DISCLAIMER: I own nothing except the PLOT kalau ada plot yang mirip, itu hanya kebetulan

Main Pair: Yunho x Changmin & Siwon x Kyuhyun

Rate: T (diusahakan untuk tidak sampai ke M)

Genre: Supernatural, Romance, Hurt/Comfort, Fantasy(?)

Summary:

Yunho "Shim... Changmin... sudah 18 tahun berlalu ya... senang bertemu kembali dengan mu... saatnya mengambil apa yang harusnya ku ambil waktu itu..."

Changmin "Apa yang terjadi padaku? Siapa Yunho itu?"

WARNING:

Fiction, BL, future chapter can contain gore, etc


Chapter 7

-If u notice, I change the summary-

Maaf slow update :") nunggu lama ya? Sorry banget :""""
But thank you so much for the vote and review. It means a lot for me

"U-U-know? B-Bukankah itu nama yang ada di mimpiku? Kenapa pria itu?"

"Aiden!" Seru Yunho sambil berdiri dan memeluk kawannya.

"Oh ayolah aku sudah tidak menggunakan nama itu lagi. Panggil Donghae saja" Ucap Donghae

"Oke oke. Restoran mu kelihatannya sangat sukses" Puji Yunho

"Itu berkat dirimu dan Eunhyuk. Kalian berdua menyemangati ku. Dan inilah hasilnya" Ucap Donghae.

Donghae menyadari kehadiran Changmin dan tersenyum kepadanya lalu berbisik pada Yunho "Jadi Max juga bereinkarnasi?" Tanyanya

Yunho tersenyum getir lalu menggeleng dan Donghae hanya mengangguk mengerti. Donghae membisikan sesuatu sebelum menepuk pundak Yunho dan berjalan keluar ruangan mereka. Yunho kembali duduk dan menatap Changmin yang membuatnya kelabakan

"Maaf. Tadi itu teman ku, Donghae. Dia pemilik restoran ini." Ucap Yunho

Changmin mengangguk dan meminum sakenya lagi "Sejak kapan kalian berteman? Seperti kalian dekat sekali" Tanyanya

"Sejak kecil. Dia salah satu orang yang paling dekat denganku"

Changmin mengangguk lagi "Oh... Pantas kalian sampai berpelukan seperti itu..."

Yunho menopang dagunya dan menyeringai "Kau cemburu, Minnie?" Tanya Yunho usil.

Pipi Changmin memerah dan memalingkan wajahnya "Tidak... Itu teman mu jadi kenapa aku harus cemburu?"

Seringai Yunho menghilang "Padahal aku ingin kau cemburu..." Ucapnya malas

Pelayan masuk ke ruangan mereka dan meletakkan berbagai makanan yang mereka pesan. Wajah merah Changmin seketika berubah menjadi cerah kembali ketika melihat makanan yang terlihat lezat didepan matanya. Yunho tersenyum melihatnya dan melupakan semua yang dia pikirkan termasuk Max.

"Makanlah, Changmin." Ucap Yunho

Changmin mengangguk cepat dan mengambil sumpit "Yang mana yang harus dimakan terlebih dahulu ya... Semuanya kelihatan lezat..."

"Makan apa saja. Semuanya memang Lezat, Changmin-ah."

Changmin mengambil salah satu sushi dan menyodorkannya pada Yunho. Wajahnya tersipu tetapi ia berusaha tutupi dengan senyumnya. Yunho menatap sushi didepannya lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan memakan sushi tersebut.

"Enak tidak?" Tanya Changmin malu-malu

Yunho mengunyah sebentar lalu menelannya "Enak. Lebih enak lagi saat kau menyodorkannya padaku" Jawabnya sembari tersenyum

Yunho mengambil sumpitnya dan mencapit ramennya lalu meniupnya perlahan dan menyodorkannya pada Changmin. "Kau coba ini. Rasanya sangat lezat. Kau pasti suka"

Changmin memajukan wajahnya dan meraup ramen itu tanpa sadar kuah ramen itu terciprat ke dagunya sedikit. Yunho dengan inisiatif mengelapnya dengan jarinya. Mata Changmin terbuka lebar sambil meresapi setiap kelezatan ramen tersebut.

"Mmmm..!"

"Lezat bukan? Aku tahu kau pasti suka" Ucap Yunho yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Changmin.

"Makan yang banyak, Changmin. Setelahnya aku akan mengantarmu pulang" Ucap Yunho sambil memakan makanannya.

"Bhawiklah (baiklah)" Jawab Changmin dengan mulut penuh makanan.

Mereka kemudian melanjutkan makan dalam diam. Yunho sesekali mencuri pandang ke Changmin yang makan dengan sangat lahap. Tadi entah kenapa dia melupakan semua yang harusnya dia lakukan. Wajah Changmin yang sangat sangat mirip dengan Max, membuat nya melupakan semuanya. Wajah Changmin dan Max sangat mirip. Hanya gaya rambut mereka saja yang berbeda. Rambut Changmin pendek dan sedikit berantakan /mungkin karena habis bangun tidur/ sedangkan Max, rambutnya sedikit lebih panjang sehingga ia selalu mengikatnya. Sikap mereka berdua juga sedikit berbeda. Changmin pemalu- ralat. Sangat pemalu walau dia juga bisa kasar, sangat berbeda dengan Max yang sangat kejam padanya walau kadang lemah lembut seperti orang tua-

"Hyung, apa besok hyung akan datang ke kampus ku lagi?" Tanya Changmin.

Yunho diam sejenak lalu tersenyum "Jika kau mau, aku bisa mengunjungi mu besok. Jam makan siang" Jawab Yunho.

Wajah Changmin berseri dan mengangguk dengan semangat "Besok aku bawakan bekal ya. Kita makan bersama" Ajak Changmin.

"Baiklah. Besok aku akan kosongkan jadwal ku untuk mu"

"Memangnya Hyung kerja apa?" Tanya Changmin sambil memiringkan kepalanya

"Bisnis. Ayahku pemilik salah satu perusahaan besar di Seoul." Jawab Yunho

"Apa bisnisnya berbeda dengan milik Siwon hyung? Seingatnya ku kalian berdua saudara kan?" Tanya Changmin lagi

"Siwon akan mengurus perusahaan di Cina sedangkan aku di Seoul dan Jepang." Jawab Yunho sambil meminum tehnya.

"Heee... enak ya... Aku mau kerja secepat mungkin"

Yunho melirik Changmin "Kenapa? Dunia kerja menyeramkan, Changmin-ah" ujarnya

Changmin menggaruk-garuk dagunya "Entahlah. Aku juga tidak tahu tapi kurasa itu lebih baik. Lebih menantang lebih seru bukan?"

"Mirip Max..." Gumam Yunho dalam hati

"Aku tidak masuk bisnis seperti hyung jadi mungkin pekerjaan ku tidak se'menyeramkan' Hyung" Ucap Changmin

Changmin kembali memakan makanannya sedangkan Yunho terdiam memandangi Changmin. Beberapa saat kemudian Yunho tersenyum lembut dan meraih tangan Changmin yang memegang sumpit. Changmin menatap tangan Yunho lalu menatap balik Yunho.

"Kau... tidak akan meninggalkan ku, kan?" Tanya Yunho tiba-tiba.

Changmin tertegun lalu mengangguk pelan "Ya... Tidak akan..." Jawabnya pelan

Yunho mengelus tangan Changmin dan memandangi tangan yang di elusnya "Tanganmu dingin. Kau takut?"

Changmin tersenyum kecil "sedikit. Tapi nanti juga akan terbiasa. Jangan khawatir"

"Aku hanya takut"

"Takut?"

Tiba-tiba saja Yunho mengalami flashback sejak dia bertemu Max, hingga Max mati karenanya dan janjinya untuk menyantap setiap keturunannya. Semua keturunan dia makan tanpa ragu-ragu. Tapi saat ini, tiba-tiba saja runtuh sudah semua pendiriannya. Wajahnya, suaranya, sikapnya, mengingatkan dia pada Max. Dan dia sangat merindukan Max. Max bagaikan kelemahan satu-satunya. Kelemahannya yang membuat dia terlihat lemah di semua mata keluarga. Karena itu dia berlatih menjadi kuat agar suatu saat, jika Max bisa kembali kepadanya, dia bisa melindunginya.

"Aku takut kau pergi" Jawab Yunho "lagi" tambahnya dalam hati.

Changmin menggenggam tangan Yunho dengan tangannya yang lain. Dia eratkan genggamannya dan menatap lurus ke Yunho

"Aku tidak akan meninggalkan mu. Aku juga yakin hyung tidak akan meninggalkan ku" ucapnya tegas

"Bagaimana kau tahu?" Tanya Yunho

Changmin melirik kesamping "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tahu jika hyung akan setia. Perasaan ku berkata seperti itu... Aneh ya?" Ucapnya sambil melihat ke arah Yunho

Yunho menggelengkan kepalanya "Tidak. Itu lebih terdengar... romantis"

"Ewww! Itu terdengar romantis! Menjijikkan!"

Changmin melepaskan tangan Yunho dan memegang kepalanya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut keras dan cuplikan aneh terpampang begitu saja. Changmin menggertak giginya dan memejamkan mata menahan sakit.

"Tapi kau menyukainya bukan? Aku tahu itu" Ucap Max sambil menyiram tanamannya

"Bagaimana kau tahu?" Tanya Uknow bingung

"Entahlah. Perasaan ku berkata seperti itu. Aneh bukan?" Gurau Max

"Ewww! Itu lebih terdengar romantis! Menjijikan!" Teriak Uknow dengan tampang jijik

"Suatu saat kau akan suka dengan ini. Lihat saja"

"Jika tidak maka jatah manusia ku bertambah 100!"

"Changmin?"

Yunho berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Changmin yang meringkuk sambil memegang kepalanya. Dia khawatir. Apa seseorang sedang mencoba melukainya? Yunho menengok kesana-kemari mencoba mendeteksi adanya iblis selain dirinya (dan Donghae karena dia pemilik restoran).

Suara erangan sakit Changmin membuatnya kembali menatapnya. Dia bingung. Apa yang harus dia lakukan? Dia tarik Changmin ke pelukannya dan mengelus punggungnya sembari mencium puncak kepala Changmin.

"Changminie, tenanglah. Tarik nafas... Ada apa Changmin?" Tanya nya khawatir

Yang ditanyai diam dan semakin mendekatkan dirinya dengan Yunho.

"Changmin, kalau kau tidak memberitahu ku, aku tidak bisa tahu" Bujuk Yunho.

Cengkraman di kepala Changmin melemah dan Changmin bersandar pada dada bidang Yunho. Dia menggeleng pelan dan mencoba menstabilkan nafasnya.

"Hanya... sedikit pusing..." Jawab Changmin bohong.

"Kau sakit? Ingin pulang sekarang?"

Changmin mengangguk pelan.

Satu jawaban lemah itu sudah cukup menjawab Yunho. Rasa khawatir masih menghantuinya tetapi dia tidak bisa memaksa Changmin untuk tinggal bersamanya. Yunho mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan dimeja. Kedua tangan Changmin ia letakkan di lehernya lalu menggendongnya. Dia buru-buru keluar dari ruangan itu dan berhadapan dengan Donghae dengan Eunhyuk disampingnya yang menatap Changmin dengan bingung.

"Aku akan menjawab semua pertanyaan mu besok." Ucap Yunho seperti mengetahui pertanyaan sepasang kekasih dihadapannya.

Donghae menghela nafas "Baiklah. Jaga dia baik-baik" ucapnya.

Eunhyuk melambaikan tangannya "terimakasih sudah mampir"

Yunho mengangguk dan berjalan keluar restoran lalu menuju mobilnya. Ia buka pintu penumpang dan meletakkan Changmin pelan-pelan lalu menutup pintu dan pergi ke pintu pengemudi. Tanpa pikir panjang Yunho langsung menyalakan mesin mobil dan mengendarai dengan cepat. Pikirannya hanya terfokus pada Changmin yang masih senantiasa menutup matanya dan menyandarkan kepalanya ke kaca.

Sesampainya di asrama kampus, Yunho langsung mematikan mesin mobil dan membuka pintu lalu berlari menuju pintu Changmin. Dia buka dan menggendong Changmin, dengan cepat dia bawa Changmin menuju kamarnya. Persetan dengan kunci dan pintu mobil yang belum tertutup. Yang paling penting sekarang adalah Changmin.

Tanpa mengetuk pintu, Yunho menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu dan membawa Changmin masuk. Kyuhyun yang sedang menonton TV tersentak mendengar pintu terbuka dengan keras dan melihat Yunho yang sedang membawa Changmin yang terlihat lemas ditangannya. Dia ikuti Yunho yang masuk ke kamar Changmin dan raut wajahnya berubah khawatir juga ketika melihat wajah pucat Changmin. Dengan segera, Kyuhyun berlari menuju meja Changmin dan membuka salah satu laci dan mengeluarkan botol kecil berisi pil kecil. Kyuhyun tidak lupa untuk mengambil segelas air dan membawa nya ke meja sebelah tempat tidur Changmin.

"Bangunkan Changmin, dia harus minum obat" Ucap Kyuhyun

"Obat?" Tanya Yunho yang langsung melirik botol obat di meja.

Yunho menghela nafas. Dia tidak ingin membangunkan Changmin yang keadaannya pucat sekali. Tetapi karena dia pikir itu penting, dia dengan setengah hati menepuk pelan pundak Changmin.

"Changmin, kau bangun? Ayo minum obat mu" Panggil Yunho lembut.

Dahi Changmin berkedut protes karena istirahatnya seolah terganggu. Yunho menepuk pundaknya sekali lagi yang langsung dihadiahi tatapan kantuk dan lelah dari Changmin.

Yunho tersenyum kecil sambil mengeluarkan satu pil dari botol dan mengambil gelas air lalu menyodorkannya pada Changmin.

"Minum lalu kau bisa tidur lagi. Hanya sebentar saja" Bujuk Yunho.

Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam menatap takjub Yunho. Sepanjang hidupnya, susah sekali membujuk Changmin untuk melakukan sesuatu jika dia sudah berbaring di ranjang. Butuh kesabaran ekstra untuk membujuknya. Tapi Yunho hanya butuh beberapa kali bujukan dan Changmin langsung bangun dan meminum obatnya dengan cepat.

Setelah meminum obat, tidak butuh lama untuk Changmin kembali ke dunia mimpi. Yunho mengelus rambut Changmin sambil tersenyum. Denguran kecil terdengar menandakan bahwa Changmin sudah tidur lelap. Yunho mengecup pelan kening Changmin lalu berdiri.

"Kita butuh bicara" Ucap Kyuhyun sebelum dia berjalan keluar dari kamar Changmin.

Yunho melirik Kyuhyun yang berjalan keluar lalu kembali menatap Changmin. "Imut..." Gumamnya dalam hati.

Yunho menarik selimut dan menutupi setengah badan Changmin lalu keluar dari kamar Changmin untuk bertemu dengan Kyuhyun yang melipat tangannya di depan dada. Yunho bersandar pada dinding dan menatap malas Kyuhyun.

"Ada apa? Kau mengganggu waktu ku dengan Changmin."

"Aku tahu kau bukan manusia biasa" Ucap Kyuhyun serius

Tubuh Yunho menegang dan menatap Kyuhyun tajam "Apa maksudmu?"

"Apa dia mengingat semua?" Tanya Yunho dalam hati.

Kyuhyun berjalan ke arah meja tamu dan membawa buku kecil yang kumal "Aku tidak tahu pasti- bukan, aku belum mengingat semuanya. Aku hanya ingat beberapa. Itu pun karena buku ini." Ucap Kyuhyun sambil memperlihatkan buku yang ia pegang

Yunho menatap buku harian yang kotor itu dengan seksama. "Buku itu... Milik Marcus kah?" Tanya Yunho

Kyuhyun mengangguk "Ya seperti itulah. Siwon hyung memberikan ini padaku. Dan saat aku membacanya, aku mulai mengingat sedikit. Tapi bukan berarti aku adalah Marcus."

"Jadi? Apa mau mu?" Tanya Yunho serius

Kyuhyun menatap buku harian tersebut dengan raut wajah sedih "Aku mohon, atas nama Cho Kyuhyun bukan Cho Marcus, tolong jaga Changmin. Lakukan ini demi Changmin bukan Max. Demi apapun dia bukan Max yang sangat kau rindukan itu"

Kedua tangan Yunho mengepal disisi tubuhnya. Dia menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dari dalam tubuhnya.

"Aku ingat dia pernah bercerita tentang penyelamatnya. Dia bilang ada makhluk yang tidak bisa dia jelaskan bentuknya, menolongnya dari orangtuanya yang berusaha membunuhnya dan mengatakan bahwa jangan takut padanya, karena dia satu-satunya mahkluk yang akan selalu bersamanya walau dunia membencinya"

Yunho mengingat kalimat itu. Dia mengatakan itu ketika dia melihat Max di wajah Changmin kecil itu. Bagai di hipnotis, dia berbalik dan malah menyerang kedua orang tua Changmin dan membawa Changmin ke rumah sakit terdekat.

"Siapa...?" Tanya Changmin kecil.

"Aku bukan siapa-siapa" Jawab Yunho

"Apa kau... malaikat?" Tanya Changmin lagi

"Bukan. Tapi kau bisa mempercayai ku"

Changmin mencoba melihat penyelamat nya, tetapi yang ia bisa lihat hanya mata merah yang menatapnya tajam. Wujudnya tidak bisa ia jelaskan karena gelap. Tangan kecilnya berusaha meraih penyelamatnya. Yunho yang melihat itu memiringkan kepalanya bingung

"Kau mau sesuatu?" Tanya Yunho

Tangan Changmin masih senantiasa berusaha meraih, menyentuh, mencoba melihat apakah ini hanya mimpi atau kenyataan. Tangan Yunho terulur, membiarkan tangan kecil itu menggenggam jari telunjuknya.

"Bukan mimpi..." Ucap Changmin.

Tangan Changmin semakin menggenggam erat jari milik Yunho. Isakan kecil memenuhi indra pendengaran Yunho. Mata Yunho melebar melihat wajah Changmin yang memerah dan dua aliran air mata yang dengan derasnya membasahi pipinya.

"Apa Minnie nakal? Kenapa Papa dan Mama melukai Minnie? Apa Minnie... tidak diinginkan?" Isak Changmin.

Yunho semakin mendekati Changmin yang masih senantiasa menggenggam jarinya dan menatapnya dengan tatapan yang pasti seorang Yunho tidak bisa mengerti. Tangannya yang bebas menarik tubuh kecil itu ke dekapannya. Sayapnya melebar dan menyelimuti mereka berdua seakan-akan melindungi mereka terutama Changmin.

"Jangan takut Changmin. Ada aku" Hibur Yunho

"Apa... Ahjussi akan bersama Minnie? Minnie takut..."

"Jangan takut. Bahkan padaku. Karena hanya aku yang akan selalu bersamamu bahkan ketika dunia ini membencimu" Ucap Yunho sembari mengelus rambut Changmin.

"Apa Ahjussi akan kembali lagi nanti?" Tanya Changmin

"Entahlah. Walau aku tidak bersamamu, percayalah bahwa aku selalu bersama mu. Sekarang... tidurlah, Changmin."

Dengan ajaib, Changmin mengangguk lemah lalu matanya tertutup begitu saja dan masuk ke dunia mimpi. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah mata merah menyala yang memandangnya dengan penuh kasih sayang.

"Aku yakin yang dia maksud adalah dirimu. Karena kau tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan mendekati Changmin seperti... kau mengenalnya sejak lama" Ucap Kyuhyun sembari menatap Yunho tajam.

"Kau dan Max benar-benar sangat menyebalkan. Apa aku perlu membunuh mu disini?" Tantang Yunho kesal

"Kau tidak boleh membunuh ku." Balas Kyuhyun tenang

Alis Yunho terangkat satu "oh? Dan kenapa itu?" Tanyanya

"Jika kau membunuhku sekarang, kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan" Jawab Kyuhyun

Yunho membelalakkan matanya. Rahangnya mengeras dan kedua tangan Yunho mulai mengeluarkan asap seperti terbakar.

Kyuhyun tersenyum miring, menantang iblis yang ada didepannya. Mungkin dia tidak sehebat Marcus yang mempunyai kekuatan sihir, tetapi otak cerdasnya masih terbawa hingga sekarang, dan itu sudah lebih dari cukup.

"Kau..." Geram Yunho rendah

"Bukankah kau ingin Max kembali?"

Satu kalimat itu sudah cukup untuk membuat Yunho melompat dan mengangkat cakarnya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke Kyuhyun sebelum tiba-tiba, dengan sangat cepat, dia terbanting ke lantai. Mata biru terang bertabrakan dengan mata merah menyala milik Yunho.

"An...drew... Kau berani menantang ku!?" Geram Yunho. Dia berusaha untuk menggerakkan tangannya, tapi nihil. Kedua tangannya ditahan oleh Siwon yang kini duduk diatasnya.

"Yun- ah bukan. Uknow, kau sudah buta oleh cintamu pada Max. Dan itu yang akan menjadi penyebab kau kalah"

Geraman Yunho pada Siwon menghilang dan dia menatap Kyuhyun. "Kau bilang apa? Aku? Mencintai Max? Kau gila!" Teriak Yunho

Kyuhyun menatap benci Yunho. "Jika kau tidak mencintai Max, kau tidak mungkin membiarkan Changmin hidup hingga sekarang! Kau tidak menghabisinya waktu itu karena wajah Changmin yang mengingatkan mu dengan Max!"

"Kau salah! Aku membiarkan dia hidup agar dia membenci dunia ini lalu datang padaku dan menyerahkan nyawanya padaku! Untuk apa aku mencintai manusia seperti dia? Aku tidak jatuh seperti Andrew!"

"Apa jadinya jika aku bertanya Max... apa dia akan menjawab hal yang sama dengan mu?" Ejek Kyuhyun

"Max sudah mati! Apa kau gila?"

"Kau pikir aku bodoh? Sudah kubilang aku sudah membaca buku harian milik Marcus. Itu sudah cukup memberikanku banyak informasi, termasuk bahwa setengah jiwa Max yang sedang berkeliaran di dunia ini" Ucap Kyuhyun.

"Berapa lama lagi hingga kau menyadari bahwa kau mencintai Max? Berhenti membohongi dirimu dengan ilusi ilusi yang kau buat sendiri!" sambung Siwon

"Ilusi? Aku... tidak jatuh... belum... Aku bisa melewati ini semua... Max hanya makananku... Aku tidak boleh kalah dari permainan Max! Kau harus teguh Uknow! Tadi siang kau hanya lemah karena bertemu dengan Max! Kau. Tidak. Mencintainya!" Teriak Yunho dalam hati

"Ratusan kali aku akan menjawab kalian! Aku tidak mencintai Max! Aku membencinya! Dia mengikat semua kekuatan ku! Aku harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ucap Yunho kesal

Raut kesal Kyuhyun berubah menjadi sedih "Kalau begitu, aku akan bertanya satu pertanyaan terakhir. Kuharap kau menjawab dengan jujur" Ucapnya melembut

Yunho mengerutkan keningnya sedangkan Siwon mulai berdiri dan berjalan menuju Kyuhyun dengan tatapan yang Yunho tidak mengerti

"Apa kau penyelamat Changmin yang sangat di percayai itu? Ouh dan satu pertanyaan tambahan, apa perasaan mu pada Changmin? Apa kau mendekati nya karena dia mirip Max, atau karena Changmin sendiri yang membuatmu tertarik?" Tanya Kyuhyun beruntun

Yunho bangun dari posisinya dan menatap Kyuhyun, berusaha untuk menggoyahkan Kyuhyun yang hanya dianggap angin lalu oleh Kyuhyun. Tatapan teguh Kyuhyun padanya membuatnya sedikit... terganggu.

Yunho meneguk ludahnya sendiri sebelum menjawab Kyuhyun, "Ya, aku yang menyelamatkan Changmin waktu itu. Dan perasaan ku pada Changmin..."

Yunho mengendus dan berusaha menunjukkan senyum licik yang Kyuhyun percaya hanya bohongan untuk menipu dirinya "hanyalah tipuan belaka. Aku, tidak pernah tertarik padanya. Mungkin pandanganku hanya teralihkan karena wajahnya yang mirip sekali dengan Max. Selain itu tidak ada. Lagi pula untuk apa aku menyukainya? Dia hanya satu dari sekian manusia yang hanya bisa menghiburku selama aku masih bermain di permainan aneh Max." Jawabnya bohong.

Kyuhyun yang sudah memperkirakan ini hanya menatap sedih seseorang yang sedari tadi memandangi punggung Yunho dengan tatapan kosong dan air mata yang membasahi wajahnya. Tidak ada isakan. Hanya tatapan kosong.

Kyuhyun menghela nafas "Padahal aku sangat mengharapkan lebih dari mu, Yunho. Maaf, Changminie. Kau harus mendengar ini semua. Ini demi kebaikanmu" ucap Kyuhyun sedih.

Sepenting apapun Max bagi Marcus yang berada didalam diri Kyuhyun, Changmin tetaplah nomor satu bagi Kyuhyun. Dia sangat ingin memberikan Changmin pada Yunho karena ia tahu, Yunho bisa membuatnya terbuka kembali. Tetapi kenyataan berkata lain.

Yunho yang mendengar Kyuhyun langsung membalikkan badannya. Waktu seakan berhenti ketika dia berhadapan dengan Changmin yang menatapnya dengan tatapan kosong, dan air mata yang tidak berhenti-henti membasahi pipinya.

Tubuhnya membeku. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia bingung. Untuk kedua kalinya, Yunho merasa takut. Takut untuk ditinggalkan.

TBC

Maaf kalau alur ceritanya kelihatan cepat (?)

Don't forget to R&R