Level Up
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
Find What You Love, And Let It Kills You.
.
Rasa nyeri yang Hinata rasakan di punggungnya memudar perlahan, seperti sebuah tangan hangat mengusapnya lembut. Kaku pegal di tengkuknya juga meleleh, membuat Hinata yang masih setengah sadar bertanya-tanya apa kiranya yang menghapuskan rasa tak menyenangkan yang ia ingat adalah dirinya yang terduduk di lantai sisi kamar dan mulai dikuasai lelapnya setelah Izumi datang dengan tampan masam membawakan senampan makanan untuknya.
Hinata tak tahu berapa lama ia tertidur. Namun yang ia tahu sekarang, dirinya tak lagi meringkuk di lantai. Ia kini tidur menyamping di atas sesuatu yang lembut dan empuk. Bukan hanya itu, punggungnya merasa menerima lebih banyak termal dari luar tubuhnya.
Tidurnya agak terganggu, bukan hanya karena hawa di punggungnya, namun juga remasan pelan di pinggulnya. Dengan berat, ia memaksakan untuk membuka mata perlahan. Hingga ia menyadari ia tengah terlelap di atas ranjang. Ranjang milik Sasuke.
Lalu Hinata mendengus. Tangan yang mengusap area pinggang hingga perutnya, juga hembusan napas tenang yang dari belakang telinganya. Hinata tahu itu pasti Sasuke. Kepalanya masih berkabut dan kelopak matanya masih terasa begitu berat hingga Hinata memutuskan untuk mengubah posisinya menjadi tengkurap dengan wajah ia benamkan di bantal. Diabaikannya pria yang kini berada di dalam zona amannya itu.
"Hinata..." Sasuke membisik, mengirimkan gelombang yang biasanya dapat membuat Hinata merinding.
Hinata tak menjawab, memilih untuk kembali memejamkan matanya. Mencoba terus mengabaikan tangan hangat Sasuke yang kini mengusap kulit di perutnya. Jika saja ia tak terlalu lelah dan malas, Hinata pasti akan melemparkan banyak umpatan untuk melawan Sasuke sekarang. Sungguh, kenapa pria itu tak bisa membiarkannya tenang barang sejenak?!
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Hinata pelan namun ketus saat Sasuke mulai menindih kaki Hinata dengan kakinya.
"Aku suka membangunkanmu dengan cara ini," jawab Sasuke di leher Hinata sebelum menempelkan bibirnya di sana.
"Menyingkir dariku!" titah Hinata, mencoba menekan nada lelahnya.
"Kau ada di kasurku, Sayang." Sasuke menghembuskan napas bersamaan dengan bibirnya yang kini sudah menjamah daun telinga Hinata. "Aku bisa saja menggunakanmu untuk kepuasan pribadiku. Tapi aku cukup baik untuk menunggumu bangun. Yah... meskipun jika aku melakukannya saat kau tidur pun, aku tahu kau tidak akan keberatan."
Meski tak dapat melihatnya, Hinata dapat merasakan pria itu menyeringai. Tipikal Sasuke sekali. Hinata menggeliat, mencoba menyingkirkan tubuh Sasuke jauh dari dirinya.
"Aku sudah menjadi musuh bagimu, kau mungkin membenciku dan ingin membunuhku tapi terimalah..." Hinata mengeratkan pejaman matanya saat lidah Sasuke menyapu ujung daun telinganya dan tangan pria itu yang terus bergerak liat menjelajahi tubuhnya. "Kau tidak bisa mengelak jika semua pertentangan itu runtuh saat tubuh kita menyatu."
"Dalam mimpimu!" Hinata berusaha agar Sasuke tak mendengar getar di suaranya.
Sasuke mengeluarkan gumam cerca singkat. "Pikirkan lagi, Hinata... kapan aku pernah melukaimu? Aku malah membantumu berdiri. Kau bukan lagi pribadimu yang lemah seperti dulu, bukan? Yah, walaupun kau yang lemah di bawah kuasaku akan tetap menjadi favoritku," seringainya.
Bujukan yang didengar Hinata agak terdengar familier juga asing dalam waktu yang bersamaan. Sasuke bukan mengatakan apa yang tidak pernah dikatakan pria itu kepada Hinata sebelumnya, namun caranya kali ini dalam menyampaikan terdengar berbeda. Seperti pria itu lebih... kukuh dan serius dengan kata-katanya.
Hinata kembali menggeliat, hampir saja akan menyikutkan sikunya ke dada Sasuke namun berhenti saat ia mendengar pintu tiba-tiba terbuka. Izumi masuk, masih dengan tampang masamnya tanpa peduli dengan pemandangan seorang pria yang tengah separuh menindih wanita di bawahnya.
Sasuke menengok, namun masih bertahan dengan posisinya. Tangannya pun masih betah di balik blus Hinata, menempeli permukaan kulitnya. Yah, singkatnya ia merasa tak perlu melepasnya.
"Apa?" tanya Sasuke langsung.
Rahang Izumi mengatup keras. "Apa yang kau lakukan?!" tanyanya balik dengan sinis.
Sasuke menghela napas malas kemudian bangkit melepaskan tubuh Hinata. Hinata yang mendapat ruang pun sesegera mungkin beringsut semakin jauh.
"Yahiko belum bangun?"
Izumi melirik Hinata kemudian bergumam. "Belum."
"Oh tentu saja, kalian pasti terjaga semalaman." Sasuke memutar bola matanya ringan. "Cepat bangunkan dia, kita sarapan bersama.
"Dia juga?" Izumi menuduhkan telunjuknya ke Hinata secara terang-terangan.
"Tidak. Tapi kau akan membawakan sarapan untuknya kemari."
"Kenapa aku lagi?!" protesnya tak terima.
"Karena aku bilang begitu." Sasuke bangkit dari ranjang, mendekati adiknya dan meraih lengan gadis itu, menyeretnya lebih dekat ke arah pintu. "Lain kali, ketuk pintunya terlebih dahulu," titahnya datar namun menuntut.
"Aku tidak terbiasa mengetuk," balas Izumi, terlihat ogah.
"Kalau begitu biasakan mulai sekarang." Sasuke berhenti saat ia berhasil menyeret Izumi sampai ambang pintu. "Sekarang, apa maumu?" tanyanya, masih dengan nada dan volume yang sama, tak keberatan kalau-kalau Hinata mendengarnya.
"Kau!" Telunjuk Izumi menuding tepat di dada Sasuke. "Aku tidak mau dia berkeliaran di sekitarmu!"
'Aku? Yang ada kakakmu yang berkeliaran di sekitarku!' Hinata mencibir di dalam hati, namun di luar, ia mencoba terlihat mengabaikan percakapan bersaudara itu.
Sasuke memandang Izumi beberapa saat kemudian menyilangkan tangan di dadanya. "Yahiko sudah kembali, jadi bisakah kau berhenti menggangguku dan mulai bermain dengan pacarmu saja?" ujarnya ringan.
Izumi kembali mengeluarkan gerutuan yang tak jelas. "Memang apa yang kau rencanakan terhadapnya?" tanya Izumi lagi, kali ini ia kembali menjadikan Hinata sebagai objek kalimatnya.
"Bukan urusanmu. Pergilah dan pastikan semuanya siap untuk pertemuan malam ini." Sasuke mengibaskan tangannya, sinyal menyebalkan untuk mengusir seseorang. "Oh... dan kenapa kau tidak melepaskan borgolnya?"
"Kenapa harus?"
"Karena aku yang memintanya."
"Aku tidak memegang kuncinya."
"Kalau begitu ambil kuncinya." Sasuke masih menjawab dengan suara yang sama entengnya.
"Kenapa aku yang harus mengambilnya?" Izumi semakin gusar.
"Karena kau tidak ingin aku meremukkan tulang lehermu. Ambil," titahnya mutlak.
Izumi tak lagi membantah, meski masih dengan wajah kesal ia berbalik keluar kamar Sasuke. Sasuke menutup kembali pintu kamarnya setelah adiknya itu pergi. Ia menghela napas dan menggeleng pelan.
"Dasar remaja," decihnya kemudian kembali berjalan mendekati Hinata.
"Apa yang tadi kau rencanakan?" tanya Hinata, merujuk ke saat di mana Sasuke menempelinya di ranjang.
Sasuke yang mengerti arah pertanyaan Hinata tersenyum puas. "Memastikan sesuatu."
Hinata mengerutkan kening heran.
"Melihat apakah reaksimu sama seperti dulu jika aku menyentuhmu," tambahnya lengkap dengan seringai.
"Aku tidak begitu!" Hinata berharap ia dapat menahan rasa malunya agar wajahnya tak terlihat memerah.
"Oh, tentu saja..." Sasuke terkekeh pelan. Sebelum sampai di tempat Hinata, ia berhenti dan menghadapkan dirinya di lemari kemudian membukanya.
Netra Hinata agak melebar, cukup terkejut dengan isinya. Sebagian besar berwarna hitam, yang itu Hinata maklum. Tapi deretan jaket kulit dan mantel panjang yang menggantung di dalamnya lah yang menarik perhatiannya. Bagaimana bisa semua itu ada di dalam lemari seorang pria yang tak peduli tentang mode?!
Sasuke mengambil sebuah kemeja hitam dari dalam lemari dan melemparkannya kepada Hinata yang secara refleks menangkapnya.
"Mandi dan gantilah pakaianmu. Kamar mandinya di sana." Sasuke menunjuk pintu lain di kamar itu.
"Kau pikir aku akan mengambil peran sebagai seorang tamu di sini?" sindir Hinata.
Sasuke mengedikan bahu"Sudah kubilang, kau tidak punya pilihan."
"Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja? Aku sudah tidak berguna, bukan?"
Sasuke tersenyum. "Benar. Tapi lagi, apa yang kudapat dari membunuhmu?"
"Lalu apa yang kau dapat dari membunuh marsekal sebelumnya?!" sergah Hinata cepat. "Untuk menghancurkan agensi? Tidak. Dengan pasukan yang kau bawa saat itu, kamu bisa menghancurkan agensi secara keseluruhan. Lalu kenapa hanya marsekal?" desak Hinata.
Hinata tahu, mereka sudah mendiskusikannya. Seperti yang juga pernah dikatakan Ryuzaki, Sasuke mungkin melakukannya karena ingin terlihat berkuasa. Tapi Hinata merasa bisa jadi Sasuke memiliki agenda lain. Alasan hanya untuk pamer itu rasanya terlalu dangkal untuk seseorang macam Sasuke.
"Oh..." Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Kau masih memikirkannya, huh? Tidak apa-apa, kau akan segera mengetahuinya," jawabnya kemudian membalik tubuh ketika pintu kembali terbuka.
Izumi muncul dengan membawa kunci yang Sasuke inginkan setelah satu ketukan ia berikan di pintu kamar Sasuke.
"Bagus." Sasuke mengambil alih kunciyang digenggam Izumi. "Sekarang kau bisa kembali. Aku yakin Yahiko ingin kau dalam jarak pandangnya saat ia bangun."
"Brengsek." Izumi mengumpat rendah kemudian keluar, dibantingnya pintu kamar Sasuke keras-keras.
Saat Sasuke mendekat padanya, Hinata menahan napas, ametisnya ia beranikan menantang iris Sasuke. Hinata tak ingin membiarkan Sasuke tahu bahwa ia masih merasakan kegelisahan hebat saat pria itu berada di dekatnya.
Sasuke meraih tangan Hinata untuk melepaskan borgol yang sejak kemarin malam menahannya. "Jangan berpikir macam-macam. Kau tidak akan bisa keluar dari sini kecuali aku membiarkanmu," ujarnya seperti memberitahukan hal paling umum di dunia. "Omong-omong, kau sudah memikirkan penawaranku?"
Hinata tak melewatkan waktu untuk melihat lebih jelas beberapa tindikan juga tato baru di lengan Sasuke saat pria itu menunduk memainkan kunci di tangannya untuk melepas borgol Hinata. Hinata cepat-cepat menarik tangannya setelah belenggu metal itu terlepas. Diusapnya pergelangan yang terlihat memerah itu.
"Kupikir aku sudah sangat jelas mengatakan padamu bahwa aku tidak akan mengikutimu," lempar Hinata, sorot matanya runcing seperti nada bicaranya. Tidak ada sedikitpun rasa terima kasih atas tindakan kecil pria itu.
"Mungkin tidak sekarang. Tapi saat kau sadar bahwa bersamaku jauh lebih baik daripada menjadi pion ayahmu, kau akan menyetujuinya." Setelah mengatakannya, tangan Sasuke meraih dagu Hinata. Lagi, ia mengusapkan ibu jarinya pada pipi Hinata yang masih terlihat memar. "Jangan lagi menyentuh Izumi di hadapan Yahiko," gumamnya. Sepercik sinar di manik gelapnya tak Hinata lewatkan. Dan saat itu, Hinata seperti mengenal Sasuke di hadapannya. Sasuke-nya.
Momen itu tak bertahan lama sampai Sasuke melepaskan Hinata. Tanpa mengatakan apapun lagi, pria itu berbalik dan meninggalkan kamar.
..
...
..
Hinata tidak pernah memikirkan pertimbangan untuk mengikuti Sasuke dan bergabung dengan Akatsuki. Tidak akan dalam hidupnya. Tapi saat ini, ia perlu memainkan kartu yang tepat. Satu kartu yang akan memihak dirinya dan mampu membuat situasi baik untuk melawan Sasuke. Ia harus sangat berhati-hati.
Sasuke mungkin sudah dapat menebak bahwa Hinata tak akan menerima tawarannya, dan jika Hinata menerima tawaran itu, Sasuke juga pasti sudah memastikan ada alasan di balik keputusannya. Jadi tentu saja Sasuke tidak akan percaya jika ia langsung mengatakan 'ya'. Masalahnya adalah apa yang harus Hinata lakukan selanjutnya?
Hinata menyisir seisi ruang kamar Sasuke, ia mencari apapun yang mungkin bisa ia gunakan sebagai senjata. Ada piring juga gelas kaca, pisau buah, beberapa peralatan mandi yang terbuat dari besi dan nampan makanan yang dibawa Izumi tadi pagi. Sasuke tidak seharusnya meninggalkan benda seperti itu bersama tawanannya yang tak terikat apapun.
Hinata kembali melirik lagi pisau buah di atas nakas. Menyerang Sasuke dengan benda itu? Hinata menggeleng keras. Sungguh, apa dia berpikir bahwa pisau kecil itu dapan mengancam bajingan sekelas Sasuke?
Kesal karena kehabisan akal, Hinata bergerak cepat ke pintu kemudian menendang dengan brutalnya kayu kokoh itu berkali-kali.
"Buka pintunya, sialan!" teriak Hinata di sela tendangan-tendangannya.
"Ada apa?!" sebuah suara asing menyahut dari balik pintu dengan nada terganggu.
"Panggilkan Sasuke!"
Setelahnya, tak ada lagi yang Hinata dengan. Entah orang di balik pintu tadi mengabaikannya atau mungkin sedang mencari Sasuke untuknya. Sampai hampir lima belas menit gusar sendirian, pintu kamar kembali dibuka.
Sasuke muncul dengan pakaian bahan kulitnya. Ia berhenti sejenak, mengerling kepada Hinata yang sudah mengenakan kemeja yang ia ambil dari lemari, sebuah seringai puas muncul di wajahnya.
Sebenarnya hal itu bukan penuh pilihan Hinata. Salahkan Izumi yang melampiaskan amarah pribadinya dengan menyiramkan segelas penuh jus mangga yang lengket itu ke rambut dan pakaian Hinata. Membuat Hinata tak memiliki banyak pilihan kecuali mandi dan mengganti atasannya atau bertahan dengan lengket dan aroma mangga di tubuhnya sampai ia dapat keluar dari tempat ini. Yang berarti, entah sampai kapan. Lagipula ia hanya mengganti atasannya.
"Kenapa?" buka Sasuke.
Hinata maju ke hadapan Sasuke. "Aku bukan budakmu!" Teriaknya sambil menuding wajah pria itu. "Berhenti bertindak sinting dan biarkan aku pergi jika kau tidak berencana melakukan apapun terhadapku di sini!"
Sasuke berkerut samar, namun tetap tersenyum. "Kau sudah sangat berani, Sayang." Sasuke tertawa. "Kalau begitu, ayo keluar."
Hinata berkedip. "Apa?"
Sasuke kemudian melirik makanan du atas nakas yang terlihat belum tersentuh. "Kau sedang diet atau apa?" tanyanya.
"Kau benar-benar berpikir aku akan memakan makanan darimu?"
"Terserah" Sasuke mengedikan bahu. "Pilihanmu jika kau mau mati kelaparan. Aku cukup menguburmu di halaman belakang nanti, tubuhmu tidak akan makan banyak tempat juga," cibir Sasuke kemudian menarik tangan Hinata dan menyeretnya keluar kamar. "Omong-omong, aku agak tak menyangka kau akan menyerangku semalam. Gerakan yang cukup bagus," komentarnya.
Sasuke memimpin langkah sepanjang lorong. Hinata tak memiliki pilihan lain selain mengikuti pria itu. Ia tak mungkin kabur begitu saja dengan semua mata penjaga yang tepat terarah kepadanya.
"Kau sudah begitu banyak berkembang. Apa motivasimu, Agen Hyuuga?" Nada bicara Sasuke begitu mengalir tenang.
"Kau," gumam Hinata. "Kau selalu menjadi motivasiku, Sasuke." Hinata merampungkan kalimatnya dengan rahang yang mengejang.
Sasuke menghentikan gerak kakinya dan berbalik hingga mereka kembali berhadapan. Hinata tak mundur, tak juga memalingkan wajah, membiarkan manik mereka saling berperang meski dalam dadanya Hinata merasa sesak tak karuan.
"Kau selalu menjadi motivasiku. Untuk hidup... dan sekarang untuk mati," akunya rendah namun jelas. Hinata masih tak dapat membaca hati Sasuke melalui raut yang dibuat pria itu. "Kau membuatku ingin mengakhiri hidupku, Sasuke... tapi tidak, aku tidak akan mati sebelum dapat membunuhmu."
"Kau tahu, Hinata..." Sasuke membuka mulutnya setelah beberapa saat hanya meneliti wajah wanita di depannya. "Hampir semua yang kukatakan padamu adalah kebohongan. Kecuali saat aku mengatakan bahwa kau akan menjadi alasanku terbunuh." Sasuke tersenyum kecil, dan sungguh, Hinata ingin sekali menampar Sasuke untuk mengusir senyum itu dari wajahnya. "Dan tenang saja, aku akan membiarkanmu mencoba untuk membunuhku."
Sasuke kembali menjejaki lantai rumah itu dengan langkahnya dengan Hinata yang masih mengekorinya. Mereka memasuki sebuah ruangan yang luas dengan beberapa rak buku tinggi menempel satu di dinding dan perapian mewah di sisi lain. Sofa dan karpet yang terlihat sama lembutnya tersedia di dekat perapian.
Jika saja Sasuke mengenal kata keluarga, mungkin ruangan ini bisa disebut ruang keluarga idaman di rumah ini.
"Apa kau benar-benar melepaskan Sakura dan Ryuzaki?" Hinata membuka dengan pertanyaan.
"Hn," jawabnya. "Omong-omong, apa kau juga tidur dengan anak baru itu?" Sasuke menanyakannya seolah menanyakan bagaimana keadaan cuaca hari ini.
"Apa?" Kening Hinata berkerut tajam.
"Apa kau juga menawarkan tubuhmu padanya?" ulang Sasuke dengan kalimat yang berbeda naun bermakna sama. "Kau pasti terlalu putus asa untuk mencari penggantiku, bukan?"
"Itu bukan urusanmu!" Hinata merasa sekujur tubuhnya dicengkeram emosi yang meledak-ledak. "Setidaknya aku tidak tidur dengan adikku sendiri!" serangnya.
Sasuke berbalik menghadap Hinata meski jarak mereka terpisah beberapa langkah jauhnya. "Secara teknis kau juga sama sepertiku Hinata. Bedanya hanyalah bahwa Neji merupakan kakak sepupumu," balas Sasuke. "Lihat, kita tidak begitu berbeda, bukan?"
Dan saat itu pula Hinata kehilangan kendali dirinya. Ia meluncur cepat ke arah Sasuke dan menerjang pria itu. Kedua tangannya meraih kerah pakaian Sasuke. "Kau tidak pantas berbicara apapun tentangnya, dasar makhluk rendahan!" umpat Hinata.
"Kau..." Bukan mencoba melepaskan diri, Sasuke malah melemparkan seringaian kepada Hinata. "Selalu jatuh cinta kepada seseorang yang kau anggap masih memiliki sisi baik dalam dirinya meskipun kau tahu orang itu sudah benar-benar tidak memiliki hal semacam itu."
Kalimat yang Sasuke ucapkan seperti siraman air dingin di sekujur tubuh Hinata. Cengkeramannya mengendur hingga akhirnya terlepas. Hinata mundur dua langkah dengan kepala menunduk dan sorot mata sendu.
"Kau... menembaknya. Untukku," gumam Hinata lemah.
"Jangan mengada-ada." Sasuke melepaskan jaket yang dikenakannya dan melemparkannya ke hingga mendarat di punggung sofa. Ia kemudian bergerak ke sebuah pintu ganda yang terhubung langsung dengan balkon di sisi luarnya.
Hinata melirik balkon itu, dengan tenang ia berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang Sasuke. Diam-diam ia memindai pemandangan di luar sana. Dan sungguh, ia tak tahu di mana ia berada.
Langit saat itu begitu cerah tanpa awan. Di bawah balkon Hinata dapat melihat sungai yang cukup keruh. Airnya yang terlihat jelas telah tercemar polutan membuatnya yakin ia berada tak jauh dari kota besar. Dan lagi, Hinata mencoba membaca ketinggian tempatnya berada sampai bawah, cukup tinggi namun sepertinya tak setinggi jika ia berdiri di lantai dua. Bisa jadi ia sebenarnya berada di lantai dasar rumah itu jika melihat tinggi batang pepohonan yang kini sejajar dengannya. Dan mungkin yang membuat sungai itu terlihat jauh adalah karena bangunan rumah yang di bangun di dataran yang lebih tinggi.
Hinata memalingkan pandangannya, tak ingin Sasuke melihatnya tengah memikirkan sebuah rencana. Otaknya berputar, bagian mana di dekat kota yang memiliki dataran tinggi? Kemudian ia melirik semak di bawah sana yang tumbuh hingga bibir sungai, Hinata seperi pernah melihatnya.
Beberapa menit Hinata habiskan hingga akhirnya ia ingat. Ia pernah menjalani misi bersama Sasuke di area yang serupa. Pinggiran kota yang hanya beberapa mil jauhnya.
"Tempat yang cukup menyenangkan, bukan?" Suara Sasuke memaksanya keluar dari benaknya sendiri. "Aku suka di sini. Sangat lapang."
"Apa yang tadi kau maksudkan?" tanya Hinata, keluar dari konteks yang diangkat Sasuke. "Tentang Neji."
"Oh..." Sasuke mengangguk pelan. "Kau hanya bagian kecil dari semua itu. Peran terbesarmu adalah saat aku bertaruh dengan Yahiko. Setelah sekian lama terjebak di dalam agensi yang membosankan, akhirnya aku memiliki hiburan."
Hinata menengadah, menatap Sasuke yang masih memandang jauh ke luar. "Aku bertanya apa maksudmu tentang Neji tadi!"
Sasuke menghela napas. "Hinata... apa kau ingat saat kau menceritakan tentang ayahmu yang datang bersama seseorang untuk menyelamatkanmu dari Neji? Orang itu adalah aku." Sasuke menyilangkan tangannya di dada, masih tak menatap Hinata.
Hinata cukup terkejut, ia membuka dan mengatupkan bibirnya namun tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya.
"Aku mengenal seorang Neji, tidak bukan mengenalnya, lebih tepat jika kubilang aku tahu tentangnya. Dia adalah anak buah Adrian, atau yang lebih kau kenal dengan nama Caligo. Dia adalah keponakan favorit ayahku, jika kau mau tahu," jelas Sasuke. "Lalu kemudian aku menemukan namanya di data pribadimu saat itu, aku penasaran jika ini adalah Neji yang sama, jadi aku terus mencoba menanyakan tentang Neji itu padamu. Dan ternyata mereka memang Neji yang sama."
Hinata hanya mendengarkan Sasuke tanpa gerakan atau suara.
"Neji tahu tentang pekerjaan ayahmu, ia juga terlibat di dalamnya. Kau bilang Neji bergabung dengan kelompok jalanan, itu adalah kelompok Adrian. Ayahmu tidak melepaskan Neji malam itu tanpa alasan, ayahmu membutuhkannya untuk mengawasi pergerakan kelompok Adrian. Jadi, saat Adrian pindah ke Singapura, Neji juga mengikutinya."
Sasuke berbalik, melangkah agak ke dalam ruangan namun tetap tak memberikan Hinata meski satu lirikan.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya setelah malam aku mengikuti ayahmu untuk menyelamatkanmu. Dan aku tidak tahu siapa sebenarnya dia. Kemudian kau bercerita tentangnya, tentang dia yang merupakan keponakan ayahmu. Dan saat itulah aku merasa semuanya saling terhubung. Neji adalah mata-mata dari ayahmu, dia yang membocorkan sebagian besar aktivitas Akatsuki di Singapura, termasuk kongres besar itu. Dan sebagai seorang pembunuh, tentu saja aku bernafsu untuk menghabisinya setelah mengetahui hal itu."
Tanpa diduga, Hinata terkekeh kecil. "Kau..." Hinata menggantung kata itu, sebagai gantinya, ia maju dan melayangkan kepalannya. Namun belum sampai tujuannya, Sasuke sudah tangannya dan memutarnya hingga berbalik. Dikuncinya pergelangan tangan Hinata di belakang tubuh wanita itu.
"Kau pikir kenapa Neji melukaimu, Hinata?" tanya Sasuke rendah.
Hinata terdiam, masih mengatur napasnya yang memburu.
"Lukamu itu... terlihat mengerikan. Tapi sebenarnya begitu rapi," ujar Sasuke. "Neji benar-benar pandai memperhitungkannya... ia berhasil melukaimu tanpa harus membahayakan nyawamu," tambahnya.
Ametis Hinata melebar. "Kau... maksudmu..."
"Kau cukup cerdas untuk mengerti maksudku, kuyakin."
Tubuh Hinata bergetar, dadanya terasa bertambah sesak. Tanpa sadar mata kirinya meneteskan butiran bening yang meski tak deras namun cukup untuk menggambarkan segala kesakitan maya di tubuhnya.
Beberapa menit mereka betah dalam keheningan yang tercipta. Sasuke masih belum melepaskan kunciannya pada Hinata yang masih memunggunginya. Hingga lima menit lebih berlalu barulah Sasuke kembali berucap.
"Malam itu—"
"Kau mengenalku sejak malam itu..." Suara bergetar yang Hinata hasilkan itu tak menunjukkan pertanyaan namun sebuah pernyataan.
Sasuke melepaskan tangan Hinata dan memutar tubuh wanita itu hingga mereka berhadapan dalam jarak dekat.
"Aku tidak terlalu menyimpanmu di ingatanku. Tapi aku ingat saat kau setengah sadar, kau sangat panik. Kau berada di genggamanku saat ayahmu tengah menyelesaikan urusannya dengan Neji." Oniks Sasuke tepat terarah pada Hinata yang menunduk. "Aku mencoba menenangkanmu, jadi saat itu... aku memberitahumu namaku. Nama asliku. Dan kau mengucapkannya, berulang."
Hinata tak mengingat momen yang Sasuke ceritakan, tapi ia mengingat waktu di mana Sasuke mengatakan padanya tentang kata pertama yang ia ucapkan pada pria itu. Dan Sasuke mengatakan bahwa kata pertama yang Hinata ucapkan kepadanya adalah nama Sasuke sendiri.
Hinata menghela napas, mencoba membebaskan jeratan di dadanya. Ia mundur beberapa langkah, kepalanya menggeleng, tangannya menyilang di perut seolah tengah melindungi diri dari apapun.
"Sasuke..." ujarnya lemah. "Jangan... kumohon tidak lagi. Jangan katakan apapun lagi." Gelengan Hinata semakin kencang.
"Kenapa tidak?" balas Sasuke rendah.
"Terlalu menyakitkan." Suara Hinata keluar begitu pelan hingga menyerupai bisikan.
Sasuke bergerak menuju perapian yang masih padam. "Kau pikir aku peduli?"
"Ya!" jawab Hinata. "Apapun yang kau katakan, aku tahu kau peduli padaku, aku dapat melihatnya! Itulah kenapa semuanya semakin menyakitkan untukku. Kau mengatakan semua yang kau lakukan padaku hanyalah kebohongan, tapi... tapi aku... tidak bisa..." Hinata menggantung kalimatnya, kehabisan kata.
Sasuke diam beberapa saat, oniksnya menatap arang bekas pembakaran di perapian. "Apa kau masih jatuh cinta pada aku yang sekarang?"
Tak ada yang bisa Hinata katakan lagi. Ia masih begitu mencintai Sasuke meski ia tak lagi ingin bersama pria itu. Katakan Hinata gila, tapi lagi, siapa yang bisa dengan mudahnya menghancurkan cinta yang dimilikinya untuk seseorang?
Seperti rasa sayang Hinata kepada ayahnya. Tak peduli apapun yang pernah dilakukan sang ayah terhadapnya, Hinata akan tetap berlari dan menempatkan dirinya dalam bahaya jika itu diperlukan untuk menyelamatkan sang ayah. Begitu pun sebaliknya. Itu bukan sebuah kegilaan, melainkan bentuk sederhana dari cara kerja sebuah afeksi.
Hinata masih lemah karena cintanya kepada Sasuke, ia tak bisa mengubah hal itu begitu saja. Tapi bukan berarti kelemahan itu harus membuatnya menyerah akan prinsip yang ia pegang selama ini.
"Aku menyelamatkanmu, Sasuke," gumam Hinata namun jelas yang kemudian membuat Sasuke menengok kepadanya. "Tapi kau membunuhku."
"Tidak, Hinata. Aku yang menyelamatkanmu. Kaulah yang perlahan membunuh dirimu sendiri," koreksi Sasuke.
Hinata kembali melirik ke arah balkon. "Kau tahu, Sasuke?" tanyanya dengan nada datar, seperti tak ada jiwa yang menghidupkan suaranya. "Saat kau merasa begitu mati rasa, kau cenderung akan bertindak ceroboh. Dan saat kau ceroboh, kau cenderung akan menang. Kau merupakan wujud nyata dari ungkapan itu." Hinata berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Kau mengajarkanku tentang hal itu."
Tak memakan satu kedipan setelah Hinata mengatakannya, tanpa memberikan Sasuke satu tatapan terakhir, ia berlari ke arah balkon yang masih terbuka. Jelas, jika ia ingin keluar dari tempat ini, hanya itu satu-satunya kesempatan.
"Hinata!"
Hinata dapat mendengar Sasuke meneriakkan namanya saat ia melompati pagar terali balkon. Tapi belum lama setelah tubuhnya hanya disentuh udara, Sasuke ikut melompati terali itu dengan kecepatan brutal.
Hinata memejamkan matanya, ia pikir ia akan jatuh dan tenggelam di sungai. Tapi kemudian ia merasakan tangannya ditarik kasar hingga tubuhnya menghimpit tubuh lain. Tubuh Sasuke.
Sasuke melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Hinata dan secara paksa mengubah posisi mereka di atas udara, membuat Hinata menjadi berada di atasnya. Ia tetap memeluk Hinata erat hingga akhirnya punggungnya menghantam permukaan air sungai terlebih dahulu dengan Hinata yang mendarat aman di dekapannya.
Secara refleks mereka menutup mulut dan mata saat mereka tenggelam. Hinata kemudian merasakan tubrukan yang terjadi di bawahnya, pada tubuh Sasuke. Dan saat itulah ia menyadari bahwa sungai itu sangat dangkal.
Tanpa menunggu detik berlalu, Hinata melepaskan tangan Sasuke yang melingkari tubuhnya kemudian menyeret kakinya ke tepian. Hinata jatuh berlutut saat kakinya tak lagi tergenangi air sungai, ia mencoba mengatur napasnya.
Diliriknya tempat mereka mendarat sekali lagi, melihat apakah Sasuke akan segera mengejarnya. Setelah cukup yakin ia bisa kabur saat itu juga, Hinata berdiri. Namun langkahnya hanya terhitung beberapa sampai ia kembali berhenti.
Kenapa ia berhenti?! Apa yang dipikirkannya?! Mencemaskan Sasuke? Baiklah, mengingat bagaimana benturan yang diterima pria itu dan mudahnya Hinata melepaskan diri, bisa jadi Sasuke memang kehilangan kesadarannya. Tapi ini kesempatannya untuk lari! Ia tak bisa mengalah begitu saja.
Hinata berusaha menguasai diri dengan akal sehatnya. Membuatnya meyakinkan diri untuk pergi dari sana sekarang juga. Namun cengkeraman kuat di bahunya lagi-lagi menghentikannya. Masih dengan napas yang terengah, Hinata dipaksa berbalik dan mendapati Sasuke berdiri di depannya dengan dengan keadaan basah kuyup juga tatapan yang nyalang.
Dan sebelum Hinata sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tamparan keras menyapa pipinya, sangat keras hingga membuatnya tersungkur ke samping. Saat Hinata mencoba berdiri kembali, ia merasakan satu tendangan di punggungnya, memaksanya untuk tetap di tempat. Hinata mengerang kesakitan, tangannya ia simpan di perut, gestur waspada untuk melindungi diri.
"Dasar jalang!" Sasuke berlutut menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Hinata kemudian mencengkeram dagu Hinata dengan satu tangannya. Mengabaikan Hinata yang terus meringis dan merintihkan sakit. "Kenapa kau terus melakukan ini, Hinata?! Sudah kubilang jangan paksa aku untuk melukaimu!"
Hinata tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang. Yang ia pikirkan hanyalah kejadian tadi. Ia bisa saja remuk jika jatuh langsung ke sungai tanpa Sasuke.
"Kau... menyelamatkanku," hanya itu yang bisa Hinata gumamkan.
Cengkeraman tangan Sasuke tak sekuat sebelumnya, namun kilat di matanya masih begitu menyala. Ia mendekatkan wajahnya yang masih basah ke wajah Hinata. "Kupikir kau memang tidak keberatan jika aku menyakitimu," geramnya.
"Apa yang kau lakukan, Sasuke?" lirih Hinata. 'Kenapa kau memberiku alasan untuk kembali percaya kalau kau memang mencintaiku.' Tambahnya dalam hati.
"Bangun!" Sasuke mengabaikan pertanyaan Hinata, ia menarik lengan wanita itu, memaksanya kasar untuk berdiri.
Beberapa detik kemudian, tanpa Hinata sadari mereka sudah dikelilingi oleh para anak buah Sasuke.
"Sungguh, Ian?! Kau membawa orang sebanyak ini hanya untuk menangani hal kecil?" desis Sasuke saat Caligo—Adrian—terlihat di antara orang-orang itu.
"Apa yang terjadi?" Caligo tak menggubris komentar Sasuke, malah menanyakan keadaan yang terjadi.
"Salahku. Aku lengah," aku Sasuke cepat. "Bawa dan kurung dia di kamarku," titahnya.
Sekali lagi, indera pengelihatan Hinata ditutup oleh anak buah Sasuke. Namun ia diam tak melawan. Kepalanya masih penuh dengan satu pertanyaan.
Sasuke mempertaruhkan diri sendiri untuk menyelamatkannya. Apa maksud dari itu?
.
to be continued...
..
.
Aku selalu overexcited kalo bisa nyelesain satu chap dalam waktu singkat, sampe pengen langsung publish gitu tanpa actual reread... jadi untuk yang ini kalo typo nya kebangetan, maklumin aja *maksa*
Mungkin chap ini bikin beberapa dari kalian punya persepsi baru, punya pertimbangan baru wkwkwk...
Sasuke itu a man of action here... that's why I freakin love him! Tapi kalo ditanya perasaan... cerita ini masih punya berderet-deret chapter sampai akhirnya kalian bisa nentuin what he trully feels :3
Anyway... adegan lompat itu dekripsinya terkesan lama, tapi sebenernya it happens in a blink. Mereka ngga lagi sky diving sampe makan waktu selama itu di udara. Cukup bayangin fase jatuh dari lantai dua aja :v
I think thats enough... thank you so much for your support, see you...
