Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn milik Amano Akira sementara Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan yang berupa material dalam penulisan fanfik ini

Warning: AU, OOC, OC, violence, typo, reincarnation, etc

Rating: T

Genre: Adventure


BLOOMING MISTY

By

Sky


Duel yang terjadi di dalam ruangan itu berlangsung cukup lama, berbagai ilusi serta serangan fisik pun dilancarkan oleh kedua pihak dengan tujuan untuk mengalahkan –menghentikan, di sisi Tetsuya– satu sama lainnya tanpa ada jeda yang terjadi, semuanya terasa begitu intens dengan aura yang cukup menakutkan tanpa ada celah yang menjadi penghambat bagi keduanya. Ruangan itu hampir tidak berbentuk lagi dan juga dipenuhi oleh beberapa ilusi nyata yang sangat menakutkan, baik Mukuro dan juga Tetsuya tidak takut dalam metode penyerangan yang mereka lakukan kepada satu sama lainnya, bahkan tidak jarang dari serangan tersebut mengenai lawannya dan membuat salah satunya terluka akibat hantaman keras yang terjadi.

Berbeda dengan Mukuro yang terlihat sama sekali tidak berkeringat maupun kelelahan, hal ini berbeda dengan Tetsuya yang tubuhnya mulai terasa letih dan banjir oleh keringat, jangan lupakan pula beberapa luka gores serta lebam yang ia miliki akibat ia teledor dalam menghindari serangan Mukuro. Tetsuya merasa percaya diri bila serangan yang ia lakukan murni menggunakan ilusi, ia mempelajari ilusi miliknya dari buku catatan Elena dan kemudian melatih dirinya dalam kehidupan sehari-hari, namun aktivitas fisik seperti berduel yang mengombinasikan kekuatan fisik dan juga ilusi lah yang membuat Tetsuya menjadi cepat lelah. Tidak di dunia pertama maupun di dunia kedua ini, ia memang memiliki fisik yang lemah. Terlebih lagi, Mukuro memang pandai menggabungkan kekuatan fisik dan juga ilusi, sehingga ia pun dengan mudahnya mengimbangi kekuatan milik Tetsuya.

Ilusi diciptakan berdasarkan imajinasi serta pemikiran penggunanya, sehingga menciptakan sebuah ilusi bukanlah hal yang susah bagi Tetsuya, mengingat anak itu adalah tipe seorang pengamat serta di kehidupan pertamanya Tetsuya adalah seorang penulis novel yang membutuhkan imajinasinya untuk membentuk sebuah cerita dalam novel, baginya membayangkan imajinasi nyata itu tidaklah susah. Namun, aktivitas fisik lah yang menguras tenaganya seperti sekarang ini. Hanya selang beberapa menit ia bertarung dengan Mukuro di mana Tetsuya harus mengombinasikan kemampuan menciptakan ilusi, menggunakan api kehidupan jenis kabut, dan juga bela diri –yang tidak ia kuasai sama sekali– sudah cukup untuk membuatnya kelelahan seperti sekarang ini. Dan mengingat Mukuro adalah reinkarnasi dari mantan kapten basketnya dulu, yang mana begitu mengenal Tetsuya begitu baik sejak mereka duduk di kelas pertama sekolah menengah pertama, maka tidak sulit bagi Mukuro untuk menyimpulkan kalau Tetsuya sekarang ini kelelahan. Terkadang Tetsuya membenci kondisi fisiknya, terlebih dalam keadaan kondisi fisik yang tidak terlatih seperti sekarang ini.

Gadis kecil berambut biru tua itu pun terpental ke belakang saat Tetsuya gagal menahan hantaman trisula yang Mukuro lancarkan kepadanya setelah Tetsuya menghalau ilusi milik Mukuro dengan miliknya, akibatnya pun punggung Tetsuya menghantam dinding keras yang ada di belakangnya sementara payungnya tersebut terlepas dari genggamannya. Tetsuya ingin sekali berteriak keras karena rasa sakit yang sekarang ini ia rasakan menjalar ke seluruh tubuhnya, namun kontrol dirinya tersebut membuat Tetsuya untuk mencegahnya melakukan hal tersebut. Ia bisa merasakan darah merembes dari sudut bibirnya, dan bila Tetsuya berkaca nanti malam maka ia akan menemukan punggungnya biru-biru akibat bekas hantaman tersebut. Tak hanya punggungnya saja, tapi daerah kaki dan juga tangan karena Tetsuya menghalau serangan yang Mukuro berikan dengan anggota badannya.

Sepertinya kemampuan ilusi seseorang tergantung akan intensitas mereka melakukannya. Semakin sering seseorang melatih ilusinya dan juga menggunakannya, maka semakin kuat pula ilusi yang mereka lancarkan dalam sebuah serangan. Untuk sekali lagi dalam hari itu pun Tetsuya sempat bertanya-tanya akan apa yang terjadi pada Mukuro sehingga ia bisa menggunakan ilusi sehebat ini.

"Kufufufu~ Apa kau sudah lelah untuk bermain-main lagi, Nagi?" Tanya Mukuro dengan nada penuh cemooh, kedua mata heterokromatiknya tidak berpindah pada sosok Tetsuya yang terduduk dengan punggungnya menempel pada dinding keras tersebut. "Harus aku akui kalau kau bisa menggunakan ilusi dengan baik, Nagi, tapi bila dibandingkan denganku maka kau masih belum ada apa-apanya. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mempelajari ilusi maupun membangkitkan api kehidupan seperti ini, tapi kau itu cukup tangguh."

Dengan menempelkan telapak tangannya pada dinding kotor yang ada di belakangnya, Tetsuya pun perlahan-lahan bangkit dari posisi duduknya di atas lantai. Ia pun mengelap darah yang terkumpul di sudut kanan bibirnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Mukuro yang masih berada di sana, menatap Tetsuya dengan cermat dan siap untuk menyerangnya kapan saja.

"Terima kasih atas pujiannya, Rokudo-kun, kau benar-benar rendah hati seperti biasanya," sahut Tetsuya sebagai balasannya, nadanya mungkin begitu datar seperti ekspresi wajahnya, tetapi baik Tetsuya dan Mukuro tahu kalau ucapan Tetsuya tersebut penuh akan sarkasme yang ditujukan kepada Mukuro.

Sayangnya cemooh kecil yang berasal dari Tetsuya tidak membuat Mukuro marah, melainkan menambah rasa humor dan ketertarikannya pada sosok mungil yang masih dengan keras kepalanya mencoba untuk melawannya tersebut. Tidak sekarang dan tidak di masa lalu, Kuroko Tetsuya adalah orang yang keras kepala dan pantang menyerah, mungkin karena sifat itulah yang menjadikan Kuroko Tetsuya sebagai Kuroko Tetsuya, sosok yang mampu menghipnotis siapapun yang mengenalnya. Dan daya tarik Tetsuya pun sama sekali tidak pudar meski ia dilahirkan untuk yang kedua kalinya, menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya, sebagai seorang Hiwatari Nagi.

"Kufufufu~ Aku memang orang yang rendah hati, Nagi, tanpa kuberitahu pun kurasa kau sudah mengetahuinya dengan baik," sahut Mukuro dengan tawa khasnya tersebut. "Bagaimana pun juga, kita ini saling mengenal dengan begitu baik 'kan? Aku akan merasa sedih kalau kau tidak mengetahui bagaimana diriku padahal kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun."

Tetsuya ingin sekali memutar kedua bola matanya karena itu andaikata dirinya tidak tengah merasa kesakitan di sekujur tubuhnya, serahkan saja kepada Mukuro untuk mendramatisasikan akan sesuatu serta memuji dirinya sendiri, entah kenapa hal ini membuat Tetsuya melihat sosok mantan kaptennya yang kini berada di hadapannya ketimbang sosok pemuda bertubuh tinggi dan berambut biru indigo tersebut. Mukuro benar akan keduanya mengetahui satu sama lain dengan baik, namun itu semua ketika mereka berdua masih menjadi Kuroko Tetsuya dan Akashi Seijuurou, bukan sebagai Hiwatari Nagi dan Rokudo Mukuro. Meski orang lain mengatakan kalau mereka tidak akan berubah demi seseorang, semua itu adalah omong kosong belaka, karena pada dasarnya orang itu selalu berubah seiring dengan waktu yang berjalan. Dan Tetsuya sangat yakin meski jiwa yang bersemayam dalam raga Mukuro yang berada di hadapannya ini adalah Akashi, ia tidak mengetahui siapa Rokudo Mukuro dengan baik, dan dari apa yang Tetsuya observasi selama beberapa menit terakhir Mukuro itu berbeda dengan Akashi. Hal ini sedikit membuat Tetsuya sedih, tapi itulah yang namanya hidup, semua orang berubah dan Tetsuya pun bukanlah pengecualian, ia juga berubah karena pengaruh waktu dan juga lingkungan tempatnya tinggal selama 13 tahun terakhir ini.

Mukuro mengatakan kalau tujuan utamanya adalah menghancurkan mafia, dan untuk itulah ia mengacaukan kedamaian yang ada di Namimori sehingga membuat resah siapapun yang tinggal di tempat ini untuk memancing Vongola Decimo keluar dari persembunyiannya, bahkan Mukuro pun mengatakan kalau ia ingin mencari pewaris keluarga Vongola yang notabene adalah keluarga mafia. Sebenarnya apa yang Mukuro alami selama ini?

"Rokudo-kun," panggil Tetsuya dengan suara lirih. Anak itu memegang rusuk sebelah kanannya yang tadi terkena hantaman keras dari Mukuro, Tetsuya punya firasat ia mengalami patah tulang di sana, tetapi ia tidak terlalu yakin mengenai hal itu.

Panggilan dari Tetsuya tersebut membuat perhatian Mukuro teraliha lagi, ia melihat bagaimana Tetsuya beranjak dari tempatnya dengan susah payah untuk menghampiri tempat di mana payung kecil yang terlihat tidak berguna milik Tetsuya berada. Mukuro tidak tahu senjata macam apa sebuah payung tersebut, rasanya seperti sebuah lelucon karena benda itu tidak ada bahaya-bahanya sama sekali. Apa itu sebuah lelucon yang Tetsuya lakukan? Atau mungkin anak itu hanya mengambil sebuah benda yang ia lihat pertama kali dengan ada logamnya di sana? Mukuro tidak beranjak, pun dirinya tidak menghalangi Tetsuya untuk mengambil payung butut tersebut, ia ingin tahu akan apa yang Tetsuya lakukan selanjutnya. Pemuda itu menyukai sebuah tantangan, dan terlebih lagi ia memiliki waktu untuk meladeni tingkah Tetsuya yang menarik tersebut sebelum mematahkan jiwanya dan memaksa anak itu untuk bergabung dengannya.

"Rokudo-kun mengatakan kalau dirinya ingin menghancurkan mafia dengan mengendalikan Vongola Decimo, kurasa ini semua ada alasannya mengapa Rokudo-kun ingin melakukan hal tersebut," ujar Tetsuya dengan kalem meski dirinya tengah menahan sakit di tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya ketika rasa sakit itu menyerang lagi begitu ia berjongkok sedikit untuk mengambil payung milik Elena, tetapi semua itu ia hiraukan dan sebisa mungkin Tetsuya tidak menunjukkan rasa sakit yang ia rasakan karena ia tidak ingin dianggap sebagai orang yang lemah. Usianya mungkin masih cukup belia, 13 tahun, namun jiwa Tetsuya itu adalah jiwa tua yang bersemayam pada tubuh anak-anak. Dan baik Tetsuya maupun Mukuro pun mengetahui akan hal itu. "Terlebih, aku juga penasaran bagaimana Rokudo-kun akan menghancurkan mafia dan apa yang akan dilakukan setelah tujuan tersebut tercapai."

Tiga pertanyaan dalam kalimat implisit milik Tetsuya pun terlontar dengan mulus, tidak ada curiga barang sedikit pun dalam suara yang ia keluarkan dan Tetsuya masih berusaha untuk bersikap netral. Bukan urusannya bila Mukuro ingin menghancurkan mafia mengingat dunia mafia itu adalah dunia gelap yang penuh akan kejahatan, namun batinnya mengisyaratkan akan rasa penasaran yang tengah melandanya tersebut. Anak itu pun menggunakan ujung payungnya untuk menopang berat tubuhnya mengingat ia begitu kepayahan hanya untuk berdiri apalagi berjalan, namun kesulitan yang tengah ia alami tersebut tidak menjadi Tetsuya untuk menyerah di tengah jalan seperti itu saja. Gadis kecil itu masih memiliki ekspresi serius yang terpatri pada wajahnya, yang kala itu tidak menunjukkan emosi apapun kecuali perhatian yang ia tujukan kepada sosok Mukuro yang ada di hadapannya.

Tetsuya penasaran akan siapa sebenarnya Rokudo Mukuro itu. Pemuda ini bukan lagi Akashi Seijuurou yang dulu Tetsuya kenal, meski pada saat yang sama Mukuro adalah Akashi, hanya saja Tetsuya ingin tahu akan apa yang terjadi sebenarnya. Mukuro yang mendengar pertanyaan dari Tetsuya serta rasa penasaran yang anak itu pancarkan pun hanya memberikan sebuah senyum kecil, tetapi senyuman yang dari luar terlihat begitu ramah dan ambigu tersebut tidak mampu menipu Tetsuya, karena gadis itu bisa mendeteksi sedikit kemarahan serta kebencian di dalamnya. Tetsuya memiliki firasat kalau apapun yang mendasari Mukuro ingin menghancurkan mafia adalah sesuatu yang mendalam, seperti hal itu telah mempengaruhi kejiwaan Mukuro sendiri.

Tawa khas dari Mukuro pun keluar dari mulut pemuda itu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Tetsuya bisa merasakan bulu kuduknya berdiri untuk sesaat sebelum sensasi dingin pun menyebar di ruangan itu, membuat Tetsuya mau tidak mau menyandarkan bahunya pada dinding yang ada di belakangnya untuk menyangga tubuhnya. Aura yang terpancar dari sosok Mukuro begitu pekat dan dipenuhi oleh kegelapan. Kebencian, Tetsuya menebaknya.

Gadis kecil itu menatap sosok Mukuro dengan was-was, ia khawatir pada orang yang pernah menjadi kapten tim basketnya di kehidupannya yang pertama.

"Mafia adalah dunia yang gelap dan juga hina, Nagi. Karena mafia aku menjadi seperti sekarang ini, orang yang berdiri di hadapanmu. Mafia melakukan sesuatu yang tidak bisa disebut manusiawi kepadaku, membuatku membangkitkan mata ini dan melihat keenam reinkarnasiku sebelum ini. Apa kau pernah melihat neraka, Nagi? Karena mafia aku sudah pernah melihatnya dan juga merasakannya," ujar Mukuro yang pada akhirnya membuka mulutnya, menjawab pertanyaan Tetsuya mengenai alasannya yang membenci mafia. "Keluarga Estraneo, aku menghancurkan keluarga mafia tempat asalku dan juga yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. Dan aku akan menghancurkan dunia mafia yang hina itu."

Mukuro terlihat seperti orang yang histeris, tidak sadar akan apa tengah ia bicarakan. Sesungguhnya Tetsuya sedikit tidak mengerti akan apa yang Mukuro katakan. Membuat Mukuro menjadi sekarang ini? Membangkitkan mata berwarna merah? Merasakan dan melihat neraka? Dan yang membuat perhatian Tetsuya tertarik adalah pernyataan kalau Mukuro menyadari keenam reinkarnasi dalam hidupnya karena suatu hal yang dilakukan keluarga Estraneo kepada dirinya. Tetsuya mungkin bukan orang jenius seperti Akashi Seijuurou maupun Midorima Shintarou, namun Tetsuya itu cukup tajam dalam mengamati apa yang ada di hadapannya. Menggabungkan antara satu hal dengan yang lainnya berdasarkan apa yang Mukuro katakan tadi membuat Tetsuya memiliki sebuah gambaran kecil akan apa yang keluarga Estraneo lakukan kepada Mukuro, dan semakin Tetsuya memperjelas gambaran yang muncul dalam benaknya tersebut, gadis kecil itu merasa perutnya seperti teraduk.

"Eksperimen hidup," gumam Tetsuya dengan suara yang begitu lirih. Kalau orang tidak memperhatikan Tetsuya dengan benar maka mereka tidak akan mampu untuk mendengar apa yang Tetsuya sebutkan tersebut.

Melihat senyuman tipis yang tersungging di bibir Mukuro tersebut tentu membuat Tetsuya memiliki spekulasi kalau ucapannya tadi memang tepat sasaran. Dan karena itu tiba-tiba saja Tetsuya merasa mual, seolah-olah ia tadi menelan makanan busuk dan kini perutnya ingin memberontak padanya. Kalau tebakan Tetsuya tadi memang benar di mana Mukuro adalah bahan percobaan hidup oleh keluarga Estraneo, maka tidak heran bila Mukuro memiliki pandangan buruk terhadap mafia dan ingin sekali menghancurkannya. Motif utamanya adalah balas dendam, seperti Mukuro merasa jijik pada mafia.

"Kau memang orang yang tajam seperti biasanya, Nagi, aku berikan kau nilai A karena mampu menebaknya dengan tepat tanpa perlu aku mengatakannya secara langsung. Kau benar sekali, mafia menggunakanku dan yang lainnya sebagai kelinci percobaan mereka. Mereka membuatku melihat neraka, namun kurasa aku harus berterima kasih kepada mereka juga karena tanpa eksperimen yang berujung membunuhku tersebut aku tidak akan memiliki kekuatan seperti ini," jawab Mukuro, mata merah milik Mukuro pun kini diselimuti oleh api kehidupan berwarna indigo saat ia menatap sosok Tetsuya. "Aku akan menggunakan kekuatan ini untuk menimbulkan perang di dunia mafia dan menghancurkannya, dan untuk melakukan itu aku membutuhkan Vongola Decimo yang merupakan pewaris dari keluarga Vongola. Untuk itu, Nagi, aku ingin kau tidak ikut campur di sini. Aku akan lebih menghargainya bila kau mau bergabung denganku, aku akan melindungimu dari keburukan dunia mafia!"

Lagi-lagi adalah kalimat itu yang Mukuro katakan padanya, mencoba untuk merayu Tetsuya untuk bergabung dengannya. Andaikata Tetsuya tidak tahu yang sebenarnya, seperti perbuatan Mukuro yang membuat Namimori gempar dan juga melukai orang yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan tujuan menghancurkan mafia tersebut, tentu Tetsuya akan menyetujui tawaran yang Mukuro berikan padanya. Tetsuya percaya pada perkataan Akashi karena ikatan yang menghubungkan keduanya di masa lalu, bahkan waktu yang memisahkan pun tidak akan mengubah kenyataan tersebut. Namun, Tetsuya itu bukanlah orang bodoh yang akan mengikuti permintaan orang lain tanpa melihat terlebih dahulu sebab dan akibatnya, dan kasus sekarang ini tentu sangat bertentangan dengan moral yang Tetsuya miliki. Tetsuya ingin hidup dengan normal, atau lebih tepatnya mencoba untuk menjadi senormal mungkin dirinya sekarang ini, dan tentu saja mengingat betapa buruknya mafia dan sebagainya ia tidak akan bergabung dengan pihak mafia, tetapi Tetsuya juga tidak akan bergabung dengan Mukuro karena gadis kecil itu tidak menyukai akan balas dendam dalam segala bentuknya. Tetsuya mungkin bersimpati dengan Mukuro atas apa yang pemuda itu alami ketika dirinya masih kecil, tapi tidak lebih dari itu.

"Balas dendam bukanlah segala-galanya, Rokudo-kun. Aku mungkin tidak mengerti akan penderitaan yang Rokudo-kun terima, namun aku tidak sependapat dengan tujuanmu yang ingin menghancurkan mafia melalui cara radikal seperti itu. Aku tidak menyukai kekerasan," ujar Tetsuya pada akhirnya. Ia memberitahu apa yang ada dalam pikirannya kepada Mukuro tanpa ada jeda.

Tidak dulu dan juga tidak sekarang, Tetsuya selalu mengatakan apa yang ia yakini secara jelas. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi, dan meskipun itu artinya dia harus menentang orang yang dihormatinya maka hal itu pun akan ia lakukan pada saat itu juga.

Secara tidak langsung, Tetsuya menolak tawaran yang Mukuro berikan kepadanya untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kali pula lah Mukuro merasakan dua jenis emosi ketika mendapatkannya. Yang pertama adalah terkesan dan yang kedua adalah kesal. Mukuro terkesan karena Tetsuya adalah orang yang berani –atau mungkin bodoh– untuk menentangnya tanpa ada rasa takut barang sedikit pun, dan Mukuro pun kesal karena keinginannya untuk mendapatkan Tetsuya di sampingnya pun kandas akibat penolakan yang Tetsuya berikan padanya.

"Apa tidak ada cara lain bagiku untuk mengubah pikiranmu, Nagi?" Tanya Mukuro, pemuda itu menggenggam trisulanya dengan erat tanpa mengalihkan kedua matanya untuk bertemu dengan milik Tetsuya, yang sedari tadi terus menatapnya tanpa ada jeda di sana.

"Maafkan aku, Rokudo-kun," hanya itu yang bisa Tetsuya berikan sebagai jawaban, artinya keputusan yang ia miliki sudah bulat dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya lagi. "Mengubah sesuatu dengan sebuah kebencian itu tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Hal ini akan menjadi benih kebencian yang lain, dan tragedi yang sama pun akan terulang. Ketika Rokudo-kun masih seorang Akashi-kun, dia pernah mengatakan itu kepadaku."

Tetsuya tahu kalau ia sudah membuat Mukuro kecewa atas keputusan yang sudah ia buat tersebut, namun Tetsuya adalah seorang yang selalu percaya pada pemikiran yang ia buat. Gadis kecil yang usianya baru menginjak angka 13 tahun tersebut bukanlah orang bodoh yang gampang terperdaya atas kata-kata manis dan penglihatan semu yang disajikan dihadapannya. Ia adalah seorang Kuroko Tetsuya dan juga Hiwatari Nagi, artinya Tetsuya adalah seorang dewasa yang hanya tubuhnya saja yang mengecil, dirinya mampu menentukan mana yang terbaik dan mana yang bukan untuk dirinya sendiri. Ini bukan pertama kalinya Tetsuya menentang perintah yang Mukuro berikan bila hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidupnya, dan Tetsuya pun sangat yakin kalau ini juga bukan hal yang terakhir untuk ia lakukan dalam kehidupan ini.

Tetsuya sebagai Kuroko Tetsuya sudah sering mengisi hidupnya sebagai seorang pembangkang yang dikenal akan keras kepalanya, tidak ada orang yang mampu mengubah jalan hidupnya meski orang yang dimaksud adalah orang yang sangat dekat dengan dirinya. Bila Tetsuya sudah memutuskan satu hal, maka ia akan sulit untuk mengubah keputusannya, dan hal inilah yang tengah terjadi sekarang ini. Sayangnya, Tetsuya bukanlah seorang seer yang bisa membaca masa depan maupun mengenal baik siapa Rokudo Mukuro. Sehingga Tetsuya pun tidak bisa memprediksikan konsekuensi yang dia dapatkan karena menolak perintah dari Mukuro, ia pun menemukan tubuhnya menghantam dinding yang ada di belakangnya sebelum rasa sakit yang begitu kuat dan berasal dari perutnya pun Tetsuya rasakan. Gadis itu menoleh ke bawah, dirinya menemukan trisula tajam milik Mukuro menusuk tubuhnya, mengoyaknya dari dalam dan membuat darah segar merembes dari bekas tusukan tersebut. Semuanya terasa sakit, luka luar dan dalam pun Tetsuya alami akibat tindakannya yang tidak menyenangkan bagi Mukuro itu. Tapi, apakah Tetsuya menyesali perbuatannya tersebut? Tidak, Tetsuya sama sekali tidak menyesal meski pada akhirnya dirinya lah yang terluka parah.

"Aku tidak suka menyakitimu seperti sekarang ini, Nagi, tapi kau tidak memberiku pilihan lain," ujar Mukuro dengan nada dingin. Pemuda itu tidak terlihat bersalah karena telah menusuk tubuh Tetsuya dengan trisulanya, begitu dalam sampai Tetsuya sangat yakin ia akan mati karena kehabisan darah bila dirinya tidak segera ditolong. "Kau sudah membuat pilihanmu sendiri."

"Ukkh..." erang Tetsuya dengan suara tertahan ketika Mukuro mencabut trisulanya dan meninggalkan tubuh mungil milik Tetsuya terduduk di atas lantai dingin dengan luka yang menganga di perutnya

Semuanya terasa sakit, tubuhnya tidak hanya terluka parah akibat hantaman serta pukulan yang Mukuro berikan padanya ketika mereka tengah bertarung beberapa saat yang lalu, Tetsuya juga merasakan pandangannya semakin mengabur akibat dirinya kehilangan banyak darah. Pakaian yang Tetsuya kenakan pun kini bersimbah oleh darah, bahkan aliran merah tersebut tidak berhenti keluar dari bekas tusukan lukanya meski Tetsuya sudah mencoba untuk menutupnya menggunakan tangan kanannya.

"Rokudo-kun..." gumam Tetsuya dengan suara lirih, tubuh mungilnya pun kini jatuh terduduk dan senjatanya pun jatuh tepat di sampingnya. Pandangannya kabur dan hatinya masih tidak percaya kalau Mukuro menusuknya seperti ini. Sebuah pertanyaan pun muncul di dalam benak Tetsuya, ia bertanya-tanya apakah Mukuro ingin sekali membunuh Tetsuya hanya karena Tetsuya menolak permintaannya? Tetsuya meragukan akan pemikirannya tersebut. Mukuro mungkin bukanlah Akashi yang pernah ia kenal sebelum ini, namun di dalam tubuh itu bersemayam jiwa Akashi yang tak memungkinan baginya untuk membunuh Tetsuya begitu saja. Mukuro itu orang yang baik, Tetsuya mengatakannya pada dirinya sendiri, dan mau tak mau gadis kecil itu pun mengulaskan sebuah senyum kecil sebelum pandangannya kabur dan hanya gelap yang mampu ia lihat setelah itu.

Tetsuya bertanya-tanya apakah ia sudah mati untuk yang kedua kalinya? Bila pertama kalinya dia meninggal pada usianya yang baru menginjak angka 20 dan sebagai seorang Kuroko Tetsuya, seorang mahasiswa yang bagian dari generasi keajaiban. Kali ini Tetsuya pun mati pada usinya yang terlampau belia, ia meninggal pada usianya yang ke-13 tahun dan sebagai seorang gadis kecil, penyebabnya pun adalah keras kepala yang Tetsuya miliki sehingga reinkarnasi temannya itu pun memilih untuk menghabisinya begitu saja. Semua ini adalah ironi.

Tetsuya belum lah mengenal dunia tempatnya lahir untuk yang kedua ini dengan baik, ia terus-terusan terikat pada masa lalu sehingga jiwanya tidak bisa terasa bebas. Dan satu hal yang membuatnya merasa menyesal dan tak ingin untuk mati adalah kedua orangtua Tetsuya yang baru. Mungkin Tetsuya tidak mengenal mereka dengan baik, namun Tetsuya ingin sekali bertemu dengan mereka berdua untuk sekali lagi dan mengatakan betapa kesepiannya Tetsuya tanpa kehadiran mereka, dan ia ingin bersama dengan keluarganya barang sehari saja tanpa perlu ada apapun yang mengganggu, tidak untuk pekerjaan mereka maupun kontrak-kontrak lain yang menjemuhkan. Boleh kah anak itu untuk merasa egois sekali saja?

Gadis berambut biru gelap itu tahu kalau semuanya tidak akan terjadi kali ini, keajaiban tidak mungkin terjadi bagi seseorang yang sudah sekarang seperti sekarang ini. Lukanya yang diakibatkan oleh trisula Mukuro itu sangat dalam, selain itu dirinya juga sudah kehilangan banyak darah sehingga membuatnya tidak sadarkan diri seperti ini. Hanya jiwa Tetsuya saja yang masih memberontak meski tubuhnya tak lagi sanggup menopang dirinya, namun semua itu tidak masalah. Tetsuya tidak ingin untuk mati dulu, dia masih memiliki ambisi dan juga tujuan yang belum tercapai, untuk itu dirinya tidak boleh mati sekarang ini. Masih banyak yang ingin Tetsuya lihat dan juga alami, dan ia pun tidak ingin kehilangan masa mudanya untuk yang kedua kalinya seperti ketika ia masih menjadi seorang Kuroko Tetsuya.

Tetsuya merasakan itu, tarikan yang berasal dari dalam tubuhnya dan semua itu terasa begitu hangat namun nyaman pada saat yang sama. Sebuah cahaya yang begitu menyilaukan pun tiba-tiba muncul dan tanpa sadar membuat Tetsuya membuka kedua matanya. Tetsuya melihat bagaimana ruangan tempatnya terkapar tadi terlihat begitu terang seperti ada puluhan lampu yang menerangi ruangan itu. Setiap sudut dari theater yang terbengkalai tersebut terlihat oleh matanya, tapi ia sama sekali tidak melihat sosok Mukuro ada di sana maupun kerusakan tempat itu akibat pertarungannya dengan Mukuro tadi. Hal ini seperti Mukuro lenyap begitu saja dan satu-satunya orang yang ada di tempat itu adalah Tetsuya seorang.

Sebuah pergerakan dari sudut ruangan pun langsung membuat Tetsuya menoleh ke arah itu, dan di sanalah Tetsuya melihat sosok itu. Sosok seorang wanita berambut pirang panjang dan bergaun ala abad pertengahan. Wanita itu adalah wanita sama yang pernah Tetsuya lihat dalam penglihatannya sebelum ini, dan sosok wanita itu balik menatap Tetsuya dengan sepasang mata yang begitu Tetsuya kenal, matanya ketika Tetsuya tengah bermain basket. Iris berwarna biru langit yang teduh tersebut terlihat tidak gentar menghadapi apapun dan juga terlihat memiliki kekuatan di dalamnya. Seperti ruangan tempat Tetsuya berada, wanita itu juga bersinar seperti ia memiliki cahayanya sendiri, dan detik berikutnya wanita itu pun berjalan menghampiri Tetsuya sampai ia berdiri tepat di hadapan gadis kecil yang bersimbah darah tersebut.

Berhadapan dengan sosok yang seperti keluar dari cerita dongeng tersebut membuat Tetsuya sedikit tidak percaya diri, terlebih ketika ia tengah terluka parah –yang mana dirinya hampir mati– dan mengenakan pakaian yang bersimbah darah, rasanya ia seperti seorang korban kalah perang bila disandingkan dengan sosok putri kerajaan dari dongeng seribu satu malam.

"Kuroko Tetsuya," wanita itu membuka mulutnya dan mengucapkan nama Tetsuya. Namanya dan bukan Nagi, tentu hal ini membuat Tetsuya terkejut sampai kedua matanya terbuka sedikit lebih lebar. "Waktumu belum tiba untuk menyambut kematian yang kedua kalinya!"

Wanita itu tahu siapa Kuroko Tetsuya –salah satu rahasia yang Tetsuya simpan sejak ia terlahir kembali– dan juga tahu kalau Tetsuya seorang inkarnasi, tentu saja bila ada orang yang mengatakan hal ini dalam pertemuan pertama kali pasti Tetsuya akan terkejut setengah mati, ia tidak percaya kalau ada orang lain yang bisa menebak dirinya dengan mudahnya. Keterkejutan yang Tetsuya rasakan akibat pengungkapan identitas serta rahasia Tetsuya pun kehilangan momennya tersendiri setelah Tetsuya merasakan tenaganya semakin lama semakin melemah, mungkin ini dikarenakan oleh dirinya yang kehilangan banyak darah.

"Bukan waktuku untuk kembali?" gumam Tetsuya, kedua matanya terlihat sedikit tidak fokus namun pengucapan kalimatnya masih terdengar lancar, ia terlalu keras kepala untuk menyerahkan hidupnya kepada kematian meski nyawanya tengah berada di ujung tanduk. "Kurasa hidupku ini memang penuh dengan lelucon yang tidak lucu."

Wanita itu bergeming di tempatnya, berdiri di hadapan Tetsuya dan menatap sosok mungil yang bersimbah darah di hadapannya tersebut dengan kalem, seolah pemandangan berdarah dari seorang anak kecil berusia 13 tahun adalah hal yang begitu biasa untuk terjadi. Sebenarnya siapa sosok wanita ini? Ini kali kedua Tetsuya melihat sosok wanita berambut pirang keemasan tersebut. Pertama kalinya ia melihat sosok ini dalam penglihatannya beberapa jam yang lalu, dan yang kedua kalinya adalah sekarang ini di mana keduanya mampu berinteraksi dengan satu sama lainnya.

"Lelucon?" Tanya wanita itu dengan sabar, bibirnya pun menyunggingkan sebuah senyum kecil sebelum ia berjongkok di hadapan Tetsuya. Gaunnya yang panjang itu menyentuh lantai dan mengikuti gerakan dari wanita tersebut. "Semua kehidupan yang ada di dunia ini bukanlah sebuah lelucon, Tetsuya, kau juga termasuk di dalamnya. Aku tidak akan menyebut hidupmu sebagai sebuah lelucon, aku lebih suka menyebut dirimu sebagai keajaiban yang Tuhan berikan kepadamu."

Keajaiban? Tetsuya merasakan bibirnya berkedut kecil, senyuman yang mengisyaratkan sebuah keironian pun ingin sekali muncul di bibirnya, tapi raut wajahnya yang selalu tenang dan tampak tak beremosi itu hanya bisa bisa terlihat kosong seraya Tetsuya memandang sosok elegan di hadapannya.

Seperti tahu akan apa yang tengah Tetsuya pikirkan, sosok wanita berambut pirang keemasan tersebut mengulum sebuah senyum dan meletakkan tangan kanannya di atas puncak kepala Tetsuya, mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

"Tidak banyak orang memiliki kesempatan kedua untuk hidup bukan? Kau adalah orang yang beruntung, bisa terlahir kembali dan mengingat segalanya yang ada di kehidupan lampau," ujar wanita itu, tangannya terus mengusap kepala Tetsuya dan membuat sosok gadis mungil tersebut merasa nyaman sampai ia memejamkan kedua matanya, menikmati belaian lembut yang wanita itu berikan padanya, seperti seorang Ibu yang memberikan kasih sayangnya kepada anak kesayangannya. "Kau memiliki tekat yang besar, Tetsuya

Sebuah senyum getir muncul di bibir Tetsuya ketika ia mendengar ucapan wanita tersebut. Wanita itu bukanlah orang pertama yang mengatakan kalau Tetsuya memiliki tekat yang besar, hampir semua orang yang mengenalnya di kehidupan pertama tahu kalau Tetsuya selalu memiliki tekat besar. Ia adalah sosok yang tidak bisa bermain basket namun bermimpi untuk dapat bermain basket, dengan tekatnya yang besar tersebut Tetsuya selalu berlatih hampir setiap hari sampai ia bertemu dengan Aomine. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil di mana Akashi pada akhirnya membantu Tetsuya dan membuatnya bergabung menjadi tim inti basket di SMP Teiko. Bahkan, karena tekat yang besar pun Tetsuya bisa membantu Kagami dan mereka pun pada akhirnya bisa mengalahkan Kiseki no Sedai di Winter cup saat Tetsuya masih duduk di kelas satu. Tekatnya yang besar membuatnya sangat keras kepala, Tetsuya rasa mungkin karena itu dirinya pun terlahir kembali setelah ia meninggal di kehidupan pertamanya.

"Kau benar," sahut Tetsuya dengan nada lirih. "Aku terlalu keras kepala untuk mati dan tidak ingin merasakan kematian dalam waktu dekat ini. Ada banyak hal yang masih belum sempat aku lakukan dan ingin kulakukan di kehidupan ini. Bila Tuhan memang memberikanku kesempatan kedua untuk hidup lagi karena aku terlalu keras kepala untuk mati, maka aku tidak bisa menyia-nyiakannya."

Wanita yang ada di samping Tetsuya tidak memberikan sahutan maupun balasan berupa kata-kata, ia terlihat begitu sabar mendengarkan tekat besar yang Tetsuya utarakan beserta kata-katanya itu. Kuroko Tetsuya adalah individu yang sangat menarik, tidak heran kalau ia mendapatkan kesempatan kedua setelah kematian menjembutnya, terlahir kembali ke dunia ini sebagai sosok seorang Hiwatari Nagi.

"Bertemu dengan Akashi-kun di tempat ini membuatku sangat terkejut, terlebih dengan apa yang terjadi dengannya sehingga membuat Akashi-kun menjadi Akashi-kun yang sekarang. Aku ada di sini, dan aku tidak akan membiarkannya berubah menjadi sesuatu yang bukan dirinya," ujar Tetsuya lagi. Kedua mata birunya memancarkan sebuah tekat yang membara, layaknya ketika ia mengutarakan sumpah kepada Kagami kalau ia akan membantunya menjadi pemain basket nomor satu di Jepang serta saat Tetsuya membukakan gerbang kedua zone untuk Kagami dalam pertandingan mereka melawan Rakuzan di babak akhir. Namun, yang membuat wanita itu tertarik adalah api kehidupan yang berasal dari tekat dan niat Tetsuya tersebut bersinar dengan begitu kuat. Anak ini rupanya sangat spesial, wanita itu berkata dalam hati.

"Kau ingin menyelamatkan Akashi Seijuurou," kata wanita itu lagi, bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil yang ia tujukan kepada Tetsuya.

Anggukan kecil lah yang menjadi jawaban atas pertanyaannya. Tetsuya memiliki tujuan untuk saat ini.

"Akashi-kun adalah orang yang baik di dunia asalku, dan aku yakin kalau Akashi-kun tetaplah Akashi-kun. Kalau untuk mengembalikannya itu artinya aku harus bertarung dengan Akashi-kun, maka biarlah itu terjadi," Tetsuya pun menggenggam payung senjatanya yang tergeletak di sampingnya itu dengan erat, dan dengan bantuan dari senjatanya tersebut ia pun brdiri dari tempat duduknya meski ia begitu kesulitan dalam melakukannya. Wanita berambut pirang keemasan itu pun hanya melihat sosok mungil tersebut tengah kepayahan untuk berdiri tanpa membantunya sedikit pun, namun senyuman kecil tetap terpatri pada bibir wanita itu.

"Meskipun kau tahu kalau kau akan kalah ketika melawan Akashi Seijuurou (Rokudo Mukuro) dan ada kemungkinan untuk mati?" Tanya wanita itu lagi.

Tetsuya yang merasa kepalanya begitu pening akibat kehilangan banyak darah pun memberika anggukan, genggamannya pada senjatanya tersebut tidak melonggar sama sekali, bahkan bila orang mampu meniliknya maka Tetsuya terlihat jauh lebih berketad ketimbang beberapa saat yang lalu. Mungkin Tetsuya ini adalah orang yang jauh lebih keras kepala dari perkiraannya sendiri, atau bahkan Tetsuya ini adalah contoh orang yang memiliki kebanggaan diri yang cukup tinggi sehingga dirinya tidak rela dikalahkan oleh siapapun. Apapun itu, Tetsuya tidak peduli, yang jelas fokus pandangannya adalah ingin memahami Rokudo Mukuro dan kalau bisa ia ingin mengembalikannya seperti dulu. Tetsuya pernah bertarung dengan Akashi di dunia asalnya, dan dia pun akan melakukan hal yang sama sekarang ini.

"Kalah atau menang bukanlah sebuah jawaban yang aku cari," jawab Tetsuya, kedua matanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut maupun putus asa ketika ia menatap sosok wanita itu lagi. "Tapi 'berhasil' adalah apa yang aku cari."

"Kau benar-benar anak yang unik, Kuroko Tetsuya, kau memiliki tekat yang begitu besar sampai api kehidupan dunia ini pun menyahut atas panggilanmu. Kurasa aku tidak bisa mencegahmu, aku akan mendukungmu," sahut sang Wanita dengan nada penuh keibuan, ia pun meletakkan kedua tangannya di atas senjata milik Tetsuya dan menggenggam tangan Tetsuya yang tengah mengenggam payung itu. "Untuk itu aku akan melepaskan segel pada sejata ini. Gunakan senjataku ini dengan bijak, Kuroko Tetsuya, aku percaya kau dapat melakukannya."

Tetsuya tidak tahu akan apa yang terjadi saat ini, namun yang ia ketahui adalah ketika wanita menggenggam kedua tangannya ia pun secara otomatis menautkan jemarinya dengan milik wanita berambut pirang tersebut. Keduanya saling berpandangan dan Tetsuya bisa melihat betapa birunya mata milik wanita tersebut, begitu indah dan mengingatkan Tetsuya pada birunya langit di musim panas, seperti ia tengah melihat cerminannya sendiri dari balik cermin. Wanita berambut pirang itu tersenyum lembut sebelum ia meletakkan keningnya dengan milik Tetsuya, dan keduanya pun kini memejamkan kedua mata masing-masing.

Kekuatan yang begitu besar pun mengalir, api kehidupan dalam jenis kabut pun muncul dalam jumlah yang besar dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Tetsuya bisa meraskan semua itu, begitu jelas dan juga nyata, wanita itu memiliki jenis api yang sangat mirip dengan miliknya dan kedua api kehidupan mereka pun saling berasimilasi dengan satu sama lainnya.

"Kulepaskan segelku dari senjataku, Kuroko Tetsuya, mulai sekarang benda ini adalah milikmu karena kau adalah tuan barunya," gumam sang Wanita dengan nada lirih.

Baik Tetsuya dan wanita itu pun kini saling membuka kedua mata mereka tanpa melepaskan tautan kedua jemari mereka, keduanya serasa seperti memiliki sebuah ikatan yang sangat kuat. Sebenarnya siapa wanita itu?

Pertanyaan yang muncul di benak Tetsuya pun menghilang kala kedua matanya menemukan sebuah tongkat panjang berwarna silver ada di genggamannya, tepat di mana Tetsuya tadi menggenggam payung yang merupakan senjatanya. Inikah yang wanita itu maksud dengan melepaskan segel pada senjatanya? Wujud asli dari payung ilusi tersebut adalah sebuah tongkat platinum dengan panjang sekitar 1,7 meter dan jugaa aura yang menyuarakan api kehidupan kabut. Dan entah mengapa Tetsuya pun merasa kalau bentuk senjatanya yang seperti tongkat itu terasa jauh lebih cocok baginya, seperti senjata itu memang untuknya dan didesain khusus untuk Tetsuya seorang.

"Majulah, Kuroko Tetsuya. Perlihatkan tekatmu padamu dan juga kepada mereka semua," ujar wanita itu lagi. Kini wanita itu melepaskan kedua jemari Tetsuya dan membingkai wajah gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Rasaya begitu hangat, seperti pelukan sang Nenek yang pernah Tetsuya rasakan di kehidupan pertamanya. "Aku akan terus melihatmu, kau tidak sendirian lagi di dunia ini."

Senyuman wanita itu pun melebar ketika ia melihat sebuah pertanyaan yang menjurus pada identitasnya terpancar pada mata biru Tetsuya. Anak itu mungkin terlihat begitu datar, namun bila seseorang tahu benar bagaimana membaca seorang Kuroko Tetsuya, anak itu bisa dikatakan cukup ekspresif.

"Kau bisa memanggilku sebagai Elena, nama panjangku adalah Elena Spade," gumam wanita itu sebelum denting lonceng terdengar dan pandangan Tetsuya pun menjadi kabur.

Warna putih adalah satu-satunya yang bisa Tetsuya lihat setelah dan untuk beberapa saat lamanya. Kemunculan Elena dan kepergian Elena itu membuatnya sangat terkejut, dan sebuah pemikiran pun tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Nama wanita itu adalah Elena Spade, apa mungkin wanita itu adalah sosok pengarang buku catatan yang seringkali menjadi panduan bagi Tetsuya bila ia ingin mempelajari api kehidupan jenis kabut? Dan bila memang Elena yang muncul di hadapannya itu adalah Elena Spade yang sama dengan sang Pengarang, maka tidak heran kalau wanita itu bisa mematahkan segel pada senjatanya yang semula berbentuk payung, membuatnya kembali berubah wujud menjadi sebuah tongkat platinum. Tetsuya benar-benar penasaran dengan sosok yang bernama Elena tersebut, mungkin setelah semua ini selesai, ia akan mencoba untuk mengunjungi toko barang antik milik Kawahira dan bertanya kepada pria itu mengenai sosok yang bernama Elena Spade tersebut.


Ketika Tetsuya membuka kedua matanya untuk yang kedua kalinya, suara dinamit yang meledak adalah apa yang Tetsuya dengar dan di hadapannya pun terpampang sebuah pemandangan yang begitu berbeda dari apa yang ia lihat sebelumnya. Dirinya tidak lagi sendirian dengan Mukuro karena di sana terdapat beberapa orang lagi termasuk sosok pemuda yang Tetsuya lihat dalam penglihatannya tadi dan juga sosok pemuda berambut cokelat yang Tetsuya selamatkan dari Mukuro di dalam hutan sebelum ini. Namun, dari semuanya yang menarik perhatian Tetsuya adalah sosok seorang balita berusia dua tahun yang mengenakan setelan jas hitam dan juga fedora di kepalanya. Sebuah pacifier berwarna kuning cerah tergantung di dada balita itu. Tetsuya bisa merasakan aura sosok balita tersebut, begitu berbahaya dan juga sangat kuat, jauh lebih kuat dari kombinasi seluruh orang-orang yang ada di tempat ini.

Kalau tidak salah Tetsuya juga pernah melihat sosok balita tersebut ketika ia keluar dari rumah sakit setelah mengantarkan Sasagawa Ryohei ke sana, bahkan keduanya sempat berpandangan untuk sesaat kala keduanya berpapasan kemarin. Sebenarnya siapa balita yang terlihat begitu berbahaya itu? Tetsuya membuat sebuah catatan untuk tidak melawan sosok balita itu atau ia akan mengantarkan nyawanya sendiri kepada maut. Berbicara tentang balita yang memiliki pacifier kuning yang tergantung di dadanya tersebut, Tetsuya merasakan sesuatu yang familiar tentang balita tersebut, seperti ia pernah merasakan aura seperti ini sebelumnya, tapi kapan dan di mana Tetsuya lupa.

Seperti tahu kalau Tetsuya tengah memperhatikannya, balita itu pun menoleh ke samping dan langsung menatap Tetsuya lekat-lekat. Sepasang mata biru milik Tetsuya pun bertemu langsung dengan mata hitam pekat milik sang Balita, mereka saling berpandangan tanpa ada rasa gentar sedikit pun, meski sesungguhnya dalam hati Tetsuya merasa sedikit gusar karena seorang balita yang berusia tidak lebih dari dua tahun mampu mengintimidasi seorang remaja dan juga orang dewasa seperti dirinya. Dalam hati Tetsuya bertanya-tanya mengenai identitas balita tersebut, namun untuk sekarang ini Tetsuya akan menyimpannya dulu mengingat situasi di mana mereka berada sekarang ini tidak bisa dikatakan bagus.

Tetsuya adalah orang pertama yang mengalihkan tatapannya dari sosok sang Balita untuk melihat ke arah depan, tepat di mana Mukuro tengah mengolok-olok sosok pemuda berambut hitam yang Tetsuya ketahui bernama Hibari itu, dan pertarungan di antara keduanya pun terjadi. Andaikata Tetsuya adalah orang yang mudah terkagum-kagum pada pertarungan, mungkin ia akan ternganga seperti sosok pemuda berambut cokelat yang Mukuro sebut sebagai Vongola Decimo tersebut, sayangnya Tetsuya ini orangnya terlalu susah untuk dibuat terkagum akan sesuatu, dan terlebih lagi ia tidak mungkin membiarkan Hibari melawan Mukuro sendirian mengingat pemuda berambut hitam tersebut tengah terluka parah. Tetsuya sangat yakin kalau kawannya yang tengah melawan Hibari menggunakan trisula tersebut mematahkan beberapa tulang rusuk Hibari beberapa saat yang lalu.

Gadis kecil berambut biru gelap itu pun dengan susah payah mengumpulkan tekatnya dan memanggil senjatanya untuk muncul di hadapannya. Api kehidupan berwarna indigo pun muncul dan kabut menyelimuti tangan kanannya sebelum sebuah tongkat platinum dengan tinggi 1,7 meter pun muncul serta berada dalam genggamannya. Tetsuya tahu kalau balita yang tadi memperhatikannya itu tengah menatapnya dengan penuh kalkulasi, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan dan Tetsuya tidak menyukainya bila ia mengetahui apa itu. Untuk itulah Tetsuya menghiraukan sang Balita dan berusaha untuk berdiri dengan bantuan tongkat platinumnya.

Tetsuya menggigit bibir bawahnya ketika tubuhnya mulai berdiri, menahan rasa sakit dan serta merta tidak berteriak karena rasa sakit yang luar biasa. Bekas tusukan trisula milik Mukuro di perutnya pun mengeluarkan banyak darah, Tetsuya tidak akan heran kalau dirinya akan mati karena kehabisan darah setelah ini. Ia menggunakan tongkatnya sebagai tumpuan dan dinding di belakangnya sebagai sandaran, gadis itu pun memejamkan kedua matanya setelah ia berhasil berdiri untuk mengumpulkan energi yang tersisa dan juga menguatkan tubuhnya yang terluka parah. Tujuannya saat ini adalah menghentikan Akashi atau Mukuro, ia tidak akan menyerah saat ini juga karena itu adalah tekatnya. Elena Spade telah mempercayakan kekuatannya pada Tetsuya, wanita itu percaya pada Tetsuya untuk mencapai tujuannya yang terdengar begitu tidak meyakinkan tersebut, oleh karenanya Tetsuya tidak akan menyerah pada saat ini.

"Oya... Putri tidur sudah bangun rupanya," kata Mukuro tiba-tiba.

Ucapan dari Mukuro itu membuat semua perhatian tertuju padanya dan pertarungan antara Mukuro serta Hibari pun tertunda untuk beberapa saat. Tetsuya merasa tidak nyaman ketika ia mendapatkan perhatian seperti itu, terlebih dengan penampilannya yang acak-acakan serta luka menganga di perut dan dadanya.

"Hii... kau berdarah!" jerit sang Vongola Decimo sebelum balita yang ada di sampingnya tersebut menendangnya dengan keras. "Reborn... kau tidak perlu menendangku seperti itu."

"Jangan berteriak yang tidak perlu, dame-Tsuna," sahut Reborn sebelum balita itu menatap sosok Tetsuya dengan lekat. "Kau tahu bagaimana caranya menggunakan api kehidupan rupanya, Hiwatari Nagi."

Tetsuya tidak mempedulikan ucapan Reborn maupun tangisan mendramatisir dari Tsuna, bahkan Tetsuya pun tidak terlalu peduli bagaimana Reborn bisa mengetahui namanya meski sang Gadis kecil itu sama sekali tidak memberitahunya, bahkan berbicara dengan Reborn pun ia tidak pernah. Mungkin ini yang namanya keajaiban dunia, Tetsuya menyimpan pertanyaannya untuk nanti. Kedua mata biru Tetsuya memperlihatkan tekatnya saat mereka bertemu langsung dengan milik Mukuro.

"Kau memiliki senjata yang baru, Nagi, aku penasaran apakah benda itu adalah benda yang sama seperti tadi."

"Mungkin Rokudo-kun bisa melihatnya nanti," jawab Tetsuya ketika ia mengambil beberapa langkah ke depan sambil menghiraukan rasa sakit maupun darahnya yang kini berceceran di lantai. Tetsuya mengangkat tongkat platinumnya dan memutarnya sebanyak tiga kali sebelum menghentakkan ujung bawahnya pada lantai tempatnya berdiri. Hawa dingin pun tiba-tiba muncul di sana, kabut yang terasa sangat dingin pun juga muncul dan membuat beberapa dari mereka (Tsuna dan seorang pemuda berambut silver) merasa panik. Tidak hanya itu, tiba-tiba saja duri besar yang terbuat dari kristal es pun muncul dari dasar lantai dan membelahnya, semua itu langsung menuju ke arah Mukuro dengan kecepatan tinggi. "Dan merasakannya dengan tubuh Rokudo-kun sendiri."

Mukuro yang melihat itu langsung menggunakan trisulanya untuk membelah kristal es tersebut dengan sekali tebas, sayangnya Mukuro tidak memperhitungkan kalau ilusi yang Tetsuya gunakan itu jauh lebih nyata dari sebelumnya, sehingga trisula Mukuro tersebut tidak mampu untuk membelahnya. Sebagai akibat, sosok sang Ilusionis itu pun terpental dan mengarah pada Hibari yang langsung menyerangnya dari belakang. Sang Ketua komite kedisiplinan tersebut terlihat sangat kesal karena pertarungannya dihadang di tengah-tengah oleh seorang gadis kecil yang tadi tidak sadarkan diri.

Tetsuya tidak berhenti di sana saja, gadis itu pun memanggil api kehidupannya lagi dan membuat bongkahan es yang tajam itu langsung mencair di tempat. Dari dalam es yang mencair tiba-tiba saja muncul dua golem yang terbuat dari air dengan dua buah pedang tergenggam di tangan golem tersebut. Tetsuya maju ke depan sambil memegangi perutnya yang berdarah, ia pun menghentakkan ujung tongkatnya pada tanah yang langsung membuat golem tersebut hidup dan menyerang Mukuro. Ilusi melawan ilusi, kedua ahli ilusi tersebut pada akhirnya melanjutnya pertarungan mereka yang tertunda, menghiraukan beberapa tatapan tidak percaya, penuh kalkulasi, serta kesal dari penontonnya. Baik Tetsuya dan Mukuro pun melanjutkan duelnya dengan sengit, bahkan Hibari yang kesal karena pertarungannya diganggu oleh kemunculan Tetsuya pun langsung bergabung dengan mereka.

Rokudo Mukuro melawan Kuroko Tetsuya dan Hibari Kyoya pun berlangsung dengan begitu sengit. Duet antara Tetsuya dan Hibari itu juga terlihat menarik dan selaras meski keduanya tidak saling bicara maupun bertemu sebelumnya, Tetsuya yang seperti tahu akan gerakan Hibari pun langsung membantu Hibari dari belakang dengan ilusi nyata yang ia ciptakan. Hibari mungkin terlihat begitu kesal dan menyebut Tetsuya sebagai herbivora, tapi sang Pelindung Namimori tersebut tidak mengatakan apapun lagi dan terus berkonsentrasi untuk menghajar sosok Mukuro.

"Meski Nagi adalah elemen yang baru di sini, namun dia adalah seorang ilusionis yang akan membantu anggota keluarganya dari belakang," ujar Reborn dengan seringai tipis di bibirnya, balita itu juga menghiraukan jeritan dari Tsuna yang menyuruhnya untuk tidak melibatkan Tetsuya yang tidak dikenalnya ke dalam urusan Vongola. "Diam, Dame-Tsuna. Apa kau tidak lihat bagaimana kerjasama Hibari dan Nagi? Mereka tidak saling kenal maupun bertemu sebelumnya, namun Nagi dengan ilusinya mampu mendukung Hibari yang berhadapan langsung dengan Mukuro."

Cuaca yang ada dalam ruangan itu pun berganti-ganti, bahkan hal menyeramkan pun juga terjadi saat Tetsuya menciptakan ilusi untuk menahan Mukuro. Dan kerjasama antara Hibari dan Tetsuya secara tidak langsung pun cukup mengagumnya. Tetsuya yang menggunakan ilusi akan menyerang dari jarak jauh dengan ilusi mematikannya untuk mematahkan ilusi milik Mukuro, dan Hibari yang terkenal sebagai petarung jarak dekat pun tidak akan terganggu akan ilusi milik Mukuro sebelum mengantarkan dirinya serta Mukuro untuk melakukan pertarungan secara langsung. Tsuna benar-benar takjub melihat kombinasi kerjasama yang begitu bagus tersebut, dan dalam hati Tsuna pun bertanya-tanya apakah mereka berdua tidak pernah bertemu sebelumnya.

Sayangnya ritme yang menarik antara kombinasi serangan Hibari dan Tetsuya kepada Mukuro harus terhenti ketika tiba-tiba saja Tetsuya jatuh pingsan. Tubunya terasa begitu berat sampai ia tidak lagi mampu untuk terjaga, kehilangan banyak darah membuat seseorang akan merasakan hal yang sama. Dan sebelum tahu akan apa yang terjadi, Tetsuya pun kehilangan kesadarannya untuk yang kedua kalinya hari itu.


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca fanfik ini

Author: Sky