"Yah sebenar nya aku di perintahkan Azazel untuk membawamu hidup-hidup,,, namun karna kau sudah membuatku kesal mau tidak mau kau harus menerima kematianmu di tempat ini" Kaneki kembali berucap sambil merentangkan tangan nya kedepan, yang kemudian tercipta sebuah lingkaran sihir besar hampir seukuran tubub nya sendiri, di setiap pinggiran sihir itu tercetak tulisan-tulisan yunani kuno yang berputar melawan jarum jam dan di tengah terdapat gambar seorang wanita bertubuh gagak yang merentangkan sayapnya.
"Matilah dengan damai Kokabiel"
'Corbin'
Title :Ghoul X DxD
Crossover :Tokyo ghoul X Overlord X DxD
Genre : Action, Romance, & Humor (sedikit)
Rate : T - M (buat jaga-jaga buat kedepannya)
Warning : OC, OOC, Typo, Miss-Typo, Penulisan - Tanda baca ngaco, dan masih banyak kesalah yang lain.
.
.
Chapter 2
Reuni sepasang sayap
.
.
Akademi kuoh yang terkenal dengan bangunan nya yang bergaya eropa kini harus berubah menjadi bangunan dengan gaya zaman purba, lihat saja bangunan-banguna sudah tak memiliki bentuk, kawah dengan berbagai ukuran tersebar dimana, dan jangan lupa api yang sejak tadi menggerogoti apa saja yang didepan nya, sepertinya mereka baru saja melaksanakan pesta yang meriah.
Di salah satu kawah seonggok tubuh terbaring dengan kondisi mengenaskan, yah tubuh itu milik Kokabiel seorang jendral malaikat jatuh yang baru saja kehilang nyawa nya setelah pertarungan singkat dengan seorang pemuda, yah ironis mungkin seorang senior perang yang sudah mengalami asam pahit nya peperangan harus kalah oleh junior nya seorang pemuda yang bahkan umurnya tidak sampai setengah dari umur Kokabiel.
Sementara itu sekumpulan iblis yang sejak awal ada disana menatap ngeri kondisi Kokabiel, masih terekam momentum indah beberapa saat lalu dimana pemuda ini mengeluarkan jurus nya, Sungguh itu adalah sihir yang paling mengerikan yang pernah mereka lihat.
Merasa urusan nya sudah selesai pemuda itu berbalik hendak meninggal kan tempat itu, sebelum sebuah suara lembut mengehentikan nya.
"Tunggu dulu siapa kau sebenar nya" ujar Sona yang baru saja sadar dari rasa syok nya
"Ahh ya aku hampir lupa,,,, aku perwakilan Datenshi yang diperintahkan langsung oleh Azazel untuk menghentikan tindakan konyol Kokabiel. Dan, menyampaikan bahwa tindakan Kokabiel ini tidak ada sangkut paut apapun dengan fraksi Datenshi" jawab Kaneki
"Apa maksudmu pihak Datenshi tak akan bertanggung jawab atas insiden" Sona kembali dengan nada tidak terima
"Yah seperti itulah" jawab Kaneki acuh tak acuh lalu terbang menjauh dari sekelompok iblis muda itu
Sona yang tak puas dengan jawaban pemuda itu berteriak berharap teriakan nya di dengar oleh pemuda itu "tunggu ! Hey kubilang tunggu uban sialan"
'Dong'
Seluruh iblis tersentak mendengar hinaan yang Sona lontarkan kepemuda itu, oh... Kemana Sona yang biasa nya bersikap tenang? Mungkinkah di otak nya ada serpihan-serpiha dari sisa tombak cahaya milik gagak tu itu. Apa dia lupa bagaimana pemuda itu menghajar lawan yang membuat mereka babak belur dengan mudah nya.
Kaneki langsung berhenti ketika mendengar jelas hinaan Sona yang ditunjukan pada nya, dan wow! Para iblis yang lain semakin panik tak karuan, mereka khawati pemuda itu akan langsung menerjang mereka. Karna tak terima hinaan dari Sona Dan jika itu terjadi Rias bersumpah akan menjahit mulut asal ceplos Sona. Itupun jika mereka masih memiliki tubuh yang utuh.
Kaneki mengalihkan pandangan nya kearah Sona sambil berkata.
"Kita akan bertemu lagi, dan pada saat itu kita lihat kelopak bunga yang berguguran bersama-sama" ucap Kaneki disertai senyum yang sangat tipis, setelah mengatakna itu Kaneki langung melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan para iblis yang menatap bingun kerarah nya
'Apa maksudnya' kira-kira seperti itulah pikir mereka mendengar perkataan Kaneki yang terkesan ambigu, terkecuali Sona yang terkejut mendengar perkataan tadi. Pertama lingkaran sihir milik ras succubus lalu yang barusan? Itu adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dari 'dia'.
Tanpa meperdulikan teman-temannya yang sedang menafsirkan apa yang sebenarnya pemuda itu maksud. Sona langsung melesat ke arah pemuda tadi pergi.
Dan tentu saja mengundang keterkejutan iblisyang ada disana
"Apa Kita tidak akan mengejar nya" Tanya tsubasa salah satu parage dari Sona entah pada siapa
"Tidak perlu Kita percayakan saja pada Sona, aku yakin Sona tidak akan bertingkah ceroboh!" Jawab Rias
"Yah setidaknya kita bisa beristi- "
'Bruk'
Ucapan Issei terpotong oleh sebuah pohon yang baru saja roboh.
"Jika kelanjutan dari ucapanmu adalah 'beristirahat' sebaikny kau simpan saja" balas Saji yang tengah menatap akademi kuoh yang bahkan sudah tak pantas lagi disebut akademi.
"Kuso" ucap Tsubaki dengan wajah kesal yang langsung menjadi pusat perhatian minus koneko yang sedang memakan cemilan yang entah dia dapat dari mana. Yah bagaimana tidak, untuk yang pertama kalinya mereka mendengar Tsubaki si fuku-kaicho yang memiliki sifat 11-12 dengan kingnya mengumpat.
"Apa?" Lanjut Tsubaki dengan wajah bingung sambil memiringkan kepala nya, yang hanya dihadiahi gelengan kepala oleh yang lain
"Hahhh Seperti nya ini akan menjadi malam yang panjang" ucap Kaneko yang sejak tadi diam sambil memasukan sepotong biskuit ke dalam mulut nya.
Change scane
Sona terus memacu sayap iblisnya, tanpa memperdulikan rasa lelah dan nyeri yang sejak tadi sudah menjalar keseluruh tubuh nya. Yang terpenting sekarang dia harus bertemu dengan pemuda itu untuk memastikan sesuatu. Mungkin Tidak perlu juga,,, sudah tidak ada lagi yang perlu dipastikan dengan 2 bukti yang ia punya, Sona yakin bahwa pemuda itu adalah dia.
Sona langsung menghentikan lajunya setelah melihat seorang pemuda tengah berdiri sambil menikmati pemandangan kelopak sakura yang berterbangan tertiup angin.
"Tak kusangka kau bisa menyadarinya secepat ini" ujar pemuda itu yang masih belum mengalihkan perhatian nya ke arah Sona yang kini sedang berjalan tertatih-tatih ke arah nya.
Kaneki memutar menghadap ke arah Sona sambil tersenyum lembut Karna tak kunjung menerima jawaban dari lawan bicaranya. Sementaru Sona langsung mematung sejenak melihat wajah pemuda ini yang sudah tak terhalangi oleh topeng menyeramkan nya itu. Wajah itu! Tidak salah lagi pemuda ini benar-benar dia, meskipun warna rambutnya berbeda, tapi Sona masih hafal dengan jelas cetakan wajah seseorang yang selalu ia harapkan kehadirannya, semuanya sama dengan yang terengkam di kepala Sona terkecuali rambut dan senyuman itu. Senyuman itu sangat berbeda dengan senyuman yang sering dia tunjukan kepada Sona dulu.
Entah kenapa Sona merasakan sakit dihatinya ketika melihat senyum pemuda itu, senyum yang terlalu banyak menggambarkan kekosongan dan keputusasaan yang selama ini dirasakan oleh pemiliknya. Entah apa yang ada dikepalanya Sona langsung berlari menerjang dan memeluk erat pemuda itu seolah jika ia melepaskan pelukan nya pemuda ini akan kembali menghilang.
"Aku merindukanmu baka"
"K-ku pikir aku ti-tidak akan bisa bertemu denganmu lagi"
"Se-selama ini aku selalu,,,, aku selalu mencarimu, bahkan sampai detik ini aku tak pernah berhenti untuk mencarimu" Sona terus berucap dengan suara parau mencoba menahan tangisan nya agar tidak pecah.
Kaneki hanya diam mematung mendengar penuturan jujur Sona, ia tak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab perkataan Sona. Dan pada akhirnya Kaneki hanya bisa membalas pelukan dari Sona, dengan pelukan yang tak kalah erat dari Sona. Pelukan kerinduan yang tersirat begitu banyak kasih diantara mereka. Dan jutaan kelopak sakura yang berguguran menjadi latar pelukan kasih dua orang atau lebih tepat nya dua mahluk yang tengah melepas kerinduan.
Setelah beberapa saat Kaneki melepaskan pelukannya, meskipun Sona nampak sedikit menolak. Kaneki terdiam untuk beberapa saat melihat Sona yang sedang menyeka air matanya.
"Kau tidak berubah, masih cengeng seperti dulu Sona"ucap keneki memecah keheningan
"..." sementara Sona hanya diam, ia masih harus menetralkan emosi senang nya yang sudah memuncak.
"Hey,,, sudah lah kau bukan lagi bocah 6thn yang harus ku gendong ketika sedang menangis"
"Diam hiks,,, tidak lihat kah kau hiks,,,bahwa aku sedang mencoba menenangkan diri hiks,,,hiks,,,"
"Gomen"
"Yang terpenting dari mana saja kau selama ini?" Teriak Sona, mungkin jika orang lain yang melihat mereka akan terkejut melihat perubahaan Sona yang jauh keluar dari sikap nya yang biasa. Namun seperti inilah prilaku Sona yang sebenar nya.
Dan Kaneki senang melihat Sona ini bertingkah laku seperti Sona yang dia kenal, bukan Sona yang bermuka tembok dan dingin.
"Gomen,,, banyak hal yang sudah terjadi, dan aku tak ingin kau terlibat" ucap Kaneki yah ia juga merasa bersalah tak pernah menemui gadis ini, namun masalah yang sedang ia hadapi sangat berbahaya dan ia tak ingin gadis ini terlibat.
"Setidak nya berilah kabar jika kau masih hidup bodoh,,, apa kau tidak tahu perasaan bersalah yang melanda selama 10thn ini hiks,,,hiks,,," ucap Sona kembali terisak
"Lihat lah oba-chan anak mu ini sudah membuat ku menangis dua kali hiks...hiks...hiks... Kuharap kau memarahi nya habis-habisan nanti,,,kalau perlu kau kutuk anak mu dari sana" lanjut Sona entah berbicara pada siapa yang jelas bukan Kaneki.
Sementara Kaneki melihat Sona dalam keadaan seperti itu mau tak mau pertahanan nya mulai goyah,
Dia benci,,,bahkan sangat benci melihat Sona terpuruk seperti ini. Meskipun di masa lalu ia hanya menganggap iblis ini sebagai pengganggu ketenangannya. Namun perlahan kehadiran sona mulai memberi arti bagi dirinya. Inilah alasan nya kenapa selama ini ia tidak menemui Sona, bukan nya tidak ingin, ia yang ia rasakan selama ini juga sama seperti Sona, namun ambisi nya yang lebih besar membuat nya menempuh jalan lain.
Yah benar ia lupa akan ambisi nya, ambisi untuk mencari dan membantai orang-orang yang telah merusak kebahagian nya, ini aneh padahal baru sebentar bersama Sona ia menjadi lupa akan ambisi nya selama ini, ia harus memilih sekarang. Kembali menjalin ikatan dengan Sona dan melupakan ambisinya atau memutuskan ikatan Sona dan mengambil ambisinya. Pilihan yang sulit memang keduanya merupakan hal yang penting bagi nya, jika ia memilih Sona dia tak akan lagi leluasa meraih ambisi balas dendamnya, dan jika ia memilih ambisinya maka Sona pasti akan membencinya.
"Gomen" untuk kesekian kalinya hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, ia kembali melingkarkan tangan nya ketubuh mungil Sona, yang masih menangis terisak-isak.
"Bukan nya aku tak ingin menemui mu,,,namun ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan,,,"
"..." Sona hanya terdiam menikmati kehangatan yang Kaneki berikan kepada nya
"Dan sebenar nya aku lebih senang jika kau melupakan ku"
'Deg'
Rasa nyeri kembali terasa di hati nya, dan air mata kembali mengalir melintasi wajah cantik Sona, dia langsung melepaskan diri dari pelukan pemuda itu.
"Apa maksudmu?" Ujar Sona sambil menatap penuh amarah. Dia tak suka ini, bagaimana mungkin pria ini bisa berkata seperti itu dengan mudah nya. Ia tahu bahwa selama ini Kaneki hanya memandang sebagai seorang gadis bangsawan yang merepotkan tak lebih, namun tidakkah dia berpikir bahwa gadis merepotkan ini juga mempunyai hati yang rapuh.
"Karna kita tak bisa bersama seperti dulu lagi,,, kita bukan lagi anak-anak yang tak tahu kejam nya dunia, kita memiliki jalan masing-masing,,, kau memiliki jalan yang terjal namun akan selalu ada cahaya yang akan menerangi jalan mu,,, sedangkan jalan yangku pilih adalah jalan yang aku sendiri tak tahu kemana jalan itu akan membawaku, jalan yang hanya di penuhi kegelapan dan kebencian tak berujung..." Kaneki menghentika ucapan nya sambil menatap sone dengan intens, sebelum melanjutkan ucapan nya.
"... Dan aku tak akan pernah memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu... Hime-sama sepertimu terlalu lembut untuk mengikuti jalan ku" yah sudah seharus nya seperti ini.
Ia tak mengerti benar-benar tak mengerti dan dia sama sekali tak ingin mengerti ucapan pria ini, hanya satu yang saat ini dia tahu, bahwa pria yang dicintai nya ini kini sudah terelan kegelapan hati nya. Dan kini dia sadar dirinya begitu egois dai hanya memikirkan bagaimana perasaan nya, bersikap seolah-olah dialah yang paling menderita.
Dia tak pernah sekalipun memikirkan bagai mana perasaan pemuda dihadapan nya ini. Sona kembali termenung, Sona tahu sebenar Kaneki melakukan ini bukan karna keinginan nya, Keadaanlah yang memaksa mereka seperti ini. Sona menatap Kaneki yang sedang memasang wajah datar nya, yang dibalik nya tersimpan berbagai macam emosi yang sudah meluap-luap karna tersimpan dengan rapat oleh wajah datar nya. Ingin rasa nya dia membongkar semua emosi yang Kaneki rasakan, agar dia bisa menjadi satu-satu nya orang yang melihat pemuda ini rapuh, sehingga dia bisa menjadi orang pertama yang memberikan pemuda ini bahu untuk bersandar.
"Boleh kah aku meminta sesuatu" ucap Sona pelan, ia tahu apa yang sedang terjadi sekarang, dan ia tahu sekeras apapun ia meminta pemuda ini kembali hanya akan membuat pemuda ini semakin terbebani. Oleh karna itu biarla ia bersikap egois dengan meminta seuatu yang sekiranya bisa memuaskan rasa rindu nya untuk saat ini.
"Ini pertama kali nya kau meminta sesuatu dengan benar" jawab Kaneki dengan tersenyum lembut.
"Jawab saja boleh atau tidak"tegas Sona
"Kau semakin menjengkelkan Sona" namun ucapan itu hanya dibalas tatapan tajam dari Sona.
"Ha' ha'I jika itu bukan hal yang merepotkan. Lagi pula jika aku menolak pun kau akan tetap memaksaku"jawab Kaneki pasrah.
" Baiklah yang pertama peluka aku" Sona berkata dengan tegas
"Baiklah" jawab nya sambil lengsung mengikuti permintaan Sona.
"Seperti ini" lanjut Kaneki
"Huum" gumam Sona sambil menganggukan kepala nya yang kini sudah menempel di dada bidang milik Kaneki
"Ada lagi?" Tanya keneki.
"Hemmm" Sona termenung sejenak memikirkan apa yang sebaik nya ia pinta selanjutnya. Sebenar nya satu-satunya hal yang dia inginkan saat ini adalah pemuda ini terus bersama nya seperti dulu, namun ia sadar pemuda ini pasti tidak akan mengabulkan nya.
"Baiklah kalau begit bisa kah kau menceritakan kisah itu lagi padaku" ucap Sona.
"Kisah yang mana maksudmu" Kaneki mengerutkan dahi nya.
"Kisah tentang sang putri kecil dan si rubah"
"Kau bukan lagi bocah Sona"
"Sudah lakukan saja,,, bukankah kau yang akan mengabulkan apapun asal tidak merepotkan" jawab Sona sambil mengerutkan bibir mungil nya.
"Hahh baiklah hime-sama" ujar Kaneki lalu ia mulai bercerita.
"Kemari bermainlah dengan ku" kata sang putri kecil "aku sangat kesepian"
"Aku tidak bisa bermain denganmu" kata si rubah
"Kenapa?" Tanya sang putri kecil
"Itu karna kita belum saling menjinakkan"
"Oh maaf" kata putri kecil. Tetapi, setelah berpikir beberapa saat, dia menambahkan
"Apa artinya itu 'saling menjinakkan"
"Itu adalah tindakan yang sering di abaikan"tukas si rubah kemudian menjelaskan lebih lanjut
"Saling menjinakan itu artinya saling menjalin ikatan"
"Menjalin ikatan?" Tanya sang putri kecil
"Begitulah," kata rubah "Bagiku, kau saat ini tidak lebih dari seorang gadis kecil yang sama dengan ribuan gadis kecil lainnya. Dan aku tidak membutuhkan mu. Dan kamu sendiri tidak membutuhkan ku. Karna Bagimu, aku juga tidak lebih dari seekor rubah seperti ribuan rubah yang lainnya. Tapi jika kita saling menjinakan, kita akan saling membutuhkan. Bagiku kamu akan menjadi satu-satu nya di dunia. Dan bagimu aku akan menjadi satu-satu nya di dunia" jelas rubah
Sang putri hanya termenung memikirkan ucapan sang rubah. Hingga akhir ia tersenyum sambil memberi uluran tangan dan berkata.
"Baiklah kalau begitu kita saling menjinakan sekarang"
Di Pagi hari yang cerah Seorang pria tua berpakaian butler berjalan menyelusuri sebuah mansion besar sambil membawa secingkir kopi dengan asap yang masih mengepu.
Pria tua itu berhenti ketika berdiri disebuah kamaryang menjadi tujuan awal nya
'Tok..tok..tok'
"Kaneki-sama saya membawakan anda kopi"
Ujar pria tua itu setelah mengetuk pintu
"Masuk saja pintu nya tidak di kunci Sebas" ujar suara di dalam
Pria tua yang dipanggil Sebas itu masuk setelah mendapat ijin dari tuan nya. Setelah masuk ia melihat tuan nya sedang duduk sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong"
"Anda tidak tidur lagi tadi malam?" Tanya sebas setelah melihat kantung mata milik tuan nya.
"Yah banyak hal yang terjadi tadi malam" ucap Kaneki tanpa mengalihkan pandangan nya
"Apa itu karna anda bertemu dengan Ojou-san?"
Kaneki melirik sejenak ke arah pria tua itu, yang entah kenapa selalu tahu apa yang dia sembunyikan. Sebas adalah salah satu orang yang selamat dari insiden berdarah yang menimpa keluarga nya 10 thn yang lalu. Sejak dulu Sebas memang ditugaskan oleh ibunya sebagai buttler khusus yang untuk mengurus segala kebutuhan nya sejak ia belum bisa berjalan, mungkin karna itu juga Sebas selalu mengetahui apa yang sembunyikan.
"Begitulah" jawab Kaneki sambil kembali mengalihkan perhatian nya keluar jendela.
"Saya mengerti perasaan anda, tapi terlalu banyak bergadang bisa memperburuk kondisi tubuh anda Kaneki-sama" balas sebas dengan nada menasehati.
"Kau tak perlu khawatir aku akan baik-baik saja"
"Maaf atas kelancangan saya menasehati anda, saya hanya tidak ingin lagi kehilangan tuan kami yang berharga" ujar sebas sambil membungkuk layak nya budak yang sedang dimarahi oleh tuan nya.
Dan inilah hal yang paling Kaneki benci dari sebas, dan seluruh pelayan nya. Sikap loyal mereka yang sudah overdosis benar-benar membuat nya jengah, padahal ia sudah berulang kali bilang, bahwa mereka semua adalah keluarganya dan sebagai keluarga mereka harus saling menghormati tanpa adanya perbedaan termasuk kepada dirinya, namun bukan sorakan haru atau senang, yang dapat hanyalah ucapan merendahkan diri dari para pelayan nya seperti 'kami tak pantas bersanding sejajar dengan anda' atau 'melayani anda merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi kami' dan yang semacam.
"Hahhh sudahlah sebas angkat tubuh mu, sudah ku bilang jangan terlalu kaku terhadapku, aku juga minta maaf karna sudah membuatmu khawatir" ujar Kaneki namun sepertinya ia salah berkata, karna bukan nya mengikuti perkataan sebas malah semakin menunduk.
"Maaf Kaneki-sama saya tidak bisa melakukan perintah anda yang satu itu,,, karna bagi kami para pelayan menghormati anda dengan sepenuh hati merupakan tujuan hidup kami" jawab sebas dengan penuh keyakinan
Terserahlah percuma saja jika ia lanjutkan.
"Yah terserah kau saja" jawab Kaneki seadanya karan dia tahu berdebat masalah keloyalan denga merka tak akan ada habisnya menuntut kesetaraan dari mereka sama saja seperti meminta seekor sapi melahirkan naga, sama-sama mustahil. sampai sekarang dia masih bingung apa yang sudah ibunya lakukan sampai-sampai memiliki pelayan seperti mereka?.
"Oh ya Kaneki-sama, tadi Vali-sama menelpon kata dia akan kemari dalam 30menit" ujar sebas yang sudah dalam posisi berdiri.
"Hmmm,,,, untuk apa dia kemari?"
Tanya Kaneki sambil meminum kopi nya.
"Hmm kopi buatanmu memang yang terbaik" lanjut Kaneki
"Terima kasih atas pujian nya Kaneki-sama saya sangat tersanjung,,,,dan untuk pertanyaan anda tadi, vali-sama bilang dia hanya ingin mengajak anda berangkat bersama" jawab sebas
"Kau boleh kembali,,, jika Vali sudah datang suruh saja dia menunggu di ruang tamu dan jangan lupa beri dia cemilan yang biasa"
"Baik Kaneki-sama" setelah itu sebas mengambil nampan yang tadi ia gunakan membawa kopi. Lalu berlalu menuju pintu keluar.
"Ah ya sebas satu lagi" ucap Kaneki yang membuat sebas batal menutup pintu kamar tuan nya.
"Suruh Nabe menyiapkan semangkuk susu yang di campur roti seperti biasa untuk sarapankuz, dan katakan pada Yuri untuk mengembalikan buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan beberapa hari yang lalu" perintah Kaneki sambil berjalan ke arah kamar mandi
Sementara Sebas hanya menjawab perintah dari tuan dengan membungkukan badan penuh hormat. Kemudia ia pergi meninggalkan kamar tuan nya.
Sementara itu di tempat lain.
Mobil putih berjenis FERRARI F60 America melesat dengan kecepatan 100mil/jam di tengah padat nya kota, jika saja bukan seorang profesional mungkin mobil mewah ini sudah berubah bentuk menjadi mobil angkot sejak tadi. Meskipundi dalam mobil si pengemudi tengah berteria-teriak seperti orang gila.
"Albion pelankan mobil nya!" Teriak seorang ikemen berambut silver, dengan wajah yang sudah membiru. Kepada seekor naga putih pada sebuah Smartphone.
"Berhentilah mengoceh vali kau terlihat sangat menyedihkan" jawab Albion membalas teriakan Vali.
Albion? naga putih? Smartphone? Yah benar kawan naga putih di smartphone itu adalah albion sang kaisar naga putih atau welsh dragon. Mungkin kalian bertanya bagai mana mungkin seekor naga setinggi puluhan kaki bisa masuk kedalam sebuah smartphone yang hanya berukuran beberapa inci? Ini adalah salah satu hasil inovasi dari sahabat uban nya yang berhasil memindahkan jiwa albion dari secred gear. Awal cerita nya, ketika vali bercerita kepada Kaneki bahwa ia sering kelepasan hingga berteriak-teriak saat berbicara dengan albion lewat mindscape, dan tak jarang dia mendapat tatapan aneh dari orang-orang di sekitar nya bahkan pernah ada orang yang menyebutnya gila. Dan dari situlah Kaneki langsung mendapat sebuah inspirasi hingga berhasil menciptakan sebuah alat yang berisi sebuah program rumit kedalam sebuah secread gear yang depat memindahkan jiwa yang terdapat dari secread gear tersebut kedalam sebuah wadah 'AI' yang sudah ia siapkan sebelum nya. Dan jadi lah albion seperti sekarang, yah mungkin jika ada yang melihat albion dalam sebuah smartphone mereka hanya akan menganggap-nya sebagai program AI biasa, namun berbeda jika jiwa sang kaisar naga sudah kembali kedalam seacred gear nya.
Dan satu hal lagi yang harus diketahui bahwa saat ini albion yang sedang mengendarai mobil yang vali bawa, dengan cara meretas mobil ini, sudah dijelaskan tadi bahwa saat tidak berada dalam seacred gear jiwa albion ditampung oleh sebuah wadah AI yang terbuat dari bilangan-bilangan rumit, dan dengan memanfaatkan wadah itu albion bisa bergerak bebas di dunia maya wow! Amazing kan?. Bisa dibilang kini ia menjadi kaisar naga nya dunia maya, bahkan kini kemampuan nya sebagai heacker sudah diakui bahkan kini dia mendapat julukan The King of Dragon oleh para hacker di dunia.
"Lagi pula kau tidak perlu takut aku adalah ahli dalam hal kecepatan" lanjut si kaisar naga itu.
"Cepat hentikan albion atau aku akan mencabut alat itu" teriak vail kembali.
"Silahkan saja, tapi bersiap-siaplah kehilangan mobil kesayangan mu ini" jawab albion mengancam
Dan vali hanya bisa merutuk dalam hati akan kelakuan Albion.
"Kau aneh sekali Vali, pada hal kaeu terbiasa terbang dengan kecepatan yang lebih gila dari ini" ejek albion
"Ini berbeda baka, jika mobil ini hancur maka upayaku menabung selama 6bln akan terbuang sia-sia" sanggah vali
"Sejak kapan kau menjadi orang yang materialis hah?"
"Kau tidak mengerti albion. Mobil ini limitide edision albion! Limitide edition! yang hanya di jual 10unit di seluruh dunia"
"Hohoho baik lah kalau begitu kita lihat bagaimana Kemampuan mobil limitide edision ini" ucapo albion dengan senyum evil sambil menambah kecepatan.
"Albion aku bersumpah akan- awas di depan". Vali langsung berteriak panik ketika melihat beberapa meter di depan mereka seorang nenek sedang berjalan dengan kecepatan 1m/perjam
"..." Albion yang baru menyadari itu hanya terdiam.
"Jangan hanya diam bodoh" teriak vali kesal
" Uwahhh vali bagaiman ini?"
'Dongg' Vali membulatkan kan mata nya ia tak menyangka bahwa sang kaisar naga bisa sebodoh ini
"Injak rem nya baka" teriak panik vali
"Tidak akan sempat" balas albion yang tidak kalah pani
"Vali" teriak albion kembali
"Berikan kendali nya padaku" ucap vali dengan nada serius
Ketika mobil nya tinggal setengah meter dari nenek tua itu denga gerakan slowmotion
'Ckitt'
Mobil silver itu langsung melakukan drift 180derajat bamper mobil hanya berjarak beberapa senti meter dari si nenek tua itu.
Lalu kembali bermanuver 180derajat agar mobil kembali dalam posisi yang seharusnya
Change scane
Seiblis manis (?) Tengah berbaring sambil menatap kosong kearah langit-langit kamar nya, dia adalah Sona Sitri heroin Fict ini, seorang iblis bangsawan sekaligus heirs dari klan Sitri yang terkenal akan kecerdasan dan pengendalian nya dalam elemen air.
'Bagaiman aku bisa berada disini?' Itulah isi pikiran nya sekarang, karna ingatan terakhir akhir mengatakan bahwa sebelum nya dia berada ditaman dekat sekolah nya sambil berada di pelu- yah dia baru ingat setelah beberapa insiden dia mengejar Kaneki, lalu setelah melakukan percakapan yang menurutnya sangat menyakitkan dia meminta sebuah lebih tepat nya dua permintaan, dan untuk yang pertama dia meminta agar Kaneki Memeluk-nya.
'Blush'
Wajah Sona langsung berubah seketika, di baru menyadari bahwa semalam dia telah melakukan hal yang sangat memalukan. Meminta seorang laki-laki memelukmu? Sungguh merupakan perbuatan Tabu untuk seorang bangsawan seperti dirinya.
Jika saja ada orang lain yang melihat itu, dia yakin pasti dia akan di cap sebagai wanita murahan atau mungkin lebih parah nya lagi pel-err mungkin yang ini tidak perlu dilanjutkan karna khawatir ada anak di bawah umur yang membaca FF ini, lagi pula author yakin para readers sudah sangat cerdas dalam hal ini.
Secara refleks Sona menutup wajahnya dengan bantal untuk menutupi rona merah yang menjalar di wajah manis nya, arggh
"Baka,,,baka,,,baka,,," ujar Sona merutuki kebodohan diri nya sendiri sambil berguling-guling tak jelas di atas kasur nya seperti remaja yang masih labil. Momen yang langka bukan?.
Setelah puas dengan acara guling-guling tak berfaedah itu, Sona kembali merenung kali ini dengan posisi duduk dengan sebuah bantal yang sedang ia peluk.
"Tak bisa bersama lagi kah?" Gumam Sona mengingat kembali kejadian semalam.
Jujur saja hanya dengan melihat tatapan pemuda itu hati Sona terasa tercabik-cabik, Sona lebih menyukai tatapan sinis dan merendahkan yang selalu Kaneki arahkan kepada Sona saat masih kecil dari pada tatapan dingin dan hampa yang Sona lihat tadi malam. Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus membiarkan Kaneki tertelan kegelapan hatinya? Sungguh dia benar-benar berada dalam kebingungan yang sangat-sangat mendalam.
"Apanya yang cerdas? Hanya memikirkan masalah ini saja aku tidak mampu" gumamnya.
Dia meragukan kecerdasannya sebagai seorang Sitri.
'Kau tahu Sona tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kecerdasan. Terkadang kau juga harus menggunakan perasaanmu dalam memutuskan sesuatu'
'Menggunakan perasaanku?'
'Ya karena kecerdasan tidak akan pernah memahami perasaan ataupun keinginan'
Lagi-lagi dia ingatan masa lalu terlintas di benaknya. Ya benar kecerdasannya tidak akan pernah mengerti perasaannya. Jadi, seberapa keraspun dia berifkir jawaban tidak akan pernah menghampirinya.
"Huh hahahha..." Sona tertaa terbahak-bahak.
Satu lagi tingkah absurd-nya yang muncul. Padahal belum satu hari dia bertemu lagi dengannya sikap nya sudah melenceng jauh dari jalur Sona Sitri yang selama ini orang kenal.
Sona bangkit dari tidur lalu berdiri bertolak pinggang.
"Lihat saja BaKaneki! Jangan harap aku akan melepakanmu begitu saja" kata Sona dengan lantang.
Ya jika dia menyerah sekarang. Maka usahanya selama ini akan menjadi sia-sia.
"Aku... Aku tak akan membiarkanmu mengambil jalan yang salah. Aku pasti akan menyelamatkanmu! Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menyerah kepadamu"
.
.
.
To Be Continued
Oke meskipun yang bacanya dikit gpp lah bakal tetep gw update. Ya sebenernya sedih juga tapi mau gmn lagi. Ini salah gw sendiri yang Publish di fandom yang sepi. Lagian gw nulis fict karena Hobi aja. Tapi, biar kaya gitu juga gw bakal lebih seneng kalau hobi gw ini bisa ngehibur banyak orang. Makanya gw minta para Readers sekalian buat nyulik Readers lain ke fandom ini. Kalau bisa sama Author juga biar Fandom ini bisa rame kaya tetangga.
Mungkin itu sedikit curhatan gw yang gk penting. Dan buat yang baca tetep pantengin terus karena fict ini bakal gw lanjut.
Ok samapi ketemu di chapter depan. Gw The Plato Baskom pamit undur diri
Assalamu'alaiku W.r W,b
Chapter yang akan datang: Putih & Silver
