanlah bagian dari keluarga Vongola maupun mengenal siapa Vongola Decimo, bahkan ini pertama kalinya aku mendapat tuduhan seperti itu," jawab Tetsuya, ia menatap sosok Mukuro dengan penuh keseriusan yang ada di matanya sementara kedua tangannya menggenggam pegangan payungnya dengan erat. Tetsuya akan menyerang Mukuro bila pemuda itu menyerangnya terlebih dahulu.
"Kau tidak perlu bohong kepadaku, Nagi, aku benci mafia dan kau malah masuk ke dalam salah satunya. Tapi tenang saja, aku akan menyelamatkanmu dan kau akan baik-baik saja, setelah aku mengambil alih tubuh Vongola Decimo aku akan memberikan segalanya untukmu," ucapan Mukuro tersebut terdengar seperti sebuah obsesi yang memberikan rasa buruk di mulut Tetsuya.
Sesuatu pasti sudah terjadi pada diri Mukuro sehingga membuat ia menjadi sosok pemuda yang penuh akan balas dendam seperti ini, dan bila menilik dari ucapannya maka semua itu ada hubungannya dengan dunia mafia yang Tetsuya ketahui sangat kejam. Bagaimana Mukuro bisa terjerumus dalam dunia gelap yang bernama mafia itu masih menjadi tanda tanya.
"Apa yang akan Rokudo-kun lakukan kepada mereka?" Tanya Tetsuya dengan suara yang ia buat tenang, setenang mungkin untuk menyembunyikan rasa paniknya. Yang Tetsuya maksud di sini mereka yang tengah bertarung di luar sana, dan ia sangat yakin tadi Tetsuya melihat seorang bayi di tempat itu.
"Mengendalikan mereka tentunya, dan setelahnya aku akan menghancurkan mafia," jawab Mukuro dengan begitu enteng. Ia pun mengulurkan tangan kirinya ke arah Tetsuya. "Kemari, Nagi, tempatmu adalah berada di sampingku. Kau tidak pantas berada dalam dunia mafia yang menjijikkan, apalagi dengan keluarga Vongola, kemarilah..."
"Rokudo-kun, kau gila," sahut Tetsuya lagi. "Aku tidak mengenal Vongola dan tidak ada sangkut pautnya, baik kau mempercayai hal ini ataupun tidak ini adalah keputusanmu sendiri. Tapi, aku tidak akan membiarkan kau melukai orang yang tidak bersalah lebih dari ini."
Entah mengapa Tetsuya benar-benar merasa tidak suka akan tabiat yang Mukuro miliki. Pemuda itu menargetkan orang yang tidak bersalah hanya karena ia ingin memancing Vongola Decimo dari tempat persembunyiannya untuk keluar menghadapinya, mereka yang masuk rumah sakit seperti Sasagawa Ryohei tidak memiliki sangkut pautnya dengan dunia mafia dan sebagainya, bahkan Tetsuya yakin sekali kalau mereka tidak tahu mengenai mafia. Melihat keegoisan yang Mukuro lakukan tersebut mengingatkan anak ini dengan Akashi yang memiliki mata heterokromatik dan tergila-gila akan kemenangan serta menjadi nomor satu, tetapi yang terjadi sekarang ini lebih dari situasi tersebut. Apapun kegilaan yang Mukuro miliki, Tetsuya harus bisa mengimbanginya agar pemuda tersebut tidak melakukan kegilaan yang dapat menyakiti orang lain. Apa yang terjadi sekarang tidak hanya sebuah permainan basket yang terjadi di lapangan saja, namun lebih dari itu.
"Nagi, aku tidak ingin mengulangi kata-kataku lagi. Kemarilah, patuhi perintahku karena perintahku itu mutlak!" Mukuro memberikan penegasan lagi di sini, kedua mata heterokromatiknya mengeras ketika ia melihat sosok bayangan yang memiliki hatinya di dalam kehidupannya sebagai Akashi Seijuurou tersebut, tidak mungkin Mukuro akan meninggalkan Tetsuya sendirian dalam dunia mafia yang tidak memiliki masa depan.
Tetsuya bukanlah seorang mafia maupun pembangkang seperti yang Mukuro pikirkan, ia hanyalah orang yang keras kepala akan apa yang ia percayai, seharusnya Mukuro tahu akan tabiat Tetsuya mengingat Nagi dan Tetsuya itu tidak banyak berubah serta masih menjadi orang yang sama.
"Maafkan aku, Rokudo-kun, tapi jawabanku masih sama. Aku tidak akan mematuhi sebuah perintah yang salah dan menentang persepsiku sendiri."
Raut wajah Mukuro pun menggelap, menunjukkan ketidaksenangannya akan keputusan yang Tetsuya berikan kepadanya, tapi seharusnya ia bisa menduga kalau itu adalah jawaban yang akan Tetsuya berikan. Pemuda berambut biru tersebut menurunkan uluran tangannya sebelum ia terkekeh kecil.
"Jadi begitu. Kurasa aku harus mencoba untuk meyakinkanmu dengan caraku sendiri, Nagi, aku akan melakukannya sebelum menyambut Vongola Decimo," sahut Mukuro. Mata kanan Mukuro yang berwarna merah tersebut kini muncul angka 'satu' dalam kanji Jepang setelah api kehidupan yang berwarna biru indigo muncul dari mata kanannya. "Ken memberitahuku kalau orang yang mengalahkannya menggunakan ilusi sepertiku, kurasa aku akan melihat dengan mata kepalaku sendiri akan seberapa kuatnya dirimu, Nagi. Dan aku tidak akan menyerah sampai kau memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar, akan aku buat kau lupa tentang mafia dan Vongola Decimo."
Rasanya Tetsuya ingin sekali menghantamkan badan payungnya pada kepala Mukuro karena pemuda itu masih saja tidak menerima ucapan yang Tetsuya berikan tadi. Tetsuya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Vongola, bahkan mengenalnya saja tidak. Ia harus melakukan apa lagi sampai Mukuro benar-benar percaya dengannya? Terlebih lagi, anak itu tidak akan membiarkan dirinya berada dalam genggaman Mukuro bila pemuda itu masih bersikeras untuk menghancurkan dunia mafia namun dengan cara yang salah, ia tidak akan memprotes tujuan Mukuro namun yang jelas Tetsuya tidak akan mengikutinya karena Tetsuya tidak ingin melukai siapapun.
Api kehidupan yang Mukuro tunjukan itu benar-benar kuat, detik berikutnya ruangan tempat keduanya berada pun kini berubah berantakan lebih jauh lagi. Goncangan hebat yang terjadi di tempat itu dan lantai tempat Tetsuya dan Mukuro berpijak pun pecah sebelum diiringi oleh kemunculan semburan api yang sangat menakutkan, menyerupai sebuah neraka yang sering Tetsuya baca di dalam sebuah buku atau tonton dari film-film. Ruangan itu menjadi tidak berbentuk lagi, dan andaikata Tetsuya bukanlah pengguna api kabut maupun seorang ilusionis maka ia pun akan terpengaruh oleh serangan optik yang Mukuro berikan kepadanya sebelum masuk ke dalam kepanikan. Sayangnya Tetsuya bukanlah orang seperti itu.
Anak itu memfokuskan sedikit api kehidupannya pada payung yang kini berada di genggaman tangan kanannya, tanpa mengucapkan apapun lagi Tetsuya pun mengayunkan payungnya seirama sebanyak satu kali dan menghentakkan ujungnya pada lantai yang berpindah tersebut. Sebuah getaran yang muncul dari hentakan ujung payung Tetsuya pun membatalkan ilusi yang Mukuro ciptakan, membuat tempat yang menyerupai neraka tadi kembali seperti semula. Serangan yang Mukuro itu terlalu mudah untuk dibaca, dan Tetsuya mempercayai instingnya kalau yang tadi adalah serangan pembuka saja.
Dan benar adanya mengenai pemikiran yang Tetsuya miliki tersebut, karena setelah Tetsuya berhasil menggagalkan ilusi pertama Mukuro tiba-tiba saja ia merasa sebuah akar pohon besar muncul dari dalam tanah dan langsung mengikat tubuhnya, mengangkatnya dari atas lantai serta membuat Tetsuya susah untuk bernapas.
"Apa itu hanya kemampuan yang kau miliki, Nagi?" Tanya Mukuro dengan senyum mencemooh, pemuda itu pun melihat bagaimana Tetsuya sama sekali tidak memberontak ketika ia mengikatnya dengan akar pohon besar yang merupakan ilusi nyata yang Mukuro ciptakan. "Jadilah anak baik dan menurut padaku, aku tidak akan menyakitimu."
Tetsuya tidak mengucap apapun untuk beberapa saat lamanya, tubuhnya terikat begitu erat sampai ia tidak bisa bergerak apalagi bernapas dengan mudah. Tapi, Tetsuya tidak akan diam begitu saja, seperti yang Mukuro katakan mengenai Tetsuya yang begitu keras kepala, ia tentunya akan melawan Mukuro sampai ia tidak bisa bergerak barang sedikit pun. Untuk itu Tetsuya pun menatap sosok Mukuro untuk beberapa saat lamanya, ilusinya mungkin tidak sekuat Mukuro tapi ia bukanlah sosok yang lemah yang akan membiarkan Mukuro melakukan apapun sesuai keinginannya dan hal itu merugikan Tetsuya serta orang lain.
Kunci dari sebuah ilusi adalah keinginan yang kuat beserta imajinasi yang ia miliki, untuk itu Tetsuya pun menciptakan kupu-kupu dengan sayap ungu beterbangan di sekelilingnya dengan jumlah yang cukup banyak sebelum hewan ciptaan Tetsuya tersebut hinggap pada akar kuat yang mengikat tubuhnya. Ketika kupu-kupu bersayap ungu tersebut hinggap di sana, keduanya pun melebur menjadi satu sebelum menghancurkan akar yang mengikatnya, melepaskan Tetsuya dari belenggu.
"Kufufu~ kau kuat, Nagi, tapi seberapa kuatnya dirimu?" Tanya Mukuro, dengan trisula ada di tangannya ia pun beranjak dari tempatnya berdirinya dan mencoba untuk menyerang Tetsuya yang baru saja terlepas dari belenggu.
Gadis kecil itu menggunakan reflek cepat yang ia miliki untuk mendarat di atas tanah sebelum pada akhirnya ia melesat maju ke depan untuk bertemu dengan Mukuro yang berlari ke arahnya. Serangan trisula dari Mukuro dan juga payung milik Tetsuya pun pada akhirnya bertemu, menciptakan getaran serta tekanan yang hebat di tengah-tengah. Sepasang mata biru gelap milik Tetsuya bertemu langsung dengan heterokromatik milik Mukura saat keduanya saling menahan serangan dari satu sama lainnya, dan duel di antara dua orang ilusionis yang berasal dari dunia sama pun dimulai.
AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca fanfik ini
Author: Sky
