Level Up
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
Maybe It's Not About The Happy Ending, Maybe It's About The Story.
.
.
"Genggamanmu terlalu lemah, Hinata." Sebelumnya, Sakura tidak pernah memprovokasinya saat latihan, tapi sekarang sepertinya Hinata memang perlu motivasi. Jadi wanita bersurai merah jambu itu tak ragu untuk bersikap lebih keras.
Genggaman Hinata di replika pedang yang digunakan untuk latihannya mengerat sebelum ia mengambil langkah lebar untuk mengerang Sakura. Selama ini ia berlatih lebih keras dari siapapun, tapi bukan kenaikan tingkat yang menjadi alasannya. Hinata melakukannya atas dasar rasa frustrasi yang mencengkeram jiwanya.
Hinata melalukan apapun sebagai pengalih perhatiannya setelah ia menyadari bahwa pilihan untuk membunuh dirinya sendiri adalah tindakan yang sia-sia. Ia hanya akan menjadi pecundang jika ia berakhir merenggut nyawanya sendiri untuk orang lain, terlebih jika orang itu merupakan manusia tak berhati seperti Sasuke.
Jika saja ada hal yang Hinata pelajari dari semua kesakitan yang datang di hidupnya, hal itu adalah bahwa ia harus menghadapi kesakitan itu, bukan lari berpaling darinya. Salah satu prinsip yang Sasuke pegang yang sekarang juga menjadi prinsip hidup Hinata.
Suara tumbukan pedang replika berkali-kali pecah di udara. Hingga tanpa usaha yang begitu besar, Sakura berhasil membuat senjata Hinata terlepas dari genggamannya kemudian mengacungkan ujung pedangnya ke arah leher Hinata. Hinata diam berdiri dengan napas terengah.
Sakura merupakan salah satu dari sedikitnya agen yang memiliki kemampuan bela diri pedang. Hinata sendiri begitu tertarik dengan keterampilan ini sejak ia melihat Sakura berlatih dua tahun silam. Baginya semua orang bisa menarik pelatuk untuk membela diri. Tapi jika ia bisa mempelajari bela diri ini, ia mungkin bisa menyelamatkan diri meski hanya menggunakan sebuah tongkat.
"Ingat, peraturan pertama, jangan buat gerakan yang mudah terbaca," ujar Sakura sambil menurunkan pedangnya. "Kau memang berkembang. Tapi kau masih sangat kaku di setiap gerakanmu," komentarnya.
"Aku baru mulai belajar satu setengah tahun lalu. Kau tidak bisa menuntutku untuk bergerak sebaik dirimu yang sudah mendalaminya selama hampir tujuh tahun," protes Hinata. Sakura sendiri memang telah memperdalam bela diri pedang ini sejak tahun keduanya masuk agensi. "Tidak biasanya kau seperi ini, kau selalu melatihku dengan kepala dingin. Ada masalah apa?" tanya Hinata, menyadari keagresifan Sakura saat latihan tadi.
"Masalahnya adalah kau," jawab Sakura singkat.
"Aku?"
"Ya." Sakura mengambil botol minum di sisi arena dan menenggaknya langsung. "Fokusmu sangat berantakan tadi. Berhenti membuat pikiranmu teralihkan." Sakura berujar lagi, masih memunggungi Hinata.
"Kujamin kau juga tidak akan bisa memfokuskan diri jika mengetahui pacarmu merupakan kriminal setaraf teroris yang memimpin sebuah organisasi reformis," gumam Hinata.
"Kau tidak begitu pintar dalam menyembunyikan lukamu, Hinata." Masih pada posisinya semua, Sakura mengutarakan pikirannya setelah menciptakan hening sesaat. "Bahkan hingga saat ini, kami tahu kau masih mencintainya. Kau mengurung diri di kamar memikirkan tentangnya, masih berharap semua yang terjadi bukanlah yang kenyataannya."
Sakura menjabarkan dengan tenang, ia kemudian berbalik hingga bayangan sosok Hinata kembali jatuh di retinanya.
"Semua yang kau lakukan di luar hanyalah sebagai pengalihan semata. Kau mencoba menjadi seseorang yang bukan dirimu. Kau mencoba terlihat kuat saat kenyataannya yang kau lakukan hanyalah tindakan ceroboh yang merusak dirimu sendiri."
Hinata menggertakkan giginya, ia membenci fakta bahwa hatinya membenarkan apa yang Sakura katakan. Namun Hinata mencoba mengabaikannya, ia memilih untuk keluar dari sana sekarang juga."
"Kau tidak perlu menghadapi semua ini sendirian, Hinata." Ucapan dan helaan napas membuat Hinata menghentikan langkahnya.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Sungguh?" Sakura menyilangkan tangannya di dada. "Katakan padaku kau tidak merasakan apapun setelah rapat Rabu lalu. Kau bahkan keluar ruangan sebelum rapatnya selesai," ujar Sakura, ia mengambil beberapa langkah untuk lebih mendekati Hinata. "Kami juga sama terkejutnya, Hinata. Kita akan menghadapi seseorang yang tahu jelas cara untuk mengalahkan kita. Dan kau... ya Tuhan, kami tahu bagaimana gilanya kau terhadapnya. Aku... aku hanya berharap Kakashi dapat menarikmu keluar dari misi ini."
"Aku mengerti kecemasanmu, Sakura. Dan aku berterima kasih atas itu. Tapi aku ingin melakukannya," ucap Hinata, ia merasakan tenggorokannya kering saat memutuskan untuk bersuara.
"Tapi Hinata..."
"Aku memiliki beberapa pertanyaan," potong Hinata. "Aku tidak peduli dengan keselamatanku sendiri saat ini. Aku tidak peduli jika nantinya aku terkalahkan dan mati di misi ini. Tapi aku ingin bertemu dengannya lagi. Aku ingin berhadapan dengannya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu."
Sakura tak lagi membalas, ia terdiam sambil terus menatap Hinata sebelum helaan napas panjang diambilnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, wanita bersurai cerah itu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Hinata.
Mata Hinata tak mengikuti pergerakan sosok Sakura yang menjauhinya, namun ia mendengar langkah kaki wanita itu meski samar. Hingga dirasa tinggal dirinya yang masih berada di ruangan itu, Hinata bergerak mendekati salah satu meja dan mendudukkan diri di atas permukaannya. Dalam lamunannya, tatapannya yang menerawang tertuju lurus menembus dinding ruangan.
"Halo."
Sebuah suara yang terdengar cukup asing mengisi udara ruang pelatihan, membuat Hinata melepaskan diri dari lamunannya. Ditengokkannya kepala ke sumber suara untuk kemudian ia dapati Ryuzaki—si agen baru—sudah berjalan melewati ambang pintu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hinata tanpa niat berbasa-basi terlebih dahulu.
"Mengambil ini. Mulai sekarang aku tinggal asrama," jawab Ryuzaki santai sambil mengacungkan sepasang anak kunci yang digenggamnya. "Masih sore, jadi kuputuskan melihat-lihat terlebih dahulu," tambahnya.
Hinata tak menjawab secara verbal, namun ia tak benar-benar mengabaikan rekan barunya itu. Matanya mengikuti langkah Ryuzaki menuju salah satu rak persenjataan mereka. Membuat pria itu berdiri menyampinginya dalam jarak yang cukup jauh.
Di tengah keheningan itu, gelak tawa ringan tiba-tiba muncul dari bibir Ryuzaki. Hinata mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa aku mendapat kesan bahwa sepertinya Hinata benar-benar tidak menyukaiku?" tanya pria itu setelah menyelesaikan tawa singkatnya, ia masih mempertahankan posisi tubuhnya dengan menghadap ke rak persenjataan.
Hinata berkedip, ia tak terlalu nyaman dengan cara bicara Ryuzaki itu. "Aku... tidak seperti itu," kilahnya lirih.
"Aku tahu. Hinata hanya tidak menginginkan rekan baru, kan?"
Hinata diam, merutuki bagaimana pria itu seperti dapat dengan mudahnya tahu apa yang ia pikirkan.
"Aku juga sudah dengan soal partner terdahulumu." Ryuzaki menyambung ucapannya, kali ini ia membalikkan tubuh hingga dapat melihat sosok Hinata yang terduduk di atas meja, masih menatapnya. "Bukan pacar idaman, huh?"
Netra Hinata seketika menyipit tajam. Ia menatap balik pandangan tanpa minat Ryuzaki dengan tajam. Seketika ia turun dari meja. "Aku memang tidak berniat berteman denganmu, tapi setidaknya jangan membuatku menempelkan cap lelaki brengsek di keningmu," cibir Hinata tajam.
"Maaf, maaf..." Ryuzaki kembali dengan kekehan kecilnya, tangannya ia kibaskan singkat di udara. "Tenang saja, sebenarnya aku ini lelaki baik-baik, kok," ujarnya. "Aku juga senang bisa bekerja sama dengan Hinata. Aku merasa sangat asing di sini, jadi kuharap kita bisa berteman," sambungnya.
Suasana hati Hinata sedang berada pada fase yang membuatnya malas untuk meladeni siapapun, termasuk agen baru itu. Sehingga tanpa merespons apa yang Ryuzaki katakan, ia langsung bergerak, hendak keluar dari sana.
Tapi entah sejak kapan Ryuzaki mengikutinya hingga pria itu dapat menahan tangannya bahkan sebelum ia mengambil lima langkah mendekati pintu keluar.
"Apa?" tanya Hinata kecut, ia tarik tangannya hingga terlepas dari genggaman pria itu yang memang tak begitu kuat.
"Kisahmu tidak berakhir baik, sepertinya," ujar Ryuzaki, kali ini dengan nada yang terdengar lebih serius dari yang sebelumnya.
"Beberapa kisah nyatanya memang tidak memiliki akhir yang baik, Agen L."
"Benar. Tapi tidakkah menurut Hinata alur yang dilaluinya lah yang lebih berharga? Bukan tujuan akhirnya," balasnya dengan nada yang seringan kapas.
Hinata mematung selama beberapa saat, ia menatap Ryuzaki yang juga masih menatapnya dengan tatapan sayu tanpa jiwa itu. Gemingnya baru hilang saat ia melihat pria itu mengedipkan satu mata ke arahnya, meski masih dengan raut wajah suramnya.
"Nanti kalau aku membawa ponsel, kita bertukar nomor, oke," ujarnya dengan senyum kecil yang terlihat aneh di mata Hinata sebelum berlalu meninggalkan wanita itu sedirian plus keheranan dengan tingkahnya.
..
...
..
"Setelah ini aku ada perlu. Kakashi memintaku ke ruangannya." Hinata menjelaskan singkat sebagai penolakannya atas ajakan Tenten untuk makan siang bersama. Mereka baru menyelesaikan jadwal latihan mereka.
"Oh... kali ini tentang apa?" tanya Tenten, langkahnya tetap ia samakan dengan langkah santai Hinata.
"Aku belum tahu. Sepertinya tentang Akatsuki."
Tenten menghela napas. "Apa benar tidak apa-apa kau ikut serta dalam misi ini?" tanyanya dengan nada cemas.
"Aku... tidak apa-apa," jawab Hinata singkat. Ia mengeluarkan kartu pengenal yang sebelumnya ia simpan di saku untuk kemudian ia pindai untuk mengakses salah satu pintu lift. "Rasanya sebagian diriku masih belum percaya... Sasuke..." Hinata tak melanjutkan gumaman lirihnya.
"Kau masih berpegang pada harapan tipis itu, bukan?" tanya Tenten lagi saat mereka memasuki lift.
Hinata tak menjawab, kepalanya ia tundukkan. Ia membiarkan Tenten menekan tombol dengan angka dua belas di dinding lift. Bicara soal gedung, bangunan baru Anbu memang tak setinggi gedung awal, namun pada pengerjaannya, gedung yang baru didesain agar lebih luas dari yang lama.
"Dia... dia melakukan banyak hal untukku, Tenten," lirih Hinata, memecah keheningan yang sempat menyisip di antara mereka beberapa saat setelah pintu lift tertutup. "Semua yang terjadi rasanya masih... tidak masuk akal."
"Hal seperti apa memangnya?"
"Dia membunuh Neji untukku." Hinata mengangkat kepalanya dan memandang Tenten. "Baiklah, mungkin ada alasan jahat lain di balik perbuatannya itu. Tapi kau ingat bukan saat dia dimasukkan ke dalam shard setelah menyerang Yahiko yang hampir—"
"Yahiko tidak pernah bercerita padamu?" Tenten memotong kalimat Hinata dengan ekspresi heran.
"Tentang apa?"
"Thunder pernah meledakkan apartemennya di luar agensi. Dia membuat teman-teman Yahiko terluka," jelas Tenten gemas.
"Apa?"
"Yahiko tidak pernah akur dengan Thunder. Tapi sebagaimana pun rasa takutnya terhadap Thunder, dia tidak pernah mau tunduk padanya. Dan Thunder tidak menyukai hal itu, ia akan menyiksa siapapun yang melawannya," ujar Tenten. "Dan coba pikirkan lagi, Hinata. Semua partner Thunder sebelum kau adalah agen-agen hebat. Kau pikir kenapa Thunder membunuh mereka selain karena mereka terus menentangnya? Aku memang tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, tapi semuanya masuk akal sekarang."
Pintu lift terbuka dan Tenten lah yang pertama melangkah keluar. Hinata yang semula di belakangnya meraih tangannya dan membuatnya berhenti di luar pintu lift yang kembali tertutup.
"Apa maksudmu?" tuntut Hinata lagi.
Tenten menghela napas kemudian bersandar di dinding koridor. "Baiklah, tapi jangan katakan Yahiko kalau aku menceritakannya padamu." Tenten berdeham sejenak. "Yahiko sebenarnya mabuk saat dia menyerangmu. Entah apa yang dia konsumsi tapi aku tahu dia memang setengah sadar karena aku melihatnya di kelab saat itu."
Hinata terdiam, masih menunggu Tenten untuk melanjutkan.
"Aku tidak sedang membelanya, bagaimanapun yang ia lakukan adalah tindakan yang salah. Tapi dia bukan orang jahat, Hinata. Dia mungkin brengsek dan menyebalkan, tapi hanya sebatas itu. Kau pikir kenapa dia akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya dan merelakan dirinya sendiri masuk shard selama satu bulan kecuali dia merasa bersalah terhadap kalian?" jelas Tenten panjang lebar, matanya melirik Hinata yang masih menampakkan ekspresi pasifnya. "Thunder membenci Yahiko, Hinata. Dan itulah alasan kenapa dia hampir membunuh Yahiko saat itu."
"Cukup," lirih Hinata.
"Pikirkan lagi, Hinata. Thunder selalu terobsesi untuk menjadi yang terkuat. Dia seorang psikopat. Jika ada kesempatan, mungkin dia juga akan membunuh Naruto. Tapi sepertinya Naruto cukup pintar untuk memperkirakan jarak aman hubungan mereka."
"Kubilang cukup!" Hinata menahan teriakannya, mata memerahnya nyalang menatap Tenten. "Kalian bisa saja salah," lirihnya, meskipun ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan.
Hinata menggeleng kuat, ia benci dengan apa yang ia dengan dari mulut Tenten. Tapi ia lebih membenci dirinya sendiri yang masih memiliki anggapan bahwa Sasuke tidaklah seperti apa yang mereka katakan.
"Sasuke menyerang Yahiko untuk menyelamatkanku. Karena dia... mencintaiku," bela Hinata setengah sadar. "Bukan karena persaingannya dengan Yahiko. Jika memang dia melakukannya karena membenci Yahiko, dia pasti sudah melakukannya jauh-jauh hari sebelum aku datang."
"Kau tahu Thunder begitu berhati-hati dengan segala rencananya. Dia butuh alasan, Hinata! Dia tidak bisa membunuh Yahiko begitu saja tanpa alasan yang rasional untuk membela diri." Tenten terus berargumen, merasa gemas sendiri dengan setiap pembelaan tak berarti yang Hinata lemparkan. "Aku tidak tahu apa kau mengetahui hal ini. Tapi alasan Thunder membunuh partner-partnernya adalah untuk melindungi agensi. Dia mengatakan bahwa ia membunuh rekannya agar mereka tidak akan berkhianat saat tertangkap musuh. Itu yang dia katakan, dan tentu kita tahu, itu hanya omong kosongnya yang lain."
Hinata mengeratkan rahangnya. Ia ingat Sasuke pernah mengatakan hal itu saat pria itu mabuk, atau lebih tepatnya, berpura-pura mabuk.
"Dia bisa saja membunuh Yahiko tanpa orang lain ketahui jika dia benar-benar membenci Yahiko," gumam Hinata.
"Dia ingin orang lain takut terhadapnya, Hinata. Pikirkan lagi kenapa dia membiarkanmu, Naruto juga ayahmu tetap hidup saat dia menyerang agensi dengan satu pasukannya saat itu? Itu karena dia senang membuat pertunjukan untuk dirinya sendiri. Dia ingin menunjukkan kepada semuanya bahwa dia tidak teralahkan. Seperti yang kubilang, dia seorang psikopat." Tenten menjelaskan dengan nada mencibir yang tajam. "Dia bahkan meledakkan gedung berisi orang-orangnya sendiri hanya untuk menempati posisi kepemimpinan. Jika dilihat lagi, semua yang terjadi padanya begitu ternarasikan dengan baik. Semuanya sudah sangat jelas, Hinata. Hanya kau yang masih menutup matamu."
Hinata tak mengatakan apapun lagi, namun tatapannya masih sama tajamnya menghujam jiwa Tenten. Tanpa kata, ia kemudian melangkah meninggalkan Tenten yang kemudian menatap punggungnya cemas.
..
...
..
"Hinata, kau baik-baik saja?" tanya Kakashi seketika Hinata muncul dari balik pintu dengan ekspresi keras.
Hinata menghela napas sekali sebelum menjawab. "Aku tidak apa-apa," ujarnya kemudian melangkah ringan menuju salah satu kursi di sana. Ryuzaki mengirimkan satu senyum lebar yang masih terlihat aneh di mata Hinata, namun sengaja ia abaikan karena suasana hatinya masih belum stabil saat itu.
"Pekerjaan kali ini sangat mudah, mengingat ini baru awalnya. Agen L, kuharap kau bisa membimbing Agen Hyuuga. Tapi jangan terlalu kaku dengan senioritas, mulai sekarang kalian partner kerja, ingat itu." Kakashi memperingatkan.
"Tentu," jawab Ryuzaki, masih dengan senyumnya.
"Baiklah." Kakashi mengambil napas sebelum memulai penjelasannya. "Uchiha Izumi, adik perempuan Sasuke, beberapa kali terlihat di sekitar daerah ini," ucap Kakashi sambil menunjuk salah satu distrik pinggiran kota.
Hinata mencoba menuangkan perhatiannya pada apa yang Kakashi katakan, ia kemudian membuka tablet miliknya untuk melihat detail lebih jelas dari misi kali ini yang pasti sudah Konan sisipkan di programnya.
"Dia berkeliaran di jalanan? Apa yang dilakukannya?" gumam Hinata dengan kening berkerut.
"Ini seperti dia sengaja mengumpankan dirinya," komentar Ryuzaki.
Kakashi berdeham sekali. "Kita belum tahu pasti. Dia berkeliaran di sekitar sana namun tidak pernah berhenti di tempat yang spesifik. Waktu kemunculannya pun cukup acak. Jadi malam ini, kalian akan mengawasi area ini. Jika dia muncul, ikuti dia, tapi jangan keluar menghadapinya."
Suara helaan napas dari Ryuzaki terdengar. "Ini... membosankan," sungutnya rendah.
"Kami tahu kau sudah melewati banyak misi yang jauh lebih menarik daripada ini, Agen L. Tapi kami butuh laporan tentang ini segera untuk penyusunan agenda tetap misi selanjutnya," ujar Kakashi tenang. "Anggap saja misi kali ini berguna untuk membuat kalian berdua terbiasa satu sama lain."
Dengan itu, Hinata melirikkan matanya, mencuri pandang ke arah Ryuzaki untuk melihat reaksi pria itu atas ucapan Kakashi. Dilihatnya pria itu hanya mengangguk ringan sambil terus memfokuskan netranya pada layar tablet di tangannya.
..
...
..
"Ini menggelikan," komentar Ryuzaki.
"Berhenti mengeluh," desis Hinata kepada Ryuzaki. Ia cukup jengkel, pasalnya ini sudah kesekian kalinya pria itu mengeluh dengan dengan nada separuh merajuk seperti itu. "Misi ini tidak terlalu buruk."
"Aku tidak mengeluhkan misinya," balas Ryuzaki. "Aku mengeluhkan soal Hinata. Hinata belum mengatakan apapun padaku sejak kita berangkat tadi."
Hinata menjauhkan binokuler yang tadi hampir menempel di matanya kemudian menengok ke Ryuzaki di sampingnya. "Aku tidak berniat membuat teman, Agen L. Hal buruk terjadi setiap aku percaya aku bisa berteman dengan seseorang," jelasnya singkat.
"Kalau begitu, kuharap Hinata bisa mengubah pola pikir itu dalam waktu dekat," balas Ryuzaki santai, ia kembali mengamati jalan tikus di depannya. "Oh..."
Mendengar gumaman Ryuzaki, Hinata segera kembali memfokuskan dirinya. Ia dekatkan lagi binokuler yang digenggamnya untuk melihat dengan jelas ke arah yang menjadi tujuan pandang Ryuzaki.
"Itu dia," gumam Hinata.
Di salah satu gang beberapa blok jauhnya dari gedung yang mereka gunakan untuk mengintai, Hinata melihat sosok Izumi berjalan santai melewati jejeran pertokoan tak terpakai. Mengimbangi usianya, gaya berpakaian Izumi cukup kekinian meski terlihat kausal.
"Dia mencari sesuatu?" tanya Hinata rendah saat melihat Izumi menatap kekanan dan kirinya dengan tangan yang disisipkan ke dalam saku hoodie yang ia kenakan.
"Tidak. Dia sedang memberikan sinyal kepada seseorang," sanggah Ryuzaki penuh keyakinan.
"Huh?"
"Lihat caranya berjalan." Ryuzaki menunjuk singkat ke arah Izumi dengan gerakan dagunya. "Lurus dan sangat terencana. Dia tidak sedang sekedar berkeliaran. Dia jelas memiliki tujuan dan sedang menunggu seseorang," jelas Ryuzaki.
"Bagaiman kau—"
Ryuzaki menengok ke arah Hinata, senyum aneh itu sudah bertengger di bibirnya. "Deduksi adalah salah satu keahlian terbaikku."
Hinata menukikkan satu alisnya samar-samar namun kemudian kembali memerhatikan pergerakan Izumi. Gadis itu berhenti sejenak sebelum membuka tudung hoodie-nya kemudian merapikan sedikit helai hitam panjangnya. Hinata maupun Ryuzaki semakin memfokuskan pandangannya saat gadis itu kembali berjalan.
"Apa yang ingin dilakukannya sekarang?" tanya Hinata spontan.
Ryuzaki tak menjawab, ia masih menyisir keadaan di sekitar Izumi. Tak beberapa lama hingga akhirnya ia kembali bergumam. "Seseorang datang."
Hinata mencoba mencari tahu apa yang dimaksudkan Ryuzaki. Dan tanda tanya di kepalanya terjawab saat ia melihat seseorang dengan pakaian hitam berjalan berlawanan arah beberapa meter dari tempat Izumi.
Butuh beberapa saat hingga Hinata mengenali sosok itu. Sasuke. Dan seketika ia merasa seluruh syaraf tubuhnya mati rasa untuk sesaat setelah menyadarinya. Rasanya Hinata ingin melempar binokuler yang digenggamnya, namun alih-alih demikian, pegangannya terhadap benda itu semakin mengerat.
Izumi dan Sasuke sama-sama berhenti saat mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang mungkin tak lebih dari selangkah kaki. Mereka terlihat terlibat pembicaraan pendek yang entah apa isinya. Selanjutnya yang Hinata lihat adalah Sasuke yang tersenyum kepada gadis di depannya itu sebelum menangkup wajah gadis itu dan menciumnya dalam-dalam.
Hinata menurunkan binokulernya dan bergeming menatap adegan itu. Ia tak memerlukan alat bantu apapun untuk melihat adegan apapun yang selanjutnya Sasuke dan adiknya itu lakukan di gang gelap itu setelah dengan jelas ia melihat Sasuke mendesak tubuh kecil gadis itu di dinding bangunan dekat mereka.
Psikopat.
Hinata mengingat sebutan Tenten terhadap Sasuke.
"Kau yakin mereka kakak beradik?" Ryuzaki mengalihkan pandangannya sambil mengusap pelan tengkuknya.
Hinata tak menghiraukan rekannya itu, ia masih belum bisa memalingkan muka dari kejadian di hadapannya.
Sedetik kemudian, Hinata melihat Sasuke menengokkan kepalanya ke samping. Pria itu berhenti sejenak dari kegiatannya mencumbu leher gadis yang lebih muda darinya itu. Tapi bukan hal itu yang membuat Hinata mematung seketika.
Sasuke yang tepat menatap ke arahnyalah yang membuat Hinata seolah kehilangan nyawa dari tubuhnya. Detik berikutnya Hinata hampir terjengkang ke belakang menyadari hal itu. Hinata sadar pria itu mengetahui keberadaannya. Ia sadar Sasuke benar-benar menatap ke arahnya dengan seringai tajam memuakkan itu.
Dan ia sadar malam itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan babak lain dari narasi yang Sasuke siapkan. Ryuzaki benar saat mengatakan bahwa Izumi terkesan seperti mengumpankan dirinya sendiri. Karena gadis itu memang umpan yang Sasuke lemparkan.
Hinata mengeratkan kepalannya, kepalanya terasa panas karena amarah.
Sasuke. Pria yang membuatnya jatuh cinta begitu dalamnya. Pria yang membuat dunianya hancur seketika. Pria yang tak lebih merupakan bajingan dengan segala obsesi gilanya.
Tepat seperti yang Tenten katakan. Seorang psikopat.
Hinata menggertakkan giginya kuat-kuat.
Brengsek! Bajingan keparat!
Sial! Kali ini Hinata benar-benar berniat untuk membunuhnya.
.
to be continued...
..
.
Mood jelek banget belakangan ini, jadi ngefek kemana-mana hhhahaha-_-
Tapi semoga chapter ini ngga semaksa mood aku yaa wkwk
Keep reviewing guyyss... sekian yaahh, sampai jumpaahh :*
