Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn milik Amano Akira dan Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan yang berupa material dalam penulisan fanfik ini

Warning: AU, OOC, OC, violence, typo, reincarnation, etc

Rating: T

Genre: Adventure


BLOOMING MISTY

By

Sky


Tubuhnya terasa begitu berat dan juga lemah seperti ia tidak memiliki tenaga barang sedikit pun untuk bergerak, bahkan untuk membuka kedua matanya pun Tetsuya merasa sulit untuk melakukannya. Di bawah kendali sadarnya Tetsuya pun bertanya-tanya ada di mana dirinya sekarang ini, apakah ia sudah mati karena kehabisan darah, atau mungkin ia ada di ruang penyiksaan. Namun, di atas semua itu Tetsuya juga bertanya-tanya apa yang terjadi kemudian setelah Tetsuya tidak sadarkan diri begitu saja.

Tetsuya yang mengenal Akashi sejak pertama kali tahu betul kalau pemuda itu tidak memiliki belas kasih dan akan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya, satu-satunya yang mampu menghentikan ambisi Akashi waktu itu hanya Tetsuya seorang dengan menunjukkan kalau pemuda berambut biru langit tersebut mampu dan juga kuat. Akashi dan Tetsuya telah terlahir kembali dalam wujud yang begitu berbeda dari sebelumnya di dunia ini, pun dengan sifat keduanya meski tidak terlalu banyak. Tidak hanya Tetsuya yang terlahir kembali di dunia ini, namun Akashi juga mengikutinya dan sesungguhnya ia tidak tahu apakah ia harus merasa terkejut akan kenyataan ini atau tidak.

Jujur, Tetsuya merasa khawatir dengan Akashi yang sekarang ini bernama Rokudo Mukuro. Pemuda bermata heterokromatik tersebut adalah korban dari kekerasan yang ada di dunia ini, dan bila Mukuro adalah orang yang sama dengan Akashi maka Tetsuya yakin kalau pemuda itu tidak akan menyerah begitu saja. Saat pertarungan mereka tiba-tiba saja Tetsuya jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri, sehingga ia tidak tahu hasil yang keluar dari duel tersebut. Apakah Mukuro baik-baik saja? Bagaimana dengan mereka semua?

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam benak Tetsuya, tapi tidak satupun dari semua pertanyaan tersebut ada yang mampu untuk dijawab, tidak untuk Tetsuya. Mengapa Tetsuya merasa lemah sekali? Ia harus segera bangun dan mencari tahu, batin gadis itu meronta-ronta untuk dibebaskan meski tubuhnya menolak untuk mengikuti kemauan hatinya. Mungkin Elena dan Mukuro benar kalau Tetsuya adalah orang paling keras kepala yang pernah mereka kenal, bahkan dalam pengaruh obat bius serta tidak sadarkan diri pun gadis kecil tersebut masih ingin memberontak pada kondisinya sendiri, untuk segera bangun. Dan tekat yang terlalu besar untuk dipadamkan pun pada akhirnya membuahkan hasil yang cukup baik, Kuroko Tetsuya pada akhirnya mampu untuk membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi terpejam meski rasanya begitu berat, seolah-olah ada lem yang super kuat tengah merekat pada kelopak matanya dan mencegahnya untuk dapat terbuka lagi. Tapi, Tetsuya ini adalah sosok yang tidak akan menyerah dan juga terkenal luar biasa keras kepalanya, sehingga lem sekuat apapun yang mereka pada dirinya tidak akan mampu untuk menggoyahkan niatnya.

Gadis itu kini mampu untuk membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam, tapi sayangnya ia harus kembali memejamkan kedua mata itu karena cahaya yang ada di sana begitu menyilaukan dan kedua mata Tetsuya yang tidak terlalu terbiasa pada saat itu pun tidak mampu untuk melihatnya secara langsung. Dalam hati Tetsuya meruntuki kebodohannya sendiri karena terlalu terburu-buru, namun setelah beberapa saat lamanya ia pun perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.

Tetsuya tidak akan terkejut lagi kalau dirinya berada di dalam kamarnya sendiri yang kini tengah disulap seperti kamar rumah sakit. Apalagi dengan selang IV yang masih menancap pada tangannya serta respirator yang ada di wajahnya untuk membantunya bernapas, sepertinya orangtua Tetsuya tidak menginginkan puterinya dirawat di rumah sakit dan lebih memilih untuk merawatnya di rumah sendiri, dan mengingat akan kedua orangtuanya pun mau tidak mau membuat Tetsuya dilanda perasaan bersalah yang luar biasa. Mereka percaya kalau Tetsuya tidak akan mencari bahaya di luar sana apalagi sampai terluka parah seperti sekarang ini, sehingga Tetsuya tidak tahu bagaimana perasaan mereka berdua. Ia harap Ayah dan Ibunya bisa fokus dengan pekerjaan mereka dan tidak terlalu mengkhawatirkan sosoknya, meski harapan itu tidak lebih dari sebuah harapan palsu belaka.

Merasa dirinya sudah jauh lebih kuat dari beberapa saat yang lalu, Tetsuya pun perlahan melepas selang IV yang tertancap di lengan kirinya sebelum melepaskan pula respirator dari wajahnya. Ia pun juga mencoba untuk berpindah posisi dari berbaring di tempat tidur dengan duduk di sana, dengan beberapa bantal menjadi tumpuan punggungnya yang sudah ia tata perlahan menyandar pada sandaran tempat tidur. Pertanyaan Tetsuya sekarang adalah berapa lama ia tidak sadarkan diri, dan mengingat luka tusuk yang ada di perut Tetsuya sudah sedikit mengering meski ada rasa nyeri sendiri.

Sebagai penjawab pertanyaannya itu Tetsuya pun menoleh ke arah jam digital yang ada di meja nakasnya, benda itu menunjukkan tanggal berapa sekarang ini dan Tetsuya pun sedikit terkejut kalau seminggu sudah berlalu sejak kejadian di Kokuyo Land yang lalu.

"Apa yang terjadi dengan Rokudo-kun dan yang lainnya?" Tanya Tetsuya pada dirinya sendiri, ia pun menghela napas pelan.

Merasa dirinya tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya bila berdiam diri saja, Tetsuya pun berniat untuk turun dari tempat tidurnya. Sayangnya, sebelum Tetsuya mampu melakukan itu sebuah suara yang pernah Tetsuya dengar sebelumnya pun tiba-tiba saja terdengar di dalam ruangannya dan ditujukan kepada Tetsuya.

"Aku tidak akan melakukan itu bila menjadi dirimu, Nagi," suara itu terdengar begitu kekanakan namun Tetsuya tidak akan membiarkan masalah penampilan menghalanginya. Ia jauh lebih pandai dari itu.

Ketika sosok ringkih yang ada di tempat tidur menoleh ke samping, Tetsuya menemukan sosok balita berusia dua tahunan yang mengenakan pakaian ala dokter dan lengkap dengan stetoskop menggantung di lehernya, dan jangan lupakan pacifier yang berwarna kuning di dadanya. Balita itu adalah Reborn, orang sama yang Tetsuya temui ketika di Kokuyo Land saat ia berduel dengan Mukuro, dan sepertinya Reborn ini memiliki hubungan dengan Vongola Decimo. Apapun hubungan mereka, Tetsuya tidak memiliki niat untuk mencari tahu, meski pada dasarnya ia juga bertanya-tanya bagaimana Reborn bisa berada di kediaman keluarga Hiwatari dan ada di dalam kamar Tetsuya.

"Meski lukamu sudah sembuh karena perawatan dari tim medikal Vongola yang hebat, kau itu baru saja sadar dari koma selama satu minggu. Sampai keadaanmu stabil betul, aku tidak menyarankanmu untuk terlalu banyak bergerak apalagi turun dari tempat tidur," sahut Reborn lagi. Sosok kecil itu saat ini tengah duduk di sebuah kursi yang ada di samping tempat tidur milik Tetsuya.

Tetsuya tidak membalas ucapan Reborn, ia masih sibuk bertanya-tanya mengapa Reborn ada di tempatnya sekarang ini dan apa urusannya dengan Tetsuya. Namun, semua itu sedikit tertahan karena kata "Vongola" yang lagi-lagi disebutkan oleh Reborn. Lagi-lagi Vongola disebutkan dan menjadi topik bahasan, sesungguhnya Tetsuya tidak terlalu tertarik maupun tahu mengapa Vongola bisa menjadi kata favorit bagi orang-orang ini. Mukuro pernah mengatakan pada Tetsuya kalau dia ingin menciptakan peperangan di dunia mafia setelah mengambil alih tubuh Vongola Decimo yang Tetsuya kenali sebagai ahli waris keluarga Vongola, dan kemudian Reborn menyebutkan kalau keluarga Vongola adalah keluarga yang merawat Tetsuya, bukannya rumah sakit umum Namimori. Tetsuya mungkin orang yang naif dengan dunia ini, tetapi dirinya itu bukanlah orang bodoh. Untuk apa keluarga mafia seperti Vongola mau mengurusi perawatan Tetsuya yang tidak ada sangkut pautnya dengan mafia atau apapun yang berhubungan dengan Vongola?

Tetsuya tidak terlalu tahu menahu mengenai masalah Vongola serta urusan yang Mukuro miliki dengan keluarga itu. Namun, insting Tetsuya mengatakan untuk tidak ikut campur dengan urusan mereka atau dia akan mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normal yang telah dia idam-idamkan selama ini. Meski Tetsuya mampu menggunakan api aneh yang bernama api kehidupan, menciptakan ilusi untuk bertarung, berkelahi sampai dirinya masuk rumah sakit, serta mengalami reinkarnasi dengan menjadi seorang perempuan seperti sekarang ini, Tetsuya tidaklah lupa akan impiannya selama ini. Tetsuya masih ingin mendapatkan kehidupan normalnya yang membosankan, semua orang boleh mencerca kalau mendapatkan hidup normal yang terkesan membosankan itu sama sekali tidak menyenangkan, tapi hal ini berbeda dengan Tetsuya yang sejak dirinya masih menjadi Kuroko Tetsuya mendambakan untuk memiliki hidup normal dan jauh dari semua hal yang membuatnya repot. Tapi, apakah Tetsuya mendapatkannya di kehidupan pertamanya sampai dia meninggal? Jawabannya adalah tidak, untuk itu Tetsuya pun berusahan keras untuk mendapatkan impiannya meski dari lubuk hati yang terdalam Tetsuya tahu kalau impian tersebut tidak lebih dari sebuah impian semata, tidak akan mampu dia raih sampai kapan pun.

Dan Tetsuya juga tahu, kalau dia berurusan dengan Vongola yang merupakan keluarga mafia, semuanya akan bertambah semakin rumit. Dia tidak akan bisa keluar begitu saja.

Seolah tahu akan apa yang Tetsuya pikirkan, Reborn si Balita ajaib yang sebenarnya bukanlah seorang balita pun memberikan sebuah seringai kecil di wajah mungilnya. Andai saja Tetsuya tidak memiliki poker face yang sudah dia poles sejak lama, mungkin ekspresi keterkejutannya pun akan muncul di wajahnya.

"Kau pasti bertanya-tanya mengapa keluarga Vongola menaruh perhatiannya kepadamu, Nagi," kata Reborn, suaranya begitu tenang namun Tetsuya yakin ada sebuah kepuasan tersendiri tergambar di dalamnya. Tapi, Tetsuya memilih untuk bungkam seraya menunggu Reborn untuk memberikan penjelasan lebih kepadanya. "Keluarga Vongola adalah sebuah keluarga Mafia terbesar dan terkuat di dunia, raja di antara para raja. Dan aku, Reborn, datang ke Jepang untuk melatih pewaris keluarga Vongola selanjutnya. Sawada Tsunayoshi adalah Vongola Decimo di masa depan, dia masih perlu untuk belajar lebih banyak bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin yang baik, untuk itu aku diutus oleh Nono untuk mendidik Dame-Tsuna. Sebagai seorang Vongola Decimo, Dame-Tsuna akan membutuhkan orang-orang yang kuat dan juga setia untuk membantunya. Aku telah melihat bagaimana pertarunganmu dengan Mukuro seminggu yang lalu serta kombinasi kekuatanmu dengan Hibari meski kalian belum pernah berinteraksi sebelumnya, aku bisa melihat kau memiliki potensi yang besar dan akan terus berkembang di masa depan.

"Untuk itu, Hiwatari Nagi, aku ingin kau bergabung dengan Dame-Tsuna sebagai bawahannya!"

Reborn repot-repot datang ke kediaman Hiwatari dan menunggu Tetsuya untuk siuman dengan tujuan yang Tetsuya rasa tidak mengejutkan lagi, sang Arcobaleno memintanya untuk bergabung dengan keluarga Vongola di bawah kepemimpinan Tsuna, yang tentunya Tetsuya tidak sangka-sangka. Mukuro mengatakan kalau dunia mafia itu sangat kotor dan tidak pantas untuk ditengok, dunia mafia lah yang membuat orang paling berkarisma yang Tetsuya kagumi menjadi seperti sekarang ini. Tidak hanya dalam wacana saja yang terlihat, kenyataannya juga sudah terpampang jelas kalau dunia mafia itu adalah dunia yang gelap dan penuh akan kegiatan ilegal di dalamnya, bahkan hampir semua orang yang masuk ke dalamnya pun bisa dicap sebagai kriminal yang kebal dari hukum. Sebuah hal yang sangat memuakkan, dan Tetsuya tidak memiliki sedikit niatan untuk mengotori dirinya dengan semua itu, apalagi sekarang ini dia masih memiliki agenda untuk hidup dengan tenang dan normal meski ia memiliki kemampuan yang tidak bisa dikatakan normal tersebut.

Mungkin Reborn melihat ada sebuah ketidaksukaan yang terlintas pada sepasang iris kebiruan milik Tetsuya ketika dia mengucapkan kata "mafia" dan bergabung, dan mungkin pula Reborn adalah seorang cenayang yang mampu membaca pikiran milik Tetsuya, sehingga Tetsuya pun tidak lagi terkejut kalau sang Arcobaleno tersebut memberikan jeda untuk Tetsuya.

"Kau tidak perlu memutuskannya sekarang juga, Nagi, kau memiliki waktu untuk memikirkan tawaranku ini. Kau akan mendapatkan banyak untuk bila bergabung dengan keluarga Vongola sebagai bawahannya Dame-Tsuna. Kau akan mendapatkan pamor, kekayaan, dan masih banyak lagi. Tapi, ketika bergabung dengan keluarga Vongola kau juga akan dinantikan oleh bahaya yang ada di sana, meski aku yakin kau bisa mengatasinya. Bila kau bisa mengatasi Mukuro maka aku yakin kau bisa melakukannya."

Apa guna sebuah pamor dan kekayaan bagi Tetsuya? Untuk hal yang terakhir dari tawaran Reborn dirinya sudah memilikinya, hal yang tidak terduga memang, dan sejujurnya Tetsuya bukanlah orang yang materialistik maupun gila akan popularitas di sini. Dia tidak membutuhkan semua itu, tapi ia akan memikirkan tawaran Reborn, atau lebih tepatnya menggunakan waktu yang Reborn berikan kepadanya untuk berpikir bagaimana caranya menolak tawaran tersebut tanpa harus mengantarkan dirinya pada bahaya.

Ada satu hal yang terbesit dalam benak Tetsuya setelah itu.

"Reborn-san, apa yang terjadi setelah aku pingsan pada waktu itu?" Tanya Tetsuya, nada yang ia gunakan begitu datar dan netral, tidak mencerminkan kekhawatiran yang dia miliki dalam benaknya. Kekhawatiran untuk Mukuro, Tetsuya menambahkannya dalam hati.

Tetsuya melihat Reborn tidak serta merta menjawab pertanyaannya begitu saja, dia terlihat tengah menimbang sesuatu di dalam benaknya meski ekspresinya tidak memberikan apapun di sana, dan meskipun Reborn itu adalah manusia yang mudah untuk dibaca maka Tetsuya sendiri tidak mampu membacanya, topeng balita tersebut terlalu tebal untuk Tetsuya dapat membacanya. Namun, hal ini tidaklah menjadi konsentrasi Tetsuya, karena apa yang menjadi perhatian Tetsuya adalah mengetahui bagaimana keadaan Akashi –Rokudo Mukuro– sekarang ini.

"Setelah kau tumbang, Hibari adalah satu-satunya orang yang melawan Mukuro pada saat itu sebelum dia ikut tumbang juga karena luka yang ia derita sebelumnya. Keadaan bertambah rumit karena Mukuro memiliki kemampuan untuk mengontrol orang-orang di sekitarnya, bahkan Gokudera dan Bianchi pun jatuh dalam pengaruhnya. Berterimakasihlah kepada Dame-Tsuna, dia adalah orang yang berhasil mengalahkan Mukuro sebelum Vindice datang dan menyeret Mukuro bersama anak buahnya pergi dari hadapan kami," jawab Reborn.

Gadis kecil bermata biru tersebut mencoba untuk mencerna informasi yang Reborn berikan kepadanya, tentang garis besar apa yang terjadi setelah Tetsuya tidak sadarkan diri akibat lukanya waktu itu. Mungkin Tetsuya sulit mempercayai kalau Tsuna yang terlihat begitu lemah dan juga penakut –Tetsuya harus menyelamatkan Tsuna sebelumnya ketika berada di bukit belakang Kokuyo Land– tersebut bisa mengalahkan Mukuro yang menurutnya sangat kuat. Namun, dia tahu betul untuk tidak menilai seseorang dari penampilannya begitu saja. Tetsuya tidak mengenal Tsuna, dan interaksi keduanya pun juga sangat terbatas dan tak bisa dikatakan cukup untuk Tetsuya bisa menilai sosok pewaris keluarga Vongola tersebut. Mungkin saja dibalik penampilannya yang rapuh tersimpan sebuah kekuatan yang besar untuk melawan seorang yang tangguh seperti Mukuro. Kalau ada kesempatan, Tetsuya akan mencoba untuk mengenal baik sosok pemuda yang bernama Sawada Tsunayoshi tersebut.

Reborn mengatakan kalau Mukuro dan anak buahnya dibawa oleh Vindice, siapa Vindice itu?

"Vindice?" Tanya Tetsuya, sepasang mata birunya mengerjap tidak mengerti.

Sang Arcobaleno pun memberikan anggukan singkat sebelum menjawab, "Vindice adalah penegak hukum di dunia mafia. Mereka adalah grup yang menjaga keadilan di mafia, dan Mukuro terbukti bersalah karena telah melakukan pembunuhan massal di dunia mafia, untuk itu Vindice menangkapnya kembali serta memastikan kalau dia tidak akan kabur lagi."

Sepasang mata biru milik Tetsuya terbuka dengan lebar setelah mendengar penjelasan yang Reborn berikan, Mukuro tertangkap dan diseret kembali ke dalam penjara oleh Vindice. Mengingat pembicaraan yang pernah Tetsuya miliki dengan Mukuro, Tetsuya tidak akan terkejut lagi bila mantan ketua tim basketnya tersebut adalah seorang kriminal, namun dia benar-benar tidak menyangka kalau Mukuro akan bertindak sejauh itu sampai dirinya menjadi tahanan dalam Vindicare. Balas dendam selalu berbuah akan hasil yang pahit, bahkan sebelum tujuannya pun tercapai Mukuro sudah terlebih dahulu mendiami kamar di balik jeruji besi dunia mafia yang Tetsuya yakin seratus kali lipat lebih menyeramkan ketimbang penjara milik polisi biasa. Dan bila yang Reborn katakan tersebut adalah betul, tentang Mukuro yang pernah kabur dari Vindicare sebelumnya, maka sekarang ini pasti penjara yang akan menahan Mukuro akan jauh lebih ketat dari sebelumnya, dan kemungkinan untuk bebas dari tempat itu adalah kurang dari satu persen. Dalam hati Tetsuya berdoa agar Tuhan selalu melindungi Mukuro dalam situasi apapun.

Mungkin Mukuro pernah menusuk Tetsuya dan menghajarnya sampai babak belur dalam pertarungannya minggu lalu, tapi anak itu bukanlah sosok pendendam atau memiliki obsesi untuk membalas dendam. Tetsuya sudah memaafkan semuanya, karena pada dasarnya tidak ada gunanya merasa marah pada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu apalagi sampai memendamnya dan menjadikannya sebagai dendam. Apa yang terjadi tidak bisa terulang kembali, satu hal yang bisa dilakukan adalah mencegah apapun yang terjadi untuk terulang kembali di masa depan. Tetsuya sangat berharap Mukuro mampu memaafkan semuanya, tapi Tetsuya sendiri bukanlah orang naif untuk percaya kalau sebuah kesalahan itu bisa dimaafkan begitu saja, apalagi bila hal tersebut telah menorehkan luka yang mendalam seperti apa yang Mukuro rasakan.

Tetsuya berharap dia bisa menghubungi Mukuro dan berbicara dengan pemuda itu, Mukuro adalah Akashi dan satu-satunya orang yang dia anggap sebagai teman di tempat yang asing ini, setidaknya Tetsuya ingin tahu bagaimana Akashi bisa menjadi Mukuro dan berada di tempat ini. Tapi, hal itu sangat mustahil untuk dilakukan. Mukuro tidak lagi berada di Jepang dari apa yang dia ketahui dari Reborn, Vindicare ada di Eropa dan mereka tidak akan membiarkan seseorang yang bukan siapa-siapa macam Hiwatari Nagi untuk menemui Mukuro. Tetsuya merasakan kepalanya mulai berdenyut lagi ketika dia memikirkan Mukuro.

Reborn sudah lama meninggalkan Tetsuya untuk berpikir mengenai keputusan yang akan dia ambil nanti –mengenai apakah Tetsuya mau bergabung dengan keluarga Vongola apa tidak– dan kembali pada muridnya. Tetsuya masih berada di posisi yang sama, sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk di atas tempat tidur, tubuhnya masih terlalu lemah ketika digerakkan terlalu banyak, pun dengan rasa nyeri yang dia derita pada bekas jahitannya yang ada di perut.

Sepeninggal Reborn, kedua orangtuanya pun masuk ke dalam kamar Tetsuya ketika seorang perawat –yang kemungkinan besar dibayar oleh Ayahnya untuk merawat Tetsuya secara personal– yang tadi memeriksa Tetsuya memberitahu mereka kalau Tetsuya sudah sadar dari komanya. Gadis kecil tersebut sama sekali tidak terkejut kalau dia akan melihat kekhawatiran yang tercetak jelas pada wajah Ayah dan Ibunya, bahkan Ibunya pun sempat menangis dan memohon pada Tetsuya untuk tidak menantang bahaya seperti apa yang Tetsuya lakukan sehingga ia berada dalam kondisi seperti ini. Ayahnya mungkin hanya diam dan membiarkan Ibu Tetsuya untuk berbicara panjang lebar serta menasihatinya, tapi Tetsuya tidak melewatkan emosi penuh kekhawatiran yang terbesit pada iris kelabu milik sang Ayah. Kedua orangtua Tetsuya sama-sama khawatir dan takut pada saat yang sama, membuat Tetsuya merasa bersalah karena sudah membuat mereka berdua khawatir. Meski demikian, Tetsuya tidak bisa membantu untuk tidak merasa penasaran akan apa yang mereka ketahui tentang bagaimana Tetsuya berada dalam kondisi seperti ini.

"Kami mendengar kau diserang oleh siswa SMP Kokuyo ketika tengah jalan-jalan di kota, Nagi, untung dr. Reboyama menemukanmu dan langsung merawatmu sebelum kau meninggal akibat kehilangan banyak darah," jawab Ayah Tetsuya, suaranya mungkin terdengar begitu tenang dan begitu pula dengan pembawaannya, tapi sorot mata yang ada di sepasang iris kelabu tersebut tidak bisa menipu Tetsuya.

Ibunya pun juga menambahkan perkataan Ayahnya meski diiringi oleh isakan tangis darinya, "Bagaimana mungkin kau bisa pergi jalan-jalan ke kota ketika kami sudah melarangmu, Nagi? Ibu sangat khawatir dengan keadaanmu. Kami takut kau kenapa-kenapa!"

Selama tiga puluh menit pun Tetsuya hanya bisa mengucapkan maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi apa yang ia perbuat lagi, bahkan tak ayal Tetsuya mendapatkan nasihat dari Ayah dan Ibu untuk membuat Tetsuya lebih awas akan bahaya yang mengintai. Dalam hati Tetsuya ingin mengatakan yang sebenarnya, kalau dia tidaklah berjalan-jalan di kota sampai seseorang menusuknya di jalan. Tapi tentu saja Tetsuya tidak akan memberitahu yang sebenarnya kepada kedua orangtuanya, tidak hanya semua itu adalah sebuah rahasia yang tidak bisa diungkapkan secara sembarangan, dia juga tidak ingin membuat kedua orangtuanya semakin merasa khawatir kepada Tetsuya dan juga menganggapnya aneh karena kemampuan alami Tetsuya yang bisa menciptakan ilusi.

Rahasia demi rahasia pun bertambah dalam diri Tetsuya, terakumulasi menjadi sebuah hal yang besar dan tak ayal membuat perasaannya semakin berat serta dipenuhi oleh perasaan bersalah yang begitu besar. Dia tidak bisa jujur kepada orangtuanya, melainkan mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi dia malah berbohong kepada mereka berdua, dalam hati Tetsuya tidak suka bagaimana dirinya bisa mengucapkan sesuatu yang tak nyata dengan begitu mudahnya, bahkan ia semakin tidak suka pula saat Ayah dan Ibunya percaya begitu saja kepada ucapan yang dia lontarkan tadi. Begitu besarnya kah kepercayaan kedua orangua Tetsuya yang diberikan kepadanya sehingga mereka percaya begitu saja pada apa yang Tetsuya katakan begitu saja? Atau mungkin mereka berdua cuma tidak peduli pada Tetsuya sehingga mereka langsung percaya begitu saja sebab mereka tidak ingin dibuat repot? Tetsuya sebisa mungkin menepis kata hatinya yang kedua, yang mengatakan kalau Ayah dan Ibunya tidak peduli pada Tetsuya karena anak itu tahu betapa pedulinya mereka berdua dengan Tetsuya.

Seperti kedua orangtuaku di kehidupan pertama, batin Tetsuya berkata.

Orangtua Tetsuya di kehidupan pertama dan kedua itu begitu mirip. Mereka mencintainya namun tidak pernah punya waktu untuk Tetsuya, bahkan tidak untuk hal sekecil apapun karena bagi mereka pekerjaan mereka adalah yang terpenting, dengan dalih mereka melakukan ini untuk memberikan kehidupan yang layak bagi Tetsuya. Sosok gadis berambut biru tersebut tidak bisa memungkiri kalau dia tidak menyukai ini, tidak mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya secara langsung karena pekerjaan mereka menjadi yang nomor satu di dalam benak mereka, tapi Tetsuya bukanlah lah seorang anak kecil –meski fisiknya tidak lebih dari seorang anak-anak sekarang ini– lagi yang tidak bisa melihat sudut pandang orang mengenai tindakan yang mereka lakukan, bahkan Tetsuya saja bisa melihat sudut pandang Mukuro serta alasan mengapa pemuda itu begitu terobsesinya untuk membalas dendam kepada dunia mafia. Untuk itu Tetsuya diam dan bersikap sewajarnya, dia menerima sebuah kenyataan yang ditimpalkan kepadanya dengan sabar. Kalau Tetsuya bukanlah prioritas utama di sini maka dirinya akan menerima hal itu, dia jauh lebih dewasa untuk menerima keadaan. Hidup itu tidak selalu dipenuhi oleh pelangi dan gula, apapun yang dia inginkan tidak selalu tersaji begitu saja.

Kedua orangtua Tetsuya tidak bisa tinggal lebih dari satu jam lamanya setelah itu. Begitu mereka mengetahui Tetsuya sudah sadar dan kondisinya jauh lebih stabil, mereka berdua meminta maaf kepada Tetsuya dan mengatakan kalau mereka harus kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, di mana Ibu Tetsuya harus terbang ke Hongkong pada hari itu juga untuk melanjutkan pengambilan gambar sementara Ayah Tetsuya harus pergi ke Kyoto untuk mengurus bisnis yang tertunda di tempat itu. Meski dalam hati Tetsuya merasa kecewa karena mereka tidak bisa tinggal untuknya, gadis itu hanya bisa tersenyum kecil sembari mengubur perasaan tersebut.

"Tidak apa, Ayah dan Ibu, aku sudah merasa lebih baik. Untuk itu kalian tidak perlu merasa khawatir lagi," ujar Tetsuya dengan kalem sebelum dirinya mendapatkan pelukan erat dari sang Ibu.

Baik Ibu dan Ayahnya pun berjanji untuk kembali secepat mungkin, dan sebelum Tetsuya bisa mencerna ucapan itu mereka pun sudah pergi dari hadapan Tetsuya, meninggalkan sosok anak berusia 13 tahun tersebut sendirian di dalam kamarnya yang besar.

Lagi-lagi dirinya sendirian di dalam tempat yang besar itu, tidak ada seorang pun di sana kecuali Tetsuya sendiri. Gadis kecil itu mengelak kalau dia merasa kesepian apalagi sedih untuk sekarang ini, dia hanya...menerima keadaannya serta kenyataan yang ada, tidak lebih dari itu.

Sembari berbaring di tempat tidurnya, Tetsuya menatap telapak tangan kanan tangannya dalam diam sebelum dia memanggil api kehidupan yang bersemayam dalam tubuhnya untuk keluar. Telapak tangan yang tadinya tidak ada apa-apanya kini mulai diselimuti oleh api membara berwarna biru indigo. Warna api kehidupan yang Tetsuya miliki benar-benar unik, tidak pernah sekali pun dalam hidupnya Tetsuya melihat sebuah api berwarna indigo seperti sekarang ini, dan bila pengetahuannya mengenai api kehidupan tersebut benar maka di dunia ini terdapat lebih dari satu warna bagi api kehidupan, Tetsuya jadi ingin melihat semua itu dengan kedua mata kepalanya sendiri.

"Apinya sama sekali tidak panas," gumam Tetsuya pada dirinya sendiri sembari menyentuh pendar api indigo yang masih membawa di atas telapak tangannya.

Tetsuya ingin tahu dari mana api kehidupan itu berasal dan bagaimana bisa orang-orang yang tinggal di dunia ini bisa memiliki api semacam ini serta menggunakannya untuk bertarung. Harus dia akui, Tetsuya merasa penasaran akan hal itu. Buku catatan milik Elena yang Tetsuya dapatkan di toko barang antik milik Kawahira sama sekali tidak menjelaskan terlalu detail mengenai api kehidupan, Elena hanya menulis kalau semua makhuk hidup di dunia ini memiliki api kehidupan dalam tubuh mereka atau mereka akan tewas bila tidak memilikinya. Api kehidupan adalah manifestasi dari kehidupan yang ada dalam tubuh makhluk hidup, dan dengan niat yang begitu besar lah api itu bisa dipanggi secara leluasa untuk muncul di hadapan mereka. Menurut Elena, tidak semua manusia yang ada di dunia ini mampu menggunakan api kehidupan, bahkan jumlah orang yang menyadari kalau mereka memiliki api kehidupan pun tidak lebih dari 10% dari populasi manusia di dunia. Kebanyakan dari mereka yang mampu menggunakan api kehidupan berada dalam dunia yang berbeda dari Tetsuya, bukan seorang masyarakat umum tapi seorang mafia.

Mukuro dan Tetsuya memiliki jenis api kehidupan yang sama, api kehidupan berwarna biru indigo dan berjenis kabut, di mana api kehidupan tersebut mampu menciptakan ilusi nyata yang mereka gunakan untuk bertarung. Sepertinya tanpa perlu Tetsuya mencarinya, baik dirinya dan Mukuro adalah dua orang yang begitu mirip, tidak hanya di dunia ini namun juga di dunia asal mereka.

Gadis kecil bermata biru itu pun menghela napas panjang-panjang sebelum dia menghilangkan api kehidupan jenis kabut miliknya dari pandangan, dia pun memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk merilekskan badannya meski pada dasarnya Tetsuya merasa terlalu lelah untuk terus berbaring seperti ini. Dia sudah berada di tempat tidur dalam beberapa hari terakhir ini, dan hal terakhir yang ingin Tetsuya lakukan adalah tinggal di tempat tidur ketika dia sudah merasa begitu jenuh. Tidak bisa dipungkiri kalau Tetsuya ingin sekali pergi dari tempat itu untuk merenggangkan badannya, tapi Reborn mengatakan kalau dia tidak seharusnya melakukan itu ketika Tetsuya sendiri baru sadar dari koma. Otot-otot tubuhnya pasti belum terbiasa dan membutuhkan waktu untuk terbiasa bergerak lagi, untuk itu Tetsuya pun tidak langsung berdiri dan juga pergi dari tempat tidurnya, memilih untuk tiduran dalam beberapa saat sekarang ini.

"Rasanya benar-benar lelah," gumam Tetsuya, anak itu meletakkan lengan kanannya di atas wajahnya untuk menutupi kedua matanya sebelum memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya.

Hening pun menyapa ruangan itu, sinar matahari di sore hari yang masuk ke dalam ruangan Tetsuya memberikan suasana yang begitu nyaman dan tanpa Tetsuya sadari dia pun kehilangan kesadarannya, terlarut kembali ke dalam dunia mimpi yang sepertinya mulai akrab bagi Tetsuya.


Dunia bawah sadar Tetsuya

Udara dingin pun menerpa tubuhnya meski angin yang muncul di sana tidak terlalu ganas, hanya menimbulkan sensasi dingin yang menyapanya dan mau tidak mau membuatnya menggigil. Posisinya yang duduk di bawah pohon besar dan bersandar di sana pun sama sekali tidak membantu, tanpa dia sadari dirinya pun semakin meringkuk dan ingin sekali membenamkan tubuhnya pada sebuah selimut hangat untuk menghalau sensasi dingin tersebut. Rasanya begitu aneh ketika dia menemukan sensasi dingin namun nyaman itu menyapu tubuhnya pada saat yang bersamaan, sehingga tanpa mau dikata dia pun perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi tertutup dan memperlihatkan sepasang mata biru secerah langit di musim panas.

Anak itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mengusir rasa kantuk dan juga lelah yang muncul dalam dirinya ketika dirinya tertidur tadi, berharap dia bisa fokus akan apa yang ada di hadapannya tanpa ada gangguan barang sedikit pun dari perasaan tersebut. Setelah penglihatannya menjadi lebih jelas dari tadi, Tetsuya pun mencoba untuk melihat ada di mana dirinya berada.

Tetsuya penasaran dengan apa yang terjadi, dan apa yang didapatkannya adalah lebih dari apa yang dia duga sebelumnya. Sungguh, Tetsuya tidak mempersiapkan dirinya untuk menemukan semua itu terjadi.

Hamparan rerumputan hijau adalah apa yang Tetsuya lihat sejauh matanya memandang, di sana ada sebuah danau besar yang diisi oleh air yang terlihat begitu jernih di hadapannya, dan beberapa pohon besar pun juga tumbuh di tempat ini. Dirinya sekarang ini tengah duduk bersandar pada sebuah pohon besar. Begitu aneh namun nyata, karena terakhir kali Tetsuya ingat dia tidaklah berada di luar ruangan apalagi berada di tempat yang aneh tersebut, dia ingat betul kalau dirinya tengah ada di dalam kamarnya karena kondisinya yang baru saja siuman dari koma selama seminggu. Bagaimana mungkin Tetsuya bisa berada di tempat ini? Yang sesungguhnya begitu asing bagi Tetsuya karena dia tidak tahu ada di mana dirinya sekarang ini. Karena itu Tetsuya pun sempat memiliki pemikiran kalau seseorang menculiknya dari kediaman keluarga Hiwatari dan menaruh Tetsuya di tempat ini, atau bisa jadi semua ini bukanlah hal yang nyata, sebuah ilusi atau mimpi yang Tetsuya miliki.

Pemikirannya yang terakhir tersebut sangat bodoh dan secepat mungkin Tetsuya pun langsung menepisnya, dia adalah seorang ahli ilusi karena api kehidupan jenis kabut yang bersemayam dalam dirinya, sehingga Tetsuya tentu tahu kalau dirinya berada dalam sebuah ilusi maupun tidak. Dan merasakan di sana sama sekali tidak ada ilusi yang menyelimutinya maupun menenggalamkan Tetsuya tentu saja membuat Tetsuya menjadi sedikit lebih was-was dari sebelumnya. Mungkin sekarang ini pertanyaan Tetsuya akan di mana dirinya berada saat ini belum bisa ia jawab, tapi bukan berarti Tetsuya akan duduk saja di tempat itu dan tidak melakukan apapun. Selain rasa penasaran yang menerpanya, Tetsuya juga memiliki sebuah firasat kalau seharusnya dia tahu ada di mana dirinya berada saat ini.

Tempat itu meskipun samar-samar memberikan perasaan tidak asing pada Tetsuya, seperti dia pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya namun pada saat yang sama Tetsuya tidak pernah mengunjunginya. Aneh, perasaan Tetsuya yang bercampur aduk itu terasa begitu aneh dan membuat anak itu ingin sekali untuk berlari serta pergi dari sana.

Perlahan, Tetsuya pun segera bangkit dari posisi duduknya di bawah pohon untuk berdiri. Dia menepuk celana hitam yang Tetsuya kenakan dari debu yang menempel sebelum kedua kakinya menuntun tubuh Tetsuya untuk bergerak, danau yang terhampar luas tidak jauh di hadapannya tersebut entah kenapa memanggil Tetsuya untuk mendekat. Tetsuya tidak tahu apa yang tengah dia lakukan, tapi sesuatu yang tidak bisa dia jabarkan menggunakan kalimat membuatnya untuk mendekat ke arah danau, seperti sebuah kekuatan yang tidak kasat mata tengah menariknya untuk datang mendekat. Perlahan-lahan pada akhirnya Tetsuya pun tiba di pinggir danau, ia pun berjongkok di sana dengan menempelkan kedua lututnya pada tanah yang ditumbuhi oleh rumput hijau yang sedikit basah, dia menghiraukan sebuah kemungkinan kalau apa yang tengah dilakukannya tersebut dapat membuat celana yang dia kenakan kotor.

Kedua mata biru milik Tetsuya pun pada akhirnya menatap permukaan air danau yang ada di hadapannya, tepat pada pantulan bayangan yang disajikan untuk Tetsuya. Kedua mata biru secerah langitnya musim panas pun terbelalak dengan lebar, membuat kedua iris yang awalnya sudah lebar kini bertambah lebar lebih dari biasanya, dan ekspresi yang tengah terpantul di permukaan air danau pun menunjukkan ekspresi seorang anak yang penuh akan keterkejutan yang diterimanya. Tetsuya mungkin jarang melihat pantulan dirinya di hadapan sebuah cermin karena dia tidak memiliki alasan yang kuat untuk menghabiskan waktunya di hadapan cermin, berbeda dengan seorang model yang Tetsuya kenal di kehidupan pertamanya. Meski demikian Tetsuya tahu kalau dirinya berbeda dengan sosok Kuroko Tetsuya yang dia kenal ketika dia masih menjadi Kuroko Tetsuya dan bukan Hiwatari Nagi. Tetsuya memiliki struktur tubuh yang sama pendeknya dengan Kuroko Tetsuya namun terlihat jauh lebih feminim mengingat Tetsuya terlahir sebagai seorang perempuan dalam dunia ini, dia juga memiliki helai rambut berwarna biru tua dan sepasang mata biru gelap yang hampir terlihat ungu. Tapi, semua yang Tetsuya ingat mengenai dirinya di kehidupan keduanya ini sirna begitu saja ketika dia melihat bayangan sosoknya yang terpantul oleh permukaan air danau yang ada di hadapannya.

Tetsuya tidak lagi terlihat seperti seorang perempuan, pun dia memiliki helai rambut berwarna biru tua maupun sepasang mata berwarna biru gelap yang hampir terlihat ungu. Sosok yang ada di hadapannya bukanlah sosok dari Hiwatari Nagi, tapi sosok yang terpantul di permukaan air danau adalah sosok Kuroko Tetsuya ketika dia baru masuk SMP Teiko.

"Kami-Sama," gumam Tetsuya yang masih diselimuti oleh ketidakpercayaan.

Rasanya ini kali pertama dalam 13 tahun terakhir Tetsuya melihat sosoknya sebagai seorang Kuroko Tetsuya, bukannya Hiwatari Nagi yang kini mulai melekat dalam sosok Tetsuya. Dia sudah terbiasa dengan dirinya sebagai Nagi dan juga penampilannya sebagai Nagi, membuatnya melupakan bagaimana sosok Tetsuya sebagai Kuroko Tetsuya yang merupakan dirinya sebelum ini. Sosok yang menatapnya balik dari pantulan permukaan air danau tersebut terlihat begitu muda dan belia, mengingatkan Tetsuya akan dirinya ketika pertama kali dia menginjakkan kaki di pelataran SMP Teiko, menatap pohon sakura yang tumbuh di musim semi di sana kala upacara penerimaannya di SMP Teiko, dan juga pertemuannya pertama kali dengan Kiseki no Sedai yang sejujurnya mempunyai tempat tersendiri di dalam hati Tetsuya. Apakah dia sudah melupakan semua itu dengan begitu mudahnya? 13 tahun sudah berlalu, dan meskipun Tetsuya sudah tidak lagi mengingat bagaimana rupanya dulu, dia senang karena sekarang ingatan tersebut terbuka lagi. Senyuman kecil pun muncul di bibir Tetsuya saat dirinya mengingat beberapa kenangan yang hampir saja dia lupakan.

Kedua mata Tetsuya yang tadi terpejam tanpa ia sadari pun tiba-tiba saja terbuka lagi ketika dirinya merasakan ia tidak sendirian berada di tempat itu, perasaan seperti dirinya tengah diawasi pun membuat Tetsuya sedikit merinding, tapi anehnya dia tidak merasakan adanya tanda bahaya dan sejenisnya. Siapapun orang yang tengah mengawasi Tetsuya tersebut tidak memiliki keinginan jahat ataupun ingin menyakitinya. Meski demikian, bukan berarti Tetsuya merasa lega maupun rileks karena pada dasarnya dia tidak suka seseorang mengawasinya seperti itu. Pertanyaan singkat mengenai ke mana perginya kemampuan misdirection milik Tetsuya pun sedikit terbesit di benaknya, tapi pertanyaan tersebut langsung melayang pergi saat Tetsuya menoleh ke samping dan mendapati sepasang mata heterokromatik yang begitu familier dengannya tengah mengawasinya.

Kedua mata heterokromatik tersebut bukanlah berwarna merah dan biru dengan angka kanji di salah satunya, melainkan berwarna merah ruby dan keemasan yang terpatri pada sosok merah membara yang sangat Tetsuya kenali.

"Akashi-kun?" Tanya Tetsuya, nadanya menandakan kalau dia masih kurang yakin kalau si Pemilik mata heterokromatik tersebut adalah Akashi Seijuurou dan bukannya Rokudo Mukuro.

Senyuman simpul yang begitu kalem pun muncul di bibir sosok yang bernama Akashi tersebut, seorang mantan kapten tim basket Teiko yang dulu menjadi tempat Tetsuya bernaung.

"Tetsuya," sahut Akashi balik tanpa membuat pudar senyumannya. Pemuda berambut merah itu pun kini berjalan mendekat sampai dia berdiri tepat di samping Tetsuya yang masih belum beranjak dari tempatnya yang ada di pinggir danau. "Aku senang bisa melihatmu sekarang ini, dan aku juga senang saat mengetahui kalau kau baik-baik saja."

Merasa senang ketika bertemu adalah sebuah ketersendirian yang Tetsuya mengerti, dan sejujurnya Tetsuya pun juga merasa senang karena pada akhirnya dirinya bisa bertemu dengan Akashi semenjak tahu Akashi ikut terlahir di dunia ini. Ada banyak pertanyaan yang berputar di dalam kepala Tetsuya, salah satunya adalah bagaimana Akashi bisa berada di tempat ini dengannya dan juga bagaimana keadaannya saat ini. Anak itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bertanya akan bagaimana mereka bisa berwujud seperti sekarang ini, sebagai Kuroko Tetsuya dan juga Akashi Seijuurou bila pada dasarnya mereka terlahir sebagai Hiwatari Nagi dan Rokudo Mukuro.

Tanpa mengucap sepatah kata apapun dan juga setelah yakin kalau orang yang ada di hadapan Tetsuya adalah benar-benar Akashi, Akashi yang merupakan mantan kaptennya dan salah seorang yang sangat penting bagi diri Tetsuya, anak itu pun langsung berdiri dari posisinya yang berjongkok di hadapan air danau. Dia sedikit terhuyung karena Tetsuya bergerak terlalu tiba-tiba, dan Tetsuya tentu akan langsung jatuh ke arah danau atau terduduk kalau bukan kedua tangan Akashi yang langsung membantunya untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tetsuya merasa tubuhnya seperti tersengat aliran listrik yang tidak buruk ketika tangan Akashi bersentuhan langsung dengan dirinya, detik itu pula Tetsuya pun menemukan dirinya melingkarkan kedua lengannya pada sosok pemuda berambut merah darah tersebut dan juga menempelkan tubuhnya pada milik Akashi, memeluk Akashi dengan begitu erat seraya membenamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu milik Akashi.

"Tetsuya?" Tanya Akashi, suaranya menandakan kalau dia sedikit terkejut akan apa yang Tetsuya perbuat, tapi untungnya keterkejutan itu pun langsung disembunyikannya sebelum Akashi membalas pelukan Tetsuya. Pemuda berambut merah itu pun menempelkan wajahnya pada helai lembut rambut secerah langit di musim panas milik Tetsuya. Aroma vanilla yang selalu menempel pada tubuh Tetsuya pun membuat Akashi merasa rileks untuk kali pertama sejak dia tiba di tempat itu.

"Akashi-kun, ini benar-benar Akashi-kun," gumam Tetsuya lagi, dia tidak ingin melepaskan sosok hangat yang tengah ada dalam pelukannya tersebut, pun dengan dirinya berpindah dari diri Akashi yang begitu dia rindukan selama ini. "Aku benar-benar khawatir pada Akashi-kun."

"Khawatir?"

Tetsuya memberikan anggukan singkat tanpa berpindah dari sosok Akashi yang masih dipeluknya dengan erat, dalam hati anak itu pun merasa senang karena Akashi tidak keberatan untuk menuruti keinginan Tetsuya yang tidak terucap tersebut. Mungkin mantan kaptennya itu masih memiliki sisi lembut yang hanya ditujukan kepada Tetsuya, atau ini adalah bentuk pengapresiasian rasa bersalah yang Akashi miliki karena perbuatannya yang menyebabkan Tetsuya jatuh ke dalam koma selama seminggu. Tetsuya ingat kalau Akashi dan Mukuro adalah orang yang sama, keduanya ada di dunia ini dan ikut dengan Tetsuya untuk terlahir kembali di tempat ini. Mungkin tempat di mana mereka berada saat ini tidak lebih dari manifestasi ilusi serta keinginan Tetsuya untuk bertemu dengan Akashi, membuatnya secara tidak langsung memimpikan Akashi dan memeluknya seperti ini. Tapi, rasa hangat yang mengalir dari sosok yang tengah dia peluk tersebut menandakan kalau tempat ini bukanlah sebuah mimpi, Tetsuya benar-benar bertemu dengan Akashi meski di saat yang sama Tetsuya yakin Akashi tidak tengah berada di sini.

"Iya, Akashi-kun," gumam Tetsuya lagi, ia membenamkan wajahnya pada bahu Akashi yang masih memeluknya dengan erat, seperti apa yang Tetsuya lakukan kepada Akashi. Mereka berdua berpelukan di samping danauh yang entah di mana letaknya.

"Bagaimana kau bisa merasa khawatir padaku, Tetsuya? Bila kenyataannya yang harus kau miliki adalah rasa marah ketika bertemu denganku," sahut Akashi setelah ia mencerna ucapan yang Tetsuya berikan kepadanya.

Marah adalah hal terakhir yang terpikir oleh Tetsuya ketika ia pada akhirnya bertemu dengan Akashi. Bahagia dan juga khawatir merupakan prioritas yang utama dalam benaknya, Tetsuya merasa senang karena dia tidak sendirian lagi berada di sana, dan mengingat siapa mantan kapten basketnya tersebut pasti Akashi bisa memberinya penjelasan yang lebih masuk akal. Setidaknya Tetsuya bisa melihat salah satu dari teman-teman yang dia anggap begitu penting dari dunia pertamanya, begitulah yang ia pikirkan sekarang ini.

Namun, di satu sisi Tetsuya pun juga merasakan khawatir kepada Akashi. Tetsuya tentu tidak mengenal kehidupan seperti apa yang Akashi miliki di dunia ini, mengingat meraka baru saja bertemu dan pertemuan pertama mereka pun ada di medan pertempuran sebelum Tetsuya jatuh dalam koma. Tetsuya bukanlah orang yang bodoh, ia mendengarkan apa yang Akashi katakan padanya waktu itu ketika mereka berdua tengah bertarung, Akashi mengundangnya untuk bergabung dengan kelompok miliknya untuk menjatuhkan dunia mafia. Menggabungkan kepingan puzzle itulah Tetsuya menyimpulkan kalau kehidupan Akashi di dunia ini tidaklah seindah atau sebaik seperti yang Tetsuya miliki. Selain itu, dari Reborn ia pun juga tahu kalau Akashi ditangkap oleh Vindice yang merupakan penegak hukum di dunia mafia dan merupakan kelompok yang sangat ditakuti, tidak ada yang bisa menentang mereka dalam omerta yang sudah disepakati.

"Itu karena Akashi-kun adalah temanku, aku berhak untuk mengkhawatirkannya," ujar Tetsuya lagi.

Tetsuya merasa sedikit terkejut ketika Akashi memaksanya untuk melihat ke arah pemuda itu, ada sekelebat emosi yang tidak bisa Tetsuya baca dalam mata Akashi.

"Bagaimana mungkin kau bisa menganggapku sebagai teman, Tetsuya? Aku adalah orang yang hampir membunuhmu dan aku melakukannya dengan sadar waktu itu?!" Kata Akashi dengan suara yang sedikit lebih keras, dia merasa frustrasi karena Tetsuya tidak lekas marah kepadanya. "Dan aku juga sudah menyakitimu, memaksamu untuk melakukan apa yang aku mau tanpa mengindahkan semua perkataanmu, Tetsuya. Tidak hanya di dunia ini saja, bahkan ketika kita masih menjadi Kuroko Tetsuya dan Akashi Seijuurou. Kalau ada hal yang harus kau rasakan ketika bertemu denganku, kau seharusnya merasa marah dan benci!"

Akashi terlihat begitu memaksakan dirinya ketika mengatakan semua itu, mengharapkan Tetsuya untuk membencinya atau paling tidak mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu dengan Akashi setelah ini. Ada perasaan takut yang menyelimuti Akashi ketika memikirkan hal itu, namun ia tidak bisa menyanggah kalau dirinya merasa senang ketika Tetsuya mengatakan kalau ia mengkhawatirkan keadaan Akashi dan tidak memukulnya ketika mereka bertemu sekarang ini.

Konflik internal yang Akashi miliki tersebut tidaklah terlihat dalam ekspresinya, bahkan topengnya yang sempurna akan menutupi kalau Akashi sempat memiliki pemikiran seperti itu. Tapi, Tetsuya bukanlah orang naif yang bisa dibodohi begitu saja. Tetsuya itu adalah orang yang menghabiskan waktunya untuk mengobservasi orang-orang dalam hidupnya, baik di kehidupan pertamanya sebagai Kuroko Tetsuya maupun sekarang ini sebagai Hiwatari Nagi, dan terlebih lagi Tetsuya sudah mengenal Akashi dengan cukup baik. Untuk itulah dengan mudah Tetsuya mampu membaca emosi serta apa yang menjadi konflik internal yang Akashi miliki, dan untuk itu mau tidak mau Tetsuya pun menghela nafas kecil, merasa lelah.

Sosok remaja berambut biru langit tersebut melepaskan pelukannya dari tubuh Akashi sebelum ia mengambil satu langkah ke belakang untuk membuatnya mampu melihat pemuda itu dengan jelas. Tatapannya yang begitu datar pun mengarah pada Akashi, dan untuk kesekian kalinya Tetsuya pun menghela nafas lagi.

"Akashi-kun, untuk ukuran orang jenius sepertimu rupanya kau itu cukup bodoh juga," kata Tetsuya tiba-tiba dan dengan kejujuran yang tidak ia tutupi.

Baik Akashi dan juga Tetsuya tidak mengucapkan satu patah kalimat apapun setelah ucapan Tetsuya yang terlampau jujur tersebut. Selama ini tidak ada orang yang berani mengatakan seorang Akashi Seijuurou adalah orang bodoh, sampai Kuroko Tetsuya yang melakukannya. Dan Akashi pun mau tidak mau menyipitkan kedua matanya ketika dia menatap Tetsuya.


Author: Terima kasih sudah mampir dan membaca chapter ini. Sampai bertemu lagi di chapter selanjutnya

Author: Sky