Level Up

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Love Is Rich with Both Honey and Venom.

.

.

Hinata merasakan kengerian terhadap tiap sisi koridor yang dilewatinya saat ia disurung oleh dua orang untuk terus berjalan. Beberapa penjaga yang terlihat siaga mendelik saat ia melewati mereka. Dalam kepalanya ia mempertanyakan alasan-alasan mereka untuk bekerja bersama organisasi yang pada dasarnya menginginkan kehancuran perdamaian itu.

Hinata bukanlah seorang nasionalis, tapi ia mengetahui dan menyetujui benar bahwa kedamaian dalam sebuah negeri adalah prioritas tertinggi. Pribadi seperti Sasuke memang akan selalu ada di tiap belahan bumi, mengaku hanya menginginkan keadilan dari apa yang sudah disediakan. Tanpa menyadari perlahan niatan itu tenggelam hingga hanya menyisakan rasa lapar akan kekuasaan.

"Terus jalan!" Salah satu orang yang mengawal Hinata mendorongnya saat ia memperlambat langkah.

Hinata menghela napas panjang yang sengaja ia samarkan. Tentu tak ada yang akan mengira rencana ini akan sebegini hancurnya. Dalam hati, Hinata mencibir Konan karena telah memercayakan Yahiko untuk memegang satu-satunya transmitter mereka hanya karena pria itu mengajukan diri. Lalu ia mengumpat mengutuk Ryuzaki yang telah memunculkan ide rencana ini.

Selanjutnya Hinata mendengus, mengasihani diri sendiri. Merasa kalah karena telah menudingkan telunjuknya ke semua orang, menganggap mereka bersalah hanya karena ia marah terhadap dirinya sendiri yang benar-benar dalam keadaan terbekuk dan tak bisa melakukan apapun.

Jika terus seperti ini, Sasuke akan sepenuhnya tak terprediksi hingga memegang kendali. Tak ada yang bisa membaca jalan pikirannya. Satu hal yang benar-benar menjadi keuntungan besar bagi pria itu.

Hinata melemaskan otot-ototnya yang menegang karena amarah, menyadari bahwa tenggelam dalam emosinya sendiri merupakan hal yang sia-sia. Ia kembali memandang lurus ke depan sambil terus berjalan ke mana ia diarahkan.

Rumah. Itu yang Sasuke katakan. Tempat ini adalah rumahnya? Selama ini bajingan itu memiliki sebuah rumah berupa mansion dan agensi sama sekali tak bisa melacaknya? Lalu apa dia menjadikan tempat ini sebagai markas utama Akatsuki?

Berbagai pertanyaan berenang bebas di pikirannya dan detik selanjutnya, tanpa ia sadari, Hinata kembali menggertakkan gigi.

Apa yang dulu Hinata pikirkan? Sasuke merupakan lelaki sederhana? Oh tentu saja, terlalu sederhana sampai rumahnya ternyata meneriakkan segala kemewahan dunia. Meja yang diletakkan di berbagai sudut tempat ini mungkin dibuat dengan kayu mahoni. Desain pintu dengan banyak ukiran rumit. Dan lentera antik yang memerangkap lampu peneran ruangan. Benar-benar sederhana, bukan?

Hinata mendengus samar. Ya Tuhan, segala yang Hinata ketahui tentang Sasuke bukanlah apa-apa melainkan sebuah kebohongan besar.

Salah satu penjaga yang mengawalnya mencengkeram lengan Hinata, sebuah isyarat untuk berhenti, saat mereka sampai di depan salah satu pintu di rumah itu.

"Masuk! Sasuke akan datang sebentar lagi," perintahnya sambil membuka pintu.

Hinata menatap tajam orang itu, bukan karena perlakuan kasarnya, hanya saja bara di hatinya kembali menyala saat orang itu menyebut nama Sasuke. Hanya Sasuke. Dan Hinata menyadarinya lagi, bahwa Sasuke bukanlah Thunder yang dikenalnya di Anbu.

Kamar tidur Sasuke terlihat tak semencolok bagian rumah itu yang sudah Hinata lewati sebelumnya. Tidak ada dekorasi berlebih meski memang masih terlihat kemewahan di tiap furniturnya. Hanya ada sebuah ranjang brobdingnagian dengan seprai dan selimut berwarna biru gelap juga lemari dan dua nakas yang terletak di sisi yang terpisah. Kening Hinata mengernyit benci saat memandang ranjang king size itu. Siapa bilang Sasuke adalah pria yang cukup hanya dengan sebuah ranjang ukuran tunggal?

Hinata agak berjengit saat mendengar pintu di belakangnya tertutup kembali, namun kemudian ia mengabaikannya. Pergelangan tangannya mulai mati rasa karena borgol yang terpasang berjam-jam lamanya. Ia berdiri diam di tempat yang sama, tak sudi untuk menyentuh apapun di kamar ini, menginjakkan kaki di lantainya saja sudah membuatnya muak.

Tak lebih dari sepuluh menit ia diam tak melakukan apapun, pintu terbuka menampakkan Sasuke dari baliknya. Sasuke menutup kembali dan mengunci pintu itu kemudian berbalik menghadap Hinata. Dihabiskannya beberapa menit untuk memandang wanita itu. Tanpa kata maupun ekspresi di wajahnya. Dan sebagaimanapun Hinata mencoba membacanya, pria itu tetap terlihat sama pasifnya.

"Hinata," panggil Sasuke ringan.

Detakan jantung Hinata mendadak meningkat tajam, ia teringat bagaimana dulu Sasuke terbiasa memanggilnya dengan kelembutan yang sama. Tapi kemudian Hinata melihat seringai tajam di bibir pria itu. Seringai yang seketika itu juga membuat Hinata kembali merasakan pengkhianatan.

"Anggur?" Sasuke berjalan santai ke arah salah satu nakas yang di atasnya tersedia sebotol anggur dan satu gelas kosong. Dituangkannya cairan ungu pekat dari dalam botol itu gelas yang tersedia. "Kau tahu, Hinata? Kau seperti anggur..." Netra Sasuke fokus pada aliran anggur yang tertuang. "Butuh terlalu banyak waktu untuk mematangkan diri," tambahnya, masih tak menatap Hinata.

Mendengarnya membuat Hinata menggertakkan gigi, tangannya yang masih diborgol di belakang tubuhnya terkepal erat.

Sasuke menyesap anggurnya, tubuhnya ia sandarkan di dinding dengan satu tangan yang tak memegang gelas terlipat di depan dada. "Amor et melle et felle est fecundissimus," gumamnya sambil memainkan gelas di tangannya. "Kau tahu artinya, Hinata?" oniksnya bergerak, melirik Hinata.

Hinata masih diam, enggan terlibat apapun.

"Artinya cinta begitu kaya... entah itu kaya akan efek manisnya yang seperti madu, ataupun efek mematikannya yang seperti racun."

Hinata mendesis rendah, ia pernah penasaran kenapa Sasuke terlihat tertarik mempelajari bahasa mati seperti ini. Dan ia sekarang cukup paham alasannya. Karena Sasuke adalah psikotik dan dia menemukan kesenangan dari hal-hal yang aneh.

Sasuke mengeluarkan kekehan lembut yang renyah. "Astaga... harusnya kau liat sendiri ekspresimu sekarang, Hinata," ujarnya ringan, disapukannya surai hitam miliknya dengan jemari kanan.

Hinata hanya meresponsnya dengan delikan tajam.

"Baiklah baiklah... aku yakin kau memiliki banyak pertanyaan," potongnya, membawa mereka masuk ke topik utama. "Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Terlebih aku juga harus menyambut sahabatku yang baru kembali," jelasnya dengan seringai yang tajamnya setara dengan pesonanya. "Jadi... tiga pertanyaan. Aku akan menjawabnya dengan jujur. Sumpah."

Hinata menelan salivanya sendiri, benaknya tak ingin menggubris Sasuke. Jujur katanya? Hinata bahkan tak tahu satupun ucapan pria itu padanya yang merupakan sebuah kejujuran. Namun tampaknya hatinya tak bisa sejalan dengan apa yang ia pikirkan.

"Apa kau pernah merasakan sesuatu terhadapku? Sesuatu yang nyata?" tanyanya tajam.

Sasuke tertawa singkat. "Tipikal kau sekali, Hinata. Selalu tenggelam dalam roman picisan," komentarnya ringan. "Tapi, ya. Aku memang merasakan sesuatu, dan ini bukan kebohongan." Sasuke menatap Hinata, manik gelapnya berkilap. "Aku sangat membencimu."

Hinata tak bereaksi, seperti kata-kata Sasuke tak bisa lebih menyakitinya lagi. Seperti tak ada sisa di ruang hatinya untuk disakiti lagi.

"Kau tahu kenapa, Hinata? Karena kau sangat lemah, tidak berguna," lanjut Sasuke. "Yah... meski begitu, kurasa kelemahanmu itulah yang paling menarik minatku. Selain itu... nah." Sasuke menggeleng pelan, ia melepaskan sandaran punggungnya dari dinding. "Kau bukan tipeku. Jadi jangan merasa tinggi hati... kau tidak begitu istimewa."

Dalam diam Hinata menghela napas, sesamar mungkin mencoba membuat reaksi kecilnya itu lepas dari perhatian Sasuke.

"Agensi memasangkanku dengan berbagai agen. Mereka sangat pintar dan... cermat. Itu sangat mengganggu terlebih saat mereka terlihat lebih bersinar daripada aku. Aku membunuh mereka dengan sengaja, dan agensi menerima alasan yang kubuat." cibir Sasuke merendahkan. "Tapi kau... sama sekali tidak istimewa tapi cukup menarik. Juga cukup mudah diperdaya," tambahnya, Sasuke mengutarakannya dengan senyum, seolah bangga dengan apa yang ia katakan. "Rasanya... luar biasa menyenangkan saat kau hanya bergantung padaku. Dan perlahan kau menjadi hobi untukku, Hinata."

Hinata memalingkan wajahnya, namun menolak untuk menunduk, menolak segala gestur yang akan membuatnya terlihat tak berdaya di hadapan Sasuke.

"Aku selalu ingin tertawa setiap kau mengatakan cinta. Menggelikan. Tapi aku sangat terhibur dengan bagaimana kau yang seperti... hidup di dalam fantasimu itu," akunya terang. "Omong-omong, pertanyaanmu selanjutnya?"

Hinata membuka dan menutup bibirnya beberapa kali tanpa menyuarakan apapun sebelum akhirnya dapat menggumamkan sebuah kalimat yang tak sempurna. "Itu... tidak masuk akal."

Sasuke membasahi bibir bawahnya dengan salivanya sendiri sebelum membalas Hinata. "Aku pernah berpikiran untuk membunuhmu, kau tahu?" akunya dengan nada rendah yang begitu serius. "Tapi kemudian Yahiko menantangku dalam sebuah taruhan untuk membuatmu jatuh cinta padaku dalam enam bulan. Saat itu kau masih begitu menutup diri, dan itu membuatku cukup kesulitan. Kau tahu benar bukan aku tidak suka dikalahkan?" Sasuke menyeringai tajam. "Oh, dan juga... kau mau kuberitahu satu rahasia kecil?"

Hinata masih pasif, tak menjawab, namun arah ametisnya runcing menusuk sosok Sasuke.

"Kau ingat Shion? Aku tidak menyelamatkannya saat itu. Dia pergi saat pertama aku memintanya untuk pergi. Ayahnya merupakan seorang pengusaha juga anggota penting di Akatsuki, aku akan membutuhkannya suatu saat," jelasnya. "Omong-omong, saat itu sebenarnya aku bertemu dengan Izumi, aku harus memikirkan cara untuk membuat kontak kita terputus untuk sementara, tapi ternyata kau sendiri yang memutus kontaknya. Kau marah, dan itu lagi-lagi membuatku terhibur dengan emosimu itu."

Hinata berdecih, ujung bibirnya ia angkat untuk membentuk senyum kecil yang terlihat menyesakkan. "Harusnya kau bunuh saja aku daripada memperlakukanku seperti ini, Sasuke."

"Apa untungnya membunuhmu saat kau sendiri tidak tahu apapun? Jujur saja, kupikir kau sedikitnya akan menemukan hal yang janggal tentangku saat aku bertindak agak ceroboh," balas Sasuke dengan nada mencibir. Ia kemudian melangkahkan kakinya di arah ranjang dan duduk di salah satu sisinya, masih menghadap Hinata yang tetap diam berdiri di tempatnya. "Lagipula aku tidak suka membunuh orang lemah. Tidak ada tantangannya. Tidak menyenangkan. Dan sudah kukatakan bukan, perlahan kau menjadi hobiku," ujar Sasuke dengan nada menggantung. "Aku senang saat bermain denganmu. Dengan tubuh ataupun perasaanmu."

Hinata memejamkan kelopaknya ringan untuk beberapa detik, secepatnya ia ingin mengalihkan topik yang diangkat Sasuke. Ia pikir hatinya tak bisa lebih sekarat, tapi mendengar pengakuan langsung tentang Sasuke yang hanya menggunakannya untuk bermain-main nyatanya membuat celah baru di permukaan hatinya untuk disakiti lagi.

"Yahiko. Peran apa yang ia mainkan selama ini?" tanya Hinata cepat namun jelas.

"Hmm... dari mana sebaiknya aku mulai?" Kening Sasuke mengernyit ringat, seolah berpikir. "Bagaimana kalau kubilang kami tumbuh bersama sejak kecil. Ayahku yang mengajari dan melatih kami. Dan beberapa tahun belakangan dia berkencan dengan Izumi, seperti yang baru kau ketahui."

Hinata mendesiskan cerca. "Izumi? Adik tirimu? Pacar sahabatmu yang juga kau tiduri?" serangnya tajam dengan nada jijik.

Bukan marah karena tersinggung, Sasuke malah membalas dengan kekehan ringan. "Sekarang kau sudah semakin lancang, Hinata," komentarnya dengan nada yang seolah memuji. "Aku dan Izumi tidak tumbuh bersama, dulu dia lebih sering tinggal dengan ayahnya. Tapi kami tetap Akatsuki, dan hal itu semakin membuat kami terikat. Dan ya, aku menidurinya beberapa kali..." Seringai Sasuke menemani tiap kata yang diucapkannya. "Tapi lagi, itu hanya hubungan mutual. Aku tidak begitu peduli dengan hubungan semacam itu. Beda halnya dengan Yahiko yang agak terlalu posesif menurutku."

"Kau benar-benar tidak berhati," gumam Hinata antara sadar dan tak sadar.

Sasuke menatap Hinata dalam-dalam selama beberapa saat sebelum kembali bersuara. "Kembali ke pertanyaanmu tadi... ya, Yahiko bekerja untuk Akatsuki, untukku. Tiga tahun ini dia tetap di agensi karena aku masih memerlukannya di sana," aku Sasuke dengan nada datar." Ingat malam saat dia menyerangmu, Hinata? Penangkapanku, hukuman kejut, bom dan penculikan itu? Itu semua sudah direncanakan. Kakashi seharusnya sadar betapa jalan pikirannya dapat ditebak dengan mudah."

Meski Sasuke tak menjelaskan detailnya, Hinata agaknya mendapat kesimpulan dangkal tentang semua drama yang Sasuke lakoni di agensi. Pria itu benar-benar terperinci dalam setiap gerakannya.

Kakashi pernah mengatakan bahwa misi menghadapi Akatsuki memang sudah direncanakan agensi jauh-jauh hari dengan Sasuke dan Naruto sebagai eksekutornya. Tapi dulu agensi belum juga meniup peluit start dengan alasan sifat Sasuke yang belum manusiawi. Agensi menundanya karena tak ingin menanggung risiko kehilangan Naruto seperti mereka kehilangan agen hebat lain di tangan Sasuke.

Sasuke pasti melihat misi itu untuk melepaskan diri dari agensi, namun keputusan agensi untuk menundanya menjadi penghambat baginya. Hinata pikir bisa jadi itu yang membuat Sasuke dan Yahiko memulai drama mereka untuk menarik simpati. Untuk memperlihatkan pada semua orang bahwa Sasuke telah berubah dan dengan begitu agensi bisa lebih mempercayainya untuk menjalankan misi itu dengan Naruto.

Kepala Hinata serasa berputar cepat. Ia berpikir terlalu banyak teori tentang semua ini.

"Kau memperalatku," bisik Hitana setelah satu tarikan napas penenang.

"Kau pikir kenapa ayahmu membuatmu berpartner denganku?"tanya Sasuke datar. "Sejak awal kau memang ditarik ke dalam agensi untuk diperalat, Hinata."

"Tidak," sahut Hinata tegas. "Ayah memaksaku bergabung agar kau tidak melupakan bahwa kau tetaplah manusia. Tapi kau, Sasuke..." Hinata dia beberapa saat. "Kau memperalatku tanpa hati. Kau mencoba menarik simpati dari semua orang untuk sebuah rencana yang semakin menjadikanmu iblis."

Sasuke tak membalas langsung. Raut wajahnya tak berubah, sorot matanya pun tak memancarkan binar apapun. "Pertanyaan terakhir," ujarnya setelah hampir dua menit saling diam, ia berdiri dari sisi ranjang dan melangkah lambat ke arah Hinata.

Melihat Sasuke yang semakin dekat, Hinata tanpa sadar menahan napasnya. Banyak pertanyaan di benaknya, tapi ini adalah yang terakhir, setidaknya untuk sekarang, dan Hinata harus pintar-pintar memilah pertanyaan itu. Cukup lama berdiskusi dengan benaknya sendiri, hingga akhirnya ia yakin tanya mana yang akan dilontarkannya.

"Ada berapa banyak lagi yang bekerja untukmu di dalam agensi?"

Satu alis Sasuke menekuk ringan, ia menjilat bibir bawahnya. Langkahnya berhenti saat Hinata berada tak lebih dari selangkah jaraknya. "Tidak ada."

"Kau bohong," sela Hinata cepat.

Sasuke mengangkat tangan kanannya, jemarinya ia sentuhkan di dagu Hinata, menjaga wanita itu tetap menatapnya. "Sudah kubilang bukan, aku akan berkata jujur."

Hinata memamerkan senyum miris. "Setelah semua ini, kau memintaku untuk percaya padamu?" balas Hinata dengan nada dan tatapan yang menantang. "Kau dan Yahiko benar-benar terhebat di dunia."

"Rencana kami menuntut kami untuk memakai topeng yang tepat."

"Sebuah tuntutan? Oh, benar saja..." Hinata tertawa ironis kemudian menepis tangan Sasuke. "Berbohong dengan mengatakan kau mencintaiku di ranjang saat aku percaya sepenuhnya padamu adalah sebuah tuntutan!"

"Kau harus percaya kali ini," ujarnya rendah, nada tak terbantah kental mengalun di suaranya.

"Tentu saja. Supaya kau bisa memperalatku lagi," balas Hinata sarkastis.

"Terserah." Sasuke mundur selangkah. "Tidak ada lagi yang bekerja untukku di dalam agensi. Aku tidak memerlukannya lagi. Aku sudah mencapai tujuanku."

"Apa?"

Sasuke kembali menyeringai. "Kau pikir setelah semua ini, bagaimana orang-orang di agensi akan saling percaya satu sama lain?" Sasuke kembali berjalan ke nakas terdekat, tempatnya meletakkan gelas yang masih terisi anggur tadi. "Kakashi dan ayahmu akan merasa buntu, tidak yakin dengan siapa yang harus mereka percayai. Kabut curiga akan selalu melingkupi mereka. Itu tujuanku."

Hinata memerhatikan gerak-gerik Sasuke yang begitu santai, namun ia tak menurunkan perhatiannya dari apa yang pria itu utarakan. Sasuke berdiri di hadapan nakas tadi, dibukanya laci paling atas dan entah apa itu, ia mengambil sesuatu dari dalamnya.

"Aku tidak memerlukan siapapun lagi untuk menjadi mata-mata di sana. Lagipula kalian sangat mudah ditebak." Sasuke berjalan ke arah pintu dan membukanya, hendak keluar.

Hinata menggertakkan gigi. "Kuharap kau membusuk di neraka," desisnya tajam.

"Jangan khawatir..." Sasuke menengok, hanya cukup untuk memamerkan seringaiannya di dalam area pandang Hinata. "Aku akan menyeretmu bersamaku," tutupnya sebelum menutup pintu.

..

...

..

Hinata melangkah bolak-balik dengan gelisah memikirkan Sakura dan Ryuzaki. Otaknya benar-benar buntu untuk menebak apa yang mungkin terjadi dengan keduanya. Ia memilih untuk mengkhawatirkan kedua rekannya itu daripada memikirkan ulang apa yang Sasuke katakan tadi. Karena semakin Hinata memikirkan alasan-alasan Sasuke, semakin ia kelaparan akan hasrat membunuh seseorang, atau mungkin membunuh dirinya sendiri.

Berjam-jam sudah Sasuke meninggalkannya, Hinata tak yakin berapa lama karena tak ada penunjuk waktu di kamar itu. Sungguh. Sampai akhirnya Sasuke kembali ke kamar itu dengan mengenakan kaus hitam lengan pendek dengan celana jeans bermodel sobek-sobek, sebatang rokok terselit di belah bibirnya.

"Apa yang terjadi pada Sakura dan L?" tanya Hinata langsung, masih dengan nada tajam meski dalam hatinya agak cemas jika hal buruk menimpa kedua rekannya itu.

"Mereka sudah tidak ada."

"Apa... apa maksudmu?" Netra Hinata melebar horor.

"Tenang..." Sasuke tertawa kecil, ia mengambil rokok yang diapit bibirnya kemudian melepaskan kepulan asap yang sebelumnya ia hisap. "Aku sudah membebaskan mereka."

Hinata berkedip bingung. "Kau... membebaskan mereka?"

"Hn," gumam Sasuke mengiyakan Hinata. "Aku perlu melepaskan mereka kembali ke agensi agar mereka dapat mengatakan pada Kakashi betapa tidak bergunanya agensi sekarang."

Hinata dapat merasakan Sasuke menyeringai saat mengatakannya meski pria itu berdiri menyampinginya. Dan entah apa yang dipikirkannya, ia mengambil langkah mendekati Sasuke.

"Lalu kenapa aku masih di sini?!" tuntutnya setelah tepat berada di samping Sasuke.

Sasuke mengubah posisi hingga mereka berhadapan. Sembari menyesap kembali rokoknya, oniksnya menantang langsung iris pucat Hinata. "Karena aku menginginkannya..." jawab Sasuke sambil mengepulkan kembali asap nikotin yang dinikmatinya.

Hinata diam, tak menyahut ataupun berpaling. Sorot matanya menuntut Sasuke untuk memperjelas jawabannya.

Sasuke semakin merapatkan jarak di antara mereka. "Pikirkan lagi, Hinata... kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di sana," ujarnya rendah juga persuasif. "Ikutlah denganku dan kau akan selalu bisa bersamaku."

"Kau memintaku berpihak padamu?" Hinata berdecih dengan senyum masam. "Sayangnya aku bukan pengkhianat yang sanggup melakukan apapun demi keegoisanmu sendiri."

Kening Sasuke berkerut samar. "Keegoisanku? Aku melakukan semuanya untuk negara ini, Hinata," balasnya ringan.

"Omong kosong!" sergah Hinata. "Kau melakukan ini untuk berkuasa, menjadi pemimpin tunggal, merajai segalanya!"

Sasuke menyeringai tajam, ia membalikkan tubuh dan kembali meletakkan batang rokoknya di bibir untuk ia sesap lagi. "Kau benar... aku akan menjadi raja. Dan kau bisa menjadi ratunya jika kau mau."

Hinata mengepalkan tinjunya, kemudian dalam satu kedipan mata, ia terduduk di lantai. Lututnya ia tekuk dan lekatkan di dada saat mencoba memindahkan posisi tangannya yang masih diborgol ke depan.

Detik di mana tangannya sudah berpindah, Hinata menyerang Sasuke dari belakang. Dilemparkannya dua tangan yang masih saling tertaut oleh borgol itu di leher Sasuke untuk kemudian ia tarik melawan leher pria itu.

Sasuke mengeluarkan erangan kasar saat merasakan rantai besi borgol itu terlalu mendesak tenggorokannya. Tangannya meraih tangan Hinata di sekitar lehernya untuk mengurangi tekanan yang wanita itu berikan.

"Tidak satupun orang yang berhak atas tahta seperti itu!" desis Hinata, semakin menekan rantai borgol di tangannya.

Tak lama setelah mengatakan itu, Hinata merasakan satu tangan besar Sasuke mencengkeram lengan kirinya dan tangan lain menahan lehernya. Detik selanjutnya, Hinata yang berada di belakang Sasuke dibuat melayang melewati bahu pria itu. Yang Hinata rasakan kemudian adalah momentum besar antara punggungnya dengan matras.

Hinata meringis mendesiskan nyeri yang dirasakannya meski yang ia hantam bukan benda keras. Ia mencoba mendudukkan dirinya segera namun didahului oleh Sasuke yang terlebih dahulu merangkak di atasnya dan menahannya. Tak ada lagi rokok, entah di mana dan kapan pria itu membuangnya. Satu tangan pria itu menahan tubuhnya sendiri sedang yang lainnya menempatkan diri di leher Hinata, siap mencekik.

"Jangan membuatku ingin melukaimu, Hinata. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan ragu-ragu untuk melakukannya." Sasuke membelasut rendah, penuh ancaman. Dan saat itu, yang Hinata tahu ia ketakutan menghadapi Sasuke yang sekarang. Sasuke yang kejam dan tak kenal ampun.

Beberapa saat berdiam dalam posisi yang sama, akhirnya Sasuke perlahan memindahkan tangannya yang semula menahan leher Hinata ke pipi wanita itu. Diusapnya pelan permukaan mulus pipi Hinata dengan ibu jarinya sebelum ia berdiri dari ranjang.

Hinata sempat membeku saat merasakan lagi hangatnya telapak tangan besar Sasuke di indera perabanya. Namun kemudian akal sehatnya mengalahkan perasaan rindu yang muncul di hatinya, tak sudi menyerahkan kembali hatinya untuk diperbudak Sasuke lagi.

"Kau tidak pantas menerima cinta yang kupunya untukmu, Sasuke!" desis Hinata tajam.

Dengan cepat Hinata berdiri dari ranjang dan kembali mencoba menyerang Sasuke dengan mengarahkan dua kepalannya yang terhubung ke arah pria itu. Namun dengan mudah Sasuke bisa mematahkan gerakannya.

Sasuke mendorong Hinata hingga punggung wanita itu mendesak dinding kamar. Hianta mencoba melepaskan diri, namun tindakannya hanya membuat Sasuke semakin kasar menahannya. Sasuke menarik tangan Hinata, menahannya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan kemudian menghimpit tubuh mereka hingga tak ada jarak yang hidup di antara mereka.

Begitu dekatnya mereka sampai Hinata yakin Sasuke dapat merasakan detak jantungnya. Ujung hidung mereka saling bersentuhan. Namun Hinata bertekad untuk tidak membiarkan kedekatan mereka ini melemahkannya.

Dengan penuh keyakinan, Hinata mengarahkan ametisnya ke manik gelap milik Sasuke yang sudah terlebih dahulu terarah padanya. Ia menelan liur yang lebih terasa seperti bongkahan batu di kerongkongannya sebelum bersuara.

"Aku tidak akan pernah mengikutimu," ujar Hinata final.

Sasuke mempertahankan air wajahnya yang netral saat menatap Hinata. Benar-benar tak terbaca oleh Hinata, terlebih karena Hinata mulai merasakan pening di kepalanya. Entah karena lelah, atau termal tubuh Sasuke yang menginvasinya.

"Kau akan segera sadar bahwa kau tidak memiliki pilihan."

Sasuke semakin merapatkan dirinya. Tangannya yang terbebas menyusup ke balik blus yang Hinata kenakan untuk menelusuri permukaan pinggang wanita itu. Hinata menutup mata, ia menggigit bibir bawahnya, menahannya untuk tetap tertutup meskipun ia seperti membutuhkan oksigen lebih ke paru-parunya.

Sasuke memiringkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata namun tak sampai menyentuhnya. Angin dari helaan napas pria itu jelas dapat dirasakan Hinata. Aroma nikotin yang cukup kuat begitu menyerang organ napasnya. Hingga Sasuke akhirnya mendaratkan bibirnya, namun bukan di bibir Hinata, melainkan di rahang samping wanita itu.

"Kau masih menginginkanku, bukan?" Hela napas lembut Sasuke menyapu dan menggelitik kulit Hinata. "Kau tahu yang perlu kau lakukan hanya memintanya dariku, Hinata," bisiknya sebelum mundur selangkah.

Hinata kemudian merasakan tangannya telah dilepaskan oleh Sasuke. Kepalanya tertunduk, namun ia tahu Sasuke masih berdiri di depannya. Sasuke sendiri menatap Hinata yang menunduk dengan napas memburu selama beberapa saat sebelum melangkah ke arah pintu, keluar.

"Awasi dia."

Hinata masih dapat mendengar suara berat Sasuke mengucapkan dua kata itu kepada seseorang di balik pintu. Ia masih membatu di tempatnya, merasa kalah. Sampai pintu kembali ditutup, barulah Hinata menyerah pada tubuhnya sendiri. Ia terduduk lemas di lantai, kembali emosi terhadap dirinya sendiri.

.

to be continued...

..

.

Finally they meet, again :3 ISN'T HE'S SO HAAAWWWTTTT! :"v *mentally crying*
#TeamSasu yeyeyeyeye xD

Anyway, LU ini panjangnya ngga jauh beda dari GO, so... yeah, masih lama ujungnya.

Big pots of thanks buat readers semuah yang terlibat dalam kegilaan fic ini *herehere, I'm trowin a kiss fo ya :**... sorry jadi jarang bales review yang masuk, aku masih dalam mode (sok)repot, so bear with me please t.t tapi suer, your review macem energi buat nulis (plus alarm kalo malesku kumat wkwk :v)

See you all guys...